5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Manfaat Menulis Blog

Apa sih manfaat menulis blog? Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang berminat belajar ngeblog dan menjadi blogger? Bahkan makin banyak yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan paruh waktu dan penuh waktu. Dan kenapa saya masih ngeblog juga meski banyak sekali blogger yang lebih baik di sekitar saya?

Kenapa saya masih menulis blog? Apakah saya harus terus menulis blog?

Jujur saja pertanyaan itu sering terlintas di pikiran saya akhir-akhir ini. Sempat terpikir untuk berhenti ngeblog karena ya sudah nggak ada lagi semangat untuk menulis. Apalagi semakin banyak blogger-blogger yang lebih bagus, lebih berprestasi, lebih eksis, lebih… lebih… lebih… Sementara saya kok gini-gini aja. Malah pageview makin turun, DA/PA juga terjun bebas. Tawaran placement post dan job review pun nyaris tak ada lagi. Ah, untuk apa lagi saya ngeblog.

Padahal saya masih bercita-cita menjadi blogger profesional. Tapi masih bingung menentukan blog ini mau fokus ke niche apa. Dibilang lifestyle blog ya isinya bukan tentang gaya hidup yang sedang tren. Mau disebut parenting blog ya sudah nggak pernah nulis soal parenting lagi. Fokus ke liputan tentang kehidupan di Brunei pun kami jarang eksplorasi Brunei dan sebentar lagi mau kembali ke Indonesia karena pekerjaan suami di sini sudah selesai. Hiks.

Saya juga belum punya jam kerja khusus untuk menulis dan mengurus blog pojokmungil.com ini. Atau rencana kerja dan target agar blog ini bisa berkembang lebih baik. Padahal menurut Mbak Kiki Handriyani, mentor kami di kelas NulisYuk Batch 38 tema blog, untuk disebut sebagai blogger profesional ada beberapa syarat yang harus dilakukan oleh seorang blogger, yaitu:

Lakukan 8 Hal Ini Untuk Menjadi Blogger Profesional

  1. Jadikan profesi blogger sebagai profesi utama.
  2. Ketika menulis di blog, terapkan sistem kerja seperti layaknya pekerja kantoran: ada jam kerja, ada jam turun ke lapangan untuk liputan dan ada waktu untuk belajar tentang blogging dan pernak-perniknya.
  3. Lakukan personal branding di media sosial.
  4. Percaya diri saat memperkenalkan diri sebagai blogger di depan publik.
  5. Punya attitude yang baik. Hal ini ditandai dengan betul-betul untuk menyimak materi dan bekerja saat menghadiri event. Bukan menjadikan event sebagai ajang ketemuan dengan teman sesama blogger, sibuk selfie dan saat pemateri berbicara malah asyik ngobrol dengan peserta lain. Saat event selesai, tulislah liputan sesuai dengan brief pekerjaan (bila perlu berikan lebih dari apa yang dibayarkan klien).
  6. Percaya bahwa rezeki itu tidak akan tertukar dan ada waktunya. Jadi jangan suka menyerobot pekerjaan blogger lain.
  7. Belajar etika dan cara berkomunikasi yang baik dengan klien, rekan kerja maupun orang-orang yang baru dikenal.
  8. Pelajari peta perpolitikan dunia blogging karena blogger pun sudah menjadi profesi yang penuh dengan intrik.

Berat ya ternyata menjadi blogger profesional. Dan untuk bisa melakukan semua hal tersebut diperlukan komitmen dan disiplin yang tinggi. Sementara saat ini saya merasa belum mau dan sanggup menjalaninya.

Tapi apakah saya harus berhenti ngeblog total? Menurut teman-teman gimana?

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri dan bergabung di Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia, yang lalu dipercaya untuk mengelola blog IP Asia dan menjadi salah satu mentor untuk sesi bulanan Blogging & Writing Mentor, saya memutuskan untuk tetap menulis di blog.

Saya menyadari bahwa meski prestasi saya di bidang blogging nggak ada apa-apanya dibanding teman-teman blogger yang sudah profesional, saya masih punya sesuatu untuk dibagikan. Dan itulah tujuan awal saya menulis di blog. To share, because sharing is caring. Betul kan?

Manfaat Menulis Blog

Selain itu, saya ngeblog karena masih merasakan beberapa manfaat menulis blog yang lain sebagai berikut.

5 Manfaat Menulis Blog dan Alasan Saya Melakukannya

Melatih Kemampuan Menulis 

Quote tentang menulis

Saya suka menulis, tapi saya merasa tulisan saya nggak bagus-bagus amat. Bahkan jujur saja saya sering malas membaca kembali tulisan saya. Lha, kalau yang nulis saja nggak suka membaca tulisan sendiri gimana orang lain mau membacanya ya. Nah, menulis di blog secara teratur bisa menjadi sarana saya berlatih menulis.

Dan dengan mengikuti kelas NulisYuk Batch 38 Tema Blog ini, saya berharap bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya di blog menjadi lebih enak dibaca. Sehingga saya sangat mengharapkan feedback dari mentor dan teman-teman satu kelas mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.

Berbagi Pikiran dan Pengalaman

Sharing is caring

Salah satu alasan saya menulis di blog adalah berbagi pikiran dan pengalaman. Saya ini suka overthinking. Apa-apa dipikirin. Tapi nggak pandai berkomunikasi secara lisan sehingga akhirnya sering bingung sendiri karena pikiran saya penuh dengan banyak hal. Dengan menulis di blog saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran saya dan mungkin mendapatkan teman berdiskusi. Kalaupun tidak, setidaknya saya sudah cukup senang karena satu beban pikiran sudah berkurang. Ada yang begitu juga nggak?

Dengan berbagi pengalaman di blog juga saya berharap orang lain bisa memperoleh manfaat atas apa yang saya alami. Misalnya salah satu artikel yang paling sering dibaca di blog ini adalah tentang Speech Delay si Keenan. Dari artikel ini banyak yang akhirnya menghubungi saya lewat email dari berbagi pengalaman mengasuh anak dengan gangguan terlambat bicara. Begitu juga artikel-artikel lain yang berhubungan dengan tinggal di Brunei.

Lebih Banyak Membaca dan Belajar

Stephen King quote

Manfaat menulis di blog yang lain adalah membuat saya lebih semangat membaca dan belajar. Membaca di sini nggak cuma buku-buku tentang blogging ya, justru saya lebih suka membaca buku fiksi yang ringan-ringan lho. Dari banyak membaca, saya jadi belajar bagaimana merangkai kalimat yang enak dibaca. Dan tentu saja jadi punya bahan untuk dijadikan tulisan di blog.

Supaya ilmu blogging tetap update, saya juga berusaha untuk tetap belajar. Baik dari sharing dengan teman-teman blogger maupun ikut kelas-kelas blogging. Sebenarnya sih saya lebih suka belajar offline ya, tapi karena keterbatasan ya belajar secara online pun saya ikuti juga. Baik dalam bentuk kelas-kelas interaktif di whatsapp group maupun kelas satu arah lewat video dan podcast di Udemy.

Membangun Networking

Dengan menulis di blog, kita akan berkenalan dengan orang-orang baru. Mulai dari para pembaca blog kita sampai ke sesama blogger. Beberapa di antara mereka bisa menjadi sahabat kita suatu hari nanti. Ini sudah saya buktikan sendiri. Dari networking inilah kita bisa mendapatkan informasi tentang proyek menulis, tawaran job review atau placement post serta ilmu-ilmu baru tentang blogging.

Sebagai Jurnal Pribadi

Blog bisa juga berfungsi sebagai jurnal pribadi kita. Dengan menulis di blog, kita bisa melihat bagaimana tulisan kita berubah, bagaimana kehidupan kita berkembang, bagaimana kepribadian kita bertumbuh. Blog juga bisa menjadi catatan digital kehidupan kita dari masa ke masa. Di usia 10 tahun blog ini pada bulan Desember nanti, saya sudah menuliskan banyak sekali kisah saya dan keluarga mulai dari anak baru 1 sampai sekarang jadi 2. Mulai dari kisah mereka saat balita sampai sekarang salah seorangnya menjelang remaja. Mungkin suatu saat nanti, blog ini akan menjadi sarana bagi anak-anak saya untuk mengenal pikiran dan perasaan ibunya saat saya sudah tidak lagi bersama mereka.

Nah, kalau menurut teman-teman sendiri, apa sih manfaat menulis blog yang kalian rasakan selama ini? Silakan sharing di kolom komentar ya.

Credit: Photo by Christin Hume on Unsplash

Semangat Menulis, Bagaimana Cara Mengembalikannya?

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Jack of all trades, master of none – William Shakespeare

Kutipan itu sempat menjadi isi profil Instagram saya selama lebih dari setahun karena saya bingung menjelaskan jati diri saya. Jack of all trades, master of none adalah idiom yang menggambarkan seseorang yang bisa melakukan banyak hal tapi tidak ahli dalam satu hal pun. Dan itu menggambarkan diri saya dengan tepat.

I mean, I can do a lot of thingslike baking, writing, blogging, making DIY toys, crafting, and crochetingBut nothing, not even one that I am really good or have expertise on.

Pada suatu masa, saya suka sekali belajar public speaking yang kemudian ini membantu sekali dalam pekerjaan saya sebagai front liner di sebuah bank. Namun, setelah tidak lagi bekerja, keahlian itu pun sirna.

Saya dan Memasak

Lalu saya belajar memasak makanan bayi dan baking demi Cinta yang masih balita. Bahkan saya sempat bergabung dengan komunitas masak terbesar pada saat itu, NCC (Natural Cooking Club), dan mengikuti pelatihan bikin kukis saat kopdar akbar di Surabaya!

barbie cake
9 tahun lalu, saya bisa membuat Barbie Cake ini from scratch untuk ulang tahun ke-3 Cinta.

Tapi kemudian saya sadar bahwa cooking is not my strong suit. Saya bisa masak seadanya, sambil melihat resep. Namun saya nggak suka karena memasak itu memerlukan energi yang besar sekali mulai dari memikirkan menu masakannya, mengolah bahan mentahnya, menghidangkannya hasilnya ke meja makan dan mencuci peralatan dapurnya. Memasak adalah salah satu pekerjaan rumah tangga yang sangat ingin sekali saya serahkan ke pihak ketiga seandainya bisa. Lagipula memasak nggak membuat saya bahagia.

Saya dan Ilmu Parenting

Saat saya dan Cinta pindah ke Jakarta dari Sidoarjo, saya suka sekali ikut seminar dan komunitas parenting. Mulai yang temanya kesehatan sampai pola asuh anak. Bahkan sampai niat nyetir sendiri ke Jakarta dari Parung hanya berbekal GPS karena benar-benar buta jalan.

Tapi lantas saya mengalami tsunami informasi saking banyaknya ilmu yang saya peroleh. Saya overload sampai-sampai hanya sedikit sekali dari teori-teori parenting itu yang akhirnya dapat saya terapkan ke anak-anak. Dan sampai saat ini saya masih merasa fed up sehingga belum tergerak lagi untuk mengikuti pelatihan pola asuh walaupun sering galau menghadapi perilaku anak-anak.

Saya dan Crafting

Aktivitas lain yang saya sukai adalah crafting alias kerajinan tangan. Saat Cinta dan Keenan masih kecil, saya suka mengajaknya membuat aneka prakarya dan mainan DIY. Mulai dari rumah boneka dari kardus sampai membuat playdough yang aman untuk batita. Namun anak-anak semakin besar dan tidak berminat lagi bikin prakarya, saya juga semakin malas membereskan rumah yang berantakan setelah kami bebikinan.

Setelah saya pindah ke Brunei, saya pun bergabung dengan grup crafting ibu-ibu Indonesia. Di sini saya belajar crochet. Kegiatan belajar crochet bersama yang diadakan secara rutin dan kelompok yang suportif membuat saya lumayan betah melakukan aktivitas ini. Cukup banyak juga hasil crochet saya. Bahkan tiap mudik ke Surabaya saya suka sekali hunting hakpen dan benang di toko yang jual perlengkapan rajut di Plaza Surabaya. Atau mampir ke Hokko di Bandar Seri Begawan sekadar membeli benang atau kain.

crochet
Salah satu hasil crochet yang masih tersimpan sampai saat ini

Sayangnya seiring dengan krisis migas dunia beberapa tahun lalu, komunitas keluarga Indonesia di Seria & Kuala Belait pun terkena dampaknya. Banyak teman saya di grup crafting yang kembali ke Indonesia atau pindah ke negara lain. Lama-lama grup crafting pun bubar dan saya kehilangan motivasi untuk crocheting sampai akhirnya berhenti sama sekali. Padahal perlengkapan crochet yang sudah dibeli pun nggak sedikit, begitu juga benang dan buku yang akhirnya dibagikan ke teman-teman yang masih rajin merajut daripada mubazir.

Saya dan Fotografi

Setelah sekian lama nggak punya hobi produktif dan hanya menghabiskan waktu luang dengan membaca dan bermain media sosial. Akhirnya saya tertarik pada fotografi karena ingin memiliki feed instagram yang bagus dengan foto-foto berkualitas tinggi. Untuk mendukung hobi ini, selain ikut workshop online, saya juga mengikuti workshop offline memotret model yang diselenggarakan oleh Benchlab Brunei beberapa waktu lalu.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Alfa Kurnia | Blogger (@alfakurnia) on

Hanya saja, minat saya terhadap fotografi nggak berkembang. Nggak ada keinginan untuk terus menerus berlatih agak bisa menguasai kamera dan teknik-teknik fotografi. Bahkan sekarang sudah mulai malas membawa kamera ke manapun saya pergi dan kembali mengandalkan kamera telepon genggam. Untung suami saya paham sekali istrinya yang moody ini sehingga ia merasa cukup membelikan saya kamera mirrorless dengan fitur untuk pemula daripada kamera canggih yang mahal seperti di foto ini hahaha. Takut rugi dia.

Begitulah, hobi saya berganti mengikuti apa yang sedang ‘in’ di sekitar saya. Mungkin karena saya orangnya tipe follower banget atau malah mungkin tingkat FOMO, fear of missing out saya tinggi ya. Jadi ketika orang-orang sedang suka dengan aktivitas tertentu ya saya ikuti. Setelah merasa bisa dan bosan karena merasa nggak berkembang, ya sudahlah ditinggal lagi.

Sampai akhirnya saya mengikuti kelas Matrikulasi Ibu Profesional. Pada materi pertama yang diberikan, yaitu Adab Sebelum Ilmu, mengajarkan kita fokus belajar atau melakukan aktivitas yang benar-benar kita sukai saja agar tidak terjebak dalam tsunami informasi dengan mantera, “Menarik, Tapi Tidak Tertarik.” Padahal awalnya saya memutuskan untuk mengikuti Matrikulasi Ibu Profesional ini juga karena FOMO, lho hehehe.

Sejak itu, saya mulai memilah prioritas saya. Dan setelah menelusuri berbagai aktivitas yang pernah saya lakukan ada satu yang tetap saya lakukan sejak dulu sekali, yaitu menulis. Baik itu menulis di buku harian, menulis di blog sejak tahun 2004 dan menulis konten untuk beberapa situs parenting (hei, hasil seminar-seminar parenting yang dulu sering saya ikut ternyata nggak sia-sia, lho). Walaupun aktivitas yang terakhir ini sudah nggak lagi saya jalani, saya tetap menulis, terutama di blog dan instagram.

Hambatan dalam Menulis

Sayangnya, semangat menulis saya naik turun. Kalau sedang rajin, dalam sebulan blog ini bisa terisi seminggu sekali. Namun, kalau semangat menulis saya sedang turun, bisa lebih dari 3 bulan blog ini nggak saya update. Saya sendiri nggak tahu kenapa sering sekali kehilangan semangat menulis.

Kalau dibilang kehabisan ide, enggak juga sih. Di blog ini saja ada beberapa draft tulisan yang belum saya selesaikan. Di jurnal saya ada daftar ide tulisan yang menunggu dieksekusi. Bahkan saat saya menulis blogpost ini, setidaknya ada 2 ide yang menari-nari di kepala saya, yaitu perjalanan kami ke Kota Kinabalu dan rangkuman materi tips menulis agar tetap enak dibaca dari sesi Blogging & Writing Mentor Ibu Profesional Asia bulan lalu. Satu naskah untuk antologi RB Literasi IP Asia juga sudah mengendap di kepala menuntut dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Mungkin soal waktu? Ya sebenarnya kalau mau diadakan ya pasti adalah waktu untuk menulis. 1 jam dalam sehari pasti saya bisa meluangkannya. Tapi toh, akhirnya waktu itu lebih sering saya gunakan untuk scrolling instagram dan facebook daripada menulis.

Satu-satunya alasan yang bisa saya temukan adalah karena saya jenuh. Saat menulis di blog, apalagi karena saya sedang berusaha menjadi blogger profesional, saya ingin setiap postnya ini sempurna. Ya dengan memilih niche yang tepat,  tata bahasa yang baik, ilustrasi berkualitas, konten yang bermanfaat sampai SEO yang baik.

Jadi setiap akan menulis di blog saya harus membuat outlinenya dulu, lalu melakukan keyword research dan membuat ilustrasi yang baik. Itu menghabiskan waktu terlalu banyak hanya untuk menulis 1 blogpost dan seringkali terasa melelahkan. Untuk menulis blogpost ini saja saya membutuhkan waktu 2 jam sampai akhirnya dipublish, lho. Belum lagi nanti harus memantau pageview dan adsense. Padahal, aktivitas saya ya nggak cuma ngeblog kan.

Bagaimana Mengembalikan Semangat Menulis?

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mengembalikan semangat menulis? Saya masih cinta menulis dan ngeblog. Bahkan 2 bulan ini saya juga masih rutin mengisi blognya Ibu Profesional Asia dan saya sangat menikmatinya. Rasanya lebih mudah menulis di sana daripada mengisi blog sendiri. Mungkin karena materinya sudah tersedia dan saya hanya tinggal merangkai kata agar lebih nyaman dibaca?

Sayangnya kegiatan ini sebentar lagi pun harus saya lepaskan karena saya akan pindah dari Brunei kembali ke Indonesia, yang artinya keanggotaan saya sebagai member Ibu Profesional akan dimutasi dari IP Asia ke IP regional baru nanti. Hiks.

semangat menulis, bagaimana cara mengembalikannya

Untuk itulah saya mulai lagi belajar mengembalikan semangat menulis di blog ini dengan cara:

Cara Mengembalikan Semangat Menulis

  1. Mengikuti kelas menulis Belajar Menulis di Blog yang diselenggarakan oleh NulisYuk.
    mengembalikan semangat menulis
  2. Belajar membebaskan diri dalam menulis seperti yang disampaikan oleh mbak Kiki Handriyani, pemateri di kelas tersebut, “Tulis aja, tulis lagi, tulis terus sampai kamu menemukan tema apa yang cocok dengan dirimu.”
  3. “Fokus nulis, nulis dan memperbaiki tulisan. Rejeki akan datang ketika kita sudah siap mental, pikiran dan fisik,” pesan Mbak Kiki.
  4. Mendobrak kemalasan. Lagi-lagi ini wejangan dari Mbak Kiki. Hambatan utama saya adalah malas. Jadi yang harus dilakukan ya harus melawan kemalasan itu.
  5. Jaga mood dengan cara mencari kegiatan lain yang mendorong kita untuk tetap semangat menulis, seperti aktif di komunitas dan bertemu dengan orang lain yang memiliki passion yang sama.
  6. Targetkan seminggu sekali 1 tulisan artikel atau 2 hari sekali menulis status di Facebook. Mbak Kiki menantang kami untuk menulis status yang sesuai minat di Facebook. Tapi saya nggak suka main Facebook, so I will stick on blogpost sajalah.
  7. Fokuskan pada tujuan kita menulis untuk apa? Ingin jadi blogger profesional? Ingin mendapatkan pageview ribuan? Dapat uang dari adsense dan placement post? Atau berbagi dan menginspirasi? Apapun tujuannya ya harus mau bekerja keras untuk menulis kan? Semangat!
  8. Banyak membaca. Penulis nggak bisa menulis dengan baik kalau nggak suka membaca.

Begitulah sementara ini kesimpulan yang bisa saya peroleh dari sesi pertama kelas menulis online Belajar Menulis di Blog oleh Mbak Kiki Handrayani.

Harapan saya, setelah materi berakhir, saya dapat mengumpulkan lagi semangat menulis di blog sehingga blog Pojokmungil ini bisa saya update dengan teratur. Saya juga berharap tulisan saya menjadi lebih baik dan enak dibaca dengan feedback dari pemateri. Dan yang terakhir adalah mengembangkan networking sebagai blogger.

Teman-teman blogger ada yang pernah mengalami patah semangat dalam menulis? Atau writer’s block mungkin? Boleh dong berbagi tipsnya di kolom komentar. Ditunggu ya…

Mendapatkan SIM Brunei Nggak Susah, Kok.

Angkutan Umum di Brunei

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan teman-teman tentang Brunei adalah moda transportasi publiknya. Angkutan umum di Brunei nggak seperti sebagian besar kota di Indonesia yang memiliki aneka jenis dan rute. Bahkan baru-baru ini pemerintah Indonesia meresmikan MRT sebagai moda transportasi umum termutakhir yang diharapkan mampu mengurangi kemacetan di ibukota Jakarta.

Angkutan umum di Brunei terbatas jenisnya, hanya berupa bus besar dan kecil dengan rute yang nggak banyak. Misalnya ya bus laluan wilayah Belait yang pernah kami naiki beberapa waktu lalu. Atau bus antar distrik seperti rute Seria – Bandar Seri Begawan.

bus laluan belait, pojokmungil, brunei darussalam
angkutan umum di stasiun bus Seria

Sehingga kendaraan pribadi menjadi sangat penting dimiliki untuk bepergian di Brunei. Apalagi untuk keluarga yang memiliki anak usia sekolah. Kalau nggak ada mobil (= kereta dalam bahasa Melayu) ya susah mau anter jemput anak sekolah. Ikut mobil jemputan sekolah pun kurang praktis karena biasanya setelah sekolah pagi, anak-anak muslim di sini harus pergi ke Sekolah Ugama untuk mendalami agama Islam. Tapi bukan berarti nggak ada mobil jemputan sekolah, ada kok cuma nggak banyak. Beberapa teman sesama orang Indonesia juga ada yang memanfaatkan jasa mobil jemputan sekolah ini. Biasanya sih yang belum punya lesen memandu/driving license/SIM Brunei.

Mendapatkan Lesen Memandu di Brunei

Saya sendiri dulu baru punya SIM Brunei setelah 2 tahun tinggal di Brunei dan selama itu nyetir kemana-mana di Brunei hanya berbekal SIM Indonesia hahaha. Jangan ditiru ya. Alhamdulillah belum pernah kena tilang meski sering sekali melewati road block atau razia kendaraan bermotor. Tapi sekarang sudah mulai ketat ya razianya jadi sebaiknya kalau pindah ke Brunei sesegera mungkin mengurus lesen memandu Brunei, karena SIM Indonesia hanya berlaku di Brunei 3 bulan saja.

Setelah kita punya smart IC atau kartu identitas penduduk Brunei maka wajib hukumnya punya SIM setempat kalau ingin memandu kendaraan bermotor di Brunei Darussalam. Bahkan kalau kita memiliki SIM Internasional yang dibuat di Indonesia pun tetap harus punya driving license Brunei.

Menurut saya sih, nggak susah kok mengurus SIM Brunei ini, apalagi kalau sudah punya SIM Indonesia. Tapi kalau belum punya harus ikut sekolah mengemudi dulu di sini baru setelah itu bisa mengurus lesen memandu. Konon biaya sekolah mengemudi di Brunei ini cukup mahal, kabar yang saya dengar mencapai B$200 atau setara dengan Rp 2.000.000.

Nah, kalau sudah punya SIM Indonesia cukup sederhana kok mengurus SIM Brunei, yang nggak mudah itu kalau pakai tes hehehe. Tapi nggak semua melalui tes mengemudi sih, seperti saya misalnya. Mungkin karena saat itu saya ke Jabatan Pengangkutan Darat sambil bawa Keenan yang masih bayi. Atau karena mereka merasa bersalah karena sempat menghilangkan berkas pendaftaran SIM saya sehingga saya nggak disuruh menjalani tes mengemudi.

Cara Mengurus Lesen Memandu Brunei bagi pemilik SIM Indonesia:

  1. Ke KBRI untuk minta endorsement SIM Indonesia dengan biaya B$25. Biasanya selesai dalam 1-2 hari kerja.

    SIM Brunei, JPD Kuala Belait
    Jabatan Pengangkutan Darat Kuala Belait
  2. Datang ke Jabatan Pengangkutan Darat atau Land Transport Department terdekat untuk mengambil borang atau formulir pendaftaran lesen memandu atau SIM Brunei.
  3. Isi borang dan lengkapi dokumen yang diminta yaitu:
    1. Surat Keterangan atau endorsement dari KBRI.
    2. Fotokopi SIM Indonesia tampak depan dan belakang.
    3. Fotokopi paspor halaman data diri dan halaman visa atau dependant pass.
    4. Fotokopi IC.
    5. Untuk pekerja asing seperti suami saya biasanya diminta surat keterangan dari kantor.
    6. Untuk pemegang dependant pass seperti saya biasanya diminta menyertakan surat keterangan dari kantor suami.
  4. Menyerahkan borang dan dokumen ke JPD untuk diperiksa dan jika lengkap akan diminta menemui pegawai JPD untuk diwawancarai.
  5. Pegawai JPD akan menentukan apakah perlu tes mengemudi atau tidak.
  6. Kalau perlu tes mengemudi akan dibuat jadwal tes dan mengikuti instruksi selanjutnya. Kalau tidak lulus tes akan diminta untuk tes ulang beberapa waktu kemudian.
  7. Kalau nggak pakai tes mengemudi, berkas dikembalikan ke kita untuk diserahkan ke kaunter.
  8. Bayar $10 untuk pertukaran (endors) lesen luar negeri.
  9. Foto dan rekam data diri.
  10. SIM Brunei bisa diambil sesuai dengan instruksi pegawai JPD. Sementara itu kita akan diberi slip yang berfungsi sebagai SIM sementara.

Lesen memandu atau driving license atau SIM Brunei ini memiliki beberapa masa berlaku. Ada yang 1 tahun dengan bayaran $10, 3 tahun = $30, 5 tahun = $50 dan 10 tahun = $100. Namun bagi yang pertama kali mengurus SIM Brunei cuma bisa memilih masa berlaku 1 atau 3 tahun. Setelah habis masa berlaku bisa deh membuat SIM baru dengan masa berlaku 1, 3, 5 atau 10 tahun.

Memperbarui SIM Brunei

SIM Brunei, JPD
counter layanan lesen memandu di JPD

Membuat SIM baru setelah masa berlaku hampir habis juga simpel banget. Yang perlu kita lakukan hanyalah:

  1. Datang ke JPD dengan membawa IC yang masih berlaku dan SIM lama.
    Bagi foreigner seperti saya ada tenggang waktu sampai 2 bulan setelah masa berlaku habis untuk membuat SIM baru. Lebih dari 2 bulan harus mengulang proses pembuatan SIM dari awal lagi (dengan endorse, isi borang, foto, dll). Jadi jangan sampai tunggu masa berlaku SIM habis ya, lebih baik ganti lebih awal. Biasanya menjelang masa berlaku SIM Brunei habis, kita akan dapat SMS dari JPD yang mengingatkan kita untuk mengganti SIM.
  2. Isi borang jika diperlukan (misalnya pindah alamat atau ganti foto baru)
  3. Ambil nomor antrian
  4. Saat nomor antrian dipanggil, serahkan IC dan SIM lama ke counter renewal driving license dan membayar biaya SIM baru sesuai dengan masa perpanjangan yang diinginkan.
  5. Tunggu 5-10 menit dan kita bisa pulang dengan SIM baru.

Catatan: untuk warga senior (di atas 60 tahun) harus menyertakan surat keterangan sehat dari dokter. Di mana pemeriksaan kesehatan ini dilakukan secara serius lho. Nggak kaya di klinik tempat saya memperbarui SIM Indonesia kemarin yang cuma diperiksa tensi trus dikasih surat keterangan sehat.

Sederhana kan.

Biasanya, renewal SIM ini bisa juga dilakukan di kantor pos. Tapi bulan ini saat saya mau memperbarui SIM, sistem di kantor pos sedang mengalami gangguan teknis jadi semua diarahkan ke JPD. Sehingga yang tadinya nggak pernah antri tiap memperbarui SIM kali ini harus antri lama, bahkan sebelum kantor JPD buka. Tapi nggak papa sih wong setelah kantor dibuka proses dari ambil nomer antrian sampai SIM baru saya dapat 15 menit saja. Coba ya di Indonesia bisa begitu.

Aturan Pakaian

Ada dress code yang harus dipatuhi saat kita berurusan dengan kantor pemerintahan seperti JPD dan imigrasi. 2 kantor yang akan sering kita kunjungi selama tinggal di Brunei.

Secara umumnya ya harus berpakaian rapi dan sopan dengan memakai pakaian berlengan dengan panjang baju minimal di bawah lutut. Nggak boleh pakai sandal jepit ya.
Celana jeans boleh? Boleh asal panjangnya di bawah lutut.
Boleh pakai kaos? Boleh asal berlengan.
Yang perempuan harus berjilbab? Enggak.

Manner is The Key Thing

Yang penting bersikaplah baik dan sopan saat berurusan dengan pegawai pemerintah. Nggak jarang kita ini dipandang dengan sebelah mata oleh orang lokal karena Indonesia terkenal sebagai pengekspor tenaga kerja asing sektor domestik terbesar selain Filipina, jadi ya banyak yang menganggap kita semua ini amah (PRT) atau pekerja non profesional. Tapi jangan trus jadi jutek. Nanti bisa-bisa dipersulit.

Ramah ajalah, kalau ditanya ya jawab yang baik. Kalau kita yang perlu bertanya ya bertanyalah dengan sopan, “Maaf tuan/puan, kalau saya mau begini harus bagaimana ya?” Dan jangan lupa ucapkan terima kasih. Jangan gampang baper. Kalaupun baper ditahan aja, ntar boleh dicurahkan begitu sampai rumah. Anggap aja resiko numpang kerja dan tinggal di negara orang.

quote about manners

Tapi, pengalaman saya (dan teman-teman) sih selama kami berpakaian sopan dan rapi dan bicara dengan baik, rata-rata pegawai pemerintahan di sini juga bersikap ramah dan segan kepada saya. Bahkan lebih baik daripada layanan publik di kantor pemerintahan di Indonesia. Hmmmm boleh ya tolong revolusi mental itu Disdukcapil, kelurahan dan Polres di kabupaten saya.

Oya, satu cerita lagi nih. Waktu saya mengurus dokumen untuk endorsement SIM tahun 2014, pegawai toko tempat saya fotokopi dokumen cerita kalau saat itu orang Indonesia agak susah endorse SIM. Katanya, gara-gara ulah sebagian pekerja migran yang ‘nembak’ SIM Indonesia di Pontianak, padahal sebenarnya mereka belum bisa nyetir mobil. Memang sih dari Brunei ke Pontianak bisa ditempuh dengan jalan darat, kalau nggak salah memakan waktu 24 jam perjalanan. Akhirnya setelah beberapa orang ketahuan kalau mereka nggak bisa nyetir, endorsement SIM Indonesia ke SIM Brunei diperketat. Banyak orang Indonesia terpaksa harus menjalani tes mengemudi saat mengurus SIM Brunei.

Jadi pesan saya, nggak usahlah pakai nembak SIM segala. Belajarlah mengemudi dulu yang benar baru bikin SIM Indonesia lalu endorsement SIM Brunei. Lebih aman dan nggak menyusahkan sesama orang Indonesia.

Nah teman-teman ada yang punya pengalaman mengesankan atau mengesalkan saat membuat SIM di Indonesia maupun di luar negeri? Yuk, berbagi di kolom komentar.

Pindah Rumah Bebas Stres, Mungkinkah?

Pindah rumah bebas stres, mungkinkah? Nggak mungkin! Setidaknya berdasarkan pengalaman saya 6 kali pindah rumah, rasanya nggak pernah nggak stres. Begitu juga ketika saya mengamati teman-teman saya yang harus pindah dari Brunei ke Indonesia maupun negara lain tujuan mereka selanjutnya. Beuh, yang namanya stres pasti ada.

pindah rumah

Begitu juga saat kami pindah rumah awal bulan Maret ini. Meskipun jarak rumah lama dan rumah baru cuma 2km tapi tetap aja stres. Apalagi barang yang harus dikemas kali ini jauh lebih banyak dari pindahan sebelumnya. Kalau dipikir-pikir ya, saya dan Cinta datang ke Brunei ini hanya dengan 2 koper ukuran besar. Lha setelah 7 tahun tinggal di sini jadi beranak pinak menjadi 4 koper besar, 4 koper kecil, beberapa traveling bag, dan berkotak-kotak kardus yang bisa memenuhi bak truk sepanjang 6 meter *tepok jidat*.

Kenapa Harus Pindah Rumah?

Sebenarnya niat pindah ini sudah ada sejak 3 tahun yang lalu. Meskipun rumah yang kami sewa itu cukup nyaman, tapi ada beberapa hal yang menyebabkan kami, khususnya saya, ingin pindah.  Sayangnya, karena berbagai hal niat tersebut belum juga terealisasikan. Padahal hampir setiap tahun kami berburu rumah atau apartemen baru.

Nah, tahun ini niat itu akhirnya terealisasikan. Peristiwa pencurian sampai 4 kali yang kami alami di rumah lama dalam jangka waktu 1 bulan, membuat kami mantap untuk pindah rumah. Alhamdulillah, kami pun mendapatkan rumah baru yang lebih nyaman di lokasi yang lebih baik. Meskipun jarak ke sekolah anak-anak jadi lebih jauh.

Rumah yang baru kami tempati ini biasa disebut apartemen meski secara bentuk lebih tepat disebut sharing house. Apartemen kami ini berupa satu rumah besar bertingkat 2. Masing-masing lantai memiliki 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, 2 kamar mandi, 1 toilet dan dapur sendiri. Jadi ya seperti apartemen pada umumnya, meski dalam 1 bangunan tetap terpisah.

Model apartemen atau rumah sharing seperti ini umum dijumpai di Kuala Belait, walaupun apartemen beneran yang berupa gedung bertingkat juga ada. Hunian berupa apartemen ini banyak jadi pilihan para pekerja asing karena biasanya sudah dilengkapi perabotan dan ada fasilitas maintenance. Sehingga penghuni nggak perlu repot-repot cari tukang lagi untuk benerin AC misalnya atau ledeng bocor. Tinggal bilang aja ke pemilik apartemen atau pengurus gedung untuk benerin yang rusak. Saya juga nggak perlu bayar listrik, air dan gas serta iuran sampah karena sudah termasuk dalam biaya sewa rumah. Praktis kan. Lumayan mengurangi beban pikiran emak rempong ini.

Pindah Rumah Minim Stres, Bisa!

Sempat sedih juga sih waktu mau pindah dari rumah lama. Maklum, kami tinggal di situ tepat 5 tahun. Pemilik rumah lama juga baik sekali, sepasang pensiunan yang sudah menganggap kami sebagai anaknya sendiri. Namun, kesedihan itu baru terasa waktu benar-benar mau pamitan dengan pemilik rumah sewa. Sejak kami menandatangani kontrak dengan pemilik rumah baru yang ada adalah perasaan bingung dan stres. Karena pindahan kali ini kami nggak cuma bawa badan dan baju. Justru banyak sekali yang harus dilakukan. Mulai dari jual perabotan rumah karena rumah baru sudah fully furnished, relokasi sambungan internet dari rumah lama ke rumah baru, relokasi tv berlangganan, packing, cari truk untuk angkut barang dan lain-lain.

pindah rumah

Kesannya sih gampang ya, tapi percayalah dalam waktu sebulan itu waktu, pikiran dan energi saya benar-benar habis untuk urusan pindah rumah ini. Apalagi saya benar-benar mengurus pindahan ini sendirian, karena anak-anak ya masih kecil dan suami kerja sehingga nggak bisa bantu saya packing, sementara si mbak asisten part time ya tugas utamanya bantu-bantu bebersih rumah aja.

Tapi alhamdulillah, berdasarkan pengalaman beberapa kali pindahan dari Sidoarjo ke Jakarta, Jakarta ke Sidoarjo lagi, Sidoarjo ke Parung, Parung ke Sidoarjo lagi, Sidoarjo ke Brunei dan Sg. Liang ke Seria saya mempelajari beberapa hal yang bisa membantu saya untuk pindahan dengan lebih smooth. Meski nggak membuat saya bebas stres tapi dengan melakukan beberapa cara ini setidaknya proses pindahan jadi lebih bearable.

Mau tahu apa saja yang bisa kita lakukan untuk mempermudah pindah rumah? Ini dia caranya:

1. Mulai Lebih Awal

Saat tahu kami akan pindah rumah, seorang sahabat sudah mengingatkan saya untuk mulai mengemas barang sedini mungkin dan memindahkan barang-barang ke rumah baru secara bertahap. Oleh karena itu, sejak kami menandatangani kontrak sewa rumah baru, saya mulai berbenah. Hampir setiap ada waktu luang saya memilah-milah barang yang bisa disimpan lebih dulu di dalam kardus dan barang-barang yang harus dibuang. Sehingga dalam 2 minggu pertama, rumah kami sudah penuh kardus dan nampak berantakan sekali hahaha.

pindah rumah

Karena rumah lama dan rumah baru jaraknya dekat, setelah pemilik rumah baru memberi kunci rumah, saya pun memindahkan dan menata barang-barang sedikit demi sedikit. Mulai dari yang ringan dan paling jarang dipakai dulu, seperti mainan anak-anak dan barang dapur yang hanya dipakai sesekali. Cara ini juga bikin saya hemat kardus, karena kotak-kotak plastik dan kardus-kardus dari barang yang sudah dipindahkan ke rumah baru bisa saya gunakan lagi untuk menyimpan barang-barang lain di rumah lama.

2. Siapkan Perlengkapan Untuk Pindah Rumah

Kardus, selotip, plastik sampah, gunting, tali dan kertas pembungkus barang pecah belah harus sudah siap saat kita mau packing barang. Alhamdulillah, sahabat-sahabat yang sudah pindah dari Brunei suka ngasih kardus khusus pindahan yang besar dan bahannya tebal saat mereka packing, sehingga saya nggak perlu beli lagi, karena kalau beli harganya lumayan mahal. Sehingga saat saya mulai berkemas, kardus dan teman-temannya sudah siap untuk digunakan. Irit waktu dan mengurangi beban pikiran. Jazakunnallahu khairan, My dear sisters.

3. Pilah Barang Sesuai Peruntukannya dan Beri Label

Sebenarnya urusan memilah barang ini tergantung selera ya. Ada yang mengumpulkan barang berdasarkan jenisnya atau kebutuhannya. Kalau saya selain memilah barang berdasarkan jenisnya juga berdasarkan kepemilikannya. Misalnya, buku milik saya dan suami yang akan diletakkan di ruang kerja saya pisahkan dengan buku anak-anak yang akan diletakkan di kamar mereka masing-masing. Begitu juga dengan mainan Keenan saya simpan dalam kardus terpisah dari mainan kakak. Pakaian pun saya simpan dalam koper yang berbeda. Lantas masing-masing kardus diberi label misalnya: Mainan – Kamar Keenan, Buku – Ruang Depan, Alat Masak – Dapur, Peralatan Papa – Ruang Depan, dll.

pindah rumah

Jadi, waktu diangkut ke rumah baru, bisa langsung diletakkan di ruangan yang berbeda. Sehingga nggak semua kotak dan koper numpuk di satu ruangan di rumah baru. Cara ini juga memudahkan saya saat unpacking. Karena semua sudah tinggal menyusun di tempat yang tepat. Dengan metode ini alhamdulillah dalam waktu kurang dari 3 minggu, 90% barang kami sudah tersusun rapi di tempatnya.

4. Decluttering

Menilik pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu pindahan dan merasa repot dengan banyaknya barang yang tersimpan di rumah mereka meski sebenarnya sudah nggak terpakai, momen pindahan ini juga kami gunakan untuk meminimalkan barang-barang yang kami miliki. Secara kalau waktunya kembali ke Indonesia nanti kami nggak dapat container dari perusahaan, mau nggak mau nggak banyak barang yang bisa kami bawa balik. Daripada repot nanti mendingan dicicil dari sekarang kan.

Walaupun sebenarnya setiap 6 bulan saya sudah berusaha untuk decluttering barang-barang yang ada di gudang, mainan anak-anak, buku dan baju. Ternyata masih aja tetap banyak banget barang kami. Hadeeeuh.

Jadi saat memilah barang, harus benar-benar selektif. Selain karena di rumah baru nggak ada gudang, saya berusaha agar barang yang kami bawa benar-benar barang yang kami butuhkan dan atau spark joy. Perabotan rumah sebagian besar kami jual. Meski agak pedih hati ya karena harga jualnya jatuh banget. Tapi lumayan lah hasil penjualannya bisa untuk operasional pindahan seperti bayar sewa truk, beli perlengkapan bersih-bersih dan rak-rak baru serta bayar ongkos lembur mbak asisten paruh waktu.

decluttering, pindah rumah, gilmore girls, sparks joy
sepertinya Marie Kondo terinspirasi dari Emily Gilmore nih

Sedangkan barang-barang yang nggak kami butuhkan lagi namun masih bagus saya titipkan ke mbak asisten paruh waktu untuk dikasih ke siapa aja yang membutuhkan. Sementara barang yang sudah nggak layak guna tapi disimpan karena sayang meski sebenarnya sudah nggak spark joy terpaksa dibuang. Dan ternyata ya selama ini kami menyimpan banyak sekali ‘sampah’. Dengan begini saat pindah ke rumah baru, nggak ada lagi sampah yang kami bawa.

5. Minta Bantuan Orang Lain

Tinggal jauh dari keluarga bikin kami harus mandiri kan. Tapi bukan berarti nggak bisa minta bantuan dari siapa-siapa. Anak-anak saya kerahkan untuk memilah mainan dan buku-buku yang mau mereka simpan, sedangkan mbak asisten paruh waktu saya tambah jam kerjanya untuk membersihkan rumah baru sebelum kami tempati.

pindah rumah
Cinta dan Keenan mengemas barang-barangnya sendiri

Bantuan lain seperti rekomendasi truk untuk pindahan, menyebarkan info bahwa kami menjual perabotan rumah juga kami pinta dari rekan kerja suami dan teman-teman saya. Bahkan bantuan spiritual seperti doa dari orang tua dan keluarga kami juga sangat bermanfaat dalam memperlancar proses pindahan ini.

Mencari truk untuk pindahan ini punya kesan tersendiri untuk saya. Saat mulai cari info rental truk, banyak yang menyarankan agar kami mencari sesama orang Indonesia aja. Tapi ini nggak gampang ternyata. Bahkan sampai H-1 pindahan saya belum juga mendapatkan truk. Alhamdulillah, malam itu suami mendapat rekomendasi dari teman kerjanya. Setelah saya hubungi, harga yang dia minta lebih mahal dari jasa sewa truk yang lain. Selisihnya sampai $20.

Walaupun sempat ragu, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa jasanya. Dan alhamdulillah nggak menyesal meski bayar lebih mahal karena memang kerja mereka bagus sekali. Bahasa juga nggak jadi masalah karena sama-sama orang Indonesia, malah kami berasal dari satu provinsi. Saya dari Sidoarjo, masnya itu dari Blitar. MasyaAllah, pokoknya saya dan suami seneng banget dengan cara kerja mereka.

6. Membersihkan Rumah Baru Sebelum Ditempati

2 kali pindah rumah selama di Brunei ini, selain mencicil memindahkan barang, hal yang penting bagi saya adalah membersihkan rumah baru sebelum ditempati. Rumah yang lama kosong tentu kotor ya dan membersihkan rumah kosong tentu lebih mudah daripada yang sudah penuh dengan kardus dan koper. Walaupun menurut si Mbak sih lebih melelahkan membersihkan rumah kosong.

Dengan 6 hal yang tersebut, alhamdulillah pindah rumah kami berjalan lebih lancar. Kendala dan stres tentu tetap ada, tapi masih bisa diatasilah. Meski begitu saya berharap semoga setidaknya kami bisa tinggal di rumah ini minimal sampai 1 tahun lagi. Karena kalau harus packing dan pindah lagi dalam waktu dekat rasanya saya nggak sanggup hahaha.

Alhamdulillah anak-anak yang tadinya nggak mau pindah dari rumah lama sekarang justru suka banget dengan rumah barunya. Terutama si Kakak yang mendapatkan kamar terbagus di rumah ini. Saya masih beradaptasi dengan jarak tempuh rumah dan sekolah. Juga masih bingung menyimpan perlengkapan bebersih dan beberapa kotak yang berisi peralatan milik suami karena nggak punya gudang lagi. Serta masih harus membiasakan anak-anak untuk nggak lari-larian dan bersuara keras di malam hari karena akan mengganggu tetangga di bawah kami.

But so far we’re happy. InsyaAllah rumah baru ini lebih aman dan nyaman. Dekat juga dengan masjid besar di daerah Pandan 7, sehingga suara adzan kadang masih terdengar. Karena kami tinggal di lantai atas, kalau pagi masih suka terdengar suara burung berkicau. Alhamdulillah.

 

 

 

 

Hari Pertama Sekolah, Keenan Jadi Murid Primary

K's first day at primary

Hari ini genap 2 minggu Keenan menjalani hari-harinya sebagai murid Primary 1 atau kelas 1 SD kalau di Indonesia. Jujur aja sebenarnya saya agak berat mengantarkan dia ke Primary school tahun ini. Masalah utamanya adalah umur Keenan yang belum lagi 6 tahun. Iya, pada hari pertama masuk sekolah tanggal 2 Januari kemarin, Keenan baru berusia 5 tahun 10 bulan. Terlalu muda memang.

Usia dan Tingkat Kematangan Anak Sekolah

Usia memang punya faktor penting dalam kematangan anak sekolah. Menurut situs www.klinikmylovelychild.com, kematangan masuk sekolah adalah kondisi saat anak sudah siap seusai standar fisik, intelektual, mental, keterampilan, serta perkembangan sosial yang sesuai dengan sekolah formal. Memiliki kematangan sekolah ini penting lho, agar anak benar-benar siap masuk sekolah, terutama sekolah dasar yang tuntutannya sudah berbeda dari pra sekolah. Sehingga nggak terjadi kegagalan dalam proses pendidikan, kesulitan belajar, gagal sekolah, atau mogok sekolah.

Memang sih, tiap anak berbeda. Ada anak yang belum 6 tahun tapi sudah lebih matang daripada anak-anak seusianya. Nggak usah jauh-jauh deh, 2 orang keponakan saya dan 1 anak teman saya yang lahir cuma beda 1-2 bulan lebih muda dari Keenan, sudah lebih matang secara mental, keterampilan dan perkembangan sosialnya. Mereka, di usia belum 6 tahun sudah bisa membaca kalimat sederhana, menulis dengan rapi, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa mengetik dan membuat karangan di komputer.

syarat masuk sekolah dasar

Tapi untuk kasus Keenan ya bagi saya memang dia belum punya kematangan sekolah.

Hal ini juga dipahami oleh guru-gurunya di Kindergarten, terutama class teachernya. Begitu tahu kalau Keenan adalah salah satu yang paling muda di kelas, dia langsung bisa menarik kesimpulan bahwa salah satu penyebab Keenan kewalahan mengikuti aktivitas belajar mengajar khususnya menulis adalah karena dia belum matang. “He hasn’t reach that maturity level yet. That’s why he’s still struggle to read, to write and can’t focus long enough.”

Selain usia, bisa jadi speech delay dan short attention span atau keterlambatan bicara dan tingkat konsentrasi yang pendek menjadi penyumbang faktor lambatnya kematangan Keenan. Jadi, saya sadar diri untuk nggak membandingkan Keenan dengan anak lain seusianya. Tapi saya juga sadar faktor usia mempunyai pengaruh penting dalam kesiapan anak masuk sekolah.

Baca juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

Primary 1 di Brunei

Karena itulah, menjelang kelulusan kindergarten saya galau luar biasa. Dilema antara membiarkan Keenan lanjut ke Primary atau memintanya untuk mengulang KG3.

Lho, emang di Brunei usia nggak jadi syarat masuk sekolah dasar atau Primary? Yayaya, saya tahu bakal ada yang tanya gitu hehehe. Ada kok. Untuk masuk Primary, minimal anak berusia 6 tahun di bulan Maret. Nah, pas banget, Keenan di bulan Maret tahun ini sudah 6 tahun. Jadi dia bisa masuk. Dan semua anak yang sudah berusia minimal 6 tahun di bulan Maret tahun ajaran berlangsung wajib diterima di Primary School atau Sekolah Rendah manapun. Tanpa perlu tes macem-macem. Nggak peduli anaknya bisa baca tulis atau enggak, bisa berhitung atau enggak, masih nangis kalau ditinggal sendiri. Pokoknya udah 6 tahun udah bisa sekolah.

hari pertama sekolah

Oya, di sini anak umur 7 tahun wajib masuk sekolah (mungkin ada perkecualian untuk anak berkebutuhan khusus ya). Kalau nggak sekolah, orang tua bisa kena hukuman denda atau penjara. Jeng jeng jeng. Jadi, homeschooling in Brunei is not an option.

Nah, karena itu, class teacher dan KG supervisor Keenan nggak membiarkan dia ‘menahan’ alias mengulang kelas, meskipun dia belum punya kematangan sekolah. “It’s oke, Mummy. Let him try year 1. If he can’t cope this year, he can stay at year 1 the next year,” gitu saran dari guru kelasnya. Ya sudah sik, akhirnya itu jadi salah satu pertimbangan saya mendaftarkan Keenan ke Primary 1. Walaupun rasa cemas itu tetap ada. Wajar kan ya. Iya, nggak?

Baca juga: Keenan: Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

Mengatasi Kecemasan Masuk Sekolah Dasar

Meski akhirnya saya memutuskan Keenan masuk Primary 1 (suami sebenarnya ingin Keenan ngulang KG 3 aja), hati saya tetap nggak tenang. Dan di hari pertama sekolah, saya yang stres. Anaknya sih agak takut tapi begitu lihat beberapa temannya dari KG ada di kelas yang sama, dia langsung tenang.

Saya sendiri khawatir dia nggak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik di sekolah. Karena di sekolah dasar kan anak-anak sudah belajar beneran.Di mana, mereka harus mencatat pelajaran dari gurunya juga ada PR dan ulangan. Saya takut Keenan nggak bisa memahami instruksi gurunya, nggak bisa mencatat, atau nggak berani ke toilet sendiri. Pokoknya mah mamak ini cemas aja bawaannya.

Sampai pagi itu saya ketemu dengan kepala Primary yang sudah lama saya kenal sejak kakak sekolah di situ. Curhatlah saya ke beliau tentang Keenan yang belum bisa baca tulis dengan baik dan semua kekhawatiran saya.

Eh, responnya baik sekali. Beliau menyarankan saya untuk ngobrol ke guru kelasnya Keenan, “Tell the teachers about that, so they can talk slower to him. But I told the teachers who teach at this class actually. Because this class is special. Some of them are still young and can’t write or read properly. That’s why we put them together at one class instead of mixing them with the good (at writing, reading and more mature) ones,” ujarnya memenangkan saya. Beliau juga bilang kalau sekolah akan berusaha semaksimal mungkin dalam membantu anak-anak yang belum bisa baca tulis agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Duh, rasanya pundak saya langsung terasa lebih ringan karena tahu saya nggak akan berjuang sendirian. Nggak masalah bagi saya kalau Keenan ditempatkan di kelas spesial. Justru dengan begitu dia nggak akan dipaksa lari untuk mengikuti ritme teman-temannya karena mereka berada di pace yang sama. Guru-guru juga akan lebih sabar dalam mengajari anak-anak ini.

Mengatasi Kecemasan Orangtua

Berkenalan dengan guru atau kepala sekolah dan berbicara kepada mereka tentang kekhawatiran kita cara terbaik untuk mengatasi rasa cemas saat anak akan masuk sekolah dasar.

Selain itu beberapa cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan orangtua saat anaknya masuk sekolah dasar:

1. Berkenalan dengan orangtua lain.

Punya teman sesama orangtua yang anaknya juga baru masuk sekolah bikin kita lebih tenang karena ada teman senasib. Kita bisa saling curhat dan saling menjaga anak-anak di minggu pertama mereka bersekolah.

Karena Keenan bersekolah di tempat yang sama dengan TKnya dulu, otomatis sebagian besar temannya dari TK yang sama. Sehingga saya sudah kenal dengan sebagian besar ortu teman-teman Keenan di Primary School. Jadi di hari pertama anak-anak sekolah, kami ngobrol dan curhat di depan kelas anak-anak. Dan ternyata memang nggak cuma saya yang punya kekhawatiran tersebut. Akhirnya malah kami saling support. Kecemasan saya sedikit berkurang.

Berkenalan dengan orangtua murid yang lebih senior juga nggak ada salahnya, lho. Mereka biasanya sudah lebih paham sistem di sekolah tersebut. Jadi kalau kita bingung nggak tahu harus bagaimana saat anak mengalami kesulitan, mereka biasanya bisa memberi saran. Itu yang saya alami saat Cinta awal-awal masuk Primary School dulu.

2. Bergabung dengan kegiatan di sekolah.

Banyak orang tua yang malas terlibat di kegiatan sekolah termasuk saya. Padahal dengan cara ini kita bisa lebih mengenal guru-guru dan teman-teman anak di sekolah tersebut. Kita juga bisa mengamati cara guru berinteraksi dengan orangtua dan siswa di luar kelas. Sehingga kita tahu apakah anak nyaman atau tidak di sekolah tersebut.

Oya dengan kita terlibat dengan kegiatan sekolah atau ikut persatuan orangtua murid dan guru, anak juga akan merasa didukung oleh orangtua, lho. Tapi juga jangan berlebihan sampai kita menginterupsi cara belajar dan mengajar guru di kelas ya. Nanti jadi helicopter parent dong kita. No no no. Cukup mengamati dari jauh. Beri bantuan dan dukungan kepada para guru agar mereka tahu bahwa kita bisa diandalkan untuk bekerja sama meningkatkan kemajuan pendidikan anak-anak.

3. Tanya anak tentang aktivitas dan perasaannya di hari pertama sekolah.

Dengan menanyakan pengalaman hari pertama anak di sekolah dasar, kita bisa tahu kesan pertama anak terhadap perannya sebagai anak SD. Karena tentu berbeda sekali dengan anak TK. Dengan begitu kita mengerti apa yang disukai dan tidak disukai anak. Atau apa yang membuatnya senang atau sedih. Sehingga kita bisa membuat anak nyaman dan rasa cemas kita berkurang. Tapi ya nggak usah diinterogerasi juga anaknya. Nggak semua anak suka bercerita. Ada yang kalau ditanya, “Gimana tadi sekolahnya?” cuma jawab, “Oke.” ya nggak papa juga. Coba ganti pertanyaannya dengan yang lebih spesifik lagi.

Baca juga: 20 Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

 

2 Minggu di Primary 1

Jadi, setelah 2 minggu di Primary 1 saya lihat Keenan mulai bisa beradaptasi. Kalau ditanya soal pelajaran dia bisa jawab, bahkan mulai bisa menghafal beberapa kata (iya, bagi dia lebih mudah menghafal bentuk kata daripada mengeja kata karena anak ini ingatannya bagus sekali). Walaupun kalau lagi nggak mood di pagi hari ya kumat juga malesnya belajar sekolah. Tapi, sejauh ini sih saya lihat Keenan cukup oke. Saya tanya ke guru kelasnya juga mereka nggak ada komplain tentang ketidakmampuan atau perilaku Keenan di sekolah. Alhamdulillah. Semoga ke depannya akan semakin membaik ya. Tolong doakan kami.

Anak Berkata Kasar, Apakah Dia Anak Nakal?

Pernah nggak sih mendengar anak berkata kasar? Trus biasanya reaksi sahabat PojokMungil gimana? Saat anak berkata kasar, biasanya reaksi pertama kita adalah kaget dan menganggap mereka anak nakal. Apalagi kalau sehari-hari kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nggak mengeluarkan kata-kata yang nggak sopan saat berbicara atau marah. Tapi langsung memarahi mereka ternyata juga bukan solusi yang tepat untuk menghentikan anak berkata kasar.

anak nakal, anak berkata kasar

Kebanyakan anak mengucapkan kata yang tidak sopan karena mendengar dari lingkungannya atau TV. Saya dulu juga pernah seperti itu tapi bukan berarti saya anak nakal lho. Setidaknya menurut ibu saya sih begitu.

Saya suka banget menonton serial seperti MacGyver, Airwolf dan Knight Rider saat masih kecil. Dari situ saya mendengar kata-kata umpatan dalam bahasa Inggris yang sering mereka ucapkan. Tentunya saya nggak tahu artinya apa. Cuma kok kayanya keren gitu lho. Akhirnya, saya jadikan kata-kata itu sebagai kosakata sehari-hari. Sampai suatu hari mama saya mendengar saya mengucapkan kata tersebut. Langsung deh kena marah. Apakah sejak itu saya kapok? Enggak. Saya memang nggak mengucapkan kata itu lagi, tapi setiap saya menemukan umpatan baru yang terdengar keren ya saya coba lagi.

Kejadian yang sama terulang bertahun-tahun kemudian antara saya dan Cinta. Tiba-tiba saja dia mengumpat dalam bahasa Inggris. Nggak cuma sekali dan meskipun sudah berkali-kali ditegur tetap diulangi lagi. Kejadian ini yang akhirnya membuat saya menulis status di Facebook saya 6 tahun lalu.

Anak Berkata Kasar Bukan Berarti Anak Nakal

Dari jawaban teman-teman yang saya terima terhadap status tersebut, saya sadar kalau bukan saya seorang yang mengalami hal ini. Mendapati anak berkata kasar ternyata juga dialami oleh orang tua yang lain. Jadi nggak perlu merasa terlalu bersalah kalau tiba-tiba mendengar anak berkata kasar. Hal ini bukan berarti mereka adalah anak nakal dan kita adalah orang tua yang buruk, apalagi kalau memang bukan kita yang mengajarkan anak berkata seperti itu.

Lingkungan pergaulan dan tontonan bisa menjadi sumber utama anak mendengar kata-kata tersebut. Dan karena anak adalah peniru ulung, bisa saja dia menyerap kata-kata tersebut dan mengucapkannya tanpa tahu arti sebenarnya. Jadi, saat kita mendengar anak berkata kasar, daripada langsung memarahinya, coba lakukan hal berikut ini:

1. Bersikap Tenang

Bersikap tenang saat mendengar anak berkata kasar memang sulit. Apalagi kalau waktu itu kita lagi di tempat umum. Bayangkan semua mata memandang seolah-olah anak kita itu anak nakal yang nggak pernah diajar sopan santun sampai bisa berkata seperti itu.

Tapi kalau kita bereaksi berlebihan seperti langsung menghardiknya, memarahinya atau mungkin mentertawakannya, justru akan membuat anak bingung. Bahkan untuk anak yang kurang perhatian, reaksi kita bisa membuat dia mengulangi perbuatannya karena bagi dia dimarahi adalah bentuk perhatian. Sedangkan dia membutuhkan perhatian itu, jadi ya otomatis anak akan mencoba lagi berkata kasar agar mendapat perhatian dari orang tuanya. Akhirnya malah nggak efektif untuk mencegah anak berkata kasar.

2. Jelaskan Artinya

Setelah kita tegur dengan nada netral, coba tanya ke anak, “Kakak tadi itu ngomong apa? Tahu nggak itu artinya apa?” Kebanyakan anak yang berkata kasar, nggak tahu apa arti kata tersebut. Maka tugas kita adalah menjelaskan artinya sesederhana mungkin. Lalu tekankan bahwa kata-kata tersebut tidak baik diucapkan karena dapat menyakiti hati orang yang mendengarnya.

3. Gali Perasaannya

anak nakal

Kalau kita bersikap tenang saat anak berkata kasar, kita bisa mengenali perasaan anak saat itu. Apakah dia mengucapkannya saat sedang kesal atau sedih atau sekadar iseng. Setelah kita tahu perasaannya, ajarkan anak untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara lain yang lebih baik.

4. Tanyakan Darimana Dia Mengetahui Kata Tersebut

Biasanya anak mengenal kata kasar dari lingkungan di sekitarnya atau tontonan di televisi atau YouTube. Saya suka tuh dengerin channel ramah anak seperti FGteev, sosok ayah suka ngomong kata-kata yang kasar. Makanya saya pribadi sekarang membatasi anak-anak nonton YouTube. Tapi, tentu kita nggak bisa terus melindungi anak dari hal-hal yang buruk ya. Jadi, ya sering-sering aja dikasih tahu kalau kata-kata tersebut tidak baik, tidak keren dan tidak boleh ditiru.

5. Buat Batasan

Batasan tiap keluarga akan kata-kata yang dianggap kasar tentu berbeda-beda. Jadi buatlah kesepakatan dengan seluruh anggota keluarga kata-kata mana saja yang tidak boleh diucapkan. Ajak anak berdiskusi apa arti masing-masing kata tersebut dan mengapa dianggap tidak baik. Berikan pengertian bahwa kata-kata kasar tersebut dapat membuat orang lain yang mendengarnya marah atau sakit hati.

anak nakal

Untuk anak yang lebih besar, pra remaja misalnya, beberapa kata yang kita anggap kasar seringkali merupakan bahasa pergaulan mereka sehari-hari. Ini terjadi dengan teman-teman anak saya yang besar. Di grup chat mereka, kata-kata seperti f*ck, fool, stupid dan sebagainya mereka gunakan dengan santai. Tapi jangan salah ya, anak-anak ini bukan anak nakal. Mereka yang saya kenal sejak mereka masih TK adalah anak-anak pintar dan sopan di kesehariannya terutama di depan guru dan orang yang lebih tua.

Untuk kasus seperti ini, saya memilih untuk menekankan kepada si kakak bahwa kata-kata tersebut sebenarnya nggak cool sama sekali. Saya juga melarangnya menggunakan kata-kata tersebut saat berbicara dengan yang lebih tua, lebih muda atau di luar lingkup pergaulan mereka.

6. Jadi Contoh

Seperti yang sempat saya sebut di atas, anak adalah peniru ulung. Jadi sebagai orang tua dan role model bagi anak, kita juga harus menahan diri untuk tidak mudah mengumpat dengan kata-kata kasar. Bahkan saat marah sekalipun.

7. Beri Konsekuensi

Buat perjanjian dengan anak untuk tidak lagi berkata kasar. Kalau dia melakukannya lagi ingatkan. Tapi setelah yang ketiga kalinya, kita harus tegas. Bisa dengan mengambil sesuatu yang dia sukai, misalnya dia mendengar kata-kata tersebut dari YouTube, maka kurangi jatah anak menonton YouTube pada hari itu. Sebaliknya, puji anak saat mengucapkan kata-kata yang baik.

Semoga dengan menerapkan hal-hal di atas bisa membuat anak-anak berhenti mengucapkan kata-kata kasar ya.

Saya sendiri sedang berusaha supaya si bungsu nggak lagi ngomong kata, “Butt” alias pantat. Emang nggak kasar sih, tapi bagi saya kurang sopan. Dan dia mengucapkannya memang untuk cari perhatian karena dia anggap itu lucu.

Sementara ini solusinya adalah saya selalu mengingatkan bahwa kata tersebut tidak baik jika diucapkan tidak pada tempatnya. Saya kasih tahu kalau boleh bilang pantat kalau konteksnya tepat, seperti ngasih tahu kalau pantatnya sakit karena jatuh, digigit binatang dan lain-lain, pantatnya disentuh oleh orang lain yang bukan mama atau papa, atau minta dibantu bersihkan pantat selepas BAB.

Doakan saya berhasil yaaa. Sahabat PojokMungil ada yang pernah punya masalah yang sama nggak?