Anak Bungsu Lebih Disayang Oleh Orang Tua, Benarkah?

anak bungsu lebih disayang orang tua

Banyak orang bilang kalau anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, lebih dimanja, lebih diperhatikan, dan akan selalu dianggap sebagai bayinya orang tua. Benar nggak sih?

Kira-kira 7 tahun yang lalu, saat Cinta masih umur 4 tahun dan masih menjadi satu-satunya anak saya (dan suami), budhe saya pernah berkomentar bahwa saya tuh kelihatan menikmati banget saat bersama Cinta. Beliau lantas membandingkan dengan kenalannya yang kelihatan lebih dekat dengan anak keduanya daripada anak pertamanya. Komentar tersebut langsung dijawab oleh mama saya, “Ya jelas, wong anaknya baru satu.”

Meskipun saat itu saya hanya menanggapi obrolan mereka dengan senyuman, dalam hati saya berkata bahwa berapapun anak saya nanti, kedekatan saya dengan Cinta nggak akan berubah. Gitu. Pede banget lah saya waktu itu merasa akan bisa bersikap sama dan membagi kasih sayang secara adil dan merata kepada semua anak saya. Padahal anaknya baru satu, isi galeri foto di hapenya 90% si anak satu-satunya itu, dan sebagian besar waktu dan uangnya dihabiskan untuk si kesayangan nomer satu.

Sampai negara api menyerang si adik hadir dalam perut saya dan si sulung beranjak semakin besar. Dan saya akhir-akhir ini merasa kok komentar budhe saya 7 tahun lalu itu ada benarnya ya. Saya sepertinya lebih dekat dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama si bungsu daripada si kakak. Saya kelihatan lebih sayang kepada si adik daripada si kakak. Tapi apa iya?

anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

Perbedaan Perlakuan Orang Tua Kepada Anak Bungsu.

Sebagai orang tua sih nggak pengen ya punya perasaan lebih sayang kepada salah satu anak. Karena saya tahu nggak enaknya merasa kurang disayang dibandingkan saudara-saudara saya. Bagi saya waktu itu adik saya sebagai anak bungsu lebih disayang oleh orang tua saya.

Sejak dulu saya tahu kalau adik bungsu saya adalah ‘gantilane ati’nya ayah tiri saya. Dan saya bisa memaklumi karena saat mama saya menikah dengan ayah tiri saya, adik bungsu saya ini masih kecil banget. Jadi mungkin bagi ayah tiri saya, si bungsu ini sudah seperti anaknya sendiri karena beliau yang mengurusi kami sejak kecil. Sedangkan si tengah yang satu-satunya lelaki di antara kami bertiga adalah kesayangan mama saya. There. And I’m nobody’s child. *self pukpuk* *ini nulisnya kok pake sedih ya hahaha*

Nah, setelah punya anak, saya berusaha untuk nggak pilih kasih. I do love both of my kids equally. Nggak ada deh ceritanya anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, khususnya saya sebagai ibu. Tapi ternyata kok nggak segampang itu bersikap secara adil kepada lebih dari satu anak.

Coba, kepada darah daging sendiri aja rasanya susah bersikap adil. Gimana dengan para pelaku poligami. Apa iya bisa adil dengan lebih dari satu istri? Apa iya hatinya nggak akan pernah condong ke salah satu istri? Karena itulah poligami yang syarat utamanya harus bisa adil itu sebenarnya berat dijalani. Eh, kok jadi salah fokus?

Oke, kembali ke anak. Setelah punya anak dua, saya memang merasakan beberapa hal yang berbeda dalam perlakuan terhadap si bungsu ke kakaknya saat ini. Dan menurut penelitian yang dirilis oleh Telegraph.co.uk, orang tua memang cenderung memihak kepada si bungsu saat bertengkar dengan saudaranya, memberikan perhatian lebih kepada mereka, lebih santai dan lebih banyak meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama dengan si bungsu. Intinya meskipun berat diakui, memang ada kecenderungan anak bungsu lebih dekat dengan orang tua.

Tapi, tidak otomatis berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua.

Bagi saya pribadi, ada beberapa perbedaan yang saya lakukan kepada kakak dan adik saat ini. Dan mungkin juga hal ini dilakukan oleh orang tua yang lain. Namun alasannya bukan sekadar karena saya lebih sayang pada si bungsu. Ada faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. Seperti:

  1. Lebih royal kepada si bungsu.

    Sebenarnya ini sebagai bentuk kompensasi karena Keenan sejak baru berusia 2 minggu selalu saya bawa kemana-mana. Maklum, saat Keenan lahir kami sudah di rantau dan nggak ada yang membantu menjaga dia di rumah. Sementara sebagian besar aktivitas saya di luar rumah adalah untuk mengantar jemput kakak dengan berbagai kegiatan sekolah dan ekstra kurikuler.

    Semakin banyak aktivitas kakak, semakin sering Keenan harus mengorbankan waktu santainya di rumah untuk mengikuti saya kemana-mana. Setelah dia bisa protes seperti sekarang, nggak jarang dia menangis karena capek sepulang sekolah dan ingin tinggal di rumah untuk bermain, sementara kami harus pergi lagi mengantar kakak Sekolah Ugama atau aktivitas lain. Akhirnya ya untuk menghibur hatinya saya belikan dia es krim lah, kue lah, buku lah atau apa saja. Iya, saya tahu ini nggak baik, but I just can’t help.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Faktor lain adalah karena saya merasa kakak Cinta waktu balitanya lebih beruntung daripada Keenan. Waktu kakak lahir aja yang nungguin di rumah sakit ada 5 orang. Dia juga lahir dan tumbuh di tengah-tengah kehangatan kasih sayang keluarga besar. Kakak dilimpahi banyak sekali kasih sayang dan hadiah dari orang banyak.

    Sedangkan Keenan hanya punya kami bertiga. Itupun dia harus berbagi waktu dan kasih sayang saya dengan kakaknya, papanya dan pekerjaan rumah. So yeah¸I feel like I have to overcompensate. Namun, bukan berarti karena Keenan anak bungsu lebih disayang oleh orang tua sih.

  2. Lebih sering memeluk, mencium dan memangku adik.

    Ya, itu karena Keenan masih dalam masa suka dipeluk dan memeluk. Dia juga masih cukup besar untuk duduk di pangkuan saya. Sementara si kakak sudah jarang mau dipeluk apalagi dicium. Padahal dulu waktu kakak masih seumur Keenan ya sama aja, we hugged and cuddled all the time.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula karena kami nggak berencana untuk punya anak lagi, Keenan akhirnya menjadi bayi terakhir saya. Dan bayi itu paling menyenangkan untuk dipeluk dan dicium kan ya? Sementara kakak sudah nggak terlalu suka dipeluk atau dicium, walau ada saat dia lagi manja, lagi pengen dimanja. Ingin berduaan dengan dirimu, Sayang (yousingyoulose).

    Namun, bukan karena dia anak bungsu lebih disayang oleh orang tua yang membuat saya lebih sering memeluk dan mencium Keenan. Just simply because, mumpung Keenan masih mau digemes-gemesin, dipangku, disayang-sayang dan dipeluk-peluk ya saya nikmati semaksimal mungkin momen ini.

  3. Lebih menikmati waktu berdua si bungsu.

    Saya dan Keenan lumayan sering berduaan aja. Mulai dari nongkrong makan es krim, ke playground, ke supermarket atau sekadar leyeh leyeh ngobrol dan baca buku di rumah. Tapi bukan berarti lantas saya mengucilkan kakak lho.

    Sebagian besar aktivitas berduaan itu kami lakukan saat si kakak beraktivitas di sekolah. Biasanya kalau lagi malas bolak-balik pulang pergi sekolah – rumah atau tempat les – rumah, saya ajak aja Keenan keliling di dekat sekolah kakak.

    Walaupun nggak jarang saya stress saat bawa Keenan keluar rumah karena selalu ada aja yang bikin dia tantrum, saya berusaha menikmatinya. Karena waktu ini akan segera berlalu. Sebentar lagi anak-anak mungkin nggak akan lagi mau nongkrong bareng mamanya sekadar makan froyo atau jajan burger. Mungkin mereka akan lebih memilih tinggal di rumah nonton tv atau bermain dengan temannya (yang sudah mulai terjadi dengan kakak) daripada nemenin mama jalan sore di taman.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Sebelum tidur saya juga selalu membacakan buku untuk Keenan dan meluangkan waktu lebih banyak dengannya. Alasannya ya karena Keenan belum bisa baca, sementara kami sedang berusaha menstimulasinya untuk belajar baca karena tahun depan dia sudah masuk SD.

    Sedangkan kakak sudah tidur di kamarnya sendiri dan bacaannya bukan lagi buku anak dengan dua tiga kalimat sederhana. Agak jontor juga kan bibir mama kalau harus bacain Harry Potter misalnya. Tapi ya saya masih suka kok nemenin kakak baca buku di kamarnya. Kadang juga kalau ada buku yang menarik dibaca berdua ya saya masih membacakannya untuk dia. Kakak juga masih suka ngikut dengerin saya baca cerita untuk Keenan.

    Jadi kalau saya nampak lebih sering berdua dengan Keenan bukan lantas karena anak bungsu lebih disayang oleh orang tua ya. Keadaan aja yang membuatnya begitu.

  4. Lebih santai saat mengasuh si bungsu.

    Saat baru punya anak satu, saya dulu nggak punya ilmu parenting atau kesehatan anak yang cukup. Semua serba cemas. Semua bikin bingung. Cinta kolik saya panik, Cinta nggak mau makan saya kelabakan, Cinta tantrum saya ikut ngamuk. Apalagi dengan baby blues yang berkepanjangan, bagi saya mengasuh si sulung itu penuh dengan tantangan, stres dan cobaan.

    But alhamdulillah, thanks to my first born and my first parenting teacher, ketika punya Keenan saya sudah lebih tenang. Saya tahu bahwa semua fase yang tadinya bikin saya bingung itu pasti akan berlalu dengan penanganan yang tepat.

    Saya juga sudah nggak lagi merasa perlu bersaing dengan ibu-ibu lain dalam ASI, homemade food atau milestone anak. Dengan si bungsu, saya tahu bahwa anak punya pacenya sendiri dalam mencapai keahlian tertentu.

    Jadi, ketika anak tetangga sebelah sudah bisa lari di usia 9 bulan, saya santai aja menikmati langkah pertama si bungsu. Saat sepupunya sudah bisa bernyanyi lagu nasional, saya cukup bahagia mendengar adik bernyanyi lagu anak sederhana. Selama semua perkembangannya masih dinyatakan normal oleh dokter dan bidan yang rutin memeriksanya setiap 6 bulan, I’m good. I’m content. Itulah kenapa saya bisa lebih santai saat membesarkan si bungsu.

    Dengan adik, saya juga nggak lagi terlalu memberikan banyak aturan. Beda dengan si kakak. Karena saya menganggap kakak sudah lebih besar, saya punya target apa-apa saja yang seharusnya sudah bisa dia pahami dan lakukan pada usianya.

    Hal ini membuat saya keliatan lebih tegas dan disiplin kepada kakak daripada adik. Padahal ya karena si adik lebih kecil, masih belum perlu tegas dalam menerapkan peraturan. Dulu waktu kakak masih seumuran adik juga saya melakukan hal yang sama kok.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula, meski saya lebih santai kepada adik, kakak seolah menjadi pengganti saya untuk lebih tegas dan galak kepada adiknya. Mungkin pikirnya, “Eh, gue disuruh begini begitu kok enak banget adik gue dibiarin aja sama nyokap.” Pada gitu juga nggak sih?

  5. Galeri kamera kebanyakan berisi foto si bungsu.

    Well ya, dengan kakak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, tentu cuma si adik yang bisa dijadikan obyek foto kan. Apalagi semakin besar si kakak, semakin malas dia berada di depan kamera. Lagipula, pernah ada masanya juga timeline media sosial saya dipenuhi foto-foto si kakak. Bahkan album foto di akun FB saya 90% adalah foto-foto kakak sementara si adik hanya punya beberapa foto di sana.

  6. Lebih perhatian kepada si bungsu

    Posisi sebagai seorang adik biasanya kurang menguntungkan kalau punya kakak yang lebih segalanya. Biasanya bagi sebagian besar keluarga, kakak adalah kebanggaan. Sehingga adik biasanya terinspirasi untuk bisa seperti kakak dan selalu mengikuti si kakak kemana-mana bahkan mencoba untuk berteman dengan teman-teman kakaknya juga.

     

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

     

    Sayangnya, sekuat apapun dia mencoba, kadang nggak selalu berhasil menyamai keberhasilan kakak. Karena itulah, saya selalu berusaha lebih keras untuk mendukungnya, memberikan semangat dan membantunya meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini kadang disalahartikan sebagai pilih kasihnya orang tua. Padahal, mungkin hanya karena orang tua terlalu fokus pada yang anak yang lebih kecil dan merasa si kakak sudah lebih bisa dan lebih mandiri sehingga nggak terlalu perlu perhatian lebih.

Begitulah. Meski faktanya anak bungsu cenderung lebih dekat dengan orang tua, bukan berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua. Menurut penelitian yang ditulis oleh Telegraph.co.uk, dari 1803 responden, hanya 23% yang mau mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan dalam keluarga, dan 54% dari 23% tersebut mengakui bahwa anak bungsu adalah favorit mereka.

Orang tua justru merasa memiliki lebih dekat dan memiliki banyak kesamaan serta lebih mudah berkomunikasi dengan anak sulung atau anak yang lebih besar. 60% responden juga mengatakan bahwa mereka suka membicarakan tentang anak sulung mereka dan prestasi-prestasi yang diraihnya.

Namun, apapun posisi anak dalam keluarga, yang paling penting adalah mereka dicintai sepenuh hati, diperhatikan, dipenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya serta diperlakukan sebagai individu yang mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dari saudara-saudaranya. Lagipula, sebagian besar responden mengakui bahwa ada kemungkinan mereka menyukai salah satu anak lebih daripada saudaranya, namun itu karena orang tua merasa bahwa they can get along better with them, bukan karena rasa cinta yang berbeda atau lebih besar.

Kalau menurut pendapat dan pengalaman teman-teman gimana? Benar nggak anak bungsu lebih disayang oleh orang tua?

Perhatikan Kebijakan YouTube Sebelum Mengunggah Video Anak

video dihapus youtube

Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang kriteria foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Dan saya pikir selama ini saya sudah cukup berhati-hati dalam mengunggah foto atau video anak-anak saya baik di media sosial maupun di YouTube. Jadi, jujur saja saya kaget dan agak nggak terima saat mendapat email dari YouTube yang menerangkan bahwa mereka menghapus salah satu video saya karena melanggar kebijakan YouTube.

Video saya yang mereka hapus sebenarnya sudah lama sekali saya unggah, tepatnya pada 9 Januari 2011. Video yang direkam oleh adik-adik saya itu mengabadikan momen menit-menit pertama setelah setelah anak sulung saya, Cinta, dilahirkan. Jadi, saat saya masih di ruang bersalin untuk dikeluarkan ari-ari dan proses pemulihan, si bayi nggak langsung dikasih ke saya untuk disusui. Tapi dibawa oleh suster rumah sakit ke ruang periksa untuk dibersihkan, dicek suhu tubuh dan berat badan yang semua dilakukan saat si bayi dalam keadaan telanjang (ya kan baru lahir yak, masa langsung pake baju) baru kemudian dibedong.

Nah, di ruang itulah keluarga besar saya yang menunggui proses kelahiran cucu dan keponakan mereka itu berkumpul. Dan sebagai sejarah keluarga, momen itu divideokan untuk kenang-kenangan. Karena hanya direkam dengan kamera ponsel dan takut rekamannya hilang, akhirnya saya unggah ke YouTube 3,5 tahun setelah kelahirannya. Saya pikir itu hal yang normal. Come on, apa salahnya menyimpan video bayi baru lahir di YouTube untuk kenang-kenangan kita kan. Toh nothing sexual inappropriate about that. It’s a newborn baby video for God’s sake.

Tapi saya salah. Kesalahan yang pertama adalah video itu nggak saya set private. Kedua, saya nggak mikir kalau nggak semua orang yang berselancar di YouTube itu punya pandangan seperti saya. Dan ternyata video bayi telanjang yang tidak berdosa itu bagi beberapa orang dianggap melanggar kebijakan YouTube, so they flagged it.

Video saya dilaporkan oleh salah satu atau lebih orang asing yang kebetulan menontonnya. Dan, sialnya lagi, pihak YouTube menerima laporan tersebut dan memiliki pendapat yang sama dengan pelapor. Akhirnya dihapuslah video saya itu. Ya, saya sih masih bisa menonton video tersebut tapi sudah nggak bisa diapa-apain bahkan mau mengubah settingannya menjadi Private saja sudah nggak bisa. Sebenarnya saya bisa kok mengajukan banding atas kejadian ini. Tapi sampai saat ini masih malas ngarang kata-kata untuk bikin surat bandingnya. Lagian takut sakit hati juga kan kalau ditolak.

Nah, supaya teman-teman pembaca PojokMungil nggak mengalami hal yang sama seperti saya,

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan mengunggah video terutama video anak-anak ke YouTube:

 

  • Pastikan keselamatan fisik anak di bawah umur tetap aman.
    Jangan pernah menempatkan mereka dalam situasi berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, termasuk adegan aksi, tantangan, dan lelucon berbahaya.
  • Jangan menyebabkan gangguan emosional.
    Hindari situasi yang dapat menyebabkan tekanan emosional, seperti memperlihatkan tema dewasa kepada mereka.
  • Hormati privasi anak di bawah umur.
    Dapatkan persetujuan dari orang tua atau wali orang tua sebelum menampilkan mereka di video Anda. Pastikan partisipasi mereka dalam video Anda bersifat sukarela.
  • Atur komentar pengguna pada video Anda.
    Ada fitur yang dapat digunakan untuk memfilter dan meninjau komentar, dan Anda dapat selalu melaporkan komentar kepada kami sebagai spam atau penyalahgunaan.
  • Kelola setelan privasi dan sematan video Anda.
    Anda memiliki beberapa opsi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat video Anda dan bagaimana video dibagikan di situs eksternal.

Kelima hal di atas saya ambil dari laman Kebijakan YouTube yang mengatur tentang Keselamatan Anak. Nggak ada satu kata pun yang saya ubah alias saya cuma copy paste.

Nah, berdasarkan aturan tersebut, harusnya video saya nggak melanggar kebijakan dong ya. Emmm ternyata masih ada lagi kebijakan terkait konten ketelanjangan dan seksual. Aturannya seperti ini ya:

Beberapa pertimbangan YouTube saat menerapkan pembatasan usia pada video:

  • Apakah bagian payudara, bokong, atau alat kelamin (baik ditutupi pakaian maupun tidak) menjadi titik fokus dalam video;
  • Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
  • Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan berahi penonton;
  • Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan /atau cabul;
  • Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, melakukan tarian yang merangsang, mencumbu); dan
  • Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
  • Faktor lainnya mencakup:
    • Lamanya waktu gambar tersebut muncul dalam video
    • Keterpaparan sekilas vs lama terutama sehubungan dengan panjang keseluruhan video.
    • Sudut dan fokus kamera
    • Kejelasan relatif dari gambar dalam video
    • Thumbnail video, lihat kebijakan Thumbnail yang Menyesatkan

Bhaique. Sebenarnya tidak ada satu pun isi video saya yang dihapus oleh YouTube masuk dalam pertimbangan tersebut. Bayi telanjang memang benar menjadi fokus video tersebut. Tapi toh iklan popok serta produk kosmetik bayi juga berisi hal yang sama kan ya?

Namun sekali lagi, aturan ya aturan. Selain yang saya tulis di atas, banyak sekali kebijakan dan keamanan YouTube yang harus kita perhatikan. Ada yang mengatur tentang konten yang mengandung kebencian, konten yang merugikan atau membahayakan, konten kekerasan atau vulgar. Bahkan untuk keamanan anak saja selain faktor ketelanjangan dan seksual, ada yang mengatur tentang cyberbullying dan pelecehan. Banyaklah pokoknya. Silakan langsung baca di laman https://support.google.com/youtube/topic/2803176?hl=id&ref_topic=2676378.

Karena itulah saya yakin YouTube memutuskan untuk menghapus video saya pasti sudah berdasarkan pertimbangan yang baik. Saya juga yakin keamanan anak saya, kenyamanan saya sebagai pemilik channel juga penonton YouTube adalah prioritas utama mereka. Lagipula, setelah saya ingat ke belakang, nggak cuma sekali saya menerima komentar kurang baik atas video itu. Mulai dari, “She’s f*cking annoying,” sampai “That baby is ugly.” Serius. Ada aja kok warganet yang sampai hati komen jahat di video bayi. Jadi, saya bisa menerima keputusan mereka. Kalaupun nanti saya mengajukan banding itu sekadar supaya video saya bisa tetap ada dalam channel saya untuk memori keluarga. Kalaupun nggak bisa ya mungkin saya akan upload ulang tapi dengan kondisi video diunlisted atau diprivate sekalian seperti saran yang diberikan oleh YouTube dalam surelnya untuk saya.

Tapi, orang lain kok bisa mengunggah video anak-anak mereka telanjang atau berpakaian mini dan nggak dihapus oleh YouTube? Ya biarin ajalah, anak orang sih itu, bukan anak saya hahaha. Cuma ya saya suka sedih juga sih kalau liat foto anak-anak kecil telanjang atau keliatan bagian pribadinya. Sekarang sih mereka belum bisa protes ya, tapi kalau nanti sudah besar kan kasian. Kita dulu aja kalau mama kita nunjukkin foto-foto zaman kita kecil yang menurut kita memalukan banget ke teman atau saudara pasti protes kan. Gimana dengan jejak digital anak-anak kita nanti. Sampai mereka besar jangan-jangan foto-foto seperti itu bisa dengan mudah ditemui di internet. Iya kalau cuma untuk becandaan, kalau dijadikan bahan bully sama teman-temannya, bahan meme yang bisa dilihat orang sedunia atau lebih parah lagi jadi bahan yang enggak-enggak untuk para pedofil gimana. Kan kasian anak-anak kita yaaah.

Nah, kalau kita sebagai penonton merasa konten video yang kita lihat ada anak-anak dalam kondisi yang menurut kita kurang pantas, boleh kok kita lapor ke YouTube. Gampang, tinggal klik aja tanda tiga titik () di bawah video tersebut lalu pilih Laporkan dan pilih alasan yang paling sesuai dengan pelanggaran dalam video tersebut. Setidaknya dengan aktivitas tersebut bisa membuat para konten kreator atau para orang tua lebih waspada dalam mengunggah foto atau video anak-anak ke media sosial. Tolong diingat, foto atau video anak yang kita anggap lucu, innocent, menggemaskan itu ternyata bisa membahayakan anak suatu saat nanti. Please be aware.

 

 

 

 

Aturan Bermain di Taman Bermain yang Harus Dipahami Anak

Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

Taman bermain, baik di luar ruangan maupun dalam ruangan adalah tempat favorit anak-anak. Di sana mereka dapat bermain apa saja dengan bebas. Namun, demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna, ada beberapa aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan orang tua.

Kemarin saya nggak sengaja melihat cuplikan video tentang seorang bapak (sebut saja bapak A) yang menendang anak kecil di sebuah taman bermain dalam ruangan. Penasaran dengan kronologi peristiwanya saya pun menelusuri media sosial dan dengan mudah mendapatkan rekaman CCTV dari taman bermain tersebut.

Jadi, ada dua anak laki-laki kira-kira usia SD yang sedang main ayunan. Dari rekaman sih kecepatan ayunan tersebut standar aja ya, nggak terlalu kencang atau tinggi. Tiba-tiba dari belakang kedua anak tersebut, muncul seorang anak perempuan usia batita yang berjalan sangat dekat dengan ayunan. Karena jarak si anak perempuan dengan ayunan sangat dekat, otomatis anak itu terkena ayunan yang sedang berayun ke belakang dan jatuh.

Ayah si anak perempuan kemudian nampak berlari mendekati si anak setelah sempat menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan itu. Ketika dikonfrontasi oleh ibu si anak laki-laki, bapak A merasa tindakannya benar dan justru menyalahkan si anak laki-laki yang tidak berhati-hati saat bermain ayunan.

Tapi warganet rupanya banyak yang nggak sependapat dengan bapak A. Dari ratusan komen dari beberapa post serupa di media sosial, mayoritas nggak terima dengan cara bapak A memperlakukan si anak yang lagi main ayunan.

Ya, saya paham sih, mungkin bapak A panik liat anaknya terjatuh karena kena senggol ayunan. Saya juga kalau bawa anak-anak main di playground indoor suka ngeri kalau banyak anak-anak usia di atas 7 tahun yang badannya besar-besar dan bermain nggak lihat-lihat situasi sekitarnya. Nggak cuma sekali saya melihat anak balita terinjak di arena trampolin oleh anak-anak yang lebih besar. Sedihnya, si anak-anak besar ini nggak ada tuh usaha untuk menghentikan lompatan mereka, padahal anak-anak yang lebih kecil sudah susah payah berusaha untuk bangun.

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Belum lagi kalau pada main kejar-kejaran ya, kadang anak-anak yang besar-besar ini nggak bisa berhati-hati. Mereka seolah nggak peduli kalau ada anak-anak yang lebih kecil di sekitar mereka. Makanya saat anak-anak masih batita saya selalu ngekorin ke manapun mereka berada saat di taman bermain. Bahkan kalau di taman bermain itu ada arena khusus untuk toddler saya lebih memilih mengajak mereka main di sana daripada bercampur dengan anak-anak yang lebih besar.

Yang nggak bisa ditolerir dari kejadian yang saya ceritakan di awal tulisan ini adalah, perilaku bapak A yang menendang anak laki-laki tersebut. Sama sekali nggak dibenarkan tuh.

Saat berada di taman bermain, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, selalu ada resiko kecelakaan besar atau kecil, sengaja atau tidak sengaja. Jadi saat anak mengalami kecelakaan, fokus pertama adalah menolong si korban dan memastikan kondisinya. Sementara si pelaku baik sengaja atau tidak cukup ditegur dengan baik, diminta untuk lebih berhati-hati dan disuruh minta maaf. Kalau anaknya cuek ya laporin ke orang tuanya. Kalau orang tuanya nggak peduli, bicara dengan pengelola taman bermain atau pihak keamanan. Bukan main hukuman fisik.

Ya namanya anak-anak bermain rame-rame pasti ada resikonya. Pengennya sih bisa main sendiri di taman bermain supaya bebas mau ngapain aja. Tapi main sendiri juga nggak seru deh. Keenan itu kalau nggak ada temennya nggak betah berlama-lama di playground. Sebaliknya dia bisa betah berjam-jam di sana kalau banyak anak yang main bareng dia. Nah, supaya anak-anak bisa bermain dengan aman dan nyaman di taman bermain, ada baiknya kita ajak mereka untuk memahami aturan bermain di taman bermain.

Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

Aturan Yang Harus Dipahami Anak Saat Bermain di Taman Bermain

Jangan Naik Tempat Meluncur Dari Sisi yang Licin

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Ih, ini aktivitas favoritnya Keenan banget. Kalau main seluncuran, setelah meluncur dia akan langsung naik lagi dari sisi yang dipakai untuk meluncur. Lebih fun daripada naik dari tangga. Ya kalau playgroundnya lagi sepi sih nggak apa-apa tapi kalau lagi banyak anak tentu berbahaya dan bisa mengganggu anak lain. Jadi sekarang saya selalu bilang sama Keenan, kalau lagi main sama teman-teman setelah meluncur harus naik dari tangga supaya nggak kena tendang temannya yang meluncur setelah dia. Alhamdulillah sih selama ini dia nurut ya, kecuali saat teman mainnya sama-sama iseng. Bisa tuh mereka merangkak naik ke atas perosotan dari sisi yang licin bergantian. Giliran emaknya aja yang dag dig dug sambil berkali-kali meminta mereka berhati-hati.

Berhati-hati Dengan Anak Yang Lebih Kecil

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, nggak jarang liat anak-anak besar yang nggak peduli dengan aturan bermain di taman bermain, sehingga mereka main sesuka hati mereka dan nggak aware bahwa di sekitarnya banyak anak yang lebih kecil. Karena itu, anak-anak harus diajarin untuk berhati-hati dengan sekitarnya. Terutama saat berlari atau main trampolin. Mereka perlu tahu bahwa tenaga mereka jauh lebih besar daripada babies and toddler jadi kalau mereka nggak sengaja nabrak anak yang lebih kecil bisa membuat si adik terluka.

Berhati-hati Saat Menggunakan Ayunan

Minta anak-anak untuk memperhatikan sekitarnya saat akan bermain ayunan. Ajari mereka mengontrol laju ayunannya ketika ada orang yang mendekati arena ayunan. Kalau mama atau papa yang mengayun anak, jangan ditinggal main hape sih. Fokus aja ke ayunan demi keselamatan anak yang diayun atau pengguna playground lain. Anak-anak juga diminta untuk nggak berjalan dekat ayunan yang sedang digunakan. Dan mama papa jangan sekali-kali melepas anak batita berlari ke arah arena ayunan tanpa pengawasan.

Jangan Melempar Apapun Kecuali Bola Plastik

Aturan bermain di taman bermain yang satu ini berlaku di outdoor playground. Kadang ada aja yang suka main lempar pasir, kerikil, atau kayu. Beri tahu anak bahayanya melempar benda-benda tersebut seperti dapat masuk ke mata atau melukai orang lain.

Jangan Bermain Pedang-Pedangan Dengan Kayu atau Ranting Pohon

Dududu, ini Keenan banget. Kalau di playground suka tiba-tiba aja mungut ranting pohon trus diacung-acungkan ke anak lain. Ngajak main pedang-pedangan ceritanya. Tapi setelah beberapa kali dia ditegur sama orang (karena nggak peduli dengan teguran saya) baru deh dia insaf meski sesekali masih suka mungutin ranting pohon. Sebenarnya nggak masalah sih kalau mereka memang benar-benar main pedang-pedangan dari ranting pohon dari jarak yang aman. Yang bahaya itu kalau nggak sengaja batang kayu tersebut kena mukanya orang. Namanya anak-anak kan kalau main suka nggak kekontrol ya saking semangatnya. Jadi mending cari amannya aja deh.

Minta Maaf Atas Perbuatan Yang Kurang Baik Atau Kecelakaan Yang Mereka Akibatkan

Tahun lalu, waktu Cinta masih di Year 4, tiba-tiba saya mendapat telfon dari sekolah. Kepala SDnya bercerita bahwa terjadi kecelakaan saat istirahat antara Cinta dan temannya yang mengakibatkan kepala Cinta benjol sebesar telur. Beliau meyakinkan bahwa Cinta sudah dirawat dengan baik dan nggak ada hal serius yang terjadi. Lalu, ibu kepala meminta temannya Cinta untuk meminta maaf kepada saya melalui telpon. “Saya mau anak-anak belajar bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan, meskipun itu nggak sengaja.” Tentu saja saya memaafkan sambil mewanti-wanti supaya lain kali dia lebih hati-hati.

Sejak itu, saya berusaha menjadikan perilaku ini sebagai aturan bermain di taman bermain bagi anak-anak saya. Yes, accident happens, tapi anak juga harus tahu bahwa kecelakaan terjadi karena salah satu tidak berhati-hati, dan ada konsekuensi yang harus dibayar untuk perbuatan tersebut. Iya, monmaap saya memang #mamagalak.

Awasi Anak Anda

Ini memang tugas yang sangat berat. Kalau anak-anak bermain di outdoor playground biasanya saya lebih ketat ngawasinnya. Sedangkan di taman bermain dalam ruangan, jujur saja saya suka lengah. Apalagi sekarang anak sudah besar-besar ya, saya anggap mereka sudah tahu aturan bermain di taman bermain. Sehingga seringkali saya lepas aja main sendiri sementara saya duduk di bangku atau di lantai tak jauh dari arena bermain. Saya beri mereka kesempatan untuk mengeksplorasi tempat bermain dan berteman dengan anak lain, sementara saya memanfaatkan waktu itu untuk main hape atau baca buku. Paling saya titip ke Cinta untuk mengawasi adiknya. Atau sesekali meninggalkan tempat duduk saya untuk mengecek keberadaan mereka.

Ternyata nggak cuma saya sih yang seperti itu, waktu saya bawa anak-anak main di Kidzoona TP 6, kebanyakan orang tua cukup duduk manis sementara anak-anaknya yang sudah cukup besar asik bermain sendiri. Padahal sudah ada aturan tertulisnya tuh kalau anak harus selalu dalam pengawasan orang tua karena nggak ada staf Kidzoona yang mengawasi masing-masing arena bermain.

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Menurut saya sih, boleh kok membiarkan anak-anak besar bermain sendiri tapi jangan sampai kita benar-benar lepas pengawasan. Namanya di tempat umum ya, banyak kejadian tak terduga. Mungkin nggak sengaja jatuh dari perosotan, ada anak yang kasar atau tiba-tiba anak keluar dari tempat bermain seperti yang pernah saya alami. Kalau anak di bawah 3 tahun ya harus benar-benar diikutin ya, apalagi kalau tempatnya besar dan sedang ramai. No excuse.

Be Nice To Other Kids

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Ini berlaku untuk anak dan penjaganya. Ajak anak untuk bermain dengan baik saat di taman bermain, jangan kasar; mukul; nendang atau berteriak-teriak kepada anak lain. Minta mereka untuk sabar menunggu giliran bermain kalau alat tersebut sedang dipakai anak lain. Jangan menguasai satu permainan terlalu lama. Di lain sisi kita juga boleh menegur anak lain yang misalnya menguasai ayunan selama belasan menit tanpa mau gantian atau menutup akses ke perosotan just because. Kita juga bisa mengingatkan anak kita dan anak lain untuk berhati-hati. Tentu dengan cara yang baik ya, bukan pakai hukuman fisik. Bayangkan kalau anak kita yang nakal misalnya trus diperlakukan kasar oleh orang tua lain, pasti nggak terima kan yaaa.

Jangan Memaksa Anak Untuk Berbagi

Nggak jarang sih saya lihat anak-anak yang mau menguasai permainan sendirian tapi nggak perlulah sampai memaksa mereka untuk berbagi. Kalau saya lihat yang seperti itu, biasanya saya bilang ke si anak, “5 menit lagi gantian ya mainnya.” Lalu mengajak anak saya bermain di arena yang lain. Kalau anak saya ngotot nggak mau pergi baru saya minta baik-baik, “Mainnya sama-sama ya, kan seneng kalau ada temannya.” Kadang cara ini berhasil, kadang enggak. Kalau nggak berhasil ya sudah, yang waras ngalah ajalah. Mungkin si anak sedang perlu me time, dan kita ajak anak lain untuk mengeksplorasi mainan lainnya di tempat tersebut.

Sebenarnya mungkin masih banyak lagi aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan kita. Namun intinya adalah peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, secara mereka kan nggak main sendirian ya, jadi penting sekali untuk bijaksana dalam berinteraksi dan berperilaku saat bermain di tempat umum. Awalnya mungkin susah, tapi kalau satu persatu aturan bermain di taman bermain ini diterapkan ke anak, insyaAllah mereka akan paham dan terbiasa.

Dan tulisan ini nggak bermaksud untuk menggurui orang tua kok. Namanya taman bermain pasti maunya kita anak-anak bisa bebas beraktivitas. But better save than sorry, right. Nggak ada salahnya menerapkan aturan bermain di tempat bermain ini pada kita dan anak-anak demi keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna taman bermain. Sekaligus menghindari kejadian si bapak A yang saya ceritakan di awal tulisan ini terulang lagi.

 

 

Manfaat Membacakan Buku Untuk Anak

manfaat-membaca-buku-untuk-anak, manfaat-read-aloud-bersama-anak

Kemarin waktu jemput Keenan pulang dari sekolah, salah seorang temannya ngambek setelah memeriksa jurnal sekolahnya. Rupanya dia sedih karena bu guru belum mengganti buku cerita yang sudah selesai dia baca dengan buku yang baru. Memang, sejak tahun lalu, sekolah Keenan punya program ‘read aloud with your child‘ di mana setiap hari anak-anak dipinjamkan satu buku milik perpustakaan sekolah yang sudah disediakan di kelas. Bukunya sih bukan buku-buku pop up atau ensiklopedia canggih yang lagi banyak diburu mamah muda millenial. Buku cerita sederhana aja yang kebanyakan bertema perkembangan moral dan bertujuan mengembangkan kosakata terbitan Scholastic, Usborne atau terbitan lokal yang disesuaikan dengan usia anak TK. Tapi, program ini rupanya disukai oleh anak-anak yang selalu menanti adanya buku baru di dalam jurnal sekolah mereka setiap pulang sekolah.

Sebelum ada program ini, saya sendiri sudah terbiasa membacakan buku untuk Keenan (dan Cinta sebelum dia lancar membaca) hampir setiap malam. Tapi, karena koleksi buku kami nggak terlalu banyak, akhirnya ya yang dibaca itu-itu aja.

Dengan adanya program read aloud with your child ini, hampir setiap hari Keenan membawa pulang buku dengan judul yang berbeda-beda untuk dibaca setiap malam. Sampai-sampai guru kelasnya tahun lalu bilang, “There’s no more new book for Keenan. He had read all the books we have.” Beliau lalu bertanya apakah Keenan mau membaca ulang buku-buku yang ada. Yang tentunya diiyakan dengan antusias oleh Keenan.

Bagi saya, buku-buku dari sekolah lebih ringan dibaca karena hanya berisi 10-20 halaman yang berisi 2-3 kalimat per halaman. Nggak seperti buku koleksinya di rumah yang bisa di atas 30 halaman dengan huruf yang kecil-kecil. Jadi dia minta baca 2-3 kali dalam semalam pun saya masih oke. Walaupun kalau sudah ngantuk banget saya biasanya cuma membacakan 1 kali, itupun kadang juga cuma 2-3 lembar.

Selain itu, karena temanya tentang kehidupan sehari-hari, saya jadi bisa memasukkan satu dua pesan tentang kebiasaan baik seperti misalnya kalau bermain itu harus sharing dan gantian, kalau sukanya ngerebut mainan teman bisa-bisa nanti nggak ada yang mau main bareng lagi. Atau ke dokter itu sepertinya menakutkan, tapi sebenarnya enggak, seperti yang dialami tokoh di dalam buku.

Nggak mau kalah dengan divisi Kindergartennya, sekolah Cinta juga ikut semangat membuat program meningkatkan minat baca anak-anak. Sejak tahun kemarin saya mendapat surat edaran dari sekolah mereka untuk membawa beberapa buku bacaannya untuk ditinggal di sekolah. Rupanya mereka membuat book corner di kelas, sehingga di waktu istirahat atau jam pelajaran kosong, anak-anak punya pilihan untuk membaca selain bermain di luar kelas.

Ketika saya tanya ke kakak mengenai buku apa yang akan dia bawa, dia menjawab, “Thea Stilton. Because I don’t read it anymore.” Cinta memang pernah punya banyak sekali koleksi buku Thea Stilton, hampir setiap kali ke toko buku atau supermarket yang jual buku selalu seri itu yang dia beli dan tentu mama yang harus bacakan meski waktu itu umurnya sudah 8 tahun dan sudah bisa baca sendiri. Sampai suatu saat nggak mau baca buku itu lagi dan beralih ke buku-buku ensiklopedia untuk anak yang penuh gambar. Saya pikir karena dia bosan dan lebih memilih untuk membaca buku yang lain. Tapi setelah ditanya bukan itu alasannya lo, ternyata bagi dia nggak seru lagi baca Thea Stilton ketika mama sudah nggak punya waktu untuk membacakan buku itu untuk dia.

I like when you read Thea Stilton to me. I like the way you tell the stories. When I read it by myself, I try to read it like you. But I can’t. So, I don’t like it anymore.”

Beneran saya nggak nyangka. Kegiatan sederhana seperti membacakan buku favoritnya sebelum tidur ternyata jadi kenangan manis buat kakak. Waktu dia ngomong gitu, hati saya jadi hangat 🙂

Saya bukan ibu yang sempurna yang selalu tersenyum, sabar dan penuh kasih sayang. Ada masa-masa saya merasa sebagai ibu paling buruk sedunia. Namun mengetahui bahwa setidaknya anak-anak punya satu memori indah akan kebersamaannya dengan saya itu bikin saya bahagia.

“It’s so important to start reading from Day One,” she says. “The sound of your voice, the lyrical quality of the younger [books] are poetic … It’s magical, even at 8 weeks old they focus momentarily, they’re closer to your heart.” – Liza Baker, the executive editorial director at Scholastic,

Dan selain memberikan kenangan indah bagi anak, membaca buku setiap malam untuk mereka itu punya banyak manfaat lain, seperti ini:

1. Meningkatkan Minat Baca Pada Anak.

Membacakan untuk anak dapat membuat anak tertarik dengan buku, apalagi kalau kita membaca dengan cara yang menarik, misalnya dengan mengeluarkan suara yang berbeda untuk setiap karakter. Di sekolah Keenan ada sesi storytelling oleh guru dan orang tua. Kadang mereka menggunakan alat bantu berupa boneka atau wayang kertas tapi lebih sering ya baca buku aja. Namun, anak-anak usia 4-6 tahun itu bisa betah lho mendengarkan orang dewasa itu bercerita, bahkan ikut semangat berinteraksi dengan penceritanya.

Manfaat Membacakan Buku Untuk Anak

Nah, kalau anak sudah tahu serunya membaca buku bersama orang tua, lama-lama dia akan merasa bahwa buku itu menarik sehingga mau membaca sendiri sampai akhirnya membaca menjadi kebiasaan baik seumur hidupnya.

2. Mengembangkan Kemampuan Bahasanya

Psikolog Jessica Montag, seperti yang ditulis di melbournechildpsychology.com.au, mengatakan bahwa anak yang terbiasa dibacakan buku cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik, karena bahasa yang ada di dalam buku lebih terstruktur dan memiliki kosakata lebih banyak daripada bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Beberapa hasil penelitian juga sepakat bahwa membacakan buku untuk anak bermanfaat membentuk kemampuan literasi dasar pada anak seperti memahami jalannya suatu cerita, mengenal suara dan huruf, mengenal lebih banyak variasi kosakata, dan meningkatkan kemampuan mendengarkan. Di mana semua keahlian ini akan sangat dibutuhkan saat anak mulai sekolah dan belajar membaca nanti. Dan kemampuan literasi yang baik sangat mendukung kesuksesan seseorang di semua bidang pekerjaan yang digelutinya.

Sahabat PojokMungil tentu sering membaca atau mendengar keluhan orang tua tentang anak-anaknya yang lebih suka main gadget daripada baca buku, atau para dosen yang kesal karena menerima pesan singkat atau email yang kurang beretika dari mahasiswanya. Nah, harapan saya sih supaya anak-anak nggak kaya gitu, karena meski teknologi sudah canggih, tetap kemampuan literasi ini penting. Sayang kan kalau sampai gara-gara nggak bisa nulis laporan yang baik kesempatan promosi jabatan jadi melayang atau nggak diterima saat melamar pekerjaan hanya karena nggak tahu cara menulis surat lamaran di badan email yang bagus.

Kemarin pas suami buka lowongan arsitek, gampang aja dia nyeleksinya. Pokoknya yang di badan email nggak ada basa-basi atau kalimat sapaan dan hanya kirim lampiran portofolio aja, otomatis udah didiskualifikasi. – Arinta, blogger di kayusirih.com…  Pssst, tulisannya tentang Reward & Punishment untuk anak di blog kayusirih menarik lo untuk disimak.

 

Lamaran kerja ditolak karena nggak ada surat pengantarnya itu berat. Kamu nggak akan kuat. Makanya belajar menulis yang baik.

 

3. Sarana Bonding Dengan Anak

Membacakan buku adalah salah satu sarana untuk mengeratkan ikatan kita dengan anak-anak. Seperti kutipan dari Liza Baker di atas, pelukan hangat kita, suara kita dan kalimat dalam buku cerita yang puitis dan berima itu istimewa sekali bagi anak, sehingga kalau dilakukan secara rutin dengan sepenuh hati dapat membuat anak menjadi lebih dekat secara emosional dengan orang tuanya.

Jadi buat para orang tua yang merasa kurang meluangkan waktu untuk anaknya, manfaatkan momen membacakan buku untuk anak ini sebagai quality time. Misalnya ayah membacakan koran sambil memangku si kecil di pagi hari sebelum berangkat bekerja atau mama membacakan buku cerita atau majalah anak sebelum mereka tidur akan jadi kenangan manis bagi anak-anak lo.

4. Buku Adalah Jendela Dunia

Pepatah yang mungkin sudah kita hafal di luar kepala itu juga berlaku bagi anak-anak. Nggak semua anak beruntung memiliki kesempatan untuk pergi ke berbagai tempat di seluruh dunia. Jangankan merasakan naik Shinkasen di Jepang, jalan-jalan naik bis kota di daerah tempat tinggal mereka saja mungkin belum pernah, apalagi untuk anak-anak balita yang memang lingkup jalan-jalannya masih terbatas. Nah, di sinilah kita bisa menggunakan buku untuk memperluas wawasan mereka tentang tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi, benda-benda yang belum pernah mereka lihat, sampai mungkin masa yang sudah lalu dalam buku cerita dengan latar belakang sejarah.

Lalu gimana caranya supaya anak tertarik saat kita membacakan buku untuk mereka?

Ini adalah beberapa langkah read aloud yang pernah diajarkan oleh seorang storyteller saat parents teacher meeting di sekolah Cinta beberapa tahun yang lalu:

  1. Sisihkan waktu yang cukup untuk membaca, bisa 15-20 menit sebelum tidur atau saat santai sore. Selain untuk membaca, gunakan waktu ini untuk menikmati gambar dalam buku dan berdiskusi dengan anak tentang isi bukunya.
  2. Pilih buku yang menarik minat anak. Untuk batita, buku-buku dengan gambar yang bagus mungkin lebih menyenangkan bagi mereka. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, jalan cerita yang menarik, karakter yang kuat dan bahasa yang mengugah bisa mengikat perhatian anak.
  3. Buka buku bersama-sama dengan anak dari halaman depan sampai belakang, sambil berkata, “Yuk sini, kita lihat di buku ini ada apa saja ya?”
  4. Tunjukkan bagian-bagian yang menarik tanpa membaca satu tulisan pun di dalam buku tersebut, Tarik perhatian anak dengan interaksi yang menarik, seperti, “Eh, ada harimau, Dek. Harimau tuh suaranya gimana ya? Auuuumm. Wah, di sini ada tikus warnanya abu-abu. Hmmm, kenapa ya harimau dan tikusnya ini?”
  5. Setelah anak mulai tertarik, kembali ke awal buku dan mulai membaca. Supaya anak nggak bosan, gunakan ekspresi. Nggak usah terlalu drastis atau ngoyo, nanti kita capek sendiri trus malas ngelanjutinnya. Cukup dengan membedakan intonasi atau menaikturunkan volume suara saat membacakan buku biasanya sudah dapat membuat anak tertarik untuk mendengarkan.
  6. Jangan membaca terlalu cepat. Beri anak waktu untuk mencerna setiap kalimat yang kita ucapkan, mengamati gambar dalam buku dan berkomentar.
  7. Anak yang sudah besar bisa diajak untuk menebak jalannya cerita. “Wah, harimaunya marah karena tikus mengganggu tidurnya. Aduh, abis ini tikusnya diapain ya sama harimau?” Beri pujian pada setiap jawaban anak baik yang sesuai dengan jalan cerita maupun yang tidak sesuai dengan mengatakan, “Hmmm, bisa jadi ya begitu. Yuk kita baca sama-sama, kalau menurut penulisnya apa yang dilakukan oleh harimau,” atau “Itu ide yang menarik lo, apa yang bikin kamu berpikir seperti itu?”
  8. Saat cerita selesai, diskusikan bagian mana yang paling menarik bagi kita dan bagi anak dalam buku tersebut. Jawaban nggak harus sama lo, makin seru kalau berbeda. Apresiasi semua pandangan anak.
  9. Dan yang paling penting adalah menikmati momen tersebut. Nggak perlu melakukan semua langkah yang sudah saya tulis di atas kalau yang dibutuhkan oleh anak adalah suara hangat mama bercerita sederhana sebagai pengantar tidurnya, apalagi ketika anak sudah ngantuk banget. Bisa-bisa dia cuma bakal jawab, “Aku nggak tahu,” trus kita kesel akhirnya marah-marah. Gagal deh hepi momennya :))

Nah, selamat membaca buku untuk anak, Sahabat PojokMungil. Yuk share, buku cerita apa sih yang paling sering dibacakan untuk anak?

Mudik Selamat, Aman dan Nyaman Menggunakan Transportasi Udara Bersama Anak

sobat aviasi, djpu, tips selamat aman dan nyaman naik pesawat bersama anak, traveling with kids,

Nggak terasa kita sudah melalui setengah bulan Ramadan ya. Kurang dari 2 minggu lagi, umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri nih. Udah ada yang siap-siap mudik?

Saya dong sudah di kampung halaman hahaha *sombong*

Kebetulan tahun ini sekolah anak-anak selesai Mid Year Exam lebih awal dari sekolah-sekolah lain di Belait District sehingga saat jadwal ujian dan liburan dibagikan pada bulan April yang lalu, saya bisa langsung beli tiket pesawat untuk mudik lebaran. Memang sengaja sih booking tiket jauh-jauh hari dan memilih tanggal yang tidak terlalu dekat dengan hari Raya supaya dapat harga tiket yang lebih murah, meski itu berarti anak-anak harus bolos sekolah beberapa hari hehehe.

Tahun ini adalah tahun ke-5 kami sekeluarga mudik Lebaran ke Surabaya dengan menggunakan moda transportasi udara. Sebelumnya, waktu kami masih tinggal di Jakarta, lebih suka lewat jalur darat dengan menggunakan mobil pribadi. Ada kesenangan tersendiri menyusuri jalur Pantura dengan mobil meski seringkali terjebak macet panjang di titik-titik tertentu dan memakan waktu yang cukup panjang.

Namun, sejak pindah ke Brunei pilihan satu-satunya untuk pergi ke Surabaya adalah dengan naik pesawat. Nggak mungkin kan naik mobil, bisa-bisa jatah liburan dan cuti habis di jalan. Lagipula kalau membawa anak kecil (dan orang lanjut usia) naik pesawat tentu lebih cepat dan praktis ya, terutama untuk jarak bepergian yang jauh.

Tapi bepergian dengan anak-anak naik pesawat itu gampang-gampang susah, apalagi kalau si anak masih balita. Nggak jarang terasa ribet. Untungnya baru-baru ini saya mengikuti akun media sosial Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan dan bergabung dengan #SobatAviasi, komunitas yang dibentuk oleh DJPU. Banyak sekali informasi yang sangat berguna bagi saya dalam mempersiapkan diri bepergian dengan pesawat supaya selamat, aman dan nyaman. Apa saja? Ini adalah beberapa di antaranya:

sobat aviasi, djpu, tips selamat aman dan nyaman naik pesawat bersama anak, traveling with kids,

Tips Mudik Selamat, Aman dan Nyaman Menggunakan Transportasi Udara Bersama Anak-anak

1. Beli Tiket Jauh-Jauh Hari 

Ini sebenarnya untuk mengantisipasi supaya kita masih kebagian seat karena penerbangan kan terbatas ya. Nggak seperti kereta api yang punya banyak gerbong atau bis yang armadanya banyak. Hanya saja kadang budget untuk beli tiket baru ada setelah kita menerima THR jadi mau nggak mau ya beli tiketnya mepet mau lebaran deh.

 

Tapi tahun ini untuk arus mudik dengan transportasi udara kita nggak perlu lagi takut kehabisan tiket sebab Direktorat Jendral Perhubungan Udara sudah menyiapkan 532 maskapai penerbangan dengan kapasitas kursi untuk penumpang dalam negeri sebanyak 5.780.374 dan penumpang luar negeri sebanyak 930.379.

2. Pilih Penerbangan di Pagi Hari

Sejujurnya saya kurang suka menggunakan penerbangan pertama. Bayangkan ya kalau pesawat berangkat jam 6.00 berarti pukul 4 pagi kita sudah harus sampai di Bandara. Sebelum adzan Subuh berkumandang kita sudah harus mandi, memandikan anak-anak dan memastikan koper-koper siap untuk dibawa. Harus bangun jam berapa coba?

Tapi sejak pindah ke Brunei, saya terbiasa dengan penerbangan di pagi hari ini karena satu-satunya jadwal dari Surabaya ke Brunei dengan Garuda (co-op with Royal Brunei Airlines) adalah pukul 6.30 pagi. Dengan memilih penerbangan pagi, kecil sekali kemungkinan pesawat terlambat berangkat dan biasanya karena penumpang nggak terlalu banyak, antrian check in dan pemeriksaan imigrasi (untuk penerbangan internasional) lebih bersahabat. Anak-anak pun di pesawat juga cenderung untuk melanjutkan tidur yang terputus sehingga saya nggak repot menyiapkan aneka permainan untuk menghibur mereka selama perjalanan.

Untuk mengurangi kehebohan di pagi hari, pastikan koper sudah siap diangkut pada malam harinya. Letakkan di dekat pintu keluar rumah. Sisakan satu koper yang terbuka untuk menyimpan barang-barang yang baru bisa kita simpan saat mau berangkat seperti kosmetik dan charger perlengkapan elektronik. Seorang teman juga menyarankan saya untuk menyiapkan anak-anak di malam hari. Jadi sebelum mereka tidur sudah dimandikan lalu dipakaikan baju yang nyaman untuk bepergian. Sehingga di pagi hari nggak perlu lagi membangunkan dan memandikan mereka. Kecuali bagi bayi dan batita yang masih pakai popok ya. Tentu harus diganti lagi popoknya sebelum berangkat. Lalu tinggal angkut untuk berangkat ke bandara.

3. Gunakan Pakaian Yang Nyaman 

Untuk anak, lebih baik memakai pakaian dari bahan kaos. Baik itu t-shirt dan celana maupun shirtdress dan legging dengan tambahan sweater. Hindari baju dan kaos kaki yang berenda dan dapat membuat anak gerah atau gatal. Hal ini berlaku juga untuk kita. Terutama para busui. Pilih baju menyusui yang nyaman dan tertutup sehingga memudahkan kita untuk menyusui di bandara dan di dalam pesawat.

4. Pack Wisely

Iya, saya tahu kok kalau bawa anak itu nggak bisa cuma bawa sedikit barang. Kalau bisa sih 1 lemari dibawa semua ya. Ya nggak apa-apa, asal masih sesuai dengan jatah bagasi. Barang-barang seperti sabun mandi bayi, popok sekali pakai nggak perlu bawa terlalu banyak. Popok kita bisa beli aja di tempat tujuan, sementara toiletries bayi cukup bawa botol-botol kecil.

View this post on Instagram

– #SobatAviasi merasa ribet saat berkemas? Jangan mengeluh, sebab hal itu kerap terjadi pada banyak orang. Meski tampak remeh, packing membutuhkan siasat. Perlu cara-cara jitu agar barang-barang yang akan kita bawa bepergian bisa termuat rapi ke dalam tas atau koper. Tak ada salahnya jika kamu menyimak kiat-kiat packing berikut ini: . 1. Pilih pakaian yang multifungsi untuk meringankan bawaanmu. Contohnya celana olahraga yang bisa juga dipakai tidur atau scarf yang bisa dipakai sebagai aksesori maupun penghangat. 2. Gulung lebih dulu pakaian tahan kusut, seperti kaos, jeans dan celana kain. 3. Selipkan barang berukuran kecil seperti kaus kaki atau pakaian dalam di bagian kosong koper. 4. Setelah semua tersusun, tutup tumpukan baju dengan plastik untuk mencegah pakaian terkena noda atau basah. 5. Ikat pakaian yang sudah diletakkan di dalam koper 6. Hindari menyimpan perhiasan dan barang berharga di dalam koper. . Tetap budayakan penerbangan yang #SelamatAmanNyaman #Selamanya. #SiapUntukMudik

A post shared by Perhubungan Udara (@djpu151) on

Pastikan juga berat bawaan kita sesuai dengan ketentuan bagasi karena tiap airlines memiliki kebijakan yang berbeda. Jika kita pergi dengan keluarga, ada maskapai yang memperbolehkan batas maksimal bagasi sejumlah total jatah bagasi sekeluarga dan ada pula yang hanya mengijinkan jatah bagasi sesuai dengan tiket. Jadi misalnya kita pergi berempat dengan masing-masing jatah bagasi 20kg, untuk Royal Brunei Airlines boleh tuh saya bawa 4 koper dengan berat 30kg, 25kg, 15kg dan 10kg selama tidak melebihi total 80kg jatah bagasi kami berempat. Namun, ada maskapai lain yang hanya mengizinkan masing-masing koper sesuai dengan jatah bagasi yang tertera di tiket. Jadi sebaiknya cari tahu dulu ya sebelum packing daripada nanti disuruh bongkar koper di counter check in.

Oya, jangan lupa intip akun media social DJPU untuk melihat benda-benda apa saja yang boleh dibawa ke kabin pesawat dan mana saja yang harus diletakkan dalam bagasi. Terakhir saya berangkat mudik kemarin, powerbank dan baterai alat elektronik nggak boleh diletakkan dalam koper bagasi. Sedangkan cairan lebih dari 100ml seperti biasa nggak boleh dibawa ke kabin pesawat (kecuali kalau kita beli di dalam ruang tunggu pesawat). Bahkan jenis smartphone tertentu tidak diperkenankan dibawa baik diletakkan dalam carry-on luggage atau bagasi tercatat.

5. Manfaatkan Layanan Check In Online 

Dengan check in online, waktu yang diperlukan oleh ground crew untuk memproses boarding pass akan lebih singkat sehingga nggak perlu lama-lama antri. Secara kalau bawa anak-anak pasti agak stres jika mereka rewel karena bosan antri, apalagi yang anaknya aktif seperti anak saya. Akan lebih menyenangkan lagi bila disediakan antrian khusus untuk penumpang yang sudah check in online seperti yang sudah diberlakukan di Bandara Internasional Brunei Darussalam. Wah, layanan check in online jadi sangat bermanfaat. Sementara setahu saya di Bandara Juanda dan Soekarno Hatta antrian khusus ini belum ada. Semoga menjadi pertimbangan bagi Direktorat Perhubungan Udara ya.

6. Makan Secukupnya 

royal brunei, traveling with kids, mudik selamat aman dan nyaman bersama anak,mudik dengan transportasi udara
Menu Child Meal di Pesawat Royal Brunei Airlines

Nggak semua maskapai menyediakan makanan dalam penerbangannya sehingga sebaiknya kita dan anak-anak makan secukupnya sebelum berangkat agar nyaman selama di perjalanan dan terhindar dari mabuk udara. Anak-anak yang perutnya cukup terisi juga cenderung lebih tenang dan bahagia sehingga nggak rewel serta mengganggu kenyamanan penumpang lain.

7. Siapkan Permen atau Penutup Telinga dan Susui Bayi Saat Pesawat Lepas Landas dan Mendarat.
 
Tekanan dalam pesawat saat lepas landas dan mendarat dapat membuat telinga kita nggak nyaman sehingga anak-anak cenderung rewel. Jadi lebih baik kita ijinkan anak-anak makan permen yang dapat membantu mengurangi tekanan dalam telinganya. Kalau si batita belum boleh makan permen berikan mereka penutup telinga yang memiliki fungsi sama.Bagi ibu yang membawa bayi disarankan untuk menyusui bayi saat lepas landas dan mendarat dengan alasan yang sama. Namun, kalau bayi tidur nyenyak nggak perlu dibangunkan ya, Ma. Cukup pasang penutup telinga.

8. Bawa Permainan Favorit Mereka atau Kantong Kejutan

mudik dengan transportasi udara, traveling with kids, djpu, sobat aviasi, mudik selamat, aman dan nyaman menggunakan pesawat bersama anak
Cinta dan Keenan asyik dengan buku bacaan dan activity pages dari kantong kejutannya

Kantong Kejutan ini dapat berisi mainan baru (tidak harus mahal asal belum pernah mereka mainkan), buku cerita baru, coloring pages dan crayon serta camilan kesukaan mereka. Kantong kejutan ini dapat membuat anak sibuk dengan permainan dan aktivitas baru mereka selama beberapa waktu, sementara kita beristirahat sejenak. Bawa juga boneka kesayangan mereka yang bisa membantu mereka merasa nyaman saat mengantuk.

Kalau kita punya gadget policy yang cukup ringan, mengijinkan anak-anak untuk menggunakan gadget mereka selama penerbangan dengan moda penerbangan diaktifkan dan dinonaktifkan selama lepas landas dan mendarat adalah ide yang baik. Isi gadget dengan games dan film yang belum mereka tonton untuk menghibur mereka selama penerbangan.

Supaya bawaan kita nggak terlalu berat, minta anak-anak untuk membawa ransel mereka sendiri untuk menyimpan benda-benda tersebut. Pastikan tas mereka tidak terlalu penuh agar anak-anak nggak keberatan membawanya.

9. Minta Awak Pesawat Untuk Menyiapkan Stroller Di Depan Pintu Pesawat Setelah Pesawat Mendarat
 
Jangan masukkan stroller ke dalam bagasi tercatat. Bawa stroller sampai ke depan pintu pesawat atau ruang tunggu supaya ketika pesawat mendarat kita dapat langsung mengambilnya di depan pintu saat keluar dari pesawat. Stroller atau gendongan sangat bermanfaat jika kita membawa batita. Perjalanan yang cukup jauh dari pesawat ke tempat pengambilan bagasi seringkali melelahkan bagi kaki kecil mereka. Dengan stroller atau gendongan kita juga dapat memastikan anak-anak selalu ada di dekat kita, terutama ketika kita mengambil bagasi.

Nah, itu dia 9 tips mudik aman, selamat dan nyaman menggunakan transportasi udara dengan anak-anak versi mamanya Cinta dan Keenan. Untuk tips yang lebih lengkap dan umum, bisa langsung baca-baca di akun media sosial Direktorat Jendral Perhubungan Udara yaitu Facebook Page dan Instagram atau ke situs http://selamanya.id/ dan jadilah bagian dari #SobatAviasi.

Selamat mudik. Semoga selamat sampai tempat tujuan dan berkumpul dengan orang-orang tersayang. Mohon maaf lahir dan batin yaa.

 

5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

Sekarang sudah bulan Oktober dan karena tahun ajaran baru di Brunei akan dimulai bulan Januari, akhir bulan ini kakak Cinta dan Keenan akan menjalani end year examination. Untuk kakak Cinta hal ini berarti mamanya harus sudah siap-siap bikin latihan soal-soal dari materi pelajaran sejak awal tahun sampai sekarang. Sedangkan untuk Keenan agak santai karena sekolahnya yang sekarang nggak ngasih ujian untuk anak KG 1, cuma ada evaluasi harian dari aktivitas dan perilaku sehari-hari aja. Setelah ujian selesai di minggu pertama bulan November nanti, siap-siap terima rapor dan kenaikan kelas deh. Dan karena berencana memindahkan Keenan ke sekolah baru, berarti harus mulai hunting sekolah dari sekarang.

Beruntungnya tingal di Seria, meskipun nggak terlalu banyak pilihan sekolah tapi kita bisa daftar sekolah 1-2 bulan sebelum tahun ajaran dimulai, walaupun biasanya pendaftaran sudah mulai dibuka pada bulan Agustus. Berbeda dengan pengalaman saya dulu menyekolahkan kakak Cinta di sebuah kelompok bermain di dekat rumah kami di Gunung Sindur, Bogor sana. Saya harus mulai cari sekolah jauh-jauh hari bahkan pembayaran uang gedung dan lain-lain harus sudah diterima oleh sekolah beberapa bulan sebelum tahun ajaran berlangsung untuk memastikan Cinta mendapatkan tempat di sekolah tersebut. Di beberapa sekolah yang lebih ngetop di Jakarta, menurut pengalaman teman-teman saya, pendaftarannya malah bisa lebih awal lagi, ada yang harus indent 1-2 tahun sebelumnya. Jadi kalau mau masuk TK umur 4 tahun ya harus daftar mulai umur 2 tahun. 

Soal memasukkan anak sekolah ini memang sering jadi dilema untuk orangtua ya, nggak cuma soal mencari sekolah yang seusai untuk anak dan kantong serta dekat dengan rumah, tapi juga soal kapan tepatnya anak mulai bersekolah. Bahkan hal ini merupakan salah satu keputusan penting yang kita buat dalam 5 tahun kehidupan anak. Untuk ini saya coba mencari pendapat dari seorang sahabat blogger yang pernah menjadi guru di kelompok bermain selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi guru bagi putranya di rumah, Anis Khoir.

anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

Menurut Anis dan beberapa ahli kesehatan anak serta parenting, ada beberapa faktor yang harus kita perhatikan sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak yaitu:

1. Kesiapan Anak Untuk Bersekolah

Kesiapan anak untuk bersekolah biasanya erat kaitannya dengan beberapa hal, yaitu berpisah dengan orangtua (atau pengasuhnya), adaptasi di lingkungan baru dan rentang konsentrasi. Jadi kalau memang anak masih belum siap, ya jangan dipaksa. Karena bagaimanapun menurut Anis, pengasuhan dan pendidikan di usia dini yang terbaik tetap dari ibu. 

2. Usia

Anis menyarankan supaya orangtua tidak memasukkan anak ke sekolah pada usia terlalu dini karena sebenarnya pada usia sampai 4 tahun yang dibutuhkan anak adalah lingkungan yang aman untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dan itu hanya didapatkan di rumah. Anak usia tersebut juga pada dasarnya belum terlalu perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya karena mereka belum bisa bermain bersama-sama, kalaupun nampak bermain berkelompok sebenarnya mereka sedang bermain bersama, alias asik dengan mainannya sendiri dan tidak berinteraksi satu sama lain.

anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

3. Kesehatan Anak

Kalau anak kita selama ini memiliki kesehatan yang cukup baik, boleh aja masuk sekolah di usia dini. Hanya pastikan dia memiliki kekebalan tubuh yang cukup dan jumlah murid di kelas nggak terlalu banyak. Menurut Dr Anatoly Belilovski, dokter anak sekaligus direktur Belilovski Pediatric di Brooklyn, NY, semakin banyak jumlah anak di dalam kelas, semakin rentan anak tertular penyakit dari teman sekelasnya. Ini saya alami banget dengan Keenan, sejak masuk sekolah hampir setiap bulan terkena common cold. Bahkan dulu kakak Cinta ketika di KG 2 pernah juga tertular cacar air padahal sudah pernah vaksin cacar air dan saat itu 9 anak dalam 1 kelas mendapat cacar air. Karena itu, Dr. Belilovski menyarankan kalau anak pernah mengalami infeksi serius seperti infeksi telinga, bronkhitis dan lainnya, sebaiknya tunda dulu keinginan untuk menyekolahkan dia sampai kekebalannya lebih baik.

4. Tingkat Konsentrasi

Ini yang sering dikeluhkan oleh para guru kelompok bermain, ya setidaknya dalam kasus saya sejak Keenan masuk sekolah sering sekali mendapatkan keluhan bahwa Keenan nggak mau duduk diam di kelas. Bahkan baru saja beberapa hari yang lalu gurunya Keenan cerita kalau Keenan nggak mau belajar menulis dan lebih memilih berjalan-jalan di dalam kelas. Tapi sebenarnya memang rentang konsentrasi anak usia pra sekolah masih rendah, walaupun menurut Rachel Rudman, seorang terapis khusus okupasi anak, anak diharapkan dapat berkonsentrasi sesuai dengan usianya, misalnya Keenan sekarang umur 3,5 tahun, dia seharusnya bisa duduk dan mengerjakan sesuatu dengan tenang selama 3,5 menit. Namun, Rudman menambahkan bahwa seharusnya kesulitan konsentrasi bukan penghalang anak untuk bisa bersekolah, bahkan dalam beberapa kasus, dengan bersekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi. Jadi kalau anak sudah mampu fokus untuk menyelesaikan puzzle sederhana, menggambar selama beberapa menit, menyusun balok kayu atau lego, berarti dia aman untuk masuk sekolah.

5. Choose Wisely

Ketika anak memang harus bersekolah di usia dini, baik karena kedua orangtuanya bekerja dan nggak ada pengasuh; ibu tinggal di rumah tapi merasa nggak bisa memberikan stimulasi maksimal untuk perkembangan si anak; atau seperti kasus saya yang menjadikan sekolah sebagai pengganti terapi, maka Anis menyarankan untuk memilih sekolah yang benar-benar memahami tumbuh kembang anak, seperti:

  • Jam pelajaran tidak terlalu lama
  • Memiliki kebijakan yang lebih longgar berkaitan dengan school separation anxiety, alias mengijinkan ibu atau pengasuh untuk menemani anak di sekolah sampai ia benar-benar siap untuk ditinggal sendiri.
  • Program yang dimiliki tidak memaksa anak untuk keluar dari zona nyamannya. Artinya, ya semua aktivitas di dalam kelas benar-benar disusun dalam rangka yang menyenangkan bagi anak. Hal ini penting supaya anak memiliki pengalaman yang positif di tahun pertamanya bersekolah.

Nah, kalau ternyata kita memutuskan untuk menunda anak bersekolah sampai usianya lebih matang tapi bingung apa saja aktivitas yang bisa kita lakukan bersama anak di rumah, main-main saja ke blog http://www.aniskhoir.com. Meskipun belum terlalu banyak, blog yang ditulis oleh ibu muda lulusan Pendidikan Matematika ini berisi beberapa permainan sederhana yang dapat kita buat untuk anak seperti ublek dan pasak konsentrasi serta tip supaya balita kita gemar membaca.

anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

Blog ibu dari 1 putra bernama Hazwan ini juga berisi tentang berbagai informasi menarik seputar Tuban, kampung halaman suami saya. Sayang saya belum sempat kopdar dengan Anis saat mudik ke Tuban lebaran lalu dan karena bulan lalu rumah mertua akhirnya laku terjual dan beliau pindah ke Surabaya untuk tinggal bersama adik ipar saya, sepertinya tahun-tahun mendatang kami nggak akan mudik Tuban lagi. Jadi agak nyesel gitu baru sempat kenal dengan blog lifestyle yang mulai serius ditekuni Anis sejak bulan Juli 2016 lalu, meskipun dia sudah ngeblog mulai tahun 2009. Lebih nyesel lagi karena baru tahu di Tuban juga ada komunitas blogger Tuban, coba kalau tahu kan tiap mudik ke Tuban nggak cuma ngedekem di rumah aja ya. Masa 10 tahun jadi mantunya orang Tuban cuma tahu Bravo, Samudera, alun-alun, Gua Ngerong dan RM Kurnia Dewi sih. Bahkan ke Pantai Boom yang dekat rumah aja saya belum pernah. Zzzzz. Sungguh rugi saya.

Tapi nggak rugi kok main ke blog milik mahmud abas kelahiran kota Kediri yang tampilannya bertema minimalis ini. Artikel-artikelnya ditulis dengan manis dalam gaya bahasa serius tapi tidak membosankan. Banyak hal-hal baru yang bisa didapat di sana, bagi saya yang menarik tentu soal parenting dan Tuban. Tapi yang lain juga tidak kalah seru. Hanya saja saya berharap Anis bisa lebih rajin lagi mengisi blognya supaya pembaca yang main ke sana bisa selalu mendapatkan bacaan segar yang menarik.