Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Membaca adalah aktivitas yang saat ini tidak terlalu banyak digemari oleh anak-anak generasi alfa yang merupakan digital native, alias dari bayi sudah mengenal dan menggunakan gawai. Namun, banyak sekali keuntungan membaca yang tidak didapat dari menggunakan gawai sehingga para ahli pengasuhan anak dan guru terus berusaha mengkampanyekan kegiatan gemar membaca.

Alhamdulillah, sejak adanya ajang jualan buku impor murah Big Bad Wolf di Jakarta pada tahun 2016, banyak orang tua yang mulai suka membeli buku untuk anak-anaknya. Apapun motivasi awalnya, setidaknya membaca dan membeli buku bacaan untuk anak sekarang sudah menjadi gaya hidup para keluarga muda Indonesia. Good start to begin with, right?

Namun, sebaiknya sih tidak asal dalam membeli buku bacaan untuk anak. Apalagi sekarang banyak sekali pilihan buku bacaan untuk anak yang beredar di pasaran. Baik itu buku impor atau buku dari penerbit lokal. Nah, supaya tidak bingung dan akhirnya membeli buku yang tidak akan dibaca oleh anak-anak kita, coba ikuti beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam memilih buku yang tepat untuk anak. Apa saja?

Cara Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

Tips Memilih Buku Bacaan Untuk Anak

1. Sesuaikan dengan Usia Anak

Bayi dan Batita

Biasanya bayi dan batita menyukai buku-buku dengan gambar-gambar obyek sederhana berwarna cerah. Mereka juga suka mendengarkan kata-kata sederhana dan berima. Sedangkan buku-buku tanpa kata dapat memberikan stimulasi visual dan mental yang mendorong anak untuk menciptakan ceritanya sendiri. Anak usia ini juga lebih cocok dengan board book atau buku kain yang tidak mudah sobek karena mereka biasanya membuka lembaran-lembaran buku dengan penuh semangat atau bahkan memasukkannya ke dalam mulut.

Usia Prasekolah dan TK

Keenan dan buku

Anak usia ini sudah dapat menikmati kata-kata lebih rumit tapi tetap berima dengan pengulangan kata dan kisah sederhana, seperti buku-buku Peter and Jane yang cocok sekali untuk belajar membaca (dalam bahasa Inggris). Buku yang berisi kisah-kisah klasik dan cerita yang menggambarkan benda-benda dan pengalaman yang akrab memberikan pengalaman menyenangkan bagi anak-anak dalam kelompok usia ini. Pop-up books, buku yang bisa dimainkan, memiliki bagian yang bisa bergerak dan buku-buku interaktif lain juga menarik bagi anak-anak usia prasekolah dan TK.

Usia 5 – 8 Tahun

Beberapa anak di usia ini sudah dapat membaca sendiri dan untuk mereka, kita bisa memilihkan buku-buku dengan kisah sederhana dan kata-kata yang sudah familiar. Atau kalalu mau mudahnya, cari saja buku berlabel early readers untuk buku bahasa Inggris. Kalau bahasa Indonesia kira-kira padanannya apa ya? Mohon maaf, saya sendiri jarang membeli buku cerita dalam bahasa Indonesia untuk kategori usia ini.

usborne very first reading, book review, books for early reader

Sedangkan untuk anak yang belum dapat membaca sendiri atau lebih suka dibacakan oleh orang tua, kita bisa memilih buku bacaan dengan alur cerita kuat dan memiliki pengembangan karakter. Misalnya anak yang malas sikat gigi akhirnya giginya rusak sehingga dia jadi rajin sikat gigi.

Buku-buku ensiklopedia anak serta biografi juga sudah bisa kita perkenalkan pada anak di usia lower primary ini. Tentunya cari yang sesuai dengan minat mereka atau yang sedang mereka pelajari di sekolah agar anak tertarik membacanya dan dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka terhadap topik tersebut.

Usia 9 Tahun ke atas

buku edukasi, hadiah, kado untuk anak perempuan, hadiah ulang tahun, ulang tahun anak perempuan

Pertimbangkan kepribadian dan minat anak dalam memilih buku bacaan untuk anak usia upper primary ini. Biasanya mereka sudah punya preferensi tertentu dan nggak masalah kalau jenis buku yang dibaca itu-itu saja, selama isinya masih sesuai dengan umurnya. Anak sulung saya di usia ini hanya mau membaca buku karangan Elisabetta Dami dengan nama pena Thea Stilton dan buku-buku seperti WHY series dan sejenisnya. Selama dia membaca dan mendapat manfaat dari bacaan tersebut ya saya biarkan saja lah. 

Baca juga: Thea Stilton: The Secret of The Snow

2. Ketahui Minat Anak

Anak biasanya akan lebih semangat membaca buku jika topiknya adalah sesuatu yang ia sukai. Jadi, carilah buku tentang sesuatu yangn sedang ia minati saat itu. Apakah itu dinosaurus (rasanya sebagian besar anak pernah menjalani fase menyukai segala sesuatu tentang dinosaurus ya, termasuk dua anak saya), pesawat, princess, atau kisah-kisah religi yang sudah disesuaikan dengan bahasa anak-anak.

3. Perhatikan Buku Favoritnya

Anak pra remaja saya sedang suka membaca novel untuk anak SMP seperti novelnya Rick Riordan yang bertema fantasi serta kehidupan remaja dengan gaya bertutur dari sudut pandang orang pertama. Jadi buku-buku yang dia pilih biasanya memiliki kesamaan seperti itu. 

Rick Riordan, Magnus Chase, teen novel

Sedangkan si bungsu suka buku petualangan yang ceritanya sederhana dan berakhir bahagia dengan kalimat-kalimat sederhana yang bisa dia baca sendiri. Baik itu buku petualangan dari karakter populer seperti Paw Patrol atau seri Usborne Early Reader dan seri KeyWords with Peter and Janenya Ladybird. 

Dengan memperhatikan buku-buku favorit mereka, saya tidak terlalu kesulitan dalam memilih buku bacaan untuk mereka. Tinggal cari saja buku-buku yang senada atau berasal dari penulis yang sama. 

Baca juga: Belajar Membaca dalam Bahasa Inggris dengan Seri Usborne Very First Reading

4. Minta Rekomendasi dari Guru atau Petugas Perpustakaan

Waktu Cinta kelas 5 SD gitu, saya diberitahu gurunya untuk memperbanyak koleksi bacaan Cinta karena mereka akan banyak mengarang. Dan pembaca yang baik tentu dapat menghasilkan tulisan yang bagus kan ya. Lalu, seorang teman bercerita bahwa guru sekolah anaknya menyarankan agar anak-anak mulai membaca buku-buku cerita yang populer pada zaman kita kecil dulu, seperti karangannya Enid Blyton, Little Woman, Anne of the Green Gable, dll. Buku-buku klasik ini ditulis dalam bahasa Inggris baku pada zamannya dengan grammar yang bagus dan memiliki gaya tutur yang indah dan memikat serta age appropriate. Sedangkan buku-buku modern biasanya ditulis dengan gaya tulisan lebih santai dengan kisah-kisah percintaan yang mungkin kurang sesuai bagi anak-anak.

Nah, biasanya petugas perpustakaan dan guru tahu buku-buku mana saja yang selain menarik juga cocok dibaca oleh anak seperti saran cerita teman saya itu. Di beberapa sekolah, guru juga biasanya akan memberikan daftar buku bacaan yang bisa dibaca selama liburan sekolah. Kalau guru sekolah anak kita tidak melakukannya, ajak saja berdiskusi, pasti mereka senang kok memberikan rekomendasi buku bacaan untuk anak.

5. Kunjungi Blog atau Situs-Situs Terpercaya 

Sekarang banyak sekali kok blog atau sosial media yang memberikan resensi buku bacaan untuk anak. Salah satunya adalah Goodreads. Bookdepository juga sering memberikan daftar buku-buku bestseller mereka, begitu juga dengan Gramedia. Sedangkan untuk sosial media, saya suka sekali dengan akun IG bukubukuanakku, sayang sepertinya sekarang sedang vakum. Semoga dalam waktu dekat ini saya bisa mengumpulkan daftar blog dan sosial medianya lalu menuliskannya di sini. Kalau ada yang punya atau tahu blog dan sosial media yang berisi review buku bacaan untuk anak boleh ya tulis di kolom komentar. Nanti saya round up

6. Cari Buku dengan Masalah yang Dekat dengan Keseharian Anak

Anak akan masuk sekolah baru dan mungkin merasa cemas terhadap situasi yang akan ia hadapi? Kita bisa memilih buku yang memiliki tema beradaptasi di lingkungan baru. Atau masalah-masalah lain seperti anak takut gelap, tidak mau berbagi dengan teman, takut ke dokter, mengapa harus menggosok gigi, dan banyak lagi. Tentunya pilih yang ceritanya tidak bertele-tele ya, terutama untuk anak di bawah 9 tahun, agar pesannya dapat langsung ditangkap oleh anak.

Nah, itu saja sih tips yang bisa saya bagi dalam memilih buku bacaan untuk anak. Memang membeli buku itu tidak akan pernah sia-sia, misalnya pun buku yang kita beli untuk anak ternyata tidak disukainya, kita bisa menjualnya lagi atau menyumbangkannya ke perpustakaan sekolah. Atau bisa saja kita simpan di perpustakaan pribadi anak, siapa tahu suatu saat nanti dia akan mau membaca dan menyukainya. Tapi, bijaksana dalam membeli akan lebih baik ya, apalagi menjelang banyaknya bazaar buku murah yang akan hadir sebentar lagi. Selamat berbelanja buku bacaan untuk anak dengan bijak!

Mempersiapkan Anak Pindah Tempat Tinggal Baru

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Pindah tempat tinggal sebenarnya bukan hal yang baru bagi keluarga kami. Sejak menikah 13 tahun yang lalu, saya sudah pindah rumah sebanyak 6 kali. Pertama adalah dari Sidoarjo ke Jakarta. Lalu pindah lagi ke Sidoarjo. Setelah itu ke Parung. Dari Parung kembali lagi ke Sidoarjo beberapa bulan sebelum pindah ke Brunei. Di Brunei sendiri kami pindah rumah sebanyak 2 kali.

Tapi pindahan kali ini terasa lebih spesial, karena kali ini kami akan kembali ke Indonesia setelah 8 tahun tinggal di Brunei.

Krisis minyak dunia yang melanda industri migas sejak beberapa tahun ini memang menyebabkan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang ini terpaksa mengurangi pegawainya agar dapat bertahan. Setelah belasan teman harus kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain akibat krisis ini mulai 4 tahun lalu, tahun ini keluarga kami mendapat gilirannya.

Tentu ini bukan hal yang mudah ya. Brunei, khususnya Seria dan Kuala Belait sudah menjadi rumah kami selama 8 tahun ini. Meninggalkan teman-teman rasa saudara dan kenyamanan easy life di sini juga nggak akan mudah rasanya.

Meski keluarga ada di sana tapi kehangatan persaudaraan sesama orang Indonesia di Brunei yang saya rasakan jauh lebih hangat daripada hubungan antar tetangga di Parung dulu. Mungkin karena merasa senasib ya, jauh dari kampung halaman dan keluarga membuat kami menjadi dekat dan saling bergantung. Bagaimanapun juga, kalau ada apa-apa ya sahabat-sahabat saya inilah yang bisa diandalkan, bukan keluarga yang jauh di Indonesia.

Indonesia di Brunei
Ready for our next adventure. Latar belakang: Billionth Barrel Monument, Seria, Brunei Darussalam

Kalau untuk saya yang sudah dewasa saja pindah tempat tinggal itu berat, apalagi untuk anak-anak. Keenan lahir dan besar di Brunei, sedangkan Cinta menghabiskan lebih dari separuh usianya di negara ini. Pasti berat bagi mereka untuk meninggalkan rumah, sekolah, teman-teman dan segala rutinitas di Brunei untuk tinggal di Indonesia. Meski itu adalah kampung halaman kami, tapi adalah tempat baru bagi anak-anak.

Breaking the News

Karena itulah, kami berusaha berhati-hati sekali saat memberi tahu anak-anak bahwa kami harus pindah ke Indonesia untuk selamanya. Awalnya kami berencana untuk menunda pemberitahuan itu sambil menunggu suasana yang lebih baik karena Cinta si sulung akan menjalani PSR (Penilaian Sekolah Rendah). Kami tidak ingin konsentrasinya terganggu karena hal ini.

Tapi, emosi akhirnya membuat saya mengumumkan kepindahan kami dalam waktu dan cara yang tidak tepat. Akibatnya tentu fatal. Cinta terpukul sekali dan berita ini membuatnya menangis semalaman. Sedangkan Keenan berkali-kali bilang, “I don’t want to go back to Indonesia. I like Brunei. I don’t like Indonesia.” Hiks.

Malam itu kami lalui dengan suasana yang tidak menyenangkan. Kepala saya penuh dengan berbagai hal dan anak-anak tidur dengan hati yang sedih. Bahkan Cinta tidak mau keluar kamar, tidak mengizinkan kami masuk atau menghiburnya dan tertidur setelah lelah menangis.

Beberapa hari setelah insiden itu, baru kami mengajak anak-anak berbicara dari hati ke hati. Suami saya yang memimpin percakapan malam itu dengan memberikan alasan kenapa kami harus pindah, apa rencana kami ke depannya, dan bagaimana kami akan melalui masa ini bersama-sama. Anak-anak sudah tidak menangis lagi meski mereka masih nampak sedih, malah kami yang berusaha menahan air mata melihat kesedihan di wajah mereka.

moving away quote

Sungguh, bagian break the news ini merupakan salah satu hal terberat. Mungkin teman-teman pembaca Pojok Mungil yang sering mengalami mutasi pekerjaan dari satu kota ke kota tahu perasaan ini.

Setelah anak-anak diberi tahu, kami mulai mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk memperlancar kepindahan ini. Tapi ternyata memang tidak semudah itu bagi anak-anak untuk menerima kenyataan bahwa waktu kami untuk tinggal di Brunei tinggal sebentar lagi. Sesekali Cinta masih menangis sebelum tidur. Nggak jarang juga Keenan bilang nggak mau pindah ke Indonesia. Ya nggak apa-apa, ini adalah fase yang harus kami hadapi.

Kalau ada yang bilang anak itu mudah beradaptasi dan menyepelekan proses pindah tempat tinggal. Wah, mereka salah besar. Pindah dari tempat yang mereka kenal baik ke tempat baru yang benar-benar asing bagi anak itu cukup menakutkan. Tapi jangan khawatir, ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu anak beradaptasi dengan proses pindahan ini.

Mempersiapkan Anak Untuk Pindah Tempat Tinggal ke Kota atau Negara Baru

Sebagai perantau, saya mengamati kondisi anak-anak teman saya yang pindah ke Brunei atau pindah dari Brunei. Sebagian besar memiliki kesamaan, menolak untuk pindah dari tempat asal ke tempat yang baru. Memang sih, pindah tempat tinggal itu menakutkan. Mereka harus meninggalkan comfort zone mereka ke lingkungan yang benar-benar asing.

“Gimana kalau nanti teman-temanku melupakan aku?”

“Gimana kalau aku nggak bisa dapat teman baru yang sama baiknya dengan teman-teman di sini.”

“Gimana kalau rumah baru nanti nggak senyaman di sini?”

Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak kekhawatiran anak saat harus meninggalkan rumahnya menuju tempat baru.

Mempersiapkan Anak Pindah Ke Tempat Baru

Tapi, jangan cemas. Ada kok yang bisa kita lakukan untuk membantu mempersiapkan mental mereka pindah tempat tinggal.

1. Beri Tahu Jauh-Jauh Hari

Jangan beri tahu hanya dalam hitungan hari sebelum kita pindah. Begitu kita tahu bahwa kita harus meninggalkan tempat kita tinggal saat ini, sebaiknya langsung cari waktu dan suasana yang baik untuk memberi tahu anak-anak. Dengan demikian mereka punya waktu untuk memproses kabar tersebut.

Cinta sebenarnya sudah tahu bahwa kami tidak akan selamanya tinggal di Brunei. Dia melihat sendiri teman-temannya satu per satu pergi dari Brunei untuk kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Dia dan Keenan juga mengerti bahwa kami tinggal di Brunei hanya karena ayah mereka bekerja di sini, sehingga saat pekerjaan beliau selesai ya kami harus kembali ke Indonesia.

Tapi, ketika diberi tahu bahwa kami akan segera pergi dari Brunei, Cinta dan Keenan tetap kaget, marah dan menolak. It’s oke. Itu wajar. Dengan mereka tahu kabar ini 1,5 bulan sebelum kami benar-benar pindah, anak-anak jadi bisa mempersiapkan diri dan mental mereka lebih baik.

2. Validasi Perasaannya

Wajar sekali kalau anak merasa sedih, khawatir, marah dan kecewa saat harus pindah tempat tinggal baru. Jangan anggap remeh perasaan tersebut dengan berkata, “Nanti juga di sana dapat teman baru, nggak usah sedih.”

It’s a big NO. Sebaiknya kita katakan, “Mama ngerti kok, kamu pasti sedih nggak bisa ketemu lagi sama temen-temen kamu di sini. Kamu takut ya mereka akan ngelupain kamu?”

Untuk beberapa anak ini adalah hal yang besar dan bisa membuat mereka tidak nyaman dan stres. Dengan kita memahami perasaan mereka, anak bisa lebih nyaman.

3. Kenalkan Pada Lingkungan Baru

Salah seorang teman yang baru pindah dari Brunei ke Jakarta tahun lalu, membawa anak-anaknya untuk melihat rumah baru mereka beberapa bulan sebelum mereka pindah. Ia juga mengajak mereka survey  sekolah dan memperlihatkan hal-hal menarik yang ada di sekolah baru. Teman saya itu sering berpromosi tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di sana. Sehingga anak-anak merasa excited dan nggak sabar untuk pindah.

Saya berusaha mengikuti yang dilakukan teman saya itu, kecuali bagian sekolah. Memang belum terlalu nampak hasilnya tapi setidaknya anak-anak punya gambaran akan apa saja yang bisa mereka lakukan di tempat baru nanti.

Kalau tidak memungkinkan membawa anak ke calon rumah barunya nanti, kita bisa lho browsing di internet tentang lingkungan baru kita nanti. Apakah di sana ada klub futsal yang bisa diikuti anak, atau di manakah kedai es krim favorit yang bisa dicoba di sana, dan masih banyak lagi.

pindah tempat tinggal

4. Keeping in Touch with Old Friends

Meninggalkan sahabat-sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil pastinya berat bagi anak. Tapi di zaman sekarang, bisa diatasi dengan teknologi. Memang, anak nggak bisa lagi hang out atau playdate dengan teman-temannya. Namun mereka tetap bisa ngobrol lewat whatsapp dan mengikuti perkembangan satu sama lain melalui sosial media.

Jadi, ajak anak untuk mengumpulkan alamat, no telepon dan akun media sosial teman-temannya jika ada. Dan beri mereka kesempatan untuk saling berkomunikasi, agar anak tidak terlalu merasa kehilangan.

5. Bawa Benda Favoritnya

Ajak anak untuk memilah barang-barang mana yang mau mereka bawa ke rumah baru dan mana yang bisa disumbangkan atau dijual sebelum pindah. Bila mereka memaksa untuk membawa semua mainan atau bukunya, beri batasan berapa banyak yang dapat mereka bawa.

6. Beri Waktu Beristirahat Sebelum Memulai Sekolah Baru

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Nina, seperti yang dikutip dari lifestyle.bisnis.com, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk beristirahat sebentar setelah pindahan. Setelah anak merasa nyaman, baru deh kita bawa mereka mengenal lingkungan dan sekolah baru.

Supaya anak tidak merasa tertekan saat mulai sekolah baru, Anna memberikan trik untuk menghindari hari pertama sekolah di awal pekan.

“Jarak dari awal pekan ke akhir pekan itu agak jauh. Kalau misalnya hari pertama masuk pada Kamis atau Jumat, besoknya kan ada libur. Nah, saat libur itu, dia masih ada waktu buat ‘ambil nafas’ dulu agar nyaman,” terangnya.

7. Pertahankan Rutinitas dalam Keseharian Anak

Perubahan lingkungan bisa membuat anak stres dan tidak nyaman. Untuk mengatasinya sebisa mungkin kita tetap mempertahankan aktivitas yang biasa kita lakukan saat di rumah lama, seperti sarapan bersama atau membaca dongeng sebelum tidur.

8. Beri Perhatian Ekstra

Pindahan itu benar-benar melelahkan dan bikin stres. Seringkali membuat kita mengabaikan anak karena sibuk mengurus berbagai hal seperti dokumen sekolah, ekspedisi barang, packing, dll. Begitu sampai di tempat baru kita akan lebih sibuk lagi cari sekolah baru, membersihkan dan menata rumah baru, unpacking, dll. Padahal di saat seperti inilah anak memerlukan perhatian kita.

Sering-sering lah ajak anak ngobrol. Tanyakan kepada mereka apa kira-kira yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka nyaman di tempat baru. Dengarkan perkataan mereka dan beri nasihat hanya jika dibutuhkan.

Bila anak masih merasa tidak nyaman dan stres, boleh juga dicoba berkonsultasi dengan psikolog anak. Jangan malu untuk minta bantuan profesional saat dibutuhkan, ya. Namanya juga ikhtiar demi anak. Kalau anak bahagia berada di tempat baru, tentu kita juga lebih tenang beraktivitas.

Mohon doanya untuk kami ya. Semoga kami dan teman-teman yang sedang atau akan pindah ke tempat baru diberi kelancaran dan kemudahan. Mungkin ada saran supaya anak cepat beradaptasi di tempat baru? Boleh share di komen ya.

 

 

 

Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary

K's first day at primary

Hari ini genap 2 minggu Keenan menjalani hari-harinya sebagai murid Primary 1 atau kelas 1 SD kalau di Indonesia. Jujur aja sebenarnya saya agak berat mengantarkan dia ke Primary school tahun ini. Masalah utamanya adalah umur Keenan yang belum lagi 6 tahun. Iya, pada hari pertama masuk sekolah tanggal 2 Januari kemarin, Keenan baru berusia 5 tahun 10 bulan. Terlalu muda memang.

Usia dan Tingkat Kematangan Anak Sekolah

Usia memang punya faktor penting dalam kematangan anak sekolah. Menurut situs www.klinikmylovelychild.com, kematangan masuk sekolah adalah kondisi saat anak sudah siap seusai standar fisik, intelektual, mental, keterampilan, serta perkembangan sosial yang sesuai dengan sekolah formal. Memiliki kematangan sekolah ini penting lho, agar anak benar-benar siap masuk sekolah, terutama sekolah dasar yang tuntutannya sudah berbeda dari pra sekolah. Sehingga nggak terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, kesulitan belajar, gagal sekolah, atau mogok sekolah.

Memang sih, tiap anak berbeda. Ada anak yang belum 6 tahun tapi sudah lebih matang daripada anak-anak seusianya. Nggak usah jauh-jauh deh, 2 orang keponakan saya dan 1 anak teman saya yang lahir cuma beda 1-2 bulan lebih muda dari Keenan, sudah lebih matang secara mental, keterampilan dan perkembangan sosialnya. Mereka, di usia belum 6 tahun sudah bisa membaca kalimat sederhana, menulis dengan rapi, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa mengetik dan membuat karangan di komputer.

syarat masuk sekolah dasar

Tapi untuk kasus Keenan ya bagi saya memang dia belum punya kematangan sekolah.

Hal ini juga dipahami oleh guru-gurunya di Kindergarten, terutama class teachernya. Begitu tahu kalau Keenan adalah salah satu yang paling muda di kelas, dia langsung bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu penyebab Keenan kewalahan mengikuti aktivitas belajar mengajar khususnya menulis adalah karena dia belum matang. “He hasn’t reach that maturity level yet. That’s why he’s still struggle to read, to write and can’t focus long enough.”

Selain usia, bisa jadi speech delay dan short attention span atau keterlambatan bicara dan tingkat konsentrasi yang pendek menjadi penyumbang faktor lambatnya kematangan Keenan. Jadi, saya sadar diri untuk nggak membandingkan Keenan dengan anak lain seusianya. Tapi saya juga sadar faktor usia mempunyai pengaruh penting dalam kesiapan anak masuk sekolah.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

Primary 1 di Brunei

Karena itulah, menjelang kelulusan kindergarten saya galau luar biasa. Dilema antara membiarkan Keenan lanjut ke Primary atau memintanya untuk mengulang KG3.

Lho, emang di Brunei usia nggak jadi syarat masuk sekolah dasar atau Primary? Yayaya, saya tahu bakal ada yang tanya gitu hehehe. Ada kok. Untuk masuk Primary, minimal anak berusia 6 tahun di bulan Maret. Nah, pas banget, Keenan di bulan Maret tahun ini sudah 6 tahun. Jadi dia bisa masuk. Dan semua anak yang sudah berusia minimal 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung wajib diterima di Primary School atau Sekolah Rendah manapun. Tanpa perlu tes macem-macem. Nggak peduli anaknya bisa baca tulis atau enggak, bisa berhitung atau enggak, masih nangis kalau ditinggal sendiri. Pokoknya udah 6 tahun udah bisa sekolah.

hari pertama sekolah

Oya, di sini anak umur 7 tahun wajib masuk sekolah (mungkin ada perkecualian untuk anak berkebutuhan khusus ya). Kalau nggak sekolah, orang tua bisa kena hukuman denda atau penjara. Jeng jeng jeng. Jadi, homeschooling in Brunei is not an option.

Nah, karena itu, class teacher dan KG supervisor Keenan nggak membiarkan dia ‘menahan’ alias mengulang kelas, meskipun dia belum punya kematangan sekolah. “It’s oke, Mummy. Let him try year 1. If he can’t cope this year, he can stay at year 1 the next year,” gitu saran dari guru kelasnya. Ya sudah sik, akhirnya itu jadi salah satu pertimbangan saya mendaftarkan Keenan ke Primary 1. Walaupun rasa cemas itu tetap ada. Wajar kan ya. Iya, nggak?

Baca juga: Keenan: Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

Mengatasi Kecemasan Masuk Sekolah Dasar

Meski akhirnya saya memutuskan Keenan masuk Primary 1 (suami sebenarnya ingin Keenan ngulang KG 3 aja), hati saya tetap nggak tenang. Dan di hari pertama sekolah, saya yang stres. Anaknya sih agak takut tapi begitu lihat beberapa temannya dari KG ada di kelas yang sama, dia langsung tenang.

Saya sendiri khawatir dia nggak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik di sekolah. Karena di sekolah dasar kan anak-anak sudah belajar beneran.Di mana, mereka harus mencatat pelajaran dari gurunya juga ada PR dan ulangan. Saya takut Keenan nggak bisa memahami instruksi gurunya, nggak bisa mencatat, atau nggak berani ke toilet sendiri. Pokoknya mah mamak ini cemas aja bawaannya.

Sampai pagi itu saya ketemu dengan kepala Primary yang sudah lama saya kenal sejak kakak sekolah di situ. Curhatlah saya ke beliau tentang Keenan yang belum bisa baca tulis dengan baik dan semua kekhawatiran saya.

Eh, responnya baik sekali. Beliau menyarankan saya untuk ngobrol ke guru kelasnya Keenan, “Tell the teachers about that, so they can talk slower to him. But I told the teachers who teach at this class actually. Because this class is special. Some of them are still young and can’t write or read properly. That’s why we put them together at one class instead of mixing them with the good (at writing, reading and more mature) ones,” ujarnya memenangkan saya. Beliau juga bilang kalau sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dalam membantu anak-anak yang belum bisa baca tulis agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Duh, rasanya pundak saya langsung terasa lebih ringan karena tahu saya nggak akan berjuang sendirian. Nggak masalah bagi saya kalau Keenan ditempatkan di kelas spesial. Justru dengan begitu dia nggak akan dipaksa lari untuk mengikuti ritme teman-temannya karena mereka berada di pace yang sama. Guru-guru juga akan lebih sabar dalam mengajari anak-anak ini.

Mengatasi Kecemasan Orangtua

Berkenalan dengan guru atau kepala sekolah dan berbicara kepada mereka tentang kekhawatiran kita cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas saat anak akan masuk sekolah dasar.

Selain itu beberapa cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan orangtua saat anaknya masuk sekolah dasar:

1. Berkenalan dengan orangtua lain.

Punya teman sesama orangtua yang anaknya juga baru masuk sekolah bikin kita lebih tenang karena ada teman senasib. Kita bisa saling curhat dan saling menjaga anak-anak di minggu pertama mereka bersekolah.

Karena Keenan bersekolah di tempat yang sama dengan TKnya dulu, otomatis sebagian besar temannya dari TK yang sama. Sehingga saya sudah kenal dengan sebagian besar ortu teman-teman Keenan di Primary School. Jadi di hari pertama anak-anak sekolah, kami ngobrol dan curhat di depan kelas anak-anak. Dan ternyata memang nggak cuma saya yang punya kekhawatiran tersebut. Akhirnya malah kami saling support. Kecemasan saya sedikit berkurang.

Berkenalan dengan orangtua murid yang lebih senior juga nggak ada salahnya, lho. Mereka biasanya sudah lebih paham sistem di sekolah tersebut. Jadi kalau kita bingung nggak tahu harus bagaimana saat anak mengalami kesulitan, mereka biasanya bisa memberi saran. Itu yang saya alami saat Cinta awal-awal masuk Primary School dulu.

2. Bergabung dengan kegiatan di sekolah.

Banyak orang tua yang malas terlibat di kegiatan sekolah termasuk saya. Padahal dengan cara ini kita bisa lebih mengenal guru-guru dan teman-teman anak di sekolah tersebut. Kita juga bisa mengamati cara guru berinteraksi dengan orangtua dan siswa di luar kelas. Sehingga kita tahu apakah anak nyaman atau tidak di sekolah tersebut.

Oya dengan kita terlibat dengan kegiatan sekolah atau ikut persatuan orangtua murid dan guru, anak juga akan merasa didukung oleh orangtua, lho. Tapi juga jangan berlebihan sampai kita menginterupsi cara belajar dan mengajar guru di kelas ya. Nanti jadi helicopter parent dong kita. No no no. Cukup mengamati dari jauh. Beri bantuan dan dukungan kepada para guru agar mereka tahu bahwa kita bisa diandalkan untuk bekerja sama meningkatkan kemajuan pendidikan anak-anak.

3. Tanya anak tentang aktivitas dan perasaannya di hari pertama sekolah.

Dengan menanyakan pengalaman hari pertama anak di sekolah dasar, kita bisa tahu kesan pertama anak terhadap perannya sebagai anak SD. Karena tentu berbeda sekali dengan anak TK. Dengan begitu kita mengerti apa yang disukai dan tidak disukai anak. Atau apa yang membuatnya senang atau sedih. Sehingga kita bisa membuat anak nyaman dan rasa cemas kita berkurang. Tapi ya nggak usah diinterogerasi juga anaknya. Nggak semua anak suka bercerita. Ada yang kalau ditanya, “Gimana tadi sekolahnya?” cuma jawab, “Oke.” ya nggak papa juga. Coba ganti pertanyaannya dengan yang lebih spesifik lagi.

Baca juga: 20 Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

2 Minggu di Primary 1

Jadi, setelah 2 minggu di Primary 1 saya lihat Keenan mulai bisa beradaptasi. Kalau ditanya soal pelajaran dia bisa jawab, bahkan mulai bisa menghafal beberapa kata (iya, bagi dia lebih mudah menghafal bentuk kata daripada mengeja kata karena anak ini ingatannya bagus sekali). Walaupun kalau lagi nggak mood di pagi hari ya kumat juga malesnya belajar sekolah. Tapi, sejauh ini sih saya lihat Keenan cukup oke. Saya tanya ke guru kelasnya juga mereka nggak ada komplain tentang ketidakmampuan atau perilaku Keenan di sekolah. Alhamdulillah. Semoga ke depannya akan semakin membaik ya. Tolong doakan kami.

Anak Berkata Kasar, Apakah Dia Anak Nakal?

Pernah nggak sih mendengar anak berkata kasar? Trus biasanya reaksi sahabat PojokMungil gimana? Saat anak berkata kasar, biasanya reaksi pertama kita adalah kaget dan menganggap mereka anak nakal. Apalagi kalau sehari-hari kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nggak mengeluarkan kata-kata yang nggak sopan saat berbicara atau marah. Tapi langsung memarahi mereka ternyata juga bukan solusi yang tepat untuk menghentikan anak berkata kasar.

anak nakal, anak berkata kasar

Kebanyakan anak mengucapkan kata yang tidak sopan karena mendengar dari lingkungannya atau TV. Saya dulu juga pernah seperti itu tapi bukan berarti saya anak nakal lho. Setidaknya menurut ibu saya sih begitu.

Saya suka banget menonton serial seperti MacGyver, Airwolf dan Knight Rider saat masih kecil. Dari situ saya mendengar kata-kata umpatan dalam bahasa Inggris yang sering mereka ucapkan. Tentunya saya nggak tahu artinya apa. Cuma kok kayanya keren gitu lho. Akhirnya, saya jadikan kata-kata itu sebagai kosakata sehari-hari. Sampai suatu hari mama saya mendengar saya mengucapkan kata tersebut. Langsung deh kena marah. Apakah sejak itu saya kapok? Enggak. Saya memang nggak mengucapkan kata itu lagi, tapi setiap saya menemukan umpatan baru yang terdengar keren ya saya coba lagi.

Kejadian yang sama terulang bertahun-tahun kemudian antara saya dan Cinta. Tiba-tiba saja dia mengumpat dalam bahasa Inggris. Nggak cuma sekali dan meskipun sudah berkali-kali ditegur tetap diulangi lagi. Kejadian ini yang akhirnya membuat saya menulis status di Facebook saya 6 tahun lalu.

Anak Berkata Kasar Bukan Berarti Anak Nakal

Dari jawaban teman-teman yang saya terima terhadap status tersebut, saya sadar kalau bukan saya seorang yang mengalami hal ini. Mendapati anak berkata kasar ternyata juga dialami oleh orang tua yang lain. Jadi nggak perlu merasa terlalu bersalah kalau tiba-tiba mendengar anak berkata kasar. Hal ini bukan berarti mereka adalah anak nakal dan kita adalah orang tua yang buruk, apalagi kalau memang bukan kita yang mengajarkan anak berkata seperti itu.

Lingkungan pergaulan dan tontonan bisa menjadi sumber utama anak mendengar kata-kata tersebut. Dan karena anak adalah peniru ulung, bisa saja dia menyerap kata-kata tersebut dan mengucapkannya tanpa tahu arti sebenarnya. Jadi, saat kita mendengar anak berkata kasar, daripada langsung memarahinya, coba lakukan hal berikut ini:

1. Bersikap Tenang

Bersikap tenang saat mendengar anak berkata kasar memang sulit. Apalagi kalau waktu itu kita lagi di tempat umum. Bayangkan semua mata memandang seolah-olah anak kita itu anak nakal yang nggak pernah diajar sopan santun sampai bisa berkata seperti itu.

Tapi kalau kita bereaksi berlebihan seperti langsung menghardiknya, memarahinya atau mungkin mentertawakannya, justru akan membuat anak bingung. Bahkan untuk anak yang kurang perhatian, reaksi kita bisa membuat dia mengulangi perbuatannya karena bagi dia dimarahi adalah bentuk perhatian. Sedangkan dia membutuhkan perhatian itu, jadi ya otomatis anak akan mencoba lagi berkata kasar agar mendapat perhatian dari orang tuanya. Akhirnya malah nggak efektif untuk mencegah anak berkata kasar.

2. Jelaskan Artinya

Setelah kita tegur dengan nada netral, coba tanya ke anak, “Kakak tadi itu ngomong apa? Tahu nggak itu artinya apa?” Kebanyakan anak yang berkata kasar, nggak tahu apa arti kata tersebut. Maka tugas kita adalah menjelaskan artinya sesederhana mungkin. Lalu tekankan bahwa kata-kata tersebut tidak baik diucapkan karena dapat menyakiti hati orang yang mendengarnya.

3. Gali Perasaannya

anak nakal

Kalau kita bersikap tenang saat anak berkata kasar, kita bisa mengenali perasaan anak saat itu. Apakah dia mengucapkannya saat sedang kesal atau sedih atau sekadar iseng. Setelah kita tahu perasaannya, ajarkan anak untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara lain yang lebih baik.

4. Tanyakan Darimana Dia Mengetahui Kata Tersebut

Biasanya anak mengenal kata kasar dari lingkungan di sekitarnya atau tontonan di televisi atau YouTube. Saya suka tuh dengerin channel ramah anak seperti FGteev, sosok ayah suka ngomong kata-kata yang kasar. Makanya saya pribadi sekarang membatasi anak-anak nonton YouTube. Tapi, tentu kita nggak bisa terus melindungi anak dari hal-hal yang buruk ya. Jadi, ya sering-sering aja dikasih tahu kalau kata-kata tersebut tidak baik, tidak keren dan tidak boleh ditiru.

5. Buat Batasan

Batasan tiap keluarga akan kata-kata yang dianggap kasar tentu berbeda-beda. Jadi buatlah kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga kata-kata mana saja yang tidak boleh diucapkan. Ajak anak berdiskusi apa arti masing-masing kata tersebut dan mengapa dianggap tidak baik. Berikan pengertian bahwa kata-kata kasar tersebut dapat membuat orang lain yang mendengarnya marah atau sakit hati.

anak nakal

Untuk anak yang lebih besar, pra remaja misalnya, beberapa kata yang kita anggap kasar seringkali merupakan bahasa pergaulan mereka sehari-hari. Ini terjadi dengan teman-teman anak saya yang besar. Di grup chat mereka, kata-kata seperti f*ck, fool, stupid dan sebagainya mereka gunakan dengan santai. Tapi jangan salah ya, anak-anak ini bukan anak nakal. Mereka yang saya kenal sejak mereka masih TK adalah anak-anak pintar dan sopan di kesehariannya terutama di depan guru dan orang yang lebih tua.

Untuk kasus seperti ini, saya memilih untuk menekankan kepada si kakak bahwa kata-kata tersebut sebenarnya nggak cool sama sekali. Saya juga melarangnya menggunakan kata-kata tersebut saat berbicara dengan yang lebih tua, lebih muda atau di luar lingkup pergaulan mereka.

6. Jadi Contoh

Seperti yang sempat saya sebut di atas, anak adalah peniru ulung. Jadi sebagai orang tua dan role model bagi anak, kita juga harus menahan diri untuk tidak mudah mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan saat marah sekalipun.

7. Beri Konsekuensi

Buat perjanjian dengan anak untuk tidak lagi berkata kasar. Kalau dia melakukannya lagi ingatkan. Tapi setelah yang ketiga kalinya, kita harus tegas. Bisa dengan mengambil sesuatu yang dia sukai, misalnya dia mendengar kata-kata tersebut dari YouTube, maka kurangi jatah anak menonton YouTube pada hari itu. Sebaliknya, puji anak saat mengucapkan kata-kata yang baik.

Semoga dengan menerapkan hal-hal di atas bisa membuat anak-anak berhenti mengucapkan kata-kata kasar ya.

Saya sendiri sedang berusaha supaya si bungsu nggak lagi ngomong kata, “Butt” alias pantat. Emang nggak kasar sih, tapi bagi saya kurang sopan. Dan dia mengucapkannya memang untuk cari perhatian karena dia anggap itu lucu.

Sementara ini solusinya adalah saya selalu mengingatkan bahwa kata tersebut tidak baik jika diucapkan tidak pada tempatnya. Saya kasih tahu kalau boleh bilang pantat kalau konteksnya tepat, seperti ngasih tahu kalau pantatnya sakit karena jatuh, digigit binatang dan lain-lain, pantatnya disentuh oleh orang lain yang bukan mama atau papa, atau minta dibantu bersihkan pantat selepas BAB.

Doakan saya berhasil yaaa. Sahabat PojokMungil ada yang pernah punya masalah yang sama nggak?

 

 

Anak Bungsu Lebih Disayang Oleh Orang Tua, Benarkah?

anak bungsu lebih disayang orang tua

Banyak orang bilang kalau anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, lebih dimanja, lebih diperhatikan, dan akan selalu dianggap sebagai bayinya orang tua. Benar nggak sih?

Kira-kira 7 tahun yang lalu, saat Cinta masih umur 4 tahun dan masih menjadi satu-satunya anak saya (dan suami), budhe saya pernah berkomentar bahwa saya tuh kelihatan menikmati banget saat bersama Cinta. Beliau lantas membandingkan dengan kenalannya yang kelihatan lebih dekat dengan anak keduanya daripada anak pertamanya. Komentar tersebut langsung dijawab oleh mama saya, “Ya jelas, wong anaknya baru satu.”

Meskipun saat itu saya hanya menanggapi obrolan mereka dengan senyuman, dalam hati saya berkata bahwa berapapun anak saya nanti, kedekatan saya dengan Cinta nggak akan berubah. Gitu. Pede banget lah saya waktu itu merasa akan bisa bersikap sama dan membagi kasih sayang secara adil dan merata kepada semua anak saya. Padahal anaknya baru satu, isi galeri foto di hapenya 90% si anak satu-satunya itu, dan sebagian besar waktu dan uangnya dihabiskan untuk si kesayangan nomer satu.

Sampai negara api menyerang si adik hadir dalam perut saya dan si sulung beranjak semakin besar. Dan saya akhir-akhir ini merasa kok komentar budhe saya 7 tahun lalu itu ada benarnya ya. Saya sepertinya lebih dekat dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama si bungsu daripada si kakak. Saya kelihatan lebih sayang kepada si adik daripada si kakak. Tapi apa iya?

anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

Perbedaan Perlakuan Orang Tua Kepada Anak Bungsu.

Sebagai orang tua sih nggak pengen ya punya perasaan lebih sayang kepada salah satu anak. Karena saya tahu nggak enaknya merasa kurang disayang dibandingkan saudara-saudara saya. Bagi saya waktu itu adik saya sebagai anak bungsu lebih disayang oleh orang tua saya.

Sejak dulu saya tahu kalau adik bungsu saya adalah ‘gantilane ati’nya ayah tiri saya. Dan saya bisa memaklumi karena saat mama saya menikah dengan ayah tiri saya, adik bungsu saya ini masih kecil banget. Jadi mungkin bagi ayah tiri saya, si bungsu ini sudah seperti anaknya sendiri karena beliau yang mengurusi kami sejak kecil. Sedangkan si tengah yang satu-satunya lelaki di antara kami bertiga adalah kesayangan mama saya. There. And I’m nobody’s child. *self pukpuk* *ini nulisnya kok pake sedih ya hahaha*

Nah, setelah punya anak, saya berusaha untuk nggak pilih kasih. I do love both of my kids equally. Nggak ada deh ceritanya anak bungsu lebih disayang oleh orang tua, khususnya saya sebagai ibu. Tapi ternyata kok nggak segampang itu bersikap secara adil kepada lebih dari satu anak.

Coba, kepada darah daging sendiri aja rasanya susah bersikap adil. Gimana dengan para pelaku poligami. Apa iya bisa adil dengan lebih dari satu istri? Apa iya hatinya nggak akan pernah condong ke salah satu istri? Karena itulah poligami yang syarat utamanya harus bisa adil itu sebenarnya berat dijalani. Eh, kok jadi salah fokus?

Oke, kembali ke anak. Setelah punya anak dua, saya memang merasakan beberapa hal yang berbeda dalam perlakuan terhadap si bungsu ke kakaknya saat ini. Dan menurut penelitian yang dirilis oleh Telegraph.co.uk, orang tua memang cenderung memihak kepada si bungsu saat bertengkar dengan saudaranya, memberikan perhatian lebih kepada mereka, lebih santai dan lebih banyak meluangkan waktu untuk beraktivitas bersama dengan si bungsu. Intinya meskipun berat diakui, memang ada kecenderungan anak bungsu lebih dekat dengan orang tua.

Tapi, tidak otomatis berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua.

Bagi saya pribadi, ada beberapa perbedaan yang saya lakukan kepada kakak dan adik saat ini. Dan mungkin juga hal ini dilakukan oleh orang tua yang lain. Namun alasannya bukan sekadar karena saya lebih sayang pada si bungsu. Ada faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya. Seperti:

  1. Lebih royal kepada si bungsu.

    Sebenarnya ini sebagai bentuk kompensasi karena Keenan sejak baru berusia 2 minggu selalu saya bawa kemana-mana. Maklum, saat Keenan lahir kami sudah di rantau dan nggak ada yang membantu menjaga dia di rumah. Sementara sebagian besar aktivitas saya di luar rumah adalah untuk mengantar jemput kakak dengan berbagai kegiatan sekolah dan ekstra kurikuler.

    Semakin banyak aktivitas kakak, semakin sering Keenan harus mengorbankan waktu santainya di rumah untuk mengikuti saya kemana-mana. Setelah dia bisa protes seperti sekarang, nggak jarang dia menangis karena capek sepulang sekolah dan ingin tinggal di rumah untuk bermain, sementara kami harus pergi lagi mengantar kakak Sekolah Ugama atau aktivitas lain. Akhirnya ya untuk menghibur hatinya saya belikan dia es krim lah, kue lah, buku lah atau apa saja. Iya, saya tahu ini nggak baik, but I just can’t help.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Faktor lain adalah karena saya merasa kakak Cinta waktu balitanya lebih beruntung daripada Keenan. Waktu kakak lahir aja yang nungguin di rumah sakit ada 5 orang. Dia juga lahir dan tumbuh di tengah-tengah kehangatan kasih sayang keluarga besar. Kakak dilimpahi banyak sekali kasih sayang dan hadiah dari orang banyak.

    Sedangkan Keenan hanya punya kami bertiga. Itupun dia harus berbagi waktu dan kasih sayang saya dengan kakaknya, papanya dan pekerjaan rumah. So yeah¸I feel like I have to overcompensate. Namun, bukan berarti karena Keenan anak bungsu lebih disayang oleh orang tua sih.

  2. Lebih sering memeluk, mencium dan memangku adik.

    Ya, itu karena Keenan masih dalam masa suka dipeluk dan memeluk. Dia juga masih cukup besar untuk duduk di pangkuan saya. Sementara si kakak sudah jarang mau dipeluk apalagi dicium. Padahal dulu waktu kakak masih seumur Keenan ya sama aja, we hugged and cuddled all the time.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula karena kami nggak berencana untuk punya anak lagi, Keenan akhirnya menjadi bayi terakhir saya. Dan bayi itu paling menyenangkan untuk dipeluk dan dicium kan ya? Sementara kakak sudah nggak terlalu suka dipeluk atau dicium, walau ada saat dia lagi manja, lagi pengen dimanja. Ingin berduaan dengan dirimu, Sayang (yousingyoulose).

    Namun, bukan karena dia anak bungsu lebih disayang oleh orang tua yang membuat saya lebih sering memeluk dan mencium Keenan. Just simply because, mumpung Keenan masih mau digemes-gemesin, dipangku, disayang-sayang dan dipeluk-peluk ya saya nikmati semaksimal mungkin momen ini.

  3. Lebih menikmati waktu berdua si bungsu.

    Saya dan Keenan lumayan sering berduaan aja. Mulai dari nongkrong makan es krim, ke playground, ke supermarket atau sekadar leyeh leyeh ngobrol dan baca buku di rumah. Tapi bukan berarti lantas saya mengucilkan kakak lho.

    Sebagian besar aktivitas berduaan itu kami lakukan saat si kakak beraktivitas di sekolah. Biasanya kalau lagi malas bolak-balik pulang pergi sekolah – rumah atau tempat les – rumah, saya ajak aja Keenan keliling di dekat sekolah kakak.

    Walaupun nggak jarang saya stress saat bawa Keenan keluar rumah karena selalu ada aja yang bikin dia tantrum, saya berusaha menikmatinya. Karena waktu ini akan segera berlalu. Sebentar lagi anak-anak mungkin nggak akan lagi mau nongkrong bareng mamanya sekadar makan froyo atau jajan burger. Mungkin mereka akan lebih memilih tinggal di rumah nonton tv atau bermain dengan temannya (yang sudah mulai terjadi dengan kakak) daripada nemenin mama jalan sore di taman.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Sebelum tidur saya juga selalu membacakan buku untuk Keenan dan meluangkan waktu lebih banyak dengannya. Alasannya ya karena Keenan belum bisa baca, sementara kami sedang berusaha menstimulasinya untuk belajar baca karena tahun depan dia sudah masuk SD.

    Sedangkan kakak sudah tidur di kamarnya sendiri dan bacaannya bukan lagi buku anak dengan dua tiga kalimat sederhana. Agak jontor juga kan bibir mama kalau harus bacain Harry Potter misalnya. Tapi ya saya masih suka kok nemenin kakak baca buku di kamarnya. Kadang juga kalau ada buku yang menarik dibaca berdua ya saya masih membacakannya untuk dia. Kakak juga masih suka ngikut dengerin saya baca cerita untuk Keenan.

    Jadi kalau saya nampak lebih sering berdua dengan Keenan bukan lantas karena anak bungsu lebih disayang oleh orang tua ya. Keadaan aja yang membuatnya begitu.

  4. Lebih santai saat mengasuh si bungsu.

    Saat baru punya anak satu, saya dulu nggak punya ilmu parenting atau kesehatan anak yang cukup. Semua serba cemas. Semua bikin bingung. Cinta kolik saya panik, Cinta nggak mau makan saya kelabakan, Cinta tantrum saya ikut ngamuk. Apalagi dengan baby blues yang berkepanjangan, bagi saya mengasuh si sulung itu penuh dengan tantangan, stres dan cobaan.

    But alhamdulillah, thanks to my first born and my first parenting teacher, ketika punya Keenan saya sudah lebih tenang. Saya tahu bahwa semua fase yang tadinya bikin saya bingung itu pasti akan berlalu dengan penanganan yang tepat.

    Saya juga sudah nggak lagi merasa perlu bersaing dengan ibu-ibu lain dalam ASI, homemade food atau milestone anak. Dengan si bungsu, saya tahu bahwa anak punya pacenya sendiri dalam mencapai keahlian tertentu.

    Jadi, ketika anak tetangga sebelah sudah bisa lari di usia 9 bulan, saya santai aja menikmati langkah pertama si bungsu. Saat sepupunya sudah bisa bernyanyi lagu nasional, saya cukup bahagia mendengar adik bernyanyi lagu anak sederhana. Selama semua perkembangannya masih dinyatakan normal oleh dokter dan bidan yang rutin memeriksanya setiap 6 bulan, I’m good. I’m content. Itulah kenapa saya bisa lebih santai saat membesarkan si bungsu.

    Dengan adik, saya juga nggak lagi terlalu memberikan banyak aturan. Beda dengan si kakak. Karena saya menganggap kakak sudah lebih besar, saya punya target apa-apa saja yang seharusnya sudah bisa dia pahami dan lakukan pada usianya.

    Hal ini membuat saya keliatan lebih tegas dan disiplin kepada kakak daripada adik. Padahal ya karena si adik lebih kecil, masih belum perlu tegas dalam menerapkan peraturan. Dulu waktu kakak masih seumuran adik juga saya melakukan hal yang sama kok.

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

    Lagipula, meski saya lebih santai kepada adik, kakak seolah menjadi pengganti saya untuk lebih tegas dan galak kepada adiknya. Mungkin pikirnya, “Eh, gue disuruh begini begitu kok enak banget adik gue dibiarin aja sama nyokap.” Pada gitu juga nggak sih?

  5. Galeri kamera kebanyakan berisi foto si bungsu.

    Well ya, dengan kakak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, tentu cuma si adik yang bisa dijadikan obyek foto kan. Apalagi semakin besar si kakak, semakin malas dia berada di depan kamera. Lagipula, pernah ada masanya juga timeline media sosial saya dipenuhi foto-foto si kakak. Bahkan album foto di akun FB saya 90% adalah foto-foto kakak sementara si adik hanya punya beberapa foto di sana.

  6. Lebih perhatian kepada si bungsu

    Posisi sebagai seorang adik biasanya kurang menguntungkan kalau punya kakak yang lebih segalanya. Biasanya bagi sebagian besar keluarga, kakak adalah kebanggaan. Sehingga adik biasanya terinspirasi untuk bisa seperti kakak dan selalu mengikuti si kakak kemana-mana bahkan mencoba untuk berteman dengan teman-teman kakaknya juga.

     

    anak bungsu lebih disayang oleh orang tua

     

    Sayangnya, sekuat apapun dia mencoba, kadang nggak selalu berhasil menyamai keberhasilan kakak. Karena itulah, saya selalu berusaha lebih keras untuk mendukungnya, memberikan semangat dan membantunya meningkatkan kepercayaan diri. Hal ini kadang disalahartikan sebagai pilih kasihnya orang tua. Padahal, mungkin hanya karena orang tua terlalu fokus pada yang anak yang lebih kecil dan merasa si kakak sudah lebih bisa dan lebih mandiri sehingga nggak terlalu perlu perhatian lebih.

Begitulah. Meski faktanya anak bungsu cenderung lebih dekat dengan orang tua, bukan berarti anak bungsu lebih disayang oleh orang tua. Menurut penelitian yang ditulis oleh Telegraph.co.uk, dari 1803 responden, hanya 23% yang mau mengakui bahwa mereka memiliki anak kesayangan dalam keluarga, dan 54% dari 23% tersebut mengakui bahwa anak bungsu adalah favorit mereka.

Orang tua justru merasa memiliki lebih dekat dan memiliki banyak kesamaan serta lebih mudah berkomunikasi dengan anak sulung atau anak yang lebih besar. 60% responden juga mengatakan bahwa mereka suka membicarakan tentang anak sulung mereka dan prestasi-prestasi yang diraihnya.

Namun, apapun posisi anak dalam keluarga, yang paling penting adalah mereka dicintai sepenuh hati, diperhatikan, dipenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya serta diperlakukan sebagai individu yang mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dari saudara-saudaranya. Lagipula, sebagian besar responden mengakui bahwa ada kemungkinan mereka menyukai salah satu anak lebih daripada saudaranya, namun itu karena orang tua merasa bahwa they can get along better with them, bukan karena rasa cinta yang berbeda atau lebih besar.

Kalau menurut pendapat dan pengalaman teman-teman gimana? Benar nggak anak bungsu lebih disayang oleh orang tua?

Perhatikan Kebijakan YouTube Sebelum Mengunggah Video Anak

video dihapus youtube

Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang kriteria foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Dan saya pikir selama ini saya sudah cukup berhati-hati dalam mengunggah foto atau video anak-anak saya baik di media sosial maupun di YouTube. Jadi, jujur saja saya kaget dan agak nggak terima saat mendapat email dari YouTube yang menerangkan bahwa mereka menghapus salah satu video saya karena melanggar kebijakan YouTube.

Video saya yang mereka hapus sebenarnya sudah lama sekali saya unggah, tepatnya pada 9 Januari 2011. Video yang direkam oleh adik-adik saya itu mengabadikan momen menit-menit pertama setelah setelah anak sulung saya, Cinta, dilahirkan. Jadi, saat saya masih di ruang bersalin untuk dikeluarkan ari-ari dan proses pemulihan, si bayi nggak langsung dikasih ke saya untuk disusui. Tapi dibawa oleh suster rumah sakit ke ruang periksa untuk dibersihkan, dicek suhu tubuh dan berat badan yang semua dilakukan saat si bayi dalam keadaan telanjang (ya kan baru lahir yak, masa langsung pake baju) baru kemudian dibedong.

Nah, di ruang itulah keluarga besar saya yang menunggui proses kelahiran cucu dan keponakan mereka itu berkumpul. Dan sebagai sejarah keluarga, momen itu divideokan untuk kenang-kenangan. Karena hanya direkam dengan kamera ponsel dan takut rekamannya hilang, akhirnya saya unggah ke YouTube 3,5 tahun setelah kelahirannya. Saya pikir itu hal yang normal. Come on, apa salahnya menyimpan video bayi baru lahir di YouTube untuk kenang-kenangan kita kan. Toh nothing sexual inappropriate about that. It’s a newborn baby video for God’s sake.

Tapi saya salah. Kesalahan yang pertama adalah video itu nggak saya set private. Kedua, saya nggak mikir kalau nggak semua orang yang berselancar di YouTube itu punya pandangan seperti saya. Dan ternyata video bayi telanjang yang tidak berdosa itu bagi beberapa orang dianggap melanggar kebijakan YouTube, so they flagged it.

Video saya dilaporkan oleh salah satu atau lebih orang asing yang kebetulan menontonnya. Dan, sialnya lagi, pihak YouTube menerima laporan tersebut dan memiliki pendapat yang sama dengan pelapor. Akhirnya dihapuslah video saya itu. Ya, saya sih masih bisa menonton video tersebut tapi sudah nggak bisa diapa-apain bahkan mau mengubah settingannya menjadi Private saja sudah nggak bisa. Sebenarnya saya bisa kok mengajukan banding atas kejadian ini. Tapi sampai saat ini masih malas ngarang kata-kata untuk bikin surat bandingnya. Lagian takut sakit hati juga kan kalau ditolak.

Nah, supaya teman-teman pembaca PojokMungil nggak mengalami hal yang sama seperti saya,

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan mengunggah video terutama video anak-anak ke YouTube:

 

  • Pastikan keselamatan fisik anak di bawah umur tetap aman.
    Jangan pernah menempatkan mereka dalam situasi berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, termasuk adegan aksi, tantangan, dan lelucon berbahaya.
  • Jangan menyebabkan gangguan emosional.
    Hindari situasi yang dapat menyebabkan tekanan emosional, seperti memperlihatkan tema dewasa kepada mereka.
  • Hormati privasi anak di bawah umur.
    Dapatkan persetujuan dari orang tua atau wali orang tua sebelum menampilkan mereka di video Anda. Pastikan partisipasi mereka dalam video Anda bersifat sukarela.
  • Atur komentar pengguna pada video Anda.
    Ada fitur yang dapat digunakan untuk memfilter dan meninjau komentar, dan Anda dapat selalu melaporkan komentar kepada kami sebagai spam atau penyalahgunaan.
  • Kelola setelan privasi dan sematan video Anda.
    Anda memiliki beberapa opsi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat video Anda dan bagaimana video dibagikan di situs eksternal.

Kelima hal di atas saya ambil dari laman Kebijakan YouTube yang mengatur tentang Keselamatan Anak. Nggak ada satu kata pun yang saya ubah alias saya cuma copy paste.

Nah, berdasarkan aturan tersebut, harusnya video saya nggak melanggar kebijakan dong ya. Emmm ternyata masih ada lagi kebijakan terkait konten ketelanjangan dan seksual. Aturannya seperti ini ya:

Beberapa pertimbangan YouTube saat menerapkan pembatasan usia pada video:

  • Apakah bagian payudara, bokong, atau alat kelamin (baik ditutupi pakaian maupun tidak) menjadi titik fokus dalam video;
  • Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
  • Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan berahi penonton;
  • Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan /atau cabul;
  • Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, melakukan tarian yang merangsang, mencumbu); dan
  • Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
  • Faktor lainnya mencakup:
    • Lamanya waktu gambar tersebut muncul dalam video
    • Keterpaparan sekilas vs lama terutama sehubungan dengan panjang keseluruhan video.
    • Sudut dan fokus kamera
    • Kejelasan relatif dari gambar dalam video
    • Thumbnail video, lihat kebijakan Thumbnail yang Menyesatkan

Bhaique. Sebenarnya tidak ada satu pun isi video saya yang dihapus oleh YouTube masuk dalam pertimbangan tersebut. Bayi telanjang memang benar menjadi fokus video tersebut. Tapi toh iklan popok serta produk kosmetik bayi juga berisi hal yang sama kan ya?

Namun sekali lagi, aturan ya aturan. Selain yang saya tulis di atas, banyak sekali kebijakan dan keamanan YouTube yang harus kita perhatikan. Ada yang mengatur tentang konten yang mengandung kebencian, konten yang merugikan atau membahayakan, konten kekerasan atau vulgar. Bahkan untuk keamanan anak saja selain faktor ketelanjangan dan seksual, ada yang mengatur tentang cyberbullying dan pelecehan. Banyaklah pokoknya. Silakan langsung baca di laman https://support.google.com/youtube/topic/2803176?hl=id&ref_topic=2676378.

Karena itulah saya yakin YouTube memutuskan untuk menghapus video saya pasti sudah berdasarkan pertimbangan yang baik. Saya juga yakin keamanan anak saya, kenyamanan saya sebagai pemilik channel juga penonton YouTube adalah prioritas utama mereka. Lagipula, setelah saya ingat ke belakang, nggak cuma sekali saya menerima komentar kurang baik atas video itu. Mulai dari, “She’s f*cking annoying,” sampai “That baby is ugly.” Serius. Ada aja kok warganet yang sampai hati komen jahat di video bayi. Jadi, saya bisa menerima keputusan mereka. Kalaupun nanti saya mengajukan banding itu sekadar supaya video saya bisa tetap ada dalam channel saya untuk memori keluarga. Kalaupun nggak bisa ya mungkin saya akan upload ulang tapi dengan kondisi video diunlisted atau diprivate sekalian seperti saran yang diberikan oleh YouTube dalam surelnya untuk saya.

Tapi, orang lain kok bisa mengunggah video anak-anak mereka telanjang atau berpakaian mini dan nggak dihapus oleh YouTube? Ya biarin ajalah, anak orang sih itu, bukan anak saya hahaha. Cuma ya saya suka sedih juga sih kalau liat foto anak-anak kecil telanjang atau keliatan bagian pribadinya. Sekarang sih mereka belum bisa protes ya, tapi kalau nanti sudah besar kan kasian. Kita dulu aja kalau mama kita nunjukkin foto-foto zaman kita kecil yang menurut kita memalukan banget ke teman atau saudara pasti protes kan. Gimana dengan jejak digital anak-anak kita nanti. Sampai mereka besar jangan-jangan foto-foto seperti itu bisa dengan mudah ditemui di internet. Iya kalau cuma untuk becandaan, kalau dijadikan bahan bully sama teman-temannya, bahan meme yang bisa dilihat orang sedunia atau lebih parah lagi jadi bahan yang enggak-enggak untuk para pedofil gimana. Kan kasian anak-anak kita yaaah.

Nah, kalau kita sebagai penonton merasa konten video yang kita lihat ada anak-anak dalam kondisi yang menurut kita kurang pantas, boleh kok kita lapor ke YouTube. Gampang, tinggal klik aja tanda tiga titik () di bawah video tersebut lalu pilih Laporkan dan pilih alasan yang paling sesuai dengan pelanggaran dalam video tersebut. Setidaknya dengan aktivitas tersebut bisa membuat para konten kreator atau para orang tua lebih waspada dalam mengunggah foto atau video anak-anak ke media sosial. Tolong diingat, foto atau video anak yang kita anggap lucu, innocent, menggemaskan itu ternyata bisa membahayakan anak suatu saat nanti. Please be aware.