#IndonesiaJujur: Semua Berawal dari Rumah

Sejak anak saya mulai bisa bisa diajak bicara dan diberi pemahaman, salah satu nilai yang saya tanamkan adalah kejujuran. Mulai dari hal yang sederhana saja seperti tidak berbohong atau pergi diam-diam karena saya harus bekerja atau menghadiri suatu urusan di luar rumah dan dia menangis minta ikut. Juga tidak menjanjikan sesuatu yang kira-kira tidak bisa atau tidak ingin saya tepati hanya untuk menghibur hatinya yang sedang sedih. Memang sepertinya kejam ya, apa sih salahnya bilang, “Mama cuma pergi ke depan sebentar kok, Dek” padahal kita akan pergi ke kantor selama 8 jam, atau berkata, “Ayo makan yang pinter, nanti mama belikan Barbie kalo makannya habis” padahal cuma isapan jempol. Tapi tahukah kalau dari kebohongan kecil seperti itu efeknya besar sekali seperti hilangnya kepercayaan anak kepada orang tua dan anak tidak akan menurut lagi pada orang tuanya. Dan yang dikhawatirkan adalah kelak anak akan menganggap bohong dan curang adalah perilaku yang wajar, well they learnt from the best, their parents 🙂

Dalam perilaku sehari-hari pun saya berusaha memberi contoh dan mengajarkan dia untuk berkata sebenarnya dan menghindari kecurangan. Tentu dengan bahasa dan contoh yang mudah dipahami oleh balita. Hal ini saya terapkan dengan harapan kelak anak saya bisa menjadi pribadi yang tahu apa yang baik dan benar, tidak mudah tergoda hal-hal yang buruk dan menghargai hasil kerjanya sendiri juga orang lain. Saya juga berharap lingkungan sekitar kami terutama sekolah di mana anak bisa menghabiskan sampai 1/3 waktunya dalam sehari memiliki konsep yang sejalan dengan apa yang kami praktikkan di rumah. Sehingga meski masih usia Kelompok Bermain dan akan masuk TK, saya sangat berhati-hati memilih sekolah untuk putri semata wayang saya. Jangan sampai apa yang terjadi di sekolah mematahkan prinsip-prinsip yang ditanamkan ke anak.

Setiap tahun, saya sering miris membaca berita tentang kecurangan-kecurangan yang dilakukan murid maupun pihak sekolah saat menghadapi Ujian Nasional. Seringkali saya berpikir apakah para pengajar tidak percaya diri dengan ilmu yang sudah diberikan kepada murid-muridnya atau orang tua tidak memiliki kepercayaan bahwa anaknya mampu lulus dengan baik sehingga merasa harus curang dalam ujian. Yayaya, jaman sekolah dulu saya juga pernah nyontek demi sebuah nilai bagus tapi itu adalah aksi individu, untuk kepentingan saya sendiri. Lagipula saya nggak bangga dengan perilaku itu dan biasanya selalu ketahuan lalu dihukum, baik oleh guru, peer group maupun orang tua. Belum pernah saya mendapati guru-guru saya dari SD sampai SMA atau dosen saya membuat skenario nyontek berjamaah saat ujian seperti yang dilakukan oleh wali kelas 6 SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya yang memaksa siswanya untuk memberi contekan kepada teman-temannya saat Ujian Nasional.

Lebih terkejut lagi saat mendengar anak yang dipaksa memberi contekan itu dan Ibunya yang mengadukan masalah tersebut ke Dinas Pendidikan malah diusir dari kampungnya dan dianggap mencemarkan nama baik sekolah dan kampung *tepokjidat*. Jika memang wali murid menganggap AL bisa membantu teman-temannya lulus ujian kenapa tidak meminta AL dan ibu Siami mengajak teman-teman sekelasnya belajar bersama atau mengerjakan latihan soal, bukannya disuruh berlaku curang. Dan jika perilaku mencontek massal sudah dianggap sebagai hal yang wajar demi sebuah kesuksesan bersama, bahkan sampai dibela oleh orang sekampung tentu ada yang salah dengan pola pengasuhan anak dan sistem pendidikan kita.

Semoga Ibu Siami tidak patah arang dalam menanamkan kejujuran kepada anak-anaknya, perilaku yang dianggap menyimpang dalam masyarakat yang sudah mulai kehilangan nilai-nilai moralnya. Saya juga berharap kasus ini mengingatkan banyak pihak untuk kembali mengajarkan pentingnya nilai-nilai baik kepada anak dan lingkungannya demi #IndonesiaJujur dan masa depan yang lebih baik.

Gambar diambil dari blog.syracuse.com.

 

Komentar ditutup.