5 Hal Yang Harus Diperhatikan Saat Membeli Jam Tangan Wanita

jam tangan wanita

Jam tangan wanita adalah salah satu aksesoris yang pasti menjadi bagian dari outfit kita sehari-hari. Ya nggak, Ibu-ibu? Selain fungsi utamanya sebagai penunjuk waktu, jam tangan yang serasi dengan busana juga menunjang penampilan kita.

Tapi, jujur saja saya bukan termasuk penggemar jam tangan walaupun selalu memakainya setiap hari. Nggak seperti suami yang hobi mengkoleksi jam tangan, saya justru setia dengan sedikit jam tangan wanita. Bahkan seingat saya, saya nggak pernah membeli sendiri jam tangan saya. Kalau nggak dibelikan orang tua, ngembat jam tangan mama atau dibelikan suami.

Saya ingat banget oleh-oleh pertama yang dibawakan oleh suami saat dia tugas ke luar negeri adalah jam tangan wanita merk Swatch dengan bentuk rantai seperti kerang berwarna pink muda dengan batu-batuan kecil sebagai pemanis. Itulah jam tangan wanita pertama yang saya punya hahaha. He was so thoughtful.  Dia memilih model yang cocok dengan pribadi saya yang simple, lebih suka memakai aksesoris yang manis tapi nggak mencolok dan nggak bikin kulit sensitif saya gatal. Jam tangan itu akhirnya saya pakai ke mana-mana. Ke kantor, jalan-jalan atau pesta selama bertahun-tahun sampai akhirnya dibelikan lagi yang baru yang senada dengan jam tangan dia.

Jadi selama ini saya memang menyerahkan urusan perjam tanganan ini kepada suami saya. Sampai terakhir kemarin saya ulang tahun pun kadonya jam tangan.

Cuek Soal Jam Tangan

Kecuekan saya soal jam tangan ini ternyata diikuti oleh anak sulung saya. Satu-satunya jam tangan yang dia punya adalah jam tangan digital merek Casio dengan sport band kado ulang tahun ke-8 dari temannya. Memang bagus sih, diameter jam yang kecil dan warna muka jam yang merupakan perpaduan pink dan silver terlihat manis tapi nggak norak. Nggak heran kalau jam ini dia pakai untuk segala aktivitas sampai setelah 3 tahun warna bandnya mulai kotor. Tapi tiap kali ditawarin beli jam nggak pernah mau karena merasa jamnya masih bisa dipakai. Alhamdulillah punya anak irit itu bikin mamak hepi ya hahaha.

Meski nggak pernah beli jam sendiri, saya tetap menyimpan beberapa tips memilih jam tangan wanita yang saya kumpulkan dari beberapa sumber yang bisa teman-teman praktikkan saat ingin membeli jam tangan.

Sebelum Membeli Jam Tangan Wanita, Perhatikan Beberapa Hal Ini:

jam tangan wanita

Personal Style

Sebelum memilih jam tangan, perhatikan style berpakaian kita sehari-hari. Sporty kah, elegan kah, feminin atau girly kah? Dengan begitu akan lebih mudah memilih model jam tangan yang cocok untuk kita. Apakah classic roundmasculine squarechic rectangular atau curvy ordinary. Kalau masih bingung, kita bisa menjadikan perhiasan atau aksesoris yang sering kita pakai sebagai acuan. Karena kalau kita memilih hanya karena jam itu sedang tren atau karena modelnya lucu tapi ternyata nggak sesuai dengan style kita, kan sayang ya karena bakal jarang terpakai.


Material

Sekarang ini banyak sekali pilihan jam tangan wanita dengan material yang berbeda-beda. Ada emas kuning klasik, rose gold dan pink gold yang memberikan kesan mewah dan elegan. Ada stainless steel yang timeless dan cocok untuk segala aktivitas. Dan keramik yang modern, praktis dan tidak mudah tergores.

 

jam tangan wanita, memilih jam tangan wanita, matahari mall
Material jam tangan wanita, ki – ka: emas, stainless steel, keramik. Sumber foto: matahari mall

 

Diameter dan Tipe Casing

Biasanya diameter jam tangan wanita antara 28 – 33mm. Diameter ini cocok untuk jam tangan yang kita gunakan sehari-hari atau acara khusus. Tapi banyak juga yang lebih suka jam tangan dengan diameter lebih besar. Biasanya sih ada di jam tangan sporty, smart watch dan boyfriend watch. Tinggal pilih aja mana yang kita suka.Dulu saya selalu pakai jam tangan wanita dengan diameter kecil tapi akhir-akhir ini saya lebih suka pakai yang di atas 35mm. Ternyata meski pergelangan tangan saya kecil keliatan oke kok pakai jam dengan diameter yang lebih besar asal case dan bandnya ramping sehingga nggak berkesan bulky.

Straps

Untuk strap jam tangan saya menghindari yang terbuat dari kulit meski memberikan kesan modern dan stylish karena saya alergi dengan strap kulit. Favorit saya adalah bracelet strap untuk kesan klasik dan formal dan rubber karena mudah dibersihkan, awet dan nggak mudah rusak karena parfum.

jam tangan wanita, tips memilih jam tangan wanita, matahari mall
Jenis straps, ki – ka: leather, bracelet, rubber. Sumber foto: matahari mall

Brand

Ini khusus untuk teman-teman yang sedang bingung memilih jam tangan untuk istri, teman wanita atau ibunya. Coba perhatikan merek yang paling sering mereka pakai, baik itu jam tangan, tas atau aksesoris lain. Perempuan pecinta merek Guess atau Fossil tentunya nggak bakal nolak kalau dikasih hadiah jam tangan wanita dari brand yang sama.

 

 

Menyongsong Program Matrikulasi Ibu Profesional

matrikulasi ibu profesional

Kelas Matrikulasi Ibu Profesional.

Sebenarnya nama Institut Ibu Profesional bukan hal yang asing bagi saya. Sudah sejak beberapa tahun lalu nama pendirinya, Septi Peni Wulandari, menghiasi linimasa media sosial saya. Baik tentang kiprahnya menjadi ibu professional maupun tulisan-tulisannya yang inspiratif yang banyak dibagikan oleh teman-teman saya.

Namun, sampai tahun lalu saya belum tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang Institut Ibu Profesional. Mungkin karena waktu itu saya sedang dalam fase jenuh belajar parenting. Gimana nggak jenuh, saat itu banyak sekali pakar parenting yang saya ikuti di media sosial. Berbagai teori mereka saya pelajari tapi nggak ada satu pun yang berhasil saya terapkan secara konsisten kepada anak-anak. Sampai saya sering merasa gagal sebagai orang tua.

Nggak mau berlama-lama terpuruk, saya sampai pada kesimpulan bahwa ilmu parenting itu nice to know. Tapi untuk penerapan dan hasilnya nggak bisa diharapkan sama untuk semua anak. Jadi, saya mundur sejenak. Saya seleksi lagi pakar-pakar parenting mana yang teorinya dapat diterapkan pada saya dan anak-anak. Saya memilih untuk mengikuti kata hati.

Sampai tahun lalu, tiba-tiba banyak sekali teman-teman saya di media sosial yang mengikuti Program Matrikulasi Ibu Profesional. Dan mereka secara masif membagikan hal-hal yang mereka pelajari. Sesekali tugas-tugas yang harus mereka kerjakan juga muncul di linimasa media sosial saya. Bahkan dua orang teman saya di grup Arisan Blogger rajin sekali berbagi ilmu di grup WA kami.

Hal yang mereka bagi itu sedikit demi sedikit membuat saya tertarik dan penasaran. Sehingga saat mbak Susi Ernawati memberi info bahwa program matrikulasi ibu profesional batch 6 akan dibuka, saya langsung pasang alarm di ponsel.

 

Pada hari H, lagi-lagi mbak Susi mengingatkan saya dan teman-teman di WAG Arisan Blogger untuk siap-siap mendaftar. Saya dan beberapa teman pun mencoba peruntungan kami di detik pertama pendaftaran dibuka.

Menjadi Bagian Dari Program Matrikulasi Ibu Profesional Batch 6

Alhamdulillah, saya termasuk salah satu yang terpilih untuk mengikuti Program Matrikulasi Ibu Profesional Batch 6 kelas Luar Negeri. Selain bersyukur karena dari ribuan calon peserta yang mendaftar saya bisa terpilih, saya juga cemas. Karena meski ini bukan kelas online pertama saya, program Matrikulasi Ibu Profesional ini merupakan salah satu dari dua kelas dengan durasi yang panjang yang saya ikuti.

Begitu grup whatsapp dibentuk dan saya berkenalan dengan teman-teman observer, peserta dan fasilitator, hal yang saya rasakan adalah kagum kepada mereka. Kebanyakan dari teman-teman di WAG Matrikulasi Ibu Profesional LN Batch 6 masih muda tapi prestasinya keren-keren. Sedangkan saya termasuk salah satu yang paling tua dan gini-gini aja hahaha.

Saya juga salut dengan antusias teman-teman saat materi dibagikan dan sesi tanya jawab dengan para pengajar di IIP dibuka. Pertanyaan dari teman-teman tuh suka nggak kepikiran gitu sama saya. Sehingga banyak sekali info baru di luar materi yang saya dapatkan dari jawaban para pengajar terhadap pertanyaan teman-teman. Sementara saya sendiri memang lebih suka mengamati jalannya diskusi daripada mengajukan pertanyaan.

Kekhawatiran Mengikuti Program Matrikulasi Ibu Profesional

Kebiasaan inilah yang membuat saya agak khawatir dalam mengikuti program Matrikulasi Ibu Profesional ini. Karena dalam berbagai kesempatan, para observer dan fasilitator meminta peserta untuk aktif baik saat pembagian materi maupun saat diskusi. Ya, semoga saja dengan berjalannya waktu, saya bisa mengikuti ritme peserta yang lain dan dapat memaksakan diri untuk aktif bertanya dalam setiap sesi diskusi.

Kekhawatiran saya yang lain adalah komitmen untuk hadir dalam setiap sesi materi dan diskusi. Kebetulan, waktu yang disepakati saat ini bertepatan dengan waktu antar jemput kakak Cinta ke sekolah Ugama.

Saya sudah mencoba untuk mengantarnya lebih awal supaya saat sampai rumah tepat saat sesi online dimulai. Tapi kok kasian sama anaknya karena waktu istirahat di rumahnya jadi berkurang dan dia harus menunggu lama di sekolah. Yah, rasanya nggak adil kalau anak harus berkorban hanya supaya ibunya bisa masuk kelas kan ya. Eh, mungkin sih adil adil aja tapi saya yang nggak tega.

Sesi online kedua juga bertepatan dengan jam tidur anak-anak. Masa ini nggak bisa diganggu gugat atau dialihkan ke orang lain karena anak-anak maunya ya mama yang harus bacakan cerita untuk mereka, bahkan si Keenan maunya tidur dengan kepala beralaskan lengan mama hahaha hadeuuuh.

Ke depannya sih berusaha memajukan jam tidur secara bertahap karena sejak jam sekolah Ugama kakak jadi semakin panjang 30 menit mulai awal bulan Juli ini, otomatis jam tidur pun ikut mundur. Tapi semoga sih semua aktivitas di malam hari bisa dimampatkan supaya jam tidur bisa kembali ke waktu semula dan saya dapat mengikuti sesi online kedua. Namun, sementara ini masuk kelas sesempatnya aja, minimal setor kehadiran, sedangkan materi dan diskusi dibaca belakangan saat ada waktu luang.

Harapan Mengikuti Program Matrikulasi Ibu Profesional

Tapi saya tetap semangat kok mengikuti program Matrikulasi Ibu Profesional ini. Berbagai materi yang saya terima saat kelas foundation aja sudah menarik sekali. Mulai dari pengenalan tentang Ibu Profesional, teknis perkuliahan yang akan kami ikuti sampai materi manajemen gawai membuat saya betah menunggu-nunggu materi apa saja yang akan kami terima berikutnya.

Semoga program matrikulasi IP ini bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih disiplin waktu dan produktif serta ke depannya menjadi ibu yang lebih baik bagi keluarga saya dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya.

Teman-teman pembaca Pojok Mungil ada yang sudah atau sedang mengikuti kelas di Institut Ibu Profesional? Boleh lah sharing pengalamannya di kolom komentar. Saya tunggu ya…

Perhatikan Kebijakan YouTube Sebelum Mengunggah Video Anak

video dihapus youtube

Sebenarnya saya sudah pernah posting tentang kriteria foto anak yang sebaiknya tidak diunggah di media sosial. Dan saya pikir selama ini saya sudah cukup berhati-hati dalam mengunggah foto atau video anak-anak saya baik di media sosial maupun di YouTube. Jadi, jujur saja saya kaget dan agak nggak terima saat mendapat email dari YouTube yang menerangkan bahwa mereka menghapus salah satu video saya karena melanggar kebijakan YouTube.

Video saya yang mereka hapus sebenarnya sudah lama sekali saya unggah, tepatnya pada 9 Januari 2011. Video yang direkam oleh adik-adik saya itu mengabadikan momen menit-menit pertama setelah setelah anak sulung saya, Cinta, dilahirkan. Jadi, saat saya masih di ruang bersalin untuk dikeluarkan ari-ari dan proses pemulihan, si bayi nggak langsung dikasih ke saya untuk disusui. Tapi dibawa oleh suster rumah sakit ke ruang periksa untuk dibersihkan, dicek suhu tubuh dan berat badan yang semua dilakukan saat si bayi dalam keadaan telanjang (ya kan baru lahir yak, masa langsung pake baju) baru kemudian dibedong.

Nah, di ruang itulah keluarga besar saya yang menunggui proses kelahiran cucu dan keponakan mereka itu berkumpul. Dan sebagai sejarah keluarga, momen itu divideokan untuk kenang-kenangan. Karena hanya direkam dengan kamera ponsel dan takut rekamannya hilang, akhirnya saya unggah ke YouTube 3,5 tahun setelah kelahirannya. Saya pikir itu hal yang normal. Come on, apa salahnya menyimpan video bayi baru lahir di YouTube untuk kenang-kenangan kita kan. Toh nothing sexual inappropriate about that. It’s a newborn baby video for God’s sake.

Tapi saya salah. Kesalahan yang pertama adalah video itu nggak saya set private. Kedua, saya nggak mikir kalau nggak semua orang yang berselancar di YouTube itu punya pandangan seperti saya. Dan ternyata video bayi telanjang yang tidak berdosa itu bagi beberapa orang dianggap melanggar kebijakan YouTube, so they flagged it.

Video saya dilaporkan oleh salah satu atau lebih orang asing yang kebetulan menontonnya. Dan, sialnya lagi, pihak YouTube menerima laporan tersebut dan memiliki pendapat yang sama dengan pelapor. Akhirnya dihapuslah video saya itu. Ya, saya sih masih bisa menonton video tersebut tapi sudah nggak bisa diapa-apain bahkan mau mengubah settingannya menjadi Private saja sudah nggak bisa. Sebenarnya saya bisa kok mengajukan banding atas kejadian ini. Tapi sampai saat ini masih malas ngarang kata-kata untuk bikin surat bandingnya. Lagian takut sakit hati juga kan kalau ditolak.

Nah, supaya teman-teman pembaca PojokMungil nggak mengalami hal yang sama seperti saya,

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan saat akan mengunggah video terutama video anak-anak ke YouTube:

 

  • Pastikan keselamatan fisik anak di bawah umur tetap aman.
    Jangan pernah menempatkan mereka dalam situasi berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, termasuk adegan aksi, tantangan, dan lelucon berbahaya.
  • Jangan menyebabkan gangguan emosional.
    Hindari situasi yang dapat menyebabkan tekanan emosional, seperti memperlihatkan tema dewasa kepada mereka.
  • Hormati privasi anak di bawah umur.
    Dapatkan persetujuan dari orang tua atau wali orang tua sebelum menampilkan mereka di video Anda. Pastikan partisipasi mereka dalam video Anda bersifat sukarela.
  • Atur komentar pengguna pada video Anda.
    Ada fitur yang dapat digunakan untuk memfilter dan meninjau komentar, dan Anda dapat selalu melaporkan komentar kepada kami sebagai spam atau penyalahgunaan.
  • Kelola setelan privasi dan sematan video Anda.
    Anda memiliki beberapa opsi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat video Anda dan bagaimana video dibagikan di situs eksternal.

Kelima hal di atas saya ambil dari laman Kebijakan YouTube yang mengatur tentang Keselamatan Anak. Nggak ada satu kata pun yang saya ubah alias saya cuma copy paste.

Nah, berdasarkan aturan tersebut, harusnya video saya nggak melanggar kebijakan dong ya. Emmm ternyata masih ada lagi kebijakan terkait konten ketelanjangan dan seksual. Aturannya seperti ini ya:

Beberapa pertimbangan YouTube saat menerapkan pembatasan usia pada video:

  • Apakah bagian payudara, bokong, atau alat kelamin (baik ditutupi pakaian maupun tidak) menjadi titik fokus dalam video;
  • Apakah suasana videonya menjurus ke arah seksual (mis., lokasi yang biasanya dikaitkan dengan aktivitas seksual, seperti ranjang);
  • Apakah objek digambarkan dalam pose yang dimaksudkan untuk membangkitkan berahi penonton;
  • Apakah bahasa yang digunakan dalam video tersebut vulgar dan /atau cabul;
  • Apakah tindakan subjek dalam video mengisyaratkan kesukarelaan untuk terlibat dalam aktivitas seksual (mis. berciuman, melakukan tarian yang merangsang, mencumbu); dan
  • Jika subjek berpakaian minim, apakah pakaian tersebut masuk akal dipakai di tempat umum yang sesuai (mis., pakaian renang vs. pakaian dalam).
  • Faktor lainnya mencakup:
    • Lamanya waktu gambar tersebut muncul dalam video
    • Keterpaparan sekilas vs lama terutama sehubungan dengan panjang keseluruhan video.
    • Sudut dan fokus kamera
    • Kejelasan relatif dari gambar dalam video
    • Thumbnail video, lihat kebijakan Thumbnail yang Menyesatkan

Bhaique. Sebenarnya tidak ada satu pun isi video saya yang dihapus oleh YouTube masuk dalam pertimbangan tersebut. Bayi telanjang memang benar menjadi fokus video tersebut. Tapi toh iklan popok serta produk kosmetik bayi juga berisi hal yang sama kan ya?

Namun sekali lagi, aturan ya aturan. Selain yang saya tulis di atas, banyak sekali kebijakan dan keamanan YouTube yang harus kita perhatikan. Ada yang mengatur tentang konten yang mengandung kebencian, konten yang merugikan atau membahayakan, konten kekerasan atau vulgar. Bahkan untuk keamanan anak saja selain faktor ketelanjangan dan seksual, ada yang mengatur tentang cyberbullying dan pelecehan. Banyaklah pokoknya. Silakan langsung baca di laman https://support.google.com/youtube/topic/2803176?hl=id&ref_topic=2676378.

Karena itulah saya yakin YouTube memutuskan untuk menghapus video saya pasti sudah berdasarkan pertimbangan yang baik. Saya juga yakin keamanan anak saya, kenyamanan saya sebagai pemilik channel juga penonton YouTube adalah prioritas utama mereka. Lagipula, setelah saya ingat ke belakang, nggak cuma sekali saya menerima komentar kurang baik atas video itu. Mulai dari, “She’s f*cking annoying,” sampai “That baby is ugly.” Serius. Ada aja kok warganet yang sampai hati komen jahat di video bayi. Jadi, saya bisa menerima keputusan mereka. Kalaupun nanti saya mengajukan banding itu sekadar supaya video saya bisa tetap ada dalam channel saya untuk memori keluarga. Kalaupun nggak bisa ya mungkin saya akan upload ulang tapi dengan kondisi video diunlisted atau diprivate sekalian seperti saran yang diberikan oleh YouTube dalam surelnya untuk saya.

Tapi, orang lain kok bisa mengunggah video anak-anak mereka telanjang atau berpakaian mini dan nggak dihapus oleh YouTube? Ya biarin ajalah, anak orang sih itu, bukan anak saya hahaha. Cuma ya saya suka sedih juga sih kalau liat foto anak-anak kecil telanjang atau keliatan bagian pribadinya. Sekarang sih mereka belum bisa protes ya, tapi kalau nanti sudah besar kan kasian. Kita dulu aja kalau mama kita nunjukkin foto-foto zaman kita kecil yang menurut kita memalukan banget ke teman atau saudara pasti protes kan. Gimana dengan jejak digital anak-anak kita nanti. Sampai mereka besar jangan-jangan foto-foto seperti itu bisa dengan mudah ditemui di internet. Iya kalau cuma untuk becandaan, kalau dijadikan bahan bully sama teman-temannya, bahan meme yang bisa dilihat orang sedunia atau lebih parah lagi jadi bahan yang enggak-enggak untuk para pedofil gimana. Kan kasian anak-anak kita yaaah.

Nah, kalau kita sebagai penonton merasa konten video yang kita lihat ada anak-anak dalam kondisi yang menurut kita kurang pantas, boleh kok kita lapor ke YouTube. Gampang, tinggal klik aja tanda tiga titik () di bawah video tersebut lalu pilih Laporkan dan pilih alasan yang paling sesuai dengan pelanggaran dalam video tersebut. Setidaknya dengan aktivitas tersebut bisa membuat para konten kreator atau para orang tua lebih waspada dalam mengunggah foto atau video anak-anak ke media sosial. Tolong diingat, foto atau video anak yang kita anggap lucu, innocent, menggemaskan itu ternyata bisa membahayakan anak suatu saat nanti. Please be aware.

 

 

 

 

Happy Birthday, Dear Daughter

When I held you for the first time,
my life began to shine.
I knew then this life wasn’t just mine.

I would do what it takes,
To help you correct your mistakes.
To get by the challenges you may face.

For our freedom many have fought,
Somedays will be good, others will not.
Always thank God for the life you got.

The world isn’t perfect as you will see,
Having you here made it better for me.
When you’re in need, by your side I’ll be.

For you are my daughter for eternity.

Source: https://www.familyfriendpoems.com/poem/for-you-are-my-daughter-for-eternity

 

Memilih Kerudung Pashmina Yang Nyaman Untuk Ibu Berhijab

Sebagai macan ternak alias mama cantik antar anak yang salah satu tugas utamanya adalah mengantar jemput anak-anak sekolah, after school program, main di taman, playdate ke rumah teman dan aktivitas lainnya, seringkali saya bingung memilih pakaian yang tepat, apalagi sejak saya berhijab.

Kalau dulu sih gampang aja ya, pakai kaos sama celana sudah cukup untuk semua aktivitas seharian. Tapi sekarang, rasanya sudah nggak nyaman lagi pakai kaos dan celana yang cukup ketat. Sementara kemeja dan rok kadang terasa terlalu formal, belum lagi model hijab yang harus dikenakan juga harus disesuaikan dengan pakaian yang dikenakan dan aktivitas sehari-hari.

Memakai bergo atau jilbab instan tentu lebih praktis ya. Modelnya pun sekarang sudah bervariasi. Tapi, kadang saya juga ingin tampil beda terutama kalau ada kegiatan lain setelah antar anak sekolah seperti arisan, pengajian, rapat POMG atau sekadar sarapan bareng sahabat tercinta.

Boleh dong, sesekali mama tampil lebih cantik dari biasanya dengan kerudung pashmina atau kerudung segiempat. Masalahnya, nggak seperti kerudung segiempat yang lebih simpel dibentuk, kerudung pashmina kadang perlu usaha ekstra dan banyak jarum untuk membentuknya.

Karena itu, saya mengutamakan kenyamanan saat memilih kerudung pashmina sebagai paduan busana sehari-hari, di saat harus menghadiri acara setelah mengantar anak sekolah. Padahal tadinya saya suka asal aja memilih kerudung yang pada akhirnya numpuk di lemari karena ternyata nggak nyaman dipakai.

Supaya nggak mengulangi kesalahan yang sama, saya membuat panduan untuk diri saya sendiri dalam memilih kerudung pashmina untuk paduan busana sehari-hari saya, seperti ini:

1. Bahan

Karena biasanya kerudung akan saya gunakan dari pagi sampai anak-anak pulang sekolah sekitar pukul 1 siang, saya memilih bahan yang adem, nggak tipis tapi nggak terlalu tebal dan mudah dibentuk seperti katun, diamond crepe atau rayon. Bahan tersebut cocok untuk cuaca di hutan tropis yang bisa mencapai 35 derajat Celcius di siang hari.

kerudung pashmina, matahari mall

Apalagi di tempat saya tinggal nggak ada tempat makan atau kumpul-kumpul yang mewah, sehingga bahan seperti chiffon, sutera atau maxmara agak berlebihan untuk aktivitas sehari-hari. Tapi saya tetap punya kok kerudung pashmina dengan bahan istimewa tersebut untuk dikenakan pada acara-acara spesial.

2. Warna

Warna hitam, merah, krem, dan warna pastel jadi pilihan saya dalam menentukan kerudung yang akan saya pakai agar mudah dipadu padankan dengan koleksi pakaian saya. Warna-warna tersebut juga cocok dengan warna kulit saya agak agak gelap sehingga nggak keliatan kusam.

kerudung pashmina, matarahi mall

Untuk kulit putih, menurut para ahli busana, sebaiknya menggunakan kerudung berwarna gelap dan terang. Pemilik kulit putih juga disarankan menghindari warna nude dan pastel. Sedangkan pemilik warna kulit kuning langsat dianjurkan menggunakan kerudung berwarna pink, kuning atau biru muda. Warna-warna tersebut dapat membuat wajah nampak lebih cerah. Tapi hindari warna coklat gelap, krem atau hijau daun, ya.

Dan sahabat PojokMungil yang berkulit sawo matang lebih cocok menggunakan warna pastel dan gelap seperti hitam, biru tua atau merah tua supaya tampak lebih cantik serta hindari warna coklat yang mirip dengan warna kulit.

3. Style

Sebagai ibu-ibu yang rempong, banyaks sekali yang harus saya lakukan ngurusin di pagi hari. Mulai dari menyiapkan sarapan dan bekal, mandikan si bungsu, serta memastikan rumah sedikit rapi sebelum ditinggal pergi. Karena itu saya nggak punya banyak waktu untuk menggunakan kerudung dengan model yang aneh-aneh. Mending sisa waktu yang ada saya gunakan untuk mengaplikasikan produk perawatan wajah yang sekian langkah itu sampai meresap sempurna.

Jadi, saya lebih suka memilih model yang ringkas dan hanya membutuhkan nggak lebih dari tiga jarum atau peniti, seperti yang ada dalam video dari Sunsilk Indonesia ini:



Dengan tiga pertimbangan tersebut di atas, saya pun menyortir koleksi kerudung saya dan hanya menyimpan yang sesuai kriteria tersebut. Sedangkan sisanya saya hibahkan ke mbak yang kerja part time di rumah. Setelah disortir saya jadi lebih mudah lo, memilih kerudung yang akan saya kenakan. Nggak perlu lagi menghabiskan waktu berlama-lama di cermin untuk memadukan jilbab dengan pakaian, lumayan menghemat waktu banget.

Kalau sahabat PojokMungil biasanya punya pertimbangan apa dalam memilih kerudung untuk sehari-hari? Yuk share di kolom komen.

Aturan Bermain di Taman Bermain yang Harus Dipahami Anak

Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

Taman bermain, baik di luar ruangan maupun dalam ruangan adalah tempat favorit anak-anak. Di sana mereka dapat bermain apa saja dengan bebas. Namun, demi keamanan, keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna, ada beberapa aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan orang tua.

Kemarin saya nggak sengaja melihat cuplikan video tentang seorang bapak (sebut saja bapak A) yang menendang anak kecil di sebuah taman bermain dalam ruangan. Penasaran dengan kronologi peristiwanya saya pun menelusuri media sosial dan dengan mudah mendapatkan rekaman CCTV dari taman bermain tersebut.

Jadi, ada dua anak laki-laki kira-kira usia SD yang sedang main ayunan. Dari rekaman sih kecepatan ayunan tersebut standar aja ya, nggak terlalu kencang atau tinggi. Tiba-tiba dari belakang kedua anak tersebut, muncul seorang anak perempuan usia batita yang berjalan sangat dekat dengan ayunan. Karena jarak si anak perempuan dengan ayunan sangat dekat, otomatis anak itu terkena ayunan yang sedang berayun ke belakang dan jatuh.

Ayah si anak perempuan kemudian nampak berlari mendekati si anak setelah sempat menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan itu. Ketika dikonfrontasi oleh ibu si anak laki-laki, bapak A merasa tindakannya benar dan justru menyalahkan si anak laki-laki yang tidak berhati-hati saat bermain ayunan.

Tapi warganet rupanya banyak yang nggak sependapat dengan bapak A. Dari ratusan komen dari beberapa post serupa di media sosial, mayoritas nggak terima dengan cara bapak A memperlakukan si anak yang lagi main ayunan.

Ya, saya paham sih, mungkin bapak A panik liat anaknya terjatuh karena kena senggol ayunan. Saya juga kalau bawa anak-anak main di playground indoor suka ngeri kalau banyak anak-anak usia di atas 7 tahun yang badannya besar-besar dan bermain nggak lihat-lihat situasi sekitarnya. Nggak cuma sekali saya melihat anak balita terinjak di arena trampolin oleh anak-anak yang lebih besar. Sedihnya, si anak-anak besar ini nggak ada tuh usaha untuk menghentikan lompatan mereka, padahal anak-anak yang lebih kecil sudah susah payah berusaha untuk bangun.

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Belum lagi kalau pada main kejar-kejaran ya, kadang anak-anak yang besar-besar ini nggak bisa berhati-hati. Mereka seolah nggak peduli kalau ada anak-anak yang lebih kecil di sekitar mereka. Makanya saat anak-anak masih batita saya selalu ngekorin ke manapun mereka berada saat di taman bermain. Bahkan kalau di taman bermain itu ada arena khusus untuk toddler saya lebih memilih mengajak mereka main di sana daripada bercampur dengan anak-anak yang lebih besar.

Yang nggak bisa ditolerir dari kejadian yang saya ceritakan di awal tulisan ini adalah, perilaku bapak A yang menendang anak laki-laki tersebut. Sama sekali nggak dibenarkan tuh.

Saat berada di taman bermain, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, selalu ada resiko kecelakaan besar atau kecil, sengaja atau tidak sengaja. Jadi saat anak mengalami kecelakaan, fokus pertama adalah menolong si korban dan memastikan kondisinya. Sementara si pelaku baik sengaja atau tidak cukup ditegur dengan baik, diminta untuk lebih berhati-hati dan disuruh minta maaf. Kalau anaknya cuek ya laporin ke orang tuanya. Kalau orang tuanya nggak peduli, bicara dengan pengelola taman bermain atau pihak keamanan. Bukan main hukuman fisik.

Ya namanya anak-anak bermain rame-rame pasti ada resikonya. Pengennya sih bisa main sendiri di taman bermain supaya bebas mau ngapain aja. Tapi main sendiri juga nggak seru deh. Keenan itu kalau nggak ada temennya nggak betah berlama-lama di playground. Sebaliknya dia bisa betah berjam-jam di sana kalau banyak anak yang main bareng dia. Nah, supaya anak-anak bisa bermain dengan aman dan nyaman di taman bermain, ada baiknya kita ajak mereka untuk memahami aturan bermain di taman bermain.

Aturan Bermain di Taman Bermain, aturan bermain di playground

Aturan Yang Harus Dipahami Anak Saat Bermain di Taman Bermain

Jangan Naik Tempat Meluncur Dari Sisi yang Licin

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Ih, ini aktivitas favoritnya Keenan banget. Kalau main seluncuran, setelah meluncur dia akan langsung naik lagi dari sisi yang dipakai untuk meluncur. Lebih fun daripada naik dari tangga. Ya kalau playgroundnya lagi sepi sih nggak apa-apa tapi kalau lagi banyak anak tentu berbahaya dan bisa mengganggu anak lain. Jadi sekarang saya selalu bilang sama Keenan, kalau lagi main sama teman-teman setelah meluncur harus naik dari tangga supaya nggak kena tendang temannya yang meluncur setelah dia. Alhamdulillah sih selama ini dia nurut ya, kecuali saat teman mainnya sama-sama iseng. Bisa tuh mereka merangkak naik ke atas perosotan dari sisi yang licin bergantian. Giliran emaknya aja yang dag dig dug sambil berkali-kali meminta mereka berhati-hati.

Berhati-hati Dengan Anak Yang Lebih Kecil

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, nggak jarang liat anak-anak besar yang nggak peduli dengan aturan bermain di taman bermain, sehingga mereka main sesuka hati mereka dan nggak aware bahwa di sekitarnya banyak anak yang lebih kecil. Karena itu, anak-anak harus diajarin untuk berhati-hati dengan sekitarnya. Terutama saat berlari atau main trampolin. Mereka perlu tahu bahwa tenaga mereka jauh lebih besar daripada babies and toddler jadi kalau mereka nggak sengaja nabrak anak yang lebih kecil bisa membuat si adik terluka.

Berhati-hati Saat Menggunakan Ayunan

Minta anak-anak untuk memperhatikan sekitarnya saat akan bermain ayunan. Ajari mereka mengontrol laju ayunannya ketika ada orang yang mendekati arena ayunan. Kalau mama atau papa yang mengayun anak, jangan ditinggal main hape sih. Fokus aja ke ayunan demi keselamatan anak yang diayun atau pengguna playground lain. Anak-anak juga diminta untuk nggak berjalan dekat ayunan yang sedang digunakan. Dan mama papa jangan sekali-kali melepas anak batita berlari ke arah arena ayunan tanpa pengawasan.

Jangan Melempar Apapun Kecuali Bola Plastik

Aturan bermain di taman bermain yang satu ini berlaku di outdoor playground. Kadang ada aja yang suka main lempar pasir, kerikil, atau kayu. Beri tahu anak bahayanya melempar benda-benda tersebut seperti dapat masuk ke mata atau melukai orang lain.

Jangan Bermain Pedang-Pedangan Dengan Kayu atau Ranting Pohon

Dududu, ini Keenan banget. Kalau di playground suka tiba-tiba aja mungut ranting pohon trus diacung-acungkan ke anak lain. Ngajak main pedang-pedangan ceritanya. Tapi setelah beberapa kali dia ditegur sama orang (karena nggak peduli dengan teguran saya) baru deh dia insaf meski sesekali masih suka mungutin ranting pohon. Sebenarnya nggak masalah sih kalau mereka memang benar-benar main pedang-pedangan dari ranting pohon dari jarak yang aman. Yang bahaya itu kalau nggak sengaja batang kayu tersebut kena mukanya orang. Namanya anak-anak kan kalau main suka nggak kekontrol ya saking semangatnya. Jadi mending cari amannya aja deh.

Minta Maaf Atas Perbuatan Yang Kurang Baik Atau Kecelakaan Yang Mereka Akibatkan

Tahun lalu, waktu Cinta masih di Year 4, tiba-tiba saya mendapat telfon dari sekolah. Kepala SDnya bercerita bahwa terjadi kecelakaan saat istirahat antara Cinta dan temannya yang mengakibatkan kepala Cinta benjol sebesar telur. Beliau meyakinkan bahwa Cinta sudah dirawat dengan baik dan nggak ada hal serius yang terjadi. Lalu, ibu kepala meminta temannya Cinta untuk meminta maaf kepada saya melalui telpon. “Saya mau anak-anak belajar bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan, meskipun itu nggak sengaja.” Tentu saja saya memaafkan sambil mewanti-wanti supaya lain kali dia lebih hati-hati.

Sejak itu, saya berusaha menjadikan perilaku ini sebagai aturan bermain di taman bermain bagi anak-anak saya. Yes, accident happens, tapi anak juga harus tahu bahwa kecelakaan terjadi karena salah satu tidak berhati-hati, dan ada konsekuensi yang harus dibayar untuk perbuatan tersebut. Iya, monmaap saya memang #mamagalak.

Awasi Anak Anda

Ini memang tugas yang sangat berat. Kalau anak-anak bermain di outdoor playground biasanya saya lebih ketat ngawasinnya. Sedangkan di taman bermain dalam ruangan, jujur saja saya suka lengah. Apalagi sekarang anak sudah besar-besar ya, saya anggap mereka sudah tahu aturan bermain di taman bermain. Sehingga seringkali saya lepas aja main sendiri sementara saya duduk di bangku atau di lantai tak jauh dari arena bermain. Saya beri mereka kesempatan untuk mengeksplorasi tempat bermain dan berteman dengan anak lain, sementara saya memanfaatkan waktu itu untuk main hape atau baca buku. Paling saya titip ke Cinta untuk mengawasi adiknya. Atau sesekali meninggalkan tempat duduk saya untuk mengecek keberadaan mereka.

Ternyata nggak cuma saya sih yang seperti itu, waktu saya bawa anak-anak main di Kidzoona TP 6, kebanyakan orang tua cukup duduk manis sementara anak-anaknya yang sudah cukup besar asik bermain sendiri. Padahal sudah ada aturan tertulisnya tuh kalau anak harus selalu dalam pengawasan orang tua karena nggak ada staf Kidzoona yang mengawasi masing-masing arena bermain.

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Menurut saya sih, boleh kok membiarkan anak-anak besar bermain sendiri tapi jangan sampai kita benar-benar lepas pengawasan. Namanya di tempat umum ya, banyak kejadian tak terduga. Mungkin nggak sengaja jatuh dari perosotan, ada anak yang kasar atau tiba-tiba anak keluar dari tempat bermain seperti yang pernah saya alami. Kalau anak di bawah 3 tahun ya harus benar-benar diikutin ya, apalagi kalau tempatnya besar dan sedang ramai. No excuse.

Be Nice To Other Kids

aturan bermain di taman bermain, aturan bermain di playground

Ini berlaku untuk anak dan penjaganya. Ajak anak untuk bermain dengan baik saat di taman bermain, jangan kasar; mukul; nendang atau berteriak-teriak kepada anak lain. Minta mereka untuk sabar menunggu giliran bermain kalau alat tersebut sedang dipakai anak lain. Jangan menguasai satu permainan terlalu lama. Di lain sisi kita juga boleh menegur anak lain yang misalnya menguasai ayunan selama belasan menit tanpa mau gantian atau menutup akses ke perosotan just because. Kita juga bisa mengingatkan anak kita dan anak lain untuk berhati-hati. Tentu dengan cara yang baik ya, bukan pakai hukuman fisik. Bayangkan kalau anak kita yang nakal misalnya trus diperlakukan kasar oleh orang tua lain, pasti nggak terima kan yaaa.

Jangan Memaksa Anak Untuk Berbagi

Nggak jarang sih saya lihat anak-anak yang mau menguasai permainan sendirian tapi nggak perlulah sampai memaksa mereka untuk berbagi. Kalau saya lihat yang seperti itu, biasanya saya bilang ke si anak, “5 menit lagi gantian ya mainnya.” Lalu mengajak anak saya bermain di arena yang lain. Kalau anak saya ngotot nggak mau pergi baru saya minta baik-baik, “Mainnya sama-sama ya, kan seneng kalau ada temannya.” Kadang cara ini berhasil, kadang enggak. Kalau nggak berhasil ya sudah, yang waras ngalah ajalah. Mungkin si anak sedang perlu me time, dan kita ajak anak lain untuk mengeksplorasi mainan lainnya di tempat tersebut.

Sebenarnya mungkin masih banyak lagi aturan bermain di taman bermain yang harus dipahami oleh anak dan kita. Namun intinya adalah peduli dengan lingkungan sekitar. Ya, secara mereka kan nggak main sendirian ya, jadi penting sekali untuk bijaksana dalam berinteraksi dan berperilaku saat bermain di tempat umum. Awalnya mungkin susah, tapi kalau satu persatu aturan bermain di taman bermain ini diterapkan ke anak, insyaAllah mereka akan paham dan terbiasa.

Dan tulisan ini nggak bermaksud untuk menggurui orang tua kok. Namanya taman bermain pasti maunya kita anak-anak bisa bebas beraktivitas. But better save than sorry, right. Nggak ada salahnya menerapkan aturan bermain di tempat bermain ini pada kita dan anak-anak demi keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna taman bermain. Sekaligus menghindari kejadian si bapak A yang saya ceritakan di awal tulisan ini terulang lagi.