Birthday Celebration

Sekolah Cinta, Chung Ching Kindergarten Seria, 2x dalam setahun mengadakan group birthday celebration atau perayaan ulang tahun massal untuk anak-anak KG1 – KG3. Bulan Juni ini, setelah mid year exam, birthday celebration yang pertama diselenggarakan untuk mereka yang ulang tahun di bulan Januari – Juni. Dalam perayaan ini sekolah menyediakan kue taart dan goodie bag, sedangkan orang tua diminta membawa makanan, snack atau suvenir untuk dimakan ramai-ramai di kelas.

Karena Cinta ulang tahun di bulan Juni, meski belum waktunya, ikut dirayakan tanggal 4 kemarin. Dan saya kebagian bawa potluck dong yah yang setelah dipikir-pikir akhirnya memutuskan bikin yang gampang aja, sate sosis bakso ikan dan puding susu sutera 2 warna hasil nyontek resepnya mamak @depezahrial.

Seru juga sih acaranya, dimulai dari nonton acara sulap bareng seluruh TK di hall. Kebetulan ada salah satu orang tua murid KG2 Red yang mengundang Mr. Magic Lee untuk perform di sekolah dalam rangka ultah bareng ini. Huiii, anak-anak seneng dan heboh banget. Lalu masuk kelas masing-masing untuk tiup lilin, potong kue dan foto bersama kepala sekolah dan dilanjutkan dengan makan bersama.

Meskipun sederhana dan ala kadarnya, bocah-bocah kecil itu senang sekali lho. Apalagi liat begitu banyak kue, susu, mie, puding dan lain-lain yang tersedia di meja. Plus nggak ada pelajaran hari itu. Selamat ulang tahun ke- 5 Aavani, Darwish, Nadja, Wishya, Min Hui, Haikal, Azhar, Issabel dan Amar. Semoga selalu menjadi buah hati kebanggaan keluarga.

Beradaptasi di Sekolah Baru

Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin grin. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan tepok jidat.

Mau memilih sekolah yang lain pun, kondisinya bisa dipastikan hampir sama. Jadilah dengan bismillah Cinta memulai petualangannya di situ.

Awalnya aku kepikiran banget membayangkan apakah Cinta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas di sana. Khawatir kalau terlampau berat untuknya yang waktu sekolah di Jakarta begitu diperhatikan dan dimanja guru-guru.

But somehow she survived. Selama 2 minggu ini bersekolah belum pernah malas berangkat, malah sempat ngambek karena dilarang sekolah waktu dia pilek. Bahkan hari ini waktu diminta untuk tinggal di rumah karena mamanya sakit, dia maksa untuk berangkat berdua aja sama si papa, meskipun masih batuk. Tapi akhirnya menyerah nggak sekolah setelah batuk-batuk sampai muntah dan pusing. Mungkin karena pelajaran yang diberikan mengulang apa yang sudah pernah dia dapat di kelompok bermain dan TK A. Bisa juga karena aktivitasnya lebih menyenangkan daripada sekedar main dan nonton tv di rumah sendirian.

Namun belakangan aku mendapati Cinta kembali suka menggigit kuku dan benda-benda lain, bahkan tutup botol minum sampai gripis pinggirannya karena digigitin. Entah karena dia bosan atau sebagai ekspresi cemas dan tidak nyaman.

Cinta sendiri kalau ditanya, “Are you happy at school?” selalu menjawab, “Yes, I’m happy!” dengan semangat. Meski belum punya teman dan waktu aku tanya apakah gurunya baik, dia jawab, “not really, mom. sambil cengar-cengir. Soal kurangnya aktivitas luar ruang juga dia pernah bilang, “Main di dalam juga menyenangkan, kok.” waktu aku mengkhawatirkan dia yang nggak pernah main di luar ruang.

Hmmm… Kita lihat dululah perkembangannya sampai tahun ajaran ini berakhir. Apakah Cinta memang benar-benar cocok di sekolahnya sekarang ataukah kami harus cari sekolah lain untuk mengobati kekhawatiran ibunya ini. Well, for this time hang in there, Cinta. We’ll always by your side.

Semakin Bijaksana, Bukan Semakin Hebat

Lama-lama capek juga ngikutin twitwarnya Marissa Haque dan keluarga Addie MS (iya iya emang nggak ada yang nyuruh kok, saya aja yang terlalu kepo). Dari yang awalnya semangat bacain blog dan twitternya tante doktor sampai akhirnya memutuskan untuk report as spam akun twitternya.

Terlepas dari keraguan apakah blog dan akun itu benar-benar milik beliau, postingan yang sudah menyerang pribadi orang lain dan spam lama-lama bikin gerah juga. Apalagi meski nggak follow ibu hebat itu tapi masih aja sliweran retweetannya di timeline.

Kehebohan beliau dan reaksi orang-orangpun bikin saya berharap jangan sampai kelak saya seperti itu. Yah, memang levelnya beda sih, dia lulusan S3 dari 2 universitas ternama di Indonesia, belum lagi gelar S2nya yang berderet-deret. Selain artis hebat di jamannya juga mantan anggota DPR RI. Sementara saya cuma ibu rumah tangga yang lulusan S1. Dan masih jadi mahasiswa abadi di universitas kehidupan, fakultas ilmu parenting.

Bagaimanapun, saya berterima kasih sama tante Icha karena twit-twitnya menunjukan nggak semua orang siap memiliki ilmu dan gelar yang bejibun. Bahwa pohon tinggi yang angkuh lebih rentan tumbang dan merugikan orang banyak ketimbang padi yang selalu merunduk saat isinya makin berat.

Saya juga belajar banyak dari twitwar dan blog beliau, kadang orang yang mengaku dirinya hebat belum tentu dihargai orang lain.  Sedangkan orang bijaksana dan bermanfaat bagi orang lain selalu memberi warna indah bagi lingkungannya. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Dan ini memicu saya supaya terus introspeksi diri. Berusaha melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan dan dibanggakan oleh anak-anak saya. Memikirkan betul tiap langkah dan keputusan yang saya ambil agar tak mempermalukan orang tua, suami dan anak-anak. Thank you 🙂

Jalan-jalan Ke Giant

Hari ini, 20 Oktober 2011, Cinta dan teman-teman sekolahnya jalan-jalan ke Giant Pamulang Square bersama para bunda guru. Kegiatan field trip ini sudah diumumkan ke orang tua dan murid sejak awal Oktober, jadilah Cinta sangat menantikan waktu jalan-jalan ini. Hampir tiap bangun pagi dia tanya, “hari ini aku ke Giant ya?” Padahal sih, nggak harus nunggu field trip pun, Cinta sudah sering sekali ke Giant.

Pagi ini akhirnya hari yang ditunggu datang. Setelah mandi, sarapan oatmeal dan sereal Honey Star, tepat jam 7.30 kami berangkat ke sekolah Cinta. Sampai di sana ternyata teman-teman yang sudah tiba lebih dulu, sedang berbaris masuk kelas untuk berdoa lebih dulu. Karena ingin menemani Cinta, saya dan pak suami pun menunggu di luar sekolah untuk kemudian bersama-sama ke Giant.

Pada field trip kali ini, bundanya sudah memberi tahu bahwa transportasi disediakan oleh sekolah, tidak seperti tahun kemarin yang menggunakan mobil dari orang tua murid. Beliau juga mengatakan bahwa kami boleh menemani ke Giant tapi diminta untuk menunggu di tempat yang agak jauh, supaya mereka nggak merengek minta ini itu.

Saat menunggu, datanglah 5 angkot kosong yang langsung parkir di sekitar area sekolah. Agak kaget juga sih, masa iya anak-anak ini mau disuruh naik angkot. Dan ternyata benar, transportasi yang disediakan sekolah adalah angkutan kota. Dieeengg. Waktu ketemu kepala sekolah, beliau minta maaf karena menggunakan kendaraan umum, katanya biar anak-anak juga merasakan naik angkot seperti apa.

Well yah, karena jaraknya dekat, saya berusaha untuk mengikhlaskan Cinta naik angkot. Meski rada khawatir karena di angkot yang berisi lebih dari 10 anak itu hanya didampingi oleh 1 orang guru. Mungkin kalau jaraknya lebih dari 5 km, saya akan pikir-pikir lagi untuk mengijinkan Cinta naik angkot.

Bukan saya sombong lho, nggak mau naik angkot. Lha wong saya dari SD kalo pas nggak ada yang nganter ya sekolah sampai kerja pun naik angkutan kota. Malah jaraknya Sidoarjo-Surabaya yang belasan kilometer itu.  Cinta pun suka saya ajak naik kendaraan umum. Cuma, menurut saya, untuk kegiatan sekolah seperti ini, anak usia KB – TK kok belum waktunya ya dilepas naik angkutan umum hanya dengan pengawasan 1 orang guru. Namun, berhubung Cintanya sendiri sih tampak ceria dan senang bisa pergi rame-rame sama teman-temannya. Saya pun agak tenang melepasnya.

Sampai di sana, anak-anak berkumpul dulu sebelum masuk Giant yang lalu dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama ikut cooking class bikin donat sementara kelompok kedua keliling Giant sambil berbelanja dengan bekal uang Rp 10.ooo,00 yang sudah disiapkan oleh orang tua. Kebetulan Cinta dan teman-teman sekelasnya masuk dalam kelompok pertama. Mereka pun dengan semangat ikut kelas belajar membuat donat.

Setelah semua duduk manis menghadap meja panjang, adonan donat yang sudah disiapkan tim Giant pun dibagikan ke anak-anak. Lalu mereka yang sebelumnya sudah cuci tangan dan melumuri tangannya dengan tepung diminta untuk membuat lubang di tengah adonan tersebut. Abis itu dikumpulkan di loyang untuk digoreng di dapur Giant. Sambil menunggu donat matang, kelompok pertama berkeliling Giant bergantian dengan kelompok kedua.

Selesai berkeliling, anak-anak duduk bersama di dalam Giant sambil makan donat dan beristirahat sampai semua siap dan tiba waktunya pulang. Selain bawa pulang belanjaan, Cinta dan teman-temannya juga dapat goody bag dan balon dari Giant. Terima kasih bunda guru dan kakak-kakak dari Giant, Cinta senang sekali dengan acara jalan-jalan hari ini.

Mau Masuk TK Mana?

Tahun ajaran 2011-2012 nanti, Cinta mau masuk TK. Pas umurnya 4 tahun. Sebagai ibu yang (ngakunya) bertanggung jawab dan peduli soal pendidikan anak, saya mulai pusing mikirin TK mana yang cocok buat Cinta. Bayangkan, ini baru masuk TK lho ya. TAMAN KANAK KANAK! Tadinya sih saya mau Cinta ngelanjutin di sekolahnya yang sekarang. Secara lokasi, fasilitas sekolah, kurikulum dan kualitas guru-gurunya sudah paling cocok deh.

Playgroupnya Cinta sekarang emang deket dari rumah. Tinggal ngesot sama beberapa kali koprol aja udah sampai. Lokasinya yang di dalam perumahan juga bikin kita tenang karena anak-anak nggak akan main di pinggir jalan besar dan nggak ada tukang jualan jajanan nggak sehat. Sekolahnya cukup besar, terdiri dari 6 sentra dan moving class. Kurikulumnya pun cocok buat Cinta yang tipe belajarnya kinestetis alias nggak bisa diam. Dan yang penting uang pangkal dan SPP-nya masih terjangkau. Meskipun belum termasuk uang sumbangan komite sekolah, uang iuran makan sehat dan yang lain-lain -_-!

Tapi oh tapi, sejak pendaftaran dibuka awal Januari kemarin, ibu-ibu yang lain udah mulai mengeluarkan testimoni negatif tentang sekolah ini. Yang nggak diajarin baca tulis lah, yang ada siswa nggak lulus tes masuk SD, yang muridnya kebanyakan, yang kemahalan, yang anaknya nggak maju-maju lah, yang inilah itulah. Berasaplah kepala saya. Akhirnya saya tanya ke Kepala Sekolahnya, mencoba mengklarifikasi gosip-gosip itu. Dan menurut beliau apa yang dibilang itu hampir semuanya kurang tepat. Okelah, mari kita lihat lagi dengan kepala yang lebih jernih.

Baca tulis sih diajarin meski bukan pelajaran yang utama, karena ada aturan dari Diknas bahwa TK nggak boleh ngajarin baca tulis. Dari sekian siswa TK B yang ikut tes masuk SD cuma 1 yang nggak lulus tes. Soal murid emang 1 kelas isinya 25 orang dengan guru 2 orang. Dari sisi perkembangan siswa emang masing-masing beda. Saya pribadi sih melihat perkembangan Cinta selama sekolah di sana cukup bagus. Tapi semakin dekat hari terakhir pendaftaran sekolah kok saya makin ragu ya. Pertama karena jumlah murid 1 kelas yang terlalu banyak. Di kelas Kelompok Bermain aja sekarang 19 orang dengan 2 guru padahal rasio yang baik 1 guru : 7 siswa. Saya pikir kalau masih KB sih nggak terlalu masalah karena toh tujuan utamanya bermain dan bersosialisasi. Lain lagi kalo udah TK, porsi belajar (meski tetap dalam rangka bermain) sudah lebih banyak. Khawatirnya dengan jumlah murid sebanyak itu, guru nggak bisa fokus ke masing-masing murid. Kedua karena jam belajarnya lebih lama dari kebanyakan TK lain, yaitu 4 jam, dari jam 7.30 sampai 11.30. Lama banget ya. Ini masih TK lho.

Selain sekolah ini, ada 1 lagi incaran saya di kompleks perumahan sebelah. Udah sempat nanya-nanya dan agak cocok. Kelebihannya antara lain lokasi cukup dekat, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, calistung (baca tulis berhitung) diajarin secara intensif, gedung sekolah yang cukup luas dan bersih, jam belajar 3,5 jam, 1 kelas berisi maksimal 15 anak dengan 2 guru, uang pangkal terjangkau walaupun sedikit lebih mahal dari yang pertama. Sayangnya sekolah ini nggak menganut sistem BCCT atau sentra dan nggak moving class, yang mana kurang cocok buat Cinta yang gampang bosan. Sekolahnya juga sekolah nasional, bukan berbasis agama Islam.

Mengingat kelebihan dan kekurangan 2 sekolah ini, rencananya akan minta trial dulu, supaya bisa memutuskan mana yang lebih cocok dan nyaman buat Cinta karena dia yang akan menjalani 2 tahun bersekolah di situ. Duh, milih sekolah ternyata emang bikin pusing ya. Baru TK nih, belum SD nanti. Semoga cepat bisa memutuskan yang terbaik buat Cinta.

Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

PhotobucketPhotobucket

Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

Photobucket

Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

-foto-foto adalah koleksi pribadi-