Menenangkan Bayi Rewel Karena Kolik dengan Alat Pembersih Debu

Kemarin waktu beres-beres file di komputer, saya menemukan banyak sekali foto-foto Cinta semasa bayi. Maklum ya, namanya juga anak pertama. Pasti setiap langkahnya nggak lewat dari jepretan kamera walaupun hasilnya masih ala kadarnya. Menyenangkan juga nostalgia ke masa dia bayi. Mengenang masa-masa saya masih awam dengan dunia peribuan dan masih suka bingung menghadapi bayi yang tiba-tiba nangis nggak berhenti mulai maghrib sampai menjelang tengah malam.

Akibat kebingungan itu, Cinta sempat berkali-kali kami bawa ke dokter yang berakhir dengan gebokan obat yang harus dikonsumsinya dan instruksi diet untuk saya karena masih menyusui. Konon, menurut dokter, makanan yang dikonsumsi ibu menyusui juga bisa berpengaruh terhadap pencernaan anak. Jadi waktu itu saya harus mengurangi makan daging ayam, ikan, telur, juga sayuran yang bisa menyebabkan perut kembung seperti kubis.

Tapi ternyata episode menangis di malam hari sambil menekuk tubuhnya seolah-olah perutnya sakit itu masih sering berlangsung. Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya di buku The Baby Book karangan William Sears, MD yang setebal batu bata. Dari buku itulah saya mengetahui kalau gejala yang dialami oleh Cinta itu berjudul kolik. Walaupun kemudian Dr. Sears bilang sebenarnya nggak mudah mendiagnosa bayi mengalami kolik. Dan beliau lebih suka menyebut bayi yang terus menerus menangis dalam periode tertentu itu sebagai, ‘the hurting baby‘. Tapi sebagian besar dokter anak dan situs-situs kesehatan sudah terlanjur mengenal gejala tersebut sebagai kolik. 

apa dan bagaimana kolik

Dengan mengandalkan koneksi internet yang masih terbatas waktu itu dan sumber informasi yang belum sebanyak sekarang, saya coba berbagai metode yang dipercaya untuk menenangkan bayi yang terus menerus menangis karena gangguan perut yang nggak diketahui penyebabnya ini. Mulai dari menggosok perut pakai minyak telon, pijat bayi, diayun-ayun, gendong kanguru sampai yang sepintas nggak masuk akal seperti menyalakan hair dryer dan alat pembersih debu. 

Tapi yang dua terakhir ini cukup efektif lho buat Cinta dulu. Ternyata alat pembersih debu termasuk salah satu alat elektronik yang mengeluarkan white noise, selain hair dryer. White noise adalah suara bising yang mengandung banyak frekuensi dengan intensitas yang sama dan dapat menenggelamkan suara yang lain. Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, bayi terutama yang baru lahir, suka sekali dengan white noise karena mirip dengan suara yang mereka dengar selama berada di dalam rahim. 

Nah, karena itulah suara dari alat pembersih debu dapat menenangkan bayi, terutama yang belum terbiasa dengan keriuhan dunia luar. Kalau bayi tenang, otomatis dia bisa tidur dengan mudah kan ya. Jadi meskipun aneh, metode ini cukup masuk akal juga dipraktikkan, bahkan salah seorang blogger luar negeri pernah cerita saking seringnya bayinya rewel karena kembung, dia jadi tergantung sama alat pembersih debu ini sampai mesinnya rusak karena terlalu sering dinyalakan. Jadi lumayan ya, selain untuk membersihkan rumah, alat pembersih debu juga bermanfaat menenangkan bayi yang rewel.

 

 

7-tips-menenangkan-bayi-rewel-3

Tentunya, selain dengan white noise dari alat pembersih debu, hair dryer, kipas angin, humidifier dan suara yang dihasilkan ketika siaran TV habis trus cuma keliatan layar berbintik-bintik seperti semut, ada banyak metode yang bisa kita lakukan saat anak rewel karena merasa nggak nyaman dengan kondisi tubuhnya atau lingkungannya. Ini dia 7 di antaranya:

1. Bedong

Membungkus bayi dalam kain bedong kayanya sekarang sudah mulai ditinggalkan karena banyak yang bilang nggak baik untuk kesehatan anak. Tapi dalam beberapa kasus, seperti bayi yang rewel terus karena kolik, dibedong bagi mereka seperti berada dalam rahim. Menenangkan dan nyaman. Hanya saja pastikan bedong nggak terlalu kencang, sekadar agar tangan dan kaki anak nggak bisa keluar.

2. Nyalakan White Noise

Masih dengan alasan yang sama seperti bedong, suara-suara ‘putih’ yang dikeluarkan oleh alat pembersih debu, pengering rambut, pencuci piring mirip dengan yang didengar bayi saat dalam kandungan. Suara-suara itu dikenal sebagai soothing sound yang dapat membuat bayi lebih tenang. 

3. Shh!

Bukan, ini buat suara shhh dalam nada membentak ya. Ini suara shhh yang kita gunakan untuk menimang bayi, kebayang kan? Nah, gendong bayi dalam posisi berdiri trus bisikkan shhhh panjang ke dekat telinganya dengan volume yang lebih keras dari suara tangisannya.

4. Naik Mobil

Kalau punya mobil, cara ini lumayan ampuh lho untuk menenangkan bayi yang rewel. Dulu juga kalau Cinta rewel semaleman, adik-adik dan sepupu saya yang tinggal di rumah (mama saya) bergantian nyetirin mobil keliling komplek perumahan sampai dia tertidur. Biasanya sih, nggak sampai 5 menit muter Cinta sudah tidur. Menurut WebMD, cara ini efektif karena sejak dalam kandungan, bayi terbiasa ikut bergerak. Jadi kalau kita bawa naik mobil, diayun, kita pangku sambil duduk di kursi goyang atau didudukkan dalam kursi bayi yang punya mode getar, bisa membuat bayi nyaman karena mengingatkannya pada keadaan saat dalam kandungan.

5. Pijat Bayi

Menurut penelitian, bayi yang dipijat cenderung jarang menangis dan mudah tidur nyenyak. Nah, awalnya saya kira pijat bayi yang paling efektif adalah di tempat terapis pijat bayi gitu. Tapi ternyata itu nggak berlaku untuk Cinta. Setiap dipijat dia selalu menangis heboh meskipun setelah itu bisa tidur dengan tenang dan nyaman.

Akhirnya saya coba belajar pijat bayi sendiri lewat buku dan VCD, ternyata Cinta suka banget. Sentuhan lembut kulit kita dengan si bayi selain menenangkan bayi ternyata juga menenangkan kita. Dan bisa meningkatkan bonding ibu dan bayi serta dapat mengeluarkan gas di dalam perut yang biasanya membuat bayi kesakitan.

6. Sendawakan Bayi

Satu cara yang sering dianjurkan oleh para dokter yang kami kunjungi dalam periode tangisan tak berujung ini adalah rajin menyendawakan bayi setelah dia minum susu atau menangis. Seringkali, udara yang ikut masuk saat anak minum susu atau menangis menyebabkan perutnya kembung dan bergas, sehingga semakin parah rewelnya.

7. Kunjungi Dokter

Banyak faktor yang menyebabkan anak menangis tiada henti, sehingga untuk menentukan faktor penyebabnya dan menemukan cara terbaik untuk membuatnya nyaman adalah dengan berkonsultasi dengan dokter anak langganan kita. Takutnya ada kondisi medis yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu menurut pengalaman pribadi, setiap kali merasa galau dengan kondisi anak, berkunjung dan berkonsultasi dengan dokter bisa membuat kita lebih tenang. Tentu pilih dokter yang mau diajak berdiskusi ya, bukan yang hanya periksa 1 menit langsung kasih obat.

Hal yang terpenting dalam menghadapi bayi yang rewel karena kolik ini adalah kita harus tetap tenang dan pastikan bahwa rewelnya anak bukan karena lapar atau mengantuk. Nggak gampang memang, saya tahu banget itu. Tapi semakin kita bingung dan panik yang berujung marah-marah, bayi juga jadi makin nggak nyaman sehingga makin rewel. Kalau sudah benar-benar nggak tahan dengan kerewelan bayi, letakkan dia di tempat yang aman atau titipkan pada orang rumah sementara kita minum teh, makan atau mandi supaya segar. Dan yakinlah ini semua akan berakhir kok. Biasanya setelah 6 bulan, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis terus menerus. So, hang in there, Mom.

6 Replies to “Menenangkan Bayi Rewel Karena Kolik dengan Alat Pembersih Debu”

  1. tulisannya bermanfaat banget 🙂

  2. pasti senag banget ya mbk, punya ank pertama,, selamat ya mbak

  3. Pakde Cholik says:

    Saya mengetahui kolik justeru saat sekolah di Seskoad Bandung
    Kuda kabarnya juga sering kena penyakit ini
    Terima kasih pencerahannya
    Salam hangat dari Jombang

  4. mysukmana says:

    anakku juga pernah seperti ini mbak..
    setelah ke dokter dikasih obat
    besoknya alhamdulillah sembuh 🙂

  5. ranirtyas says:

    Rata-rata tetanggaku pada sering kena kolik mbak. Makanya waktu itu pas aku punya bayi lagsung horor bawaannya. Makanya setiap habis minum tak usahakan sampai dia sendawa.

  6. serius aku baru tau ini.. duh, kemane ajeee riiin? soalnya alhamdulillah anak pertama dan kedua ngga ada yang seperti itu.
    tapi makasih banget sharingnya ya Mba.. bener-bener nambah ilmu. 🙂

Komentar ditutup.