Browsing Category:

Parenting

  • Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground
    Life Hacks, Parenting

    Aturan Bermain di Taman Bermain yang Harus Dipahami Anak

    Taman bermain, baik di luar ruangan maupun dalam ruangan adalah tempat favorit anak-anak. Di sana mereka dapat bermain apa saja dengan bebas. Namun, demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna, ada beberapa aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan orang tua.

    Kemarin saya nggak sengaja melihat cuplikan video tentang seorang bapak (sebut saja bapak A) yang menendang anak kecil di sebuah taman bermain dalam ruangan. Penasaran dengan kronologi peristiwanya saya pun menelusuri media sosial dan dengan mudah mendapatkan rekaman CCTV dari taman bermain tersebut.

    Jadi, ada dua anak laki-laki kira-kira usia SD yang sedang main ayunan. Dari rekaman sih kecepatan ayunan tersebut standar aja ya, nggak terlalu kencang atau tinggi. Tiba-tiba dari belakang kedua anak tersebut, muncul seorang anak perempuan usia batita yang berjalan sangat dekat dengan ayunan. Karena jarak si anak perempuan dengan ayunan sangat dekat, otomatis anak itu terkena ayunan yang sedang berayun ke belakang dan jatuh.

    Ayah si anak perempuan kemudian nampak berlari mendekati si anak setelah sempat menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan itu. Ketika dikonfrontasi oleh ibu si anak laki-laki, bapak A merasa tindakannya benar dan justru menyalahkan si anak laki-laki yang tidak berhati-hati saat bermain ayunan.

    Tapi warganet rupanya banyak yang nggak sependapat dengan bapak A. Dari ratusan komen dari beberapa post serupa di media sosial, mayoritas nggak terima dengan cara bapak A memperlakukan si anak yang lagi main ayunan.

    Ya, saya paham sih, mungkin bapak A panik liat anaknya terjatuh karena kena senggol ayunan. Saya juga kalau bawa anak-anak main di playground indoor suka ngeri kalau banyak anak-anak usia di atas 7 tahun yang badannya besar-besar dan bermain nggak lihat-lihat situasi sekitarnya. Nggak cuma sekali saya melihat anak balita terinjak di arena trampolin oleh anak-anak yang lebih besar. Sedihnya, si anak-anak besar ini nggak ada tuh usaha untuk menghentikan lompatan mereka, padahal anak-anak yang lebih kecil sudah susah payah berusaha untuk bangun.

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Belum lagi kalau pada main kejar-kejaran ya, kadang anak-anak yang besar-besar ini nggak bisa berhati-hati. Mereka seolah nggak peduli kalau ada anak-anak yang lebih kecil di sekitar mereka. Makanya saat anak-anak masih batita saya selalu ngekorin ke manapun mereka berada saat di taman bermain. Bahkan kalau di taman bermain itu ada arena khusus untuk toddler saya lebih memilih mengajak mereka main di sana daripada bercampur dengan anak-anak yang lebih besar.

    Yang nggak bisa ditolerir dari kejadian yang saya ceritakan di awal tulisan ini adalah, perilaku bapak A yang menendang anak laki-laki tersebut. Sama sekali nggak dibenarkan tuh.

    Saat berada di taman bermain, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, selalu ada resiko kecelakaan besar atau kecil, sengaja atau tidak sengaja. Jadi saat anak mengalami kecelakaan, fokus pertama adalah menolong si korban dan memastikan kondisinya. Sementara si pelaku baik sengaja atau tidak cukup ditegur dengan baik, diminta untuk lebih berhati-hati dan disuruh minta maaf. Kalau anaknya cuek ya laporin ke orang tuanya. Kalau orang tuanya nggak peduli, bicara dengan pengelola taman bermain atau pihak keamanan. Bukan main hukuman fisik.

    Ya namanya anak-anak bermain rame-rame pasti ada resikonya. Pengennya sih bisa main sendiri di taman bermain supaya bebas mau ngapain aja. Tapi main sendiri juga nggak seru deh. Keenan itu kalau nggak ada temennya nggak betah berlama-lama di playground. Sebaliknya dia bisa betah berjam-jam di sana kalau banyak anak yang main bareng dia. Nah, supaya anak-anak bisa bermain dengan aman dan nyaman di taman bermain, ada baiknya kita ajak mereka untuk memahami aturan bermain di taman bermain.

    Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

    Aturan Yang Harus Dipahami Anak Saat Bermain di Taman Bermain

    Jangan Naik Tempat Meluncur Dari Sisi yang Licin

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Ih, ini aktivitas favoritnya Keenan banget. Kalau main seluncuran, setelah meluncur dia akan langsung naik lagi dari sisi yang dipakai untuk meluncur. Lebih fun daripada naik dari tangga. Ya kalau playgroundnya lagi sepi sih nggak apa-apa tapi kalau lagi banyak anak tentu berbahaya dan bisa mengganggu anak lain. Jadi sekarang saya selalu bilang sama Keenan, kalau lagi main sama teman-teman setelah meluncur harus naik dari tangga supaya nggak kena tendang temannya yang meluncur setelah dia. Alhamdulillah sih selama ini dia nurut ya, kecuali saat teman mainnya sama-sama iseng. Bisa tuh mereka merangkak naik ke atas perosotan dari sisi yang licin bergantian. Giliran emaknya aja yang dag dig dug sambil berkali-kali meminta mereka berhati-hati.

    Berhati-hati Dengan Anak Yang Lebih Kecil

    Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, nggak jarang liat anak-anak besar yang nggak peduli dengan aturan bermain di taman bermain, sehingga mereka main sesuka hati mereka dan nggak aware bahwa di sekitarnya banyak anak yang lebih kecil. Karena itu, anak-anak harus diajarin untuk berhati-hati dengan sekitarnya. Terutama saat berlari atau main trampolin. Mereka perlu tahu bahwa tenaga mereka jauh lebih besar daripada babies and toddler jadi kalau mereka nggak sengaja nabrak anak yang lebih kecil bisa membuat si adik terluka.

    Berhati-hati Saat Menggunakan Ayunan

    Minta anak-anak untuk memperhatikan sekitarnya saat akan bermain ayunan. Ajari mereka mengontrol laju ayunannya ketika ada orang yang mendekati arena ayunan. Kalau mama atau papa yang mengayun anak, jangan ditinggal main hape sih. Fokus aja ke ayunan demi keselamatan anak yang diayun atau pengguna playground lain. Anak-anak juga diminta untuk nggak berjalan dekat ayunan yang sedang digunakan. Dan mama papa jangan sekali-kali melepas anak batita berlari ke arah arena ayunan tanpa pengawasan.

    Jangan Melempar Apapun Kecuali Bola Plastik

    Aturan bermain di taman bermain yang satu ini berlaku di outdoor playground. Kadang ada aja yang suka main lempar pasir, kerikil, atau kayu. Beri tahu anak bahayanya melempar benda-benda tersebut seperti dapat masuk ke mata atau melukai orang lain.

    Jangan Bermain Pedang-Pedangan Dengan Kayu atau Ranting Pohon

    Dududu, ini Keenan banget. Kalau di playground suka tiba-tiba aja mungut ranting pohon trus diacung-acungkan ke anak lain. Ngajak main pedang-pedangan ceritanya. Tapi setelah beberapa kali dia ditegur sama orang (karena nggak peduli dengan teguran saya) baru deh dia insaf meski sesekali masih suka mungutin ranting pohon. Sebenarnya nggak masalah sih kalau mereka memang benar-benar main pedang-pedangan dari ranting pohon dari jarak yang aman. Yang bahaya itu kalau nggak sengaja batang kayu tersebut kena mukanya orang. Namanya anak-anak kan kalau main suka nggak kekontrol ya saking semangatnya. Jadi mending cari amannya aja deh.

    Minta Maaf Atas Perbuatan Yang Kurang Baik Atau Kecelakaan Yang Mereka Akibatkan

    Tahun lalu, waktu Cinta masih di Year 4, tiba-tiba saya mendapat telfon dari sekolah. Kepala SDnya bercerita bahwa terjadi kecelakaan saat istirahat antara Cinta dan temannya yang mengakibatkan kepala Cinta benjol sebesar telur. Beliau meyakinkan bahwa Cinta sudah dirawat dengan baik dan nggak ada hal serius yang terjadi. Lalu, ibu kepala meminta temannya Cinta untuk meminta maaf kepada saya melalui telpon. “Saya mau anak-anak belajar bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan, meskipun itu nggak sengaja.” Tentu saja saya memaafkan sambil mewanti-wanti supaya lain kali dia lebih hati-hati.

    Sejak itu, saya berusaha menjadikan perilaku ini sebagai aturan bermain di taman bermain bagi anak-anak saya. Yes, accident happens, tapi anak juga harus tahu bahwa kecelakaan terjadi karena salah satu tidak berhati-hati, dan ada konsekuensi yang harus dibayar untuk perbuatan tersebut. Iya, monmaap saya memang #mamagalak.

    Awasi Anak Anda

    Ini memang tugas yang sangat berat. Kalau anak-anak bermain di outdoor playground biasanya saya lebih ketat ngawasinnya. Sedangkan di taman bermain dalam ruangan, jujur saja saya suka lengah. Apalagi sekarang anak sudah besar-besar ya, saya anggap mereka sudah tahu aturan bermain di taman bermain. Sehingga seringkali saya lepas aja main sendiri sementara saya duduk di bangku atau di lantai tak jauh dari arena bermain. Saya beri mereka kesempatan untuk mengeksplorasi tempat bermain dan berteman dengan anak lain, sementara saya memanfaatkan waktu itu untuk main hape atau baca buku. Paling saya titip ke Cinta untuk mengawasi adiknya. Atau sesekali meninggalkan tempat duduk saya untuk mengecek keberadaan mereka.

    Ternyata nggak cuma saya sih yang seperti itu, waktu saya bawa anak-anak main di Kidzoona TP 6, kebanyakan orang tua cukup duduk manis sementara anak-anaknya yang sudah cukup besar asik bermain sendiri. Padahal sudah ada aturan tertulisnya tuh kalau anak harus selalu dalam pengawasan orang tua karena nggak ada staf Kidzoona yang mengawasi masing-masing arena bermain.

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Menurut saya sih, boleh kok membiarkan anak-anak besar bermain sendiri tapi jangan sampai kita benar-benar lepas pengawasan. Namanya di tempat umum ya, banyak kejadian tak terduga. Mungkin nggak sengaja jatuh dari perosotan, ada anak yang kasar atau tiba-tiba anak keluar dari tempat bermain seperti yang pernah saya alami. Kalau anak di bawah 3 tahun ya harus benar-benar diikutin ya, apalagi kalau tempatnya besar dan sedang ramai. No excuse.

    Be Nice To Other Kids

    aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

    Ini berlaku untuk anak dan penjaganya. Ajak anak untuk bermain dengan baik saat di taman bermain, jangan kasar; mukul; nendang atau berteriak-teriak kepada anak lain. Minta mereka untuk sabar menunggu giliran bermain kalau alat tersebut sedang dipakai anak lain. Jangan menguasai satu permainan terlalu lama. Di lain sisi kita juga boleh menegur anak lain yang misalnya menguasai ayunan selama belasan menit tanpa mau gantian atau menutup akses ke perosotan just because. Kita juga bisa mengingatkan anak kita dan anak lain untuk berhati-hati. Tentu dengan cara yang baik ya, bukan pakai hukuman fisik. Bayangkan kalau anak kita yang nakal misalnya trus diperlakukan kasar oleh orang tua lain, pasti nggak terima kan yaaa.

    Jangan Memaksa Anak Untuk Berbagi

    Nggak jarang sih saya lihat anak-anak yang mau menguasai permainan sendirian tapi nggak perlulah sampai memaksa mereka untuk berbagi. Kalau saya lihat yang seperti itu, biasanya saya bilang ke si anak, “5 menit lagi gantian ya mainnya.” Lalu mengajak anak saya bermain di arena yang lain. Kalau anak saya ngotot nggak mau pergi baru saya minta baik-baik, “Mainnya sama-sama ya, kan seneng kalau ada temannya.” Kadang cara ini berhasil, kadang enggak. Kalau nggak berhasil ya sudah, yang waras ngalah ajalah. Mungkin si anak sedang perlu me time, dan kita ajak anak lain untuk mengeksplorasi mainan lainnya di tempat tersebut.

    Sebenarnya mungkin masih banyak lagi aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan kita. Namun intinya adalah peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, secara mereka kan nggak main sendirian ya, jadi penting sekali untuk bijaksana dalam berinteraksi dan berperilaku saat bermain di tempat umum. Awalnya mungkin susah, tapi kalau satu persatu aturan bermain di taman bermain ini diterapkan ke anak, insyaAllah mereka akan paham dan terbiasa.

    Dan tulisan ini nggak bermaksud untuk menggurui orang tua kok. Namanya taman bermain pasti maunya kita anak-anak bisa bebas beraktivitas. But better save than sorry, right. Nggak ada salahnya menerapkan aturan bermain di tempat bermain ini pada kita dan anak-anak demi keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna taman bermain. Sekaligus menghindari kejadian si bapak A yang saya ceritakan di awal tulisan ini terulang lagi.

     

     

  • manfaat-membaca-buku-untuk-anak, manfaat-read-aloud-bersama-anak
    Parenting

    Manfaat Membacakan Buku Untuk Anak

    Kemarin waktu jemput Keenan pulang dari sekolah, salah seorang temannya ngambek setelah memeriksa jurnal sekolahnya. Rupanya dia sedih karena bu guru belum mengganti buku cerita yang sudah selesai dia baca dengan buku yang baru. Memang, sejak tahun lalu, sekolah Keenan punya program ‘read aloud with your child‘ di mana setiap hari anak-anak dipinjamkan satu buku milik perpustakaan sekolah yang sudah disediakan di kelas. Bukunya sih bukan buku-buku pop up atau ensiklopedia canggih yang lagi banyak diburu mamah muda millenial. Buku cerita sederhana aja yang kebanyakan bertema perkembangan moral dan bertujuan mengembangkan kosakata terbitan Scholastic, Usborne atau terbitan lokal yang disesuaikan dengan usia anak TK. Tapi, program ini rupanya disukai oleh anak-anak yang selalu menanti adanya buku baru di dalam jurnal sekolah mereka setiap pulang sekolah.

    Sebelum ada program ini, saya sendiri sudah terbiasa membacakan buku untuk Keenan (dan Cinta sebelum dia lancar membaca) hampir setiap malam. Tapi, karena koleksi buku kami nggak terlalu banyak, akhirnya ya yang dibaca itu-itu aja.

    Dengan adanya program read aloud with your child ini, hampir setiap hari Keenan membawa pulang buku dengan judul yang berbeda-beda untuk dibaca setiap malam. Sampai-sampai guru kelasnya tahun lalu bilang, “There’s no more new book for Keenan. He had read all the books we have.” Beliau lalu bertanya apakah Keenan mau membaca ulang buku-buku yang ada. Yang tentunya diiyakan dengan antusias oleh Keenan.

    Bagi saya, buku-buku dari sekolah lebih ringan dibaca karena hanya berisi 10-20 halaman yang berisi 2-3 kalimat per halaman. Nggak seperti buku koleksinya di rumah yang bisa di atas 30 halaman dengan huruf yang kecil-kecil. Jadi dia minta baca 2-3 kali dalam semalam pun saya masih oke. Walaupun kalau sudah ngantuk banget saya biasanya cuma membacakan 1 kali, itupun kadang juga cuma 2-3 lembar.

    Selain itu, karena temanya tentang kehidupan sehari-hari, saya jadi bisa memasukkan satu dua pesan tentang kebiasaan baik seperti misalnya kalau bermain itu harus sharing dan gantian, kalau sukanya ngerebut mainan teman bisa-bisa nanti nggak ada yang mau main bareng lagi. Atau ke dokter itu sepertinya menakutkan, tapi sebenarnya enggak, seperti yang dialami tokoh di dalam buku.

    Nggak mau kalah dengan divisi Kindergartennya, sekolah Cinta juga ikut semangat membuat program meningkatkan minat baca anak-anak. Sejak tahun kemarin saya mendapat surat edaran dari sekolah mereka untuk membawa beberapa buku bacaannya untuk ditinggal di sekolah. Rupanya mereka membuat book corner di kelas, sehingga di waktu istirahat atau jam pelajaran kosong, anak-anak punya pilihan untuk membaca selain bermain di luar kelas.

    Ketika saya tanya ke kakak mengenai buku apa yang akan dia bawa, dia menjawab, “Thea Stilton. Because I don’t read it anymore.” Cinta memang pernah punya banyak sekali koleksi buku Thea Stilton, hampir setiap kali ke toko buku atau supermarket yang jual buku selalu seri itu yang dia beli dan tentu mama yang harus bacakan meski waktu itu umurnya sudah 8 tahun dan sudah bisa baca sendiri. Sampai suatu saat nggak mau baca buku itu lagi dan beralih ke buku-buku ensiklopedia untuk anak yang penuh gambar. Saya pikir karena dia bosan dan lebih memilih untuk membaca buku yang lain. Tapi setelah ditanya bukan itu alasannya lo, ternyata bagi dia nggak seru lagi baca Thea Stilton ketika mama sudah nggak punya waktu untuk membacakan buku itu untuk dia.

    I like when you read Thea Stilton to me. I like the way you tell the stories. When I read it by myself, I try to read it like you. But I can’t. So, I don’t like it anymore.”

    Beneran saya nggak nyangka. Kegiatan sederhana seperti membacakan buku favoritnya sebelum tidur ternyata jadi kenangan manis buat kakak. Waktu dia ngomong gitu, hati saya jadi hangat 🙂

    Saya bukan ibu yang sempurna yang selalu tersenyum, sabar dan penuh kasih sayang. Ada masa-masa saya merasa sebagai ibu paling buruk sedunia. Namun mengetahui bahwa setidaknya anak-anak punya satu memori indah akan kebersamaannya dengan saya itu bikin saya bahagia.

    “It’s so important to start reading from Day One,” she says. “The sound of your voice, the lyrical quality of the younger [books] are poetic … It’s magical, even at 8 weeks old they focus momentarily, they’re closer to your heart.” – Liza Baker, the executive editorial director at Scholastic,

    Dan selain memberikan kenangan indah bagi anak, membaca buku setiap malam untuk mereka itu punya banyak manfaat lain, seperti ini:

    1. Meningkatkan Minat Baca Pada Anak.

    Membacakan untuk anak dapat membuat anak tertarik dengan buku, apalagi kalau kita membaca dengan cara yang menarik, misalnya dengan mengeluarkan suara yang berbeda untuk setiap karakter. Di sekolah Keenan ada sesi storytelling oleh guru dan orang tua. Kadang mereka menggunakan alat bantu berupa boneka atau wayang kertas tapi lebih sering ya baca buku aja. Namun, anak-anak usia 4-6 tahun itu bisa betah lho mendengarkan orang dewasa itu bercerita, bahkan ikut semangat berinteraksi dengan penceritanya.

    Manfaat Membacakan Buku Untuk Anak

    Nah, kalau anak sudah tahu serunya membaca buku bersama orang tua, lama-lama dia akan merasa bahwa buku itu menarik sehingga mau membaca sendiri sampai akhirnya membaca menjadi kebiasaan baik seumur hidupnya.

    2. Mengembangkan Kemampuan Bahasanya

    Psikolog Jessica Montag, seperti yang ditulis di melbournechildpsychology.com.au, mengatakan bahwa anak yang terbiasa dibacakan buku cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik, karena bahasa yang ada di dalam buku lebih terstruktur dan memiliki kosakata lebih banyak daripada bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Beberapa hasil penelitian juga sepakat bahwa membacakan buku untuk anak bermanfaat membentuk kemampuan literasi dasar pada anak seperti memahami jalannya suatu cerita, mengenal suara dan huruf, mengenal lebih banyak variasi kosakata, dan meningkatkan kemampuan mendengarkan. Di mana semua keahlian ini akan sangat dibutuhkan saat anak mulai sekolah dan belajar membaca nanti. Dan kemampuan literasi yang baik sangat mendukung kesuksesan seseorang di semua bidang pekerjaan yang digelutinya.

    Sahabat PojokMungil tentu sering membaca atau mendengar keluhan orang tua tentang anak-anaknya yang lebih suka main gadget daripada baca buku, atau para dosen yang kesal karena menerima pesan singkat atau email yang kurang beretika dari mahasiswanya. Nah, harapan saya sih supaya anak-anak nggak kaya gitu, karena meski teknologi sudah canggih, tetap kemampuan literasi ini penting. Sayang kan kalau sampai gara-gara nggak bisa nulis laporan yang baik kesempatan promosi jabatan jadi melayang atau nggak diterima saat melamar pekerjaan hanya karena nggak tahu cara menulis surat lamaran di badan email yang bagus.

    Kemarin pas suami buka lowongan arsitek, gampang aja dia nyeleksinya. Pokoknya yang di badan email nggak ada basa-basi atau kalimat sapaan dan hanya kirim lampiran portofolio aja, otomatis udah didiskualifikasi. – Arinta, blogger di kayusirih.com…  Pssst, tulisannya tentang Reward & Punishment untuk anak di blog kayusirih menarik lo untuk disimak.

     

    Lamaran kerja ditolak karena nggak ada surat pengantarnya itu berat. Kamu nggak akan kuat. Makanya belajar menulis yang baik.

     

    3. Sarana Bonding Dengan Anak

    Membacakan buku adalah salah satu sarana untuk mengeratkan ikatan kita dengan anak-anak. Seperti kutipan dari Liza Baker di atas, pelukan hangat kita, suara kita dan kalimat dalam buku cerita yang puitis dan berima itu istimewa sekali bagi anak, sehingga kalau dilakukan secara rutin dengan sepenuh hati dapat membuat anak menjadi lebih dekat secara emosional dengan orang tuanya.

    Jadi buat para orang tua yang merasa kurang meluangkan waktu untuk anaknya, manfaatkan momen membacakan buku untuk anak ini sebagai quality time. Misalnya ayah membacakan koran sambil memangku si kecil di pagi hari sebelum berangkat bekerja atau mama membacakan buku cerita atau majalah anak sebelum mereka tidur akan jadi kenangan manis bagi anak-anak lo.

    4. Buku Adalah Jendela Dunia

    Pepatah yang mungkin sudah kita hafal di luar kepala itu juga berlaku bagi anak-anak. Nggak semua anak beruntung memiliki kesempatan untuk pergi ke berbagai tempat di seluruh dunia. Jangankan merasakan naik Shinkasen di Jepang, jalan-jalan naik bis kota di daerah tempat tinggal mereka saja mungkin belum pernah, apalagi untuk anak-anak balita yang memang lingkup jalan-jalannya masih terbatas. Nah, di sinilah kita bisa menggunakan buku untuk memperluas wawasan mereka tentang tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi, benda-benda yang belum pernah mereka lihat, sampai mungkin masa yang sudah lalu dalam buku cerita dengan latar belakang sejarah.

    Lalu gimana caranya supaya anak tertarik saat kita membacakan buku untuk mereka?

    Ini adalah beberapa langkah read aloud yang pernah diajarkan oleh seorang storyteller saat parents teacher meeting di sekolah Cinta beberapa tahun yang lalu:

    1. Sisihkan waktu yang cukup untuk membaca, bisa 15-20 menit sebelum tidur atau saat santai sore. Selain untuk membaca, gunakan waktu ini untuk menikmati gambar dalam buku dan berdiskusi dengan anak tentang isi bukunya.
    2. Pilih buku yang menarik minat anak. Untuk batita, buku-buku dengan gambar yang bagus mungkin lebih menyenangkan bagi mereka. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, jalan cerita yang menarik, karakter yang kuat dan bahasa yang mengugah bisa mengikat perhatian anak.
    3. Buka buku bersama-sama dengan anak dari halaman depan sampai belakang, sambil berkata, “Yuk sini, kita lihat di buku ini ada apa saja ya?”
    4. Tunjukkan bagian-bagian yang menarik tanpa membaca satu tulisan pun di dalam buku tersebut, Tarik perhatian anak dengan interaksi yang menarik, seperti, “Eh, ada harimau, Dek. Harimau tuh suaranya gimana ya? Auuuumm. Wah, di sini ada tikus warnanya abu-abu. Hmmm, kenapa ya harimau dan tikusnya ini?”
    5. Setelah anak mulai tertarik, kembali ke awal buku dan mulai membaca. Supaya anak nggak bosan, gunakan ekspresi. Nggak usah terlalu drastis atau ngoyo, nanti kita capek sendiri trus malas ngelanjutinnya. Cukup dengan membedakan intonasi atau menaikturunkan volume suara saat membacakan buku biasanya sudah dapat membuat anak tertarik untuk mendengarkan.
    6. Jangan membaca terlalu cepat. Beri anak waktu untuk mencerna setiap kalimat yang kita ucapkan, mengamati gambar dalam buku dan berkomentar.
    7. Anak yang sudah besar bisa diajak untuk menebak jalannya cerita. “Wah, harimaunya marah karena tikus mengganggu tidurnya. Aduh, abis ini tikusnya diapain ya sama harimau?” Beri pujian pada setiap jawaban anak baik yang sesuai dengan jalan cerita maupun yang tidak sesuai dengan mengatakan, “Hmmm, bisa jadi ya begitu. Yuk kita baca sama-sama, kalau menurut penulisnya apa yang dilakukan oleh harimau,” atau “Itu ide yang menarik lo, apa yang bikin kamu berpikir seperti itu?”
    8. Saat cerita selesai, diskusikan bagian mana yang paling menarik bagi kita dan bagi anak dalam buku tersebut. Jawaban nggak harus sama lo, makin seru kalau berbeda. Apresiasi semua pandangan anak.
    9. Dan yang paling penting adalah menikmati momen tersebut. Nggak perlu melakukan semua langkah yang sudah saya tulis di atas kalau yang dibutuhkan oleh anak adalah suara hangat mama bercerita sederhana sebagai pengantar tidurnya, apalagi ketika anak sudah ngantuk banget. Bisa-bisa dia cuma bakal jawab, “Aku nggak tahu,” trus kita kesel akhirnya marah-marah. Gagal deh hepi momennya :))

    Nah, selamat membaca buku untuk anak, Sahabat PojokMungil. Yuk share, buku cerita apa sih yang paling sering dibacakan untuk anak?

  • sobat aviasi, djpu, tips selamat aman dan nyaman naik pesawat bersama anak, traveling with kids,
    Life Hacks, Parenting, Traveling

    Mudik Selamat, Aman dan Nyaman Menggunakan Transportasi Udara Bersama Anak

    Nggak terasa kita sudah melalui setengah bulan Ramadan ya. Kurang dari 2 minggu lagi, umat muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri nih. Udah ada yang siap-siap mudik?

    Saya dong sudah di kampung halaman hahaha *sombong*

    Kebetulan tahun ini sekolah anak-anak selesai Mid Year Exam lebih awal dari sekolah-sekolah lain di Belait District sehingga saat jadwal ujian dan liburan dibagikan pada bulan April yang lalu, saya bisa langsung beli tiket pesawat untuk mudik lebaran. Memang sengaja sih booking tiket jauh-jauh hari dan memilih tanggal yang tidak terlalu dekat dengan hari Raya supaya dapat harga tiket yang lebih murah, meski itu berarti anak-anak harus bolos sekolah beberapa hari hehehe.

    Tahun ini adalah tahun ke-5 kami sekeluarga mudik Lebaran ke Surabaya dengan menggunakan moda transportasi udara. Sebelumnya, waktu kami masih tinggal di Jakarta, lebih suka lewat jalur darat dengan menggunakan mobil pribadi. Ada kesenangan tersendiri menyusuri jalur Pantura dengan mobil meski seringkali terjebak macet panjang di titik-titik tertentu dan memakan waktu yang cukup panjang.

    Namun, sejak pindah ke Brunei pilihan satu-satunya untuk pergi ke Surabaya adalah dengan naik pesawat. Nggak mungkin kan naik mobil, bisa-bisa jatah liburan dan cuti habis di jalan. Lagipula kalau membawa anak kecil (dan orang lanjut usia) naik pesawat tentu lebih cepat dan praktis ya, terutama untuk jarak bepergian yang jauh.

    Tapi bepergian dengan anak-anak naik pesawat itu gampang-gampang susah, apalagi kalau si anak masih balita. Nggak jarang terasa ribet. Untungnya baru-baru ini saya mengikuti akun media sosial Direktorat Jendral Perhubungan Udara Kementrian Perhubungan dan bergabung dengan #SobatAviasi, komunitas yang dibentuk oleh DJPU. Banyak sekali informasi yang sangat berguna bagi saya dalam mempersiapkan diri bepergian dengan pesawat supaya selamat, aman dan nyaman. Apa saja? Ini adalah beberapa di antaranya:

    sobat aviasi, djpu, tips selamat aman dan nyaman naik pesawat bersama anak, traveling with kids,

    Tips Mudik Selamat, Aman dan Nyaman Menggunakan Transportasi Udara Bersama Anak-anak

    1. Beli Tiket Jauh-Jauh Hari 

    Ini sebenarnya untuk mengantisipasi supaya kita masih kebagian seat karena penerbangan kan terbatas ya. Nggak seperti kereta api yang punya banyak gerbong atau bis yang armadanya banyak. Hanya saja kadang budget untuk beli tiket baru ada setelah kita menerima THR jadi mau nggak mau ya beli tiketnya mepet mau lebaran deh.

     

    Tapi tahun ini untuk arus mudik dengan transportasi udara kita nggak perlu lagi takut kehabisan tiket sebab Direktorat Jendral Perhubungan Udara sudah menyiapkan 532 maskapai penerbangan dengan kapasitas kursi untuk penumpang dalam negeri sebanyak 5.780.374 dan penumpang luar negeri sebanyak 930.379.

    2. Pilih Penerbangan di Pagi Hari

    Sejujurnya saya kurang suka menggunakan penerbangan pertama. Bayangkan ya kalau pesawat berangkat jam 6.00 berarti pukul 4 pagi kita sudah harus sampai di Bandara. Sebelum adzan Subuh berkumandang kita sudah harus mandi, memandikan anak-anak dan memastikan koper-koper siap untuk dibawa. Harus bangun jam berapa coba?

    Tapi sejak pindah ke Brunei, saya terbiasa dengan penerbangan di pagi hari ini karena satu-satunya jadwal dari Surabaya ke Brunei dengan Garuda (co-op with Royal Brunei Airlines) adalah pukul 6.30 pagi. Dengan memilih penerbangan pagi, kecil sekali kemungkinan pesawat terlambat berangkat dan biasanya karena penumpang nggak terlalu banyak, antrian check in dan pemeriksaan imigrasi (untuk penerbangan internasional) lebih bersahabat. Anak-anak pun di pesawat juga cenderung untuk melanjutkan tidur yang terputus sehingga saya nggak repot menyiapkan aneka permainan untuk menghibur mereka selama perjalanan.

    Untuk mengurangi kehebohan di pagi hari, pastikan koper sudah siap diangkut pada malam harinya. Letakkan di dekat pintu keluar rumah. Sisakan satu koper yang terbuka untuk menyimpan barang-barang yang baru bisa kita simpan saat mau berangkat seperti kosmetik dan charger perlengkapan elektronik. Seorang teman juga menyarankan saya untuk menyiapkan anak-anak di malam hari. Jadi sebelum mereka tidur sudah dimandikan lalu dipakaikan baju yang nyaman untuk bepergian. Sehingga di pagi hari nggak perlu lagi membangunkan dan memandikan mereka. Kecuali bagi bayi dan batita yang masih pakai popok ya. Tentu harus diganti lagi popoknya sebelum berangkat. Lalu tinggal angkut untuk berangkat ke bandara.

    3. Gunakan Pakaian Yang Nyaman 

    Untuk anak, lebih baik memakai pakaian dari bahan kaos. Baik itu t-shirt dan celana maupun shirtdress dan legging dengan tambahan sweater. Hindari baju dan kaos kaki yang berenda dan dapat membuat anak gerah atau gatal. Hal ini berlaku juga untuk kita. Terutama para busui. Pilih baju menyusui yang nyaman dan tertutup sehingga memudahkan kita untuk menyusui di bandara dan di dalam pesawat.

    4. Pack Wisely

    Iya, saya tahu kok kalau bawa anak itu nggak bisa cuma bawa sedikit barang. Kalau bisa sih 1 lemari dibawa semua ya. Ya nggak apa-apa, asal masih sesuai dengan jatah bagasi. Barang-barang seperti sabun mandi bayi, popok sekali pakai nggak perlu bawa terlalu banyak. Popok kita bisa beli aja di tempat tujuan, sementara toiletries bayi cukup bawa botol-botol kecil.

    View this post on Instagram

    – #SobatAviasi merasa ribet saat berkemas? Jangan mengeluh, sebab hal itu kerap terjadi pada banyak orang. Meski tampak remeh, packing membutuhkan siasat. Perlu cara-cara jitu agar barang-barang yang akan kita bawa bepergian bisa termuat rapi ke dalam tas atau koper. Tak ada salahnya jika kamu menyimak kiat-kiat packing berikut ini: . 1. Pilih pakaian yang multifungsi untuk meringankan bawaanmu. Contohnya celana olahraga yang bisa juga dipakai tidur atau scarf yang bisa dipakai sebagai aksesori maupun penghangat. 2. Gulung lebih dulu pakaian tahan kusut, seperti kaos, jeans dan celana kain. 3. Selipkan barang berukuran kecil seperti kaus kaki atau pakaian dalam di bagian kosong koper. 4. Setelah semua tersusun, tutup tumpukan baju dengan plastik untuk mencegah pakaian terkena noda atau basah. 5. Ikat pakaian yang sudah diletakkan di dalam koper 6. Hindari menyimpan perhiasan dan barang berharga di dalam koper. . Tetap budayakan penerbangan yang #SelamatAmanNyaman #Selamanya. #SiapUntukMudik

    A post shared by Perhubungan Udara (@djpu151) on

    Pastikan juga berat bawaan kita sesuai dengan ketentuan bagasi karena tiap airlines memiliki kebijakan yang berbeda. Jika kita pergi dengan keluarga, ada maskapai yang memperbolehkan batas maksimal bagasi sejumlah total jatah bagasi sekeluarga dan ada pula yang hanya mengijinkan jatah bagasi sesuai dengan tiket. Jadi misalnya kita pergi berempat dengan masing-masing jatah bagasi 20kg, untuk Royal Brunei Airlines boleh tuh saya bawa 4 koper dengan berat 30kg, 25kg, 15kg dan 10kg selama tidak melebihi total 80kg jatah bagasi kami berempat. Namun, ada maskapai lain yang hanya mengizinkan masing-masing koper sesuai dengan jatah bagasi yang tertera di tiket. Jadi sebaiknya cari tahu dulu ya sebelum packing daripada nanti disuruh bongkar koper di counter check in.

    Oya, jangan lupa intip akun media social DJPU untuk melihat benda-benda apa saja yang boleh dibawa ke kabin pesawat dan mana saja yang harus diletakkan dalam bagasi. Terakhir saya berangkat mudik kemarin, powerbank dan baterai alat elektronik nggak boleh diletakkan dalam koper bagasi. Sedangkan cairan lebih dari 100ml seperti biasa nggak boleh dibawa ke kabin pesawat (kecuali kalau kita beli di dalam ruang tunggu pesawat). Bahkan jenis smartphone tertentu tidak diperkenankan dibawa baik diletakkan dalam carry-on luggage atau bagasi tercatat.

    5. Manfaatkan Layanan Check In Online 

    Dengan check in online, waktu yang diperlukan oleh ground crew untuk memproses boarding pass akan lebih singkat sehingga nggak perlu lama-lama antri. Secara kalau bawa anak-anak pasti agak stres jika mereka rewel karena bosan antri, apalagi yang anaknya aktif seperti anak saya. Akan lebih menyenangkan lagi bila disediakan antrian khusus untuk penumpang yang sudah check in online seperti yang sudah diberlakukan di Bandara Internasional Brunei Darussalam. Wah, layanan check in online jadi sangat bermanfaat. Sementara setahu saya di Bandara Juanda dan Soekarno Hatta antrian khusus ini belum ada. Semoga menjadi pertimbangan bagi Direktorat Perhubungan Udara ya.

    6. Makan Secukupnya 

    royal brunei, traveling with kids, mudik selamat aman dan nyaman bersama anak,mudik dengan transportasi udara

    Menu Child Meal di Pesawat Royal Brunei Airlines

    Nggak semua maskapai menyediakan makanan dalam penerbangannya sehingga sebaiknya kita dan anak-anak makan secukupnya sebelum berangkat agar nyaman selama di perjalanan dan terhindar dari mabuk udara. Anak-anak yang perutnya cukup terisi juga cenderung lebih tenang dan bahagia sehingga nggak rewel serta mengganggu kenyamanan penumpang lain.

    7. Siapkan Permen atau Penutup Telinga dan Susui Bayi Saat Pesawat Lepas Landas dan Mendarat.
     
    Tekanan dalam pesawat saat lepas landas dan mendarat dapat membuat telinga kita nggak nyaman sehingga anak-anak cenderung rewel. Jadi lebih baik kita ijinkan anak-anak makan permen yang dapat membantu mengurangi tekanan dalam telinganya. Kalau si batita belum boleh makan permen berikan mereka penutup telinga yang memiliki fungsi sama.Bagi ibu yang membawa bayi disarankan untuk menyusui bayi saat lepas landas dan mendarat dengan alasan yang sama. Namun, kalau bayi tidur nyenyak nggak perlu dibangunkan ya, Ma. Cukup pasang penutup telinga.

    8. Bawa Permainan Favorit Mereka atau Kantong Kejutan

    mudik dengan transportasi udara, traveling with kids, djpu, sobat aviasi, mudik selamat, aman dan nyaman menggunakan pesawat bersama anak

    Cinta dan Keenan asyik dengan buku bacaan dan activity pages dari kantong kejutannya

    Kantong Kejutan ini dapat berisi mainan baru (tidak harus mahal asal belum pernah mereka mainkan), buku cerita baru, coloring pages dan crayon serta camilan kesukaan mereka. Kantong kejutan ini dapat membuat anak sibuk dengan permainan dan aktivitas baru mereka selama beberapa waktu, sementara kita beristirahat sejenak. Bawa juga boneka kesayangan mereka yang bisa membantu mereka merasa nyaman saat mengantuk.

    Kalau kita punya gadget policy yang cukup ringan, mengijinkan anak-anak untuk menggunakan gadget mereka selama penerbangan dengan moda penerbangan diaktifkan dan dinonaktifkan selama lepas landas dan mendarat adalah ide yang baik. Isi gadget dengan games dan film yang belum mereka tonton untuk menghibur mereka selama penerbangan.

    Supaya bawaan kita nggak terlalu berat, minta anak-anak untuk membawa ransel mereka sendiri untuk menyimpan benda-benda tersebut. Pastikan tas mereka tidak terlalu penuh agar anak-anak nggak keberatan membawanya.

    9. Minta Awak Pesawat Untuk Menyiapkan Stroller Di Depan Pintu Pesawat Setelah Pesawat Mendarat
     
    Jangan masukkan stroller ke dalam bagasi tercatat. Bawa stroller sampai ke depan pintu pesawat atau ruang tunggu supaya ketika pesawat mendarat kita dapat langsung mengambilnya di depan pintu saat keluar dari pesawat. Stroller atau gendongan sangat bermanfaat jika kita membawa batita. Perjalanan yang cukup jauh dari pesawat ke tempat pengambilan bagasi seringkali melelahkan bagi kaki kecil mereka. Dengan stroller atau gendongan kita juga dapat memastikan anak-anak selalu ada di dekat kita, terutama ketika kita mengambil bagasi.

    Nah, itu dia 9 tips mudik aman, selamat dan nyaman menggunakan transportasi udara dengan anak-anak versi mamanya Cinta dan Keenan. Untuk tips yang lebih lengkap dan umum, bisa langsung baca-baca di akun media sosial Direktorat Jendral Perhubungan Udara yaitu Facebook Page dan Instagram atau ke situs http://selamanya.id/ dan jadilah bagian dari #SobatAviasi.

    Selamat mudik. Semoga selamat sampai tempat tujuan dan berkumpul dengan orang-orang tersayang. Mohon maaf lahir dan batin yaa.

     

  • anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger
    Blogger Profiles, Parenting

    5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

    Sekarang sudah bulan Oktober dan karena tahun ajaran baru di Brunei akan dimulai bulan Januari, akhir bulan ini kakak Cinta dan Keenan akan menjalani end year examination. Untuk kakak Cinta hal ini berarti mamanya harus sudah siap-siap bikin latihan soal-soal dari materi pelajaran sejak awal tahun sampai sekarang. Sedangkan untuk Keenan agak santai karena sekolahnya yang sekarang nggak ngasih ujian untuk anak KG 1, cuma ada evaluasi harian dari aktivitas dan perilaku sehari-hari aja. Setelah ujian selesai di minggu pertama bulan November nanti, siap-siap terima rapor dan kenaikan kelas deh. Dan karena berencana memindahkan Keenan ke sekolah baru, berarti harus mulai hunting sekolah dari sekarang.

    Beruntungnya tingal di Seria, meskipun nggak terlalu banyak pilihan sekolah tapi kita bisa daftar sekolah 1-2 bulan sebelum tahun ajaran dimulai, walaupun biasanya pendaftaran sudah mulai dibuka pada bulan Agustus. Berbeda dengan pengalaman saya dulu menyekolahkan kakak Cinta di sebuah kelompok bermain di dekat rumah kami di Gunung Sindur, Bogor sana. Saya harus mulai cari sekolah jauh-jauh hari bahkan pembayaran uang gedung dan lain-lain harus sudah diterima oleh sekolah beberapa bulan sebelum tahun ajaran berlangsung untuk memastikan Cinta mendapatkan tempat di sekolah tersebut. Di beberapa sekolah yang lebih ngetop di Jakarta, menurut pengalaman teman-teman saya, pendaftarannya malah bisa lebih awal lagi, ada yang harus indent 1-2 tahun sebelumnya. Jadi kalau mau masuk TK umur 4 tahun ya harus daftar mulai umur 2 tahun. 

    Soal memasukkan anak sekolah ini memang sering jadi dilema untuk orangtua ya, nggak cuma soal mencari sekolah yang seusai untuk anak dan kantong serta dekat dengan rumah, tapi juga soal kapan tepatnya anak mulai bersekolah. Bahkan hal ini merupakan salah satu keputusan penting yang kita buat dalam 5 tahun kehidupan anak. Untuk ini saya coba mencari pendapat dari seorang sahabat blogger yang pernah menjadi guru di kelompok bermain selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi guru bagi putranya di rumah, Anis Khoir.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    Menurut Anis dan beberapa ahli kesehatan anak serta parenting, ada beberapa faktor yang harus kita perhatikan sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak yaitu:

    1. Kesiapan Anak Untuk Bersekolah

    Kesiapan anak untuk bersekolah biasanya erat kaitannya dengan beberapa hal, yaitu berpisah dengan orangtua (atau pengasuhnya), adaptasi di lingkungan baru dan rentang konsentrasi. Jadi kalau memang anak masih belum siap, ya jangan dipaksa. Karena bagaimanapun menurut Anis, pengasuhan dan pendidikan di usia dini yang terbaik tetap dari ibu. 

    2. Usia

    Anis menyarankan supaya orangtua tidak memasukkan anak ke sekolah pada usia terlalu dini karena sebenarnya pada usia sampai 4 tahun yang dibutuhkan anak adalah lingkungan yang aman untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dan itu hanya didapatkan di rumah. Anak usia tersebut juga pada dasarnya belum terlalu perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya karena mereka belum bisa bermain bersama-sama, kalaupun nampak bermain berkelompok sebenarnya mereka sedang bermain bersama, alias asik dengan mainannya sendiri dan tidak berinteraksi satu sama lain.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    3. Kesehatan Anak

    Kalau anak kita selama ini memiliki kesehatan yang cukup baik, boleh aja masuk sekolah di usia dini. Hanya pastikan dia memiliki kekebalan tubuh yang cukup dan jumlah murid di kelas nggak terlalu banyak. Menurut Dr Anatoly Belilovski, dokter anak sekaligus direktur Belilovski Pediatric di Brooklyn, NY, semakin banyak jumlah anak di dalam kelas, semakin rentan anak tertular penyakit dari teman sekelasnya. Ini saya alami banget dengan Keenan, sejak masuk sekolah hampir setiap bulan terkena common cold. Bahkan dulu kakak Cinta ketika di KG 2 pernah juga tertular cacar air padahal sudah pernah vaksin cacar air dan saat itu 9 anak dalam 1 kelas mendapat cacar air. Karena itu, Dr. Belilovski menyarankan kalau anak pernah mengalami infeksi serius seperti infeksi telinga, bronkhitis dan lainnya, sebaiknya tunda dulu keinginan untuk menyekolahkan dia sampai kekebalannya lebih baik.

    4. Tingkat Konsentrasi

    Ini yang sering dikeluhkan oleh para guru kelompok bermain, ya setidaknya dalam kasus saya sejak Keenan masuk sekolah sering sekali mendapatkan keluhan bahwa Keenan nggak mau duduk diam di kelas. Bahkan baru saja beberapa hari yang lalu gurunya Keenan cerita kalau Keenan nggak mau belajar menulis dan lebih memilih berjalan-jalan di dalam kelas. Tapi sebenarnya memang rentang konsentrasi anak usia pra sekolah masih rendah, walaupun menurut Rachel Rudman, seorang terapis khusus okupasi anak, anak diharapkan dapat berkonsentrasi sesuai dengan usianya, misalnya Keenan sekarang umur 3,5 tahun, dia seharusnya bisa duduk dan mengerjakan sesuatu dengan tenang selama 3,5 menit. Namun, Rudman menambahkan bahwa seharusnya kesulitan konsentrasi bukan penghalang anak untuk bisa bersekolah, bahkan dalam beberapa kasus, dengan bersekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi. Jadi kalau anak sudah mampu fokus untuk menyelesaikan puzzle sederhana, menggambar selama beberapa menit, menyusun balok kayu atau lego, berarti dia aman untuk masuk sekolah.

    5. Choose Wisely

    Ketika anak memang harus bersekolah di usia dini, baik karena kedua orangtuanya bekerja dan nggak ada pengasuh; ibu tinggal di rumah tapi merasa nggak bisa memberikan stimulasi maksimal untuk perkembangan si anak; atau seperti kasus saya yang menjadikan sekolah sebagai pengganti terapi, maka Anis menyarankan untuk memilih sekolah yang benar-benar memahami tumbuh kembang anak, seperti:

    • Jam pelajaran tidak terlalu lama
    • Memiliki kebijakan yang lebih longgar berkaitan dengan school separation anxiety, alias mengijinkan ibu atau pengasuh untuk menemani anak di sekolah sampai ia benar-benar siap untuk ditinggal sendiri.
    • Program yang dimiliki tidak memaksa anak untuk keluar dari zona nyamannya. Artinya, ya semua aktivitas di dalam kelas benar-benar disusun dalam rangka yang menyenangkan bagi anak. Hal ini penting supaya anak memiliki pengalaman yang positif di tahun pertamanya bersekolah.

    Nah, kalau ternyata kita memutuskan untuk menunda anak bersekolah sampai usianya lebih matang tapi bingung apa saja aktivitas yang bisa kita lakukan bersama anak di rumah, main-main saja ke blog http://www.aniskhoir.com. Meskipun belum terlalu banyak, blog yang ditulis oleh ibu muda lulusan Pendidikan Matematika ini berisi beberapa permainan sederhana yang dapat kita buat untuk anak seperti ublek dan pasak konsentrasi serta tip supaya balita kita gemar membaca.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    Blog ibu dari 1 putra bernama Hazwan ini juga berisi tentang berbagai informasi menarik seputar Tuban, kampung halaman suami saya. Sayang saya belum sempat kopdar dengan Anis saat mudik ke Tuban lebaran lalu dan karena bulan lalu rumah mertua akhirnya laku terjual dan beliau pindah ke Surabaya untuk tinggal bersama adik ipar saya, sepertinya tahun-tahun mendatang kami nggak akan mudik Tuban lagi. Jadi agak nyesel gitu baru sempat kenal dengan blog lifestyle yang mulai serius ditekuni Anis sejak bulan Juli 2016 lalu, meskipun dia sudah ngeblog mulai tahun 2009. Lebih nyesel lagi karena baru tahu di Tuban juga ada komunitas blogger Tuban, coba kalau tahu kan tiap mudik ke Tuban nggak cuma ngedekem di rumah aja ya. Masa 10 tahun jadi mantunya orang Tuban cuma tahu Bravo, Samudera, alun-alun, Gua Ngerong dan RM Kurnia Dewi sih. Bahkan ke Pantai Boom yang dekat rumah aja saya belum pernah. Zzzzz. Sungguh rugi saya.

    Tapi nggak rugi kok main ke blog milik mahmud abas kelahiran kota Kediri yang tampilannya bertema minimalis ini. Artikel-artikelnya ditulis dengan manis dalam gaya bahasa serius tapi tidak membosankan. Banyak hal-hal baru yang bisa didapat di sana, bagi saya yang menarik tentu soal parenting dan Tuban. Tapi yang lain juga tidak kalah seru. Hanya saja saya berharap Anis bisa lebih rajin lagi mengisi blognya supaya pembaca yang main ke sana bisa selalu mendapatkan bacaan segar yang menarik.

  • inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall
    Parenting

    Inspirasi Hadiah Ulang Tahun Istimewa untuk Anak Perempuan

    Ulang tahun menjadi momen bahagia bagi sebagian besar orang, tak terkecuali untuk anak-anak. Sudah bisa dibayangkan betapa gembiranya anak-anak ketika mendapatkan hadiah di hari istimewanya. Selain mempertimbangkan harga hadiah yang akan diberikan, hadiah tersebut juga harus bermanfaat bagi anak-anak.

    Sering bingung memilihkan hadiah ulang tahun untuk anak perempuan?

    inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall

    Beberapa ide berikut ini tentu bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat bagi kita :

    Perlengkapan Sekolah

    Anak perempuan yang sudah memasuki usia sekolah pasti membutuhkan perlengkapan sekolah untuk menunjang aktivitasnya. Tas ransel, alat tulis, dan meja belajar mini tentu akan membuatnya makin bersemangat saat belajar. Jangan lupa memilihkan perlengkapan sekolah dengan tokoh kartun favoritnya agar anak-anak merasa terkejut ketika menerima hadiah yang ia sukai.

    Tablet PC

    Advan PC Tablet, Tablet PC, Advan, hadiah ulang tahun untuk anak perempuan

    Karena anak-anak masa kini sudah mengenal internet, tablet PC juga bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat. Aneka koleksi tablet Advan di bawah 1 juta yang ada di MatahariMall memudahkan kita untuk memberikan hadiah. Jangan lupa mencermati spesifikasi tablet PC sebelum membelinya agar tablet PC tersebut sesuai dengan kebutuhan mobile anak-anak.

    Sepeda Baru

    Sepeda akan membuat anak-anak lebih aktif bermain di luar rumah. Jika jarak rumah dan sekolah berdekatan, sepeda juga membuat anak perempuan bisa berangkat sendiri ke sekolah. Ajarkan peraturan lalu lintas sederhana pada anak supaya anak bisa mengendarai sepeda barunya dengan baik saat berada di jalan.

    Aneka Buku Cerita

    Tak sekadar membuat anak terhibur, buku cerita juga melatih kemampuan anak dalam hal menyimak dan berimajinasi. Kumpulan dongeng nusantara atau fabel populer dunia tentu disukai oleh anak-anak. Ajak pula anak untuk merawat buku-bukunya dengan benar sehingga buku tersebut tahan lama dan tak mudah rusak.

    Dekorasi Kamar Pribadi

    girl bedroom, inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift

    Menata ulang kamar anak bisa menjadi hadiah yang istimewa dan tak terlupakan. Gunakan warna-warna favorit anak, lemari dan meja belajar, seta ranjang baru untuk membuat suasana kamar anak lebih istimewa. Selanjutnya, ajaklah anak untuk menjaga kebersihan kamar pribadinya dengan baik setiap hari.

     

    Sumber foto:

    Pixabay.com, MatahariMall.com, House.rarevancouver.com

  • arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting
    Blogger Profiles, Parenting

    Tips Mengajak Anak Berkomunitas Oleh Susi Ernawati

    Oke, peringatan hari Kartini sudah lewat 2 minggu yang lalu. Menyisakan foto-foto bocah-bocah lucu mengenakan aneka pakaian daerah atau kostum profesi yang masih rajin beredar di media sosial. Serta perdebatan tiada akhir tentang kenapa Kartini yang dipilih pemerintah untuk menjadi simbol perjuangan wanita Indonesia. Kenapa bukan Cut Nyak Dien yang ditakuti penjajah, kenapa bukan Dewi Sartika yang memiliki beberapa Sakola Istri untuk perempuan, kenapa bukan Martha Christina Tiahahu yang turun langsung ke medan perang, kenapa bukan pahlawan nasional wanita lainnya yang jasanya nyata demi kemerdekaan Indonesia.

    Well, karena Kartini menurut saya mewakili banyak perempuan Indonesia. Perempuan-perempuan cerdas, bercita-cita tinggi, memiliki kemauan kuat tapi terpaksa tunduk pada adat dan peran domestik. Kartini berjuang dengan caranya sendiri dalam keterbatasannya sebagai seorang anak yang berbakti, istri yang mengabdi pada suaminya, as a devoted mother (for her step children)And, she’s a writer. Kartini menuliskan semua kisahnya, impian dan isi hatinya lewat surat kepada sahabat-sahabatnya. Meski tak semua impiannya menjadi nyata karena ia meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, seperti juga yang banyak terjadi pada perempuan di Indonesia, surat-surat tersebut kemudian menjadi legacynya. Menjadi inspirasi bagi banyak orang. Bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Bahwa meski tetap tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga, bukan berarti ia akan berhenti bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bahwa tidak harus mengangkat senjata untuk menjadi pahlawan.

    Kartini adalah kita. Para ibu yang menulis, berbagi inspirasi kepada orang lain. Para ibu yang di sela waktu luangnya mengabdikan diri untuk kegiatan-kegiatan sosial. Kartini adalah Susi Ernawati. Seorang blogger dari Jepara, founder dan admin grup Mompreuner Indonesia, penggagas beberapa gerakan sosial di Jepara dan seorang istri dan ibu dari 2 orang anak lelaki.

    SUSI ERNAWATI SUSINDRA

    Sebagai seorang blogger, kiprah Susindra, begitu beliau dikenal, tak perlu diragukan lagi. Lifestyle blog ‘Cakrawala Susindra‘ miliknya telah mencapai Alexa Rank di angka 390ribuan dalam waktu 1,6 tahun setelah domain http://susindra.com diluncurkan. Nilai DA/PAnya pun berada di angka cukup bagus yaitu 30 dan 41 dengan total page views mendekati 1,7juta.

    arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting

    Selain Cakrawala Susindra, Susi juga mengelola beberapa blog lain serta menjadi admin di komunitas Warung Blogger dan founder merangkap koordinator Blogger Jepara Community. Dalam blognya, Susi banyak sekali mengulas tentang kegiatan atau tempat-tempat menarik di Jepara. Karena pengetahuannya yang luas tentang kabupaten tercintanya dan kefasihannya berbahasa Perancis, Susi juga sering menjadi pemandu bagi turis atau peminat furniture asal Perancis.  

    Baca Juga: Siapa Susindra

    Ia juga aktif di berbagai kegiatan sosial di Jepara, salah satunya adalah Gerakan Pungut Sampah. Tak hanya itu, kesibukan sehari-harinya selain mengurus rumah tangga adalah mengelola toko furniture Susindra Furniture. Benar-benar contoh nyata Kartini masa kini yang bermanfaat bagi sekitarnya ya.

    Saat aktif berkomunitas, tak jarang Susi mengajak kedua buah hatinya Destin dan Binbin, apalagi jika acara tersebut berlangsung di akhir pekan. Jadi sekali dayung dua pulau terlampaui, yaitu melakukan kegiatan sosial sambil menikmati waktu berkualitas bersama anak-anak. Selama ini, anak-anak Susi dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan hati riang. Dan menurut penghobi kerajinan tangan ini, ia memang sengaja melibatkan anak-anak agar kelak mereka menjadi pribadi yang ramah dan pandai berorganisasi.

     

    arisan link, blogger perempuan, susi susindra, susi ernawati, cakrawala susindra, parenting

    The Susindra. Sumber foto FB susi.susindra

    Tapi gimana sih caranya supaya anak mau mengikuti kegiatan orangtuanya berkomunitas? Kan selama ini kegiatan anak-anak identik dengan bermain dengan gadget, jalan-jalan di mall, menelusuri tempat wisata di luar atau dalam kota atau paling banter ya nonton tv. Tips berikut ini mungkin bisa kita ikuti:

    1. Kenali Kepribadian Anak

    Sebelum kita mengajak anak mengikuti kegiatan komunitas yang sebagian besar anggotanya orang tua, sebaiknya kita kenali dulu usia dan kepribadian anak kita. Anak yang outgoing mungkin bisa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sedangkan anak introvert dan pemalu membutuhkan pendampingan lebih lama untuk dapat merasa nyaman dalam komunitas kita.

    2. Pilih Kegiatan yang Ramah Anak

    Nggak semua kegiatan komunitas yang harus dihadirinya, Susi mengajak anak-anak. Destin dan Binbin hanya ikut kegiatan seperti piknik atau tadabur alam yang diadakan oleh Folkom (Forum Lintas Komunitas) atau acara yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional Jepara yang selalu berorientasi pada anak, seperti Play Day for Kids with Morinaga Chil-Go. Kegiatan yang menyenangkan seperti ini dapat membuat anak-anak ikut dengan senang hati dan mendapatkan pengalaman berharga.

    3. Beri Kesempatan Anak Bermain dengan Teman-Temannya

    Meskipun Susi kerap memanfaatkan kegiatan sosial dengan komunitasnya sebagai family time, ia tetap memberikan waktu kepada anak-anak untuk menghabiskan akhir pekan mereka dengan teman-teman sebaya mereka di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan demikian anak-anak dapat menikmati dunianya sendiri.

    Nah, ternyata nggak susah kan mengajak anak-anak berkegiatan dengan komunitas kita? Yuk, kita coba.

  • hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan
    Daily Stories, Parenting

    Makna Sebuah Pelukan

    Dear Kakak Cinta,

    Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

    Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

    Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

    Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

    mothers day, handmade card, kids activities

    Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

    Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

    Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

    Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

    Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

    Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

    Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

    -Peluk-

    Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

    Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

    Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

    Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

    Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

    Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

    Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

    Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

    Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

    Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

    Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

    Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

    Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

    hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

    Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

    Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

    Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

    Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

    Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

    Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

    29 Maret 2016
    Elly Risman

    Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

    Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

    Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

    Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

    Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

    Maaf ya, Kak.

    Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

     

  • pra remaja, anak pra remaja,
    Blogger Profiles, Parenting

    Bersahabat Dengan Si Pra Remaja Dari Kacamata Mutia Erlisa Karamoy

    Beberapa waktu yang lalu, saya ngobrol dengan teman baik saya Shelvy Waseso tentang suka duka membesarkan anak-anak gadis kami yang beranjak remaja. Karena Air berusia lebih tua 2 tahun dari Cinta, tentu saya yang lebih banyak belajar kepada Vei. Dari perbincangan itu, terpikir untuk membuat blogpost tentang bagaimana caranya supaya kita tetap dekat dengan si pra remaja. Tapi, karena kesibukan, ide itu menguap begitu saja, sampai saya mengunjungi blog elisakaramoy.com.

    Pada blog yang dimiliki oleh Mutia Erlisa Karamoy ini, saya menemukan sebuah cerita menarik tentang hobi terbaru putra sulungnya yang berusia 12 tahun. Dalam postingan yang berjudul Nak, Apa Sih Menariknya Klakson Bus Telolet?, Mutia, panggilan akrab ibu beranak 3 ini, bercerita tentang tren yang sedang kekinian di kalangan anak pra remaja saat ini, yaitu merekam aneka klakson bus dan mengunggahnya di akun instagram mereka. Menarik juga ya? 

    Ternyata, bukan hanya cerita tersebut yang membuat saya betah berlama-lama di blog penulis lepas yang juga berprofesi sebagai ghost writer ini. Karena saya lebih sering browsing menggunakan telepon genggam, blog yang responsive atau mobile friendly tentu lebih nyaman dibaca seperti blog elisakaramoy.com ini. Tulisan-tulisan yang ada di dalamnya juga diramu dengan apik, sehingga nggak membosankan meski cukup panjang. Seperti cerita tentang klakson bus itu, saya bisa membayangkan anaknya Mutia berlari-lari bersama teman-temannya mendatangi bus yang terparkir di dekat perumahan mereka.

    Tampilan blog Mutia juga manis dan sederhana. Meski menggunakan theme bawaan dari blogspot, nggak terkesan kaku. Kebetulan juga kapan hari ada teman yang ingin membuat blog tapi bingung mengutak-atik tampilan blognya supaya nggak kaku. Nah, sepertinya saya akan menyarankan supaya dia belajar dari Mutia aja ya.

    elisa karamoy, lifestyle blogger, blogger perempuan, indonesia blogger

    Kembali ke cerita klakson bus, saya pun jadi teringat ide membuat blogpost tentang mengasuh anak pra remaja dan akhirnya menghubungi Mutia untuk meminta saran-sarannya. Senangnya, beliau pun memberikan respon positif, sehingga tulisan ini akhirnya selesai juga.

    Apa sih menariknya membahas tentang hubungan orangtua dengan ABG? Well, menurut saya, usia pra remaja yang berada di rentang 10-12 tahun ini cukup tricky. Di satu sisi mereka sudah nggak bisa lagi disebut anak-anak, bahkan mungkin ada yang sudah memasuki akil baligh. Di sisi lain, belum cukup dewasa untuk diberi kebebasan lebih seperti remaja pada umumnya. Nanggung gitulah.

    Anak-anak pra remaja ini biasanya mulai mengalami perubahan hormon yang besar sebagai proses yang berujung pada kematangan seksual, dan sebagai mama, kita tahu dong efek perubahan hormon ini bagaimana. Kalau tiap bulan kita mengalami mood swing dan merasa labil karena efek pre menstruasi syndromeya kira-kira begitulah yang sedang mereka alami, tentu dengan kadar yang berbeda dan rentang waktu yang lebih panjang. 

    Tekanan dari teman-teman sepermainan, keinginan mereka untuk mandiri, kurang fokus dengan keluarga seringkali membuat perilaku abege kita berubah. Hal ini kerap jadi konflik antara ortu dan anak, sehingga nggak jarang akhirnya papa dan mama memilih untuk menjaga jarak dengan anak baru gedenya. Padahal, di masa seperti ini, anak membutuhkan rumah yang aman dan nyaman sebagai landasan mereka untuk melebur ke dunia luar yang menarik sekaligus menakutkan bagi mereka.

    Dan satu-satunya cara supaya anak dapat melalui masa pra remaja ini dan menciptakan landasan yang kokoh bagi masa remaja yang hadir setelahnya, adalah dengan mempertahankan ikatan yang kuat dengan mereka. Untuk itu, meskipun sebagai blogger dan penulis ia aktif di aneka kegiatan yang melibatkan blogger dan suka berkomunitas di Emak Blogger, Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Komunitas Ummi Menulis, Mutia selalu berusaha supaya tetap dekat dengan anak-anaknya yang tengah dan hendak memasuki usia pra remaja dengan cara seperti berikut ini:

    pra remaja, anak pra remaja,

    Bersahabat Dengan Si Pra Remaja Dari Kacamata Mutia Erlisa Karamoy

    Melek Teknologi

    “Anak saya dekat dengan saya karena saya tahu sedikit banyak tentang teknologi, hal yang menarik bagi remaja.”

    Anak sekarang atau yang sering disebut generasi digital, bisa dibilang tumbuh besar dengan perkembangan teknologi. Mulai dari tv, komputer, telepon genggam, tablet, game console dan masih banyak lagi. Mereka juga sangat akrab dengan media sosial meski sebagian besar memberikan syarat usia minimum 13 tahun bagi seseorang untuk memiliki akun media sosial.

    Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenal bahkan kalau perlu ikut update dengan perkembangan dunia digital ini. Nggak perlu sampai menjadi ahli tapi minimal kita bisa jadi tempat bertanya bagi anak. Seperti Mutia yang nggak segan belajar tentang teknologi secara otodidak sebagai efek samping sebagai blogger dan penulis. 


    pre remaja, parenting, generasi digital, orangtua melek teknologi

    Kenali Teman-Temannya

    “Saya berusaha kenal dengan teman akrabnya. Kadang teman-temannya saya suruh main ke rumah. Biarin deh ribut ngobrol, yang penting saya bisa memantau perilaku dan cara bergaul mereka.”

    Pada usia ini, anak-anak biasanya lebih dekat dengan peer groupnya atau bahasa gaulnya, teman sepermainan. Untuk itu usahakan kita selalu mengenal teman-teman mereka, bahkan kalau perlu kita berteman juga orangtuanya. Tapi tentu tidak bijaksana melarang anak kita bergaul dengan teman tertentu hanya karena orangtua atau lingkungannya kurang baik. Justru ini menjadi kesempatan kita dan anak untuk belajar menerima orang lain dengan tangan terbuka dan hati yang hangat. Untuk itu, anak harus dibekali landasan yang kuat terlebih dahulu supaya nggak mudah terjerumus ke dalam lingkungan yang negatif.

    Selain itu, menjadikan rumah kita markas atau tempat berkumpul anak dan teman-temannya juga dapat menjadi cara supaya kita tetap dekat dengan anak. Meskipun rumah kita jadi berisik dan berantakan, dengan cara ini bisa jadi teman anak-anak pun dekat dengan kita. Sehingga kita dapat memantau mereka atau mendapatkan informasi dari temannya tentang hal-hal yang mungkin nggak diberitahukan anak ke kita.

    Stay Connected


    “Menurut saya yang paling penting (kita) harus dekat dengan si ABG. Sering ngobrol layaknya teman biar bisa menjajaki dunianya.”

    Dengan cara makan malam bersama sambil mendengarkan cerita-ceritanya di sekolah hari ini. Tahu nggak sih, mom, anak yang terbiasa makan bersama keluarga memiliki resiko lebih rendah dari menggunakan narkoba, minum alkohol, melakukan hubungan seks di usia dini dan mengalami depresi atau kecemasan. 

    Manfaatkan juga waktu sebelum tidur untuk ngobrol dengan ABG kita, biasanya saat santai seperti itu anak lebih mudah untuk cerita. Tapi berusahalah jadi pendengar yang baik, ya, Mom. Kalau mereka bercerita tentang sesuatu yang kita nggak suka jangan langsung dihakimi. Nanti bisa-bisa mereka malas ngobrol lagi sama kita.

    Nah, itu dia beberapa saran dari Mutia. 

    Bagaimana dengan sahabat Pojok Mungil? Apa cara yang mama atau papa lakukan supaya tetap dekat dengan anak di usia pra remajanya? Sharing di kolom komentar, yuk.

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Bisa Di Mana Saja

    Ini sebenarnya very late post, kisah tentang liburan Desember kemarin waktu kami mudik sebulan ke Indonesia.

    Ceritanya, saya minta tolong mama saya untuk mencarikan tempat kursus yang punya program liburan untuk mengisi waktunya Cinta. Ya, daripada di rumah cuma nonton tv dan youtube kan lebih baik kalau bisa les gambar kek, pesantren kilat kah, les bikin robot, les renang atau kegiatan apalah yang bermanfaat gitu. Mumpung banyak waktu luang dan ada yang bisa antar jemput.

    Sayangnya, dari dua lembaga bimbingan belajar ternama yang didatangi mama, nggak ada yang menawarkan short course. Yang satu, sebut saja Kumon, bilangnya kegiatan mereka adalah aktivitas jangka panjang yang nggak bisa dipelajari cuma dengan tiga empat kali pertemuan. Ya, masuk akal sih, model-model gitu memang harus kontinyu kalau mau mendapatkan hasil yang baik.

    Sedangkan lembaga kursus yang satu lagi, yang bergerak di bidang seni, nggak secara langsung bilang bisa atau enggak. Dia cuma menanyakan nomer telepon dan berjanji akan mengabari kami lagi. Padahal saat ditelpon mama saya, dia bilangnya bisa, tapi waktu saya datang untuk daftar dan Cinta dites lalu saya bilang lagi bahwa saya hanya perlu program singkat untuk mengisi liburan, lagi-lagi cuma janji bakal ngabarin. Yang sampai saya kembali ke sini nggak pernah saya dengar kabarnya lagi.

    Sebenarnya to be fair, mbak resepsionisnya sudah menawarkan supaya saya daftar penuh aja karena tempat kursus ini cabangnya ada di berbagai negara, termasuk Brunei, jadi saya nanti bisa meneruskan ke cabang di sini setelah liburan usai. Tapi saya nggak mengiyakan karena belum tahu sistemnya yang di Brunei seperti apa. Kan rugi saya nanti kalau harus bayar biaya pendaftaran yang lumayan mahal itu dua kali hihihi #emakpelit.

    Akhirnya setelah sempat mati gaya selama beberapa waktu, saudara saya menawarkan Cinta untuk ikut les mewarnai di tempat les yang diikuti oleh anaknya. “Cuma seminggu sekali, Mbak. Murah lagi. Tinggal beli krayon sama meja gambarnya aja.”

    Berhubung anaknya mau, ya udah saya ikutin deh les mewarna di sana. Sesuai dengan saran saudara saya itu, sebelum ke tempat les mampir dulu ke toko Pelangi cari krayon Titi 48 warna dan meja gambar. Trus jemput ponakan untuk sama-sama ke tempat lesnya.

    Sesampainya di sana, ibu pengurus sanggar langsung menyambut dengan ramah, dan mempersilakan anak-anak masuk ke ruangan tempat mereka belajar. Cinta sempat kaget liat tempatnya, sambil bisik-bisik dia bilang, “I thought the place would be nicer.” Mungkin dia ngebandingin sama tempat les satunya itu. Tapi, saat pulang les, Cinta sudah nggak lagi mempermasalahkan soal tempat. Dia dengan semangat menunjukkan hasil lesnya dan mencoba bikin PRnya di rumah.

    Menurut saya yang orang awam soal seni ini, teknik mewarna yang diajarin oke juga. Selain gradasi warna, anak-anak juga belajar menentukan tentang bayangan, bagian yang harus ditebal tipiskan sampai cara mencampur warna supaya nampak natural. Gambar yang harus diwarna pun bertahap dari yang sederhana sampai rumit. Sayang sih, buku mewarnanya Cinta nggak kebawa ke Brunei jadi saya nggak punya foto hasil mewarnanya.

    sanggar lukis anak devina sidoarjo, sidoarjo, sanggar lukis anak, les menggambar, kursus mewarna

    Cinta dan Levina di Sanggar Devina Cab. Lemah Putro, Sidoarjo. Look at their happy faces.

    Setelah saya tanya-tanya, meski sederhana, ternyata tempat les itu lumayan terkenal sekabupaten Sidoarjo, cabangnya banyak. Namanya Sanggar Lukis Anak Devina. Cabang tempat Cinta dan Yasmine belajar beralamat di Lemah Putro Kelurahan no 6-8 Sidoarjo, dengan pembina Pak Rahman dan Bu Novi.

    Biaya kursusnya cukup terjangkau kok. Untuk tingkat dasar hanya perlu membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000, uang kaos Rp 65.000 dan bulanan Rp 50.000. Karena Cinta cuma ikut program liburan, bu Novinya bilang nggak perlu bayar uang pendaftaran dan beli kaos. Jadi saya hanya perlu membayar Rp 50.000 untuk 4 kali pertemuan dalam sebulan. Sudah dapat 1 jilid buku mewarna lagi. Kalau perlu tambahan buku mewarna tinggal bayar Rp 5.000 per buku. Murah banget kaaaan. Bahagianya emak irit ini.

    Baca juga Berlomba Saat Libur Sekolah

    Dari Sanggar Lukis Devina ini juga Cinta bisa ikut lomba mewarnai New Era Desember yang lalu. Dan rupanya mereka juga sering mengadakan acara lomba seperti itu. Sayang sih, Cinta cuma sempat belajar 2 kali pertemuan. Tapi tetap ada ilmu yang dia dapat dan bisa terapkan sampai sekarang. Malahan yang dulunya dia nggak suka mewarnai sekarang jadi lebih telaten main gradasi warna.

    Baca juga Cinta dan Children’s Enikki Festa.

    Jadi ya pengalaman buat saya, yang namanya belajar itu bisa dari mana saja, dari siapa saja. Mungkin yang mahal dan bergengsi itu bagus tapi yang sederhana pun seringkali tidak kalah kualitasnya. Yang penting semangat belajarnya aja yang dijaga. Bener nggak?

    Hmmm, insya Allah Juni nanti mau mudik lagi. Pengen bawa Cinta belajar di Sanggar Lukis Devina lagi ah, trus belajar apa lagi ya? Ada masukan ide, mungkin?