What We Learn From Our Mom

Dulu, jaman saya remaja, saya sering menganggap mama saya tuh nggak gaul karena sering menasihati ini itu atau melarang begitu begini. Mama saya juga suka bilang kalau anak-anak generasi saya (dan adik-adik) beda sekali dengan beliau waktu kecil dulu. Selera musik yang aneh, skala prioritas.yang bukan lagi soal pelajaran, dan masih banyak lagi. Semakin dewasa, semakin jauh gap antara saya dan mama sampai akhirnya saya menikah dan punya anak.

Nggak sedikit pertentangan yang saya alami dengan mama soal merawat bayi, meskipun banyak sekali yang saya pelajari dari beliau, misalnya soal memandikan bayi, cara membedong anak sampai cara menggendong anak. Yang paling seru (menurut saya nih ya) ya soal ASI vs sufor dan pengobatan. Generasi mama saya masih percaya bahwa susu formula adalah asupan terbaik bagi anak, sedangkan saya merasa sebaliknya. Begitu pula dengan pengobatan, setelah belajar dari sebuah milis dan sharing dengan beberapa teman, saya berusaha mengadopsi sistem rational use medicine, sedangkan orang tua saya ya masih beranggapan bahwa bayi sakit wajib hukumnya ke dokter.


Ternyata nggak cuma saya yang mengalami pertentangan seperti itu dengan orang tua. Banyak lho, mamah mamah muda yang bernasib sama. Bahkan sampai ada yang benar-benar bertengkar dan memusuhi ibunya karena perbedaan pendapat ini. Sedih banget ya. Saya pun dulu sering merasa kesal karena pada pagi hari tiba-tiba Cinta sudah selesai mandi dan diberi susu formula oleh mama dan nenek saya, padahal saya ingin sekali bisa ASI eksklusif. Atau saat batuk pilek baru sehari dua hari sudah disuruh-suruh ke dokter. Tapi, setelah kami bisa berbicara dari hati ke hati, alasan beliau adalah kasihan melihat saya yang lelah karena begadang semalaman mengurus Cinta. Atau nggak tega melihat bayi kecil terus-terusan sakit. Ternyata semua itu beliau lakukan sebagai bentuk sayangnya pada kami berdua kok.

Sejak itu saya berusaha mencari jalan terbaik untuk bisa berkompromi dengan mama. Menunjukkan artikel-artikel tentang ASI, mencari dokter anak yang se”aliran” dengan saya. Hebatnya, mama saya juga seakan berusaha untuk bisa mengerti dan memahami keinginan saya, sampai akhirnya beliau menjadi salah satu pendukung ASI yang hebat dan bahkan bisa ikut mempromosikan kebaikan ASI di kantornya. My mom is cool, right?

Di ulang tahun Cinta ini, saya mengenang kembali perjalanan 5 tahun menjadi ibu dan menyadari bahwa mama saya (dan suami tentu saja) adalah sosok terpenting di belakang perjuangan kami menjalani peran sebagai ibu dan anak. Tanpa beliau mungkin saya tidak bisa survive dari post partum depression, tanpa beliau juga mungkin saya tidak bisa maksimal untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi Cinta. 

Untuk itulah, saya membuat giveaway  bertemakan ajaran orang tua yang masih kita gunakan dalam mengasuh anak-anak kita sekarang. Sekadar mengingatkan bahwa meskipun masa berganti, ilmu berubah dan kita saat ini merasa lebih pintar dari ibu, masih banyak ajaran-ajaran beliau yang timeless. Mengasuh anak bukan cuma soal ASI vs sufor, RUM vs IRUM, MPASI rumahan vs MPASI instan. Masih banyak hal yang harus kita pelajari dan seringkali orang tua adalah guru terbaik.

Dan saya terharu sekali melihat banyak wisdom dari para nenek atau kakek yang diamalkan oleh mamah papah jaman sekarang. Semuanya bagus menurut saya, seperti mengajarkan kejujuran, kemandirian, menghargai barang atau makanan, menghindari labeling sampai soal mengajarkan sebab akibat pada anak. Itu adalah ilmu-ilmu parenting yang mungkin dipelajari mama-papa kita secara otodidak, dilakukan dari hati dan sekarang dianut oleh banyak ahli parenting.

Karena semuanya bagus sehingga saya bingung memilih pemenang, akhirnya saya menggunakan caranya om Warm untuk menentukan 2 orang yang mendapatkan paket buku “Rumah Cokelat” dan seri buku anak “Sejuta Warna Pelangi“. Dan yang beruntung adalah Myra Anastasia dan Titut Ismail, silakan kirim alamat pengiriman ke: alfa(dot)kurnia(at)ymail(dot)com atau via akun FB/Twitter. Terima kasih banyak atas partisipasi dan ucapan teman-teman semua untuk Cinta, doa terbaik untuk semua 🙂

2 Replies to “What We Learn From Our Mom”

  1. liat beklink di blog td saya kira menang aja *ge er* 😆

    selamat buat yg menang yaaa

  2. gpp, saya emang suka ge eran kok *halagh* 😆

    eh skali lagi met ultah CInta 😀

Komentar ditutup.