Teacher’s Day

Sejujurnya dulu saya ragu mengirim Keenan ke sekolahnya yang sekarang ini, karena bagi saya terlalu serius dan kompetitif.

Cinta yang memang dasarnya mudah beradaptasi saja, dulu sempat mengalami masa-masa drama disuruh bikin PR dan belajar untuk ujian. Apalagi Keenan, yang waktu itu belum lancar bicara, susah konsentrasi dan jago kandang.

Jadi ketika Keenan disarankan untuk sekolah di usia 3 tahun, saya pilih sekolah lain yang menurut saya lebih ‘ringan’. But it turned out to be a mistake. A big one.

Akhirnya di tahun berikutnya, nggak pakai ragu, saya kembali ke sekolah ini. Meski sudah survey ke beberapa sekolah lain, hati saya sudah mantap di sini. Sekolah yang kami kenal sejak 5 tahun yang lalu saat baru pindah ke Brunei. 

Seperti umumnya anak baru masuk sekolah, minggu-minggu pertama terasa berat bagi Keenan. Terutama takut dengan gurunya. Maklum, guru-guru di sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dan cara mengajar yang agak keras. Bukan lembut macam sekolah taman kanak-kanan di Indonesia. Tapi bukan keras yang ngawur juga. Karena cara mengajarnya menyenangkan. Sehingga lambat laun sebagai salah satu murid termuda di kelasnya dengan keterbatasannya, he’s improving.

Anak yang tadinya bicara aja nggak jelas, sekarang bisa bicara 2 bahasa dan bisa mulai hafal huruf Cina. Dia jadi senang berhitung, berani ngomong sama gurunya, main sama teman-temannya, dan masih banyak lagi.

Yang penting, dia nggak lagi takut pergi ke sekolah. Nggak ada drama ngumpet di antara jok mobil sambil histeris bilang takut sama teacher. Memang masih sering nangis nggak mau sekolah, tapi menurut saya lebih karena dia pengen main di rumah aja. Bukan karena sekolah dan guru menakutkan baginya.

Nggak ada juga yang tiap hari mengeluhkan segala keburukan Keenan di hari itu tanpa sekalipun mengapresiasi pencapaiannya. Yang ada adalah guru-guru yang menyambut murid-muridnya dengan senyum meski sesekali menegur mereka dengan suara keras jika salah. Guru yang menunjukkan kemajuan Keenan sambil memberikan saran untuk memperbaiki kekurangannya.

Happy Teacher’s Day. Thank you for helping our children to grow.

Tentu masih banyak yang harus dikejar Keenan supaya tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-teman sekelas dan seangkatannya. But I don’t mind to running slow, following his pace. Sambil terus berusaha memotivasinya supaya lebih gigih berusaha, seperti yang dilakukan guru-gurunya.

Alhamdulillah, Allah kirimkan guru-guru yang sesuai dengan kebutuhan Keenan di sekolah ini. Terima kasih, Cikgu. Xie xie, Lao tse.

Selamat Hari Guru. Happy teacher’s day.

Prompt #15: Sahabat

“Untuk apalagi sih kamu datang ke sini?”

Aku mendengar suara gusar bunda. Bergegas kuturuni tangga untuk menuju asal suara.

“Aku ingin menemui kalian. Menengok keadaan si kecil.”

Hmmm… Suara itu lagi. Akhir-akhir ini semakin sering kudengar suara itu beradu pendapat dengan bunda. Tapi tak pernah sempat kulihat sosoknya.

“Rasti bukan anak kecil lagi. Dia sudah SMA. Sudahlah berhentilah menemui kami.” Geram bunda.

“Aku hanya ingin memintakan maaf untuknya, Rani. Masih tak sudikah kau memaafkannya?”

“Untuk semua yang telah ia perbuat pada kami? Aku dan Rasti?!” Sentak bunda.

“Baiklah, aku akan pergi. Tapi terimalah ini Rani. Pasti sangat berguna untuk pengobatanmu.”

“Sudah tak ada gunanya lagi, Joe. Semua sudah terlambat. Aku tinggal menghitung hari.” Suara bunda melemah.

Aku mempercepat langkah menuju pintu. Kali ini harus bisa kutemui lelaki itu sebelum bunda mengusirnya seperti biasa.

“Pergilah, Joe. Jangan datang lagi. Sudah cukup sampai di sini. Toh sudah tak ada lagi hubungan di antara kita. Dia sudah pergi. Sebentar lagi akupun menyusul.” Isak bunda sambil menutup pintu. Sekilas kulihat lelaki itu akan beranjak pergi.

“Om! Tunggu!”

Bunda dan lelaki itu terkejut mendapatiku sudah berada di antara mereka.

“Siapa dia, Bun?” tanyaku. “Kenapa dia selalu datang dan Bunda selalu mengusirnya?”

Kulihat mereka berpandangan. Bunda menghela nafas.

“Om ini sahabat ayah, Ras. Karena dialah ayah meninggalkan kita.”

“Maksud Bunda?”

“Maafkan aku Rasti. Tapi aku dan ayahmu sudah saling mencintai sejak ia belum bertemu Rani, ibumu. Aku tahu ia bahagia hidup dengan kalian tapi ternyata cinta itu tak pernah hilang. Aku…” Ucapnya lemah.

“Cukup, Joe!” Potong bunda.

Aku tercekat. “Lalu di mana ayah sekarang?”

“Dia sudah meninggal sebulan lalu. Karena penyakit yang ia tularkan pada ibumu. Penyakit yang ia dapat dariku. Seharusnya Seno bisa hidup lebih lama. Tapi rasa bersalahnya pada kalian makin menggerogoti tubuhnya. Tolong maafkan dia ya, Ras. Doakan agar ia tenang di kuburnya.” Pinta lelaki itu sebelum melangkah pergi.

Aku terdiam. Kutatap wajah bunda yang pucat. Kuraih tangannya yang kini makin kurus.

Maafkan aku, Bunda. Aku baru tahu seberat ini beban yang Bunda tanggung sejak ayah pergi 5 tahun yang lalu. Sejak itu aku membencinya. Aku benci semua laki-laki. Hanya pada Dita sahabatku hatiku berlabuh. Maafkan aku, Bunda. Mohon jangan salahkan aku jika sejarah berulang.

380/500

Ditulis untuk Prompt #15 Monday Flash Fiction

Kamu dan Lelakimu

Kamu yang sedang termenung di teras rumah, memandangi langit malam yang tak berbintang. Riang menanti kedatangan lelakimu.

Lihatlah, minidress warna salem yang kau kenakan, serasi sekali dengan kulit putihmu. Pulasan lipstik tipis menyegarkan wajahmu yang lelah setelah seharian berkutat dengan meeting. Dua porsi lasagna bikinanmu sudah terhidang di meja makan. Hangat. Semua demi menyenangkan lelakimu.

Ya, hari ini dia berjanji datang ke rumahmu. Kau tak sabar untuk bisa bercengkerama berdua, bercerita tentang sepinya hari tanpanya, berkisah tentang rindu yang tertahan. Apa? Oh, kamu berharap malam ini dia akan mengajakmu pergi. Tentu kau tak sabar ingin memamerkan lelaki tampan itu pada dunia. Membuat iri perempuan lain atas keberuntunganmu.

Hei, kenapa tiba-tiba raut wajahmu berubah sendu setelah menerima telfon? Apakah dia tak jadi datang? Ah, yaaa… Kali ini kau harus mengalah lagi. Ada pilu di senyummu saat berkata, “Ya sudah, tak apa. Mereka memang lebih penting dariku. Tapi datanglah esok ya, aku rindu,” pintamu menahan isak.

Hhhhh… Lagi-lagi begini, sampai kapan kau akan bertahan?

Pikiranmu melayang, menyusuri sebuah kenangan di suatu waktu.

Aku mencintaimu, sayang.

Bagaimana dengan dia?

Ah, aku menikahinya karena terpaksa. Ia hamil padahal aku tak serius dengannya.

Lalu, kenapa tak kau ceraikan saja dia? Dan hidup bersamaku. Kamu pasti akan lebih bahagia bersamaku.

Aku tak bisa, cintaku.

Kenapa?

Bagaimana dengan anak-anakku? Hidupku? Dia pernah berkata jika aku pergi aku akan kehilangan semua. Lagipula penghasilannya lebih besar dariku. Bagaimana aku mampu hidup tanpanya?

Tapi percayalah, sejak bersamamu tak pernah aku menyentuhnya lagi. Hatiku, tubuhku, jiwaku, hanya untukmu.

Lelakimu menutup pembicaraan malam itu dengan menciumi tanganmu, lehermu, lalu bibirmu, dan kamupun terbuai dengan cumbunya. Senyummu lebar, penuh kebahagiaan. Ya, kamu menang. Kamulah cinta sejatinya, bukan perempuan itu. I’m a happy mistress, pikirmu waktu itu.

Tapi malam ini kamu mulai ragu, mungkinkah ia benar mencintaimu. Atau hanya ucapan manis di bibir untuk mendapatkanmu, seperti ia membuai ibu dari anak-anaknya dulu.

Gambar diambil dari sini.

Karma Does Exist?

A: Kayanya aku harus makin rajin ngegym deh, pengen kurusan lagi nih. Apa muka bagian sini (tunjuk-tunjuk) dibotox aja sekalian gitu ya biar makin cantik dan disayang suami.

B: Emang kenapa? Lu takut suami lu nggak sayang trus cari bini lagi kalo lu nggak kurus dan nggak cantik? Rempong amat.

C: Ya iyalah dia takut. Punya suami juga dapet ngambil laki orang ini.

Pfffftttt…

overheard suatu pagi di sebuah salon kecantikan di Surabaya.

 People pay for what they do, and still more, for what they have allowed themselves to become. And they pay for it simply: by the lives they lead. 

Edith Wharton

I Love You To The Moon and Back

“Bunda, aku suka deh dipeluk Bunda seperti ini. ”
“Bunda juga suka meluk kakak seperti ini.”
“Bunda janji ya, sampai aku besar suka peluk aku.”
“Iya nak, Bunda janji. Akan selalu peluk kakak meski nanti kakak udah nggak mau dipeluk Bunda. Akan selalu ada untuk kakak, sampai kapan pun.”
“Bunda, I love you.”
I love you more, kak.”
I love you to the top of the tree, Bun.”
I love you to the moon and back, boy.”

———

Perempuan itu mengusap air matanya, masih terbayang jelas kenangan malam itu. Saat ia dan lelaki kecilnya berbaring berpelukan di halaman rumah. Memandang langit yang berbintang dan menikmati indahnya bulan purnama.

Betapa kehangatan saat itu terasa kembali di hari ini, hari bahagia lelaki kecilnya. Ah ya, meski sudah berusia 27 tahun, lelaki itu tetaplah anak kecil di hatinya. Bocah tampan yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali diletakkan di dadanya, menggeliat mencari kehangatan lalu berusaha menyesap air susu sang bunda.

22 tahun sejak malam itu, waktu terasa cepat berlalu. Tak sekalipun ia melewatkan semua peristiwa penting lelaki tampannya. Mulai dari senyum bangga saat masuk SD, lepasnya gigi susu yang pertama, tangis menahan sakit ketika disunat, kekecewaan saat pertandingan sepak bola yang pertama, patah hati, wisuda sarjana dan pasca sarjana, keriaan berbagi gaji pertama sampai saat lelakinya meminang seorang perempuan cantik untuk menjadi pendamping hidup. Ia selalu ada, tak pernah jauh.

Pandangan perempuan itu beradu dengan lelaki kebanggaannya yang menatap sang bunda dengan mata bersinar dan senyum yang mengembang. Ia ikut tersenyum, air matanya merebak lagi. “Terima kasih Tuhan, Kau beri aku kesempatan untuk menunaikan janjiku.” ucapnya dalam hati. “Hari ini, usailah tugasku untuk selalu ada di sisinya. Sudah ada penggantiku, gadis baik yang mendampinginya. Berdua, atas seijinMu, mereka akan saling menjaga.”

Mata perempuan itu beralih ke layar besar di dekat pelaminan yang menampilkan foto-foto kenangan kedua mempelai. Diputar pula sebuah video, cuplikan perjalanan hidup lelaki muda itu sejak lahir sampai berusia 10 tahun. Persembahan khusus dari sang bunda. Tamu undangan terperangah haru, pengantin gagah itu pun tak kuasa menahan tangis.


Di sebuah pusara, sepasang manusia duduk bersisian. Tangan mereka sesaat saling menggenggam, menguatkan. Sang lelaki menyiram gundukan tanah di depannya, menabur bunga dan berdoa. “Meski sudah 17 tahun Bunda pergi, aku merasa Bunda selalu dekat, seperti di hari pernikahanku kemarin. Selalu di sisiku dan menjagaku, terutama saat aku sedang membutuhkan Bunda. Kadang, pelukan Bunda pun masih terasa hangat. Terima kasih Bun, telah menepati janjimu untuk selalu bersamaku. Kini, Bunda bisa beristirahat dengan tenang. Doaku selalu besertamu, tunggu aku di surga nanti.”


I love you more and more, bunda”
Well, i love you most, boy. I love you more than my life.” balas perempuan itu sambil mengeratkan pelukan.
“Kelak, bila aku tak ada lagi dan kau rindu pada bunda, ingatlah malam ini ya nak. Bawa bunda selalu di hatimu. Simpan kebersamaan dan kehangatan kita dalam tiap hela nafasmu. Sehingga kau tak akan pernah merasa kehilangan bunda.” bisik perempuan itu kepada lelaki kecilnya yang telah tertidur lelap dalam dekapan.

Pertama kali ditulis dan dipublikasikan di Ngerumpi, untuk Ngerumpi Writing Competition yang telah berakhir tanggal 21 April 2012.

Galau

Sekali-kali mau curhat dan ngeluh boleh ya? Eh, tapi sepertinya belakangan ini lumayan sering curhat ya? Hehehe…

Sebenarnya nggak suka juga sih ngeluh geje di blog atau sosmed gitu, kapok. Karena dulu pernah waktu lagi ada masalah, layaknya abege labil dikit-dikit update status marah-marah dan selalu mengeluh. Eh tiba-tiba salah satu teman di Facebook yang juga temen kantor nyokap, bilang ke beliau, “Mi, itu Nia nggak apa-apa tah? Dibawa ke psikiater aja deh, sepertinya kok sudah gawat gitu.” Eaaaa… Sejak saat itu suka nahan-nahan deh kalau mau ngeluh di sosmed daripada disangka yang iya-iya sama orang.

Jadi ceritanya beberapa hari ini perasaan lagi nggak enak banget. Mungkin karena komplikasi menstrual cramp, batuk, pilek, maag, sakit tenggorokan yang gantian datang selama hampir 2 minggu ini dan bikin badan nggak enak semua. Juga entah kenapa jadi merasa jenuh sekali. Mau ngapa-ngapain malas, pengennya tiduran aja sambil baca buku atau main iPad.

Tiba-tiba kangen sekali sama rumah dan nyokap, kangen suasana makan malam yang ramai, ngobrol ngalur ngidul berbagi cerita kegiatan hari itu sambil ngemilin lauk di meja makan, meski perut sudah terasa penuh. Terutama saat mendengar cerita bahwa beliau sekarang sudah tinggal bertiga saja sama 2 ART setelah adik saya dan istrinya menempati rumah mereka sendiri. Duh, suka merasa sedih, kasihan dan khawatir kalau inget nyokap.

Juga rindu makanan Indonesia: soto Ambengan, bakso Solo, nasi bebek, sambal bu Rudi, soto Betawi, siomay, batagor, mie kluntung kuah nyemek-nyemek, aaaaarrghh. Apalagi pas parah-parahnya flu kemarin, terbayang aja gitu soto Ambengan dengan aroma jeruk nipis dan sambel yang mantap. Boleh nggak tuh rombong soto diimpor ke Brunei aja setukang masaknya.

Pun ribang akan serunya kumpul bersama teman-teman. Baik sekadar berkisah tentang anak dan gosip terbaru atau berbagi ilmu mengenai apa saja. Maklum, di sini saya belum punya teman. Entah kenapa sulit sekali menemukan komunitas ibu-ibu, baik offline maupun online di Brunei ini. Paling ngobrol sama teman-teman di gym, yang meski sekadar basa-basi tapi lumayan bisa memenuhi kebutuhan saya bersosialisasi.

Ah, bukan saya nggak berterimakasih akan keadaan di sini. Malah dalam kondisi seperti ini, banyak sekali hal yang saya syukuri. Seperti ketika sedang terkapar karena period cramp, anak 4 tahun 9 bulan saya tiba-tiba terlihat begitu mandiri, mulai dari bangun tidur lalu makan, mandi dan bermain lalu merapikan sendiri mainan dan kertas-kertas gambarnya TANPA disuruh. Atau suami yang rela memijat dan menggosok punggung saya dengan minyak kayu putih tiap malam untuk meringankan flu meskipun dia sendiri lelah bekerja. Cleaning service yang membersihkan apartemen setiap 2 hari, rumah makan di bawah apartemen yang menyajikan berbagai macam menu juga salah satu hal yang membuat saya berlega hati. Sungguh, sebenarnya Tuhan itu selalu memberikan kemudahan dalam tiap kesulitan yang kita alami ya 🙂

Tapi namanya manusia, tak selamanya tegar dan kuat. Adakalanya merasa jenuh dan lelah. Seperti yang sedang saya rasakan sekarang. Yah, semoga saja setelah kondisi badan membaik, semua galau inipun ikut berlalu.