Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

PhotobucketPhotobucket

Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

Photobucket

Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

-foto-foto adalah koleksi pribadi-

Rapor Pertamanya Cinta

Sabtu tanggal 30 Oktober yang lalu, saya dapat undangan untuk menghadiri pembagian rapor dan parent-teacher interview di sekolah Cinta. Agak kelabakan juga hari itu karena sudah ada 2 acara yang rencananya saya hadiri dan dua-duanya terletak di Jakarta. Supaya bisa dateng ke semua acara itu on time, jam 7.30 pas, saya sudah ada di sekolah, nunggu sebentar sampai akhirnya tiba giliran saya bercakap-cakap dengan gurunya Cinta.

Sebenarnya setiap mengantar dan menjemput Cinta sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan para Bunda mengenai aktivitas Cinta hari itu. Jadi apa yang kami bicarakan Sabtu kemarin cuma kesimpulan atas perkembangan Cinta selama 3 bulan terakhir. Bunda Lia bilang Cinta bisa berbaur dengan mudah ke dalam lingkungan teman-teman sekolahnya yang sudah lebih dulu dekat sejak di Kelompok Bermain Kecil, sampai mereka: Aca, Chika, Cinta, dan si kembar Zarra Zeeva dijuluki geng Rumpi sama bunda-bundanya saking kemana-mana berlima. Cinta juga bisa main bareng temen-temen cowoknya, malah sebelum dekat dengan cewek-cewek itu dia lebih dulu sering main bareng Jethro, Ilya, Falah dan Dzaky. Syukurlah, senang sekali dengar Cinta mudah bergaul, nggak seperti emaknya ūüôā

Memang sejak sekolah saya amati banyak sekali perubahannya Cinta, dia jadi lebih aktif, berani, kritis dan jarang tantrum di rumah. Seringkali sambil main di rumah atau mewarnai, dia melafalkan surat Wal Ashri yang biasa dibaca setiap mau pulang sekolah atau menyanyikan lagu-lagu yang diajarkan di sekolah. Padahal para bunda sering cerita kalau Cinta lagi nggak mood dia sering nggak mau ngikutin kegiatan di kelas, malah ngajakin temen-temennya main yang lain. Hal itu juga saya sampaikan ke guru-gurunya, bagaimana saya khawatir melihat Cinta yang sering kurang fokus dalam mengerjakan sesuatu. Kata gurunya sih wajar, anak seusia Cinta memang ada yang masih belum bisa fokus terlalu lama. Bisa konsentrasi penuh 5 menit aja sudah bagus banget. Makanya kegiatan di kelompok bermain lebih ditekankan pada Bermain Sambil Belajar jadi anak nggak jenuh dan tetap tertarik untuk mengikuti kegiatan.

Sayang karena harus buru-buru ke tempat lain untuk ikut seminar Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital di Kemang dan masih banyak wali murid yang antri nggak bisa berlama-lama ngobrol sama Bunda-Bunda. Nah, sekarang saya bingung mengisi catatan orang tua yang ada di rapornya Cinta. Enaknya saya tulis apa ya?

Kidal atau Tidak?

Sejak bayi, Cinta lebih banyak menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas. Sampai guru-gurunya di Baby School dulu bertanya apakah Cinta ada kecenderungan kidal. Kami pun pernah menduga demikian, tapi dari beberapa referensi yang pernah saya baca, batita memang punya kecenderungan untuk menggunakan kedua tangannya secara aktif yang menunjukkan bahwa otak kanan yang berkaitan dengan kemampuan matematik dan otak kirinya yang mempengaruhi kemampuan tata bahasa sedang berkembang. Tapi di usia 2-3 tahun mulai tampak tangan mana yang lebih dominan dan akan permanen di usia 6 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan ciri-ciri anak kidal sudah ada sejak ia berusia 6-7 bulan, sementara kecenderungannya sudah terbentuk ketika anak dalam kandungan, walaupun nantinya lingkungan juga berpengaruh.

Namun, sejak masuk sekolah saya perhatikan Cinta lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan motorik halusnya seperti menggunting, membentuk sesuatu dari playdoh, memegang alat tulis, dsb. Tapi untuk melempar, memegang atau membawa sesuatu yang agak berat masih dengan tangan kiri. Mungkin karena pengaruh guru dan teman-temannya di sekolah atau karena memang dia lebih nyaman dengan cara seperti itu.

Saya dan keluarga sendiri tidak pernah mempermasalahkan tangan sebelah mana yang lebih dominan di Cinta. Hanya saja pelan-pelan dan tanpa paksaan, kami mengajarkan Cinta untuk bersalaman, memberi dan menerima sesuatu, juga makan dengan tangan kanan karena budaya di sini masih menganggap tangan kanan sebagai “tangan manis”. Apapun jadinya nanti, mau kidal atau tidak, yang penting Cinta nyaman dengan dirinya dan bahagia dengan keadaannya ūüôā

Posted with WordPress for BlackBerry.

Mother & Baby Fair 2010

Majalah Mother & Baby Indonesia tahun ini menyelenggarakan event tahunannya Mother & Baby Fair untuk yang ke-3 kalinya. Dari tahun pertama, saya udah pengen banget bisa datang apalagi waktu itu baru-barunya punya bayi dan masih langganan majalahnya, jadi gema acara itu terasa banget. Tapi apa daya, rumah yang jauh dari lokasi acara membuat saya mundur teratur. Nggak mungkin dong ya jauh-jauh dari Sidoarjo ke Jakarta cuma buat lihat pameran Mother & Baby.

Berhubung tahun ini sudah pindah ke daerah urban ibukota, akhirnya rasa penasaran itu bisa dipenuhi. Sempat bingung juga mau naik apa ke Balai Kartini Gatot Subroto tempat acara berlangsung secara belum berani bawa mobil sendiri ke tengah kota. Mau naik taksi tapi kok ya jauh banget, dari rumah ke CITOS aja kena 150 ribuan apalagi ke Gatot Subroto, pulang pergi pula ūüėÄ Akhirnya memberanikan diri naik TransBSD, feeder busway dari BSD ke Ratu Plaza sama Cinta dan si mbak.

M&B Fair

Berangkat dari rumah jam 8.45, mobil diparkir di Taman Jajan BSD trus naik TransBSD yang jam 9.15. Sampai di Ratu Plaza sekitar jam 10 trus lanjut naik taksi ke Balai Kartini. Sampai disana masih lumayan sepi, beli tiket dulu untuk saya dan si mbak seharga Rp 5,000.00/orang, sementara Cinta nggak bayar alias gratis karena masih masuk usia balita. Dari awal tujuan ke Mother & Baby Fair cuma mau lihat-lihat dan ikut acara Creativity Art Children with Charlie & Lola salah satu karakter kartun anak-anak kesukaan kami dan janjian ketemu sama temen kuliah. Sambil nunggu acara Creativity Art kami keliling dulu lihat-lihat booth, eh sampai di stan-nya MRA Kids ada foto ala cover Charlie & Lola dan In The Night Garden. Langsung deh daftar untuk paket yang Rp 35,000.00 dapat 1 foto ala cover, 1 free activity dan majalah In The Night Garden. Setelah daftar langsung menuju panggung untuk ikut kegiatan MRA Kids. Cinta seneng banget naik panggung sama anak-anak lain, langsung duduk di sofa, trus kursi kecil sambil minta difoto. Tiba-tiba muncul Iggle Piggle salah satu karakter In The Night Garden, Cinta kaget, semangat sekaligus takut sampai nggak mau salaman tapi ngoceh dan ngeliatin si Iggle Piggle terus.

M&B Fair

Setelah kemunculan Iggle Piggle, acara membuat prakarya ala Charlie & Lola dimulai, kami pun dengan tekun menghias pot dan bunga dari kertas. Sayang nggak masuk 10 terbaik. Nggak apa-apa lah, yang penting sudah senang berpartisipasi dan ketemu Iggle Piggle. Lalu kami kembali ke booth MRA Kids untuk foto ala cover, sambil nunggu giliran, Cinta mewarnai dulu ditungguin si mbak sementara mamanya lihat-lihat stan yang nggak jauh dari situ. Pas kembali, pas waktunya Cinta difoto. Alhamdulillah, cukup gampang diarahkan, langsung berpose dengan sendirinya, yang rada susah adalah menyuruh dia lihat ke arah kamera. Sambil nungguin hasilnya, BBM-an sama mamanya Fayyadh dan kami janjian di depan panggung. Begitu ketemu langsung menuju ke food court, makan Bakmi GM sambil ngobrol.

M&B Fair

Ternyata Fay dan Cinta nggak betah lama-lama duduk untuk makan, mereka minta turun dan main di playground corner. Sambil nungguin mereka main, mampir di boothnya Little Bhubu dan akhirnya pesan satu kaos yang bertuliskan, “I’m Cute, My Mom’s Cute. My Daddy’s Lucky” buat Cinta. Abis itu muter-muter lagi sementara Fay dan mamanya Antik masih di arena bermain. Di antara sekian banyak stan, cuma nyantol di boothnya PlayDoh, mainan favoritnya Cinta. Sempat nyari foto saya dan Cinta yang pernah saya kirim ke majalah Mother & Baby di antara ribuan foto ibu & anak yang dipajang di pameran tapi nggak ketemu. Pengen beli karpet karet yang lagi diskon abis seharga Rp 50,000.00 tapi batal karena bingung bawanya. Nggak bisa lagi mampir ke stan satu-satu dengan santai karena arena pameran sudah padat, bahkan untuk jalan aja harus pelan-pelan.

m,M&B Fair

Nggak tahu harus merasa bersyukur atau aneh ketika keluar dari Mother & Baby Fair nyaris nggak bawa tentengan apa-apa kecuali setumpuk brosur dan 3 tabung PlayDoh
yang lagi diskon buy 2 get 1. Sementara banyak barang diskonan, mulai dari mainan seperti Lego dan V-Tech yang diskon 20%, cloth diaper, kaos-kaos Made in Heaven¬ł
Zaralde, piyama babyGAP yang lagi banyak dijual di toko online, tas popok HDY, bantal-bantal lucu dan masih banyak lagi. Yang menarik perhatian saya ya hanya MRA Kids, PlayDoh dan First Media. Tapi yang penting kami bersenang-senang di sana. Mengalami banyak hal yang menarik selama perjalanan berangkat dan pulang termasuk kehujanan di halte Ratu Plaza saat menunggu bis TransBSD selama 1 jam. Kalau ditanya apakah tahun depan kesana lagi atau enggak, hmmm… tergantung apakah di dalam perut sudah ada calon adeknya Cinta atau belum ūüėÄ

Boleh Kok Nangis

“Oooo sayang, cup cup cup… Siapa yang nakal? Lantainya ya nakal? Sini mama pukul. Ugh, Nakal deh lantai, bikin dedek jatuh.”

“Kenapa kak? Mainannya diambil ya? Nakal emang tuh anak. Nanti mama marahin kalo ketemu!”

Sounds familiar? Yup, itu kalimat kalimat penghiburan yang biasa kita dengar atau ucapkan kepada anak yang menangis karena jatuh, terbentur tembok atau mainannya direbut anak lain atau mungkin saat gagal melakukan sesuatu. Memang sih ampuh, biasanya anak akan lebih cepat berhenti nangisnya selain itu dia merasa dibela dan disayang.

Tapi tahu nggak kalau kebiasaan itu justru bisa berakibat negatif bagi anak? Anak jadi akan terbiasa menyalahkan sesuatu atau orang lain ketika ia mengalami hal-hal yang membuatnya kecewa, sedih atau gagal. Ia tidak akan belajar untuk introspeksi bahwa ada kalanya semua terjadi karena perbuatannya sendiri. Misalnya jatuh terpeleset ketika berlari di lantai yang licin padahal sudah diberi peringatan sebelumnya atau tersandung batu karena tidak melihat saat berjalan.

Saya sendiri sedang belajar untuk tidak menggunakan kata-kata penghiburan seperti itu ketika Cinta menangis, tapi juga tidak serta merta menyalahkannya atas apa yang terjadi. Biasanya saya hanya akan memeluknya lalu berkata, “sakit ya kak? Mana yang sakit? Sini mama pijitin.” atau “Wah, ¬†berdarah ya kak? Kakak kesandung ya? Yuk kita cari obat buat kakinya.” Setelah tenang baru saya katakan supaya lain kali lebih hati-hati.

Dengan demikian ia tahu bahwa saya peduli akan peristiwa yang terjadi tapi tidak membesar-besarkannya juga menawarkan solusi untuk mengurangi rasa tidak nyaman atau sakit yang sedang ia alami.¬†Does it works? Saya kurang tahu parameternya sih tapi setidaknya Cinta kalau jatuh akan menangis setelah itu bilang “Dikasih minyak tawon Ma biar nggak sakit lagi”. Minimal dia sudah tahu bahwa ketika mengalami hal yang tidak enak it’s okay to cry untuk meredakan perasaan kaget, kesal, sedih, sakit lalu kemudian mencari solusinya.

Semua Ada Waktunya

Sudah hampir 2 bulan ini batita saya mulai bisa mau menggunakan kloset untuk buang air kecil. Buat sebagian orang tua mungkin itu hal yang biasa bahkan bisa dibilang terlambat tapi bagi saya merupakan kemajuan yang cukup besar.

Sejak usia 6 bulan, Cinta mulai ditatur alias toilet training tapi sekonsisten apapun saya dan pengasuhnya mengajari dia tetap tidak mau pipis di potty-nya. Menginjak usia 1 tahun, saya bebaskan dari pospak di siang hari kecuali saat pergi dan tidur tapi yang ada malah ngompol kemana-mana. Bahkan suatu ketika ia tidak mau bisa buang air baik kecil maupun besar di siang hari. Ketika tiba waktunya akan tidur dan saya pakaikan pospak langsung BAB dan BAK. Well, ternyata dia menahan keinginan buang airnya selama beberapa jam.

Kejadian itu berlangsung selama beberapa waktu, setelah saya telusuri mungkin karena dia malu atau takut dimarahi atau diejek oleh asisten dan om tantenya karena mengompol. Saking nahannya, kadang dia pipis sambil menangis. Saya pikir karena ISK tapi setelah melakukan tes urin ternyata bukan. Oke, ternyata dia hanya merasa risih buang air tanpa diaper.

Akhirnya saya pakaikan pospak lagi, bagi saya kenyamanan Cinta lebih utama dari latihan penggunaan toilet ketika ia belum siap. Namun, tetap saya ajari cara pipis di toilet, kadang saat mandi bersama saya beri contoh (kebetulan saya termasuk orang tua yang permisif soal mandi bersama) cara pipis di toilet, termasuk saya pasangkan dudukan toiletnya yang ia beri nama skuter dan biasanya dibuat main skuter-skuteran :p

Entah saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba ia meminta saya untuk menaikkannya ke toilet dan berkata ingin pipis. Dan benar ia pun akhirnya buang air dengan sukses. Kesuksesan itu rupanya meningkatkan kepercayaan dirinya dan sejak itu jika sedang tidak memakai pospak Cinta selalu minta untuk pipis di toilet. Belum rutin memang, kadang masih keduluan ngompol karena terlambat bilang. Tapi bagi saya that’s a one big step for us.

Saya kebetulan adalah tipe orang tua yang percaya bahwa perkembangan anak itu berbeda dan tidak mau memaksakan Cinta untuk mengikuti suatu tahapan tertentu ketika ia belum siap. Yang penting adalah tetap mengajari tanpa ada unsur paksaan. Sama seperti sejak sebelum genap 1 tahun Cinta sudah bisa memegang krayon dan pensil warna dengan baik. Saya tidak pernah memaksa, hanya menyediakan aneka alat tulis dan buku gambar atau kertas, mengajarinya cara memegang krayon dengan nyaman lalu mulailah ia mencorat-coret apa saja.

Pun ketika Cinta belum bisa berjalan di usianya yang kesatu dan dokter bilang tidak ada kelainan saya tidak panik dan melakukan hal-hal tradisional seperti memukul kaki dengan belut atau sejenisnya. Tetap saya titah, saya biarkan dia merambat, saya jarangkan menggendong. Dan tepat di usia 15 bulan Cinta bisa berjalan. Saat ini ia belum hafal semua huruf saat anak seusianya sudah banyak yang bisa menulis. Saya juga hanya mengajarinya mengenal huruf, angka sambil membaca buku, mewarna, menggambar, bermain Baby Go di blackberry.

Semua selalu ada waktunya, yang harus dilakukan orang tua hanyalah memberikan stimulus atau rangsangan dan percayalah anak akan belajar dan berkembang dengan sendirinya.