Menenangkan Bayi Rewel Karena Kolik dengan Alat Pembersih Debu

Menenangkan Bayi Rewel Karena Kolik. Kemarin waktu beres-beres file di komputer, saya menemukan banyak sekali foto-foto Cinta semasa bayi. Maklum ya, namanya juga anak pertama. Pasti setiap langkahnya nggak lewat dari jepretan kamera walaupun hasilnya masih ala kadarnya. Menyenangkan juga nostalgia ke masa dia bayi. Mengenang masa-masa saya masih awam dengan dunia peribuan dan masih suka bingung menghadapi bayi yang tiba-tiba nangis nggak berhenti mulai maghrib sampai menjelang tengah malam.

Pengalaman Menghadapi Bayi Rewel

Akibat kebingungan itu, Cinta sempat berkali-kali kami bawa ke dokter yang berakhir dengan gebokan obat yang harus dikonsumsinya dan instruksi diet untuk saya karena masih menyusui. Konon, menurut dokter, makanan yang dikonsumsi ibu menyusui juga bisa berpengaruh terhadap pencernaan anak. Jadi waktu itu saya harus mengurangi makan daging ayam, ikan, telur, juga sayuran yang bisa menyebabkan perut kembung seperti kubis.

Tapi ternyata episode menangis di malam hari sambil menekuk tubuhnya seolah-olah perutnya sakit itu masih sering berlangsung. Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya di buku The Baby Book karangan William Sears, MD yang setebal batu bata. Dari buku itulah saya mengetahui kalau gejala yang dialami oleh Cinta itu berjudul kolik. Walaupun kemudian Dr. Sears bilang sebenarnya nggak mudah mendiagnosa bayi mengalami kolik. Dan beliau lebih suka menyebut bayi yang terus menerus menangis dalam periode tertentu itu sebagai, ‘the hurting baby‘. Tapi sebagian besar dokter anak dan situs-situs kesehatan sudah terlanjur mengenal gejala tersebut sebagai kolik.

Bayi Rewel Karena Kolik

apa dan bagaimana kolik

Dengan mengandalkan koneksi internet yang masih terbatas waktu itu dan sumber informasi yang belum sebanyak sekarang, saya coba berbagai metode yang dipercaya untuk menenangkan bayi yang terus menerus menangis karena gangguan perut yang nggak diketahui penyebabnya ini. Mulai dari menggosok perut pakai minyak telon, pijat bayi, diayun-ayun, gendong kanguru sampai yang sepintas nggak masuk akal seperti menyalakan hair dryer dan alat pembersih debu.

Bayi Rewel Karena Kolik Tenang dengan Penyedot Debu

Tapi yang dua terakhir ini cukup efektif lho buat Cinta dulu. Ternyata alat pembersih debu termasuk salah satu alat elektronik yang mengeluarkan white noise, selain hair dryer. White noise adalah suara bising yang mengandung banyak frekuensi dengan intensitas yang sama dan dapat menenggelamkan suara yang lain. Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, bayi terutama yang baru lahir, suka sekali dengan white noise karena mirip dengan suara yang mereka dengar selama berada di dalam rahim.

Nah, karena itulah suara dari alat pembersih debu dapat menenangkan bayi rewel, terutama yang belum terbiasa dengan keriuhan dunia luar. Kalau bayi tenang, otomatis dia bisa tidur dengan mudah kan ya. Jadi meskipun aneh, metode ini cukup masuk akal juga dipraktikkan, bahkan salah seorang blogger luar negeri pernah cerita saking seringnya bayinya rewel karena kembung, dia jadi tergantung sama alat pembersih debu ini sampai mesinnya rusak karena terlalu sering dinyalakan. Jadi lumayan ya, selain untuk membersihkan rumah, alat pembersih debu juga bermanfaat menenangkan bayi rewel.

 

7-tips-menenangkan-bayi-rewel-3

Tips Menenangkan Bayi Rewel

Tentunya, selain dengan white noise dari alat pembersih debu, hair dryer, kipas angin, humidifier dan suara yang dihasilkan ketika siaran TV habis trus cuma keliatan layar berbintik-bintik seperti semut, ada banyak metode yang bisa kita lakukan saat anak rewel karena merasa nggak nyaman dengan kondisi tubuhnya atau lingkungannya. Ini dia 7 di antaranya:

1. Bedong

Membungkus bayi dalam kain bedong kayanya sekarang sudah mulai ditinggalkan karena banyak yang bilang nggak baik untuk kesehatan anak. Tapi dalam beberapa kasus, seperti bayi yang rewel terus karena kolik, dibedong bagi mereka seperti berada dalam rahim. Menenangkan dan nyaman. Hanya saja pastikan bedong nggak terlalu kencang, sekadar agar tangan dan kaki anak nggak bisa keluar.

2. Nyalakan White Noise

Masih dengan alasan yang sama seperti bedong, suara-suara ‘putih’ yang dikeluarkan oleh alat pembersih debu, pengering rambut, pencuci piring mirip dengan yang didengar bayi saat dalam kandungan. Suara-suara itu dikenal sebagai soothing sound yang dapat membuat bayi lebih tenang.

3. Shh!

Bukan, ini buat suara shhh dalam nada membentak ya. Ini suara shhh yang kita gunakan untuk menimang bayi, kebayang kan? Nah, gendong bayi dalam posisi berdiri trus bisikkan shhhh panjang ke dekat telinganya dengan volume yang lebih keras dari suara tangisannya.

4. Naik Mobil

Kalau punya mobil, cara ini lumayan ampuh lho untuk menenangkan bayi rewel. Dulu juga kalau Cinta rewel semaleman, adik-adik dan sepupu saya yang tinggal di rumah (mama saya) bergantian nyetirin mobil keliling komplek perumahan sampai dia tertidur. Biasanya sih, nggak sampai 5 menit muter Cinta sudah tidur. Menurut WebMD, cara ini efektif karena sejak dalam kandungan, bayi terbiasa ikut bergerak. Jadi kalau kita bawa naik mobil, diayun, kita pangku sambil duduk di kursi goyang atau didudukkan dalam kursi bayi yang punya mode getar, bisa membuat bayi nyaman karena mengingatkannya pada keadaan saat dalam kandungan.

5. Pijat Bayi

Menurut penelitian, bayi yang dipijat cenderung jarang menangis dan mudah tidur nyenyak. Nah, awalnya saya kira pijat bayi yang paling efektif adalah di tempat terapis pijat bayi gitu. Tapi ternyata itu nggak berlaku untuk Cinta. Setiap dipijat dia selalu menangis heboh meskipun setelah itu bisa tidur dengan tenang dan nyaman.

Akhirnya saya coba belajar pijat bayi sendiri lewat buku dan VCD, ternyata Cinta suka banget. Sentuhan lembut kulit kita dengan si bayi selain menenangkan bayi ternyata juga menenangkan kita. Dan bisa meningkatkan bonding ibu dan bayi serta dapat mengeluarkan gas di dalam perut yang biasanya membuat bayi kesakitan.

6. Sendawakan Bayi

Satu cara yang sering dianjurkan oleh para dokter yang kami kunjungi dalam periode tangisan tak berujung ini adalah rajin menyendawakan bayi setelah dia minum susu atau menangis. Seringkali, udara yang ikut masuk saat anak minum susu atau menangis menyebabkan perutnya kembung dan bergas, sehingga semakin parah rewelnya.

7. Kunjungi Dokter

Banyak faktor yang menyebabkan anak menangis tiada henti, sehingga untuk menentukan faktor penyebabnya dan menemukan cara terbaik untuk membuatnya nyaman adalah dengan berkonsultasi dengan dokter anak langganan kita. Takutnya ada kondisi medis yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu menurut pengalaman pribadi, setiap kali merasa galau dengan kondisi anak, berkunjung dan berkonsultasi dengan dokter bisa membuat kita lebih tenang. Tentu pilih dokter yang mau diajak berdiskusi ya, bukan yang hanya periksa 1 menit langsung kasih obat.

Hal yang terpenting dalam menghadapi bayi yang rewel karena kolik ini adalah kita harus tetap tenang dan pastikan bahwa rewelnya anak bukan karena lapar atau mengantuk. Nggak gampang memang, saya tahu banget itu. Tapi semakin kita bingung dan panik yang berujung marah-marah, bayi juga jadi makin nggak nyaman sehingga makin rewel. Kalau sudah benar-benar nggak tahan dengan kerewelan bayi, letakkan dia di tempat yang aman atau titipkan pada orang rumah sementara kita minum teh, makan atau mandi supaya segar. Dan yakinlah ini semua akan berakhir kok. Biasanya setelah 6 bulan, bayi akan lebih tenang dan jarang menangis terus menerus. So, hang in there, Mom.

Ritual Pagi Untuk Mood Yang Lebih Baik

morning routine for busy mom, morning routine, mom, lifehack

Moms, pernah nggak sih merasa bad mood berkepanjangan? 

Malas bangun dari tempat tidur, malas ngapa-ngapain, kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang disukai, kepala rasanya penuh dengan berbagai pikiran harus mengerjakan ini dan itu tapi kemudian semuanya berantakan. Menjalani kegiatan sehari-hari pun menjadi sekadar rutinitas tanpa arti. Seakan-akan tubuh dan pikiran nggak nyambung, badannya di mana, pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Moody, bawaannya pengen makan tapi trus nyesel karena kebanyakan makan, akhirnya uring-uringan lagi. Hal-hal kecil bisa bikin kita emosi dan pengennya seharian itu sendiri, tiduran, main hape atau baca buku. Ya, perasaan semacam itulah? Pernah?

Saya sedang mengalaminya dan kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa minggu. Sampai suami saya menyuruh saya ke dokter karena melihat saya yang nampak nggak seperti biasanya. Padahal saya tahu secara fisik saya sehat, never been this fit, thanks to the Body Balance class yang saya ikuti seminggu 2 kali belakangan ini. Bahkan mulai minggu lalu sesi “olahraga” bertambah karena di sore hari anak-anak suka minta ke Billionth Barrel Monument untuk cari Pokemon :))

 

Karena kondisi ini banyak pekerjaan yang terbengkalai, termasuk urusan ngeblog. Banyak hutang tulisan yang belum saya lunasi, kalaupun akhirnya saya posting saya merasa nggak memberikan 100% usaha saya untuk menulis hal itu. 

Periode vakum ngeblog ini memang selalu saya alami. Ada saat-saat saya sangat produktif, bisa posting beberapa kali dalam seminggu dengan banyak sekali ide tulisan yang bermunculan. Masih sempat juga untuk berkontribusi di situs-situs lain di sela-sela aktivitas rutin seperti ngurus rumah, antar jemput anak-anak, masak, bergaul, berkomunitas, olahraga dan sebagainya. Kadang memang merasa seperti sprint karena harus mengerjakan sesuatu dengan cepat, sehingga tiap abis Maghrib sering merasa kelelahan tapi saya happy. 

Lalu muncul periode seperti yang sedang saya alami saat ini. And I feel unhappy

Kemudian, saya mulai membaca satu per satu blog teman-teman yang tergabung dalam grup V Arisan Link Blogger Perempuan. Lantas mengagumi betapa produktifnya mereka, betapa cerianya nada dalam tulisan mereka. Dan saya semakin merasa down hahaha. Iya, kok saya nggak bisa seperti itu. Katanya pengen jadi blogger profesional, mengalahkan mood saja nggak bisa. Duh.

Baca juga: Working At Home Mom: Blogger Profesional

Apalagi ngeliat blog dan aktivitasnya Tia Marty, seorang blogger dan penulis yang sangat produktif menurut saya. Ya, gimana enggak, selain rajin menulis aneka reportase dari berbagai event yang ia kunjungi sebagai blogger, Tia juga berprofesi sebagai scriptwriter untuk serial Bro and Bray, Laundry Kiloan, Kos-kosan Jogja, Lovepedia: Dilema Sahabat, dan layar unggulan: Cinta Seutuhnya. Keren yaa. Profesinya sebagai penulis skrip ini memungkinkan Tia untuk berkenalan dengan para artis, lho. Seru liat foto-foto Tia bareng beberapa pemain sinetron di akun Instagramnya.

Masih belum puas, Tia yang bergabung dalam berbagai komunitas penulis dan blogger seperti IIDN (Ibu Ibu Doyan Nulis), Blogger Reporter Indonesia, Blogger Perempuan dan Writer Blogger juga sudah menerbitkan beberapa buku fiksi maupun non fiksi. Hiaaa, produktif banget kan. Trus masih sempat juga jalan-jalan dan menyalurkan hobi memotretnya sambil mempromosikan hasil karyanya di media sosial.

Tia Marty, tiamarty.com, arisan link, blogger perempuan, profil blogger, blogger, scriptwriter
Buku-buku karya Tia Marty

Ketika saya mencoba mengorek rahasianya, Tia mengaku nggak punya kiat khusus untuk menjaga moodnya supaya tetap produktif dalam berkreasi. Dia hanya berusaha membuat skala prioritas dalam setiap kegiatannya. 

“Aku utamakan yang deadline dulu yang aku kerjakan, misalnya menjelang deadlineskrip, aku fokus di situ. Kalau sudah selesai baru ganti fokus nulis buku atau blog.”

Untuk blog sendiri, walau rajin datang ke event dan mendapat job review, Tia nggak punya target khusus. “Aku jalaninnya santai. Sesempatnya saja,” ujarnya. Meski demikian ternyata beberapa tulisan di blog tiamarty.com sudah berhasil menjadi juara di beberapa kompetisi blog, lho. Itu yang namanya sersan kali ya, serius tapi santai. Maklum, bagi Tia, dunia penulisan ini adalah hal yang dia sukai sehingga ia mengerjakannya dengan senang hati. “Kalau lagi nggak moodya aku tinggalin sebentar buat nonton, jalan-jalan, makan, tidur.”

Tia Marty, tiamarty.com, arisan link, blogger perempuan, blogger, scriptwriter

Nah, mungkin itu ya, rahasia supaya periode demotivasi saya ini nggak makin berlarut-larut. Melakukan sesuatu yang saya suka. Tapi, untuk ibu-ibu dengan aktivitas random seperti saya ini, agak susah menjaga mood mungkin ya. Lagi hepi masak di dapur, eh udah waktunya jemput anak sekolah. Lagi nulis, eh, si kecil udah ngoceh-ngoceh minta ditemenin main. Mau ngopi-ngopi cantik sama temen-temen kok ya kerjaan rumah menuntut diselesaikan. Ya udahlah, saya mah tidur aja akhirnya :))

Namun, ternyata masalah ini nggak cuma saya sendiri yang menghadapi kelelahan mental seperti itu dan menurut beberapa contekan yang saya baca salah satu obatnya adalah melakukan rutinitas rutin tiap pagi supaya seharian dapat melakukan aktivitas dengan tubuh dan pikiran yang segar. Apa aja sih?

morning routine for busy mom, morning routine, mom, lifehack

1. Bangun Lebih Dulu dari Penghuni Rumah Lainnya

Iya, ini pasti sudah rutin dilakukan emak-emak ya. Tidur paling malam (kecuali suami begadang nonton film atau pertandingan olahraga) dan bangun paling pagi. Etapi karena jujur saja saya ini bukan morning person, biasanya suami saya bangun lebih dulu sih, mungkin mesti dicoba deh bangun lebih pagi dari dia.

2. Minum Segelas Air Hangat dan Perasan Lemon

Banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan minum segelas air hangat dan perasan lemon setelah bangun tidur dan sebelum minum teh, kopi atau susu. Air dengan perasan lemon dapat merehidrasi tubuh kita yang kekurangan cairan karena tidur selama 6-8 jam, meningkatkan imunitas tubuh dengan vitamin C yang terdapat dalam lemon, menutrisi sel-sel otak kita dengan potasium, membantu liver mengeluarkan racun dari tubuh, dan masih banyak lagi. Ini adalah salah satu cara efektif untuk meningkatkan energi di pagi hari. 

3. Ibadah

Sholat Subuh atau doa pagi atau ritual apa saja yang bisa mendekatkan kita kepada Sang Pencipta. Dengan khusyu’ berdoa, dapat membantu kita untuk fokus pada hal-hal yang perlu kita lakukan di hari itu serta mengurangi stres. Setelah beribadah, luangkan waktu untuk mensyukuri hal-hal yang kita terima di pagi itu. Bisa bangun dalam keadaan sehat, anak-anak yang tidur nyenyak semalam, atau apa saja. Mungkin kita juga bisa membuat jurnal kebahagiaan dengan mencatat 3 hal yang membuat kita bersyukur hari itu. Bersyukur ternyata dapat meningkatkan mood dan energi kita secara natural lho. Huhuhu, mungkin iya ya, selama ini saya kurang bersyukur dan lebih banyak mengeluh sehingga mood tak kunjung membaik.

4. Regangkan Tubuh

Saya tuh suka merasa pegel dan kaku tiap bangun tidur. Mungkin karena posisi tidur yang kurang tepat kali ya, soalnya sambil ngelonin anak lanang sih. Kalau sudah gitu, badan jadi nggak enak banget untuk memulai aktivitas di pagi hari. Tapi setelah mulai ikut kelas body balance, keluhan itu mulai berkurang, dan ternyata memaksakan diri untuk berolahraga ringan, minimal meregangkan tubuh di pagi hari bisa membuat kita lebih segar sepanjang hari. Nggak usah susah-susah, cukup dengan berbaring di tempat tidur sambil menarik lutut ke arah dada lalu dipeluk sambil menggoyangkan tubuh ke kanan dan kiri untuk meregangkan tulang belakang dan melepaskan cadangan energi.

Begitu bangun dari tempat tidur, regangkan tubuh semaksimal mungkin. Rentangkan tangan ke atas sambil menggoyangkan jari-jari dan berdiri jinjit supaya tubuh bagian bawah juga ikut meregang. Enak banget rasanya, aliran darah jadi terasa lancar.

ritual pagi untuk mood yang lebih baik. lifehack, mom'slife, morning routine for mom

5. Hirup Udara Segar

Kalau lagi nggak buru-buru, sebelum menyiapkan sarapan anak-anak, saya suka keluar ke halaman belakang sambil membawa tumpukan baju kotor untuk dimasukkan ke mesin cuci yang terletak di teras belakang. Segar sekali menghirup udara pagi, merasakan rerumputan basah di telapak kaki dan memandangi langit yang pelan-pelan menerang. Supaya lebih mantap, sekalian duduk di luar sambil minum air lemon hangat itu tadi. 1-2 menit saja sudah cukup membuat kita fresh.

6. Jalan Pagi

Jalan pagi dapat membantu mengurangi stres, melemaskan otot-otot, menurunkan berat badan dan menjernihkan pikiran kita. Cukup 10-15 menit sehari keliling kompleks perumahan konon sih bisa memberi efek menakjubkan bagi kesehatan tubuh, jiwa dan pikiran kita.

7. Cek Agenda Kegiatan dan Buat Prioritas

Nah, ini! Membuat to-do-list atau daily planner akan memudahkan kita membuat skala prioritas hal-hal yang harus kita lakukan segera dan mana yang bisa menunggu. Catatan ini juga dapat mengurangi beban otak kita yang harus terus-menerus mengingat dan berpikir tentang rencana harian kita. Kalau semua tercatat dengan rapi pasti akan lebih mudah bagi kita memastikan apakah kita berada di jalur yang benar hari ini. 

Begitulah 7 ritual pagi yang bisa membantu kita menjalani hari-hari sibuk dan melelahkan dengan lebih semangat dan pikiran yang jernih. Kalau dilihat semua sepertinya berat ya dan berarti harus bangun lebih pagi. Jadi, nggak masalah kok kalau kita mau memulai satu ritual dulu sampai terbiasa lantas ditambah lagi dengan ritual yang lain. One small step at a time lebih baik daripada terus-menerus berada dalam kondisi mental yang tidak produktif ini. Yuk, dicoba bareng-bareng. Atau mungkin mama ada ritual yang selalu dilakukan tiap pagi untuk meningkatkan mood? Ditunggu sharingnya ya.

Menghindari Baby Blues Sejak Masa Kehamilan

baby blues, post partum depression, kehamilan

Saat anak pertama saya lahir 8,5 tahun yang lalu, saya mengalami post partum depression. Rasanya gado-gado deh. Titik terendah adalah ketika saya menangis di kamar mandi karena merasa nggak bisa jadi ibu yang baik dan membayangkan bahwa akan lebih baik kalau saya nggak ada aja. Dan ini sering terjadi, nggak cuma sekali dua kali.

fakta baby blues, fakta postpartum depression

Sebenarnya, kalau diingat-ingat lagi sekarang, dulu tuh sebenarnya saya nggak susah-susah banget kok. Yang terjadi waktu itu hanyalah ASI nggak lancar sehingga harus ditambah sufor. Pemberian sufor ini ternyata bikin Cinta kolik dan menyebabkan dia menangis terus-menerus tiap malam. Keadaan tersebut memaksa kami berkali-kali ke dokter, sehingga dia harus mengkonsumsi antibiotik di usianya yang baru beberapa hari itu. Belum cukup Cinta yang minum obat, sayapun harus diet ayam dan seafood dan harus makan sayur yang tadinya saya nggak suka. Lantas dia kena ruam popok dan macam-macam masalah kesehatan ringan lainnya. Selain itu Cinta baik-baik aja, dia lincah, menyenangkan, lucu. Namun, saat itu keadaan seperti itu saja sudah dapat membuat saya merasa gagal jadi ibu. Sementara suami saya bekerja di luar kota dan nggak selalu bisa pulang setiap bulan.

Akibatnya, saya kesal pada Cinta karena menganggap dia merampas semua dari saya: zona nyaman, waktu, perhatian keluarga, pekerjaan bahkan tubuh saya. Saya nggak bisa mandi meskipun badan sudah lengket karena dia cuma ingin digendong, badan dan baju saya selalu bau ASI, gumoh dan pipis. Dan itu membuat saya semakin nggak nyaman.

Perasaan ini membuat saya sering memarahi bayi belum 6 bulan itu hanya karena dia menangis dan saya nggak bisa menenangkannya atau ketika saya harus berkali-kali mengganti popoknya juga saat dia terus-menerus minta nyusu. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Masa-masa itu rasanya hampa aja. Nggak merasa bahagia, kalaupun senang ya cuma sesaat. Hal-hal yang biasanya membuat saya ceria cuma mampu bertahan selama beberapa saat. Kemudian murung lagi, marah lagi, sedih lagi. Tapi saya nggak bisa bilang apa-apa ke siapapun. Semua orang yang ada di rumah seperti mama, nenek, adik-adik bahkan bibik ART sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan saya mengurus anak. Bahkan bisa dibilang, karena waktu itu masih tinggal di rumah mama, tugas saya ya cuma mengurus Cinta. Titik. 24 jam bersamanya. Tapi nggak bisa saya nikmati. Semua dilakukan sebagai rutinitas aja.

Saya tahu saya mengalami baby blues saat itu tapi saya pikir akan berlalu sendiri. Dan ketika keadaan semakin memburuk dan sempat tercetus keinginan untuk konsultasi ke psikolog, ada yang berkomentar, “Kamu kan anak psikologi, masa iya nggak bisa menyembuhkan diri sendiri.” Duh, dokter aja kalau sakit pun perlu berkonsultasi dengan rekan sejawatnya ya. Apalagi saya yang cuma lulusan S1 Psikologi. Tapi ya sudah, nggak semua orang bisa memahami bahwa depresi itu harus dibantu. Jadi ya saya berusaha berproses sendiri.

Sampai kemudian ketika Cinta berusia 6 bulan, mama saya memutuskan menyewa babysitter dan beberapa bulan setelahnya saya kembali bekerja di luar rumah. Baru deh depresi itu berkurang. Saya mulai bisa melihat lucunya Cinta, mulai bisa menikmati hari-hari saya bersamanya dan peran saya sebagai ibu meskipun bergantung sepenuhnya kepada mbak babysitter untuk menjadi partner saya. Mood swing pun masih sering terjadi bahkan sampai sekarang, setelah 8,5 tahun dan 2 anak, terutama saat lelah dan banyak pikiran.

Karena itulah saya takut punya anak lagi. Sampai 3 tahun yang lalu Keenan lahir. Selisih 5,5 tahun dengan Cinta. Selama itulah saya berusaha menghilangkan ketakutan mengalami post partum depression lagi. Tapi alhamdulillah, masa-masa itu nggak terulang lagi. Ya, nggak separah dulu. Masih mengalami baby blues, namun setelah beberapa minggu sudah berkurang.

Belakangan ini, menjelang ulang tahun ketiganya Keenan, saya jadi berpikir, bisa nggak sih baby blues itu dihindari? Sindrom ini seakan-akan jadi momok bagi ibu yang baru melahirkan lho. Menurut penelitian, 80% ibu mengalami baby blues dan 10% di antara yang 80% itu mengalami post partum depression. Dan keadaan ini bisa dialami oleh ibu dengan berbagai kondisi kehamilan, bahkan ibu yang hamilnya sehat bahagia sekalipun.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti penyebab baby blues itu apa. Hormonkah? Kelelahankah? Apa? Nggak jelas. Semua bisa jadi penyebabnya. Tapi setelah melihat lagi pengalaman mengurus 2 bayi dan beberapa pengalaman teman, sepertinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu hamil untuk menghindari baby blues, seperti berikut:

baby blues, post partum depression, masa kehamilan, kesehatan ibu hamil

Siapkan Diri Untuk Hal-Hal yang Tidak Terduga

Having a baby is not always rainbows and butterflies. Ya, memang menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan dan bisa bikin dunia kita jungkir balik. Saya ingat sekali, waktu masih dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Cinta, seorang Budhe bilang, “Dinikmati mumpung masih di rumah sakit. Banyak-banyak istirahat. Nanti kalau sudah di rumah apa-apa harus sendiri.”

Dan, benar aja. Malam pertama keluar dari rumah sakit, saya mengetok pintu kamar nenek saya jam 10 malam sambil menangis karena nggak tahu lagi harus ngapain menghadapi Cinta yang terus menerus menangis meski sudah disusui dan diganti popoknya berkali-kali. Ajaibnya, begitu dipegang yuyutnya, Cinta bisa tidur dengan tenang.

Saat saya hamil, nggak ada tuh yang bilang ke saya kalau induksi itu sakitnya luar biasa dan ketika punya bayi itu kita harus ganti popok kain tiap 15-30 menit sekali. Nggak ada yang ngasih tahu kalau posisi latch on yang nggak tepat itu bisa bikin ASI nggak lancar dan payudara lecet. Nggak ada juga yang cerita kalau begadang setiap malam itu melelahkan lahir dan batin. Bahkan dokter pun nggak bilang kalau kemungkinan golongan darah yang berbeda antara anak dan ibu bisa mengakibatkan bilirubin bayi tinggi sehingga harus fototerapi. Eh, masih alhamdulillah kalau “cuma” fototerapi. Lha kalau harus transfusi darah segala?

Salahnya saya dulu adalah saya nggak mencari tahu tentang hal-hal tersebut saat kehamilan. Mungkin juga nggak mau tahu. Saya cuma mau dengar berita-berita baik tentang kehamilan dan kelahiran karena tiap dengar hal buruk pasti langsung stres. Saya hanya berkonsentrasi pada kondisi kehamilan saya saat itu. Padahal, kemungkinan-kemungkinan ini yang harus kita cari tahu. Bukan negative thinking, tapi seperti suami saya sering bilang, “Hope for the best but always prepare for the worst.” Dengan kita tahu apa aja yang bisa terjadi saat dan setelah melahirkan, kita jadi bisa bikin rencana untuk menghadapinya berdua kan? Dengan demikian saat benar-benar terjadi kita lebih siap. Tapi kalau semuanya benar-benar lancar dan menyenangkan ya alhamdulillah banget.

Olahraga

olahraga ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

Yoga, jogging, senam hamil atau sekadar jalan santai atau apa saja selama membuat badan kita bergerak, menghirup udara segar dan keluar rumah selain membuat badan kita sehat selama kehamilan juga menyiapkan stamina kita untuk proses persalinan dan setelah kelahiran si bayi.

Waktu hamil Keenan saya lumayan rajin olahraga, terutama setelah trimester kedua, meskipun sempat berhenti karena low lying placenta. Selain ngikutin senam hamil dari youtube, saya juga jogging di luar rumah. Alasan utamanya dulu supaya berat badan nggak naik terlalu banyak dan menghindari kebosanan karena terkurung di apartemen, tapi ternyata memang lumayan membantu untuk kesehatan mental dan kesiapan fisik.

Bekali Diri Dengan Ilmu Kesehatan Dasar Tentang Masalah yang Biasa Dialami oleh Bayi Baru Lahir

8,5 tahun yang lalu, saya nggak ngerti apa-apa tentang kesehatan bayi baru lahir. Semuanya manut dokter. Ada bagusnya, karena vaksinasi Cinta jadi lengkap dan tepat waktu. Tapi jeleknya saya jadi gampang panik.

Begitu lahir, Cinta kuning. Bilirubinnya tinggi karena golongan darah saya dan dia beda sehingga harus masuk inkubator selama 4 hari. Begitu pulang ke rumah, nafasnya bunyi. Saya takut. Bawa ke dokter. Nggak lama berselang, dia selalu gumoh setiap minum susu, tiap Maghrib bisa nangis berjam-jam sampai malam. Saya panik. Bawa ke dokter. Lama-lama saya merasa semakin nggak becus jadi ibu. Anak kok sakit terus. Anak kok nangis melulu.

Baru kemudian kenal sebuah milis tentang kesehatan anak-anak, dari situ banyak belajar. Setelah Keenan lahir, selama dua minggu dia kuning. Tapi dokternya santai, bidan yang tiap hari datang ke rumah untuk ngecek kondisi saya dan Keenan pun santai. Cuma berpesan untuk banyak disusui dan terkena sinar matahari.

Dengan kita punya pengetahuan dasar tentang kesehatan bayi baru lahir dan tanda-tanda kegawatdaruratannya, kita jadi nggak gampang panik. Kepanikan ini yang bikin kita stres dan stres bisa memperburuk baby blues.

Pilih Partner Menyusui yang Bijaksana

“Anakmu nangis terus lapar itu. ASInya nggak cukup tuh. Wis, kamu nggak bisa ASI Eksklusif kalau gini caranya.”

Kalimat itu dilontarkan seorang saudara di suatu malam saat Cinta sedang rewel dan terus-menerus menangis. 8,5 tahun berlalu dan masih teringat jelas. Dalam pikiran saya, gagal lah cita-cita saya menjadi ibu yang baik karena nggak bisa ngasih ASI Eksklusif. Saya down, marah dan kecewa.

Ibu jaman sekarang sudah lebih paham tentang pentingnya ASI dan semakin banyak yang menyusui bayinya dibanding jaman saya melahirkan Cinta dulu. Cuma, nggak sedikit yang karena merasa lancar menyusui lantas jadi menghakimi ibu-ibu yang mengalami kesulitan instead of membantunya. Padahal, nggak semua mengalami proses yang sama. Jadi, pilihlah seorang atau segrup teman sesama ibu menyusui yang suportif, yang nggak segan membantu kita saat merasa kesulitan.

Sungguh, menyusui bayi yang lagi growth spourt tiap setengah jam itu seringkali melelahkan. Apalagi ketika payudara kita lecet karena latch on yang salah. Pernah suatu malam dalam keadaan ngantuk berat dan payudara luka, sementara Keenan menuntut disusui terus menerus, saya bilang ke suami, “Sudah. Aku nggak mau lagi nyusuin Keenan. Sakit. Capek. Bosan. Kasih aja dia susu botol.”

Beruntung saat itu masih ada bidan yang rutin home visit ke rumah. Beliau pun mengajari saya latch on yang benar sampai saya bisa. Juga suami selalu siaga mencari yang saya butuhkan seperti salep untuk nipple crack. Selain itu teman-teman yang saya kenal di Brunei, baik sesama orang Indonesia, orang lokal maupun berkebangsaan asing, sudah terbiasa dengan breastfeeding. Sehingga saya nggak segan curhat kalau ada kesulitan, nggak susah mencari tempat menyusui ketika sedang berada di luar rumah meski hanya modal baju menyusui yang tertutup. Jadi ya, dibandingkan dengan saat Cinta dulu, masa-masa menyusui Keenan memang lebih lancar dan menyenangkan karena nggak ada yang dikit-dikit menghakimi saya hehehe.

Pelajari Teknik Relaksasi
relaksasi ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

Bisa dzikir, yoga, hypnobirthing, meditasi atau apa saja yang bisa membuat kita rileks.

Konon, bayi akan lebih tenang dan nyaman kalau ibu atau pengasuhnya rileks. Ya, kaya cerita saya di atas itu, Cinta bayi selalu mendadak anteng dan bisa tidur dengan nyenyak kalau dipegang sama yuyutnya. Begitupun Keenan. Di tangan dan gendongan yangti dengan alunan sholawat yang dinyanyikan beliau atau di dalam baby boxnya ditemani yangkung sambil didengerin murotal dari Al Quran digital, pasti tenang dan nyenyak tidurnya.

Jadi memang lebih baik kita jadikan relaksasi kebiasaan baik sejak masa kehamilan. Ibu yang rileks juga menciptakan bonding lebih baik dengan bayinya. Dan menurut Diane Sanford, Ph.D., pengarang buku Postpartum Survival Guide, ibu yang terbiasa melakukan relaksasi ini, meski hanya 10-15 menit, lebih mampu mengatasi stres dalam mengasuh bayi daripada yang tidak melakukan.

Oh ya, kebanyakan ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression mengalami kesulitan tidur, seperti saya. Jadi saat si bayi tidur, yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk ikut istirahat, yang ada malah melek dan mikir macem-macem. Padahal, kurang tidur nggak bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita. Dengan belajar teknik relaksasi, kita bisa lebih mudah untuk tidur sebentar. Lumayan lho, kalau bisa melakukan power nap meski hanya 30 menit di awal-awal usai melahirkan. Karena kalau kita istirahat dengan cukup, akan meminimalkan resiko mengalami mood swing.

Buat Persiapan dan Rencana Mengatur Urusan Rumah Tangga

Selain perlengkapan bayi, sebaiknya kita juga menyiapkan mental dan berbagai hal seputar urusan rumah. Bayangkan nanti saat si bayi lahir, kebanyakan waktu kita hanya akan habis untuk menyusui bayi, menggantikan popok, menidurkannya, memandikan, menyusui bayi, mengganti popok, menidurkannya, memandikan, menyusui dan begitu terus. Sebagian besar kita yang nggak punya ART akan kewalahan mengerjakan tugas rumah yang lain.

Jadi sebaiknya sih kita siapkan stok makanan yang bisa disimpan di freezer selama 2-3 minggu, atau mulai mencari katering harian. Siapkan juga no telpon laundry kiloan langganan dan minta ia untuk datang setiap 2 hari. Dengan begini kita bisa menghemat waktu untuk memasak dan mencuci baju dan memperbanyak waktu untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis kita setelah melahirkan nanti.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari baby blues sejak dalam masa kehamilan. Ya, memang nggak menjamin 100% berhasil sih. Tapi mungkin dapat meminimalkan resikonya. Lagipula, menyiapkan diri untuk hal yang terburuk kan nggak ada salahnya ya. Jadi ketika terjadi pun kita nggak akan kaget lagi. Selamat mencoba.

Ringankan Gejala Flu dengan Essential Oils

Mengalami gejala flu dan selesma atau yang biasa dikenal sebagai common cold pasti bukan hal yang menyenangkan. Hidung tersumbat atau justru nggak berhenti meler, tenggorokan gatal, kadang juga disertai demam yang seringkali bikin susah tidur. Bagi orang dewasa saja kondisi ini sangat mengganggu ya apalagi jika dialami oleh batita yang ngomong aja belum lancar sehingga dia nggak bisa mengutarakan apa yang dirasakan seperti Keenan beberapa minggu yang lalu.

Meski dia masih aktif di siang hari tapi di malam hari jadi susah tidur karena hidungnya tersumbat. Padahal supaya cepat sembuh, Keenan perlu banyak istirahat. Belum lagi virusnya bisa nularin seisi rumah yang kenyataannya terjadi hanya dua hari setelah Keenan mulai pilek, papanya pun ikut sakit.

Seperti biasa untuk gejala flu yang disebabkan oleh virus, meski nggak tega lihat anaknya nggak nyaman, saya berusaha untuk nggak ngasih obat kecuali paracetamol ketika demam. Saat Keenan mulai pilek, suami pun menyarankan supaya saya sering-sering ngasih Keenan honey lemon suam terutama setiap bangun tidur untuk meningkatkan imunitasnya. Selain itu setiap mau tidur saya ajak Keenan berendam air hangat untuk mengeluarkan ingus dari hidungnya supaya dapat tidur lebih nyenyak.

 photo F7319C61-C239-4719-9C4E-A9BD9B6182F1_zpsphyekndw.jpg

Sayangnya kedua hal itu masih belum bisa mengurangi gejala flunya Keenan. Akhirnya saya menggunakan diffuser Young Living yang belakangan jarang dipakai karena anak-anak sudah jarang sakit. Seperti biasa tiap ada yang mengalami gejala flu, saya meneteskan 3 oils andalan untuk pilek, yaitu lemon, peppermint dan thieves dalam diffuser tiap waktu tidur siang dan malam, masing-masing 4 tetes.

Saya pilih ketiga oil itu karena lemon berfungsi untuk meningkatkan vitalitas dan energi jika didifuse dan dihirup. Juga mengandung antivirus yang dapat membunuh kuman-kuman dalam udara. Bermanfaat sekali saat ada anggota keluarga yang sakit kan.

Peppermint berguna untuk melegakan pernafasan dan mengencerkan dahak. Sedangkan thieves berfugsi menjaga daya tahan tubuh serta membersihkan ruangan dari bakteri dan kuman.

Alhamdulillah, aroma lemon, peppermint dan thieves yang didifuse sekaligus bisa membantu melegakan pernafasan dan membuat tidur lebih nyenyak. Nggak cuma untuk Keenan tapi juga mamanya hihihi.

Selain didifuse, campuran ini juga saya oleskan di telapak kaki anak-anak terutama pada bagian bawah jari kakinya sambil dipijat lembut untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi demam.

Karena campuran lemon, peppermint dan thieves paling sering saya gunakan baik didifuse atau dioles, saya mencampur ketiga oil ini ke dalam satu botol kosong yang sudah disteril dengan perbandingan 1:1:1 menggunakan pipet bersih.

Cara ini memudahkan saya saat ingin menggunakan dan tentu lebih praktis membawa satu botol ke mana-mana daripada 3 botol sekaligus ya. Apalagi saat cuaca nggak menentu di Brunei seperti sekarang. Tiap pulang sekolah saya oles ke telapak kaki kakak Cinta untuk menjaga imunitasnya sampai Keenan benar-benar sembuh.

Alhamdulillah dalam tiga hari, gejala selesma Keenan sudah berkurang. Meskipun memerlukan waktu hampir seminggu sampai benar-benar sembuh, setidaknya Keenan lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak. Sayangnya saya kurang rajin ngedifuse dan mengoleskan oil-oil ini ke suami sehingga common cold yang dia alami lebih lama sembuhnya meski sudah minum obat bebas.

Oya, essential oils ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti obat ya. Bagi saya dan keluarga, minyak-minyak ini hanya berguna untuk meringankan gejala penyakit. Kalau sakit terus berlanjut tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Serunya Menyusui Sambil Bekerja

Disclaimer: Menyusui adalah pengalaman personal bagi setiap ibu. Cerita yang ditampilkan di tulisan ini hanya bertujuan untuk berbagi pengalaman dan semangat bahwa apapun kondisinya yang penting adalah usaha ibu untuk dapat memberikan ASI bagi buah hati.

 

Sesuai dengan tema ‘Pekan ASI Sedunia” yang berlangsung dari tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman beberapa teman yang menyusui sambil bekerja (di kantor). Saya sendiri sempat menyusui sambil bekerja selama tiga bulan saja pada tahun 2008, waktu Cinta umur 7 bulan dan berhenti memompa ASI di kantor saat dia berusia 10 bulan. Meski demikian saya tetap menyusui langsung dan memompa sesempatnya di rumah sampai ia berusia 2 tahun. Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan ini, salah satunya adalah kurangnya tepatnya manajemen asi perah.

Alhamdulillah sekarang saya melihat semakin banyak ibu-ibu yang berhasil menyusui sambil bekerja di kantor. Rupanya kesibukan menjalani aktivitas profesional mereka nggak menghalangi usaha untuk memberikan air susu ibu bagi bayinya.

Seperti yang dilakukan oleh teman baik saya, Indah Purnamawati. Ipung, panggilan akrabnya setiap hari membawa Zyzy ke kantor supaya bisa menyusui secara langsung karena anak ketiganya itu menolak minum ASIP dari dot maupun sendok. Selain itu Ipung merasa setiap kali memompa setelah Zyzy habis menyusu secara langsung, hasilnya kurang banyak.

Meskipun awalnya ragu membawa Zyzy ke kantornya yang terletak di daerah industri, kondisi ini membuat Ipung terpaksa melakukannya. Zyzy mulai ikut kerja usia 2,5 bulan, setelah cuti melahirkan selesai. “Alhamdulillah anaknya anteng. Setelah kenyang didorong-dorong di stroller langsung tidur,” ujarnya. Kondisi ini berlangsung selama 8 bulan, “Kalau aku kerja sama orang lain pasti aku lebih milih resign daripada menjalani seperti itu. Tapi karena kerja bantuin perusahaan Bapak ya terpaksa dijalani,” imbuh ibu dari 2 putra dan 1 putri ini.

Tapi, kondisi ini jadi pengalaman berharga baginya. “Di kantorku jadi seperti boyongan. Ada stroller, mainan bayi, karpet dan celemek menyusui,” ceritanya. “Tapi senang bisa bawa anak ke kantor dan menyusui langsung meski kita bekerja. Kita jadi tahu perkembangannya setiap hari dan alhamdulillah selama itu Zyzy nggak pernah sakit meski batuk pilek sekalipun. Menurut dokter sih karena Zyzy full ASI jadi badannya kuat,”  jelasnya menutup perbincangan kami melalui whatsapp malam itu.

Mantan teman sekerja saya dulu, Yoke Pratiwi yang bekerja di bank menghadapi tantangan yang nggak kalah serunya selama menyusui. Namun keinginannya untuk dapat memberikan asupan gizi yang terbaik bagi Keanu sangat kuat sehingga Yoke dengan gigih memompa ASI di sela-sela jam kerjanya. “Saya sadar bahwa saya adalah ibu bekerja yang nggak bisa selalu bersama dengan anak saya. Hal yang bisa saya berikan dan nggak bisa digantikan dengan orang lain yang mengasuh anak saya adalah ASI. Alhamdulillah nggak ada kendala yang bisa membuat saya untuk berhenti memberikan ASI hingga usia Keanu berusia 2 tahun, bahkan nyatanya sampe 3 tahun.”

Saat cuti melahirkan Yoke mulai menabung stok ASI perah baik dengan memompa setiap 2 jam juga dengan menyusui secara langsung. “Saat Keanu menyusu, saya memompa juga di PD1 satunya. Kadang saya rela nggak tidur supaya dapat memompa ASI ketika bayi saya tidur,” kenang Yoke. Dan terbukti caranya berhasil. Saat ia kembali bekerja stok ASInya dapat mencukupi kebutuhan Keanu.

Meski demikian di kantor, ibu satu anak ini tetap semangat memompa. Setiap 2-3 jam sekali ia pergi ke ruang meeting untuk memompa ASI. “Kalau ruangannya dipakai ya saya mompa di kamar mandi,” ujarnya. Tapi kondisi ini nggak bikin Yoke patah semangat. “Teman sekantor juga sangat mendukung dan nggak keberatan saya tinggal tiap 2-3 jam untuk memompa ASI. Toh dengan menggunakan pompa elektrik bisa cepat dan hasilnya lumayan banyak. Nggak sampai 15 menit biasanya dapat 100 ml.”

 photo 0A11F22A-5967-4F9D-BA4A-1570AED59CB0_zpsysjtb0ze.jpg
Yoke dan Keanu

Karena mengumpulkan stok ASI perah di kantor, Yoke pun kemana-mana membawa cooler bag lengkap dengan ice gel dan botol kaca. Termasuk saat outing ke luar kota atau bepergian ke tempat wisata. “Oleh-oleh berharga untuk si bocah,” katanya.

Yoke pun berhenti memompa ASI setelah Keanu berusia 2 tahun. “Saya rasa sudah cukup ya waktu untuk menyusui dan sudah capek juga memompa hehehe.” Namun ia tetap menyusui sampai Keanu berusia 3 tahun.

“Saya harap ibu-ibu bekerja tetap semangat dan selalu percaya bahwa pasti bisa menyusui sambil bekerja selagi kita masih diberi kesehatan dan kemampuan untuk menjalaninya. Tipsnya adalah rajin memompa atau memerah serta follow akun-akun yang mendukung pemberian ASI seperti ayahasi,” pesannya.

Nantikan tips-tips sukses menyusui sambil bekerja di postingan berikutnya yaaa….

  1. payudara []

Pijat Refleksi Untuk Melancarkan ASI

Sebagai ibu, tentu kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak tercinta ya. Salah satu yang bisa dimulai sejak awal kelahirannya adalah ASI atau air susu ibu. Nggak perlu lah saya jelaskan lagi manfaat ASI karena sudah banyak yang membahasnya. Yang pasti cairan hidup ini adalah asupan istimewa karena mengandung berbagai kebaikan untuk bayi maupun ibu.

Tapi tidak jarang kita dihantui perasaan khawatir akan kecukupan ASI. Apalagi kalau anak nampak selalu lapar, hasil perahan lebih sedikit dibandingkan dengan mama perah yang lain dan berat badan anak sepertinya tidak bertambah secara signifikan. Padahal sih produksi ASI selalu berdasarkan permintaan dan nggak akan ada kata ASI kurang karena yang keluar sesuai dengan kebutuhan bayi.

Untuk meningkatkan ASI banyak cara yang bisa dilakukan busui seperti minum air, jus atau sup yang lebih banyak dari biasanya. Beristirahat dan melakukan sesuatu yang menyenangkan juga bisa merangsang produksi ASI. Beberapa mama memilih mengkonsumsi suplemen atau makanan yang dipercaya mampu memperbanyak ASI.

 photo 4A010E12-8659-44D1-859C-98E0CA9237B1_zpsiam8u5wg.jpg

Selain itu kita juga bisa coba pijat refleksi lho. Titik-titik tertentu di tubuh kita diyakini dapat merangsang diproduksinya hormon prolaktin di otak. Hormon inilah yang mempengaruhi banyak sedikitnya ASI.

Menurut Dokter Spesialis Akupunktur Rumah Sakit Umum Islam Yarsis Surakarta, dr. H.M Daris Raharjo, Akp yang dilansir oleh joglosemar.com tiga titik pijatan yang utama untuk memperlancar ASI, berada di bagian payudara sendiri; yaitu satu titik di atas puting, tepat di puting payudara, dan titik di bawah puting. Selain itu, pada titik di bawah lutut dan titik di punggung yang segaris dengan payudara juga bisa dipijat untuk memperlancar produksi ASI. Pijatan dapat dilakukan dengan cara memutar ujung jari telunjuk sebanyak 30 kali di titik-titik tersebut dan dilakukan 2-3 kali sehari.

Tidak hanya di titik tersebut, banyak bagian lain yang jika dipijat bisa meningkatkan produksi ASI seperti gambar di bawah ini yang saya peroleh dari Irni, penulis sekaligus ibu menyusui yang tengah menanti kelahiran anak keduanya:

 photo 06E27473-651E-4142-9ECC-07EECBA22CEB_zpsk5dgbdqy.jpg

Pemijatan pada bagian-bagian tubuh tertentu akan berdampak positif terhadap kondisi pikiran dan tubuh ibu, memberi efek tenang, menormalkan sirkulasi darah, serta meningkatkan pasokan ASI. – situs RS Universitas Airlangga

Nggak ada salahnya kita coba ya, Ma. Apalagi kalau yang memijat suami. Selain perasaan rileks dan nyaman karena pijatan, rasa bahagia karena disayang suami juga bisa jadi breastmilk booster yang ampuh. Kita senang, ASI berlimpah, bayipun sehat. Berkat bantuan ayah ASI tersayang.