Curhat di Sosmed

Posted in Babbles by

Just read this article, about a girl who killed herself and the same question haunted me. She tweets a lot about her pain, her sorrow but none of her followers help her. WHY?

Seringkali orang yang sedang depresi cuma butuh orang yang bisa dan mau mendengarkan, memahami dan membantu mereka mengatasi kesulitannya. Nggak harus melakukan sesuatu yang heroik kok, kadang memberikan bahu untuk bersandar, lengan untuk memeluk sudah cukup berarti. Sayang, nggak semua orang bisa mengekspresikan kebutuhannya ini secara verbal, apalagi yang berhubungan dengan sexual abuse seperti yang dialami Billy.

Di jaman digital seperti ini, di mana -untuk sebagian orang- kehidupan sosial terasa lebih nyata di dunia maya, cukup banyak orang yang merasa lebih nyaman untuk mencurahkan perasaannya di sosial media. Mungkin karena mereka tidak ada kontak fisik secara langsung dengan orang lain atau karena lebih mudah mengungkapkan pikiran dan perasaannya lewat tulisan.
Curhat di sosial media banyak bentuknya, mulai dari sekedar curhat, narsis, pencitraan sampai benar-benar butuh bantuan. Tanggapan orang pun beragam, ada yang menanggapi dengan serius sampai terang-terangan merasa jengah, hingga muncul himbauan “Face your problem, don’t facebook them”.

Atas nama meningkatkan jumlah follower, curhat galau pun sudah mulai menjadi trademark akun-akun tertentu. Nah, yang seperti ini kadang bikin rancu, mana twit yang cuma pencitraan atau galau beneran dan butuh pertolongan. Takutnya kita udah serius menanggapi suatu twit curhat eh yang bersangkutan ternyata cuma iseng. Sementara yang betul-betul curhat dan ingin ditanggapi dicuekin karena dianggap pencitraan.

Well, mungkin kejadian Billy ini bisa jadi pengingat untuk lebih peka dan tidak mengabaikan begitu saja update status curhat menye-menye meski kadang memang terasa menjengkelkan. Siapa tahu, sekedar reply “are you okay dear? I’m here if you need someone to talkcould save someone’s life. Nggak susah kan, cuma butuh sedikit kepekaan dan simpati, kok. Biar aja dibilang kepo, toh kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di balik 140 karakter. Bahkan mungkin sekedar icon hugs atau balasan “be strong, you’re not alone” asal dilakukan dengan tulus, bisa sangat berarti bagi orang yang membutuhkan 🙂

Oya, if you’re a survivor, a sexual abuse or rape victim, and need someone to talk, butuh lingkungan yang bisa menguatkan, silakan follow akun @JendelaJiwa. They might help you.

Nov 11, 2011
Previous Post Next Post

Yuk baca ini juga