Secercah Harapan di Tahun Baru

secercah harapan

Tepat di penghujung tahun lalu, badai hebat menerjang kehidupan kami. Kehidupan saya tepatnya. Begitu dashyatnya hingga kapal yang saya tumpangi nyaris karam. Saya terpuruk, depresi bahkan bukan cuma sekali dua kali berpikir untuk mengakhiri hidup karena merasa telah kehilangan segalanya mulai lebay.

Begitu banyak yang saya benci; hidup saya, pasangan saya, diri saya sendiri, bahkan saya pun marah kepada Tuhan. Tahun 2009 pun menjadi tahun terkelam dalam perjalanan hidup saya selama ini.

Tapi, berkat dukungan orang-orang terhebat saya perlahan mulai bangkit. Menyusun kembali puing-puing yang berserakan. Tak mudah, kadang saya kembali terjatuh untuk kemudian berusaha bangkit. Perjalanan itu sungguh melelahkan dan menyakitkan.

Akhir tahun ini saya mulai menemukan kembali hidup saya yang pernah “hilang”. Walaupun masih rapuh tapi saya yakin perlahan tapi pasti saya akan bisa kembali berdiri tegak. Rencana demi rencana hidup sedikit demi sedikit mulai saya susun lagi.

Saya berharap di tahun ini ada secercah harapan baru untuk kebahagiaan. Resolusi saya di tahun 2010 tidak muluk, saya hanya ingin bisa kembali mencintai, khususnya mencintai diri saya sendiri dan apa yang saya miliki. Juga memperbaiki hubungan saya denganNya, menyatukan lagi keluarga saya, lebih mengasihi orangtua, saudara dan the in laws serta mendekatkan diri kepada teman-teman yang tak pernah lelah mendukung saya ketika terpuruk.

Selamat tahun baru 2010, selalu yakini akan ada pelangi di setiap badai yang menerjang. Dan apapun yang terjadi, selama kita kuat dan bertahan segalanya akan berubah menjadi lebih baik. :*

Gambar diambil tanpa ijin dari sini.

Pekerjaan Saya Keren

 

playmobil-199904_1920

Baca postingan di Ngerumpi.com tentang Pekerjaan yang Keren, saya jadi ingat beberapa pekerjaan yang pernah saya jalani dan yang sekarang saya lakoni. Sebagai lulusan S1 Psikologi tentunya saya berharap bisa berkecimpung di bidang ke HRD-an atau lembaga-lembaga konsultasi psikologi tapi nyatanya dari sekian tahun masa kerja cuma 1 tahun yang saya habiskan sebagai HR officer.

Lulus kuliah, saya lantas menebarkan CV kemana-mana. Bank, perkantoran, biro-biro tes psikologi, dll. Anehnya eh dasar rejeki saya disana, yang sering menanggapi lamaran saya adalah Bank, ada 3 bank besar yang siap menerima saya dalam waktu bersamaan untuk posisi frontliner alias CS dan Teller. Yang satu saya tolak karena penempatannya di derah terpencil Jawa Timur, yang satunya tidak saya tanda tangani kontrak kerjanya karena tidak melihat adanya jenjang karir bagi frontliner. Yah, masa hidup mati mau jadi CS/Teller terus pikir saya waktu itu. Akhirnya saya pun menambatkan hati di bank yang berdominasi merah itu.

Di pekerjaan pertama ini saya merasa keren dengan seragam blazer & rok span pas badan merah dan abu-abu yang seksi itu. Plus make up lengkap, tatanan rambut rapi dan high heels cantik menghiasi kaki saya. Apalagi ketika dapat tugas jaga cabang kecil di sebuah kampus teknik negeri yang terkenal di kota saya. Ihiy, kesempatan tampil lebih cantik. Maklum, masih lajang. Siapa tahu ada mahasiswa atau dosen lajang yang “nyantol”.

Dua tahun mengabdi disana, saya berhenti karena mendapat kesempatan menggapai cita-cita sebagai HR Officer di sebuah gedung perkantoran elit di daerah Gatot Subroto Jakarta. Seragam merah seksi itu berganti dengan setelah celana panjang dan blazer rapi, kadang kemeja dan rok pas badan atau mini dress rangkap cardigan dipadu dengan high heels & tas yang serasi. Harus rapi dan cantik karena titel lebih keren dan satu gedung dengan perempuan-perempuan Jakarta yang super cantik-cantik itu.

Saat akan melahirkan, saya pulang ke kota kecil dimana orangtua saya tinggal. Beberapa bulan kemudian kembali bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta. Penampilan tetap rapi walaupun arahnya sudah mulai berubah. Celana panjang, kemeja cantik, sesekali blazer dan rok panjang menjadi andalan saya saat itu.

Sekarang? Saya menjadi pekerja domestik. Kemeja dan celana panjang berubah menjadi kaos dan celana jins, blazer dan rok span digantikan oleh daster. High heels berganti menjadi sandal teplek atau sepatu karet buaya. Diaper bag atau postman bag menggantikan tas cantik nan modis favorit saya.

Rapat dengan bos sekarang berarti bermain dengan pensil warna, buku gambar, crayon. Bertemu klien atau nasabah berganti dengan arisan ibu-ibu playgroup. Ruang kerja saya bukan lagi kubikel mungil melainkan seluruh ruangan di rumah.

Jabatan saya sekarang adalah koki, supir, babysitter, guru, manajer keuangan, tukang cuci dan setrika dan masih banyak lagi. Jam kerja bukan hanya 9 jam tapi 24 jam, tanpa gaji, tanpa asuransi kesehatan, tanpa tunjangan. Pekerjaan saya sekarang adalah pekerjaan yang sering diremehkan orang (termasuk saya dulu), sama sekali nggak keren. Tapi saya merasa nyaman dan mencintai profesi seumur hidup ini. Yah, saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.

Bijak berbagi ilmu

Beberapa hari yang lalu saya membaca surel dari milis ibu dan anak yang saya ikuti. Penulis surel tersebut bercerita bahwa ia telah menegur saudaranya yang memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) instan untuk anaknya. Saking gemesnya si penulis kepada saudaranya ia mengatakan “percuma kamu kasih ASI Eksklusif kalau makannya bukan buatan rumah.” Beruntung moderator sekaligus pemilik milis bijaksana, ia mengingatkan penulis bahwa tidak semua orang suka dikritik seperti itu.

Saya pun teringat beberapa surel dari milis kesehatan yang memberi label bahwa orangtua yang membawa anaknya yang sedang sakit ke dokter dan tidak mengikuti guidelines hometreatment dari WHO adalah orang tua yang irrational medical use (IRUM) apalagi ketika si anak diberi antibiotik. Di milis satunya juga tidak sedikit ibu-ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif dan diteruskan hingga 2 tahun seperti saran IDAI memberikan pandangan miring kepada ibu-ibu yang terpaksa memberikan susu formula kepada anaknya tanpa mau tahu penyebabnya. Hal-hal seperti ini yang kadang membuat saya enggan membaca satu persatu surel dari milis-milis yang saya ikuti. Tapi pengetahuan dan ilmu yang saya peroleh dari milis itu sangat membantu saya yang belum berpengalaman membesarkan anak.

Saya, alhamdulillah bisa memberikan ASI Eksklusif dan berhasil menyapih di usia 2 tahun walaupun sempat juga memberikan sufor karena suatu dan lain hal. Juga alhamdulillah bisa memberikan masakan rumah buatan sendiri untuk Nad walau tidak jarang ikut saya makan diluar rumah yang tentunya tidak bisa dipastikan bebas MSG. Saya juga berusaha untuk tidak mudah membawa anak ke dokter selama yakin penyakitnya hanyalah common problems in pediatric walaupun tetap menganggap bahwa dokter adalah sahabat dan partner terpercaya dalam masalah kesehatan anak. Hanya saja saya tetap merasa tidak berhak menganggap diri saya lebih baik daripada ibu-ibu lain yang tidak sealiran dengan saya.

Setiap orangtua pasti berusaha untuk merawat dan memberikan yang terbaik bagi anaknya sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka. Dan ketika kita dikritik dengan keras mengenai cara kita membesarkan anak, sebagian besar pasti akan bereaksi defensif  lalu semakin menutup diri dan berusaha meyakinkan bahwa caranyalah yang paling benar. Seandainya si penulis surel pertama tadi memberikan saran dengan mengajak saudaranya masak dan makan bersama di rumah serta memberitahu kiat masak MPASI rumahan yang praktis tentu saudara tadi akan sedikit terbuka hatinya. Atau daripada hanya mencemooh ibu-ibu pemberi sufor, bukankah lebih baik mendekati penggiat posyandu atau aktif disana lalu memberikan penyuluhan mengenai kebaikan ASI, tatacara pemberian ASI, membantu saat ada yang kesulitan menyusui.

Milis dan internet saat ini adalah sumber informasi yang sangat mudah didapat. Namun, tidak semua orangtua bisa menikmati fasilitas tersebut. Ada yang masih berpatokan dengan “kata orangtua, kata dokter atau biasanya begini” sehingga pengetahuan baru sulit diserap. Kita yang diberi kelebihan pengetahuan sebaiknya saling berbagi namun tetap memperhatikan cara penyampaian dan waktunya. Dengan bahasa dan cara yang baik, penyampaian suatu informasi terutama mengenai kesehatan anak tentu lebih mudah diterima. Jangan lupa, orangtua muda terutama yang baru pertama kali punya anak pastinya akan lebih suka bila memiliki sahabat berbagi daripada pengkritik.

Mailing list adalah tempat mencari ilmu, bertukar pikiran tapi bukan berarti orang lain yang tidak sealiran dengan kita di milis tersebut selalu salah. Jujur aja saya kasihan dengan anak-anak “sapi” yang terlanjur dicap nggak pinter karena nggak diberi ASI. Ada beberapa kasus balita meninggal karena orangtuanya terlalu ketat menerapkan home treatment tanpa memperhatikan kondisi anak sudah semakin parah. Saya berusaha tidak menganggap milis sebagai dewa walaupun diasuh oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Tetap cari pendapat di dunia nyata oleh orang-orang yang kompeten pula agar kita tidak dianggap lulusan sekolah internet 😀

Cooking Therapy

Belakangan ini moodnya “cooking, baking & show off” hahaha *teteup narsis*.

Dulu aku ngga suka masak, paling banter bikin pasta & nasi goreng, itupun once in a blue moon alias jaraaaaaaaaang sekali. Tapi sejak ga kerja lagi & sempat menemani suami di rumah sendiri selama 1 bulan, mau ga mau harus masak. Soalnya walaupun ada si embak tapi dianya ga bisa masak juga hehehe. Awalnya ya pake bumbu bumbu instant macam bamboe, indofood, dll tapi setelah beberapa kali bosen karena kadang rasanya ga pas di lidah selain macamnya terbatas. Akhirnya ya browsing cari resep melalui om google, belanja, bikin bumbu sendiri dan ternyata hasilnya lebih memuaskan hati (yang masak ya, kalo yang makan sih ga berani protes kali hihihi). Cuma ya karena masih amatir, masaknya bener-bener saklek resep karena takut ga jadi trus banyak trial and errornya.

Tapi ternyata aku sadar kalo masak tuh jadi terapi buat aku. Kalau orang bilang jangan masuk dapur pas hati lagi sedih atau marah, aku malah lebih seneng masak pas lagi gundah gulana ☺ Nggak tahu ya, senang aja nguprek-nguprek dapur, ngulek bumbu, mengolah bahan belum lagi H2C ini masakan jadi apa engga, enak apa engga. Apalagi kalo enak trus yang makan doyan jadi makin seneng banget.

Sekarang kembali ke rumah ortu udah ngga masak lagi, tapi kalo lagi bete banget ya bikin kue, bikin camilan, bikin makanannya Cinta. Memang ngga bikin 100% mood jadi bagus sih tapi setidaknya mengalihkan perhatian & konsentrasi ke hal lain daripada marah-marah, sedih, bete ngga jelas.

Jadi sekarang kalau lagi bad mood tapi udah ga bisa curhat, ga bisa nulis mending masak dah, ada hasilnya & perasaan jadi (sedikit) lebih ringan

Bekerja dari rumah bukan lagi mitos!

Buktikan bersama jaringan full fasilitas d’BC Network! http://www.dbc-network.com/index.php?id=mybeautysecret