Jumat Pagi di Sudut Seria Bersama Keenan

Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria

Nggak seperti Indonesia yang sekolah libur di hari Sabtu dan Minggu, di Brunei sekolah kerajaan dan swasta lokal libur di hari Jumat dan Minggu. Namun, hari Jumat kemarin kakak Cinta harus latihan di sekolah untuk acara Sports Day 2 minggu lagi. Jadi kalau biasanya kami bermalas-malasan di Jumat pagi kali ini harus bersiap-siap untuk mengantar kakak sekolah. Tapi tetap aja sih kebiasaan bangun agak siang di hari Jumat nggak bisa hilang, sehingga Keenan nggak sempat sarapan di rumah. Akhirnya setelah mengantar kakak ke sekolah dia minta diajak sarapan di dekat sekolah kakak.

Seria, Brunei Darussalam, My Booney Cafe, Sri Selera Seria
Foto ini diambil pada Jumat siang ketika semua aktivitas perekonomian di Seria berhenti setiap pukul 12 – 2 siang supaya orang Muslim bisa melakukan ibadah sholat Jumat.

Sekolah kakak dan rumah kami terletak di mukim Seria, sekitar 80 km dari Bandar Seri Begawan. Seria adalah kota kecil yang menjadi pusat eksplorasi minyak dan gas bumi, sumber kekayaan negerinya Sultan Hassanal Bolkiah. Dari rumah ke sekolah kakak dan Keenan berjarak 8 km yang biasanya kalau nggak macet bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Nggak banyak yang bisa dilihat dari Seria ini, pusat kotanya terletak di area yang bisa dikelilingi selama 15 menit dengan berjalan kaki. Mulai dari aneka tempat makan, bank, hotel, terminal bus, toko buku, deretan penjahit, kedai gunting rambut dan toko baju ada di sini. Meskipun nggak besar dan berkesan kota tua, aneka makanan enak ada di lokasi itu. Sebut saja resto sushi halal Kaizen Sushi favorit yang selalu penuh di jam makan siang dan malam dan Gohan Sushi yang nggak kalah enaknya. Restoran fast food modern seperti Jollibee, KFC, Burger King dan SugarBun bersebelahan dengan kedai-kedai masakan khas India dan Brunei yang sudah buka selama beberapa generasi. Nggak terlalu jauh dari area ini ada kantor polisi yang berseberangan dengan kantor pos.

Bingung juga awalnya mau makan apa karena jam segitu tempat makan yang menyediakan menu fast food favoritnya belum ada yang buka. Tadinya berencana ajak dia makan roti telur a la kedai India aja, kebetulan Keenan memang suka sama roti-rotian semacam itu. Tapi dipikir-pikir kok nggak kenyang ya dan saya lagi malas mencium aroma kari-karian hihihi. Setelah muter-muter di area Plaza Seria yang kebetulan dekat sekali sama sekolah kakak, akhirnya memutuskan untuk makan di My Booney Cafe aja.  

My Booney Cafe, Seria, Brunei Darussalam, halal food
My Booney Cafe & Restaurant di Seria

Seperti biasa, tiap makan di My Booney, Keenan selalu order dimsum siomay. Sayangnya pagi itu, siomay kesukaannya sudah habis. Setelah melihat aneka dimsum yang disajikan di meja, akhirnya dia milih siomay udang. Trus saya tawarin kolomee. Eh, dia mau.

Kolomee, Kolomee Seria, Seria, Brunei local food, Brunei halal food, Brunei Darussalam, kolomee wonton
Wonton Kolomee. Edisi sarapan porsinya lebih kecil.

Kolomee itu kalau di Indonesia mungkin sejenis mie ayam, tapi di sini isinya kita bisa pilih mulai dari daging/ayam cincang, wonton rebus, roasted chicken dan masih banyak lagi. Rasanya juga agak beda sih, namun buat saya kolomee di My Booney Seria ini yang paling cocok di lidah saya dari beberapa kolomee yang pernah saya coba di Brunei ini karena bumbunya berasa banget sampai ke mienya dan rasanya cenderung gurih asin. Meskipun kadang terlalu medok dan kalau makan porsi gede agak eneq. Untungya di kafe ini kalau mulai dari jam 6 sampai 11 pagi ada menu sarapan yang porsi kolomeenya lumayan kecil. Jadi nggak khawatir nggak habis deh. Sementara saya yang tadinya nggak mau order karena udah ada siomay udang akhirnya tergoda untuk memesan set roti dan telur setengah matang plus teh hangat. Duh, apa kabar #menujulangsing2017?

Setelah makan, Keenan tiba-tiba ngajak ngasih makan burung. Di dekat My Booney ada terminal bus yang nggak terlalu besar dan di salah satu sudutnya suka banyak burung ngumpul. Nah, kadang orang-orang iseng kasih makan burung di situ. Karena masih pagi, meskipun sudah lumayan panas, saya iyakan saja permintaan Keenan. 

bus station, Seria, Brunei Darussalam
Terminal Bus dan Tempat Parkir Taxi, Seria, Brunei Darussalam

Sebelumnya kami nyeberang dulu dari My Booney ke deretan kedai runcit di depan terminal bus untuk beli makanan burung. Hampir semua kedai runcit di situ jual makanan burung, jadi nggak susah milihnya. Dengan uang B$ 1, kami sudah bisa dapat 1 kg jagung kering. 

Seria, Brunei Darussalam
Deretan kedai runcit (toko kelontong) di Seria

Anak 4 tahun yang merasa sudah besar dan mandiri itu, langsung berinisiatif membawa sendiri tas plastik berisi jagung itu. Baru saja mau nyebrang ke terminal, eh tasnya jatuh di jalan. Jadilah jagung berhamburan di jalan raya dan langsung dikerubuti burung, sementara Keenan mau nangis ngeliat bawaannya jatuh :)) Akhirnya kami kembali lagi ke kedai dan membeli 1 kantong jagung lagi demi niat memberi makan burung terlaksana.

Sampai di terminal, Keenan seneng banget bisa melempar-lempar jagung ke kawanan burung sambil sesekali berlari berusaha menangkap burung. Hihihi, kebahagiaan anak kecil itu sederhana ya. Alhamdulillah di sudut terminal bus yang itu nggak banyak mobil lewat, ada beberapa yang datang dan pergi untuk parkir namun masih aman untuk anak-anak ngasih makan burung di situ.

Simply happiness

Cukup lama juga kita nongkrong di situ, nggak peduli diliatin orang lewat. Bahkan ada sepasang kakek nenek yang sampai senyum-senyum ngeliatin si Keenan. Begitu jagungnya habis, eh malah minta beli jagung lagi. Karena sayanya sudah kepanasan saya tawarin beli permen lollipop aja untuk dimakan di rumah. Untungnya dia setuju. Tapi begitu sampai di kedai langsung minta es krim. “It’s very hot, Mom. I want to eat ice cream,” katanya. Ya sudahlah, kami beli es krim trus nyebrang lagi ke Kompleks Sri Selera Seria untuk numpang duduk makan es krim.

Seria, food court, Seria food court, halal food in Brunei, non halal food in Brunei, Brunei Darussalam, Seria local food, Brunei local food
Food court di Seria dengan sisi sebelah kanan untuk aneka gerai makanan halal dan sisi sebelah kiri untuk gerai makanan non halal

Kompleks Sri Selera Seria ini semacam food court. Cukup besar tempatnya dengan dua sisi berseberangan yang menyediakan makanan halal dan non halal. Pagi ini sisi makanan non halal lebih ramai daripada sisi makanan halal. Keadaan biasanya berbalik di waktu makan siang dan malam. Di sisi makanan halal, menu yang tersedia beragam, mulai dari sate, pecel, aneka gorengan, bakso, sayur-sayuran sampai sup tulang, salah satu menu khas Brunei. Kadang kalau lagi kangen masakan Indonesia sederhana atau gorengan tapi terlalu malas bikin sendiri saya suka beli di sini meski rasanya ya sudah disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Misalnya soto rasa sup atau bebek goreng yang ukuran bebeknya gede banget.

Sementara untuk sisi makanan non halal saya nggak tahu isinya apa aja, nggak pede juga mau nengok-nengok ke sana karena di setiap sisi dindingnya ada papan kecil merah bertuliskan, “Bukan Tempat Makan Orang Muslim.” Kalau pakai kerudung kaya saya melipir ke sebelah sana pasti diliatin deh hihihi. Pokoknya mah, nggak usah khawatir cari makan di Brunei. Gerai dan rumah makan yang menyajikan masakan non halal pasti akan memasang papan kecil tersebut di dekat pintu masuk atau minimal di tempat yang mudah terlihat. Kalau nggak ada tandanya, insyaAllah masakannya halal.

Salah satu sudut Seria yang menunjukkan deretan kedai runcit dan tampak belakang Plaza Seria diambil dari depan Komplek Sri Selera Seria

Kencan di Jumat pagi bersama Keenan di Seria berakhir setelah es krimnya habis. Perutnya yang kenyang dan hatinya yang riang karena sempat bermain di luar memudahkan saya untuk mengajaknya pulang sambil berjanji lain waktu akan membawanya memberi makan burung lagi dengan anggota keluarga yang lebih lengkap.

Mooncake Festival di CCMS

mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival

Karena Cinta bersekolah di sekolah Cina, otomatis kita belajar mengenali budaya-budayanya. Minimal tradisi dan perayaan hari-hari istimewa yang dirayakan di sekolah. Salah satunya adalah mooncake festival yang diadakan di hari ke-15 bulan ke-8 menurut kalender Cina, yang tahun ini jatuh pada tanggal 15 September 2016. Oya, penanggalan Cina ini mengikuti sistem peredaran bulan lho, sama seperti kalender Hijriyah.

Kenapa perayaan yang juga dikenal dengan sebutan Mid Autumn Festival jatuh pada hari ke-15 bulan ke-8? Menurut beberapa sumber bulan ke-8 kalender Cina adalah bulan kedua musim gugur dan karena 1 musim terdiri dari 3 bulan, maka tanggal 15 bulan 8 tepat berada di pertengahan musim gugur. Pada tanggal ini juga biasanya bulan sudah penuh dan terang. Bahkan dipercaya sebagai bulan purnama yang paling terang dalam 1 tahun. Sehingga kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk kumpul keluarga, makan bersama dan menikmati keindahan bulan serta kelezatan mooncake, kue tradisional masyarakat Cina. Pada saat yang sama, biasanya para petani juga mulai memasuki masa panen, sehingga festival ini juga bermaksud sebagai perayaan panen sekaligus mempersembahkan rasa syukur kepada Tuhan.

Selain mooncake, perayaan mid autumn identik pula dengan lampion. Pada jaman dulu, lampion digunakan oleh para perantau untuk menerangi jalan mereka yang mereka lalui saat mudik ke kampung halaman di pertengahan musim gugur ini. Konon lampion dipercaya untuk mengusir roh halus dan mencegah datangnya hal-hal buruk pada malam festival berlangsung. Sekarang, meski jalanan di mana-mana sudah terang dan orang-orang nggak perlu lagi jalan kaki untuk pulang ke kampung, tradisi lampion tetap dilestarikan. Bahkan semakin seru dengan aneka model lampion yang cantik. Waktu Cinta masih ikindergarten dulu malah ada lomba bikin lampion lho, terus diterbangkan ramai-ramai di malam perayaan festival bulan ini.

mooncake festival, chinese culture, live in brunei, chinese school, midautumn festival

Tapi, tahun ini sekolahnya Cinta memutuskan untuk mengadakan perayaan yang lebih sederhana dan diadakan di pagi hari sekolah. Tepatnya hari Sabtu, 24 September yang lalu. Iya, di Brunei anak sekolah (kecuali sekolah internasional) dan pegawai kerajaan (civil servant) masuk di hari Sabtu dan libur di hari Jumat serta Minggu. Kebetulan juga, waktu itu mertua dan kakak ipar sedang berkunjung ke sini, jadi deh kami ajak untuk menikmati mooncake celebration festival sekaligus lihat-lihat sekolahnya Cinta.

Meskipun sederhana dan hanya berlangsung selama 1 jam, acara perayaan musim gugur yang diadakan di sekolahnya Cinta cukup seru dan menyenangkan. Tepat jam 7.30, murid-murid dan guru-guru sudah duduk manis di lapangan sekolah, sementara orangtua yang datang berdiri di selasar depan kelas. Acara dibuka dengan sambutan dan cerita tentang mooncake festival yang (sayangnya) disampaikan dalam bahasa Cina (sehingga saya nggak ngerti sama sekali, hiks). Dilanjutkan dengan pertunjukan Chinese Drama yang juga berbahasa Cina (yaeyalaah, masa berbahasa Korea). Pada sesi ini, penampilan salah satu siswa lower primary mencuri perhatian penonton karena totalitas dan semangatnya memerankan seorang murid dari sebuah perguruan jaman dulu.

Sembari menunggu pertunjukan selanjutnya, beberapa guru memberikan teka-teki tentang lampion yang memang menjadi salah satu simbol mid autumn festival. Yang kemudian diteruskan oleh pembacaan puisi oleh murid-murid. Tak lama, Wushu, yang menjadi atraksi favorit saya di pagi itu tampil. Melihat kelincahan anak-anak dari berbagai kelas memperagakan bela diri khas Cina, bikin saya ingin si kakak ikut Wushu untuk kegiatan ekstrakurikulernya tahun depan. Tapi waktu anaknya ditanya dia jawab mau ikut cooking club dan scout aja. Padahal kan penting ya anak perempuan bisa bela diri hihihi. Tetep deh emaknya usaha. 

Istirahat sejenak, beberapa guru kembali mengadakan kuis untuk para siswa dan kali ini Cinta serta teman-temannya dari kelas bahasa Cina C & D ikut maju. Di sekolah Cinta, kelas bahasa Cina dibagi dalam beberapa bagian berdasarkan kefasihan murid berbahasa Cina. Sayang sih, belum beruntung dapat hadiah, wong anaknya juga bingung sendiri nggak ngerti pertanyaannya hehehe.

Setelah itu pertunjukan diabolo atau yoyo tradisional Cina menghibur kami semua. Kagum deh melihat ketrampilan anak-anak ini main yoyo karena menurut saya itu nggak gampang ya. Saya yakin mereka pasti latihan dengan giat sampai bisa menampilkan pertunjukan keren seperti yang ada dalam video di atas.

Acara hari itu ditutup dengan vocal group dan kemudian anak-anak kembali ke kelas masing-masing untuk belajar dan orangtua pulang ke rumah. Begitu saja, sederhana, ringkas tapi mengesankan. Hanya saja mungkin tahun depan saya harus berdiri dekat dengan teman saya yang bisa berbahasa Cina supaya paham apa saja yang ditampilkan.

Oya, pernah makan mooncake, teman? Rasa apa favoritmu?

5 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Masuk Fakultas Psikologi

arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

Akhir-akhir ini linimasa media sosial saya, khususnya Facebook, dipenuhi dengan tautan artikel tentang seorang selebgram remaja yang kontroversial. Kontroversial karena bagi followernya, gadis berusia 19 tahun itu dianggap keren dan menjadi panutan. Banyak remaja ingin menjalani kehidupan yang dibagi pemilik nilai UN Matematika SMP sempurna tahun 2013 tersebut melalui akun Youtube, Snapchat dan Instagram. Namun, kepopuleran awkarin yang sebenarnya hanya satu di antara banyak remaja sepertinya, membuat para orangtua terkejut, menghujat dan menganggap Karin sebagai perusak moral remaja.

Mungkin kehidupan Karin adalah potret remaja di Indonesia masa kini, karena beberapa bulan lalu saya pernah membahas tentang gadis asal Riau ini di sebuah forum dan para ibu menganggap sebagai “gaya hidup masa kini anak Indonesia.” Sekolah, gaul, pacaran, tapi tetap memiliki nilai yang bagus di sekolah. 

arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

Okelah, saat itu saya merasa sayalah yang udik. Maklum, kelamaan hidup di hutan. Tapi ternyata, saya menemukan bahwa masih banyak lho, remaja Indonesia yang mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan layak dicontoh. Seperti Alifia Seftin Oktriwina, gadis manis asal Padang yang saat ini tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata untuk syarat kelulusannya sebagai mahasiswa Psikologi di Universitas Andalas.

Saat ini, Awin, panggilan akrabnya memang berusia lebih tua dari Karin. Namun, saat masih duduk di bangku SMA, Awin telah memantapkan diri untuk mengakrabi dunia jurnalistik dengan bergabung sebagai reporter remaja di harian Singgalang untuk suplemen mingguan Singgalang Masuk Sekolah. Lepas dari SMS, Awin bekerja sebagai reporter pada portal inioke.com dan ekspressnews.com.

Sebagai mahasiswa Psikologi, Awin juga aktif berorganisasi di Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia dan menjabat sebagai Koordinator Badan Informasi dan Komunikasi Wilayah I. Dan masih memiliki waktu untuk mengisi blog pribadinya Le Belle et son Hijab yang berarti Si Gadis Berhijab. 

arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

Blog bertagline Simplified Beauty and Syar’i ini berisi kisah keseharian jurnalis muda asal Ranah Minang yang mencintai kata seperti mencintai kedua orangtuanya. Berbagai resensi buku yang pernah ia baca serta tempat makan yang pernah dikunjungi juga mengisi blog dengan tema minimalis berwarna putih. 

Meski blognya cukup menarik untuk dibaca, akan lebih memudahkan jika diberikan kategori untuk tiap tulisan yang ada atau setidaknya ada fitur search, supaya pembaca dapat mencari tulisan yang sesuai minatnya tanpa harus mengubek-ubek blog dari depan sampai belakang. Selain itu, dengan kapasitas Awin sebagai jurnalis dan mahasiswa Psikologi, sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi dan menjadi bahan tulisan menarik di blognya untuk menarik pengunjung. Seperti suka duka menjadi reporter remaja atau hal menarik yang pernah ia alami sebagai mahasiswa Psikologi.

Stereotipe tertentu seringkali disematkan kepada mahasiswa Psikologi, setidaknya itulah yang saya alami ketika berkuliah di fakultas ini 12 tahun yang lalu. Mulai dari dituduh bisa “membaca” orang lain, diminta bocoran supaya bisa lulus tes psikologi, mencari orang untuk menjadi testee sampai menjalani live in di komunitas-komunitas tertentu sebagai syarat kelulusan sampai merasa kecele karena ternyata belajar Psikologi tidak sesuai dengan bayangan saya sebelumnya. Apa saja? 

Ini dia 5 Hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Fakultas Psikologi

arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

1. Psikologi Tidak Lepas Dari Biologi dan Matematika

Jadi jangan memilih kuliah Psikologi jika nggak mau belajar Biologi dan Matematika. Di sini kita akan menemukan mata kuliah Psikologi Faal atau biopsikologi. Pelajaran ini wajib karena kita mempelajari tentang perilaku manusia yang dipengaruhi oleh syaraf, indera, respon tubuh kita.

Dan Matematika, hah! 2 semester kita belajar Statistik. Iya, pengolahan data mentah, tabel, kurva, grafik, sebagai syarat mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian untuk dapat mengikuti pelajaran Psikometri pada tahun-tahun akhir kuliah. Tapi jangan khawatir, nggak seperti jaman SMA, saat kuliah kita boleh dong pakai kalkulator bahkan akan sangat akrab dengan software analisa statistik SPSS.

 2. Tidak Cukup Hanya S1 Untuk Menjadi Psikolog

Yes, you read it right. Untuk menjadi psikolog, seorang sarjana Psikologi (S.Psi) harus menempuh jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Magister Profesi Psikologi. Ada 2 jenis strata 2 untuk Psikologi, Magister Psikologi dan Magister Profesi Psikologi. Magister psikologi dapat ditempuh oleh semua lulusan S1 yang tertarik untuk mempelajari psikologi lebih dalam, namun magister profesi psikologi hanya untuk lulusan S1 Psikologi dan lulusannya inilah yang sering kita cari untuk berkonsultasi secara profesional baik di bidang klinis, pendidikan, industri & organisasi maupun perkembangan anak.

Karena inilah saya terpaksa harus memendam sementara keinginan menjadi psikolog. Lulus S1 langsung kerja trus menikah, hamil, punya anak dan mengikuti suami berpindah kota membuat saya tidak sempat menempuh jenjang magister profesi. Tapi impian itu belum sirna sama sekali, masih berharap diberi kesempatan meraih gelar tersebut. Mohon doanya yaaa.

3. Fakultas Psikologi Didominasi Oleh Perempuan

Mulai dari dosen sampai mahasiswa kebanyakan adalah perempuan. Ini tentu menjadi keuntungan bagi sesama perempuan ya. Seperti pengalaman saya, I got my best friends for life. Bahkan seorang di antaranya jadi adik ipar saya hahaha. Kita nggak perlu takut nggak akan punya teman di program studi ini, pertama karena akan ada banyak sekali perempuan dari berbagai angkatan yang akan klik dengan kepribadian kita. Kedua, di tempat ini kita belajar mengenal perilaku manusia, belajar mengenali pribadi diri sendiri lebih baik dan tidak menghakimi orang lain sehingga meski ada grup-grup kecil, jarang sekali terjadi clash antar grup. 

4. Mahasiswa Psikologi Bukan Cenayang

Sungguh! Kami mempelajari perilaku dan pikiran manusia dengan berbagai metode ilmiah. Tes, observasi, eksperimen dan interview adalah sedikit di antaranya. Tidak mudah bagi mahasiswa psikologi untuk menilai kepribadian seseorang hanya dari pertemuan 3 menit. Jadi jangan pernah iseng tanya ke mahasiswa psikologi yang baru kita kenal, “Menurut kamu, aku gimana?” kecuali bersedia menjadi obyek penelitian *wink*

5. Harus Siap Menjadi Tempat Curhat

Begitulah, saat orang tahu kalau kita adalah mahasiswa psikologi, nggak jarang mereka langsung bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi. Bisa jadi karena mahasiswa psikologi diajarkan teknik konseling sehingga lebih suka mendengarkan daripada menghakimi, karena sebenarnya itulah yang dibutuhkan oleh orang yang sedang curhat. Didengarkan. 

Nah, sudah siap jadi anak Psikologi? Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut tentang keseruan berkuliah di program studi psikologi atau asiknya menjadi reporter remaja, silakan aja ngobrol sama Awin di akun media sosialnya. Oya, sekarang Awin sudah bikin FAQ Tentang Psikologi, lho. Jadi buat teman-teman yang sedang mencari info tentang serba-serbi perkuliahan di Fakultas Psikolog langsung aja meluncur ke akun youtubenya ya. Atau email Awin di alviaawin@gmail.com.

 

NgeRamen di Gohan Sushi

Gohan Sushi Restaurant, Japanese Food, Seria, Brunei

Setiap Sabtu siang abis jemput kakak Cinta sekolah adalah waktunya jajan alias makan siang di luar. Karena cuma punya waktu 1 jam sebelum kakak masuk sekolah Ugama, pilihan tempat makan pun terbatas hanya yang ada di sekitar Seria Plaza.

Kalau biasanya kakak Cinta yang menentukan jenis makanan apa yang ingin di santap, kali ini giliran papa yang memilih. Dan karena beliau ingin makan ramen, maka kami pun mencoba Gohan Sushi Restaurant, restoran Jepang yang baru buka cabang di Seria ini akhir tahun 2015 yang lalu.

Gohan Sushi, Seria, Brunei, Japanese Food
Gohan Sushi Restaurant Seria

Seperti kebanyakan restoran Jepang di Brunei, Gohan Sushi ini sudah punya sertifikat halal. Jadi kami nggak waswas kalau mau pesan sushi dan aneka makanan khas negara matahari terbit itu.

Kebetulan siang itu Gohan Sushi cukup sepi. Di dalam ruangan cuma ada satu keluarga selain kami yang kalau diliat dari seragam anaknya satu sekolah sama Cinta. Baru beberapa saat kemudian ada beberapa pelanggan lain yang datang.

chuka wakame, gohan sushi, japanese food, restaurant, brunei, seria
Gohan’s Chuka Wakame

Setelah memilih-milih, kami memesan Chuka Wakame, rumput laut favorit keluarga, Niku Ramen dan Niku Spicy Ramen untuk saya dan suami, Tori Katsu Cheese dan Garlic Fried Rice kesukaan Cinta dan Keenan, plus 1 porsi Ninniku Gohan, sushi yang cuma terdiri dari nasi, tobiko (flying fish roe yang berwarna oranye cerah dan biasa disajikan pada sushi) plus sedikit cheese spread di dalamnya untuk Keenan. Sengaja pilih jenis sushi itu karena Keenan suka banget makan sushi tapi nggak suka isinya. Jadi kalau order sushi di tempat lain, biasanya nasinya dimakan Keenan nah isinya mama yang makan hihihi. Berhubung tadi ada menu itu ya udah coba aja deh.

ninniku gohan, sushi, gohan sushi, japanese food, seria, brunei
Ninniku Gohan

Eh, ternyata dia suka lho menu sushi itu, begitu pula kakak. Cuma mereka kurang suka cheese spreadnya. Jadi pas makan bagian yang ada cheese spreadnya langsung dilepeh sama dia.

Tori Katsu, Japanese Food, Gohan Sushi, Restaurant, Brunei, Seria
Gohan’s Tori Katsu

Sedangkan kakak lahap makan pilihan menunya. Karena porsinya lumayan banyak bisa berdua sama Keenan juga nasi gorengnya. Rasanya cukup enak, gurih tapi nggak terlalu garlicky gitu. Tori katsunya renyah di luar dan ngeju.

ramen, niku ramen, gohan sushi, restaurant, japanese food, brunei, seria
Gohan’s Niku Ramen

Niku Ramennya enak! Kuahnya gurih dan segar. Mienya kurang berbumbu tapi justru pas dipadu dengan irisan daging tipis yang empuk dan gurih. Sukak pake banget deh. Nyicip versi pedesnya punya suami juga enak sih. Cuma saya lebih cocok yang original aja. Niku Spicy Ramen menurut saya cuma Niku Ramen yang dikasih banyak cabe bubuk hehehe.

Oya, untuk menu ramen, Gohan ini punya banyak pilihan, mulai dari yang beef atau chicken broth base seperti yang saya pesan sampai tom yam dan kimchi soup base pun ada.

Nah, minuman yang cocok untuk menemani si Ramen hangat di siang yang panas seperti kemarin ya apalagi kalau bukan Ocha dingin. Seger banget.

Pokoknya siang itu kami bahagia. Selain makanan yang dipesan cocok di lidah, pelayanannya juga cepat dan ramah. Suasana tempat makannya terang dan nyaman. Total harga yang kami bayar juga nggak terlalu mahal, ya mungkin karena kami nggak pesan sushi ya. Tapi dengan menu segitu aja sudah bisa bikin perut kenyang kok. Kapan-kapan kalau waktunya lebih santai dan lagi pengen, kita coba deh sushinya. Ini aja saking keasikan makan akhirnya si Kakak jadi bolos sekolah Ugama. Maaf ya, Cikguuuu…

Gohan Sushi Restaurant
First Floor, No 23, Jalan Sultan Omar Ali, Seria
Operating hours: 11am to 10pm daily.
For enquiries, reservations or more information, call 8772377, 3221216 or 3221218.

Perayaan Chap Goh Mei di Sekolah Cinta

lion dance, chap goh mei, chinese new year 2016

Sebagai sekolah Cina, sudah menjadi tradisi mereka merayakan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Cina. Ada Mid Autumn Festival, Chinese New Year, Chap Goh Mei, dll. Setiap perayaan punya ciri khasnya sendiri dan perayaan Chap Goh Mei pasti dimeriahkan dengan pertunjukan Lion Dance.

Chap Goh Mei 2016, Lion Dance, Chinese New Year 2016, Imlek 2016, Brunei, Chinese school, Seria
Persiapan sekaligus mengiringi barongsai yang memberkati ruang kelas

Kalau biasanya pertunjukan ini hanya dapat dilihat oleh anak-anak karena diadakan di sela-sela aktivitas belajar mengajar, tahun ini sekolah memberi kesempatan kepada orangtua untuk menyaksikannya. Dan saya pun nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hari Senin, 22 Februari kemarin, atas permintaan kakak Cinta, saya sudah siap di dalam gedung sekolah sebelum pukul 10 pagi.

Ada untungnya juga datang lebih awal dari waktu pertunjukan yang dijadwalkan jam 10 pagi itu. Selain bisa melihat para Lion Dancer bersiap-siap, saya juga bisa menyaksikan kehebohan anak-anak ketika barongsai memasuki ruang kelas dan ‘memberkati’ kelas mereka. Seru juga, apalagi di kelas lower primary. Anak-anak kecil itu berebut pengen megang si barongsai.

lion dance, chap goh mei 2016, chinese new year 2016, brunei, seria
Lion Dance masuk dan memberkati ruang kelas dengan mengupas jeruk-jeruk persembahan. Sumber foto: CCMS FP

Padahal para penari barongsai itu ya kakak-kakak kelas mereka juga. Anak-anak middle school dari sekolah yang sama. Meski masih SMA, kemampuan mereka bagus lho. Malah klub-klub lion dance dari sekolah-sekolah ini sering diundang perform dalam perayaan Chinese New Year di kantor atau rumah.

Kalau dulu, mereka juga sering tampil di tempat umum. Waktu masih tinggal di apartemen yang jadi satu dengan supermarket, tiap tahun baru Cina pasti bisa nonton lion dance ini dari dekat, karena pemilik apartemen & supermarket selalu mengadakan pertunjukan lion dance untuk memberkati toko dan apartemennya serta menghibur keluarga dan pengunjungnya. Tapi sejak 3 tahun terakhir, berdasarkan peraturan baru, pertunjukan tersebut hanya boleh dilakukan di rumah, sekolah atau komunitas khusus. Meski demikian, konon, honor untuk tampil menari barogsai ini cukup besar. Hebat ya, klub sekolah pun bisa jadi profesional.

Lion Dance, Chap Goh Mei 2016, Chinese New Year 2016, Imlek 2016, Brunei, Chinese School, Seria
Lion Dance

Setelah berkeliling masuk ke beberapa ruang kelas, rombongan barongsai ini kembali ke lapangan, berkumpul bersama ratusan anak yang sudah duduk manis menunggu kehadiran mereka. Saya pun menemukan Cinta di tengah teman-temannya. Dan begitu melihat saya, dia memilih untuk menonton dari pinggir ruang kelas bersama saya daripada teman-temannya. Saya jadi merasa tersanjung hihihi. Untungnya lokasi kami nonton cukup strategis sehingga bisa leluasa menyaksikan atraksi lion dance itu.

Meski cukup sederhana dan nggak pakai panjat-panjat tiang seperti biasanya. Pertunjukannya cukup menghibur. Anak-anak antusias nontonnya, terutama ketika salah satu barongsai lempar-lempar jeruk dan permen. Pada berebut deh.

Lion Dance, Chap Goh Mei 2016, Chinese New Year 2016, Imlek 2016, Chinese School, Brunei, Seria
Berebut jeruk dan permen. Sumber foto: CCMS FP

Jeruk memang selalu jadi bagian dalam perayaan Chap Goh Mei, seperti kue keranjang yang tak terpisahkan dengan perayaam Mid Autumn Festival. Tiap tahun baru Cina, pasti supermarket banjir dengan jeruk-jeruk Mandarin yang manis-manis dan dibungkus plastik itu.

Chap Goh Mei sendiri adalah perayaan yang dilakukan pada malam ke-15 setelah tahun baru Cina sebagai penutup dari rangkaian perayaan Chinese New Year. Ketika Chap Goh Mei, biasanya keluarga berkumpul untuk makan besar dan menyalakan kembang api. Macam lebaran gitu kali ya. Rumah-rumah pun dihias indah dengan lampion merah. Pokoknya tiap tahun baru Cina, rumah-rumah, toko-toko dan sekolah Cina pasti lebih meriah dari biasanya dengan aneka hiasan berwarna merah. Cantik banget.

Selamat memasuki tahun Monyet bagi teman-teman yang merayakan. May good luck and good fortune always be with you.

Cinta dan Children’s Enikki Festa

mitsubishi asian children's enikki festa, brunei, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

Waktu Cinta masih duduk di kelas 2, saya suka gemas dengan kebiasaannya menyobek buku tulisnya untuk menggambar. Ternyata, kegemasan yang sama juga dirasakan oleh wali kelasnya. Beberapa kali beliau dengan nada setengah putus asa bercerita bahwa Cinta suka sekali menghabiskan waktunya di kelas untuk menggambar dibandingkan mendengarkan guru-gurunya menerangkan pelajaran. Saya pun mencoba untuk bersepakat dengan Cinta akan hal ini dengan memberikannya buku tulis khusus yang bisa dipakainya untuk menggambar dengan syarat hanyaboleh melakukannya saat jam istirahat.

Mitsubishi Asian Children's Enikki Festa, sekolah, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

Selama beberapa waktu kesepakatan ini berjalan dengan baik. Saya tidak lagi menemukan buku-buku latihan atau PR yang tiba-tiba menjadi tipis karena sering disobek tengahnya untuk menggambar.

Namun, wali kelasnya berpikiran lain. Beliau merasa Cinta masih terlalu sering menggambar dan ditambah lagi dengan kebiasaannya melamun saat bosan. Cikgu menganggap kedua hal itu mengganggu konsentrasi Cinta di kelas, lantas meminta saya untuk tidak lagi membawakan Cinta buku untuk menggambar.

Dengan terpaksa, saya kembali mengingatkan Cinta untuk hanya menggambar saat jam istirahat atau sedang nggak ada pelajaran. Hanya saja, kali ini saya memberi ultimatum, kalau sampai Cikgu mengeluh lagi tentang kebiasaannya itu, buku gambarnya akan saya sita. Dia pun setuju.

Ternyata, hobi menggambarnya Cinta ini, meski sering mengganggu konsentrasinya di kelas, membuatnya selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran Art. Cikgu wali kelas sendiri mengakui bahwa di antara teman-teman sekelasnya, setiap ujian Art, Cinta selalu termasuk yang paling rapi dan cepat selesai. Karena inilah di bulan Oktober tahun lalu, Cinta ditunjuk untuk mewakili kelasnya dalam “Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2015/2016” bersama  seorang teman sekelasnya. Dari 2 orang ini dan beberapa lainnya dari masing-masing kelas, dipilih lagi menjadi 9 orang yang gambarnya dikirim ke festival tersebut mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan Cinta termasuk di antara 9 orang tersebut.

Tentang Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa

The Mitsubishi Public Affairs Committee, the Asian Federation of UNESCO Clubs and Associations, and the National Federation of UNESCO Associations in Japan have sponsored this Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa since 1990.

This Festa started up “Mitsubishi Impression-Gallery- Festival of Asian Children’s Art” in order for cultural exchange and support for literacy education by means of Enikki (illustrated diaries) and change its name in 2006.

The Festa so far has collected 635,511 works from 24 Asian nations and regions. The exhibition of represented works have taken place all over Japan as well as overseas, and those represented works have been incorporated into textbooks for local schools in order for participating nations + regions to promote literacy education.

source: enniki.mitsubishi.or.jp

Sebenarnya, tema festival menggambar ini bukan keahliannya Cinta. Sesuai dengan namanya, Enikki yang dalam bahasa Jepang berarti illustrated diaries, kompetisi kali ini meminta anak-anak menggambar hal-hal berkesan bersama keluarga. Antara lain, pengalaman berlibur, aktivitas yang menyenangkan, dan lain-lain. Ya seperti menulis buku harian lah, hanya saja dalam bentuk gambar.

Cinta sendiri menggambar pengalamannya berlibur bersama keluarga. Mulai dari naik pesawat di mana dia menggambar pesawat dan kami bertiga (saya, Cinta dan Keenan); naik kuda di Taman Safari; naik perahu di Kampong Ayer; dan dua gambar lainnya yang nggak sempat saya lihat karena diselesaikan di sekolah bersama gurunya.

Selain gambar, mereka juga diminta untuk mewarnai sebaik mungkin dan menulis cerita tentang gambar tersebut. Nah, Cinta kurang suka tuh mewarnai. Tapi dia tetap semangat dan berusaha. Bahkan ketika diminta untuk datang ke sekolah di hari libur untuk menggambar dipandu oleh guru-guru Art pun dia dengan senang hati menyiapkan sendiri keperluannya.

mitsubishi asian children's enikki festa 2015/2016, kompetisi, sekolah, Brunei, menggambar, mewarnai, aktivitas anak

Setelah sekian lama, akhirnya beberapa hari lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa salah seorang murid mereka, yaitu Charlotte Lay Zhi How dari kelas 5 Lily berhasil mendapatkan Excellent Award dalam ajang yang disponsori oleh Mitsubishi Jepang tersebut. Cinta sendiri rupanya masih harus banyak belajar lagi, terutama soal mewarnai dan menulis cerita. Tapi dia sendiri merasa sudah cukup senang dan bangga bisa berpartisipasi dalam festival tersebut. Saya pun bangga karena Cinta mau keluar dari zona nyamannya, belajar berkompetisi dan memberikan usaha terbaiknya. Semoga tahun ini dapat kesempatan lagi, ya, Kak.