Anakku Guruku

family Baca postingan bundanya Padma di blog rame-rame kami CeritaBundas, benar-benar mengingatkan saya akan apa yang saya dan Cinta alami selama hampir 3,5 tahun usianya. Mungkin waktu hamil Cinta saya hanya membayangkan yang indah soal punya anak. Lupa bahwa mengasuh anak itu bukan cuma soal senyuman yang menggemaskan. Maka, di hari pertama bayi mungil itu tiba di rumah setelah sempat di fototerapi selama 2 hari karena bilirubin yang rendah, saya pun terkaget-kaget. Baby blues bahkan bisa dibilang postpartum depression, ASI yang cuma keluar sedikit sementara “tekanan” untuk bisa memberi ASIX berbenturan dengan desakan untuk memberi sufor, colic adalah sedikit dari hal-hal yang sering bikin saya terduduk lemas dan ikut menangis bersama Cinta.

Semakin besar, tantangannya semakin banyak. Ya, saya memang tipe orang yang hidup di masa sekarang. Tidak mempersiapkan diri untuk apa-apa yang kiranya akan terjadi saat Cinta bertambah usia. Maka ketika berhadapan dengan masa-masa batita itu mulai punya keinginan sendiri, lagi-lagi saya terkejut. Padahal ilmu psikologi perkembangan anak sudah saya pelajari saat kuliah. Entah kenapa saat mengasuh anak sendiri, semua ilmu itu lenyap begitu saja.

Saya adalah orang yang keras, selalu berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan dan mengatur orang. Ternyata bocah kecil kesayangan saya pun mewarisi sifat itu. Yup, sifat keras itu memang genetik, diturunkan langsung dari generasi ke generasi keluarga besar saya. Maka terjadilah adu ego dan emosi, dia berontak, saya keras. Dia mempertahankan keinginannya, saya tidak kalah keras kepala. Biasanya berakhir dengan (lagi-lagi) tangisan dan pelukan.

Sampai beberapa bulan belakangan ini, entah mungkin karena sudah usai masa tantrumnya atau pola asuh yang saya terapkan sudah mulai menunjukkan hasil, sikap Cinta mulai melunak. Dia sudah jarang ngamuk karena keinginannya tidak terpenuhi, bisa menerima saat keadaan tidak seperti yang dia inginkan. Bahkan saat saya mulai marah karena dia tidak menuruti perkataan saya, Cinta akan bilang, “Ma, senyum aja Ma, jangan marah.”

Seringkali saya berpikir, anak 3,5 tahun ini sudah belajar mengendalikan diri dan emosinya di usia sangat muda. Kenapa saya yang 27 tahun lebih tua dari dia, tidak bisa lebih baik dari itu. Bersyukurnya saya, dikaruniai anak yang mengajarkan saya banyak hal. Memang jadi ibu itu pelajaran seumur hidup. Bukan cuma belajar mengurus anak, tapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

2 Replies to “Anakku Guruku”

  1. chiekebvo says:

    mba…
    saya nge-fans sama cinta… #CintaUnite 🙂

    1. alfakurnia says:

      saya jugaaaa…. *eh 😀

Komentar ditutup.