Art in The Wall

Waktu terima raport akhir tahun ajaran 2012 beberapa waktu lalu, dapat banyak sekali hasil kerajinan tangan Cinta selama hampir setahun belajar di KG 2. Mulai dari gambar, mewarna, menempel sampai sertifikat penghargaan. Tadinya cuma ditaruh gitu aja di amplop dan ada beberapa yang disimpan di clear folder tapi lama-lama kok merasa sayang. Apalagi tiap bulan selalu ada yang baru dan akhirnya numpuk menuhin art & toy boxnya.

Pas banget lagi mikir apa yang sebaiknya saya lakukan sama benda-benda itu, eh nemu foto ini di google. Ah, langsung deh nyontek idenya.

sumber foto: itswrittenonthewall.blogspot.com

Saya nggak tahu pemilik blog ini pakai apa untuk Art In Hallnya, akhirnya saya kira-kira aja. Bahannya sih cuma gantungan baju, pita dan penjepit baju. Gampang kan yah. Apalagi si gantungan ini karena ada double tape di belakangnya jadi tinggal tempel aja. Ngelepasnya lagi juga nggak susah. Cocok banget buat kami yang tinggal di ruang terbatas dan nggak bisa diubah-ubah tatanannya.

Dan beginilah Art in The Wall versi kami. Jadi seperti jemuran baju ya hehehe. Tapi Cinta senang lah, dia jadi makin semangat bikin sesuatu yang bagus biar bisa dipajang di situ. Kami pun punya hiasan dinding yang unik dan murah.

wall gallery, galeri karya anak

Akuarium Mainan

Ceritanya mau ngikut Anggit dan mom Carra bikin akuarium dari kardus bekas buat mengisi waktu di hari pertama libur sekolah.

Di pagi hari, kita sudah sibuk belanja peralatan perang, mulai dari art paper, doubletape, cat poster, glitter, dan beberapa printilan lainnya. Maklum, di kepala si mama ini udah kebayang itu akuarium mau dibungkus yang cantik, dicat warna-warni, trus dikasih dekorasi dari kerang yang kita kumpulin dari pantai kapan hari dan glitter-glitter cantik.

Setelah itu kita mulai bekerja. Sementara si mama gunting-gunting kardus bekas biskuit sampai berlubang di tengah dan ngasih doubletape, Cinta dapat tugas bikin ikan dan menghiasnya.

Abis itu dasar kardus dilapisi dengan art paper warna biru dan siapin apa saja yang mau dimasukan dalam akuarium, seperti rumput laut, gelembung air, batu-batuan, dll.

Sambil nunggu Cinta selesai menggunting rumput laut dan menghias ikan-ikan, saya tinggal sebentar untuk brunch sambil buka-buka twitter. Pokoknya mah percaya penuh Cinta bakal selesaikan tugas bagiannya dengan bagus. Dan ternyata, she did it beyond expectation, saudara-saudara. Begitu saya selesai makan, ikan dan rumput laut sudah ditempel dengan manis di dinding kardus dan dihiasi glitter banyak sekali. Huehehehe

Yah, baiklah tugas si mama tinggal merapikan sedikit, kasih plastik untuk menutup lubang kardus dan bungkus kardus dengan art paper. Dan beginilah jadinya. Tadaaaa…

Nggak benar-benar persis seperti yang ada di bayangan saya sih tapi inilah hasil kreativitas Cinta sendiri. Lumayan deh. Yang penting kami menikmati prosesnya dan bocah 5,5 tahun saya itu menyukai hasilnya. Hmmm, abis gini bikin apalagi ya?

Rumah Boneka

rumah boneka dari kardus

Sore-sore dapat kiriman paket dari mama yang bentuk kardusnya udah dimodifikasi.

Sementara saya asik bongkar-bongkar isi paket, Cinta sibuk mainan kardusnya.

Tiba-tiba dia bilang, “Ma, Ma! Ini rumah nih!” sambil membentuk bagian kardus menjadi segitiga. Lalu dia masukkan boneka-bonekanya ke dalam kardus dan bilang kalo itu adalah rumah boneka.

Wah, saya pikir kenapa nggak sekalian aja dibuat rumah-rumahan, pasti Cinta suka.

Abis mandi sore, saya ajak Cinta untuk bikin prakarya. Gunting-gunting sedikit untuk bikin pintu dan jendela plus lubang untuk masukin boneka di bagian belakang. Selotip bagian atas kardus untuk membentuk atap dan bagian bawah untuk lantainya. Pasang kain felt di bagian atap, kusen pintu & jendela dan gordyn lalu tempel kertas warna untuk dinding dan pintu.

Voila, jadi deh rumah boneka dari kardus meski nggak rapi-rapi amat. Lumayan, memanfaatkan barang bekas sekaligus menyenangkan hati anak 😀