Indahnya Dongeng Naura

Sudah sebulanan ini saya suka sekali dengar lagu-lagunya Naura yang ada di album “Dongeng”. Bahkan sampai rela beli albumnya via iTunes untuk didownload di iPhone supaya bisa didengar di mobil bersama anak-anak.

Awal mengenal Naura ketika saya hadir di Citos, Jakarta dalam acara pengumpulan dana untuk bayi NF, bayi yang mengalami penyiksaan seksual beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Naura, anak dari Nola B3 menyanyikan lagu “Somewhere Over the Rainbow” dengan cukup bagus untuk anak seusianya. Yah, maklum sih ibunya adalah seorang Nola yang bersama Widi dan Lusy di AB3 semasa remajanya malang melintang di berbagai festival menyanyi internasional. Dan sampai sekarang masih kukuh sebagai penyanyi trio wanita berkualitas di Indonesia meski Lusy sudah digantikan oleh Cynthia Lamusu.

Beberapa tahun kemudian saya menemukan saluran youtubenya Nola dan melihat beberapa video Naura sedang bernyanyi. Dalam hati saya berkata, “Coba deh Naura ini bikin album anak-anak, pasti bagus.” Eh, tak lama kemudian saya melihat halaman Facebook pak Toge Aprilianto yang mempromosikan album Dongengnya Naura.

Penasaran dong, saya kunjungi lagi youtubenya Nola lalu menemukan video klip lagu Semesta Cinta. Wah, bagus banget. Padahal waktu itu album Dongeng belum dipasarkan melalui distributor besar, baru buka PO secara online. Tapi video klipnya sudah digarap secara profesional. Salut deh buat Nola dan Naura.

 

Dari yang tadinya hanya naksir lagu Semesta Cinta begitu albumnya dirilis di iTunes langsung deh beli. Murah lho, Rp 39,000. Dan langsung jatuh cinta sama semua lagunya, bagus banget. Favorit saya di album ini adalah lagu Satu Selimut, Panca Indera, Cahaya Hatiku, eh semua aja kalau gitu hihihi.

Jujur tadinya musik dan warna suara Naura di album ini mengingatkan saya pada Sherina di album Petualangan Sherina. Mirip. Tapi yang membuat lagu-lagu Naura istimewa adalah terlibatnya ibu Nola dan adik Neona di dalamnya. Mendengar lagu di album ini terasa sekali kehangatan keluarga mereka. Seakan-akan kita dibawa masuk ke dalam rumah mereka menyaksikan mereka ngobrol dalam bentuk musikal.

Seperti lagu Dongeng, misalnya. Saya merasa melihat Nola sedang bercengkerama bersama Naura dan Neona dan ngobrol tentang nenek sihir, raksasa, dan dari mana asalnya dongeng. Begitu juga di lagu Satu Selimut, seolah saya sedang bersama Naura dan Neona yang lagi ngobrol sebelum tidur saling mengingatkan bahwa mereka saling menyayangi walaupun kelak tidak lagi hidup bersama. Trus ngeliat bocah-bocah berdua yang lagi tidur umpel-umpelan di samping saya dan mewek deh.

Terima kasih ya Naura dan ibu Nola, sudah memberi hadiah indah bagi saya, anak-anak saya dan anak-anak Indonesia dengan beredarnya album Dongeng. Setidaknya selain albumnya Sherina, sekarang anak saya punya tambahan koleksi lagu anak-anak yang bisa dinikmati saat sedang berkendara bersama saya.

Semoga bisa menginspirasi anak-anak dan membuat mereka menikmati masa kanak-kanaknya yang polos dan indah. Terus berkarya ya, Naura 🙂

Madagascar 3: I Like To Move It Move It

Dadadadadada circus dadadadada afro circus afro circus afro polka dot polka dot polka dot afro.. I like to move it move. I like to move it move it.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=1UrpQTI6HTo&hd=1]

Aaaaaaak, lagu itu seperti terngiang-ngiang terus di telinga sepanjang malam setelah kami nonton Madagascar 3.

Petualangan Alex, Marty, GloriaMelman, King Julien, Maurice, Mort and the Penguins untuk kembali pulang ke New York Central Park Zoo kali ini penuh dengan kejutan yang seru, kocak dan romantis. Sepanjang film kita dibuat kagum, terharu dan ketawa karena cerita dan musik yang keren banget. Apalagi saya dan Cinta baru pertama kali nonton film 3D (iyaaaa, emang ndeso kok -ngaku sebelum dihina dina duluan). Cinta yang awalnya takut dan minta pangku sampai heboh sendiri di tempat duduknya karena keasikan nonton dan joget. Untung ya nontonnya film anak-anak, jadi mau ribut pun nggak ada yang protes karena semua juga begitu *grin*

This is a must seen movie for children, mumpung liburan sekolah. Anak-anak besar mungkin senang saat adegan kejar-kejaran antara the castaways dengan para animal controllers dan saat latihan sirkus juga romantisme Alex-Gia, sedangkan yang lebih kecil akan terhibur dengan lagu-lagu dan adegan-adegan lucu dari film ini.

Cinta sendiri sebagai penggemar berat Penguin of Madagascar nggak sabar menunggu film ini dirilis sejak liat posternya di The Mall Cineplex, Brunei beberapa bulan yang lalu. Pas banget akhirnya Madagascar 3 ini tayang di PSB (Plaza Sutera Biru) Dualplex, Seria saat libur sekolah 2 minggu yang lalu. Bertiga, sepulang pak suami kerja, kami pun menyempatkan nonton dan sekarang pengen nonton lagi 😀

The Chronicle of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

PhotobucketSaya memang bukan fan berat Narnia bahkan belum pernah baca bukunya, tapi setelah melihat beberapa filmnya di saluran HBO, saya berniat untuk nonton sequel yang ini. Apalagi suami mau menemani, jadi inilah kesempatan untuk pacaran berdua tanpa Cinta. Itupun pakai acara nyaris terlambat dan dapat kursi di barisan nomor 2 dari depan yang lumayan bikin pegal leher dan mata. Dan ternyata saya menaruh harapan terlalu tinggi terhadap film ini, apalagi karena sebelumnya nonton Harry Potter. Saya pikir, minimal selevel dengan HarPot. Meskipun demikian banyak yang bisa dipelajari dari The Voyage of the Dawn Treader. Tapi hal yang paling menyenangkan adalah bisa nonton berdua suami setelah sekian tahun 😀

Back to Narnia, semua orang pasti punya comfort zone, sebuah tempat atau kondisi di mana kita selalu merasa nyaman dan aman. Lingkungan yang selalu menyenangkan dan membuat kita merasa terlindungi serta bisa dikendalikan. Buat saya, mungkin comfort zone itu adalah rumah mama saya, tempat yang selalu saya rindukan saat sedang gundah dan merasa keadaan terlalu berat atau menjemukan. Lucy dan Edmund Pevensie selalu punya Narnia sebagai “rumah” yang mereka rindukan. Apalagi di sequel terbaru ini mereka harus tinggal di rumah paman dan bibi bersama sepupu Eustace Scrubb yang menyebalkan.

PhotobucketLucy, Edmund dan Eustace terlibat dalam petualangan baru bersama King Caspian X dan kapal Dawn Treader untuk mencari 7 bangsawan Narnia yang hilang. Ternyata pencarian itu membawa mereka dalam pertempuran melawan kekuatan jahat yang ada di balik Dark Island. Eustace yang awalnya adalah anak manja, usil dan menyebalkan berubah menjadi seekor naga karena keserakahannya ketika melihat tumpukan emas di Deathwater Island. Tapi perubahan itu justru membuat Eustace menjadi pribadi yang lebih baik berkat bimbingan tikus yang bisa ngomong Reepicheep.

“Before you defeat the darkness out there, first you have to defeat the darkness inside yourself” – Coriakin

Caspian, Lucy dan Edmund juga harus berperang melawan “kegelapan” dalam diri mereka. Caspian yang begitu ingin membanggakan ayahnya sangat khawatir ketika bayangan sang ayah berkata bahwa ia mengecewakan. Sedangkan Lucy sangat berharap bisa menjadi secantik Susan, kakaknya yang anggun, sehingga ia mencuri mantra dari kastil Coriakin. Edmund sendiri merasa lelah menjadi “orang nomor dua” dalam keluarga maupun Narnia. Dia dibayangi oleh White Witch yang berjanji menjadikannya raja di Narnia jika Edmund mau ikut dengannya.

Kita juga pasti punya ketakutan atau sisi gelap dalam diri masing-masing, seringkali hal itu yang menghambat kita untuk melangkah ke arah yang lebih baik atau bahkan menjadikan kita pribadi yang tidak menyenangkan. Tapi ketika kita bisa mengenali ketakutan itu dan mengatasinya, change might happen, either it become better or worse but always worth taking. Pun, senyaman-nyamannya kita berada di comfort zone, untuk bisa maju mau nggak mau harus keluar dari lingkungan tersebut. Pasti dibutuhkan banyak usaha, keberanian, kepedihan untuk bisa keluar dari situ. Ketika menghadapi tantangan tersebut pun ada dua pilihan, yang pertama adalah berhenti dan terus mengeluh atas hidup yang kita jalani. Atau terus berjuang sampai bisa merasa nyaman akan diri sendiri sehingga di manapun berada, kita akan selalu bisa menemukan zona nyaman itu.

[Movie Review] Motherhood: Saya Banget

Sebenarnya sudah lama banget punya DVD film Motherhood ini tapi baru hari Rabu kemarin sempat nonton itupun sambil setrika, memanfaatkan waktu luang ketika Cinta lagi di sekolah *grin*. Tertarik beli DVD ini karena tawaran mas penjaga lapak yang liat saya kerepotan pilih pilih film sambil ngawasin Cinta yang lari ke sana ke mari. Liat sinopsis di balik bungkus DVD sepertinya menarik, juga tagline filmnya yang berbunyi “There are no time-outs in Motherhood”.

movie,motherhood

Baru liat 5 menit pertama aja udah ngerasa kalo karakter Eliza Welsh yang diperankan oleh Uma Thurman ini gue banget, urban mama (cieee ngaku ngaku lo) tanpa ART (baru beberapa minggu aja padahal) yang berkutat dengan kesibukan mengurus rumah dan anak, punya parenting blog (eh kalo saya daily blog aja sih), suami yang sibuk dengan urusannya sendiri sehingga jarang banget bisa dimintain bantuan. Bedanya Eliza tinggal di kawasan hip New York sementara saya tinggal di sebuah perumahan yang ada di pinggiran Bogor dan nyaris tak tersentuh koneksi internet (curcol), dia punya 2 anak sedangkan saya baru punya 1, suami Eliza punya pekerjaan yang waktunya fleksibel, lha saya sudah cukup bersyukur bisa ketemu suami tiap 2 bulan *jadi curhat beneran*

Intinya sih, film ini benar-benar mengisahkan tentang kehidupan ibu rumah tangga yang super ribet, mulai dari bangun pagi, nyuri nyuri waktu untuk bisa ngeblog ketika semua anggota keluarga masih tidur di pagi hari atau sambil nemenin anak main di taman, nyiapin pesta ulang tahun anak sendiri, punya tetangga yang nyebelin, punya sahabat yang bisa diajak ngobrol tentang anak. Tepat di hari ulang tahun anaknya, Eliza pengen ikutan kontes menulis esai tentang motherhood yang berhadiah ribuan dolar dan kesempatan untuk jadi kolomnis di sebuah majalah parenting. Di sela sela kesibukannya itu, shit happened dan Eliza yang sudah kelelahan dan jenuh dengan kegiatan sehari-harinya memutuskan untuk kabur dari rumah (well, who wouldn’t?)

Motherhood is about accepting the limitations of time and energy, which stretch behind you, even if sometimes it feels they could consume you. Search for and hold on to your own true self. If you lose that, what kind of mother can you be?

Kalau pengen tahu akhir ceritanya harus nonton sendiri, it’s worth to see kok meski bukan termasuk salah satu film yang masuk box office. Kalau perlu ajak suami untuk nonton biar dia paham apa yang kita hadapi sehari-hari dan mengerti kalau sesekali kita butuh me time, kangen dicintai suami seperti waktu masih pengantin baru, perlu sesuatu untuk dikerjakan di luar aktivitas mommy things dan yang penting adalah kita, eh saya aja deng, juga harus bisa memahami keterbatasan saya dalam menghandle semua hal. It’s okay to pause and sit down a bit, beri waktu untuk diri sendiri bernafas dan menikmati hidup. Lakukan sesuatu yang disuka sebagai keseimbangan jiwa, entah itu bekerja di rumah, bekerja di luar rumah, sekedar menulis atau apapun lah.

Eliza: It means mommy might get a real job.
Clara: But I don’t want you to get a real job.
Eliza: Why not? It’s good when mommies work. It keeps mommies happy. It keeps them from being mean, nasty, yelling mommies. What about daddies? Should daddies not work, too? Why moms and not dads, hmm? Elighten me.
Clara: ‘Cause moms do everything. Dads only do some things. It’s different.

Oya, jangan lupakan komunikasi dengan suami. Itu yang penting, kadang kita *eerrrr elu aja kali Fla* merasa kok kita saya aja sih yang ngerjain semuanya, kok suami ga mau bantu bantu. Ngerti gak sih dia kalo saya capek? Lha gimana mau ngerti kalau nggak bilang, cuma ngomel nggak jelas, manyun seharian. Suami bukan pembaca pikiran toh? Siapa tahu setelah ngobrol, malah dapat pencerahan kalau ternyata nggak cuma kita sebagai ibu dan istri yang sudah mengorbankan banyak hal untuk keluarga. Suami pun begitu. Seperti suami saya sering bilang, seandainya bisa, dia pengennya ya ada dekat kami setiap saat, tapi apa yang dia kerjakan sekarang sampai bela belain jauh dari keluarga, ketemu anak kesayangannya cuma 2 minggu tiap 2 bulannya ya demi kami, anak dan istrinya.

Buntut Tom Yam dan Soto Betawi Rumah Mode

Waktu ke Bandung 2 minggu yang lalu sebelum belanja belanji di Rumah Mode, kami menyempatkan makan di Food Courtnya. Karena baru pertama kali ke situ, saya bertanya kepada pramusaji makanan apa yang jadi favorit di sana dan ia menyarankan Buntut Tom Yam. Sedangkan mama dan Cinta makan Soto Betawi semangkuk berdua. Kebetulan waktu itu sedang hujan deras sehingga makanan berkuah hangat rasanya pas untuk mengisi perut yang keroncongan dan kedinginan.

Buntut Tom Yam

eatandbake

Dari tampilan dan baunya serta asap yang mengebul dari mangkuk sepertinya Buntut Tom Yam ini rasanya enak. Apalagi disajikan dengan nasi hangat di tengah dinginnya kota Bandung. Menjanjikan sekali. Pertama kali mencicipi kuahnya rasanya cukup segar, mirip dengan seafood tom yam tapi terasa pahit. Awalnya agak samar tapi setelah diaduk malah rasa pahit itu semakin kuat. Malah rasa khas tom yamnya tertutup oleh pahitnya. Entah memang begitu rasanya atau ada kesalahan dalam peracikan bumbu hari itu. Tapi daging buntutnya enak, gurih dan empuk sekali jadi rasa aneh karena makan kuah pahit jadi terobati dengan banyak makan dagingnya.

Buntut Tom Yam

Soto Betawi

Soto Betawi

Mama saya suka sekali Soto Betawi sehingga di tempat ini tanpa pikir panjang langsung pilih menu ini. Begitu datang langsung menyuapi Cinta yang lahap sekali makan nasi dan kuah Soto sampai habis lebih dari separuh porsi nasi. Setelah Cinta selesai makan, kami mencoba Soto Betawi ini yang ternyata rasanya mirip Opor bukannya seperti kebanyakan Soto Betawi di Jakarta.

Ulasan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak bermaksud mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.