Belajar Bisa Di Mana Saja

Ini sebenarnya very late post, kisah tentang liburan Desember kemarin waktu kami mudik sebulan ke Indonesia.

Ceritanya, saya minta tolong mama saya untuk mencarikan tempat kursus yang punya program liburan untuk mengisi waktunya Cinta. Ya, daripada di rumah cuma nonton tv dan youtube kan lebih baik kalau bisa les gambar kek, pesantren kilat kah, les bikin robot, les renang atau kegiatan apalah yang bermanfaat gitu. Mumpung banyak waktu luang dan ada yang bisa antar jemput.

Sayangnya, dari dua lembaga bimbingan belajar ternama yang didatangi mama, nggak ada yang menawarkan short course. Yang satu, sebut saja Kumon, bilangnya kegiatan mereka adalah aktivitas jangka panjang yang nggak bisa dipelajari cuma dengan tiga empat kali pertemuan. Ya, masuk akal sih, model-model gitu memang harus kontinyu kalau mau mendapatkan hasil yang baik.

Sedangkan lembaga kursus yang satu lagi, yang bergerak di bidang seni, nggak secara langsung bilang bisa atau enggak. Dia cuma menanyakan nomer telepon dan berjanji akan mengabari kami lagi. Padahal saat ditelpon mama saya, dia bilangnya bisa, tapi waktu saya datang untuk daftar dan Cinta dites lalu saya bilang lagi bahwa saya hanya perlu program singkat untuk mengisi liburan, lagi-lagi cuma janji bakal ngabarin. Yang sampai saya kembali ke sini nggak pernah saya dengar kabarnya lagi.

Sebenarnya to be fair, mbak resepsionisnya sudah menawarkan supaya saya daftar penuh aja karena tempat kursus ini cabangnya ada di berbagai negara, termasuk Brunei, jadi saya nanti bisa meneruskan ke cabang di sini setelah liburan usai. Tapi saya nggak mengiyakan karena belum tahu sistemnya yang di Brunei seperti apa. Kan rugi saya nanti kalau harus bayar biaya pendaftaran yang lumayan mahal itu dua kali hihihi #emakpelit.

Akhirnya setelah sempat mati gaya selama beberapa waktu, saudara saya menawarkan Cinta untuk ikut les mewarnai di tempat les yang diikuti oleh anaknya. “Cuma seminggu sekali, Mbak. Murah lagi. Tinggal beli krayon sama meja gambarnya aja.”

Berhubung anaknya mau, ya udah saya ikutin deh les mewarna di sana. Sesuai dengan saran saudara saya itu, sebelum ke tempat les mampir dulu ke toko Pelangi cari krayon Titi 48 warna dan meja gambar. Trus jemput ponakan untuk sama-sama ke tempat lesnya.

Sesampainya di sana, ibu pengurus sanggar langsung menyambut dengan ramah, dan mempersilakan anak-anak masuk ke ruangan tempat mereka belajar. Cinta sempat kaget liat tempatnya, sambil bisik-bisik dia bilang, “I thought the place would be nicer.” Mungkin dia ngebandingin sama tempat les satunya itu. Tapi, saat pulang les, Cinta sudah nggak lagi mempermasalahkan soal tempat. Dia dengan semangat menunjukkan hasil lesnya dan mencoba bikin PRnya di rumah.

Menurut saya yang orang awam soal seni ini, teknik mewarna yang diajarin oke juga. Selain gradasi warna, anak-anak juga belajar menentukan tentang bayangan, bagian yang harus ditebal tipiskan sampai cara mencampur warna supaya nampak natural. Gambar yang harus diwarna pun bertahap dari yang sederhana sampai rumit. Sayang sih, buku mewarnanya Cinta nggak kebawa ke Brunei jadi saya nggak punya foto hasil mewarnanya.

sanggar lukis anak devina sidoarjo, sidoarjo, sanggar lukis anak, les menggambar, kursus mewarna
Cinta dan Levina di Sanggar Devina Cab. Lemah Putro, Sidoarjo. Look at their happy faces.

Setelah saya tanya-tanya, meski sederhana, ternyata tempat les itu lumayan terkenal sekabupaten Sidoarjo, cabangnya banyak. Namanya Sanggar Lukis Anak Devina. Cabang tempat Cinta dan Yasmine belajar beralamat di Lemah Putro Kelurahan no 6-8 Sidoarjo, dengan pembina Pak Rahman dan Bu Novi.

Biaya kursusnya cukup terjangkau kok. Untuk tingkat dasar hanya perlu membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000, uang kaos Rp 65.000 dan bulanan Rp 50.000. Karena Cinta cuma ikut program liburan, bu Novinya bilang nggak perlu bayar uang pendaftaran dan beli kaos. Jadi saya hanya perlu membayar Rp 50.000 untuk 4 kali pertemuan dalam sebulan. Sudah dapat 1 jilid buku mewarna lagi. Kalau perlu tambahan buku mewarna tinggal bayar Rp 5.000 per buku. Murah banget kaaaan. Bahagianya emak irit ini.

Baca juga Berlomba Saat Libur Sekolah

Dari Sanggar Lukis Devina ini juga Cinta bisa ikut lomba mewarnai New Era Desember yang lalu. Dan rupanya mereka juga sering mengadakan acara lomba seperti itu. Sayang sih, Cinta cuma sempat belajar 2 kali pertemuan. Tapi tetap ada ilmu yang dia dapat dan bisa terapkan sampai sekarang. Malahan yang dulunya dia nggak suka mewarnai sekarang jadi lebih telaten main gradasi warna.

Baca juga Cinta dan Children’s Enikki Festa.

Jadi ya pengalaman buat saya, yang namanya belajar itu bisa dari mana saja, dari siapa saja. Mungkin yang mahal dan bergengsi itu bagus tapi yang sederhana pun seringkali tidak kalah kualitasnya. Yang penting semangat belajarnya aja yang dijaga. Bener nggak?

Hmmm, insya Allah Juni nanti mau mudik lagi. Pengen bawa Cinta belajar di Sanggar Lukis Devina lagi ah, trus belajar apa lagi ya? Ada masukan ide, mungkin?

Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa

Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

Beri Waktu Untuk Berduka

Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

Berhati-Hati Dalam Berbicara

Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi
tulisan dikutip dari parentsdotcom

Memberikan Pelukan

Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

Dengan cara:

  • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
  • Bernafas dalam-dalam.
  • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
  • Positive self-talk.
  • Mendengarkan musik.
  • Membaca buku.
  • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
  • Mandi air hangat.
  • Nonton film lucu.

Berikan Contoh Positif

Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

5 Foto Anak Yang Sebaiknya Tidak Diunggah di Media Sosial

internet safety, media sosial untuk anak, internet sehat

Jangan sembarangan upload foto anak di media sosial. Begitu anjuran seorang psikolog dan pakar parenting di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri beberapa tahun lalu. Beliau bahkan menyarankan kami, para orangtua, untuk selalu meminta ijin kepada anak saat kita akan mengunggah fotonya di media sosial. Saat itu sih saya masih cuek aja. Pikir saya untuk apa sih minta ijin ke anak, kan kita mengunggah fotonya sebagai bentuk kebanggaan karena kelucuannya, kecantikannya, kepinterannya dan apalah apalah yang lain. Lagipula anaknya waktu itu masih kecil dan belum ngerti tentang media sosial kan jadi ya masih masa bodoh lah walaupun sedikit-sedikit mulai berkurang frekuensi mengunggah foto-fotonya.

Berkurang itu dalam arti cuma yang bagus aja yang diunggah atau saat ada peristiwa yang menarik dan menurut saya perlu dibagikan ke khalayak ramai. Sebelumnya wah, hampir setiap langkahnya saya unggah ke multiply dan facebook. Mulai dari bangun tidur masih pake piyama, makan, outfit of the day, langkah pertama, lagi kelonan, ocehan pertama, lagi mandi nggak pake baju, lagi berenang, sampai akhirnya mau tidur lagi. Semua ajalah saya upload.

Defensenya adalah untuk dokumentasi pribadi. Biar kalau filenya hilang masih ada back upnya di media sosial. Pembelaan ini bertambah ketika kami tinggal jauh dari kampung halaman. Alasannya supaya kakek nenek tante paman budenya bisa tetap mengikuti perkembangan si kecil dari jauh melalui facebook. Gitu. Masuk akal kan ya.

Tapi semakin ke sini semakin banyak yang mengingatkan untuk lebih berhati-hati mengunggah foto-foto anak di media sosial. Apalagi dengan semakin maraknya kasus child shaming, penculikan, pedofilia, pencurian foto untuk hal-hal yang nggak senonoh dan masih banyak lagi deh. Akhirnya, lama-lama saya makin jarang upload foto anak-anak di media sosial, khususnya Facebook. Kalaupun upload, saya buat hanya dapat dilihat oleh circle tertentu, yaitu keluarga dan sahabat dekat. Dan yang saya unggah pun hanyalah foto-foto yang bersifat umum, misalnya sedang mengunjungi tempat tertentu atau sedang bersama keluarga besar.

Nah, ketika bikin tulisan tentang hate comments kemarin, saya menemukan beberapa tulisan yang bertema foto-foto seperti apa yang sebaiknya nggak kita unggah ke media sosial. Akhirnya saya coba rangkum dan tulis di sini untuk mengingatkan diri sendiri, ini dia:

internet safety, internet sehat, anak dan media sosial

5 Foto Anak Yang Sebaiknya Tidak Diunggah ke Media Sosial:

  1. Anak bersama teman-temannya tanpa seijin orangtua masing-masing.
    Waktu baru pindah ke sini juga seorang teman yang berkebangsaan Jepang, yang kebetulan tetangga apartemen saya dan anaknya satu sekolah dengan anak saya selalu minta ijin sebelum mengunggah foto anak-anak lagi main bareng. Dari dialah saya tahu kalau di beberapa negara, aturan ini cukup ketat ternyata. Nggak sembarangan orang bisa mengunggah foto anaknya yang lagi berpose dengan sekumpulan anak lain. Apalagi kalau anaknya nggak dia kenal baik, seperti foto lagi main bareng di taman bermain atau teman seperjalanan yang nggak saling kenal.Hal ini bertujuan melindungi privacy orang lain. Nggak semua orangtua suka foto anaknya ada di media sosial apapun alasannya. Ada yang memang supaya anaknya nggak diekspos seperti anak-anaknya artis, ada yang mungkin sedang dalam program perlindungan saksi, ada yang mungkin lagi melarikan diri dari pasangan yang abusive dan nggak mau keberadaan mereka diketahui, dan macam-macam alasan lain.
    Solusinya ketika berada di area publik ya sebaiknya hanya mengambil foto anak atau blur wajah-wajah anak lain di sekitar anak kita.

    Blur foto teman karena belum minta ijin ortunya

     

  2. Sedang berada di sekolah.
    Oke, siapa yang nggak bangga kalau anak kita sekolah di sekolah yang bagus, berprestasi di sekolah atau ambil bagian dalam pentas akhir tahun. Saya rasa wajar aja kan ya kalau kita upload foto mereka lengkap dengan nama acara, prestasi yang mereka raih dan nama sekolahnya. Wajar pake banget! Kebanggaan gitu lho. Mungkin juga kebanggaan bagi pihak sekolah apalagi kalau follower IG kita ribuan orang gitu. Lumayan kan jadi dipromosikan. Tapi mungkin kita juga sudah banyak baca ya postingan viral tentang penculikan anak di sekolah hanya karena ortu iseng upload foto hari pertama sekolah lengkap dengan nama dan tag locationnya. Oke oke, artikel itu bisa jadi cuma ilustrasi, bukan kejadian beneran. Tapi nggak ada salahnya lebih berhati-hati. Kalaupun memang mau pasang foto anak di sekolah, keep it private for our children sake. Nggak perlu juga seluruh dunia tahu di mana anak kita bersekolah kan.
  3. Bath or Potty Time
    Lebih lucu foto main air kan, daripada foto berendam di bak mandi 😀

     

    Nggak ada yang lebih lucu dari foto anak lagi duduk di dalam bak mandi berbalut busa sabun sambil main rubber ducky ya. They look so cute and innocentWell, yes, until someone steal their picture and post it to some IG accounts that encourage their follower to do role playing with the pictures. Yes they exist lho. Coba cari hestek #babyrp #babyroleplay #adoptionrp #pedorp #pedophilerp #childfetish. Lagian sih, saya sendiri nggak mau kalau foto kecil saya sedang setengah telanjang tersebar di media sosial betapapun lucunya. Masa iya saya mau melakukan hal yang sama ke anak saya 😀

  4. Yang memuat Identitas Lengkap Anak
    Beberapa teman menganjurkan saya untuk nggak menulis nama lengkap anak di sekolah, bahkan banyak blogger luar negeri seringkali cuma mencantumkan nama alias atau nickname anaknya. Saya belum bisa sih, belum bisa sepenuhnya. Untuk kakak Cinta mungkin lebih mudah karena orang tahunya ya nama dia adalah Cinta, karena memang itu panggilan sayang kami sekeluarga yang akhirnya terbawa ke dunia maya. Hanya keluarga, teman dekat dan teman sekolahnya yang tahu nama lengkap Cinta. Sedangkan Keenan, kami nggak punya ide bikin nickname, paling yang bisa saya lakukan adalah nggak mempublish nama belakangnya. Emang kenapa sih?

    Gini, di dunia digital seperti sekarang mudah sekali kan orang nyari tahu tentang kita di dunia maya. Tinggal masukin nama lengkap aja bisa deh ketahuan data-data dan foto yang pernah kita post di media sosial. Nah, bayangin kan kalau kelak anak mau apply beasiswa atau mau ngelamar kerja atau ada temen onlinenya yang iseng googling terus menemukan foto-foto anak yang nggak pengen dia liatin ke orang lain. Kalau yang kita posting baik-baik aja sih nggak apa-apa, tapi kalau misalnya rapor yang kurang baik, kan kasian ya.
  5. Yang Memalukan Anak
    Nah, ini dia poin yang saya maksud di awal tulisan ini. Sebelum pasang foto anak di media sosial, mintalah ijin terlebih dahulu, terutama kalau anaknya sudah bisa diajak diskusi. Atau minimal bayangkan kita ada di posisinya, mau nggak kalau foto itu dilihat banyak orang di dunia maya. Kenal child shamming kan ya? Sekarang banyak sekali anak yang merasa dipermalukan karena orangtuanya pasang foto-foto konyol baik secara sengaja atau enggak. Coba kalau foto kita yang lagi nggak banget dipasang teman di FB misalnya, pasti juga sebal kan ya?
Kalau foto lagi cakep gini dan sudah ijin anaknya, bolehlah diupload.

Jadi orangtua di dunia digital memang nggak gampang sih. Saya sering banget pengen upload foto bocah-bocah di medsos tapi suka saya tahan. Tapi kadang ngeliat teman-teman lain posting foto-foto anaknya trus ikutan juga. Masih labil lah intinya. Akhirnya seringnya saya kirim aja ke grup wa keluarga, grup bbm atau saya buat seprivate mungkin alias cuma saya dan keluarga yang bisa liat. Kecuali foto-foto liburan di suatu tempat yang benar-benar berkesan buat kami, misalnya. Selebihnya semua foto masih tersimpan manis di folder hp dan laptop. Mungkin nanti mau bikin album foto aja sih biar bisa dibuka setiap saat. Like the old times.

Hate Comments dan Media Sosial untuk Anak

anak dan media sosial

Kemarin sore saya baca postingannya Ira tentang seseartis yang sering sekali dibully hatersnya di media sosial. Nggak nyangka juga euy kalau hate comments yang dia terima di setiap postingannya di media sosial ternyata bisa berakibat seburuk itu untuk keluarganya, terutama anak-anaknya yang beranjak remaja. Nah, kalau diamat-amati ternyata nggak cuma artis yang diceritakan Ira dalam blognya itu yang sering dapat hate comment, banyak banget tokoh publik yang bernasib sama.

Coba aja tengok instagramnya teteh princess Syahrini atau Marshanda atau nggak usah artis deh, tokoh-tokoh negara yang harusnya kita hormati seperti Presiden Jokowi atau pendahulunya pak SBY pun nggak kurang-kurang hatersnya di media sosial. Sampai seringkali saya suka mikir, itu tangannya kok pada lemes banget ya nulis hal-hal seperti itu.

Sayangnya, hate comments ternyata nggak mengenal status sosial dan jenis postingan. Iya, dulu pernah ada yang bilang kalau status kontroversilah yang paling sering menuai hate comments tapi ternyata enggak juga lho. Saya kebetulan follow akun IG @cutegirlshairstyles dan anak-anaknya. Awalnya komen-komen di postingan mereka selalu positif karena kebetulan followernya adalah abege-abege yang sepertinya memang perlu role model positif. Tapi belakangan ini, ketika follower mereka sudah ribuan mulai ada beberapa yang suka komen, “You look so ugly,” “That outfit is ugly,” gitu-gitu deh. Padahal kalau diliat profilnya ya kebanyakan yang nulis gitu anak remaja lho. Kan jadi ngeri yah. Ini anak diajarin apa sama emak bapaknya kok bisa-bisanya komen seperti itu di akun media sosial orang yang nggak mereka kenal secara pribadi.

Makanya saya jadi maju mundur mau ngasih kakak Cinta akun media sosial pribadi meski sifatnya parent runs account. Bahkan upload videonya anak-anak di Youtube aja sekarang mikirnya berkali-kali lipat. Padahal dia sudah lama pengen punya channel Youtube atau minimal videonya diupload di channel Youtube saya, karena sering liat video-video keren yang dibawakan oleh anak-anak seusianya.

Lha gimana nggak ragu, wong video tentang menit-menit pertama setelah Cinta lahir aja ada yang iseng kasih komen jelek. Saya kan jadi takut kalau misalnya nanti video yang dia buat dengan susah payah tiba-tiba dikomen nggak enak. Saya nggak yakin dia sudah siap mental, jangankan dia, saya aja nggak siap. Ya, maklumin aja ya, namapun bukan seleb, dapat komen negatif di postingan blog sendiri aja sudah baper apalagi kalau anak yang dikomen.

komen yang saya terima di video Newborn Cinta

Iya sih, di dunia maya itu selalu ada troll, orang-orang yang emang hobi banget komen jelek di postingan siapa aja. Dan benar juga, adalah tugas saya untuk memfilter semua komen yang masuk sebelum anak baca. Plus nggak salah kalau ada yang bilang, kita nggak bisa selalu melindungi anak dari hal-hal negatif, termasuk komen di media sosial. Tapiiii, untuk saat ini saya memilih untuk menghindari sajalah.

Banyak orang di luar sana yang beranggapan kalau mereka berhak komen apapun di setiap postingan orang, kenal atau tidak. “Ya, kalau sudah berani posting harus terima resiko dikomen apa aja, dong!” Gitu biasanya pembelaan mereka. Padahal, sebenarnya kita kan selalu punya pilihan ya, mau komen atau tidak. Kalau nggak suka liat postingan orang bisa ditutup aja, unfollow atau apalah. Bukankah kita selalu diajarin untuk diam kalau tidak bisa berkata baik. Benar?

Maka itu saya sementara ini memilih untuk menunda ngasih Cinta main di media sosial. Kebetulan juga teman-temannya sekarang belum ada yang punya akun medsos. Entahlah kalau 2-3 tahun lagi.

Saya baru ngasih dia main Line dan BBM untuk komunikasi dengan keluarg. Dan memang dalam akun tersebut cuma ada keluarga di daftar temannya. Itupun nggak sering dia pakai karena Cinta lebih suka nonton tv dan youtube daripada chatting. Baru beberapa hari ini aja dia whatsapp-an sama sahabatnya di sekolah pakai akun WA saya di hp saya. Jadi semuanya bisa terkontrol.

Sembari menunggu waktu yang tepat mengijinkan Cinta menggunakan media sosial, berikut adalah beberapa PR yang harus saya selesaikan bareng Cinta untuk menyiapkan dia menghadapi “unik”nya interaksi di dunia maya.

1. Mengenalkan Cinta ke akun-akun populer termasuk komen-komen negatif di dalamnya.

Dengan begini Cinta bisa punya bayangan apa saja yang bisa dia hadapi saat posting sesuatu di dunia maya tanpa harus mengalaminya sendiri. Kami juga bisa berdiskusi tentang perasaan yang kira-kira dialami oleh pemilik akun saat membaca komen-komen negatif tersebut. Harapannya, kelak Cinta bisa lebih kuat mental, tidak melakukan hal yang sama (hate commnet) dan berpikir terlebih dahulu sebelum posting atau komen.

2. Set up the rules

Seperti tidak berteman dengan orang asing, harus lapor kalau dapat inbox dari orang tak dikenal, block teman yang suka komen negatif, be nice to people, nggak posting atau kirim pesan yang bisa mempermalukan orang lain dan berpikir sebelum posting. Ini penting lho, di jaman digital seperti sekarang orang bisa dengan mudah menilai kepribadian kita hanya dengan status-status di media sosial. Jadi ya sejak awal pengennya Cinta dan Keenan bisa lebih berhati-hati saat posting sesuatu. Berlaku juga untuk saya sih. Sebisa mungkin nggak posting sesuatu yang bisa bikin mereka malu.

aturan di media sosial untuk anak, media sosial untuk anak, anak dan media sosial

3. Mengajarkan Cinta tentang Privacy Setting.

Kapan hari saya baca di status FBnya mbak Chichi Utami kalau ABG sekarang lagi hobi tukeran password akun medsos dengan teman segengnya. Nah, bayangkan bahayanya kalau si teman ternyata nggak amanah misalnya, trus posting atau kirim pesan yang kurang baik atas nama si pemilik akun. Duh, saya kok jadi parnoan gini ya. Tapi nggak apa-apa, jadi pelajaran juga buat saya untuk selalu mengamankan password, setting postingan hanya untuk teman dan keluarga demi keamanan bersama. Better safe than sorry, right?

4. Jadi Contoh

Children see, children do. Kalau kita nggak bisa ngasih contoh bermedia sosial yang santun, gimana anak mau niru. Saya suka tuh ngintipin akun IGnya anak-anak artis seperti anaknya Ersamayori, Mona Ratuliu dan yang lagi ngetop sekarang Nauranya Nola Be3. Nah, ada aja lho komentator anak-anak yang suka nanya, “Eh, kamu sekolahnya di (sekolah Islam) tapi kok bajunya kaya gitu,” “Ih, gayanya nggak banget deh,” atau apalah komen-komen kepo nggak penting. Jadi ngebayangin jangan-jangan bapak ibunya juga gitu ya kalau di dunia nyata atau maya. Kepoan trus suka ngejudge pilihan orang yang berbeda. Aduh, amit-amit deh. Jangan lah yaaa.

Pengennya saya Cinta dan Keenan nanti bisa menghormati apa saja postingan temennya di dunia maya (kecuali pornografi, harus diblock tanpa ampun), nggak perlu ikut-ikutan posting sesuatu yang lagi tren kalau nggak sesuai dengan norma keluarga dan masyarakat, nggak share sesuatu yang belum bisa dipastikan keakuratannya. Jadi ya sekarang saya pun harus belajar bermedia sosial seperti itu. Berat? Iya. Seperti yang ditulis seseblogger tentang FoMO, pasti ada ketakutan untuk ketinggalan tren di media sosial. Takut dianggap nggak gaul. Tapi ya sudahlah, nggak semua yang lagi hits itu keren kok. Pinter-pinternya milih aja.

Ribet ya sepertinya. Mau ngasih anak main media sosial aja banyak PRnya. Dan jujur saya yakin sebenarnya dunia media sosial nggak sekejam itu. Banyak kok orang dan anak-anak santun yang pinter berinteraksi di dunia maya. Seperti di akun anak-anak artis itu. Banyak abege yang ngingetin teman-temannya yang ngasih komen negatif dengan cara yang baik.

Nah, itu jadi salah satu parenting goals saya di era digital ini. Menghasilkan anak melek teknologi digital yang tetap smart dan santun di dunia nyata dan maya. Repot banyak ya gapapa, memang resiko jadi orangtua. Semoga sih bisa. Aamiin.

Weaning With Love

weaning with love, menyapih dengan cinta, breastfeeding, menyusui

Weaning with love.  Istilah itu pasti familiar bagi kita para ibu menyusui ya, terutama yang berencana menyapih bayinya seperti saya.

Sebenarnya apa sih weaning with love? Menurut konselor laktasi, Mia Deazy Mayangsariweaning with love adalah cara menyelesaikan atau menutup kegiatan menyusui dengan kasih sayang dan cinta. Dimana proses menyapih ini dilakukan tanpa paksaan dan tanpa memanipulasi seperti menggunakan pahit-pahitan.

Hmmm, waktu berusaha menyapih Cinta dulu saya sempat tuh pakai mengoleskan parutan kunyit ke payudara. Rasanya sampai sekarang masih terbayang ekspresi traumanya Cinta melihat payudara mamanya yang berwarna kuning saat dia minta nenen karena mengantuk. Seketika itu juga dia langsung menangis histeris sampai si mbak pengasuh turun tangan dan menggendong Cinta sampai tertidur.

Gara-gara itu ketika ditawarin nenen lagi, Cinta sempat menolak sambil bilang, “Mimik mama sakit kan.” Meski kemudian dia mau kembali menyusu sampai akhirnya berhenti sendiri beberapa bulan kemudian, perasaan bersalah itu masih tersimpan sampai sekarang. Sehingga saya bertekad untuk menyapih Keenan secara perlahan tanpa menggunakan hal-hal seperti itu lagi.

Memang jadi lebih lama sih, nggak bisa sehari jadi. Tapi kan menyapih memang butuh waktu, nggak bisa instan. Prosesnya sendiri bisa dimulai sejak bayi diperkenalkan dengan makanan padat sebagai pendamping ASI.

Biasanya setelah anak mulai makan, secara perlahan frekuensi menyusui akan berkurang sedikit demi sedikit. Nah, di usia 1 tahun, anak bisa mulai disounding dan diberi afirmasi positif sebagai ‘anak besar’.

Ketika anak sudah lebih besar dan mulai menunjukkan tanda-tanda siap disapih seperti mengurangi frekuensi menyusu dan bisa tidur sepanjang malam, berarti ibu dan anak sudah mulai bisa bersiap untuk menyapih dan disapih dengan cinta. Tapi jangan sampai keliru dengan nursing strike ya.

Proses weaning ini juga memerlukan keterlibatan ayah lho. Seluruh keluarga harus sepakat untuk tetap meneruskan atau menghentikan pemberian ASI di usia 2 tahun. Kesepakatan ini secara emosional akan sangat membantu ibu ketika ada pihak lain yang mempertanyakan ketika anaknya belum juga disapih meski sudah berusia 2 tahun. Biasanya ada tuntutan dari pihak keluarga seperti kakek dan nenek untuk menyapih anak ketika ia tepat berusia 2 tahun. Ini memang kendala yang sering dihadapi oleh ibu menyusui.

Padahal banyak sekali manfaat yang didapat oleh anak yang disusui sampai lebih dari 2 tahun. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel darah putih, zat kekebalan, enzim, hormon dan protein yang cocok untuk bayi sampai ia berhenti menyusu. Menurut Mia, ASI pada tahun kedua justru mengandung lebih banyak antibodi yang sangat berguna bagi anak karena pada usia itu anak sudah mulai bergaul dengan banyak orang dan bereksplorasi di berbagai tempat.

Berdasarkan penelitian terhadap 250 batita di Kenya bagian barat, ASI dapat memenuhi 32% dari total asupan energi yang dibutuhkan oleh anak. Studi yang dilakukan di Bangladesh juga membuktikan bahwa ASI pada tahun kedua dan ketiga menjadi sumber vitamin A yang sangat penting bagi anak. Selain itu menyusui pada tahun kedua dan ketiga juga bermanfaat bagi kecerdasan anak, perkembangan sosial dan kesehatan mentalnya.1

Jangan khawatir anak yang disusui lebih dari 2 tahun akan menjadi manja dan tergantung pada ibunya. Justru sebaliknya, kok. Menurut Elizabeth N. Baldwin, Esq. dalam “Extended Breastfeeding and the Law,

Breastfeeding is a warm and loving way to meet the needs of toddlers and young children. It not only perks them up and energizes them; it also soothes the frustrations, bumps and bruises, and daily stresses of early childhood. In addition, nursing past infancy helps little ones make a gradual transition to childhood.

Intinya sih, menurut teori psikososial, perilaku bayi pada usia 0-2 tahun didorong oleh rasa percaya dan tidak percaya anak terhadap lingkungan sekitarnya. Dan menyusui adalah salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk memberikan rasa aman dan nyaman yang dibutuhkan anak dalam membentuk kepercayaan tersebut. Anak yang memiliki rasa percaya bahwa dunia sosialnya adalah tempat yang aman dan orang-orang yang ia temui dapat dipercaya dan saling menyayangi akan lebih mudah beradaptasi pada lingkungan baru dan lebih mandiri.

Jadi nggak perlu buru-buru menyapih anak apalagi dengan cara paksa. Hal ini justru akan membuat anak menjadi rewel berhari-hari seperti yang dialami Keenan, payudara ibu bengkak dan secara psikologis dapat membuat anak merasa ditolak oleh ibunya.

Kalau masih ada keluarga yang meminta ibu untuk menyapih bayinya hanya karena sudah berusia 2 tahun, ayah bisa maju untuk memberikan penjelasan. Yah, secara ibu kan biasanya lebih emosional apalagi soal menyusui. Sedangkan ayah diharapkan bisa lebih tenang dan logis saat memberikan pengertian tentang manfaat extended breastfeeding ini.

Ayah juga dapat membantu ibu saat kesepakatan untuk menghentikan proses menyusu ini sudah tercapai. Misalnya dengan mengencourage anak bahwa dia sudah besar, sudah waktunya minum menggunakan gelas. Atau ketika anak terbangun tengah malam untuk nenen, ayah bisa menggendong atau menidurkannya lagi. Memang proses weaning with love ini panjang dan melelahkan ya sepertinya, tapi percaya deh worth to fight kok. Yuk, berusaha sama-sama! Semangat!

  1. Referensi: Artikel Breastfeeding Past Infancy: Fact Sheet By Kelly Bonyata, BS, IBCLC – http://kellymom.com/ages/older-infant/ebf-benefits/ []

Menyapih, Bukan Proses Instan

Menyapih, bukan proses instan. Weaning should be a process, rather than an event. Begitu kutipan yang saya peroleh dari situs Breastfeedingbasic.com saat sedang mencari tip untuk menyapih batita. Cocok banget dengan kondisi saya yang sedang berusaha menyapih Keenan. Iya, di usianya ke 2,7 tahun ini saya sudah 2 kali gagal saat mencoba menyapih Keenan.

Percobaan pertama saya lakukan ketika Keenan persis berusia dua tahun, gagal karena kemudian dia demam dan sakit. Percobaan kedua dilakukan beberapa bulan yang lalu. Kali ini saya lebih siap secara mental. Apalagi dokter spesialis anak juga mendukung saya menyapih Keenan karena berat badan Keenan yang nggak beranjak dari angka 10kg.

Saat itu saya sengaja memilih long weekend dengan harapan suami bisa membantu saat Keenan tantrum minta nenen di malam hari. Dan benar saja, selain tantrum setiap minta nenen nggak dikasih, Keenan pun jadi mogok makan dan susah tidur. Akibatnya dia jadi cranky. Dikit-dikit marah, dikit-dikit bete. Setelah 68 jam tanpa nenen akhirnya proses menyapih itu saya hentikan. Nggak tega rasanya melihat Keenan nggak nyaman hanya karena nggak bisa menyusu.

Padahal sebenarnya kadang saya sudah merasa nggak nyaman lagi menyusui. Sering kesal karena setiap Keenan terbangun tengah malam selalu minta nenen. Apalagi biasanya bisa terjadi lebih dari 3 kali dalam semalam. I need my beauty sleep. Hiks. Lagipula seringkali dia nggak nenen beneran alias cuma ngempeng. And that’s annoying. Duh.

Nggak lama kemudian, bertepatan dengan World Breastfeeding Week 2015, kami pergi ke Mobahai Shopping Complex yang kebetulan sedang mengadakan acara World Breastfeeding Day. Di sana saya bertemu dengan para konsultan laktasi dari Jabatan Kesehatan Brunei. Nah, kesempatan ini saya pergunakan untuk berkonsultasi tentang proses menyapih. Saat saya bertanya cara menyapih, beliau malah bertanya, “Why do you want to wean him? Are you expecting a new baby?“. Saya pun menjelaskan bahwa Keenan sudah lebih dari 2 tahun dan alasan-alasan lain. Beliau justru menjawab bahwa nggak perlu menyapih Keenan, tunggu saja sampai dia menyapih dirinya sendiri. Sayang waktu itu saya nggak sempat ngobrol lebih lama karena anak-anak sudah heboh minta pulang.

Akhirnya saya curhat dong ke Path dan ke teman-teman sesama (mantan) busui. Kebanyakan memberikan saran yang sama. Dan satu hal yang harus digaris bawahi adalah saat menyapih yang penting adalah kesiapan kedua belah pihak, terutama ibu. Kalau ibu ragu sedikit saja biasanya anak juga akan merasa, sehingga ya kejadian seperti Keenan itu deh, tantrum, rewel dan sebagainya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kesiapan Keenan saja sambil terus disounding kalau Keenan sudah besar, sudah waktunya berhenti nenen, nenen hanya untuk bayi, mama tetap sayang meski Keenan nggak nenen lagi dan sebagainya.

Lagipula sebenarnya Keenan pun sudah mulai menyapih dirinya sendiri. Sejak usia 2 tahun dia hanya minta menyusu saat ingin tidur. Selebihnya sudah nggak pernah minta lagi. Mungkin karena sejak lahir saya selalu menyusui dia saat mau tidur, sehingga Keenan berasumsi bahwa menyusu adalah cara ternyaman untuk membuatnya tidur. Sepertinya PR saya adalah mencari cara untuk mengantarkan Keenan tidur selain dengan menyusu. Dan sampai sekarang belum berhasil hihihi. Tapi memang menyapih sebaiknya nggak dilakukan secara instan dan perlu usaha banyak pihak, sama seperti saat kita mulai menyusui dulu. Diawali dengan baik harus diakhiri dengan indah juga kan.

Untuk memantapkan hati, saya pun meminta saran kepada seorang teman yang juga konselor laktasi dan anggota aktif Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jatim, Mia Deazy Mayangsari. Saran-saran dari Mia tentang weaning with love dan self weaning serta beberapa bacaan yang dia sarankan akan saya tulis dalam postingan berikutnya. Sementara itu boleh dong, sharing pengalaman menyapihnya, Moms.