Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary

K's first day at primary

Hari ini genap 2 minggu Keenan menjalani hari-harinya sebagai murid Primary 1 atau kelas 1 SD kalau di Indonesia. Jujur aja sebenarnya saya agak berat mengantarkan dia ke Primary school tahun ini. Masalah utamanya adalah umur Keenan yang belum lagi 6 tahun. Iya, pada hari pertama masuk sekolah tanggal 2 Januari kemarin, Keenan baru berusia 5 tahun 10 bulan. Terlalu muda memang.

Usia dan Tingkat Kematangan Anak Sekolah

Usia memang punya faktor penting dalam kematangan anak sekolah. Menurut situs www.klinikmylovelychild.com, kematangan masuk sekolah adalah kondisi saat anak sudah siap seusai standar fisik, intelektual, mental, keterampilan, serta perkembangan sosial yang sesuai dengan sekolah formal. Memiliki kematangan sekolah ini penting lho, agar anak benar-benar siap masuk sekolah, terutama sekolah dasar yang tuntutannya sudah berbeda dari pra sekolah. Sehingga nggak terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, kesulitan belajar, gagal sekolah, atau mogok sekolah.

Memang sih, tiap anak berbeda. Ada anak yang belum 6 tahun tapi sudah lebih matang daripada anak-anak seusianya. Nggak usah jauh-jauh deh, 2 orang keponakan saya dan 1 anak teman saya yang lahir cuma beda 1-2 bulan lebih muda dari Keenan, sudah lebih matang secara mental, keterampilan dan perkembangan sosialnya. Mereka, di usia belum 6 tahun sudah bisa membaca kalimat sederhana, menulis dengan rapi, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa mengetik dan membuat karangan di komputer.

syarat masuk sekolah dasar

Tapi untuk kasus Keenan ya bagi saya memang dia belum punya kematangan sekolah.

Hal ini juga dipahami oleh guru-gurunya di Kindergarten, terutama class teachernya. Begitu tahu kalau Keenan adalah salah satu yang paling muda di kelas, dia langsung bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu penyebab Keenan kewalahan mengikuti aktivitas belajar mengajar khususnya menulis adalah karena dia belum matang. “He hasn’t reach that maturity level yet. That’s why he’s still struggle to read, to write and can’t focus long enough.”

Selain usia, bisa jadi speech delay dan short attention span atau keterlambatan bicara dan tingkat konsentrasi yang pendek menjadi penyumbang faktor lambatnya kematangan Keenan. Jadi, saya sadar diri untuk nggak membandingkan Keenan dengan anak lain seusianya. Tapi saya juga sadar faktor usia mempunyai pengaruh penting dalam kesiapan anak masuk sekolah.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

Primary 1 di Brunei

Karena itulah, menjelang kelulusan kindergarten saya galau luar biasa. Dilema antara membiarkan Keenan lanjut ke Primary atau memintanya untuk mengulang KG3.

Lho, emang di Brunei usia nggak jadi syarat masuk sekolah dasar atau Primary? Yayaya, saya tahu bakal ada yang tanya gitu hehehe. Ada kok. Untuk masuk Primary, minimal anak berusia 6 tahun di bulan Maret. Nah, pas banget, Keenan di bulan Maret tahun ini sudah 6 tahun. Jadi dia bisa masuk. Dan semua anak yang sudah berusia minimal 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung wajib diterima di Primary School atau Sekolah Rendah manapun. Tanpa perlu tes macem-macem. Nggak peduli anaknya bisa baca tulis atau enggak, bisa berhitung atau enggak, masih nangis kalau ditinggal sendiri. Pokoknya udah 6 tahun udah bisa sekolah.

hari pertama sekolah

Oya, di sini anak umur 7 tahun wajib masuk sekolah (mungkin ada perkecualian untuk anak berkebutuhan khusus ya). Kalau nggak sekolah, orang tua bisa kena hukuman denda atau penjara. Jeng jeng jeng. Jadi, homeschooling in Brunei is not an option.

Nah, karena itu, class teacher dan KG supervisor Keenan nggak membiarkan dia ‘menahan’ alias mengulang kelas, meskipun dia belum punya kematangan sekolah. “It’s oke, Mummy. Let him try year 1. If he can’t cope this year, he can stay at year 1 the next year,” gitu saran dari guru kelasnya. Ya sudah sik, akhirnya itu jadi salah satu pertimbangan saya mendaftarkan Keenan ke Primary 1. Walaupun rasa cemas itu tetap ada. Wajar kan ya. Iya, nggak?

Baca juga: Keenan: Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

Mengatasi Kecemasan Masuk Sekolah Dasar

Meski akhirnya saya memutuskan Keenan masuk Primary 1 (suami sebenarnya ingin Keenan ngulang KG 3 aja), hati saya tetap nggak tenang. Dan di hari pertama sekolah, saya yang stres. Anaknya sih agak takut tapi begitu lihat beberapa temannya dari KG ada di kelas yang sama, dia langsung tenang.

Saya sendiri khawatir dia nggak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik di sekolah. Karena di sekolah dasar kan anak-anak sudah belajar beneran.Di mana, mereka harus mencatat pelajaran dari gurunya juga ada PR dan ulangan. Saya takut Keenan nggak bisa memahami instruksi gurunya, nggak bisa mencatat, atau nggak berani ke toilet sendiri. Pokoknya mah mamak ini cemas aja bawaannya.

Sampai pagi itu saya ketemu dengan kepala Primary yang sudah lama saya kenal sejak kakak sekolah di situ. Curhatlah saya ke beliau tentang Keenan yang belum bisa baca tulis dengan baik dan semua kekhawatiran saya.

Eh, responnya baik sekali. Beliau menyarankan saya untuk ngobrol ke guru kelasnya Keenan, “Tell the teachers about that, so they can talk slower to him. But I told the teachers who teach at this class actually. Because this class is special. Some of them are still young and can’t write or read properly. That’s why we put them together at one class instead of mixing them with the good (at writing, reading and more mature) ones,” ujarnya memenangkan saya. Beliau juga bilang kalau sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dalam membantu anak-anak yang belum bisa baca tulis agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Duh, rasanya pundak saya langsung terasa lebih ringan karena tahu saya nggak akan berjuang sendirian. Nggak masalah bagi saya kalau Keenan ditempatkan di kelas spesial. Justru dengan begitu dia nggak akan dipaksa lari untuk mengikuti ritme teman-temannya karena mereka berada di pace yang sama. Guru-guru juga akan lebih sabar dalam mengajari anak-anak ini.

Mengatasi Kecemasan Orangtua

Berkenalan dengan guru atau kepala sekolah dan berbicara kepada mereka tentang kekhawatiran kita cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas saat anak akan masuk sekolah dasar.

Selain itu beberapa cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan orangtua saat anaknya masuk sekolah dasar:

1. Berkenalan dengan orangtua lain.

Punya teman sesama orangtua yang anaknya juga baru masuk sekolah bikin kita lebih tenang karena ada teman senasib. Kita bisa saling curhat dan saling menjaga anak-anak di minggu pertama mereka bersekolah.

Karena Keenan bersekolah di tempat yang sama dengan TKnya dulu, otomatis sebagian besar temannya dari TK yang sama. Sehingga saya sudah kenal dengan sebagian besar ortu teman-teman Keenan di Primary School. Jadi di hari pertama anak-anak sekolah, kami ngobrol dan curhat di depan kelas anak-anak. Dan ternyata memang nggak cuma saya yang punya kekhawatiran tersebut. Akhirnya malah kami saling support. Kecemasan saya sedikit berkurang.

Berkenalan dengan orangtua murid yang lebih senior juga nggak ada salahnya, lho. Mereka biasanya sudah lebih paham sistem di sekolah tersebut. Jadi kalau kita bingung nggak tahu harus bagaimana saat anak mengalami kesulitan, mereka biasanya bisa memberi saran. Itu yang saya alami saat Cinta awal-awal masuk Primary School dulu.

2. Bergabung dengan kegiatan di sekolah.

Banyak orang tua yang malas terlibat di kegiatan sekolah termasuk saya. Padahal dengan cara ini kita bisa lebih mengenal guru-guru dan teman-teman anak di sekolah tersebut. Kita juga bisa mengamati cara guru berinteraksi dengan orangtua dan siswa di luar kelas. Sehingga kita tahu apakah anak nyaman atau tidak di sekolah tersebut.

Oya dengan kita terlibat dengan kegiatan sekolah atau ikut persatuan orangtua murid dan guru, anak juga akan merasa didukung oleh orangtua, lho. Tapi juga jangan berlebihan sampai kita menginterupsi cara belajar dan mengajar guru di kelas ya. Nanti jadi helicopter parent dong kita. No no no. Cukup mengamati dari jauh. Beri bantuan dan dukungan kepada para guru agar mereka tahu bahwa kita bisa diandalkan untuk bekerja sama meningkatkan kemajuan pendidikan anak-anak.

3. Tanya anak tentang aktivitas dan perasaannya di hari pertama sekolah.

Dengan menanyakan pengalaman hari pertama anak di sekolah dasar, kita bisa tahu kesan pertama anak terhadap perannya sebagai anak SD. Karena tentu berbeda sekali dengan anak TK. Dengan begitu kita mengerti apa yang disukai dan tidak disukai anak. Atau apa yang membuatnya senang atau sedih. Sehingga kita bisa membuat anak nyaman dan rasa cemas kita berkurang. Tapi ya nggak usah diinterogerasi juga anaknya. Nggak semua anak suka bercerita. Ada yang kalau ditanya, “Gimana tadi sekolahnya?” cuma jawab, “Oke.” ya nggak papa juga. Coba ganti pertanyaannya dengan yang lebih spesifik lagi.

Baca juga: 20 Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

2 Minggu di Primary 1

Jadi, setelah 2 minggu di Primary 1 saya lihat Keenan mulai bisa beradaptasi. Kalau ditanya soal pelajaran dia bisa jawab, bahkan mulai bisa menghafal beberapa kata (iya, bagi dia lebih mudah menghafal bentuk kata daripada mengeja kata karena anak ini ingatannya bagus sekali). Walaupun kalau lagi nggak mood di pagi hari ya kumat juga malesnya belajar sekolah. Tapi, sejauh ini sih saya lihat Keenan cukup oke. Saya tanya ke guru kelasnya juga mereka nggak ada komplain tentang ketidakmampuan atau perilaku Keenan di sekolah. Alhamdulillah. Semoga ke depannya akan semakin membaik ya. Tolong doakan kami.

Anak Berkata Kasar, Apakah Dia Anak Nakal?

Pernah nggak sih mendengar anak berkata kasar? Trus biasanya reaksi sahabat PojokMungil gimana? Saat anak berkata kasar, biasanya reaksi pertama kita adalah kaget dan menganggap mereka anak nakal. Apalagi kalau sehari-hari kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nggak mengeluarkan kata-kata yang nggak sopan saat berbicara atau marah. Tapi langsung memarahi mereka ternyata juga bukan solusi yang tepat untuk menghentikan anak berkata kasar.

anak nakal, anak berkata kasar

Kebanyakan anak mengucapkan kata yang tidak sopan karena mendengar dari lingkungannya atau TV. Saya dulu juga pernah seperti itu tapi bukan berarti saya anak nakal lho. Setidaknya menurut ibu saya sih begitu.

Saya suka banget menonton serial seperti MacGyver, Airwolf dan Knight Rider saat masih kecil. Dari situ saya mendengar kata-kata umpatan dalam bahasa Inggris yang sering mereka ucapkan. Tentunya saya nggak tahu artinya apa. Cuma kok kayanya keren gitu lho. Akhirnya, saya jadikan kata-kata itu sebagai kosakata sehari-hari. Sampai suatu hari mama saya mendengar saya mengucapkan kata tersebut. Langsung deh kena marah. Apakah sejak itu saya kapok? Enggak. Saya memang nggak mengucapkan kata itu lagi, tapi setiap saya menemukan umpatan baru yang terdengar keren ya saya coba lagi.

Kejadian yang sama terulang bertahun-tahun kemudian antara saya dan Cinta. Tiba-tiba saja dia mengumpat dalam bahasa Inggris. Nggak cuma sekali dan meskipun sudah berkali-kali ditegur tetap diulangi lagi. Kejadian ini yang akhirnya membuat saya menulis status di Facebook saya 6 tahun lalu.

Anak Berkata Kasar Bukan Berarti Anak Nakal

Dari jawaban teman-teman yang saya terima terhadap status tersebut, saya sadar kalau bukan saya seorang yang mengalami hal ini. Mendapati anak berkata kasar ternyata juga dialami oleh orang tua yang lain. Jadi nggak perlu merasa terlalu bersalah kalau tiba-tiba mendengar anak berkata kasar. Hal ini bukan berarti mereka adalah anak nakal dan kita adalah orang tua yang buruk, apalagi kalau memang bukan kita yang mengajarkan anak berkata seperti itu.

Lingkungan pergaulan dan tontonan bisa menjadi sumber utama anak mendengar kata-kata tersebut. Dan karena anak adalah peniru ulung, bisa saja dia menyerap kata-kata tersebut dan mengucapkannya tanpa tahu arti sebenarnya. Jadi, saat kita mendengar anak berkata kasar, daripada langsung memarahinya, coba lakukan hal berikut ini:

1. Bersikap Tenang

Bersikap tenang saat mendengar anak berkata kasar memang sulit. Apalagi kalau waktu itu kita lagi di tempat umum. Bayangkan semua mata memandang seolah-olah anak kita itu anak nakal yang nggak pernah diajar sopan santun sampai bisa berkata seperti itu.

Tapi kalau kita bereaksi berlebihan seperti langsung menghardiknya, memarahinya atau mungkin mentertawakannya, justru akan membuat anak bingung. Bahkan untuk anak yang kurang perhatian, reaksi kita bisa membuat dia mengulangi perbuatannya karena bagi dia dimarahi adalah bentuk perhatian. Sedangkan dia membutuhkan perhatian itu, jadi ya otomatis anak akan mencoba lagi berkata kasar agar mendapat perhatian dari orang tuanya. Akhirnya malah nggak efektif untuk mencegah anak berkata kasar.

2. Jelaskan Artinya

Setelah kita tegur dengan nada netral, coba tanya ke anak, “Kakak tadi itu ngomong apa? Tahu nggak itu artinya apa?” Kebanyakan anak yang berkata kasar, nggak tahu apa arti kata tersebut. Maka tugas kita adalah menjelaskan artinya sesederhana mungkin. Lalu tekankan bahwa kata-kata tersebut tidak baik diucapkan karena dapat menyakiti hati orang yang mendengarnya.

3. Gali Perasaannya

anak nakal

Kalau kita bersikap tenang saat anak berkata kasar, kita bisa mengenali perasaan anak saat itu. Apakah dia mengucapkannya saat sedang kesal atau sedih atau sekadar iseng. Setelah kita tahu perasaannya, ajarkan anak untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara lain yang lebih baik.

4. Tanyakan Darimana Dia Mengetahui Kata Tersebut

Biasanya anak mengenal kata kasar dari lingkungan di sekitarnya atau tontonan di televisi atau YouTube. Saya suka tuh dengerin channel ramah anak seperti FGteev, sosok ayah suka ngomong kata-kata yang kasar. Makanya saya pribadi sekarang membatasi anak-anak nonton YouTube. Tapi, tentu kita nggak bisa terus melindungi anak dari hal-hal yang buruk ya. Jadi, ya sering-sering aja dikasih tahu kalau kata-kata tersebut tidak baik, tidak keren dan tidak boleh ditiru.

5. Buat Batasan

Batasan tiap keluarga akan kata-kata yang dianggap kasar tentu berbeda-beda. Jadi buatlah kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga kata-kata mana saja yang tidak boleh diucapkan. Ajak anak berdiskusi apa arti masing-masing kata tersebut dan mengapa dianggap tidak baik. Berikan pengertian bahwa kata-kata kasar tersebut dapat membuat orang lain yang mendengarnya marah atau sakit hati.

anak nakal

Untuk anak yang lebih besar, pra remaja misalnya, beberapa kata yang kita anggap kasar seringkali merupakan bahasa pergaulan mereka sehari-hari. Ini terjadi dengan teman-teman anak saya yang besar. Di grup chat mereka, kata-kata seperti f*ck, fool, stupid dan sebagainya mereka gunakan dengan santai. Tapi jangan salah ya, anak-anak ini bukan anak nakal. Mereka yang saya kenal sejak mereka masih TK adalah anak-anak pintar dan sopan di kesehariannya terutama di depan guru dan orang yang lebih tua.

Untuk kasus seperti ini, saya memilih untuk menekankan kepada si kakak bahwa kata-kata tersebut sebenarnya nggak cool sama sekali. Saya juga melarangnya menggunakan kata-kata tersebut saat berbicara dengan yang lebih tua, lebih muda atau di luar lingkup pergaulan mereka.

6. Jadi Contoh

Seperti yang sempat saya sebut di atas, anak adalah peniru ulung. Jadi sebagai orang tua dan role model bagi anak, kita juga harus menahan diri untuk tidak mudah mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan saat marah sekalipun.

7. Beri Konsekuensi

Buat perjanjian dengan anak untuk tidak lagi berkata kasar. Kalau dia melakukannya lagi ingatkan. Tapi setelah yang ketiga kalinya, kita harus tegas. Bisa dengan mengambil sesuatu yang dia sukai, misalnya dia mendengar kata-kata tersebut dari YouTube, maka kurangi jatah anak menonton YouTube pada hari itu. Sebaliknya, puji anak saat mengucapkan kata-kata yang baik.

Semoga dengan menerapkan hal-hal di atas bisa membuat anak-anak berhenti mengucapkan kata-kata kasar ya.

Saya sendiri sedang berusaha supaya si bungsu nggak lagi ngomong kata, “Butt” alias pantat. Emang nggak kasar sih, tapi bagi saya kurang sopan. Dan dia mengucapkannya memang untuk cari perhatian karena dia anggap itu lucu.

Sementara ini solusinya adalah saya selalu mengingatkan bahwa kata tersebut tidak baik jika diucapkan tidak pada tempatnya. Saya kasih tahu kalau boleh bilang pantat kalau konteksnya tepat, seperti ngasih tahu kalau pantatnya sakit karena jatuh, digigit binatang dan lain-lain, pantatnya disentuh oleh orang lain yang bukan mama atau papa, atau minta dibantu bersihkan pantat selepas BAB.

Doakan saya berhasil yaaa. Sahabat PojokMungil ada yang pernah punya masalah yang sama nggak?

 

 

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

resolusi tahun baru

Yak, siapa yang tiap akhir tahun bersemangat bikin resolusi tahun baru tapi selalu gagal melakukannya di tengah jalan?

Sayaaa!!!

Eh, bener nih cuma saya aja? Yakin? Atau nggak mau ngaku aja? Hayooo…

Tapi yah begitulah. Saya mah orangnya suka semangat saat bikin resolusinya, menggebu-gebu banget lah. Pengennya semua hal yang jelek dari diri saya diubah dan diganti dengan yang lebih baik dalam waktu sekejap. Namun, saya lupa kalau kebiasaan-kebiasaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun itu nggak mungkin dihilangkan hanya dalam waktu 1 bulan. Jadi, ketika saya nggak berhasil melakukan salah satu hal dalam daftar resolusi saya, misalnya skip olahraga 1 kali dari target 3 kali seminggu, langsung patah semangat. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti melakukan resolusi tersebut.

Baca juga: Resolusi terakhir yang pernah saya buat dan gagal.

Karena itulah beberapa tahun belakangan ini saya nggak lagi membuat resolusi tahun baru. Males euy, paling juga gagal lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagipula kalau saya niat memperbaiki diri nggak perlu nunggu tahun baru lah. Kapan aja saya mau pasti bisa. Iya nggak?

resolusi tahun baru, ika natassa quote, the architecture of love

Tapi tema nulis bareng RB Literasi Ibu Profesional Asia bulan ini seakan menantang saya untuk mencoba membuat lagi resolusi tahun baru. Tadinya sih pengen nulis yang biasa-biasa aja ya. Seperti: pengen kurus, lebih sabar, pengen umroh, pengen bisa lebih sering nulis di blog dan baca buku. Gitu-gitu deh.

Cuma, kalau begitu doang naga-naganya bakal gagal di minggu kedua bulan Februari nih. Jadi saya mencoba menulis resolusi tahun 2019 dengan lebih serius dengan harapan bisa konsisten menjalankannya sampai akhir tahun.

Resolusi Tahun Baru

Sebenarnya apa sih resolusi itu? Dan apa pentingnya bikin resolusi di akhir atau awal tahun?

Menurut Wikipedia:

Resolusi tahun baru adalah sebuah tradisi yang dilakukan di akhir tahun atau awal tahun. Di mana seseorang memutuskan untuk mengubah sifat atau perilaku yang nggak disukai di tahun sebelumnya, untuk mencapai tujuan pribadi atau memperbaiki kehidupan mereka.

Karena ini adalah tradisi jadi boleh dilakukan boleh enggak. Bebas aja ya. Meski ternyata membuat resolusi tahun baru sebenarnya cara yang baik dan produktif untuk menetapkan tujuan dan niat untuk tahun baru. Sebab, dengan membuat resolusi, kita bisa:

  1. Punya motivasi untuk menyambut tahun baru.
  2. Punya target yang jelas tentang hal yang ingin kita capai.
  3. Punya pengingat saat kita mulai melenceng.
  4. Punya bahan evaluasi atas hal-hal yang sudah kita lakukan di tahun tersebut.

Nah, supaya resolusi kita saya nggak gagal di tengah jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba mencari tahu apa saja yang harus dilakukan saat membuat resolusi tahun baru. Dan inilah cara yang bisa kita terapkan supaya resolusi yang kita rencanakan itu berhasil.

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan

1. Tulis Resolusi Tersebut.

Menurut Elizabeth Ward, PhD yang dikutip oleh self.com, orang yang menuliskan resolusi mereka akan punya rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk melaksanakannya. Sehingga mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak juga untuk mencapai tujuan mereka.

2. Mulai Dari Hal Yang Kecil

Punya resolusi untuk turun berat badan 10 kg dalam 3 bulan atau nggak pernah marah sama sekali ke anak-anak itu impian saya. Tapi saya sadar kok kalau itu nggak mungkin dicapai dalam waktu singkat.

Lebih baik kita mulai dari hal-hal yang kita yakin bisa kita capai. Ubah 1 perilaku dalam 1 waktu. Misalnya, turun BB 5 kg dalam 1 tahun dengan cara olahraga rutin 3x seminggu dan memperbanyak makan sayur sepertinya lebih mungkin dilakukan.

3. SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely)

Metode yang diperkenalkan oleh George T. Doran ini saya pelajari di kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Cara ini InsyaAllah membantu kita dalam membuat resolusi tahun baru yang bisa kita lakukan sepanjang tahun.

resolusi tahun baru, smart

Baca juga deg-degannya saya saat akan mengikuti program matrikulasi Ibu Profesional Batch 6.

4. Bikin Plan atau Jadwal

Setelah kita menuliskan semua hal yang ingin kita capai di tahun depan dengan SMART, waktunya kita menyusun rencana. Masukkan aktivitas yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut dalam agenda harian kita.

Misalnya saya ingin menjadi blogger profesional. Tahap pertama adalah rutin blogging, minimal 1 kali dalam 1 minggu. Untuk itu saya perlu mengalokasikan waktu 1 jam sehari untuk blogging dengan rincian aktivitas sebagai berikut:

blog weekly planner, resolusi tahun baru

Silakan unduh template rencana blogging mingguan ini di: http://bit.ly/blogplannerAlfa

Atau saya ingin olahraga 3 kali seminggu tapi juga ingin puasa sunnah 2 kali seminggu, dengan menuliskan di jadwal mingguan, dua aktivitas itu bisa dilakukan di hari yang berbeda. Karena lari saat puasa tentu menyiksa diri saya, kalau dipaksakan di hari yang sama bisa-bisa keduanya nggak akan saya lakukan.

5. Jangan Memaksakan Diri

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT (dan warganet yang maha benar). Jadi meski kita sudah menyusun resolusi seSMART mungkin dengan jadwal sebaik mungkin, siapkan mental kita untuk hal-hal yang terburuk. Sebagai orang yang (agak) perfeksionis, saya sering merasa kecewa saat rencana yang saya buat nggak berjalan sesuai keinginan saya. Karena itulah suami saya sering mengingatkan, always hope for the best but prepare for the worst.  Begitu juga saat menjalankan resolusi tahun baru kita.

Akan ada saat kita sakit sehingga nggak bisa olahraga selama satu minggu. Atau suasana hati sedang buruk sekali sehingga setelah 3 hari sukses nggak marah ke anak-anak, hari ini kelepasan marahin mereka. Bisa juga gagal makan sayur dan buah secara rutin karena pergi liburan yang nggak memungkinkan kita menjalankan pola makan seperti saat di rumah. Atau ya lagi males aja gitu. Nggak papa. Jangan lantas merasa seluruh usaha kita menjalankan resolusi itu gagal.

resolusi tahun baru

Semua orang punya pasang surutnya kok. Jadi ketimbang berhenti di tengah jalan, lebih baik kita catat dan pelajari penyebab kesalahan itu. Lalu kembali lagi ke jalan yang benar sambil berusaha menghindari penyebab kegagalan tersebut.

6. Evaluasi

Evaluasi aktivitas kita dan hasil yang kita capai setiap beberapa waktu. Idealnya 3 bulan sekali. Seperti anak sekolah ya, tiap term ada evaluasinya. Begitu juga dengan resolusi tahun baru kita. Dengan melakukan evaluasi, kita jadi tahu mana resolusi yang sesuai track dan bisa diteruskan sampai akhir tahun, mana yang sebaiknya kita tunda di tahun berikutnya.

7. Minta Dukungan Dari Orang Lain

Kalau kita sendiri merasa kewalahan atau merasa nggak mampu mencapai tujuan kita seorang diri, mintalah dukungan dari orang-orang terdekat. Hal itu akan membuat kita akan lebih termotivasi untuk menyelesaikan resolusi yang kita buat. Atau kita juga bisa meminta bantuan profesional seperti psikolog. Jangan takut berkonsultasi ke psikolog. Mereka nggak cuma membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental kok. Justru psikolog bisa membantu kita menyusun strategi untuk mencapai tujuan kita.

Nah dengan mempraktikkan 7 cara tersebut, InsyaAllah resolusi tahun baru kita nggak cuma angan-angan semu di awal tahun ya.

Resolusi 2019 Ala Saya

Saya sendiri akhirnya memutuskan nggak bikin resolusi yang benar-benar baru untuk tahun depan. Sekadar memperbaiki indikator ibu profesional serta misi hidup dan produktivitas yang saya buat untuk Nice Homework #2 dan #8 program matrikulasi Ibu Profesional. Karena menurut saya itu sudah mencakup tujuan utama saya, yaitu menjadi pribadi, istri dan ibu yang sehat, bahagia, produktif dan bermanfaat bagi keluarga.

resolusi tahun baru

 

Untuk tahun 2019 ini, prioritas utama saya adalah mendampingi anak-anak belajar karena si kakak akan menjalani PSR (Peperiksaan Sekolah Rendah) di akhir tahun 2019. Sementara adik tahun ini masuk Primary School di usianya yang masih terlalu muda sebenarnya. Sehingga mereka pasti memerlukan kehadiran saya lebih intens lagi.

Selain itu saya juga ingin fokus meningkatkan ketrampilan saya di bidang blogging sehingga bisa menjadi blogger profesional. Dalam arti bisa mendapatkan penghasilan secara rutin lagi dari menulis blog dan konten yang beberapa tahun ini saya tinggalkan.

But once again, meski tradisinya resolusi ini dibuat di akhir tahun untuk dilaksanakan sepanjang tahun depan, saya nggak ngoyo untuk memulai semua ini serentak di hari pertama bulan Januari 2019. Euforia tahun baru yang bertepatan dengan hari pertama anak masuk sekolah di tahun ajaran baru bisa membuat saya hilang fokus. Ya, meskipun saya nggak merayakan tahun baru, sudah nggak kuat euy begadang demi nungguin detik-detik pergantian tahun. Bagi saya pribadi, akan lebih baik kalau kita memilih hari di mana kita cukup istirahat, semangat dan dikelilingi oleh orang-orang yang positif sebagai titik awal pelaksanaan resolusi.

Untuk itu saya memilih untuk mengerjakan satu per satu dalam periode waktu tertentu. Seperti yang saya tulis di atas, one step at a time, start small.

Mohon doanya supaya saya bisa konsisten melaksanakan resolusi tahun baru saya ini, ya. Kalau resolusi teman-teman-teman untuk tahun 2019 apa aja nih?

 

4 Langkah Perawatan Kulit Berminyak Untuk Remaja

perawatan kulit berminyak, perawatan kulit untuk remaja

“Skin care apa aja sih yang harus dipakai anak gadis?” tanya sahabat saya yang anaknya seumuran dengan Cinta. “Ini, kulitnya mulai keliatan berminyak, keluar bruntusan dan berkomedo. Daripada kebablasan muncul jerawat mending diajarin merawat kulit dari sekarang deh,” tambahnya. ”Tapi bingung juga ya memilih produk perawatan kulit berminyak untuk remaja. Takut kalau nggak cocok malah ngerusak kulit,” ujarnya galau.

Saya yang tadinya belum terpikir ke arah sana jadi ikut galau. Selama ini sih Cinta cuma pakai sabun cuci muka aja. Itu pun sabun bayi karena saya merasa kulitnya nggak bermasalah dan sayang kalau pakai produk perawatan kulit yang kandungannya berat. Yang penting bersih aja.

Tapi, belakangan ini si sulung yang berusia 11 tahun mulai mengeluhkan bruntusan di hidungnya. Malah kadang diam-diam memakai plester hidung yang berfungsi mengangkat komedo serta masker punya saya. Rupanya dia sudah mulai peduli dengan kulitnya.

Maklum sih, seperti anak lainnya yang berusia 10 – 19 tahun, Cinta sudah memasuki masa remaja. Di mana perubahan hormon, tingkat stres serta polusi udara bisa memicu kelenjar minyak untuk memproduksi minyak secara berlebihan. Yang kalau nggak dikontrol dengan produk perawatan kulit berminyak bisa menimbulkan masalah kulit seperti komedo dan jerawat. Masalah ini tentu punya efek negatif pada penampilan dan mempengaruhi percaya diri anak. Iya kan?

Produk Perawatan Kulit Yang Wajib Dimiliki Oleh Remaja

perawatan kulit berminyak, produk perawatan kulit untuk remaja

Nah, dari obrolan dengan geng mamak-mamak pecinta skin care, kami sepakat untuk membiasakan anak-anak gadis (dan bujang) kami merawat kulitnya sejak dini. Tujuannya ya untuk mencegah munculnya jerawat dan masalah kulit remaja lainnya. Tentu dengan produk yang sesuai dengan kulit mereka. Dan berikut adalah beberapa produk perawatan kulit yang bisa digunakan oleh remaja.

1. Pembersih Muka

Berupa lotion, gel, cream atau oil yang berfungsi membersihkan kotoran atau make up yang menempel setelah seharian beraktivitas. Untuk remaja, pilih pembersih yang formulanya lembut dan sesuai dengan jenis kulit mereka, serta mengandung anti oksidan untuk merawat dan mencerahkan wajah. Produk ini bisa digunakan bagi remaja yang sudah mulai menggunakan make up atau krim wajah seperti pelembab dan tabir surya.

2. Sabun Muka

Setelah menggunakan pembersih muka untuk membersihkan kotoran dan make up, gunakan sabun muka demi memastikan kulit wajah benar-benar bersih dari sisa-sisa kotoran, make up dan cleanser. Cuci muka 2 kali sehari dengan sabun yang tidak mengandung sodium lauryl sulfat agar wajah tidak kering dan kelembapan alaminya terjaga dengan baik.

perawatan kulit berminyak, produk perawatan kulit untuk remaja

Jangan terlalu sering mencuci muka dengan sabun karena bisa bikin kulit kering. Kalau merasa risih dengan kulit lengket atau kotor setelah berolahraga atau beraktivitas di luar ruangan, usap saja dengan tisu khusus pembersih muka atau micellar water dan kapas. Sebelum tidur, baru deh lakukan dua tahap pembersihan muka ini.

3. Moisturizer

Produk ini berfungsi sebagai asupan gizi bagi kulit dan membantu menjaga kelembapan alami kulit wajah. Pelembap yang ringan dapat melindungi kulit remaja dari beragam polusi udara, debu dan keringat yang bisa mengganggu kesehatan kulit.

4. Sunscreen

Berguna melindungi kulit wajah dari efek buruk sinar UV seperti munculnya flek di wajah dan kerutan sebagai tanda penuaan dini. Banyak yang mengabaikan penggunaan sunscreen ini karena nggak suka dengan teksturnya yang lengket. Padahal ini penting banget. Kalau remaja kita malas dengan banyak tahap perawatan kulit, boleh pakai pembersih muka dan sunscreen aja. Seperti saya terapkan ke Cinta saat ini.

perawatan kulit berminyak

Oya, pastikan produk yang dipakai ini memang khusus sunscreen. Bukan BB Cream dengan SPF atau moisturizer ber SPF atau bedak dengan UV protection. No no no. Karena produk 2 in 1 seperti ini nggak efektif melindungi kulit wajah dari efek buruk sinar UV. Secara fungsi utama mereka bukan sebagai tabir surya, kan. Jadi, ya harus yang jenisnya tabir surya atau sunscreen atau sunblock untuk mendapatkan perlindungan terbaik. Setelah pakai sunscreen mau dilanjut dengan BB cream atau bedak boleh banget.

Di luar keempat produk ini, untuk remaja yang berusia di atas 15 tahun kita bisa melengkapinya dengan:

  • Facial toner yang bisa berfungsi sebagai pengangkat sel kulit mati atau melembapkan kulit. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan kulit.
  • Face scrub yang berguna untuk mengangkat sel kulit mati, membersihkan sisa make up yang nggak bisa diangkat oleh sabun.
  • Masker untuk member nutrisi tambahan pada kulit muka.

Contoh langkah penggunaan skincare untuk remaja bisa dilihat di video ini. Sunscreen dipakai terakhir setelah pelembab di pagi hari. Kalau malam nggak perlu. Cukup berhenti di pelembab.

Mengenal Jenis Kulit dan Perawatannya

Nah, sebelum mulai memilih produk perawatan kulit untuk remaja, sebaiknya kita kenali dulu jenis kulit yang dimiliki remaja kita dan cara merawatnya supaya dapat membeli produk yang tepat.

Kulit Normal

Kulit normal memiliki warna kulit yang halus dan merata; tekstur lembut; dan tidak terlihat bintik-bintik merah, atau bercak-bercak. Pori-pori hampir tidak terlihat, dan permukaan kulit tidak berminyak atau kering. Kulit normal adalah jenis kulit yang ideal karena jumlah air dan minyak yang seimbang dan sirkulasi darah yang baik.

Pemilik kulit normal sebaiknya merawat wajahnya dengan cara:

  1. Mencuci muka dua sampai tiga kali sehari dengan pembersih wajah yang lembut atau sabun muka dengan air untuk membersihkan kotoran dan keringat di wajah.
  2. Menggunakan pelembab yang ringan terutama kalau sering berada di ruangan berAC untuk menjaga kulit supaya nggak kering.
  3. Aplikasikan tabir surya yang minimal ber-SPF 30.

Kulit Kering

Kulit kering biasanya terlihat kusam, kasar, bersisik dan cenderung mudah gatal dengan pori-pori yang hampir nggak terlihat.

Untuk merawat kulit kering lakukan cara berikut ini:

  1. Cuci wajah dengan pembersih wajah berbentuk susu, oil atau lotion yang bebas sodium lauryl sulfat (SLS) agar kulit nggak makin kering.
  2. Kemudian lanjutkan dengan penggunaan moisturizer yang tidak mengandung alkohol.
  3. Dan akhiri dengan penggunaan tabir surya.

Kulit Berminyak

Kulit berminyak biasanya memiliki pori-pori yang terbuka, kelihatan berkilau dan lengket karena produksi minyak yang berlebihan serta rentan timbul komedo dan jerawat.

perawatan kulit berminyak

Untuk merawatnya, lakukan 4 langkah perawatan kulit berminyak berikut ini:

  1. Cuci muka 3 kali sehari dengan pembersih yang mengandung salicylic acid.
  2. Gunakan pelembab yang kandungannya tidak menyumbat pori-pori. Biasanya sih di produknya tertulis ‘noncomedogenic’.
  3. Aplikasikan tabir surya atau sunscreen berSPF minimal 30 yang berbahan dasar air.
  4. Gunakan produk eksfoliasi seperti scrub wajah, toner atau masker satu atau dua kali seminggu untuk mengangkat sel kulit mati yang bisa menyumbat pori-pori.

Kulit Kombinasi

Remaja yang memiliki jenis kulit kombinasi biasanya bagian ‘T-Zone’nya (dahi, hidung dan dagu) berminyak sedangkan bagian lainnya kering. Pori-pori di kulitnya cenderung besar dan cenderung berkomedo.

Untuk merawat kulit kombinasinya, biasakan remaja kita untuk:

  1. Membersihkan wajah dua atau tiga kali sehari dengan sabun yang lembut dan air.
  2. Gunakan pelembab di bagian wajah yang kering.
  3. Aplikasikan sunscreen berbahan dasar air setiap hari setelah menggunakan pelembab.

Jadi sejak kapan anak mulai dibiasakan merawat kulitnya?

Sebaiknya sejak batita anak mulai diajarkan tentang kebersihan dan kesehatan kulit. Dimulai dengan mencuci tangan dengan baik, mandi yang benar, membersihkan alat kelamin dan dubur dengan bersih selepas buang air kecil dan besar serta menggosok gigi dengan baik.

Menjelang akil baligh atau memasuki usia belasan, baru deh dikenalkan dengan produk perawatan kulit wajah dan dibiasakan menggunakannya secara rutin.

Merawat kulit dengan baik sejak dini bisa membantu kulit tetap sehat dan mencegah munculnya jerawat, flek hitam dan tanda-tanda penuaan dini saat anak beranjak dewasa. Tapi, kalau sudah terlanjur timbul masalah pada kulit si remaja, sebaiknya langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit agar tidak semakin parah ya.

Kembali Semangat Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

Kerjaan ibu-ibu itu memang nggak ada habisnya ya. Apalagi yang berkaitan dengan urusan rumah. Mulai dari beberes rumah, masak, nyuci dan setrika, cuci piring, dan sebagainya. Saking banyaknya, nggak jarang terselip perasaan, “Duh, kok nggak selesai-selesai sih ini kerjaan.” Sementara kita udah pengen banget leyeh-leyeh nonton drama seri favorit di TV. Atau untuk para ibu yang bekerja di rumah, pekerjaan lain sudah menuntut untuk dikerjakan. Hal ini bisa bikin kita patah semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Trus jadi males mau ngerjain pekerjaan rumah. Pengennya piknik aja. Atau tidur. Atau apalah yang penting bukan nyapu, ngepel, beresin mainan anak-anak atau setrika.

Itu yang saya rasakan beberapa hari yang lalu.

Ceritanya si mbak part time yang kerja di rumah lagi cuti panjang karena habis operasi mengeluarkan kehamilan di luar rahim. Karena malas cari part time baru untuk sementara, saya mencoba mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian. Bisalah, pikir saya. Toh anak-anak sudah sekolah semua. Jadi saya punya banyak waktu di pagi hari untuk kerja di rumah.

semangat mengerjakan pekerjaan rumah

Minggu pertama dan kedua semua berjalan lancar. Apalagi saya sudah menyusun timetable untuk semua aktivitas saya, temasuk ikut kelas online serta bikin konten blog dan instagram. Bahkan timetable harian itu dengan bangganya saya submit sebagai salah satu tugas mingguan untuk kelas Matrikulasi Ibu Profesional.

Saya juga membuat jadwal khusus blogging, lho. Karena saya hanya punya waktu blogging (maksimal) 1 jam per hari dengan target update blog 1 kali seminggu. Dengan adanya jadwal tersebut, saya punya panduan apa-apa saja yang harus saya kerjakan dalam waktu satu jam tersebut.

Kehilangan Semangat Mengerjakan Pekerjaan Rumah

Tapi oh tapi, di minggu keempat saya sudah mulai kelelahan. Rasanya tuh kaya yang dialami tokoh Phil Connors yang diperankan oleh Bill Murray di film Groundhog Day. Di mana hari itu berulang terus dan harus melakukan hal yang sama persis setiap harinya.

semangat mengerjakan pekerjaan rumah, groundhog day

Itulah yang saya rasakan, saking rutinnya aktivitas saya sehari-hari.

Hal ini tentu bikin saya jenuh. Saking jenuhnya sampai nggak lagi semangat mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi nggak mungkin nggak dikerjakan karena kalau dibiarkan jadi makin numpuk. Liat rumah nggak rapi juga bikin makin stres. Cuma hati nggak mau diajak kompromi untuk bekerja. Teman-teman Pojok Mungil pernah merasa gitu juga nggak sih?

Akhirnya saya curhatlah di instastory. Sekalian nanya kira-kira apa sih yang biasanya dilakukan teman-teman saya untuk mengembalikan semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dan inilah saran dari teman-teman saya lewat instastory:

Tips Mengembalikan Semangat Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

Tidur

Ada beberapa teman yang menyarankan untuk tidur dulu aja kalau lagi nggak semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kalau nggak bisa tidur, minimal gegoleran lah sebentar. Biasanya nggak mood itu karena badan juga capek. Jadi dengan tidur, kita ngasih badan kita haknya untuk beristirahat.

I know it seems impossible for us, moms. Apalagi yang punya anak balita. Tapi coba deh, atur waktu supaya bisa tidur. Nggak perlu berjam-jam jugalah tidurnya. Sejam atau bahkan power nap 15 menit juga cukup. Tergantung waktu dan kebutuhan badan aja. Biasanya setelah bangun tidur, kita bisa lebih segar dan semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga lagi.

Ngopi (Atau Ngeteh Atau Minum Minuman Hangat Favorit Kita)

semangat mengerjakan pekerjaan rumah

Saya sering banget baca nasihat dari salah satu blogger luar negeri yang saya ikuti. Dia selalu bangun lebih pagi dan minum segelas teh hangat sebelum mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Menikmati suasana rumah yang sunyi karena anak-anak dan suami masih tidur; menghirup udara pagi menjelang Subuh yang masih segar serta menikmati minuman hangat yang enak bisa bikin kita lebih semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga lho. Lagipula dengan bangun lebih pagi, kita juga punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan kita sebelum suami berangkat kerja dan anak-anak berangkat sekolah. Jadi nggak kedubragan dan panik gitu. Sehingga mood kita juga bisa terjaga baik seharian.

Baca: Ritual Pagi Untuk Mood Yang Lebih Baik

Makan Enak

Apalagi kalau makanannya itu dibawain suami sambil dia bilang, “Malam ini nggak usah masak, Sayang. Makasih ya, sudah capek-capek ngurusin rumah, aku dan anak-anak.” Duh, apa nggak langsung berkobar tuh semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Etapi, buat yang suaminya bukan tipe perhatian begitu, jangan sedih ya. Kita senasib kok. Adegan di atas itu juga hanya sebatas mimpi untuk saya hahaha. Lha kok jadi curhat.

Namun, makan enak tetap bisa kok mengembalikan semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Beli atau bikin aja sarapan yang kita suka. Favorit saya tuh rebusan sayur hijau, tumis ikan asin dan sambal. Udah deh, nasi satu rice cooker juga bisa abis dimakan sendiri. Abis itu ngantuk, tidur deh. Bangun tidur semangat lagi nyapu ngepel.

Shopping

semangat mengerjakan pekerjaan rumah

Aktivitas ini banyak penggemarnya. Mood booster paling ampuh buat ibu-ibu ini kayanya. Mulai dari belanja kosmetik sampai baju. Kadang jalan-jalan ke supermarket beli kebutuhan rumah plus snack favorit juga sudah bisa bikin semangat mengerjakan pekerjaan rumah kembali lagi.

Dengar Musik Atau Nonton TV Sambil Bekerja

Ini juga banyak bilang ampuh mengembalikan semangat mengerjakan rumah. Dan berlaku juga untuk saya, setidaknya akhir-akhir ini. Jadi, saya tuh paling males setrika. Tapi trus diajarin temen saya untuk nonton tv sambil setrika. Lha, bener. Ternyata setrika sambil nonton serial favorit itu menyenangkan ya.

Karena saya jarang banget nonton tv yang dikuasai anak-anak dan suami, setrika bikin saya bisa ngikutin drama favorit saya, Good Witch di Netflix. Lumayan, sekali setrika bisa 2-3 episode. Akhirnya sekarang saya jadi suka setrika hahaha.

Olahraga

Jalan pagi, yoga atau aerobic di rumah ngikutin video di YouTube bisa bikin badan kita lebih segar. Kalau badan segar otomatis kita juga jadi semangat mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ini juga terbukti di saya. Biasanya waktu ada mbak part time, saya jalan selama 30 menit setiap pagi di jogging track dekat sekolah anak-anak. Selama nggak ada mbak, ya nggak sempatlah saya jalan pagi.

Nah, pas lagi suntuk-suntuknya kemarin tuh, saya paksakan untuk jalan. Dari OGDC ke Billionth Barrel Monument lumayan dapat 2 km. Alhamdulillah, habis itu kepenatan saya agak berkurang. Tapi ganti capek. Trus tidur sebentar. Abis itu semangat lagi deh mengerjakan pekerjaan rumah.

Nyalon Atau Pijat

Creambath, manicure pedicure, spa bisa banget membantu kita untuk melemaskan otot-otot yang kaku karena kecapekan mengerjaan pekerjaan rumah. Atau kalau nggak suka ke salon bisa panggil tukang pijat ke rumah. Malah enak kan, abis dipijat bisa langsung tidur. Trus semangat mengerjakan pekerjaan rumah lagi deh.

Piknik

Kalau memungkinkan, pergilah jalan-jalan. Boleh sendiri, sama teman-teman atau sama keluarga. Kadang kejenuhan itu bukan hanya karena aktivitas yang monoton, juga bisa karena merasa terkungkung di satu tempat yang sama setiap hari. Jadi carilah tempat yang baru, yang bisa bikin kita fresh lagi. Nggak perlu jauh-jauh sampai booking tiket pesawat ke Paris. Cukup cari tempat main di sekitar rumah yang belum pernah kita singgahi. Suasana baru dan aktivitas baru bisa bikin kita semangat lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga sesampainya di rumah.

Nah, itu dia beberapa tips dari teman-teman saya. Yang mau cek instastorynya bisa langsung klik aja link di atas ya. Intinya sih, kalau lagi benar-benar hilang semangat mengerjakan pekerjaan rumah, lakukan sesuatu yang bisa bikin kita rileks dan happy. Take care of yourselfPamper yourself. Membahagiakan diri sendiri itu nggak dilarang kok untuk ibu-ibu. Karena ibu yang bahagia akan membawa aura yang bahagia juga untuk keluarganya.

Setuju?

Anak Bungsu Lebih Disayang Oleh Orang Tua, Benarkah?

anak bungsu lebih disayang orang tua

Banyak orang bilang kalau anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, lebih dimanja, lebih diperhatikan, dan akan selalu dianggap sebagai bayinya orang tua. Benar nggak sih?

Kira-kira 7 tahun yang lalu, saat Cinta masih umur 4 tahun dan masih menjadi satu-satunya anak saya (dan suami), budhe saya pernah berkomentar bahwa saya tuh kelihatan menikmati banget saat bersama Cinta. Beliau lantas membandingkan dengan kenalannya yang kelihatan lebih dekat dengan anak keduanya daripada anak pertamanya. Komentar tersebut langsung dijawab oleh mama saya, “Ya jelas, wong anaknya baru satu.”

Meskipun saat itu saya hanya menanggapi obrolan mereka dengan senyuman, dalam hati saya berkata bahwa berapapun anak saya nanti, kedekatan saya dengan Cinta nggak akan berubah. Gitu. Pede banget lah saya waktu itu merasa akan bisa bersikap sama dan membagi kasih sayang secara adil dan merata kepada semua anak saya. Padahal anaknya baru satu, isi galeri foto di hapenya 90% si anak satu-satunya itu, dan sebagian besar waktu dan uangnya dihabiskan untuk si kesayangan nomer satu.

Sampai negara api menyerang si adik hadir dalam perut saya dan si sulung beranjak semakin besar. Dan saya akhir-akhir ini merasa kok komentar budhe saya 7 tahun lalu itu ada benarnya ya. Saya sepertinya lebih dekat dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama si bungsu daripada si kakak. Saya kelihatan lebih sayang kepada si adik daripada si kakak. Tapi apa iya?

anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

Perbedaan Perlakuan Orang Tua Kepada Anak Bungsu.

Sebagai orang tua sih nggak pengen ya punya perasaan lebih sayang kepada salah satu anak. Karena saya tahu nggak enaknya merasa kurang disayang dibandingkan saudara-saudara saya. Bagi saya waktu itu adik saya sebagai anak bungsu lebih disayang oleh orang tua saya.

Sejak dulu saya tahu kalau adik bungsu saya adalah ‘gantilane ati’nya ayah tiri saya. Dan saya bisa memaklumi karena saat mama saya menikah dengan ayah tiri saya, adik bungsu saya ini masih kecil banget. Jadi mungkin bagi ayah tiri saya, si bungsu ini sudah seperti anaknya sendiri karena beliau yang mengurusi kami sejak kecil. Sedangkan si tengah yang satu-satunya lelaki di antara kami bertiga adalah kesayangan mama saya. There. And I’m nobody’s child. *self pukpuk* *ini nulisnya kok pake sedih ya hahaha*

Nah, setelah punya anak, saya berusaha untuk nggak pilih kasih. I do love both of my kids equally. Nggak ada deh ceritanya anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, khususnya saya sebagai ibu. Tapi ternyata kok nggak segampang itu bersikap secara adil kepada lebih dari satu anak.

Coba, kepada darah daging sendiri aja rasanya susah bersikap adil. Gimana dengan para pelaku poligami. Apa iya bisa adil dengan lebih dari satu istri? Apa iya hatinya nggak akan pernah condong ke salah satu istri? Karena itulah poligami yang syarat utamanya harus bisa adil itu sebenarnya berat dijalani. Eh, kok jadi salah fokus?

Oke, kembali ke anak. Setelah punya anak dua, saya memang merasakan beberapa hal yang berbeda dalam perlakuan terhadap si bungsu ke kakaknya saat ini. Dan menurut penelitian yang dirilis oleh Telegraph.co.uk, orang tua memang cenderung memihak kepada si bungsu saat bertengkar dengan saudaranya, memberikan perhatian lebih kepada mereka, lebih santai dan lebih banyak meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama dengan si bungsu. Intinya meskipun berat diakui, memang ada kecenderungan anak bungsu lebih dekat dengan orang tua.

Tapi, tidak otomatis berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua.

Bagi saya pribadi, ada beberapa perbedaan yang saya lakukan kepada kakak dan adik saat ini. Dan mungkin juga hal ini dilakukan oleh orang tua yang lain. Namun alasannya bukan sekadar karena saya lebih sayang pada si bungsu. Ada faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. Seperti:

  1. Lebih royal kepada si bungsu.

    Sebenarnya ini sebagai bentuk kompensasi karena Keenan sejak baru berusia 2 minggu selalu saya bawa kemana-mana. Maklum, saat Keenan lahir kami sudah di rantau dan nggak ada yang membantu menjaga dia di rumah. Sementara sebagian besar aktivitas saya di luar rumah adalah untuk mengantar jemput kakak dengan berbagai kegiatan sekolah dan ekstra kurikuler.

    Semakin banyak aktivitas kakak, semakin sering Keenan harus mengorbankan waktu santainya di rumah untuk mengikuti saya kemana-mana. Setelah dia bisa protes seperti sekarang, nggak jarang dia menangis karena capek sepulang sekolah dan ingin tinggal di rumah untuk bermain, sementara kami harus pergi lagi mengantar kakak Sekolah Ugama atau aktivitas lain. Akhirnya ya untuk menghibur hatinya saya belikan dia es krim lah, kue lah, buku lah atau apa saja. Iya, saya tahu ini nggak baik, but I just can’t help.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Faktor lain adalah karena saya merasa kakak Cinta waktu balitanya lebih beruntung daripada Keenan. Waktu kakak lahir aja yang nungguin di rumah sakit ada 5 orang. Dia juga lahir dan tumbuh di tengah-tengah kehangatan kasih sayang keluarga besar. Kakak dilimpahi banyak sekali kasih sayang dan hadiah dari orang banyak.

    Sedangkan Keenan hanya punya kami bertiga. Itupun dia harus berbagi waktu dan kasih sayang saya dengan kakaknya, papanya dan pekerjaan rumah. So yeah¸I feel like I have to overcompensate. Namun, bukan berarti karena Keenan anak bungsu lebih disayang oleh orang tua sih.

  2. Lebih sering memeluk, mencium dan memangku adik.

    Ya, itu karena Keenan masih dalam masa suka dipeluk dan memeluk. Dia juga masih cukup besar untuk duduk di pangkuan saya. Sementara si kakak sudah jarang mau dipeluk apalagi dicium. Padahal dulu waktu kakak masih seumur Keenan ya sama aja, we hugged and cuddled all the time.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula karena kami nggak berencana untuk punya anak lagi, Keenan akhirnya menjadi bayi terakhir saya. Dan bayi itu paling menyenangkan untuk dipeluk dan dicium kan ya? Sementara kakak sudah nggak terlalu suka dipeluk atau dicium, walau ada saat dia lagi manja, lagi pengen dimanja. Ingin berduaan dengan dirimu, Sayang (yousingyoulose).

    Namun, bukan karena dia anak bungsu lebih disayang oleh orang tua yang membuat saya lebih sering memeluk dan mencium Keenan. Just simply because, mumpung Keenan masih mau digemes-gemesin, dipangku, disayang-sayang dan dipeluk-peluk ya saya nikmati semaksimal mungkin momen ini.

  3. Lebih menikmati waktu berdua si bungsu.

    Saya dan Keenan lumayan sering berduaan aja. Mulai dari nongkrong makan es krim, ke playground, ke supermarket atau sekadar leyeh leyeh ngobrol dan baca buku di rumah. Tapi bukan berarti lantas saya mengucilkan kakak lho.

    Sebagian besar aktivitas berduaan itu kami lakukan saat si kakak beraktivitas di sekolah. Biasanya kalau lagi malas bolak-balik pulang pergi sekolah – rumah atau tempat les – rumah, saya ajak aja Keenan keliling di dekat sekolah kakak.

    Walaupun nggak jarang saya stress saat bawa Keenan keluar rumah karena selalu ada aja yang bikin dia tantrum, saya berusaha menikmatinya. Karena waktu ini akan segera berlalu. Sebentar lagi anak-anak mungkin nggak akan lagi mau nongkrong bareng mamanya sekadar makan froyo atau jajan burger. Mungkin mereka akan lebih memilih tinggal di rumah nonton tv atau bermain dengan temannya (yang sudah mulai terjadi dengan kakak) daripada nemenin mama jalan sore di taman.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Sebelum tidur saya juga selalu membacakan buku untuk Keenan dan meluangkan waktu lebih banyak dengannya. Alasannya ya karena Keenan belum bisa baca, sementara kami sedang berusaha menstimulasinya untuk belajar baca karena tahun depan dia sudah masuk SD.

    Sedangkan kakak sudah tidur di kamarnya sendiri dan bacaannya bukan lagi buku anak dengan dua tiga kalimat sederhana. Agak jontor juga kan bibir mama kalau harus bacain Harry Potter misalnya. Tapi ya saya masih suka kok nemenin kakak baca buku di kamarnya. Kadang juga kalau ada buku yang menarik dibaca berdua ya saya masih membacakannya untuk dia. Kakak juga masih suka ngikut dengerin saya baca cerita untuk Keenan.

    Jadi kalau saya nampak lebih sering berdua dengan Keenan bukan lantas karena anak bungsu lebih disayang oleh orang tua ya. Keadaan aja yang membuatnya begitu.

  4. Lebih santai saat mengasuh si bungsu.

    Saat baru punya anak satu, saya dulu nggak punya ilmu parenting atau kesehatan anak yang cukup. Semua serba cemas. Semua bikin bingung. Cinta kolik saya panik, Cinta nggak mau makan saya kelabakan, Cinta tantrum saya ikut ngamuk. Apalagi dengan baby blues yang berkepanjangan, bagi saya mengasuh si sulung itu penuh dengan tantangan, stres dan cobaan.

    But alhamdulillah, thanks to my first born and my first parenting teacher, ketika punya Keenan saya sudah lebih tenang. Saya tahu bahwa semua fase yang tadinya bikin saya bingung itu pasti akan berlalu dengan penanganan yang tepat.

    Saya juga sudah nggak lagi merasa perlu bersaing dengan ibu-ibu lain dalam ASI, homemade food atau milestone anak. Dengan si bungsu, saya tahu bahwa anak punya pacenya sendiri dalam mencapai keahlian tertentu.

    Jadi, ketika anak tetangga sebelah sudah bisa lari di usia 9 bulan, saya santai aja menikmati langkah pertama si bungsu. Saat sepupunya sudah bisa bernyanyi lagu nasional, saya cukup bahagia mendengar adik bernyanyi lagu anak sederhana. Selama semua perkembangannya masih dinyatakan normal oleh dokter dan bidan yang rutin memeriksanya setiap 6 bulan, I’m good. I’m content. Itulah kenapa saya bisa lebih santai saat membesarkan si bungsu.

    Dengan adik, saya juga nggak lagi terlalu memberikan banyak aturan. Beda dengan si kakak. Karena saya menganggap kakak sudah lebih besar, saya punya target apa-apa saja yang seharusnya sudah bisa dia pahami dan lakukan pada usianya.

    Hal ini membuat saya keliatan lebih tegas dan disiplin kepada kakak daripada adik. Padahal ya karena si adik lebih kecil, masih belum perlu tegas dalam menerapkan peraturan. Dulu waktu kakak masih seumuran adik juga saya melakukan hal yang sama kok.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula, meski saya lebih santai kepada adik, kakak seolah menjadi pengganti saya untuk lebih tegas dan galak kepada adiknya. Mungkin pikirnya, “Eh, gue disuruh begini begitu kok enak banget adik gue dibiarin aja sama nyokap.” Pada gitu juga nggak sih?

  5. Galeri kamera kebanyakan berisi foto si bungsu.

    Well ya, dengan kakak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, tentu cuma si adik yang bisa dijadikan obyek foto kan. Apalagi semakin besar si kakak, semakin malas dia berada di depan kamera. Lagipula, pernah ada masanya juga timeline media sosial saya dipenuhi foto-foto si kakak. Bahkan album foto di akun FB saya 90% adalah foto-foto kakak sementara si adik hanya punya beberapa foto di sana.

  6. Lebih perhatian kepada si bungsu

    Posisi sebagai seorang adik biasanya kurang menguntungkan kalau punya kakak yang lebih segalanya. Biasanya bagi sebagian besar keluarga, kakak adalah kebanggaan. Sehingga adik biasanya terinspirasi untuk bisa seperti kakak dan selalu mengikuti si kakak kemana-mana bahkan mencoba untuk berteman dengan teman-teman kakaknya juga.

     

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

     

    Sayangnya, sekuat apapun dia mencoba, kadang nggak selalu berhasil menyamai keberhasilan kakak. Karena itulah, saya selalu berusaha lebih keras untuk mendukungnya, memberikan semangat dan membantunya meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini kadang disalahartikan sebagai pilih kasihnya orang tua. Padahal, mungkin hanya karena orang tua terlalu fokus pada yang anak yang lebih kecil dan merasa si kakak sudah lebih bisa dan lebih mandiri sehingga nggak terlalu perlu perhatian lebih.

Begitulah. Meski faktanya anak bungsu cenderung lebih dekat dengan orang tua, bukan berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua. Menurut penelitian yang ditulis oleh Telegraph.co.uk, dari 1803 responden, hanya 23% yang mau mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan dalam keluarga, dan 54% dari 23% tersebut mengakui bahwa anak bungsu adalah favorit mereka.

Orang tua justru merasa memiliki lebih dekat dan memiliki banyak kesamaan serta lebih mudah berkomunikasi dengan anak sulung atau anak yang lebih besar. 60% responden juga mengatakan bahwa mereka suka membicarakan tentang anak sulung mereka dan prestasi-prestasi yang diraihnya.

Namun, apapun posisi anak dalam keluarga, yang paling penting adalah mereka dicintai sepenuh hati, diperhatikan, dipenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya serta diperlakukan sebagai individu yang mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dari saudara-saudaranya. Lagipula, sebagian besar responden mengakui bahwa ada kemungkinan mereka menyukai salah satu anak lebih daripada saudaranya, namun itu karena orang tua merasa bahwa they can get along better with them, bukan karena rasa cinta yang berbeda atau lebih besar.

Kalau menurut pendapat dan pengalaman teman-teman gimana? Benar nggak anak bungsu lebih disayang oleh orang tua?