Jangan Asal Posting

Baca tulisannya MbakDos di blognya yang keren itu, membuat saya teringat pada percakapan dengan suami beberapa malam lalu. Waktu itu saya sedang kesal karena timeline Twitter penuh dengan RT-an twit seorang public figure yang sedang menerangkan suatu hal. Kalau sekedar RT, saya nggak masalah tapi kali ini dan tiap kali orang tersebut ngetwit mengenai suatu hal, pasti banyak sekali RT-an twit dia yang ditambah dengan caci maki. Sayangnya kebanyakan orang yang nge-RT itu nggak follow bapak itu.

Kebetulan saya follow beliau, jujur saya suka baca twit-twitnya tentang banyak hal. Ada pengetahuan baru yang saya dapatkan tiap beliau membahas sesuatu. Setuju atau tidak dengan pendapat beliau, itu lain soal. Karena saya mengikuti kicauannya, jelas saya tahu apa yang dia maksud. Sedangkan mereka-mereka yang tidak mengikuti beliau cuma sekedar meneruskan RT dari temannya, temannya lagi tanpa mau bersusah payah menengok timeline bapak itu. Sehingga pesan yang didapat hanya separuh dan yang separuh itu kadang bisa menyesatkan lalu muncul caci maki dan sumpah serapah di timeline saya.

Saya kesal bukan karena ngefans sama beliau sehingga nggak terima beliau dicacimaki gitu. Asli enggak! Saya kesal karena para pekicau itu hanya mau membaca apa yang mereka mau baca. Sama seperti kesal karena memperoleh broadcast message atau email atau sms berantai, dimana si pengirim tidak mau sedikit berupaya konfirmasi kebenaran, yang belakangan ternyata salah. Kalau tidak merugikan pihak lain sih mungkin nggak papa, anggap saja iseng tapi jika lantas ada yang merasa tersakiti lalu menuntut kita atas pesan-pesan itu bagaimana?

Seruan Pikir Sebelum Publish dari MbakDos ini merupakan pengingat bagi saya juga untuk berhati-hati dalam menuliskan sesuatu di tempat yang bisa diakses umum, termasuk disini, Facebook, Twitter, Plurk dan jaringan sosial lainnya.

Ketika Suap Diajarkan

Postingan ini adalah salin tempel alias copy paste dari blog saya di Multiply dulu. Kejadiannya hampir 1 tahun yang lalu tapi masih membekas di hati dan ingatan saya.

*****

Mei 2009

Pagi ini saya antar adik ke kecamatan untuk foto KTP, walaupun judulnya cuma menemani tapi karena pengalaman foto KTP sendiri beberapa waktu yang lalu yang amat sangat ribet membuat saya menyiapkan mental dan mengingatkan adik untuk tetap tenang dan sabar kalau ada hal-hal diluar perkiraan.

Setelah menyerahkan berkas dan mendapatkan nomor antrian foto, duduklah kami di tempat yang sudah disediakan. Sekitar 15 menit kami menunggu nggak ada 1 pun nomor antrian yang dipanggil. Karena penasaran adik saya masuk ke ruang foto dan menanyakan no berapa yang sedang diproses, ternyata baru nomor 2 sedangkan dia dapat nomor 7. Okay menunggu lagi dengan sabar lah kami.
Tiba-tiba datanglah seorang bapak bertubuh tinggi, berambut keriting, berkumis tebal & berbaju safari biru keabu-abuan bersama 2 orang perempuan muda, langsung masuk ke ruang foto. Entah apa yang dibicarakan di dalam lalu keluarlah petugas dan bapak berbaju safari itu dan menuju ke loket berbicara dengan anak magang yang bertugas melayani warga yang punya keperluan di kecamatan. Berhubung tempat duduk saya hanya berjarak beberapa langkah dari loket jadi pembicaraan mereka terdengar cukup jelas. Intinya kedua perempuan itu belum melengkapi dokumen untuk persyaratan foto KTP lalu bapak bersafari dan oknum petugas menyuruh anak magang untuk mengisikan dokumen-dokumen itu. Dilihat dari raut wajahnya sepertinya anak magang itu kebingungan dan ragu-ragu. Lantas bapak bersafari bilang, “Wis tah garapen ae, arep entuk duwik ga?” (Sudahlah, kerjakan aja, mau dapat uang nggak?) Sementara si anak magang masih bingung, mereka kembali keruang foto dan 5 menit kemudian keluar dengan membawa KTP yang sudah jadi di tangan.

Ffffiiiuuuhhh, sebenarnya hal itu sudah merupakan hal yang biasa ya di lingkungan birokrasi pemerintahan kita. Tapi yang bikin saya miris adalah bagaimana bapak-bapak itu mengajarkan anak muda untuk mendapatkan uang secara “cepat”. Saya nggak tahu perasaan anak magang itu. Kalau saya sih mungkin ada pertentangan batin antara melaksanakan perintah dan takut. Awalnya begitu tapi lama-lama kalau sudah terbiasa dengan keadaan, bisa-bisa “perang batin” itu nggak ada lagi. Malah menjadi satu lagi calon oknum pegawai pemerintahan yang “money oriented“.

Gimana bisa negara kita benar-benar bebas dari KKN dan uang suap kalau begini caranya.
Memang sih itu cuma 1 kejadian sementara yang benar-benar mengurus KTP melalui jalur dan prosedur yang benar juga banyak sekali. Yah, semoga tidak ada lagi generasi tua yang mengajarkan hal seperti itu ke jiwa-jiwa muda yang masih idealis, calon pegawai pemerintahan yang bersih dan benar-benar melakukan pengabdian pada masyarakat.

I’ve Been

I’ve been face it, hide, run away from it.
I’ve been deny it and pretend everything is okay.
But it’s not.
It keeps coming back.
Reminds me with all the pain and the sorrow.
And I’m tired.
I almost forget how to smile, how to laugh, how to be happy.
It’s time to move on, isn’t it?
For MY own sake, MY happiness.
But leaving you would be the hardest thing to do.

Kecewa

Ah, kata-kata manis itu teramat mudah kau ucapkan. “Nanti kau ikut aku ya.” “Akan aku atur semuanya, jangan khawatir.” Akupun terlena, terbuai. Kupegang, kupercaya dan kunanti semua janjimu.
Tapi, ternyata semua itu tak kau tepati. Katamu kau sibuk, waktumu tersita sehingga tak sempat memikirkannya. Apalagi mengerjakan semua yang pernah kau janjikan. Sementara waktuku berlalu begitu cepat. Batasnya sudah tinggal hitungan jari.
Aku mungkin sudah terbiasa atas ingkarmu. Sedih itu hanya akan hinggap sekejap. Tapi, kali ini aku tak tahu apakah akan sanggup melihat binar kecewa di mata indahnya. Yang kau janjikan untuk ikut terbang bersamamu.