Financial Planning

 

Sejak follow @mrshananto dan @QMFinancial di Twitter, saya jadi sedikit-sedikit melek tentang rencana keuangan, asuransi dan investasi. Tapi baru hari ini baca-baca dengan cermat web QMFinancial lalu mengisi quick check up-nya dan hasilnya  nyaris membuat saya sakit jantung. Bayangpun dengan penghasilan suami yang segitu dengan pengeluaran kami saat ini plus cicilan KPR dan kartu kredit bisa dibilang lebih besar pasak daripada tiang pingsan. Belum lagi ketika mengisi kalkulator Dana Darurat, Dana Pendidikan dan Dana Pensiun. Untuk biaya pendidikan Cinta sampai S1 nanti (untuk bisa menutupi uang pangkalnya aja lho ya) setidaknya pada tahun 2025 nanti kami harus memiliki uang sebesar 1,5M pingsan part two. Padahal rencananya kami (eh, saya ding) ingin memiliki 2 orang anak. Berapa jumlah uang yang harus kami sediakan untuk menjamin pendidikan mereka minimal sampai S1. Pastinya lebih dari 3M. Uang dari mana ya kira-kira? Minta sama Gayus aja apa ya?

Betul, setiap anak pasti ada rejekinya masing-masing. Saya percaya itu. Tapi apa iya kami cuma akan bertopang dagu mengandalkan uang turun dari langit. Saya sih tidak. Kenyataannya tidak sedikit orangtua yang terpaksa harus menjual aset mereka satu-satunya untuk bisa menyekolahkan anaknya. Atau mengandalkan kiriman uang dari anak setelah mereka pensiun. Saya bercita-cita ingin menjadi orangtua yang mandiri dalam arti tidak menggantungkan hidup kepada anak(-anak) setelah kami pensiun nanti. Dan tentunya bisa mengantarkan mereka sampai ke jenjang pendidikan tertinggi yang mereka inginkan.

Gimana caranya? Bikin financial planning, rencana keuangan keluarga. Menentukan tujuan kami apa di masa depan, dan melakukan investasi yang tepat untuk mewujudkan cita-cita itu. Uangnya darimana kalau masih besar pasak daripada tiang? Ya pasaknya yang harus dikecilkan. Belajar hidup sesuai kemampuan. Sementara cuma mampu ke mall sebulan sekali ya jangan maksa seminggu sekali. Hohoho, tentu berat sekali buat saya untuk memulai ini, wong saya ini termasuk yang “ga bisa pegang uang” alias dikasih uang berapa aja pasti minimal habis atau kurang headdesk headdesk.

Tapi setelah ini saya jadi bertekad untuk lebih mulai belajar menghargai uang. Sekecil apapun akan sangat berguna bagi saya dan keluarga kecil saya kelak. Juga belajar menjaga kesehatan, bagaimanapun ketika sakit pengeluaran untuk berobat pasti lebih besar daripada uang sekolah anak sebulan. Ah, jadi ingin ikut training “Membuat Rencana Keuangan Pribadi” tapi biayanya mahal juga ya ūüėÄ

Pekerjaan Saya Keren

 

playmobil-199904_1920

Baca postingan di Ngerumpi.com tentang Pekerjaan yang Keren, saya jadi ingat beberapa pekerjaan yang pernah saya jalani dan yang sekarang saya lakoni. Sebagai lulusan S1 Psikologi tentunya saya berharap bisa berkecimpung di bidang ke HRD-an atau lembaga-lembaga konsultasi psikologi tapi nyatanya dari sekian tahun masa kerja cuma 1 tahun yang saya habiskan sebagai HR officer.

Lulus kuliah, saya lantas menebarkan CV kemana-mana. Bank, perkantoran, biro-biro tes psikologi, dll. Anehnya eh dasar rejeki saya disana, yang sering menanggapi lamaran saya adalah Bank, ada 3 bank besar yang siap menerima saya dalam waktu bersamaan untuk posisi frontliner alias CS dan Teller. Yang satu saya tolak karena penempatannya di derah terpencil Jawa Timur, yang satunya tidak saya tanda tangani kontrak kerjanya karena tidak melihat adanya jenjang karir bagi frontliner. Yah, masa hidup mati mau jadi CS/Teller terus pikir saya waktu itu. Akhirnya saya pun menambatkan hati di bank yang berdominasi merah itu.

Di pekerjaan pertama ini saya merasa keren dengan seragam blazer & rok span pas badan merah dan abu-abu yang seksi itu. Plus make up lengkap, tatanan rambut rapi dan high heels cantik menghiasi kaki saya. Apalagi ketika dapat tugas jaga cabang kecil di sebuah kampus teknik negeri yang terkenal di kota saya. Ihiy, kesempatan tampil lebih cantik. Maklum, masih lajang. Siapa tahu ada mahasiswa atau dosen lajang yang “nyantol”.

Dua tahun mengabdi disana, saya berhenti karena mendapat kesempatan menggapai cita-cita sebagai HR Officer di sebuah gedung perkantoran elit di daerah Gatot Subroto Jakarta. Seragam merah seksi itu berganti dengan setelah celana panjang dan blazer rapi, kadang kemeja dan rok pas badan atau mini dress rangkap cardigan dipadu dengan high heels & tas yang serasi. Harus rapi dan cantik karena titel lebih keren dan satu gedung dengan perempuan-perempuan Jakarta yang super cantik-cantik itu.

Saat akan melahirkan, saya pulang ke kota kecil dimana orangtua saya tinggal. Beberapa bulan kemudian kembali bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta. Penampilan tetap rapi walaupun arahnya sudah mulai berubah. Celana panjang, kemeja cantik, sesekali blazer dan rok panjang menjadi andalan saya saat itu.

Sekarang? Saya menjadi pekerja domestik. Kemeja dan celana panjang berubah menjadi kaos dan celana jins, blazer dan rok span digantikan oleh daster. High heels berganti menjadi sandal teplek atau sepatu karet buaya. Diaper bag atau postman bag menggantikan tas cantik nan modis favorit saya.

Rapat dengan bos sekarang berarti bermain dengan pensil warna, buku gambar, crayon. Bertemu klien atau nasabah berganti dengan arisan ibu-ibu playgroup. Ruang kerja saya bukan lagi kubikel mungil melainkan seluruh ruangan di rumah.

Jabatan saya sekarang adalah koki, supir, babysitter, guru, manajer keuangan, tukang cuci dan setrika dan masih banyak lagi. Jam kerja bukan hanya 9 jam tapi 24 jam, tanpa gaji, tanpa asuransi kesehatan, tanpa tunjangan. Pekerjaan saya sekarang adalah pekerjaan yang sering diremehkan orang (termasuk saya dulu), sama sekali nggak keren. Tapi saya merasa nyaman dan mencintai profesi seumur hidup ini. Yah, saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.