Pemuda Kecil Itu

Namanya Irvan*, waktu itu usianya 10 tahun, kelas 4 SD swasta ternama di Surabaya. Saya mengenalnya 7 tahun yang lalu saat masih bekerja sebagai asisten di lembaga konsultasi Psikologi. Dia klien kami, dibawa ibunya karena obsesif impulsif terhadap AC (iya, AC yang Air Conditioner itu), mencuri, berbohong, memberontak, bertengkar dengan teman-temannya, nilai sekolah jelek.

Tidak mudah bagi saya mendekati Irvan saat itu. Penolakan demi penolakan saya terima. Di satu sesi terapi tiba-tiba ia lari keluar ruangan dan setelah mencari kemana-mana ternyata duduk di salah satu sudut gedung untuk mengamati kompresor AC. Di sesi lain hanya ingin menggambar AC, bercerita tentang AC dan berlangsung selama 1 jam. Kadang ia mogok, diam duduk di sudut ruangan tanpa melakukan apa-apa. Butuh waktu cukup lama sampai ia merasa nyaman dengan saya. Dan ketika waktu itu tiba sesi terapi mendadak menjadi mudah dan menyenangkan.

Ia pun mulai berkisah. Mama papanya tak akur di rumah, papanya acuh tak acuh atas mama dan dirinya. Sedangkan mamanya terlalu sibuk dengan masalah rumah tangganya. Sementara bocah malang yang sehari-hari diasuh neneknya ini dituntut untuk selalu bersikap sesuai dengan keinginan orangtuanya. Hardikan, kata-kata “goblok”, “nakal” kerap ia terima begitu juga hukuman fisik saat tidak mau mengikuti kata-kata papa dan mama.

Sesi terapi pun selalu menjadi hal yang ia nantikan kata mamanya. “Kok bisa sih selalu nyariin mba? Sama saya aja nggak begitu.” tanyanya suatu ketika. Bahkan kadang Irvan berusaha mengulur waktu selesainya terapi. Sampai akhirnya ia menjadi posesif. Saat bersamanya, saya tidak boleh berbicara dengan orang lain, menerima telpon. Begitupun dia tidak mau didekati oleh siapa-siapa bahkan atasan saya sekalipun. Irvan bisa mendadak ngambek ketika kami berjalan-jalan di area kampus dan saya menyapa satu dua orang teman.

Saya terpaksa berpisah dengan Irvan walaupun terapinya belum selesai. Orangtuanya tak mampu lagi membayar biaya terapi. Atasan saya menyerahkan Irvan ke grup mahasiswa yang melakukan terapi gratis di bawah bimbingannya dan itu tidak termasuk saya *mahasiswamatre*. Tapi kemajuan Irvan saat itu cukup menggembirakan. Obsesinya terhadap AC sudah mulai berkurang, ia tidak lagi bermasalah di sekolah. Bahkan ketika kami mengunjunginya di sekolahnya ia tampak bangga dan senang sekali. Irvan juga mulai mudah bersosialisasi dengan orang-orang baru.

Sesi terakhir kami diwarnai ketegangan emosi. Ia menyebut saya jahat, tidak sayang kepadanya. Dia bilang benci sama saya. I feel him. I really do. Saya hanya bisa minta maaf dan mengatakan saya tidak berniat meninggalkannya. Tapi ia terlanjur marah.

Setiap kali melihat Irvan saya seakan melihat diri saya belasan tahun sebelumnya. Saat saya masih seumur Irvan. Luka hati yang sama, pola didik keluarga yang sama, orangtua yang berpisah. Hanya saja saya jauh lebih beruntung dari Irvan. Hari ini saya sedang mengingatnya, pertemuan dengan Irvan adalah salah satu hal yang memberi banyak pelajaran bagi saya. Semoga saat ini ia sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

Semua Ada Waktunya

Sudah hampir 2 bulan ini batita saya mulai bisa mau menggunakan kloset untuk buang air kecil. Buat sebagian orang tua mungkin itu hal yang biasa bahkan bisa dibilang terlambat tapi bagi saya merupakan kemajuan yang cukup besar.

Sejak usia 6 bulan, Cinta mulai ditatur alias toilet training tapi sekonsisten apapun saya dan pengasuhnya mengajari dia tetap tidak mau pipis di potty-nya. Menginjak usia 1 tahun, saya bebaskan dari pospak di siang hari kecuali saat pergi dan tidur tapi yang ada malah ngompol kemana-mana. Bahkan suatu ketika ia tidak mau bisa buang air baik kecil maupun besar di siang hari. Ketika tiba waktunya akan tidur dan saya pakaikan pospak langsung BAB dan BAK. Well, ternyata dia menahan keinginan buang airnya selama beberapa jam.

Kejadian itu berlangsung selama beberapa waktu, setelah saya telusuri mungkin karena dia malu atau takut dimarahi atau diejek oleh asisten dan om tantenya karena mengompol. Saking nahannya, kadang dia pipis sambil menangis. Saya pikir karena ISK tapi setelah melakukan tes urin ternyata bukan. Oke, ternyata dia hanya merasa risih buang air tanpa diaper.

Akhirnya saya pakaikan pospak lagi, bagi saya kenyamanan Cinta lebih utama dari latihan penggunaan toilet ketika ia belum siap. Namun, tetap saya ajari cara pipis di toilet, kadang saat mandi bersama saya beri contoh (kebetulan saya termasuk orang tua yang permisif soal mandi bersama) cara pipis di toilet, termasuk saya pasangkan dudukan toiletnya yang ia beri nama skuter dan biasanya dibuat main skuter-skuteran :p

Entah saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba ia meminta saya untuk menaikkannya ke toilet dan berkata ingin pipis. Dan benar ia pun akhirnya buang air dengan sukses. Kesuksesan itu rupanya meningkatkan kepercayaan dirinya dan sejak itu jika sedang tidak memakai pospak Cinta selalu minta untuk pipis di toilet. Belum rutin memang, kadang masih keduluan ngompol karena terlambat bilang. Tapi bagi saya that’s a one big step for us.

Saya kebetulan adalah tipe orang tua yang percaya bahwa perkembangan anak itu berbeda dan tidak mau memaksakan Cinta untuk mengikuti suatu tahapan tertentu ketika ia belum siap. Yang penting adalah tetap mengajari tanpa ada unsur paksaan. Sama seperti sejak sebelum genap 1 tahun Cinta sudah bisa memegang krayon dan pensil warna dengan baik. Saya tidak pernah memaksa, hanya menyediakan aneka alat tulis dan buku gambar atau kertas, mengajarinya cara memegang krayon dengan nyaman lalu mulailah ia mencorat-coret apa saja.

Pun ketika Cinta belum bisa berjalan di usianya yang kesatu dan dokter bilang tidak ada kelainan saya tidak panik dan melakukan hal-hal tradisional seperti memukul kaki dengan belut atau sejenisnya. Tetap saya titah, saya biarkan dia merambat, saya jarangkan menggendong. Dan tepat di usia 15 bulan Cinta bisa berjalan. Saat ini ia belum hafal semua huruf saat anak seusianya sudah banyak yang bisa menulis. Saya juga hanya mengajarinya mengenal huruf, angka sambil membaca buku, mewarna, menggambar, bermain Baby Go di blackberry.

Semua selalu ada waktunya, yang harus dilakukan orang tua hanyalah memberikan stimulus atau rangsangan dan percayalah anak akan belajar dan berkembang dengan sendirinya.