We’re Moving (Again)

 

 

 

 

 

 

Akhirnya, pindahan lagi… Kali ini ke tempat yang lebih jauh. Menyeberang Laut Jawa, menuju ke ujung Borneo. Sebuah negara kecil yang kaya akan hasil minyak dan gas bumi. Yup, kami pindah ke Brunei Darussalam. Lagi-lagi mengikuti suami yang pindah kerja ke sana.

Banyak yang tanya gimana rasanya pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu dekat. Iya sih, baru satu setengah tahun yang lalu kami boyongan dari Sidoarjo ke Jakarta lalu sekarang setelah melalui perjalanan Jakarta – Sidoarjo dilanjutkan dengan Surabaya – Brunei.

Untuk saya sih terasa lebih ringan pindahan yang sekarang. Padahal kali ini tempat yang dituju benar-benar jauh dari keluarga juga berbeda bahasa dan budaya. Mungkin karena saya tahu di sini ada suami, sedangkan waktu di Jakarta kemarin cuma saya dan Cinta menempati rumah mungil kami. Bisa jadi juga karena kali ini sudah pindahan yang ketiga, sehingga lebih terasa mudah. Meski tetap terasa sedih mengingat harus meninggalkan mama saya di Sidoarjo sendirian dan akan lebih jarang ketemu dengan beliau dan adik-adik dibanding ketika kami di Jakarta.

Kalau diingat-ingat, waktu itu berat sekali meninggalkan Sidoarjo untuk tinggal di Jakarta. Mungkin karena itu pertama kali saya pergi dari rumah mama dengan membawa anak yang dari bayi sampai umur 3 tahun dekat dengan neneknya. Saya pun waktu itu sangat tergantung sama mama dan support system di sana. Namun, bisa juga karena masih ada cerita yang belum selesai di sana.

Rumah Bukit Dago saat itu menyisakan banyak luka bagi saya, kembali mendiaminya tentu merupakan sebuah beban berat. Apalagi nggak ada siapa-siapa yang bisa dijadikan tempat bersandar di sana. Tepat ketika mobil yang membawa kami dari Sidoarjo memasuki tol Cikampek, saya menangis dalam diam dan gelapnya malam. Membayangkan kehidupan yang entah bagaimana yang akan saya dan Cinta jalani.

Tapi Tuhan memang Maha Baik. Di tengah kegalauan itu Dia mempertemukan saya dengan orang-orang yang hebat, memberikan saya kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Inilah yang perlahan menyembuhkan luka saya. Membentuk saya sedemikian rupa sehingga rumah itu tak lagi suram. Setidaknya bagi saya dan Cinta. Mungkin itulah jawabanNya atas doa-doa saya. Melalui jalan yang tak mudah tapi indah.

Sekarang kami pindah lagi ke tempat baru, berusaha membangun semuanya dari awal. Menjalani kehidupan berkeluarga secara utuh setelah 4,5 tahun terpisah jarak. Semoga berkah ūüôā

Yaiy, We Finally Got The Visa

“Untuk apa sih ngurus visa? Emang ke Brunei aja perlu visa? Kan sama-sama ASEAN.” Begitu kira-kira pertanyaan yang sering diajukan saat saya bilang sedang mengurus visa supaya bisa ngikut suami tinggal di negara kecil yang terletak di ujung pulau Kalimantan itu.

Memang sih, kalau sekadar berkunjung dari Indonesia seperti halnya ke negara-negara ASEAN lain, nggak perlu visa. Tapi visa on arrival ini hanya berlaku selama maksimal 14 hari. Nah, sementara saya dan Cinta kan ingin tinggal di sana sampai masa kerja suami selesai. Tentu lebih dari 14 hari dong. Untuk itu kami perlu mengurus visa tanggungan.

Dependent visa ini adalah ijin tinggal sebagai tertanggung dari warga negara asing yang bekerja di Brunei. Salah satu syarat bisa mendapatkan visa ini harus ada sponsor, yaitu suami sebagai pekerja asing dan perusahaan tempatnya bekerja.

Jujur aja saya sempat stres ngurus visa ini, karena ini adalah kali pertama mengurus tanpa agen dan ragu apakah berkas yang saya miliki sudah lengkap atau belum. Sulit sekali menghubungi kedutaan Brunei di Jakarta untuk memperoleh penjelasan yang lengkap.

Jadi, berbekal informasi dari kedutaan Brunei yang saya peroleh sekitar 2 tahun yang lalu mengenai dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa tanggungan, Saya pun nekat berangkat ke Jakarta. Alhamdulillah setelah dicek, berkas-berkas yang saya bawa ternyata sudah memenuhi syarat. Apa aja? Ini dia:

Untuk Istri

  1. Formulir permohonan visa
  2. Paspor
  3. Endorsment dari perusahaan tempat suami bekerja
  4. Surat dari imigrasi Brunei tentang jawaban akan permohonan visa tanggungan
  5. Salinan kuitansi pembayaran biaya fax calling visa dari Imigrasi Brunei ke kedutaan Brunei di Jakarta
  6. Kontrak kerja suami dan perusahaan tempatnya bekerja
  7. Foto ukuran 4 x 6 dengan latar belakang biru
  8. Salinan paspor suami
  9. Surat Nikah
  10. Salinan KTP

Untuk Anak

  1. Berkas no 1 – 8
  2. Salinan Akta Kelahiran
  3. Salinan Kartu Keluarga

Mengurus visa tanggungan ini dilakukan di Kedutaan Brunei di Jakarta. Sebelumnya pastikan dulu calling visa dari imigrasi Brunei sudah mereka terima daripada bolak-balik ke kedutaan seperti yang saya alami. Calling visa sendiri diperoleh setelah pihak perusahaan mengurus segala persyaratan di imigrasi Brunei. Bersamaan dengan dikeluarkannya endorsment dan jawaban atas permohonan visa tanggungan itu oleh imigrasi.

Kalau semua berkas lengkap, proses pengurusan visa di kedutaan ini hanya makan waktu 3 hari kerja, kok. Dengan biaya sebesar Rp 120.000,00 per orang.

Saya sendiri saat pertama kali datang ke kedutaan, diberitahu petugas bahwa calling visa kami belum ada. Mereka menyarankan saya untuk meminta perusahaan suami menghubungi imigrasi Brunei supaya dikirim lagi ke kedutaan. Untungnya perusahaan tempat suami kerja sigap, hari itu juga mereka meminta dokumen saya dan Cinta difaks lagi ke Jakarta. Meski ternyata butuh 2 hari sampai diterima oleh kedutaan.

Wuiiih, nggak terkira leganya waktu paspor kami akhirnya dicap visa tanggungan itu. Perjalanan Surabaya-Jakarta, perjuangan mondar-mandir ke kedutaan, kecemasan akan dokumen yang belum lengkap, kepanikan saat calling visa¬†nggak ada¬†rasanya terbayar lunas. Alhamdulillah, akhirnya tinggal selangkah lagi menuju say goodbye to LDR ūüėÄ

Kedutaan Brunei Darussalam:
Jl. Teuku Umar No. 9, Menteng, Jakarta

Telp: (021) 31906080
Pengurusan visa: Senin – Jumat (08.30 – 11.30)
Pengambilan visa: Senin – Jumat (13.30 – 15.00)