Mendapatkan SIM Brunei Nggak Susah, Kok.

Angkutan Umum di Brunei

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan teman-teman tentang Brunei adalah moda transportasi publiknya. Angkutan umum di Brunei nggak seperti sebagian besar kota di Indonesia yang memiliki aneka jenis dan rute. Bahkan baru-baru ini pemerintah Indonesia meresmikan MRT sebagai moda transportasi umum termutakhir yang diharapkan mampu mengurangi kemacetan di ibukota Jakarta.

Angkutan umum di Brunei terbatas jenisnya, hanya berupa bus besar dan kecil dengan rute yang nggak banyak. Misalnya ya bus laluan wilayah Belait yang pernah kami naiki beberapa waktu lalu. Atau bus antar distrik seperti rute Seria – Bandar Seri Begawan.

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam
angkutan umum di stasiun bus Seria

Sehingga kendaraan pribadi menjadi sangat penting dimiliki untuk bepergian di Brunei. Apalagi untuk keluarga yang memiliki anak usia sekolah. Kalau nggak ada mobil (= kereta dalam bahasa Melayu) ya susah mau anter jemput anak sekolah. Ikut mobil jemputan sekolah pun kurang praktis karena biasanya setelah sekolah pagi, anak-anak muslim di sini harus pergi ke Sekolah Ugama untuk mendalami agama Islam. Tapi bukan berarti nggak ada mobil jemputan sekolah, ada kok cuma nggak banyak. Beberapa teman sesama orang Indonesia juga ada yang memanfaatkan jasa mobil jemputan sekolah ini. Biasanya sih yang belum punya lesen memandu/driving license/SIM Brunei.

Mendapatkan Lesen Memandu di Brunei

Saya sendiri dulu baru punya SIM Brunei setelah 2 tahun tinggal di Brunei dan selama itu nyetir kemana-mana di Brunei hanya berbekal SIM Indonesia hahaha. Jangan ditiru ya. Alhamdulillah belum pernah kena tilang meski sering sekali melewati road block atau razia kendaraan bermotor. Tapi sekarang sudah mulai ketat ya razianya jadi sebaiknya kalau pindah ke Brunei sesegera mungkin mengurus lesen memandu Brunei, karena SIM Indonesia hanya berlaku di Brunei 3 bulan saja.

Setelah kita punya smart IC atau kartu identitas penduduk Brunei maka wajib hukumnya punya SIM setempat kalau ingin memandu kendaraan bermotor di Brunei Darussalam. Bahkan kalau kita memiliki SIM Internasional yang dibuat di Indonesia pun tetap harus punya driving license Brunei.

Menurut saya sih, nggak susah kok mengurus SIM Brunei ini, apalagi kalau sudah punya SIM Indonesia. Tapi kalau belum punya harus ikut sekolah mengemudi dulu di sini baru setelah itu bisa mengurus lesen memandu. Konon biaya sekolah mengemudi di Brunei ini cukup mahal, kabar yang saya dengar mencapai B$200 atau setara dengan Rp 2.000.000.

Nah, kalau sudah punya SIM Indonesia cukup sederhana kok mengurus SIM Brunei, yang nggak mudah itu kalau pakai tes hehehe. Tapi nggak semua melalui tes mengemudi sih, seperti saya misalnya. Mungkin karena saat itu saya ke Jabatan Pengangkutan Darat sambil bawa Keenan yang masih bayi. Atau karena mereka merasa bersalah karena sempat menghilangkan berkas pendaftaran SIM saya sehingga saya nggak disuruh menjalani tes mengemudi.

Cara Mengurus Lesen Memandu Brunei bagi pemilik SIM Indonesia:

  1. Ke KBRI untuk minta endorsement SIM Indonesia dengan biaya B$25. Biasanya selesai dalam 1-2 hari kerja.

    SIM Brunei, JPD Kuala Belait
    Jabatan Pengangkutan Darat Kuala Belait
  2. Datang ke Jabatan Pengangkutan Darat atau Land Transport Department terdekat untuk mengambil borang atau formulir pendaftaran lesen memandu atau SIM Brunei.
  3. Isi borang dan lengkapi dokumen yang diminta yaitu:
    1. Surat Keterangan atau endorsement dari KBRI.
    2. Fotokopi SIM Indonesia tampak depan dan belakang.
    3. Fotokopi paspor halaman data diri dan halaman visa atau dependant pass.
    4. Fotokopi IC.
    5. Untuk pekerja asing seperti suami saya biasanya diminta surat keterangan dari kantor.
    6. Untuk pemegang dependant pass seperti saya biasanya diminta menyertakan surat keterangan dari kantor suami.
  4. Menyerahkan borang dan dokumen ke JPD untuk diperiksa dan jika lengkap akan diminta menemui pegawai JPD untuk diwawancarai.
  5. Pegawai JPD akan menentukan apakah perlu tes mengemudi atau tidak.
  6. Kalau perlu tes mengemudi akan dibuat jadwal tes dan mengikuti instruksi selanjutnya. Kalau tidak lulus tes akan diminta untuk tes ulang beberapa waktu kemudian.
  7. Kalau nggak pakai tes mengemudi, berkas dikembalikan ke kita untuk diserahkan ke kaunter.
  8. Bayar $10 untuk pertukaran (endors) lesen luar negeri.
  9. Foto dan rekam data diri.
  10. SIM Brunei bisa diambil sesuai dengan instruksi pegawai JPD. Sementara itu kita akan diberi slip yang berfungsi sebagai SIM sementara.

Lesen memandu atau driving license atau SIM Brunei ini memiliki beberapa masa berlaku. Ada yang 1 tahun dengan bayaran $10, 3 tahun = $30, 5 tahun = $50 dan 10 tahun = $100. Namun bagi yang pertama kali mengurus SIM Brunei cuma bisa memilih masa berlaku 1 atau 3 tahun. Setelah habis masa berlaku bisa deh membuat SIM baru dengan masa berlaku 1, 3, 5 atau 10 tahun.

Memperbarui SIM Brunei

SIM Brunei, JPD
counter layanan lesen memandu di JPD

Membuat SIM baru setelah masa berlaku hampir habis juga simpel banget. Yang perlu kita lakukan hanyalah:

  1. Datang ke JPD dengan membawa IC yang masih berlaku dan SIM lama.
    Bagi foreigner seperti saya ada tenggang waktu sampai 2 bulan setelah masa berlaku habis untuk membuat SIM baru. Lebih dari 2 bulan harus mengulang proses pembuatan SIM dari awal lagi (dengan endorse, isi borang, foto, dll). Jadi jangan sampai tunggu masa berlaku SIM habis ya, lebih baik ganti lebih awal. Biasanya menjelang masa berlaku SIM Brunei habis, kita akan dapat SMS dari JPD yang mengingatkan kita untuk mengganti SIM.
  2. Isi borang jika diperlukan (misalnya pindah alamat atau ganti foto baru)
  3. Ambil nomor antrian
  4. Saat nomor antrian dipanggil, serahkan IC dan SIM lama ke counter renewal driving license dan membayar biaya SIM baru sesuai dengan masa perpanjangan yang diinginkan.
  5. Tunggu 5-10 menit dan kita bisa pulang dengan SIM baru.

Catatan: untuk warga senior (di atas 60 tahun) harus menyertakan surat keterangan sehat dari dokter. Di mana pemeriksaan kesehatan ini dilakukan secara serius lho. Nggak kaya di klinik tempat saya memperbarui SIM Indonesia kemarin yang cuma diperiksa tensi trus dikasih surat keterangan sehat.

Sederhana kan.

Biasanya, renewal SIM ini bisa juga dilakukan di kantor pos. Tapi bulan ini saat saya mau memperbarui SIM, sistem di kantor pos sedang mengalami gangguan teknis jadi semua diarahkan ke JPD. Sehingga yang tadinya nggak pernah antri tiap memperbarui SIM kali ini harus antri lama, bahkan sebelum kantor JPD buka. Tapi nggak papa sih wong setelah kantor dibuka proses dari ambil nomer antrian sampai SIM baru saya dapat 15 menit saja. Coba ya di Indonesia bisa begitu.

Aturan Pakaian

Ada dress code yang harus dipatuhi saat kita berurusan dengan kantor pemerintahan seperti JPD dan imigrasi. 2 kantor yang akan sering kita kunjungi selama tinggal di Brunei.

Secara umumnya ya harus berpakaian rapi dan sopan dengan memakai pakaian berlengan dengan panjang baju minimal di bawah lutut. Nggak boleh pakai sandal jepit ya.
Celana jeans boleh? Boleh asal panjangnya di bawah lutut.
Boleh pakai kaos? Boleh asal berlengan.
Yang perempuan harus berjilbab? Enggak.

Manner is The Key Thing

Yang penting bersikaplah baik dan sopan saat berurusan dengan pegawai pemerintah. Nggak jarang kita ini dipandang dengan sebelah mata oleh orang lokal karena Indonesia terkenal sebagai pengekspor tenaga kerja asing sektor domestik terbesar selain Filipina, jadi ya banyak yang menganggap kita semua ini amah (PRT) atau pekerja non profesional. Tapi jangan trus jadi jutek. Nanti bisa-bisa dipersulit.

Ramah ajalah, kalau ditanya ya jawab yang baik. Kalau kita yang perlu bertanya ya bertanyalah dengan sopan, “Maaf tuan/puan, kalau saya mau begini harus bagaimana ya?” Dan jangan lupa ucapkan terima kasih. Jangan gampang baper. Kalaupun baper ditahan aja, ntar boleh dicurahkan begitu sampai rumah. Anggap aja resiko numpang kerja dan tinggal di negara orang.

quote about manners

Tapi, pengalaman saya (dan teman-teman) sih selama kami berpakaian sopan dan rapi dan bicara dengan baik, rata-rata pegawai pemerintahan di sini juga bersikap ramah dan segan kepada saya. Bahkan lebih baik daripada layanan publik di kantor pemerintahan di Indonesia. Hmmmm boleh ya tolong revolusi mental itu Disdukcapil, kelurahan dan Polres di kabupaten saya.

Oya, satu cerita lagi nih. Waktu saya mengurus dokumen untuk endorsement SIM tahun 2014, pegawai toko tempat saya fotokopi dokumen cerita kalau saat itu orang Indonesia agak susah endorse SIM. Katanya, gara-gara ulah sebagian pekerja migran yang ‘nembak’ SIM Indonesia di Pontianak, padahal sebenarnya mereka belum bisa nyetir mobil. Memang sih dari Brunei ke Pontianak bisa ditempuh dengan jalan darat, kalau nggak salah memakan waktu 24 jam perjalanan. Akhirnya setelah beberapa orang ketahuan kalau mereka nggak bisa nyetir, endorsement SIM Indonesia ke SIM Brunei diperketat. Banyak orang Indonesia terpaksa harus menjalani tes mengemudi saat mengurus SIM Brunei.

Jadi pesan saya, nggak usahlah pakai nembak SIM segala. Belajarlah mengemudi dulu yang benar baru bikin SIM Indonesia lalu endorsement SIM Brunei. Lebih aman dan nggak menyusahkan sesama orang Indonesia.

Nah teman-teman ada yang punya pengalaman mengesankan atau mengesalkan saat membuat SIM di Indonesia maupun di luar negeri? Yuk, berbagi di kolom komentar.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.