6 Tips Agar Anak Tidak Takut Disuntik Saat Imunisasi

Anak Takut Disuntik

6 Tips Agar Anak Tidak Takut Disuntik Saat Imunisasi. Imunisasi adalah salah satu tindakan preventif mencegah penyakit pada bayi dan anak-anak. Sesuai dengan namanya, imunisasi adalah proses untuk membuat seseorang imun atau kebal terhadap suatu penyakit dengan cara memberikan vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar imun terhadap penyakit tersebut. Pemberian vaksinasi ini biasanya dilakukan dengan media jarum suntik. Seingat saya hanya satu vaksin yang diberikan dengan cara tetes, yaitu Polio. Sisanya disuntikkan ke dalam tubuh. Saat anak masih bayi, mungkin pemberian imunisasi dengan cara suntik tidak terlalu jadi masalah. Saat kesakitan, bayi cukup diberi kenyamanan dengan disusui atau dipeluk. Tapi, semakin besar anak bisa mengasosiasikan jarum suntik dengan rasa sakit. Sehingga lama-lama anak takut disuntik.

Seperti saat anak-anak saya masih rutin diimunisasi. Ketika mereka masih bayi, ya nggak ada masalah. Malah kadang-kadang nggak nangis saat disuntik. Tapi, semakin besar, mereka semakin susah diajak imunisasi. Apalagi waktu di Indonesia dulu, jadwal vaksin itu rasanya sering sekali ya. Jadi buat anak sulung saya, Cinta, imunisasi itu lumayan bikin dia trauma. Mungkin karena dia tahu disuntik itu sakit dan punya pengalaman tidak menyenangkan karena diimunisasi secara paksa.

Anak Tidak Takut Disuntik

Anak Menolak Imunisasi

Akibatnya saya pernah mengalami kebingungan membujuknya untuk imunisasi. Bahkan tiap diingatkan jadwal imunisasi selalu histeris dan menolak meski sudah diiming-imingi berbagai macam reward. Nah, saat ulang tahun Cinta yang ke-5, adalah waktunya dia mendapatkan booster  DTP, MMR dan Hep. A.  Tapi saya dan suami tidak berhasil membujuk Cinta agar mau ke klinik kesehatan untuk mendapatkan imunisasi karena anak takut disuntik.

Tips dari Psikolog

Kebetulan waktu itu saya masih aktif main di sosial media twitter dan mengikuti akun mbak @AnnaSurtiNina seorang psikolog anak dan keluarga, yang pernah menjadi salah satu narasumber situs MomsGuideIndonesia, tempat saya bekerja sebagai contributing editor waktu itu. Saya pun mencoba meminta saran beliau bagaimana cara membujuk anak untuk imunisasi, dan lewat akun twitternya, Mbak Anna menjawab seperti ini:

Kalau masih histeris emang susah. Kalau dipaksa, bisa, tapi resikonya akan semakin nolak imunisasi berikut, juga nolak pergi ke dokter karena dokter kemudian diasosiasikan dengan ‘makhluk mengerikan’ atau ‘yang bikin susah’. Padahal kita masih sangat perlu dokter kan.

Jadi yang paling pas tetap dibujuk, tapi tarik ulur ya. Dalam hal ini, diiming-imingi boleh kok :D.

Pakai sistem ‘kalender’, tunjuk tanggal, sepakati di hari H ya tetep pergi apapun yg terjadi. Setelah itu jangan lupa iming-imingnya diberi.

Ohya, supaya lebih positif, bisa juga beri pujian, “Wah kamu pasti tambah kuat dan sehat sekarang”, atau “Mama bangga sama kamu”.

Saran ini akhirnya saya praktikkan dan setelah menemukan kesepakatan tanggal berangkat imunisasinya, yaitu hari Sabtu 23 Juni 2012 sepulang sekolah, kami membawa Cinta ke klinik kesehatan di Sungai Liang, Brunei.

Baca juga tentang Vaksin 6-in-1 untuk anak di Brunei

Apakah Tipsnya Berhasil?

Tentu ada penolakan saat tiba di klinik dan diakhiri dengan tangisan histeris. Tapi alhamdulilllah vaksin itu berhasil dilaksanakan juga. Di Brunei anak-anak cukup divaksin sampai usia 5 tahun, plus tambahan vaksin Japanese encephalitis (JE) saat dia berusia 6,5 tahun bersama dengan adiknya di usia 9 bulan karena saat itu Brunei sedang banyak yang terkena virus JE, sehingga semua anak wajib vaksin. Sehingga setelah vaksin terakhir pada Desember 2013, Cinta belum pernah lagi diimunisasi sampai sekarang.

Imunisasi Brunei
Keenan Setelah Selesai Vaksinasi Terakhir di Brunei pada Usia 5 Tahun

Sementara saat anak bungsu saya, Keenan, masih masa wajib imunisasi, alhamdulillah nggak terlalu sulit membujuknya. Walaupun awalnya pasti ada penolakan, dia lebih mudah dibujuk dengan reward mainan atau es krim. Kadang saya juga memperbolehkannya membawa benda favoritnya untuk dipegang anak tidak takut disuntik. Biasanya bidan dan suster juga meminta orang tua untuk memeluk dan memegangi anak saat divaksin supaya anak merasa lebih nyaman.

Nah, berdasarkan pengalaman mengantarkan anak-anak untuk mendapatkan imunisasi. Saya memahami bahwa ketakutan anak terhadap jarum suntik itu wajar. Tapi, bukan berarti kita mengalah dan memutuskan untuk tidak memberi mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membantu agar anak tidak takut disuntik sehingga tidak lagi menolak diimunisasi, dengan cara berikut:

6 Tips Agar Anak Tidak Takut Disuntik Saat Imunisasi

1. Perhatikan Jadwal Vaksinasi

Jadwal Imunisasi IDAI 2017

Mengingat jadwal vaksinasi penting sekali untuk kita lakukan, agar kita bisa mempersiapkan anak menghadapi jarum suntik. Jangan mendadak mengajak anak untuk imunisasi karena hal itu bisa membuatnya panik dan histeris. Beri tahu anak setidaknya 1 minggu sebelum jadwalnya supaya dia bisa mempersiapkan diri. Atau jika anak sudah cukup besar, ajak dia memilih tanggal untuk berangkat ke dokter. Terlambat atau lebih cepat beberapa hari nggak masalah kok, asal jangan sampai lewat berminggu-minggu.

2. Jujur

Penting bagi anak untuk tahu bahwa disuntik memang menyakitkan, jangan menyepelekan ketakutan anak dengan berkata bahwa disuntik itu nggak sakit. Karena reaksi tiap orang terhadap jarum suntik bisa berbeda-beda. Dan kalau kita bilang bahwa jarum suntik tidak menyakitkan sementara anak merasakan sebaliknya, bisa-bisa mereka nggak percaya lagi dengan kita.

anak takut disuntik

Supaya anak nggak panik berlebihan, kita bisa bilang, “Nanti saat disuntik adik akan merasa sakit tapi sebentar kok. Kalau adik merasa sakit peluk mama saja ya biar sakitnya berkurang dengan cepat”. Atau, “Nanti kalau mau disuntik tarik nafas yang panjang ya, Dik. Trus keluarkan nafas sambil berhitung sampai sepuluh supaya rasa sakitnya nggak terlalu terasa”. Dengan begitu anak akan lebih tenang dan lebih siap menghadapi rasa sakit dari jarum suntik.

3. Bermain Peran

Membacakan cerita yang bertemakan vaksinasi atau bermain dokter-dokteran sebelum pergi ke dokter bisa membantu mengurasi rasa takut anak pada dokter dan jarum suntik. Dengan bantuan cerita dan permainan kita juga bisa menjelaskan bahwa vaksinasi meski menyakitkan bisa membantu anak untuk tetap sehat, sehingga anak paham manfaat imunisasi.

4. Orang Tua Tetap Tenang 

Kesalahan saya dulu adalah tidak tenang karena saya takut Cinta akan histeris ketika dan setelah divaksin. Secara tangisannya itu keras sekali (sampai sekarang pun kalau nangis bisa menggegerkan 1 gang, hiks). Cinta pun bisa merasakan bahwa ibunya stres sehingga dia ikut cemas. Padahal yang dibutuhkan anak adalah ketenangan orang tua.

stay calm

Menurut Dr. Lindsay Uman, Phd, seorang psikolog klinis di IWK Community Mental Health & Addictions (CMHA) Clinic, perilaku orang tua selama proses vaksinasi adalah faktor kunci dalam menentukan jumlah rasa sakit dan kecemasan yang akan dialami oleh seorang anak. Jadi sebaiknya kita bersikap tenang dan tersenyum tapi nggak perlu juga berulang kali mengatakan, “Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja”. Karena menurut Dr. Uman, seperti yang dilansir oleh The Asian Parents Indonesia, hal itu justru bisa membuat anak merasa tertekan dan berpikir bahwa memang ada yang perlu dikhawatirkan.

Cukup katakan, “Mama tahu kamu takut disuntik. Mama ada di sini kalau kamu ingin dipeluk supaya rasa takutmu berkurang”.

5. Alihkan Perhatian

Jika memungkinkan, pangku dan peluk anak saat proses vaksinasi berlangsung. Tentu dengan pelukan sayang ya bukan pelukan yang bisa mengunci tubuh anak meski itu bertujuan supaya dia tidak meronta saat disuntik. Ajak dia melihat ke arah lain dan berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan supaya perhatiannya tidak terfokus pada jarum suntik. Atau ajak anak menarik nafas panjang dan berhitung sampai selesai disuntik dan rasa sakitnya berkurang.

6. Beri Pujian

Setelah selesai disuntik, beri anak pelukan hangat dan pujian bahwa dia sudah melalui proses imunisasi dengan berani. Meski menangis, tetap puji keberaniannya untuk datang ke dokter dan mau disuntik. Kalau kita berjanji memberinya hadiah, langsung berikan tanpa ditunda lagi. Supaya anak juga punya kenangan baik saat imunisasi sehingga saat jadwal vaksin berikutnya tidak terlalu sulit untuk membujuknya.

Imunisasi

Nah, PR saya sekarang adalah membawa Cinta untuk imunisasi HPV dan booster TD (Tetanus dan Difteri) karena usianya sekarang sudah 12 tahun. Sedangkan Keenan sudah waktunya untuk booster Campak. Karena mereka sudah besar InsyaAllah sudah lebih mudah bagi saya mengajak anak-anak untuk imunisasi, walaupun saya tahu mereka juga pasti masih punya rasa takut disuntik.

Apakah teman-teman punya pengalaman menarik saat membawa anak-anak imunisasi? Atau mungkin tips lain agar anak tidak takut disuntik? Yuk, sharing di komen yaaa.

 

Credit picture:
Photo by CDC on Unsplash
Image by Myriam Zilles from Pixabay
Jadwal Imunisasi dari situs IDAI
Dokumen Pribadi

Persiapkan 5 Hal Ini Saat Anak Mengikuti Audisi Ajang Pencarian Bakat

ajang pencarian bakat anak

Ajang pencarian bakat, khususnya singing competition sekarang banyak bermunculan di Indonesia. Yang awalnya hanya ditujukan untuk dewasa pun lama-lama berkembang ke anak-anak. Seingat saya ajang pencarian bakat anak tingkat nasional yang pertama kali populer adalah Mamamia Show yang disiarkan oleh Indosiar pada tahun 2007. Acara ini cukup sukses pada waktu itu dengan menangnya Mytha Lestari di season pertama. Kalau nggak salah pemain sinetron Kiki Farrel juga pernah menjadi finalis ajang pencarian bakat ini.

Kesuksesan Indosiar dengan Mamamia Show membuat RCTI mengikuti jejaknya dengan mengadakan variety show Idola Cilik di tahun 2008. Pada tahun 2014, Indonesian Idol Junior mulai diadakan, disusul dengan The Voice Kids di tahun 2016. Di setiap seasonnya, acara-acara ini mendapat peminat yang besar sekali, baik dari sisi peserta maupun dari sisi penonton. Banyak anak dengan bakat bernyanyi istimewa yang kemudian mencoba keberuntungannya mengikuti ajang ini. Termasuk anak saya.

hotel batiqa surabaya

Well sebenarnya sebelum kembali ke Indonesia akhir tahun lalu, anak saya tidak tahu sama sekali tentang ajang pencarian bakat seperti ini. Maklumlah, kami hampir nggak pernah nonton siaran tv Indonesia saat di Brunei dulu. Dan acara variety show seperti ini bukan jenis tontonan keluarga kami. Secara anak-anak lebih suka nonton serial animasi di saluran Disney dan suami lebih memilih nonton berita atau film. Sedangkan saya yang lebih sering nggak kebagian jatah nonton tv lebih suka baca buku atau nonton film-film di Netflix lewat gawai.

Cinta dan Hobi Menyanyi

Tapi memang si kakak ini suka bernyanyi dan suaranya lumayan bagus. Di sekolah lamanya dia pernah menjuarai kompetisi bernyanyi untuk kategori Senior (kelas 4-6 SD) dan mengikuti ekstra kurikuler paduan suara. Waktu wisuda kelulusan Primary School kemarin juga dia menjadi lead vocal paduan suara kelasnya. Jadi ya dia cukup percaya diri dengan kemampuan bernyanyinya walaupun belum pernah ikut les vokal.

Sayangnya, sekolahnya sekarang nggak punya ekstra kurikuler nyanyi atau paduan suara sehingga dia nggak bisa menyalurkan hobi bernyanyinya. Tapi sepertinya sih dia tetap suka nyanyi di manapun berada karena teman sekelasnya tiba-tiba mengajaknya ikut open auditions salah satu ajang pencarian bakat edisi Surabaya awal bulan Februari 2020 lalu.

Saya mengizinkan dia ikut tanpa persiapan yang matang karena kami tahu tentang audisi ini hanya 7 hari dari hari H. Dalam 1 minggu itu pun, kami memiliki kesibukan lain yang cukup menyita waktu sehingga nggak sempat berlatih atau mencari tahu apa saja yang akan kami hadapi di sana. Saya hanya memberi gambaran sekilas kepada anak gadis bahwa saat audisi nanti dia akan bernyanyi di sebuah ruangan tertutup di depan seorang juri. Juga tentang banyaknya anak yang akan mengikuti acara tersebut dan proses audisi yang biasanya berlangsung berjam-jam.

The Open Auditions Day Ajang Pencarian Bakat

Pada hari H kami berdua bersama adik ipar dan adik sepupu saya berangkat ke Batiqa Hotel Surabaya, tempat audisi berlangsung. Kami sengaja berangkat lebih pagi dari Sidoarjo dengan harapan sebelum pukul 9 pagi sudah sampai sana sehingga anak saya bisa dapat antrian awal.

Sistem Antrian yang Kurang Teratur

Ternyata perkiraan kami meleset, saat sampai di Batiqa Hotel sudah banyak sekali anak dan orang tua yang berkumpul di sana. Padahal masih 30 menit sebelum audisi dimulai. Dan anehnya tidak ada nomer antrian atau jalur khusus antrian peserta, sehingga semua anak dan orang tua bergerombol tanpa tahu siapa saja yang datang pertama kali. Akibatnya, ketika panitia membuka kesempatan peserta untuk duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan, semua berebut. Nggak peduli mereka datang lebih awal atau datang belakangan. Siapa cepat, dia dapat kursi. Sisanya ya kembali bergerombol menunggu kursi-kursi tersebut kosong.

open audisi ajang pencarian bakat anak
kerumunan peserta dan orang tua dalam antrian yang tidak teratur

Setelah hampir 1 jam berdiri, sementara peserta yang sudah dapat kursi belum ada yang dipanggil masuk ke dalam ruangan, anak saya mulai stres. Dia menangis sambil bilang mau menyerah saja dan minta pulang. Walaupun saya bujuk untuk bertahan sebentar lagi dia tetap pada pendiriannya untuk mundur dari audisi. Saya pun menuruti permintaannya dan membawanya keluar dari kerumunan peserta dan orang tua menuju ke pelataran parkir hotel.

Di tempat parkir, anak saya Cinta bertemu dengan teman sekolahnya yang mengajaknya ikut audisi dan seorang teman yang lain. Melihat Cinta menangis, si teman (sebut saja Gio dan Nur) menenangkan dan memberinya semangat.

“Kalau mau ikut audisi ya harus semangat. Nggak boleh putus asa”, kata mereka.

“Ayo, nunggu sama aku aja. Jangan pulang”, ujar kedua anak itu meyakinkan Cinta untuk tetap bertahan.

Akhirnya, kami pun kembali ke tempat antrian. Kali ini antrian sudah mulai mengular, tidak lagi bergerombol tapi tetap saja ada yang baru datang langsung ke bagian depan antrian. Sementara panitia hanya berjaga di meja pendaftaran dan sekitar kursi-kursi peserta, tanpa memedulikan peserta yang bergerombol nggak jelas ini.

Sistem Antrian Akhirnya Dibenahi

Situasi ini bertahan sampai hampir pukul 12 siang. Jadi nyaris 3 jam anak-anak itu berdiri tanpa antrian yang jelas. Beberapa kali antrian merangsek sampai ke area kursi peserta lalu oleh panitia disuruh mundur lagi sambil mereka memasang pita pembatas. Sementara para orang tua mulai resah melihat ada peserta-peserta yang baru datang bisa langsung menerobos pita pembatas dan menuju meja pendaftaran.

antrian audisi the voice kids surabaya
Setelah hampir 3 jam berdiri dalam kerumunan nggak jelas akhirnya Cinta duduk dalam barisan yang teratur, diberi formulir pendaftaran dan nomer antrian.

Mungkin karena banyak orang tua yang protes ke media sosial penyelenggara open audition atau komplain langsung ke panitia, akhirnya jam 11.40 antrian baru ditertibkan. Saat itu orang tua diminta untuk keluar dari antrian dan anak-anak diatur menjadi 5 barisan. Setelah itu mereka disuruh duduk dalam barisan dan dibagi formulir pendaftaran dan nomer antrian. Bayangkan betapa leganya saya melihat Cinta dan teman-temannya akhirnya diperlakukan lebih manusiawi setelah hampir 3 jam berdiri.

Harapan Terhadap Penyelenggara Audisi Ajang Pencarian Bakat

Seusai anak-anak mendapat nomer antrian, proses audisi berjalan lebih tertib dan nyaman untuk mereka. Saya pun beranjak ke sebuah kafe kecil di depan hotel untuk meredakan ketegangan bersama adik-adik saya dengan memesan makan siang dan es kopi.

Di kafe tersebut, kami satu ruangan dengan orang tua lain yang anaknya juga mengikuti audisi. Dan semua sepakat menganggap penyelenggara kali ini nampak tidak profesional mengingat event ini adalah untuk anak-anak dan levelnya nasional tapi sistemnya semrawut nggak karuan. Harapan saya sih ini menjadi pelajaran untuk para penyelenggara audisi sejenis ya. Sebaiknya diberi jalur khusus peserta atau sejak awal langsung diberi nomer antrian berdasarkan siapa yang datang duluan, Jadi benar-benar first come first in untuk menghargai peserta yang sudah berusaha hadir lebih pagi serta menjadikan antrian lebih rapi dan teratur.

tim suporter audisi
Tim Suporter Audisi Kakak Cinta

Peserta Fast Track Ajang Pencarian Bakat

Dari para pengantar lain saya tahu bahwa kebanyakan peserta audisi sudah sering mengikuti ajang lomba menyanyi di Surabaya dan sekitarnya. Beberapa di antaranya malah sudah profesional dan berlatih dengan lebih dari 1 pelatih vokal. Wow!

Adik-adik saya yang tadinya menunggu di kafe hotel juga bercerita bahwa banyak yang sengaja menginap di hotel supaya bisa antri sejak Subuh demi audisi ini. Tapi yang paling menarik adalah cerita tentang peserta dari jalur Fast Track. Mereka-mereka inilah yang kami lihat bisa langsung menuju meja pendaftaran tanpa harus ikut mengantri. Mereka-mereka ini juga yang membuat antrian di luar ruangan lambat majunya karena mereka bisa duluan diaudisi tanpa harus menunggu giliran. Wow lagi!

Jadi peserta fast track ini adalah peserta yang mendapat undangan khusus untuk mengikuti open audition ini. Untuk mendapatkan undangan ini, menurut salah satu peserta fast track, mereka menghubungi salah satu contact person open audition dan memberikan portofolio prestasi mereka sebagai penyanyi cilik. Portofolio ini bisa berupa link sosial media atau youtube yang berisi penampilan mereka bernyanyi. Jika penyelenggara menganggap mereka cukup bagus dari penampilan di sosial media atau youtube tersebut, mereka akan mendapatkan undangan untuk bisa audisi tanpa antri. Gitu.

Setelah mendengar pengalaman dan cerita dari para orang tua lain, saya pun menarik beberapa pelajaran yang saya ambil dalam pengalaman hari itu. Dan salah satunya adalah hal-hal yang perlu dipersiapkan saat anak mengikuti audisi ajang pencarian bakat seperti ini. Apa saja?

Persiapkan 5 Hal Ini Saat Anak Mengikuti Audisi Ajang Pencarian Bakat

ajang pencarian bakat anak

1. Portofolio

Kalau kita tahu anak kita punya bakat khusus seperti bernyanyi, melukis, olahraga, dsb. Dokumentasikan setiap aktivitas mereka yang berkaitan dengan bakat tersebut, terutama saat mereka mengikuti lomba. Menang kalah nggak jadi masalah. Bagaimana kalau anak nggak pernah ikut lomba menyanyi? Buatlah video cover. Lalu unggah ke satu akun sosial media khusus atau channel Youtube. Jika beruntung, portofolio ini bisa menjadi jalan khusus ketika anak ikut open audisi. Walaupun tidak menjamin kemenangannya tapi setidaknya bisa audisi tanpa harus menunggu giliran selama 9 jam, ya kan.

2. Persiapkan Materi yang Ingin Ditunjukkan Dengan Baik

Untuk ajang lomba nyanyi seperti yang diikuti Cinta ini, alangkah baiknya anak sudah mempersiapkan dirinya terlebih dahulu dengan cara berlatih dan menghafalkan lagu-lagu favoritnya. Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

3. Persiapkan Mental dan Fisik Anak

Ini yang paling penting sih. Kesalahan saya adalah menganggap acara ini seperti lomba-lomba menyanyi anak-anak level sekolahan atau ya tingkat kota kecil yang pesertanya tidak terlalu banyak dan sudah dipersiapkan dengan baik oleh panitia sesuai dengan kondisi anak-anak. Sehingga ketika mendapati kenyataannya tidak seperti harapan kami, Cinta pun kaget. Dia tidak siap mental.

peserta audisi ajang pencarian bakat
peserta audisi seperti ini bisa sampai 300 orang.

Jadi sebaiknya cari tahu lebih dulu bagaimana sistem audisi yang akan diikuti. Hubungi sosial media atau contact person penyelenggara acara tersebut. Tanyakan bagaimana sistem antriannya, apa saja proses yang harus dijalani anak-anak selama audisi, apakah orang tua bisa mendampingi, dan lain sebagainya. Pokoknya tanya dengan jelas. Dan sampaikan kepada anak kemungkinan-kemungkinan terburuk agar ia siap mental.

Siapkan juga mental anak untuk kalah. Sebagai orang tua, kita memang harus memberi support kepada anak untuk melakukan usaha yang terbaik agar dapat mencapai hasil maksimal. Tapi, di setiap ajang kompetisi, anak-anak lain juga pasti akan berusaha sebaik mungkin. Jadi kemungkinan kalah itu selalu ada. Bukan karena anak tidak cukup bagus tapi karena ada yang lebih bagus dari dia.

Pastikan juga anak dalam keadaan sehat. Kemarin ada anak yang terpaksa bernyanyi dalam keadaan batuk sehingga gagal, padahal dia sudah antri berjam-jam. Kan kasihan ya. Anak yang kurang sehat juga nggak akan menikmati proses audisi yang panjang itu. Bahkan bisa jadi akan makin sakit. Jadi benar-benar jaga kondisi anak sebelum mengikuti audisi dengan cara memberi vitamin, olahraga yang cukup serta banyak minum dan istirahat.

4. Bawa Perlengkapan Pendukung

Kursi lipat kecil, kipas mini, air minum, baju ganti, pulpen, gadget atau buku menurut saya wajib sekali dibawa saat open audition seperti kemarin. Ketika antrian belum teratur kursi lipat kecil yang dibawa Gio dan Nurul dipakai bergantian oleh mereka dan Cinta sehingga nggak terlalu capek. Dan saat nggak kuat lagi berdiri, saya mengizinkan Cinta duduk di lantai sambil baca buku atau main gadget supaya moodnya tetap terjaga.

antrian audisi the voice kids surabaya
duduk di lantai sambil main gadget karena capek berdiri

Pastikan anak dalam keadaan kenyang sebelum berangkat audisi. Bawakan juga dia snack dan minuman serta minta dia untuk banyak minum air putih selama menunggu. Jika harus melewati jam makan siang, bawakan atau belikan makanan kesukaannya agar dia tetap mau makan. Sehingga tetap segar dan sehat sampai proses audisi selesai.

5. Waktu

Saat mengikuti audisi terbuka begini, kita harus mempersiapkan waktu setidaknya satu hari khusus. Kalau memungkinkan, menginaplah di dekat tempat audisi agar bisa sepagi mungkin antri. Namun jika tidak memungkinkan datanglah pada saat yang nyaman bagi anak. Hanya saja, semakin siang kita datang, semakin besar pula nomer antrian yang kita peroleh, sehingga bisa jadi semakin malam anak akan selesai audisi. Jadi persiapkan waktu dengan matang agar nyaman untuk anak dan pengantar.

Suporter Audisi
Cinta dan Opa yang khusus datang menemani audisi

Cinta sendiri selesai diaudisi pada pukul 5.30 sore, sesaat setelah adzan Maghrib Surabaya berkumandang, setelah 9 jam menunggu. Hasilnya sebenarnya sudah sesuai dugaan, yaitu dia gagal melanjutkan ke tahap selanjutnya. Bukan karena saya meragukan kemampuan anak saya ya. Hanya saja saya tahu bahwa ada banyak sekali anak yang lebih berbakat dan lebih berpengalaman ikut lomba semacam ini. Sehingga dari awal saya sudah menyiapkan mental Cinta untuk kalah.

Baca Juga: Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah

Dan saya bersyukur sekali Cinta bisa menghadapi dengan dewasa. Bahkan dia memuji juri yang menurutnya sangat baik.

She’s so nice. First she asked if I want her to talk to me in English or in Bahasa which of course I choose English. She’s even said sorry many times that she can’t pass me to the next step. I like her“.

Kata Cinta menurut juri dia punya bakat tapi dia bernyanyi terlalu pelan seolah-olah hanya bernyanyi untuk dirinya sendiri. Ini yang menyebabkan Cinta gagal. Untuk itu dia diminta berlatih vokal dengan pelatih profesional dan mencoba lagi tahun depan.

Hmmm… Apakah kami akan kembali lagi tahun depan? Entahlah. Kalaupun iya, sepertinya harus mulai ikut les vokal, lomba nyanyi dan bikin portofolio nih.

Adakah yang anak atau keponakannya suka mengikuti ajang Idol seperti ini atau lomba adu bakat lainnya? Share yuk di kolom komentar persiapan apa saja yang dilakukan.

 

 

 

 

Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak. Membaca adalah aktivitas yang saat ini tidak terlalu banyak digemari oleh anak-anak generasi alfa yang merupakan digital native, alias dari bayi sudah mengenal dan menggunakan gawai. Namun, banyak sekali keuntungan membaca yang tidak didapat dari menggunakan gawai sehingga para ahli pengasuhan anak dan guru terus berusaha mengkampanyekan kegiatan gemar membaca.

Alhamdulillah, sejak adanya ajang jualan buku impor murah Big Bad Wolf di Jakarta pada tahun 2016, banyak orang tua yang mulai suka membeli buku untuk anak-anaknya. Dan sekarang membaca dan membeli buku bacaan untuk anak sekarang sudah menjadi gaya hidup para keluarga muda Indonesia. Good start to begin with, right?

Namun, sebaiknya sih tidak asal dalam membeli buku bacaan untuk anak. Apalagi sekarang banyak sekali pilihan buku bacaan untuk anak yang beredar di pasaran. Baik itu buku impor atau buku dari penerbit lokal. Nah, supaya tidak bingung dan akhirnya membeli buku yang tidak akan dibaca oleh anak-anak kita, coba ikuti beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam memilih buku yang tepat untuk anak. Apa saja?

Baca juga: 10 Buku Bacaan yang Wajib Dimiliki Remaja

Cara Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

1. Sesuaikan dengan Usia Anak

Bayi dan Batita

Biasanya bayi dan batita menyukai buku-buku dengan gambar-gambar obyek sederhana berwarna cerah. Mereka juga suka mendengarkan kata-kata sederhana dan berima. Sedangkan buku-buku tanpa kata dapat memberikan stimulasi visual dan mental yang mendorong anak untuk menciptakan ceritanya sendiri. Anak usia ini juga lebih cocok dengan board book atau buku kain yang tidak mudah sobek karena mereka biasanya membuka lembaran-lembaran buku dengan penuh semangat atau bahkan memasukkannya ke dalam mulut.

Usia Prasekolah dan TK

Keenan dan buku

Anak usia ini sudah dapat menikmati kata-kata lebih rumit tapi tetap berima dengan pengulangan kata dan kisah sederhana, seperti buku-buku Peter and Jane yang cocok sekali untuk belajar membaca (dalam bahasa Inggris). Buku yang berisi kisah-kisah klasik dan cerita yang menggambarkan benda-benda dan pengalaman yang akrab memberikan pengalaman menyenangkan bagi anak-anak dalam kelompok usia ini. Pop-up books, buku yang bisa dimainkan, memiliki bagian yang bisa bergerak dan buku-buku interaktif lain juga menarik bagi anak-anak usia prasekolah dan TK.

Usia 5 – 8 Tahun

Beberapa anak di usia ini sudah dapat membaca sendiri dan untuk mereka, kita bisa memilihkan buku-buku dengan kisah sederhana dan kata-kata yang sudah familiar. Atau kalalu mau mudahnya, cari saja buku berlabel early readers untuk buku bahasa Inggris. Kalau bahasa Indonesia kira-kira padanannya apa ya? Mohon maaf, saya sendiri jarang membeli buku cerita dalam bahasa Indonesia untuk kategori usia ini.

usborne very first reading, book review, books for early reader

Sedangkan untuk anak yang belum dapat membaca sendiri atau lebih suka dibacakan oleh orang tua, kita bisa memilih buku bacaan dengan alur cerita kuat dan memiliki pengembangan karakter. Misalnya anak yang malas sikat gigi akhirnya giginya rusak sehingga dia jadi rajin sikat gigi.

Buku-buku ensiklopedia anak serta biografi juga sudah bisa kita perkenalkan pada anak di usia lower primary ini. Tentunya cari yang sesuai dengan minat mereka atau yang sedang mereka pelajari di sekolah agar anak tertarik membacanya dan dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka terhadap topik tersebut.

Usia 9 Tahun ke atas

buku edukasi, hadiah, kado untuk anak perempuan, hadiah ulang tahun, ulang tahun anak perempuan

Pertimbangkan kepribadian dan minat anak dalam memilih buku bacaan untuk anak usia upper primary ini. Biasanya mereka sudah punya preferensi tertentu dan nggak masalah kalau jenis buku yang dibaca itu-itu saja, selama isinya masih sesuai dengan umurnya. Anak sulung saya di usia ini hanya mau membaca buku karangan Elisabetta Dami dengan nama pena Thea Stilton dan buku-buku seperti WHY series dan sejenisnya. Selama dia membaca dan mendapat manfaat dari bacaan tersebut ya saya biarkan saja lah. 

Baca juga: Thea Stilton: The Secret of The Snow

2. Ketahui Minat Anak

Anak biasanya akan lebih semangat membaca buku jika topiknya adalah sesuatu yang ia sukai. Jadi, carilah buku tentang sesuatu yangn sedang ia minati saat itu. Apakah itu dinosaurus (rasanya sebagian besar anak pernah menjalani fase menyukai segala sesuatu tentang dinosaurus ya, termasuk dua anak saya), pesawat, princess, atau kisah-kisah religi yang sudah disesuaikan dengan bahasa anak-anak.

3. Perhatikan Buku Favoritnya

Anak pra remaja saya sedang suka membaca novel untuk anak SMP seperti novelnya Rick Riordan yang bertema fantasi serta kehidupan remaja dengan gaya bertutur dari sudut pandang orang pertama. Jadi buku-buku yang dia pilih biasanya memiliki kesamaan seperti itu. 

Rick Riordan, Magnus Chase, teen novel

Sedangkan si bungsu suka buku petualangan yang ceritanya sederhana dan berakhir bahagia dengan kalimat-kalimat sederhana yang bisa dia baca sendiri. Baik itu buku petualangan dari karakter populer seperti Paw Patrol atau seri Usborne Early Reader dan seri KeyWords with Peter and Janenya Ladybird. 

Dengan memperhatikan buku-buku favorit mereka, saya tidak terlalu kesulitan dalam memilih buku bacaan untuk mereka. Tinggal cari saja buku-buku yang senada atau berasal dari penulis yang sama. 

Baca juga: Belajar Membaca dalam Bahasa Inggris dengan Seri Usborne Very First Reading

4. Minta Rekomendasi dari Guru atau Petugas Perpustakaan

Waktu Cinta kelas 5 SD gitu, saya diberitahu gurunya untuk memperbanyak koleksi bacaan Cinta karena mereka akan banyak mengarang. Dan pembaca yang baik tentu dapat menghasilkan tulisan yang bagus kan ya. Lalu, seorang teman bercerita bahwa guru sekolah anaknya menyarankan agar anak-anak mulai membaca buku-buku cerita yang populer pada zaman kita kecil dulu, seperti karangannya Enid Blyton, Little Woman, Anne of the Green Gable, dll. Buku-buku klasik ini ditulis dalam bahasa Inggris baku pada zamannya dengan grammar yang bagus dan memiliki gaya tutur yang indah dan memikat serta age appropriate. Sedangkan buku-buku modern biasanya ditulis dengan gaya tulisan lebih santai dengan kisah-kisah percintaan yang mungkin kurang sesuai bagi anak-anak.

Nah, biasanya petugas perpustakaan dan guru tahu buku-buku mana saja yang selain menarik juga cocok dibaca oleh anak seperti saran cerita teman saya itu. Di beberapa sekolah, guru juga biasanya akan memberikan daftar buku bacaan yang bisa dibaca selama liburan sekolah. Kalau guru sekolah anak kita tidak melakukannya, ajak saja berdiskusi, pasti mereka senang kok memberikan rekomendasi buku bacaan untuk anak.

5. Kunjungi Blog atau Situs-Situs Terpercaya 

Sekarang banyak sekali kok blog atau sosial media yang memberikan resensi buku bacaan untuk anak. Salah satunya adalah Goodreads. Bookdepository juga sering memberikan daftar buku-buku bestseller mereka, begitu juga dengan Gramedia. Sedangkan untuk sosial media, saya suka sekali dengan akun IG bukubukuanakku, sayang sepertinya sekarang sedang vakum.

Situs my-best.id juga memiliki artikel-artikel rekomendasi buku-buku bacaan untuk anak sampai dewasa lengkap dengan tautan e-commerce tempat membeli buku-buku tersebut. Ada rekomendasi saya juga untuk buku bacaan yang wajid dimiliki oleh remaja, lho. 

buku bacaan untuk remaja

Semoga dalam waktu dekat ini saya bisa mengumpulkan daftar blog dan sosial medianya lalu menuliskannya di sini. Kalau ada yang punya atau tahu blog dan sosial media yang berisi review buku bacaan untuk anak boleh ya tulis di kolom komentar. Nanti saya round up

6. Cari Buku dengan Masalah yang Dekat dengan Keseharian Anak

Anak akan masuk sekolah baru dan mungkin merasa cemas terhadap situasi yang akan ia hadapi? Kita bisa memilih buku yang memiliki tema beradaptasi di lingkungan baru. Atau masalah-masalah lain seperti anak takut gelap, tidak mau berbagi dengan teman, takut ke dokter, mengapa harus menggosok gigi, dan banyak lagi. Tentunya pilih yang ceritanya tidak bertele-tele ya, terutama untuk anak di bawah 9 tahun, agar pesannya dapat langsung ditangkap oleh anak.

Nah, itu saja sih tips yang bisa saya bagi dalam memilih buku bacaan untuk anak. Memang membeli buku itu tidak akan pernah sia-sia, misalnya pun buku yang kita beli untuk anak ternyata tidak disukainya, kita bisa menjualnya lagi atau menyumbangkannya ke perpustakaan sekolah. Atau bisa saja kita simpan di perpustakaan pribadi anak, siapa tahu suatu saat nanti dia akan mau membaca dan menyukainya. Tapi, bijaksana dalam membeli akan lebih baik ya, apalagi menjelang banyaknya bazaar buku murah yang akan hadir sebentar lagi. Selamat berbelanja buku bacaan untuk anak dengan bijak!

Mempersiapkan Anak Pindah Tempat Tinggal Baru

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Pindah tempat tinggal sebenarnya bukan hal yang baru bagi keluarga kami. Sejak menikah 13 tahun yang lalu, saya sudah pindah rumah sebanyak 6 kali. Pertama adalah dari Sidoarjo ke Jakarta. Lalu pindah lagi ke Sidoarjo. Setelah itu ke Parung. Dari Parung kembali lagi ke Sidoarjo beberapa bulan sebelum pindah ke Brunei. Di Brunei sendiri kami pindah rumah sebanyak 2 kali.

Tapi pindahan kali ini terasa lebih spesial, karena kali ini kami akan kembali ke Indonesia setelah 8 tahun tinggal di Brunei.

Krisis minyak dunia yang melanda industri migas sejak beberapa tahun ini memang menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang ini terpaksa mengurangi pegawainya agar dapat bertahan. Setelah belasan teman harus kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain akibat krisis ini mulai 4 tahun lalu, tahun ini keluarga kami mendapat gilirannya.

Tentu ini bukan hal yang mudah ya. Brunei, khususnya Seria dan Kuala Belait sudah menjadi rumah kami selama 8 tahun ini. Meninggalkan teman-teman rasa saudara dan kenyamanan easy life di sini juga nggak akan mudah rasanya.

Meski keluarga ada di sana tapi kehangatan persaudaraan sesama orang Indonesia di Brunei yang saya rasakan jauh lebih hangat daripada hubungan antar tetangga di Parung dulu. Mungkin karena merasa senasib ya, jauh dari kampung halaman dan keluarga membuat kami menjadi dekat dan saling bergantung. Bagaimanapun juga, kalau ada apa-apa ya sahabat-sahabat saya inilah yang bisa diandalkan, bukan keluarga yang jauh di Indonesia.

Indonesia di Brunei
Ready for our next adventure. Latar belakang: Billionth Barrel Monument, Seria, Brunei Darussalam

Kalau untuk saya yang sudah dewasa saja pindah tempat tinggal itu berat, apalagi untuk anak-anak. Keenan lahir dan besar di Brunei, sedangkan Cinta menghabiskan lebih dari separuh usianya di negara ini. Pasti berat bagi mereka untuk meninggalkan rumah, sekolah, teman-teman dan segala rutinitas di Brunei untuk tinggal di Indonesia. Meski itu adalah kampung halaman kami, tapi adalah tempat baru bagi anak-anak.

Breaking the News

Karena itulah, kami berusaha berhati-hati sekali saat memberi tahu anak-anak bahwa kami harus pindah ke Indonesia untuk selamanya. Awalnya kami berencana untuk menunda pemberitahuan itu sambil menunggu suasana yang lebih baik karena Cinta si sulung akan menjalani PSR (Penilaian Sekolah Rendah). Kami tidak ingin konsentrasinya terganggu karena hal ini.

Tapi, emosi akhirnya membuat saya mengumumkan kepindahan kami dalam waktu dan cara yang tidak tepat. Akibatnya tentu fatal. Cinta terpukul sekali dan berita ini membuatnya menangis semalaman. Sedangkan Keenan berkali-kali bilang, “I don’t want to go back to Indonesia. I like Brunei. I don’t like Indonesia.” Hiks.

Malam itu kami lalui dengan suasana yang tidak menyenangkan. Kepala saya penuh dengan berbagai hal dan anak-anak tidur dengan hati yang sedih. Bahkan Cinta tidak mau keluar kamar, tidak mengizinkan kami masuk atau menghiburnya dan tertidur setelah lelah menangis.

Beberapa hari setelah insiden itu, baru kami mengajak anak-anak berbicara dari hati ke hati. Suami saya yang memimpin percakapan malam itu dengan memberikan alasan kenapa kami harus pindah, apa rencana kami ke depannya, dan bagaimana kami akan melalui masa ini bersama-sama. Anak-anak sudah tidak menangis lagi meski mereka masih nampak sedih, malah kami yang berusaha menahan air mata melihat kesedihan di wajah mereka.

moving away quote

Sungguh, bagian break the news ini merupakan salah satu hal terberat. Mungkin teman-teman pembaca Pojok Mungil yang sering mengalami mutasi pekerjaan dari satu kota ke kota tahu perasaan ini.

Setelah anak-anak diberi tahu, kami mulai mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk memperlancar kepindahan ini. Tapi ternyata memang tidak semudah itu bagi anak-anak untuk menerima kenyataan bahwa waktu kami untuk tinggal di Brunei tinggal sebentar lagi. Sesekali Cinta masih menangis sebelum tidur. Nggak jarang juga Keenan bilang nggak mau pindah ke Indonesia. Ya nggak apa-apa, ini adalah fase yang harus kami hadapi.

Kalau ada yang bilang anak itu mudah beradaptasi dan menyepelekan proses pindah tempat tinggal. Wah, mereka salah besar. Pindah dari tempat yang mereka kenal baik ke tempat baru yang benar-benar asing bagi anak itu cukup menakutkan. Tapi jangan khawatir, ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu anak beradaptasi dengan proses pindahan ini.

Mempersiapkan Anak Untuk Pindah Tempat Tinggal ke Kota atau Negara Baru

Sebagai perantau, saya mengamati kondisi anak-anak teman saya yang pindah ke Brunei atau pindah dari Brunei. Sebagian besar memiliki kesamaan, menolak untuk pindah dari tempat asal ke tempat yang baru. Memang sih, pindah tempat tinggal itu menakutkan. Mereka harus meninggalkan comfort zone mereka ke lingkungan yang benar-benar asing.

“Gimana kalau nanti teman-temanku melupakan aku?”

“Gimana kalau aku nggak bisa dapat teman baru yang sama baiknya dengan teman-teman di sini.”

“Gimana kalau rumah baru nanti nggak senyaman di sini?”

Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak kekhawatiran anak saat harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru.

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Tapi, jangan cemas. Ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu mempersiapkan mental mereka pindah tempat tinggal.

1. Beri Tahu Jauh-Jauh Hari

Jangan beri tahu hanya dalam hitungan hari sebelum kita pindah. Begitu kita tahu bahwa kita harus meninggalkan tempat kita tinggal saat ini, sebaiknya langsung cari waktu dan suasana yang baik untuk memberi tahu anak-anak. Dengan demikian mereka punya waktu untuk memproses kabar tersebut.

Cinta sebenarnya sudah tahu bahwa kami tidak akan selamanya tinggal di Brunei. Dia melihat sendiri teman-temannya satu per satu pergi dari Brunei untuk kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Dia dan Keenan juga mengerti bahwa kami tinggal di Brunei hanya karena ayah mereka bekerja di sini, sehingga saat pekerjaan beliau selesai ya kami harus kembali ke Indonesia.

Tapi, ketika diberi tahu bahwa kami akan segera pergi dari Brunei, Cinta dan Keenan tetap kaget, marah dan menolak. It’s oke. Itu wajar. Dengan mereka tahu kabar ini 1,5 bulan sebelum kami benar-benar pindah, anak-anak jadi bisa mempersiapkan diri dan mental mereka lebih baik.

2. Validasi Perasaannya

Wajar sekali kalau anak merasa sedih, khawatir, marah dan kecewa saat harus pindah tempat tinggal baru. Jangan anggap remeh perasaan tersebut dengan berkata, “Nanti juga di sana dapat teman baru, nggak usah sedih.”

It’s a big NO. Sebaiknya kita katakan, “Mama ngerti kok, kamu pasti sedih nggak bisa ketemu lagi sama temen-temen kamu di sini. Kamu takut ya mereka akan ngelupain kamu?”

Untuk beberapa anak ini adalah hal yang besar dan bisa membuat mereka tidak nyaman dan stres. Dengan kita memahami perasaan mereka, anak bisa lebih nyaman.

3. Kenalkan Pada Lingkungan Baru

Salah seorang teman yang baru pindah dari Brunei ke Jakarta tahun lalu, membawa anak-anaknya untuk melihat rumah baru mereka beberapa bulan sebelum mereka pindah. Ia juga mengajak mereka survey  sekolah dan memperlihatkan hal-hal menarik yang ada di sekolah baru. Teman saya itu sering berpromosi tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di sana. Sehingga anak-anak merasa excited dan nggak sabar untuk pindah.

Saya berusaha mengikuti yang dilakukan teman saya itu, kecuali bagian sekolah. Memang belum terlalu nampak hasilnya tapi setidaknya anak-anak punya gambaran akan apa saja yang bisa mereka lakukan di tempat baru nanti.

Kalau tidak memungkinkan membawa anak ke calon rumah barunya nanti, kita bisa lho browsing di internet tentang lingkungan baru kita nanti. Apakah di sana ada klub futsal yang bisa diikuti anak, atau di manakah kedai es krim favorit yang bisa dicoba di sana, dan masih banyak lagi.

pindah tempat tinggal

4. Keeping in Touch with Old Friends

Meninggalkan sahabat-sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil pastinya berat bagi anak. Tapi di zaman sekarang, bisa diatasi dengan teknologi. Memang, anak nggak bisa lagi hang out atau playdate dengan teman-temannya. Namun mereka tetap bisa ngobrol lewat whatsapp dan mengikuti perkembangan satu sama lain melalui sosial media.

Jadi, ajak anak untuk mengumpulkan alamat, no telepon dan akun media sosial teman-temannya jika ada. Dan beri mereka kesempatan untuk saling berkomunikasi, agar anak tidak terlalu merasa kehilangan.

5. Bawa Benda Favoritnya

Ajak anak untuk memilah barang-barang mana yang mau mereka bawa ke rumah baru dan mana yang bisa disumbangkan atau dijual sebelum pindah. Bila mereka memaksa untuk membawa semua mainan atau bukunya, beri batasan berapa banyak yang dapat mereka bawa.

6. Beri Waktu Beristirahat Sebelum Memulai Sekolah Baru

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Nina, seperti yang dikutip dari lifestyle.bisnis.com, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk beristirahat sebentar setelah pindahan. Setelah anak merasa nyaman, baru deh kita bawa mereka mengenal lingkungan dan sekolah baru.

Supaya anak tidak merasa tertekan saat mulai sekolah baru, Anna memberikan trik untuk menghindari hari pertama sekolah di awal pekan.

“Jarak dari awal pekan ke akhir pekan itu agak jauh. Kalau misalnya hari pertama masuk pada Kamis atau Jumat, besoknya kan ada libur. Nah, saat libur itu, dia masih ada waktu buat ‘ambil nafas’ dulu agar nyaman,” terangnya.

7. Pertahankan Rutinitas dalam Keseharian Anak

Perubahan lingkungan bisa membuat anak stres dan tidak nyaman. Untuk mengatasinya sebisa mungkin kita tetap mempertahankan aktivitas yang biasa kita lakukan saat di rumah lama, seperti sarapan bersama atau membaca dongeng sebelum tidur.

8. Beri Perhatian Ekstra

Pindahan itu benar-benar melelahkan dan bikin stres. Seringkali membuat kita mengabaikan anak karena sibuk mengurus berbagai hal seperti dokumen sekolah, ekspedisi barang, packing, dll. Begitu sampai di tempat baru kita akan lebih sibuk lagi cari sekolah baru, membersihkan dan menata rumah baru, unpacking, dll. Padahal di saat seperti inilah anak memerlukan perhatian kita.

Sering-sering lah ajak anak ngobrol. Tanyakan kepada mereka apa kira-kira yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka nyaman di tempat baru. Dengarkan perkataan mereka dan beri nasihat hanya jika dibutuhkan.

Bila anak masih merasa tidak nyaman dan stres, boleh juga dicoba berkonsultasi dengan psikolog anak. Jangan malu untuk minta bantuan profesional saat dibutuhkan, ya. Namanya juga ikhtiar demi anak. Kalau anak bahagia berada di tempat baru, tentu kita juga lebih tenang beraktivitas.

Mohon doanya untuk kami ya. Semoga kami dan teman-teman yang sedang atau akan pindah ke tempat baru diberi kelancaran dan kemudahan. Mungkin ada saran supaya anak cepat beradaptasi di tempat baru? Boleh share di komen ya.

 

 

 

Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary

K's first day at primary

Hari ini genap 2 minggu Keenan menjalani hari-harinya sebagai murid Primary 1 atau kelas 1 SD kalau di Indonesia. Jujur aja sebenarnya saya agak berat mengantarkan dia ke Primary school tahun ini. Masalah utamanya adalah umur Keenan yang belum lagi 6 tahun. Iya, pada hari pertama masuk sekolah tanggal 2 Januari kemarin, Keenan baru berusia 5 tahun 10 bulan. Terlalu muda memang.

Usia dan Tingkat Kematangan Anak Sekolah

Usia memang punya faktor penting dalam kematangan anak sekolah. Menurut situs www.klinikmylovelychild.com, kematangan masuk sekolah adalah kondisi saat anak sudah siap seusai standar fisik, intelektual, mental, keterampilan, serta perkembangan sosial yang sesuai dengan sekolah formal. Memiliki kematangan sekolah ini penting lho, agar anak benar-benar siap masuk sekolah, terutama sekolah dasar yang tuntutannya sudah berbeda dari pra sekolah. Sehingga nggak terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, kesulitan belajar, gagal sekolah, atau mogok sekolah.

Memang sih, tiap anak berbeda. Ada anak yang belum 6 tahun tapi sudah lebih matang daripada anak-anak seusianya. Nggak usah jauh-jauh deh, 2 orang keponakan saya dan 1 anak teman saya yang lahir cuma beda 1-2 bulan lebih muda dari Keenan, sudah lebih matang secara mental, keterampilan dan perkembangan sosialnya. Mereka, di usia belum 6 tahun sudah bisa membaca kalimat sederhana, menulis dengan rapi, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa mengetik dan membuat karangan di komputer.

syarat masuk sekolah dasar

Tapi untuk kasus Keenan ya bagi saya memang dia belum punya kematangan sekolah.

Hal ini juga dipahami oleh guru-gurunya di Kindergarten, terutama class teachernya. Begitu tahu kalau Keenan adalah salah satu yang paling muda di kelas, dia langsung bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu penyebab Keenan kewalahan mengikuti aktivitas belajar mengajar khususnya menulis adalah karena dia belum matang. “He hasn’t reach that maturity level yet. That’s why he’s still struggle to read, to write and can’t focus long enough.”

Selain usia, bisa jadi speech delay dan short attention span atau keterlambatan bicara dan tingkat konsentrasi yang pendek menjadi penyumbang faktor lambatnya kematangan Keenan. Jadi, saya sadar diri untuk nggak membandingkan Keenan dengan anak lain seusianya. Tapi saya juga sadar faktor usia mempunyai pengaruh penting dalam kesiapan anak masuk sekolah.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

Primary 1 di Brunei

Karena itulah, menjelang kelulusan kindergarten saya galau luar biasa. Dilema antara membiarkan Keenan lanjut ke Primary atau memintanya untuk mengulang KG3.

Lho, emang di Brunei usia nggak jadi syarat masuk sekolah dasar atau Primary? Yayaya, saya tahu bakal ada yang tanya gitu hehehe. Ada kok. Untuk masuk Primary, minimal anak berusia 6 tahun di bulan Maret. Nah, pas banget, Keenan di bulan Maret tahun ini sudah 6 tahun. Jadi dia bisa masuk. Dan semua anak yang sudah berusia minimal 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung wajib diterima di Primary School atau Sekolah Rendah manapun. Tanpa perlu tes macem-macem. Nggak peduli anaknya bisa baca tulis atau enggak, bisa berhitung atau enggak, masih nangis kalau ditinggal sendiri. Pokoknya udah 6 tahun udah bisa sekolah.

hari pertama sekolah

Oya, di sini anak umur 7 tahun wajib masuk sekolah (mungkin ada perkecualian untuk anak berkebutuhan khusus ya). Kalau nggak sekolah, orang tua bisa kena hukuman denda atau penjara. Jeng jeng jeng. Jadi, homeschooling in Brunei is not an option.

Nah, karena itu, class teacher dan KG supervisor Keenan nggak membiarkan dia ‘menahan’ alias mengulang kelas, meskipun dia belum punya kematangan sekolah. “It’s oke, Mummy. Let him try year 1. If he can’t cope this year, he can stay at year 1 the next year,” gitu saran dari guru kelasnya. Ya sudah sik, akhirnya itu jadi salah satu pertimbangan saya mendaftarkan Keenan ke Primary 1. Walaupun rasa cemas itu tetap ada. Wajar kan ya. Iya, nggak?

Baca juga: Keenan: Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

Mengatasi Kecemasan Masuk Sekolah Dasar

Meski akhirnya saya memutuskan Keenan masuk Primary 1 (suami sebenarnya ingin Keenan ngulang KG 3 aja), hati saya tetap nggak tenang. Dan di hari pertama sekolah, saya yang stres. Anaknya sih agak takut tapi begitu lihat beberapa temannya dari KG ada di kelas yang sama, dia langsung tenang.

Saya sendiri khawatir dia nggak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik di sekolah. Karena di sekolah dasar kan anak-anak sudah belajar beneran.Di mana, mereka harus mencatat pelajaran dari gurunya juga ada PR dan ulangan. Saya takut Keenan nggak bisa memahami instruksi gurunya, nggak bisa mencatat, atau nggak berani ke toilet sendiri. Pokoknya mah mamak ini cemas aja bawaannya.

Sampai pagi itu saya ketemu dengan kepala Primary yang sudah lama saya kenal sejak kakak sekolah di situ. Curhatlah saya ke beliau tentang Keenan yang belum bisa baca tulis dengan baik dan semua kekhawatiran saya.

Eh, responnya baik sekali. Beliau menyarankan saya untuk ngobrol ke guru kelasnya Keenan, “Tell the teachers about that, so they can talk slower to him. But I told the teachers who teach at this class actually. Because this class is special. Some of them are still young and can’t write or read properly. That’s why we put them together at one class instead of mixing them with the good (at writing, reading and more mature) ones,” ujarnya memenangkan saya. Beliau juga bilang kalau sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dalam membantu anak-anak yang belum bisa baca tulis agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Duh, rasanya pundak saya langsung terasa lebih ringan karena tahu saya nggak akan berjuang sendirian. Nggak masalah bagi saya kalau Keenan ditempatkan di kelas spesial. Justru dengan begitu dia nggak akan dipaksa lari untuk mengikuti ritme teman-temannya karena mereka berada di pace yang sama. Guru-guru juga akan lebih sabar dalam mengajari anak-anak ini.

Mengatasi Kecemasan Orangtua

Berkenalan dengan guru atau kepala sekolah dan berbicara kepada mereka tentang kekhawatiran kita cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas saat anak akan masuk sekolah dasar.

Selain itu beberapa cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan orangtua saat anaknya masuk sekolah dasar:

1. Berkenalan dengan orangtua lain.

Punya teman sesama orangtua yang anaknya juga baru masuk sekolah bikin kita lebih tenang karena ada teman senasib. Kita bisa saling curhat dan saling menjaga anak-anak di minggu pertama mereka bersekolah.

Karena Keenan bersekolah di tempat yang sama dengan TKnya dulu, otomatis sebagian besar temannya dari TK yang sama. Sehingga saya sudah kenal dengan sebagian besar ortu teman-teman Keenan di Primary School. Jadi di hari pertama anak-anak sekolah, kami ngobrol dan curhat di depan kelas anak-anak. Dan ternyata memang nggak cuma saya yang punya kekhawatiran tersebut. Akhirnya malah kami saling support. Kecemasan saya sedikit berkurang.

Berkenalan dengan orangtua murid yang lebih senior juga nggak ada salahnya, lho. Mereka biasanya sudah lebih paham sistem di sekolah tersebut. Jadi kalau kita bingung nggak tahu harus bagaimana saat anak mengalami kesulitan, mereka biasanya bisa memberi saran. Itu yang saya alami saat Cinta awal-awal masuk Primary School dulu.

2. Bergabung dengan kegiatan di sekolah.

Banyak orang tua yang malas terlibat di kegiatan sekolah termasuk saya. Padahal dengan cara ini kita bisa lebih mengenal guru-guru dan teman-teman anak di sekolah tersebut. Kita juga bisa mengamati cara guru berinteraksi dengan orangtua dan siswa di luar kelas. Sehingga kita tahu apakah anak nyaman atau tidak di sekolah tersebut.

Oya dengan kita terlibat dengan kegiatan sekolah atau ikut persatuan orangtua murid dan guru, anak juga akan merasa didukung oleh orangtua, lho. Tapi juga jangan berlebihan sampai kita menginterupsi cara belajar dan mengajar guru di kelas ya. Nanti jadi helicopter parent dong kita. No no no. Cukup mengamati dari jauh. Beri bantuan dan dukungan kepada para guru agar mereka tahu bahwa kita bisa diandalkan untuk bekerja sama meningkatkan kemajuan pendidikan anak-anak.

3. Tanya anak tentang aktivitas dan perasaannya di hari pertama sekolah.

Dengan menanyakan pengalaman hari pertama anak di sekolah dasar, kita bisa tahu kesan pertama anak terhadap perannya sebagai anak SD. Karena tentu berbeda sekali dengan anak TK. Dengan begitu kita mengerti apa yang disukai dan tidak disukai anak. Atau apa yang membuatnya senang atau sedih. Sehingga kita bisa membuat anak nyaman dan rasa cemas kita berkurang. Tapi ya nggak usah diinterogerasi juga anaknya. Nggak semua anak suka bercerita. Ada yang kalau ditanya, “Gimana tadi sekolahnya?” cuma jawab, “Oke.” ya nggak papa juga. Coba ganti pertanyaannya dengan yang lebih spesifik lagi.

Baca juga: 20 Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

2 Minggu di Primary 1

Jadi, setelah 2 minggu di Primary 1 saya lihat Keenan mulai bisa beradaptasi. Kalau ditanya soal pelajaran dia bisa jawab, bahkan mulai bisa menghafal beberapa kata (iya, bagi dia lebih mudah menghafal bentuk kata daripada mengeja kata karena anak ini ingatannya bagus sekali). Walaupun kalau lagi nggak mood di pagi hari ya kumat juga malesnya belajar sekolah. Tapi, sejauh ini sih saya lihat Keenan cukup oke. Saya tanya ke guru kelasnya juga mereka nggak ada komplain tentang ketidakmampuan atau perilaku Keenan di sekolah. Alhamdulillah. Semoga ke depannya akan semakin membaik ya. Tolong doakan kami.

Anak Berkata Kasar, Apakah Dia Anak Nakal?

Pernah nggak sih mendengar anak berkata kasar? Trus biasanya reaksi sahabat PojokMungil gimana? Saat anak berkata kasar, biasanya reaksi pertama kita adalah kaget dan menganggap mereka anak nakal. Apalagi kalau sehari-hari kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nggak mengeluarkan kata-kata yang nggak sopan saat berbicara atau marah. Tapi langsung memarahi mereka ternyata juga bukan solusi yang tepat untuk menghentikan anak berkata kasar.

anak nakal, anak berkata kasar

Kebanyakan anak mengucapkan kata yang tidak sopan karena mendengar dari lingkungannya atau TV. Saya dulu juga pernah seperti itu tapi bukan berarti saya anak nakal lho. Setidaknya menurut ibu saya sih begitu.

Saya suka banget menonton serial seperti MacGyver, Airwolf dan Knight Rider saat masih kecil. Dari situ saya mendengar kata-kata umpatan dalam bahasa Inggris yang sering mereka ucapkan. Tentunya saya nggak tahu artinya apa. Cuma kok kayanya keren gitu lho. Akhirnya, saya jadikan kata-kata itu sebagai kosakata sehari-hari. Sampai suatu hari mama saya mendengar saya mengucapkan kata tersebut. Langsung deh kena marah. Apakah sejak itu saya kapok? Enggak. Saya memang nggak mengucapkan kata itu lagi, tapi setiap saya menemukan umpatan baru yang terdengar keren ya saya coba lagi.

Kejadian yang sama terulang bertahun-tahun kemudian antara saya dan Cinta. Tiba-tiba saja dia mengumpat dalam bahasa Inggris. Nggak cuma sekali dan meskipun sudah berkali-kali ditegur tetap diulangi lagi. Kejadian ini yang akhirnya membuat saya menulis status di Facebook saya 6 tahun lalu.

Anak Berkata Kasar Bukan Berarti Anak Nakal

Dari jawaban teman-teman yang saya terima terhadap status tersebut, saya sadar kalau bukan saya seorang yang mengalami hal ini. Mendapati anak berkata kasar ternyata juga dialami oleh orang tua yang lain. Jadi nggak perlu merasa terlalu bersalah kalau tiba-tiba mendengar anak berkata kasar. Hal ini bukan berarti mereka adalah anak nakal dan kita adalah orang tua yang buruk, apalagi kalau memang bukan kita yang mengajarkan anak berkata seperti itu.

Lingkungan pergaulan dan tontonan bisa menjadi sumber utama anak mendengar kata-kata tersebut. Dan karena anak adalah peniru ulung, bisa saja dia menyerap kata-kata tersebut dan mengucapkannya tanpa tahu arti sebenarnya. Jadi, saat kita mendengar anak berkata kasar, daripada langsung memarahinya, coba lakukan hal berikut ini:

1. Bersikap Tenang

Bersikap tenang saat mendengar anak berkata kasar memang sulit. Apalagi kalau waktu itu kita lagi di tempat umum. Bayangkan semua mata memandang seolah-olah anak kita itu anak nakal yang nggak pernah diajar sopan santun sampai bisa berkata seperti itu.

Tapi kalau kita bereaksi berlebihan seperti langsung menghardiknya, memarahinya atau mungkin mentertawakannya, justru akan membuat anak bingung. Bahkan untuk anak yang kurang perhatian, reaksi kita bisa membuat dia mengulangi perbuatannya karena bagi dia dimarahi adalah bentuk perhatian. Sedangkan dia membutuhkan perhatian itu, jadi ya otomatis anak akan mencoba lagi berkata kasar agar mendapat perhatian dari orang tuanya. Akhirnya malah nggak efektif untuk mencegah anak berkata kasar.

2. Jelaskan Artinya

Setelah kita tegur dengan nada netral, coba tanya ke anak, “Kakak tadi itu ngomong apa? Tahu nggak itu artinya apa?” Kebanyakan anak yang berkata kasar, nggak tahu apa arti kata tersebut. Maka tugas kita adalah menjelaskan artinya sesederhana mungkin. Lalu tekankan bahwa kata-kata tersebut tidak baik diucapkan karena dapat menyakiti hati orang yang mendengarnya.

3. Gali Perasaannya

anak nakal

Kalau kita bersikap tenang saat anak berkata kasar, kita bisa mengenali perasaan anak saat itu. Apakah dia mengucapkannya saat sedang kesal atau sedih atau sekadar iseng. Setelah kita tahu perasaannya, ajarkan anak untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara lain yang lebih baik.

4. Tanyakan Darimana Dia Mengetahui Kata Tersebut

Biasanya anak mengenal kata kasar dari lingkungan di sekitarnya atau tontonan di televisi atau YouTube. Saya suka tuh dengerin channel ramah anak seperti FGteev, sosok ayah suka ngomong kata-kata yang kasar. Makanya saya pribadi sekarang membatasi anak-anak nonton YouTube. Tapi, tentu kita nggak bisa terus melindungi anak dari hal-hal yang buruk ya. Jadi, ya sering-sering aja dikasih tahu kalau kata-kata tersebut tidak baik, tidak keren dan tidak boleh ditiru.

5. Buat Batasan

Batasan tiap keluarga akan kata-kata yang dianggap kasar tentu berbeda-beda. Jadi buatlah kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga kata-kata mana saja yang tidak boleh diucapkan. Ajak anak berdiskusi apa arti masing-masing kata tersebut dan mengapa dianggap tidak baik. Berikan pengertian bahwa kata-kata kasar tersebut dapat membuat orang lain yang mendengarnya marah atau sakit hati.

anak nakal

Untuk anak yang lebih besar, pra remaja misalnya, beberapa kata yang kita anggap kasar seringkali merupakan bahasa pergaulan mereka sehari-hari. Ini terjadi dengan teman-teman anak saya yang besar. Di grup chat mereka, kata-kata seperti f*ck, fool, stupid dan sebagainya mereka gunakan dengan santai. Tapi jangan salah ya, anak-anak ini bukan anak nakal. Mereka yang saya kenal sejak mereka masih TK adalah anak-anak pintar dan sopan di kesehariannya terutama di depan guru dan orang yang lebih tua.

Untuk kasus seperti ini, saya memilih untuk menekankan kepada si kakak bahwa kata-kata tersebut sebenarnya nggak cool sama sekali. Saya juga melarangnya menggunakan kata-kata tersebut saat berbicara dengan yang lebih tua, lebih muda atau di luar lingkup pergaulan mereka.

6. Jadi Contoh

Seperti yang sempat saya sebut di atas, anak adalah peniru ulung. Jadi sebagai orang tua dan role model bagi anak, kita juga harus menahan diri untuk tidak mudah mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan saat marah sekalipun.

7. Beri Konsekuensi

Buat perjanjian dengan anak untuk tidak lagi berkata kasar. Kalau dia melakukannya lagi ingatkan. Tapi setelah yang ketiga kalinya, kita harus tegas. Bisa dengan mengambil sesuatu yang dia sukai, misalnya dia mendengar kata-kata tersebut dari YouTube, maka kurangi jatah anak menonton YouTube pada hari itu. Sebaliknya, puji anak saat mengucapkan kata-kata yang baik.

Semoga dengan menerapkan hal-hal di atas bisa membuat anak-anak berhenti mengucapkan kata-kata kasar ya.

Saya sendiri sedang berusaha supaya si bungsu nggak lagi ngomong kata, “Butt” alias pantat. Emang nggak kasar sih, tapi bagi saya kurang sopan. Dan dia mengucapkannya memang untuk cari perhatian karena dia anggap itu lucu.

Sementara ini solusinya adalah saya selalu mengingatkan bahwa kata tersebut tidak baik jika diucapkan tidak pada tempatnya. Saya kasih tahu kalau boleh bilang pantat kalau konteksnya tepat, seperti ngasih tahu kalau pantatnya sakit karena jatuh, digigit binatang dan lain-lain, pantatnya disentuh oleh orang lain yang bukan mama atau papa, atau minta dibantu bersihkan pantat selepas BAB.

Doakan saya berhasil yaaa. Sahabat PojokMungil ada yang pernah punya masalah yang sama nggak?