Semakin Bijaksana, Bukan Semakin Hebat

Lama-lama capek juga ngikutin twitwarnya Marissa Haque dan keluarga Addie MS (iya iya emang nggak ada yang nyuruh kok, saya aja yang terlalu kepo). Dari yang awalnya semangat bacain blog dan twitternya tante doktor sampai akhirnya memutuskan untuk report as spam akun twitternya.

Terlepas dari keraguan apakah blog dan akun itu benar-benar milik beliau, postingan yang sudah menyerang pribadi orang lain dan spam lama-lama bikin gerah juga. Apalagi meski nggak follow ibu hebat itu tapi masih aja sliweran retweetannya di timeline.

Kehebohan beliau dan reaksi orang-orangpun bikin saya berharap jangan sampai kelak saya seperti itu. Yah, memang levelnya beda sih, dia lulusan S3 dari 2 universitas ternama di Indonesia, belum lagi gelar S2nya yang berderet-deret. Selain artis hebat di jamannya juga mantan anggota DPR RI. Sementara saya cuma ibu rumah tangga yang lulusan S1. Dan masih jadi mahasiswa abadi di universitas kehidupan, fakultas ilmu parenting.

Bagaimanapun, saya berterima kasih sama tante Icha karena twit-twitnya menunjukan nggak semua orang siap memiliki ilmu dan gelar yang bejibun. Bahwa pohon tinggi yang angkuh lebih rentan tumbang dan merugikan orang banyak ketimbang padi yang selalu merunduk saat isinya makin berat.

Saya juga belajar banyak dari twitwar dan blog beliau, kadang orang yang mengaku dirinya hebat belum tentu dihargai orang lain.  Sedangkan orang bijaksana dan bermanfaat bagi orang lain selalu memberi warna indah bagi lingkungannya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Dan ini memicu saya supaya terus introspeksi diri. Berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan dan dibanggakan oleh anak-anak saya. Memikirkan betul tiap langkah dan keputusan yang saya ambil agar tak mempermalukan orang tua, suami dan anak-anak. Thank you 🙂

Curhat di Sosmed

Just read an article about a girl who killed herself and the same question haunted me. She tweets a lot about her pain, her sorrow but none of her followers help her. WHY?

Seringkali orang yang sedang depresi cuma butuh orang yang bisa dan mau mendengarkan, memahami dan membantu mereka mengatasi kesulitannya. Nggak harus melakukan sesuatu yang heroik kok, kadang memberikan bahu untuk bersandar, lengan untuk memeluk sudah cukup berarti. Sayang, nggak semua orang bisa mengekspresikan kebutuhannya ini secara verbal, apalagi yang berhubungan dengan sexual abuse seperti yang dialami Billy.

Di jaman digital seperti ini, di mana -untuk sebagian orang- kehidupan sosial terasa lebih nyata di dunia maya, cukup banyak orang yang merasa lebih nyaman untuk mencurahkan perasaannya di sosial media. Mungkin karena mereka tidak ada kontak fisik secara langsung dengan orang lain atau karena lebih mudah mengungkapkan pikiran dan perasaannya lewat tulisan.
Curhat di sosial media banyak bentuknya, mulai dari sekedar curhat, narsis, pencitraan sampai benar-benar butuh bantuan. Tanggapan orang pun beragam, ada yang menanggapi dengan serius sampai terang-terangan merasa jengah, hingga muncul himbauan “Face your problem, don’t facebook them”.

Atas nama meningkatkan jumlah follower, curhat galau pun sudah mulai menjadi trademark akun-akun tertentu. Nah, yang seperti ini kadang bikin rancu, mana twit yang cuma pencitraan atau galau beneran dan butuh pertolongan. Takutnya kita udah serius menanggapi suatu twit curhat eh yang bersangkutan ternyata cuma iseng. Sementara yang betul-betul curhat dan ingin ditanggapi dicuekin karena dianggap pencitraan.

Well, mungkin kejadian Billy ini bisa jadi pengingat untuk lebih peka dan tidak mengabaikan begitu saja update status curhat menye-menye meski kadang memang terasa menjengkelkan. Siapa tahu, sekedar reply “are you okay dear? I’m here if you need someone to talkcould save someone’s life. Nggak susah kan, cuma butuh sedikit kepekaan dan simpati, kok. Biar aja dibilang kepo, toh kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di balik 140 karakter. Bahkan mungkin sekedar icon hugs atau balasan “be strong, you’re not alone” asal dilakukan dengan tulus, bisa sangat berarti bagi orang yang membutuhkan 🙂

Oya, if you’re a survivor, a sexual abuse or rape victim, and need someone to talk, butuh lingkungan yang bisa menguatkan, silakan follow akun twitter @JendelaJiwa. They might help you.

Impian

sunlight-166733_1920

Dari jaman masih kuliah dulu saya punya sebuah cita-cita besar untuk diri dan karir saya. Tadinya mau diwujudkan langsung setelah lulus kuliah tapi ternyata saya tergoda untuk kerja dulu, apalagi biaya untuk mewujudkan impian itu cukup besar bagi saya dan orangtua. Saya memutuskan untuk menabung dulu sambil bekerja supaya bisa melakukan itu dengan biaya sendiri. Sampai 1,5 tahun bekerja ternyata dana yang dibutuhkan tidak juga terkumpul. Maklum, euforia pekerja yang baru punya uang sendiri, maunya spending money aja. Lantas, saya menikah, hamil dan punya anak. Akhirnya sampai hari ini impian itu masih terkunci dengan rapi dalam sebuah kotak di hati dan pikiran saya.

Sudah sejak tahun kemarin saya kembali memikirkan cita-cita itu, apalagi sejak saya tidak lagi bekerja dan total menghabiskan waktu mengurus anak. Sayangnya karena satu dan lain hal masih belum bisa terwujud, saat saya meminta ijin kepada suami untuk mewujudkan mimpi itu dia hanya tersenyum tanpa mengatakan sesuatu. Saya sendiri jujur merasa ragu apakah dengan kondisi saya sekarang akan mampu melakukannya, karena selain biaya juga butuh usaha yang nggak mudah. Banyak teman yang sudah lebih dulu melalui tahapan itu akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak karena tidak sanggup membagi waktu antara mengejar mimpinya dan mengurus rumah dan anak, apalagi bagi para working mom. Belum lagi kapasitas otak saya yang sudah lama tidak dipakai memikirkan sesuatu selain mengatur keuangan keluarga, menu masakan atau perkembangan anak. Saya sudah terlanjur menikmati sekaligus membenci comfort zone ini. Menikmati karena bisa bermalas-malasan di rumah, online seharian untuk ngeblog, bersosialisasi di social network dan main game di Facebook. Tapi juga benci karena tidak punya pilihan selain terkungkung 24 jam sehari di rumah.
Kadang saya berpikir, apakah sudah takdirnya cita-cita itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud. Kalau pun saya bersikeras ingin mengejarnya, sanggup kah saya, barokah nggak kalau tanpa restu. Atau haruskah saya menggantinya dengan membuat impian lain yang mungkin bisa dikompromikan dengan keadaan saya sekarang. Jujur, deep inside i really want to chase that dream. Cuma tinggal itu mimpi yang saya punya untuk saya pribadi, saya butuh itu untuk merasa hidup, lepas dari peran sebagai istri dan ibu. Saya ingin punya sesuatu yang bisa saya kerjakan dan banggakan atas nama saya sendiri. Mungkin kesannya saya egois dan tidak puas dengan keadaan yang saya punya saat ini. Tapi sungguh, di balik status saya saat ini, saya adalah seorang individu yang punya harapan dan keinginan pribadi.

Dilema itu selalu ada di hati dan pikiran saya, membuat saya ragu dan maju mundur. Namun kejadian baru-baru ini menguatkan saya untuk membuat keputusan. Saya akan mengejar mimpi itu, minimal saya berusaha untuk meraihnya. Selangkah demi selangkah dengan penuh keyakinan berusaha mencari pintu kesempatan untuk mewujudkannya. Kalaupun gagal setidaknya saya bisa membuktikan kepada diri sendiri kalau dalam satu waktu di hidup ini, saya sudah melakukan sesuatu untuk mewujudkan cita-cita itu. Seperti kata Donny Dirghantoro dalam novelnya 5 cm, “Apa yang mau kamu kejar taruh di sini, biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa.”

Pertemanan Maya

womens-group-735907_1280

Perempuan itu menghela nafas panjang, hatinya gundah, jemarinya lincah bermain di atas keyboard netbook, menuliskan beberapa baris komentar di blog temannya. Percakapan virtual hari ini terasa begitu panas, sebuah topik dilemparkan dan memicu banyak reaksi positif dan negatif. Entahlah, batas antara bangga dan pamer memang tipis sekali.

Ia baru tahu kalau ada yang menganggap menulis di jejaring sosial merupakan sebuah persaingan. Si A bisa begini, si B abis beli itu, si C masak anu. Gerah ia melihat pergaulan di dunia maya sudah mirip dengan di dunia nyata. Padahal inilah tempat pelariannya dari kumpulan tetangga yang suka bergunjing.

Ah, ibu-ibu. Berteman dengan mereka memang rumit. Ngomongin anak tetangga yang diasuh babysitter aja bisa jadi awal perang dunia.

Ngerumpi. Tapi Pakai Hati

Semalam mendadak terbangun karena mimpi buruk, saat melihat jam ternyata baru pukul 00.47 WIB, masih 3 jam lagi menuju waktu sahur. Sambil mencoba untuk tidur lagi seperti biasa buka-buka si Odette, cek timeline twitter, buka facebook, browsing sana sini. Tapi mata masih tetap nggak mau tertutup, melek dan terang benderang. Sementara si bocah di sebelah tertidur dengan pulasnya. Nonton TV ada 2 film barat yang saya tonton sambil pindah-pindah channel maklum nggak punya tv kabel. Lalu membuka bookmarks mobile browser dan menemukan link ke rumah ini.

Saya lupa kapan terakhir membaca satu persatu artikel di sana, memberi rating dan menuliskan beberapa kata di kolom komentar. Terakhir menulis di Ngerumpi sebulan yang lalu, dalam rangka Pekan Menyusui Sedunia. Itupun karena tergelitik membaca komen seorang warga di postingan uni Sabai si empunya blog About Life On and Off Screen. Setelah menulis, balas-balas komen yang masuk, kembali menghilang dari peredaran warga Ngerumpi. Pernah suatu kali membuka dan membaca beberapa artikel tapi kemudian lewat begitu saja. Sampai tadi malam, insomnia membuat saya “pulang” ke rumah itu. Tempat pelarian saya sejak hampir setahun yang lalu, menuliskan luka-luka hati saya, menguraikan benang kusut di kepala.

Ngerumpi

Terpaku membaca cerpennya Elia Bintang membuat saya menelusuri artikel-artikel yang ada di headline, senyum senyum sendiri baca kisah staf yang mau nraktir makan bosnya karena si bos nggak punya uang untuk bayar THR. Manggut manggut baca definisi prosa sampai terharu baca kisah cinta salah satu anak ngerumpi yang ditulis dengan manis oleh satu dari tiga moderatornya. Siang ini pun kembali menitikkan air mata haru karena postingan seorang ibu di hari ultah anaknya dan kerinduan seseorang kepada Bundanya.

kopdar

Ya, di tempat ini memang nggak sembarang ngerumpi. Semua ditulis pakai hati, berkomentar dan merusuh pun pakai hati. Hangat walau kadang panas. Kisah-kisah indah yang inspiratif, cerita yang menggoda dan menggemaskan, tulisan lucu semua ada di situs ini. Rumah maya kedua saya.  Bahkan keakrabannya pun tidak hanya terjalin di dunia maya, saat kopdar mini yang cuma dihadiri beberapa orang di mana saya nekat aja datang pun terasa hangat. Padahal yang hadir di sana adalah para dedengkot alias sesepuhnya Ngerumpi sementara saya cuma member biasa yang datang dan pergi sesuka hati. Tapi toh tetap diterima dengan baik, sehangat sambutan para warga terhadap semua tulisan member.

SMS Penipuan

Menjelang Lebaran seperti ini tampaknya makin marak penipuan melalui SMS. Hampir setiap hari status teman-teman di Facebook dan Twitter mengabarkan bahwa mereka mendapatkan SMS dari nomor tak dikenal minta ditransfer jumlah pulsa tertentu.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat SMS seperti ini di tengah malam untuk kedua kalinya
sms

Yang pertama kali saya sempat bimbang antara kasihan dan khawatir jika si pengirim benar-benar kecelakaan dan membutuhkan pertolongan. Sedangkan di sisi lain ada juga perasaan tidak percaya mengingat banyaknya penipuan melalui SMS. Akhirnya saya sms balik dan meminta maaf kalau tidak bisa transfer pulsa karena pakai nomor pasca bayar. Eh, dia balas lagi memohon mohon supaya saya membantu dan pulsa saya akan dikembalikan setelah masalahnya selesai. Setelah 3x saling balas sms saya semakin yakin bahwa ini adalah modus penipuan karena logikanya kalau bisa sms 3x pasti bisa telpon atau minimal sms keluarganya.

Belakangan ini sedang marak SMS “Mama minta pulsa” mulai dari bilang mama butuh pulsa untuk nomor barunya, sedang bermasalah di kantor polisi dan butuh pulsa untuk menelpon sampai sedang di berurusan dengan pihak berwajib di Malaysia ROTFL. Saya juga pernah dapat SMS seperti ini yang langsung saya kategorikan penipuan tanpa pikir panjang. Pertama karena Mama saya selama bertahun tahun menggunakan nomor telpon pasca bayar yang sudah dikenal seantero keluarga dan lingkup pergaulannya jadi nggak mungkin ganti nomor begitu saja. Kedua seandainya pun ganti nomor dan butuh pulsa, beliau adalah orang yang mobile sehingga bisa dengan mudah mengisi pulsa di mana saja. Dan yang ketiga, mama saya juga pengguna Blackberry yang kalaupun terpaksa minta pulsa pasti akan menggunakan BBM untuk berkomunikasi dengan kami anak-anaknya.

Sayangnya ada beberapa teman yang nyaris tertipu, mungkin karena bawa-bawa nama “mama” membuat mereka panik. Untungnya sempat konfirmasi terlebih dahulu ke rumah masing-masing. Kalau tidak mungkin sudah melayang pulsa sekian puluh ribu rupiah. Memang jumlahnya nggak seberapa, paling banyak Rp 100,000.00 tapi tetap aja buat saya itu besar kecuali memang niat untuk amal.

Jadi berhati-hatilah kalau mendapatkan sms dari nomor tak dikenal meminta sesuatu. Lakukan cek dan ricek, kenali betul kebiasaan dan bahasa tulisan orang-orang terdekat kita. Jangan sampai kepanikan kita dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat tidak baik.