Penyakit Jantung Koroner Kini Tidak Lagi Mengenal Usia

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Si A, temen SMA kita meninggal tadi malam, Guys. Mohon doa untuk keluarganya ya. Anaknya masih kecil-kecil, bulan lalu istrinya baru melahirkan *cry*”. “Ya ampun, almarhum masih muda banget ya. Nggak nyangka bisa kena penyakit jantung”. Begitulah, di usia yang hampir menginjak 40 tahun ini, kabar duka sesekali datang melalui grup-grup Whatsapp. Beberapa ada yang meninggal karena sakit kritis seperti kanker, beberapa lagi karena kecelakaan. Namun yang terbanyak disebabkan oleh jantung koroner.

Jantung Koroner

Penyakit jantung memang ada berbagai macam, hanya saja jantung koroner (ishaemic heart disease) yang paling dikenal karena bisa menyebabkan serangan gagal jantung. Dan penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia. Sedihnya lagi, semakin ke sini penyakit ini seakan-akan tidak mengenal usia. Banyak pesohor yang meninggal di usia muda karena penyakit ini seperti Ashraf Sinclair dan Adjie Massaid yang baru berusia awal 40 tahun saat itu.

jantung koroner
katadata.co.id

Penyebab Penyakit Jantung Koroner (PJK)

PJK adalah penyakit kardiovaskular yang terutama disebabkan oleh penyempitan arteri koronaria akibat proses ateroklerosis atau spasme atau keduanya. – Jurnal: Penyakit Jantung Koroner:Patofisiologi, Pencegahan Dan Pengobatan Terkini, http://repository.usu.ac.id/

Atau jika disederhanakan dalam bahasa awam, menurut dr. Vito A. Damay Sp.JP M.Kes FIHA FICA dari klikdokter.com, PJK merupakan keadaan ketika pembuluh darah koroner, yang memberikan aliran oksigen dan nutrisi bagi sel-sel otot jantung, mengalami penyempitan akibat plak ateroklerosis. Plak aterosklerosis terbentuk akibat adanya kadar kolesterol LDL yang tinggi, kerusakan struktur mikro pembuluh darah akibat zat-zat oksidatif tembakau, atau kondisi gula darah serta tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Salah satu faktor saja di antara faktor-faktor utama tersebut akan mempercepat proses alami penuaan pembuluh darah, pengapuran, dan pembentukan plak.

Baca Juga: Yuk Berpikir Positif Agar Tidak Mudah Sakit

Mencegah atau Mengendalikan PJK

Proses terbentuknya plak aterosklerosis tentu tidak berlangsung dalam 1-2 bulan, melainkan bertahun-tahun yang disebabkan oleh pola makan dan pola hidup yang tidak benar, serta faktor genetika. Karena proses panjangnya ini, sebenarnya PJK bisa dicegah atau dikendalikan dengan menerapkan pola hidup yang benar, yaitu:

1. Aktif melakukan kegiatan fisik, minimal dengan berjalan kaki 30 – 40 menit setiap hari.

2. Hindari rokok, minuman beralkohol dan zat karsinogenik lainnya.

3. Mengelola stres.

4. Menjaga berat badan.

5. Melakukan diet sehat dan gizi seimbang.

6. Istirahat cukup.

7. Cek kesehatan secara berkala.

8. Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat.

Baca Juga:

Cara Merawat Diri untuk Para Ibu

Rutin Minum Air Putih Hangat? Ini Manfaat yang Kita Dapatkan.

Operasi Bypass Untuk Jantung Koroner

Kalau plak aterosklerosis tersebut sudah terlanjur menumpuk, pembuluh darah akan tersumbat dan berkembang menjadi penyakit jantung koroner yang dapat mengakibatkan gagal jantung. Menurut situs dokter.my, awal gejala dari kondisi tersebut adalah munculnya nyeri dada baik yang menjalar ke lengan kiri atau tidak menjalar sama sekali.

Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan tindakan yang salah satunya adalah operasi bypass jantung. Operasi ini bertujuan untuk meningkatkan suplai darah ke jantung sehingga meredakan keluhan nyeri dada, menurunkan serangan jantung, dan memperbaiki kualitas hidup pasien.

Mengapa Perlu Dilakukan Operasi Bypass Jantung?

Beberapa kondisi berikut adalah alasan kenapa perlu dilakukan operasi bypass jantung:

  1. Sumbatan terjadi pada lebih dari 1 pembuluh darah sehingga fungsi jantung mulai menurun.
  2. Penyempitan pada 1 atau 2 pembuluh darah tanpa henti jantung.
  3. Penderita yang gagal dilakukan balonisasi untuk melebarkan pembuluh darah.
  4. Struktur pembuluh darah arteri sesuai untuk dilakukan operasi bypass

Namun, tidak semua kondisi penyakit jantung koroner memerlukan operasi bypass jantung. Tindakan ini tidak disarankan untuk pasien-pasien berikut:

  1. Usia lanjut di atas 85 tahun
  2. Tidak ada gejala nyeri dada
  3. Struktur pembuluh darah arteri tidak memungkinkan untuk dilakukan bypass
  4. Memiliki gangguan pembekuan darah, gangguan elektrolit, dan berisiko mengalami komplikasi pasca operasi.

Prosedur Operasi Bypass Jantung

Sebelum dilakukan operasi bypass jantung, pasien akan menjalani beberapa pemeriksaan seperti rontgen dada, elektrokardiogram, katerisasi jantung, dan tes darah rutin terlebih dahulu.

Tindakan operasi ini akan dilakukan selama 3-6 jam dengan beberapa tahapan prosedur seperti di bawah ini:

  1. Pasien akan dibius untuk menurunkan kesadaran.
  2. Fungsi pernapasan akan dibantu menggunakan ventilator yang dipasang menggunakan selang melalui tenggorokan.
  3. Dinding dada akan disayat untuk selanjutnya diberikan terapi yang mampu menghentikan kerja jantung sementara.
  4. Aliran darah yang normal akan dipompa keluar dari jantung dan dialihkan pada mesin jantung paru.
  5. Bypass atau jalan pintas mulai dibuat pada bagian arteri koroner yang tersumbat dan pembuluh darah dari organ lain.
  6. Pembuluh darah yang dipakai sebagai jalan pintas akan dicangkok (graft) dari bagian tubuh lain (biasanya vena di paha).
  7. Ujung vena yang 1 akan dihubungkan dengan aorta dan ujung lainnya akan disambungkan ke arteri koroner di bagian bawah dari daerah penyempitan.
  8. Terbentuk jalur pintas baru yang tidak melewati arteri koroner yang tersumbat.
  9. Setelah dilakukan prosedur tindakan bypass jantung, dokter akan memulihkan denyut jantung dengan cara memberikan kejut listrik. Operasi diakhiri dengan menjahit sayatan pada dada pasien. Alat bantu pernafasan tetap akan terpasang hingga efek obat bius menghilang dan pasien mampu bernapas sendiri.
  10. Pemulihan kondisi pasien pasca operasi akan terus dipantau hingga beberapa minggu.

Untuk penjelasan lebih lengkap tentang operasi bypass jantung ini bisa dilihat di video berikut:

Risiko dan Komplikasi Operasi Bypass Jantung

Meskipun operasi bypass jantung sudah sangat berkembang dan sering dilakukan, namun tetap ada risiko komplikasi minimal dari tindakan ini. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:

  1. Perdarahan
  2. Infeksi luka operasi
  3. Serangan jantung
  4. Gangguan irama jantung / aritmia
  5. Gangguan pernapasan
  6. Reaksi alergi obat bius
  7. Gagal ginjal
  8. Stroke

Mencari Second Opinion dengan Dokter.My

Hal yang pertama kali harus dilakukan oleh penderita PJK tentu saja menemui dokter spesialis untuk berkonsultasi tentang kondisinya dan melakukan beberapa tes yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa. Namun, kalau merasa perlu second opinion bisa lho menghubungi dokter.my melalui layanan telepon, aplikasi Whatsapp atau website dengan menyertakan rekam medis (X-Ray, MRI).

Dokter.my adalah startup dari Eropa yang berupa platform bebas biaya untuk memfasilitasi second opinion dan perjalanan medis terutama di Asia Tenggara. Startup ini hadir untuk menjawab kebutuhan akan informasi kesehatan serta tingginya kesadaran masyarakat untuk mencari tempat berobat keluarga yang murah dan berkualitas.

Dengan berbagai fasilitas berikut ini, dokter.my menyediakan layanan bypass jantung dengan biaya operasi bypass jantung yang lebih murah untuk penderita jantung koroner yang memilih berobat di luar negeri:

  1. Pengalaman berobat yang nyaman dari mulai konsultasi, pengobatan, sampai pasien kembali ke rumah yang tentunya menjadi impian pasien dan keluarga.
  2. Memiliki tim dokter profesional yang berkualitas dan berpengalaman untuk berbagai penyakit serta jaringan rumah sakit spesialis terbaik bertaraf internasional dengan alat kesehatan berteknologi canggih.
  3. Layanan wisata medis terbaik terbaik dengan harga transparan.
  4. Layanan klaim asuransi gratis.

Dengan dokter.my, tidak perlu ragu lagi untuk mendapatkan second opinion tentang kondisi kesehatan keluarga.

alfakurnia
Posts created 345

14 tanggapan pada “Penyakit Jantung Koroner Kini Tidak Lagi Mengenal Usia

  1. Sekarang yang muda pun bisa kena serangan jantung juga, kadang suka gak percaya. Yang aku inget waktu ikutan workshop bareng Kemenkes, bahwa jantung itu biasanya tidak ada yang tiba-tiba dan dia sudah memberikan sinyal beberapa tahun belakangan. Yang penting nih jaga makanan dan olah raga.

  2. Ya Allah baca tulisan Mba Alfa jadi ingat aku kurang gerak banget selama di rumah aja ini 🙁 Benar-benar kita harus jaga kesehatan, pola makan dan gaya hidup ya Mba.. serta tidak lupa melakukan general checkup minimal 1 tahun 1 kali.

  3. kalau baca artikel tentang penyakit mematikan itu rasnaya deg-degan mba, apalagi ya jantung koroner ini menyerah kapan aja secara mendadak. semoga kita selalu diberikan perlindungan ya mba.

  4. masyaAllah.. iya nih.. makin ke sini usia penderita penyakit jantung kok makin muda aja ya? jadi parno sendiri. semangat buat hidup sehat, biar gak perlu berobat jantung. ngeriii

  5. duuuhh miris ya, sekarang usia produktif pun udah rawan akan penyakit jantung ini.
    gaya hidup salah satu penyumbang penyakit yg satu ini ya, hikss.
    semoga kita selalu diberi kesehatan ya dan rajin menjaga kondisi tubuh juga.

  6. Hidup dan mati ini nggak ada yang tahu ya Mba, semoga yang meninggal karena jantung koroner diberikan husnul khatimah. Pas Ashraf itu benar-benar heboh ya, kalo menurutku sesuai dengan aktivitasnya yang banyak dan kurang istirahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas