Cinta dan Children’s Enikki Festa

mitsubishi asian children's enikki festa, brunei, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

Waktu Cinta masih duduk di kelas 2, saya suka gemas dengan kebiasaannya menyobek buku tulisnya untuk menggambar. Ternyata, kegemasan yang sama juga dirasakan oleh wali kelasnya. Beberapa kali beliau dengan nada setengah putus asa bercerita bahwa Cinta suka sekali menghabiskan waktunya di kelas untuk menggambar dibandingkan mendengarkan guru-gurunya menerangkan pelajaran. Saya pun mencoba untuk bersepakat dengan Cinta akan hal ini dengan memberikannya buku tulis khusus yang bisa dipakainya untuk menggambar dengan syarat hanyaboleh melakukannya saat jam istirahat.

Mitsubishi Asian Children's Enikki Festa, sekolah, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

Selama beberapa waktu kesepakatan ini berjalan dengan baik. Saya tidak lagi menemukan buku-buku latihan atau PR yang tiba-tiba menjadi tipis karena sering disobek tengahnya untuk menggambar.

Namun, wali kelasnya berpikiran lain. Beliau merasa Cinta masih terlalu sering menggambar dan ditambah lagi dengan kebiasaannya melamun saat bosan. Cikgu menganggap kedua hal itu mengganggu konsentrasi Cinta di kelas, lantas meminta saya untuk tidak lagi membawakan Cinta buku untuk menggambar.

Dengan terpaksa, saya kembali mengingatkan Cinta untuk hanya menggambar saat jam istirahat atau sedang nggak ada pelajaran. Hanya saja, kali ini saya memberi ultimatum, kalau sampai Cikgu mengeluh lagi tentang kebiasaannya itu, buku gambarnya akan saya sita. Dia pun setuju.

Ternyata, hobi menggambarnya Cinta ini, meski sering mengganggu konsentrasinya di kelas, membuatnya selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran Art. Cikgu wali kelas sendiri mengakui bahwa di antara teman-teman sekelasnya, setiap ujian Art, Cinta selalu termasuk yang paling rapi dan cepat selesai. Karena inilah di bulan Oktober tahun lalu, Cinta ditunjuk untuk mewakili kelasnya dalam “Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2015/2016” bersama  seorang teman sekelasnya. Dari 2 orang ini dan beberapa lainnya dari masing-masing kelas, dipilih lagi menjadi 9 orang yang gambarnya dikirim ke festival tersebut mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan Cinta termasuk di antara 9 orang tersebut.

Tentang Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa

The Mitsubishi Public Affairs Committee, the Asian Federation of UNESCO Clubs and Associations, and the National Federation of UNESCO Associations in Japan have sponsored this Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa since 1990.

This Festa started up “Mitsubishi Impression-Gallery- Festival of Asian Children’s Art” in order for cultural exchange and support for literacy education by means of Enikki (illustrated diaries) and change its name in 2006.

The Festa so far has collected 635,511 works from 24 Asian nations and regions. The exhibition of represented works have taken place all over Japan as well as overseas, and those represented works have been incorporated into textbooks for local schools in order for participating nations + regions to promote literacy education.

source: enniki.mitsubishi.or.jp

Sebenarnya, tema festival menggambar ini bukan keahliannya Cinta. Sesuai dengan namanya, Enikki yang dalam bahasa Jepang berarti illustrated diaries, kompetisi kali ini meminta anak-anak menggambar hal-hal berkesan bersama keluarga. Antara lain, pengalaman berlibur, aktivitas yang menyenangkan, dan lain-lain. Ya seperti menulis buku harian lah, hanya saja dalam bentuk gambar.

Cinta sendiri menggambar pengalamannya berlibur bersama keluarga. Mulai dari naik pesawat di mana dia menggambar pesawat dan kami bertiga (saya, Cinta dan Keenan); naik kuda di Taman Safari; naik perahu di Kampong Ayer; dan dua gambar lainnya yang nggak sempat saya lihat karena diselesaikan di sekolah bersama gurunya.

Selain gambar, mereka juga diminta untuk mewarnai sebaik mungkin dan menulis cerita tentang gambar tersebut. Nah, Cinta kurang suka tuh mewarnai. Tapi dia tetap semangat dan berusaha. Bahkan ketika diminta untuk datang ke sekolah di hari libur untuk menggambar dipandu oleh guru-guru Art pun dia dengan senang hati menyiapkan sendiri keperluannya.

mitsubishi asian children's enikki festa 2015/2016, kompetisi, sekolah, Brunei, menggambar, mewarnai, aktivitas anak

Setelah sekian lama, akhirnya beberapa hari lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa salah seorang murid mereka, yaitu Charlotte Lay Zhi How dari kelas 5 Lily berhasil mendapatkan Excellent Award dalam ajang yang disponsori oleh Mitsubishi Jepang tersebut. Cinta sendiri rupanya masih harus banyak belajar lagi, terutama soal mewarnai dan menulis cerita. Tapi dia sendiri merasa sudah cukup senang dan bangga bisa berpartisipasi dalam festival tersebut. Saya pun bangga karena Cinta mau keluar dari zona nyamannya, belajar berkompetisi dan memberikan usaha terbaiknya. Semoga tahun ini dapat kesempatan lagi, ya, Kak.

Baking is a Science

 photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

 photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

 photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

Science Show at OGDC

Science show at OGDC. Setiap main ke OGDC pasti ada ilmu baru yang didapat, baik dari lihat pamerannya atau pertunjukannya. Nah, hari ini kami dapat kesempatan dihibur dengan magic show ala science oleh pemandu OGDC.
 photo 87812420-C616-4460-AC68-D0198B68D358_zps9fmfqgqm.png

Pada pertunjukan yang pertama, kakak pemandu menuangkan air ke dalam satu dari tiga gelas plastik yang tersedia. Kemudian ia menindahkan posisi gelas dan meminta anak-anak menebak gelas mana yang ada airnya. Setelah itu ia menuangkan satu per satu isi gelas ke telapak tangannya.

Gelas pertama nggak ada airnya, begitu pun gelas kedua. Saat gelas yang ditunjuk anak-anak hendak dituang, mereka heboh berteriak, “No, don’t throw the water. We’ll get wet!” sambil melangkah mundur. Akhirnya isi gelas pun dituang ke telapak tangan kakak pemandu dan ajaib, nggak ada airnya. Wow!

 photo 17F6E958-754F-4A4B-BD89-6690A359B3B4_zpsldhqrl1x.jpg

 photo 40EB9BB3-2D88-4F44-BB64-05A134AE187A_zpsnnz0xyaa.jpg

Setelah diperlihatkan dalamnya air yang tadi dituang ke dalam gelas sudah berubahmenjadi benda padat yang lengket. Ternyata di dalam gelas sudah ada bahan yang bisa menyerap air dan mengubahnya menjadi benda padat. Sayang saya nggak mendengarkan nama bahannya dengan jelas karena sibuk menemani Keenan main. Sementara anak-anak saking kagumnya juga lupa namanya.

Percobaan kedua adalah menusuk balon dengan tusukan sate. Pada balon  yang pertama begitu disentuh tusuk sate langsung meletus. Tapi pada balon yang kedua, tusuk sate bisa dengan sukses masuk ke dalam balon tanpa membuatnya meletus. Magic!

 photo 3F7034A9-0ECA-4FF8-880A-0593C0A48C22_zpscwfa9gw6.jpg
 photo 4EA466D7-AAF0-4ACC-8B78-39E3D7177819_zpscjmeq3th.jpg

Ternyata triknya adalah dengan memasukkan tusuk sate pada bagian balon yang paling tidak melar, yaitu di dekat ikatannya. Pada bagian itu balon bisa dengan lentur mengikuti tusuk sate sehingga terciptalah sate balon. Hehehe.

Nah, pada pertunjukan ketiga, kakak pemandu mengeluarkan mainan ringan dari bulu dan benda yang terbuat dari susunan gelas styrofoam. Anak-anak ditantang untuk menerbangkan mainan bulu melalui benda tersebut yang lagi-lagi nggak saya perhatikan nama ilmiahnya. Ternyata dengan meletakkan bulu di bawah tabung itu menggoyangkan tabungnya, bulu bisa keluar dari atas tabung.

 photo CF83ED42-6207-4A6F-A6B2-2F8B582F10F3_zpsapwvdqxh.jpg

Jadi dengan menggoyangkan tabung tersebut, terciptalah tornado skala super mini yang bisa menerbangkan benda-benda ringan. Simpel ya sebenarnya.

Lumayan juga ilmu yang didapat hari ini. Serunya lagi, semua itu bisa dipraktikkan dengan benda-benda yang ada di rumah. Yuk, ikutan mencoba bareng anak-anak. Pasti mereka senang.

Gambar diambil dari: Realego.com. Diedit menggunakan aplikasi PicLab HD.

Emoji Weekend

Akhir pekan lalu, KB Sentral Mall mengadakan event yang bertema “Emoji Weekend”. Acara ini berlangsung tanggal 3-6 September 2015.

 photo D2597485-BAE2-452F-A876-63848EA1D8D5_zpszulshnnf.jpg

Sesuai temanya, beberapa aktivitas yang diadakan menggunakan atribut emoji yang sudah akrab dengan pengguna pesan instan di telepon pintar. Aktivitas ini antara lain adalah lomba menggambar emoji, lomba mewarnai emoji serta mini games seperti bowling, balloon pop, ring toss, emoji shooting dan guess the emoji. Kalau nggak pengen ikut lomba, pengunjung tetap bisa seseruan dengan foto-foto di photo booth menggunakan atribut emoji. Oya, bagi pengguna Instagram ada lomba foto wajah atau gaya semirip mungkin dengan emoji. 

 photo 1618B28D-D15F-464D-B2F3-E734FA54C603_zpswbyymujm.jpg

Untuk berbagai macam lomba dan photo booth peserta tidak dikenai biaya alias gratis. Tapi bagi yang pengen seseruan main games tinggal bayar B$3 untuk setiap 2 permainan. 

Cinta sendiri kali ini ikut lomba mewarnai emoji yang diperuntukkan anak usia 8-12 tahun. Semangat banget dia. Saking semangatnya sampai sempat kesal karena ternyata warna crayon yang dia bawa nggak lengkap. Akhirnya mama deh lari-lari ke supermarket belikan crayon disertai drama tangisan Keenan yang nggak mau keluar dari supermarket *tutup muka dan telinga*

 photo 510EC5C6-BB86-4185-8DAE-A53BC1C19FB9_zpsljkvt7dy.png

Sambil nunggu Cinta lomba, saya dan Keenan muter-muter di arena lomba. Keenan juga sempat foto-foto sama calon mobil barunya, Mercedes Benz 1.8 *aamiin*. Eh, ketemu juga sama salah satu teman Facebook, sesama orang Indonesia yang baru tinggal di Brunei sejak awal Januari. Yaiy, tambah lagi satu orang anggota komunitas KB – Seria.

Meski akhirnya nggak menang tapi saya senang Cinta mau ikut berpartisipasi dalam acara kompetisi seperti ini. Dan saya bangga karena kali ini dia bisa menyalurkan kekecewaannya dengan cara selain menangis dan marah, meski tetap manyun. Gapapa ya, namanya juga lagi belajar mengelola emosi. Jadi begitu tahu nggak menang dia langsung minta main games pop balloon sama emoji shooting. Lumayan dapat lollipop. Trus ikut Keenan main di playground, puas deh loncat-loncat di trampolin. Memang kadang cara terbaik menyalurkan perasaan negatif adalah dengan beraktivitas fisik ya. 

Nah, itu cerita #weekenddimall saya. Gimana cerita akhir pekanmu? Pasti nggak kalah seru ya. Semoga bisa memberi energi untuk menjalani hari-hari sibuk minggu ini. Selamat hari Senin!

Minions. Just Enjoy The Fun.

[Spoiler alert]

Sejak muncul trailernya di youtube beberapa bulan yang lalu, anak-anak terutama Cinta semangat sekali ingin nonton prekuelnya Despicable Me ini. Maklum, mereka adalah pecinta berat Gru, the girls dan para minions. Apalagi Keenan, mungkin dia sudah nonton sebanyak 77 kali film-film Despicable Me yang tersimpan di file video Galaxy Note milik papanya. Bahkan dia bisa ngomong “banana” dan “apple” saya rasa juga belajar dari para Minions ini.

Jadi begitu PSB Dualplex Cinema Seria mulai menayangkan film Minions sejak tanggal 18 Juni yang lalu, kami pun mulai merencanakan untuk nonton bersama. Iya, bersama dalam arti semua ikut nonton. Termasuk Keenan. Biasanya sih cuma saya dengan Cinta, Cinta dengan papanya atau saya dengan suami (yang jarang sekali terjadi sejak punya anak. Hiks). Tapi kali ini kami ingin mengajak Keenan juga. Apalagi liat ratingnya di IMDB adalah PG atau Parental Guidance yang artinya film ini bisa ditonton oleh segala umur dengan pendampingan orang tua karena ada materi-materi yang mungkin tidak cocok untuk anak-anak terutama di bawah 13 tahun seperti adegan kekerasan, humor yang kasar atau adegan telanjang1. Jadi rasanya okelah sebagai percobaan membawa Keenan nonton bioskop untuk pertama kalinya. Toh, kalau ternyata nanti dia nggak suka salah satu dari kami bisa membawa Keenan keluar studio.

Sengaja memilih nonton jam 16.30 dengan pertimbangan durasi film selama 91 menit memberi kami cukup waktu untuk menanti buka puasa. Sekalian ngabuburit gitulah. Sayangnya, karena masih dalam waktu puasa kami nggak bisa membelikan popcorn untuk Keenan karena ada larangan bagi muslim dan non-muslim untuk makan dan minum di dalam gedung bioskop selama fasting hours. Tapi nggak apa-apalah, toh sebelum berangkat Keenan sudah sempat makan sedikit.

Secara keseluruhan film ini menurut saya cukup menghibur meski nggak semenarik Despicable Me walaupun digarap oleh sutradara yang sama, yaitu Pierre Coffin. Hanya saja di film Minions, Pierre bekerja sama dengan Kyle Balda, co-director film The Lorax instead of Chris Renauld seperti dua film Despicable Me.

Minions berkisah tentang para makhluk kecil berwarna kuning yang hidup sejak mula terbentuknya bumi ini memiliki tujuan hidup mengabdi para orang-orang terjahat pada jamannya. Mulai dari T-Rex, manusia prasejarah, Anubis, Count Dracula sampai Napoleon Bonaparte (eerrr, Napoleon termasuk evil villain kah?). Sayang karena kecerobohan mereka para tokoh jahat ini tidakberumur panjang sehingga pada akhirnya para minions membangun dunia mereka sendiri dalam gua es. Sampai akhirnya kehidupan terasa tidak berarti bagi mereka dan Kevin dibantu oleh Stuart dan Bob mencoba pergi dari gua untuk mencari bos terjahat pada jaman itu.

Trivia

These three minions (Kevin, Stuart and Bob) were designed to resemble Gru’s daughters Margo, Agnes and Edith.2

Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan keluarga Nelson yang berprofesi sebagai perampok bank. Keluarga inilah yang memberi tumpangan untuk mereka ke Orlando demi menghadiri villain-con dan bertemu dengan Scarlet Overkill. Long story short, Kevin, Stuart dan Bob pun bekerja untuk Scarlet dan suaminya Herb Overkill dan diberi tugas mencuri mahkota Ratu Inggris.

Usaha mereka melaksanakan tugas tersebut pada akhirnya justru menjadi bumerang. Minions dianggap berkhianat oleh Scarlet dan diburu oleh para penjahat lain. Kevin pun berusaha untuk melindungi teman-temannya sekaligus melawan para musuh.

Pada awal film, Keenan nampak ketakutan tapi kemudian dia mulai menikmati suasana bioskop yang gelap dan tingkah para makhluk kuning kesukaannya sambil berpindah-pindah dari pangkuan saya ke kursi sebelah yang kosong untuk duduk sendiri. Sementara kakak Cinta seperti biasa duduk tenang menikmati film ini.

Sejujurnya bagi saya film ini agak membosankan. Keseruan dan kelucuan sudah keluar di awal film saat menceritakan sejarah hidup para minions sampai mereka bertemu Nelson family sedangkan ke belakangnya justru terasa datar. Bahkan Scarlet Overkill yang suaranya diisi oleh Sandra Bullock pun kurang memberi kesan bagi film ini, di beberapa review bahkan menyebut ia sebagai penjahat yang membosankan yang terpaksa saya setujui. Bahkan karakter Lucy Wilde di Despicable Me 2 juga karakter Queen Elizabeth dan the Nelson family lebih menarik daripada Scarlet.

Dalam film ini pun ada beberapa kata yang mungkin tidak pantas didengar oleh anak-anak seperti ‘imbecile3 dan beberapa becandaan yang agak kasar. Juga ada beberapa adegan para minions telanjang dan menampakkan seluruh bagian belakang tubuhnya, adegan berpelukan antara Scarlet dan Herb, salah satu minions mandi berendam sambil memeluk hidran air. Juga adegan berantemnya minions dengan para penjahat termasuk Scarlet yang meski kurang greget tapi mungkin bisa jadi pertimbangan orangtua untuk membawa anak-anak menonton film ini.

Salah satu yang bagus dari Minions adalah pelajaran untuk menyayangi dan melindungi serta berkorban bagi orang-orang yang kita sayangi. Bagaimana kita harus bekerja keras untuk memperbaiki bukan hanya hidup kita tapi juga orang banyak dan meski kadang nggak mudah kita nggak boleh putus asa. Juga betapa mudahnya media membuat kita mengambil asumsi dan mempercayainya tanpa berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Serta obsesi yang berlebihan seringkali membuat kita pada akhirnya kehilangan segala yang telah diusahakan bertahun-tahun.

But however, film ini cukup menghibur terutama bagi pecinta Minions. Tapi di luar itu, saya sarankan nonton mini moviesnya aja deh. Bisa dibeli di iTunes atau nonton di youtube. Lebih lucu dan menghibur menurut saya hehehe. Enjoy!

  1. http://www.parentalguide.org/movieratingsguide.html []
  2. http://www.imdb.com/title/tt2293640/trivia?ref_=tt_trv_trv []
  3. meaning: stupid; idiotic []

Rescue Exhibition OGDC

Tanggal 15 Februari yang lalu, memenuhi janji ke kakak Cinta, akhirnya kami ke OGDC lagi. Kali ini untuk lihat Rescue Exhibition yang berlangsung selama bulan Februari 2015.

Mengingat pengalaman sebelumnya jujur saja saya tidak berharap banyak, secara tempatnya tidak terlalu besar dan isinya tidak terlalu banyak. Tapi ternyata dengan membeli tiket seharga B$ 5 untuk dewasa dan B$2 untuk anak-anak mulai usia 5-12 tahun, banyak kesenangan yang kami dapatkan di sana.

Dimulai dengan sambutan sebuah robot mini di area masuk pameran, kami pun memulai keseruan hari itu. Simulator yang pertama kami coba adalah Fire Rescue, di booth tersebut tersedia empat macam alat pemadam kebakaran disertai keterangan yang digantung di dinding bahwa setiap kebakaran yang penyebabnya berbeda hanya bisa dipadamkan dengan alat tertentu. Di layar besar, saya dan Keenan pun mencoba bermain memilih mana alat pemadam yang cocok untuk jenis kebakaran yang tertera di layar, ternyata cukup menyenangkan, terutama buat Keenan yang asik naik turun sambil mencoba keempat alat pemadam tersebut.

Setelah itu Cinta memanggil adiknya dan mengajak Keenan untuk bergabung dengannya di kolam bola berwarna biru yang dilengkapi dengan perahu karet. Pura-puranya itu adalah simulasi usaha menyelamatkan korban yang mengalami kecelakaan di laut. Ya senenglah anak-anak, berkali-kali turun ke kolam lalu naik ke perahu, bergantian menarik yang masih di kolam untuk masuk ke dalam perahu.

Bosan di kolam bola, kami menuju booth stasiun TV yang dilengkapi dengan meja reporter dan green screen. Di situ kami bisa memilih menjadi pembawa berita atau reporter. Dengan membaca teks yang sudah disiapkan aksi kita bisa dilihat di layar televisi di booth tersebut. Hahaha lumayan lah, menyalurkan cita-cita sebagai news anchor yang gagal :))

Puas berpura-pura jadi reporter, kami memasuki semacam smoke room, sebuah kamar yang gelap dan penuh asap sebagai tiruan ruangan yang sedang terbakar. Keluar dari kamar ada salah satu game yang jadi favorit banyak orang. Wave Rescue!. Duah buah personal watercraft dan sebuah layar besar siap dimainkan oleh para pengunjung.

Bagi pengunjung yang suka memanjat disedikan juga wall climbing kecil untuk latihan Vertical Rescue. Ini mah senengan bapaknya anak-anak dan beberapa anak dan remaja laki-laki. Mereka asik memanjat dinding tersebut dan berpindah dari satu sisi ke sisi lain.

Sementara anak bayi suka banget sama simulasi Helicopter Rescue yang lagi-lagi dilengkapi dengan permainan di layar besar. Helikopter yang dilengkapi sensor panas untuk mendeteksi adanya kebakaran dari udara ini bikin Keenan nggak bisa move on mainan setir sambil ngeliatin layar raksasanya. Sementara kakaknya sudah berkeliling melihat-lihat permainan yang lain.

Selain berbagai alat menarik tersebut, penyelenggara pameran juga menyediakan tiruan ruangan tim pemadam kebakaran lengkap dengan kostum yang bisa dipakai, layar-layar kecil berisi aktivitas interaktif yang memberikan aneka informasi seperti barang-barang apa saja yang perlu dibawa saat dalam misi penyelamatan, cara menangani pasien dan lain-lain.

Petualangan hari Minggu pun diakhiri dengan memberi makan ikan di kolamnya, OGDC. Hanya dengan membeli pakan ikan di kantin OGDC seharga 50 sen sekantung kecil, anak-anak puas mengenal makhluk-makhluk dalam kolam. Ah, terima kasih OGCC, kami tunggu pameran-pameran seru selanjutnya.

Foto-foto lain dari OGDC Rescue Exhibition 2015

 

Cinta belajar jadi reporter dan pembawa berita kebakaran.