Menyongsong Program Matrikulasi Ibu Profesional

Posted in Babbles by

Sebenarnya nama Institut Ibu Profesional bukan hal yang asing bagi saya. Sudah sejak beberapa tahun lalu nama pendirinya, ibu Septi Peni Wulandari menghiasi linimasa media sosial saya, baik tentang kiprahnya menjadi ibu professional maupun tulisan-tulisannya yang inspiratif yang banyak dibagikan oleh teman-teman saya. Namun, sampai tahun lalu saya belum tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang Institut Ibu Profesional. Mungkin karena waktu itu saya sedang dalam fase jenuh belajar parenting.

Gimana nggak jenuh, saat itu banyak sekali pakar parenting yang saya ikuti di media sosial dengan berbagai teorinya tapi entah kenapa nggak ada satu pun yang berhasil saya terapkan secara konsisten kepada anak-anak sampai saya merasa gagal sebagai orang tua. Nggak mau berlama-lama terpuruk dalam kegagalan, saya sampai pada kesimpulan bahwa ilmu parenting itu nice to know tapi untuk penerapan dan hasilnya nggak bisa diharapkan sama untuk semua anak. Jadi, saya mundur sejenak. Saya seleksi lagi pakar-pakar parenting mana yang teorinya dapat diterapkan pada saya dan anak-anak. Saya memilih untuk mengikuti kata hati.

Sampai tahun lalu, tiba-tiba banyak sekali teman-teman saya di media sosial yang mengikuti Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional dan mereka secara masif membagikan hal-hal yang mereka pelajari maupun tugas-tugas yang harus mereka kerjakan di media sosial mereka. Bahkan dua orang teman saya di grup Arisan Blogger rajin sekali berbagi ilmu baik di media sosial mereka maupun di grup WA. Hal yang mereka bagi itu sedikit demi sedikit membuat saya tertarik dan penasaran, sehingga saat mbak Susi Ernawati memberi info bahwa program matrikulasi batch 6 akan dibuka, saya langsung pasang alarm di ponsel.

 

Pada hari H, lagi-lagi mbak Susi mengingatkan saya dan teman-teman di WAG Arisan Blogger untuk siap-siap mendaftar. Saya dan beberapa teman pun mencoba peruntungan kami di detik pertama pendaftaran dibuka. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu yang terpilih untuk mengikuti Program Matrikulasi Batch 6 kelas Luar Negeri. Antara bersyukur karena dari ribuan calon peserta yang mendaftar saya bisa terpilih. Dan deg-degan, karena meski ini bukan kelas online pertama saya, program Matrikulasi IIP ini merupakan salah satu dari dua kelas dengan durasi yang panjang yang saya ikuti.

Begitu grup whatsapp dibentuk dan saya berkenalan dengan teman-teman observer, peserta dan fasilitator, hal yang saya rasakan adalah kagum kepada mereka. Kebanyakan dari teman-teman di WAG Matrikulasi LN Batch 6 masih muda tapi prestasinya keren-keren. Sedangkan saya termasuk salah satu yang paling tua dan gini-gini aja hahaha. Saya juga salut dengan antusias teman-teman saat materi dibagikan dan sesi tanya jawab dengan para pengajar di IIP dibuka. Pertanyaan dari teman-teman tuh suka nggak kepikiran gitu sama saya sehingga banyak sekali info baru di luar materi yang saya dapatkan dari jawaban para pengajar terhadap pertanyaan teman-teman. Sementara saya sendiri memang lebih suka mengamati jalannya diskusi daripada mengajukan pertanyaan.

Kebiasaan inilah yang membuat saya agak khawatir dalam mengikuti program Matrikulasi ini. Karena dalam berbagai kesempatan, para observer dan fasilitator meminta peserta untuk aktif baik saat pembagian materi maupun saat diskusi. Ya, semoga saja dengan berjalannya waktu, saya bisa mengikuti ritme peserta yang lain dan dapat memaksakan diri untuk aktif bertanya dalam setiap sesi diskusi. Kekhawatiran saya yang lain adalah komitmen untuk hadir dalam setiap sesi materi dan diskusi. Kebetulan, waktu yang disepakati saat ini bertepatan dengan waktu antar jemput kakak Cinta ke sekolah Ugama. Saya sudah mencoba untuk mengantarnya lebih awal supaya saat sampai rumah tepat saat sesi online dimulai. Tapi kok kasian sama anaknya karena waktu istirahat di rumahnya jadi berkurang dan dia harus menunggu lama di sekolah. Yah, rasanya nggak adil kalau anak harus berkorban hanya supaya ibunya bisa masuk kelas kan ya. Eh, mungkin sih adil adil aja tapi saya yang nggak tega. Kalau sesekali nggak papa tapi kalau tiap hari yaaa…

Sesi online kedua juga bertepatan dengan jam tidur anak-anak. Masa ini nggak bisa diganggu gugat atau dialihkan ke orang lain karena anak-anak maunya ya mama yang harus bacakan cerita untuk mereka, bahkan si Keenan maunya tidur dengan kepala beralaskan lengan mama hahaha hadeuuuh. Ke depannya sih berusaha memajukan jam tidur secara bertahap karena sejak jam sekolah Ugama kakak jadi semakin panjang 30 menit mulai awal bulan Juli ini, otomatis jam tidur pun ikut mundur. Tapi semoga sih semua aktivitas di malam hari bisa dimampatkan supaya jam tidur bisa kembali ke waktu semula dan saya dapat mengikuti sesi online kedua. Namun, sementara ini masuk kelas sesempatnya aja, minimal setor kehadiran, sedangkan materi dan diskusi dibaca belakangan saat ada waktu luang.

Tapi saya tetap semangat kok mengikuti program Matrikulasi ini. Berbagai materi yang saya terima saat kelas foundation aja sudah menarik sekali. Mulai dari pengenalan tentang Ibu Profesional, teknis perkuliahan yang akan kami ikuti sampai materi manajemen gawai membuat saya betah menunggu-nunggu materi apa saja yang akan kami terima berikutnya. Semoga program matrikulasi IP ini bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih disiplin waktu dan produktif serta ke depannya menjadi ibu yang lebih baik bagi keluarga saya dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya.

Teman-teman pembaca Pojok Mungil ada yang sudah atau sedang mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional? Boleh lah sharing pengalamannya di kolom komentar. Saya tunggu ya…

Previous Post Next Post

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Yuk baca ini juga