Browsing Tag:

sekolah

  • Pemadam Kebakaran, Field Trip, BSP Fire Station, Panaga Brunei
    Daily Stories, Kids Activities, Life in Brunei

    Keenan’s Field Trip To BSP Fire Station

    Tanggal 22 November 2017 yang lalu, Keenan dan teman-temannya dari KG 2 CCMS diajak jalan-jalan atau istilah bulenya Field Trip ke Brunei Shell Petroleum Co Sdn Bhd (BSP) Fire Brigade. Murid-murid dari 4 kelas KG dibagi 2 sesi, jam 8 dan jam 10. Kebetulan Keenan dapat yang sesi siang. Acara ini dilakukan setelah ujian akhir tahun 2017, sebagai reward atas kerja keras anak-anak belajar dalam satu tahun tersebut.

    Pada hari H, saya, Keenan dan kakak Cinta mendatangi BSP Fire Station yang terletak di Jalan Tengah, Panaga. Sempat bingung di mana bisa parkir mobil, karena lokasinya yang persis terletak di jalan besar dan nggak nampak ada mobil parkir di pelataran depannya. Setelah mengikuti mobil lain, baru tahu kalau ada gedung-gedung kecil dan tempat parkir di belakang bomba (sebutan fire station dalam bahasa Melayu). Keenan pun antusias sekali kepingin segera masuk ke dalam area bomba dan bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang.

    pemadam kebakaran, bsp fire station, panaga brunei, field trip

    Duduk manis mendengarkan safety briefing dari officer BSP Fire and Emergency Response

    Sesampainya di dalam, anak-anak masih harus menunggu beberapa saat sebelum sesi siang dimulai. Kakak Cinta yang sudah pernah mengikuti acara serupa di stasiun pemadam kebakaran Seria pun mulai merasa bosan karena nggak ada temannya. Untuk mengusir kebosanannya, kakak pun ikut duduk di samping Keenan dan teman-temannya serta mengikuti berbagai aktivitas yang diberikan oleh para petugas dan officer BSP Fire Station.

    Aktivitas dimulai dengan membagi murid-murid sesi siang ini ke dalam dua kelompok. Kelompoknya Keenan diajak untuk melihat aneka peralatan yang dipakai oleh para pemadam kebakaran, mulai dari baju sampai aneka selang. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk mengenakan seragam pemadam kebakaran. Lucu deh, ada yang semangat seperti Keenan, ada yang mau coba lebih dari sekali, ada juga yang nggak mau.

    pemadam kebakaran, bsp fire station, field trip

    Aneka perlengkapan yang digunakan oleh pemadam kebakaran

    Setelah itu, anak-anak diajak melihat truk pemadam kebakaran dan ambulance. Ternyata banyak sekali panel dan perlengkapan di fire truck ya. Saking banyaknya sampai saya nggak bisa mengikuti satu persatu penjelasan petugas tentang fungsi panel-panel tersebut. Fix lah jadi pemadam kebakaran itu selain perlu fisik yang kuat juga perlu keahlian khusus.

    fire truck, bsp fire station, panaga brunei, field trip, pemadam kebakaran

    Bagian dari BSP Fire Truck

    Anak-anak juga diajak duduk di dalam ambulance sambil melihat isi di dalamnya. Jadi ingat pengalaman naik ambulance waktu lagi hamil besar Keenan bareng kakak Cinta hihihi. Setelah itu, kedua kelompok anak, guru dan orangtua dikumpulkan di pelataran belakang untuk melihat demonstrasi truk pemadam kebakaran mengeluarkan air dari selangnya.

    BSP Fire Truck, mobil pemadam kebakaran, pemadam kebakaran, fire station, Panaga Brunei, field trip

    Demo truk pemadam kebakaran

    Acara berakhir pada pukul 11 dengan pembagian snack dan minum sambil mendengarkan sedikit cerita dari officer BSP Fire Station. Terima kasih CCMS dan BSP Fire Station. We had fun. Dan terima kasih untuk Borneo Bulletin yang sudah meliput acara kunjungan ke BSP Fire Station, kami jadi punya kenang-kenangan nih. Yaiy.

    field trip, ide studi wisata, studi wisata anak TK, Panaga Fire Station, Seria, brunei

    Studi wisata ke Panaga Fire Station diliput oleh Borneo Bulletin

    Keseruan Field Trip ke Panaga Fire Station dalam video:

  • Daily Stories, Life in Brunei, Life with My Kids

    Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

    Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

    Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

    Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

    Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

    Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

    Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

    Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

    Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

    Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

    Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

    Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

    Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

    Photo Credit: CCMS Primary Seria

    Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

    Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

    Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

    Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

    Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

    Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

    Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

    Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

    Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

    Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

    Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

     

  • Manfaat Berkebun Bagi Anak, Manfaat bercocok tanam bagi anak, benefit of gardening for children
    Kids Activities, Life in Brunei, Life with My Kids

    5 Manfaat Berkebun Bagi Anak

    Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat surat pemberitahuan dari sekolahnya Keenan bahwa anak-anak akan belajar berkebun di sekolah. Untuk itu kami diminta membayar sejumlah uang untuk membeli tanah berpupuk, bibit tanaman, starter seed, pot dan perlengkapan pendukung lainnya. Wah, langsung semangat dong saya. Kebayang Keenan pasti senang sekali belajar berkebun bareng teman-teman sekolahnya, secara di rumah dia yang paling rajin menyirami tanaman-tanaman saya.

    Ketika rencana kegiatan ini saya ceritakan ke kakak Cinta, dia mengingatkan bahwa waktu bersekolah TK di tempat yang sama dengan Keenan 5 tahun yang lalu, dia pun melakukan hal yang sama bersama guru dan teman-teman TKnya. Bahkan ketika kakak Cinta kelas 3 tahun lalu, dia juga sempat mengikuti kelas berkebun di sekolah. Peminatnya banyak lho ternyata, dan menurut kakak kegiatan yang dilakukan seminggu sekali itu cukup seru, menyenangkan dan banyak hal yang mereka pelajari. Tapi kalau jaman kakak Cinta dulu guru-gurunya memilih untuk menanam sayur-sayuran di sebuah lahan kosong di halaman sekolah, kali ini angkatannya Keenan memilih menanam bunga.

    Sebelum kegiatan ini dimulai, guru kelas Keenan sudah mengenalkan anak-anak akan kegiatan bercocok tanam dengan menanam bibit bawang merah. Beliau meletakkan pot pot dari bekas botol air mineral berisi tanah dan bawang di pelataran depan kelas, lalu anak-anak diminta bergiliran menyirami tanaman tersebut. Mungkin melihat antusiasme anak-anak, dari kegiatan satu kelas itu lantas diadopsi menjadi kegiatan kolektif satu sekolah dengan jenis tanaman yang berbeda.

    Tentu berkebun dengan anak nggak mudah. Memberikan penjelasan kepada anak-anak usia TK bagaimana sebuah biji kelak dapat tumbuh menjadi tanaman yang sehat, segar dan indah bukannya sederhana. Belum lagi antusiasme anak dalam memelihara tanaman yang hilang dan timbul bisa membuat tanaman nggak terawat dengan baik. Ya, namanya anak-anak ya, hari ini mereka semangat sekali menyiram tanaman sampai airnya berlebih dan menggenangi pot, eh besoknya mereka bosan dan lebih memilih bermain yang lain sehingga tanaman kekurangan air.

    Alhamdulillah, guru-guru di sekolah Keenan telaten membantu anak-anak mengurus tanamannya. Yah, kalau nggak telaten mungkin nggak jadi guru TK ya.

    Tahap pertama yang dilakukan oleh gurunya Keenan adalah memberikan penjelasan tentang aktivitas yang akan mereka lakukan. Lalu, ibu guru menyediakan flower garden starter kit dan meminta anak-anak memasukkan tanah dan bibit bunga milik mereka ke dalam box masing-masing. Setelah itu pot disiram dan disimpan di teras belakang kelas yang terkena cahaya matahari.

    5 manfaat berkebun bagi anak, manfaat bercocok tanam bersama anak

    pic credit: Keenan’s school

    Setiap pagi para guru mengingatkan dan mengajak anak-anak menengok tanaman mereka untuk diberi air. Ada juga kelas anak-anak lebih besar yang menyediakan botol spray berisi air di dekat pot-pot tanaman supaya anak dapat mengairi tanamannya bersama ibu atau ayah yang mengantarnya ke sekolah hari pagi itu.

    Saya sih mendukung sekali kegiatan ini, karena dari kegiatan yang nampaknya sederhana tersebut banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh anak. Berikut 5 di antaranya.

    Manfaat Berkebun Bagi Anak, Manfaat bercocok tanam bagi anak, benefit of gardening for children

    5 Manfaat Berkebun Bagi Anak

    1. Anak mengenal siklus hidup tanaman dan apa saja yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh sehat. Ini sama saja anak belajar IPA ya, tentu lebih menyenangkan dengan cara praktik langsung kan seperti ini kan daripada hanya membaca dari buku.
    2. Anak belajar bertanggungjawab dengan mengurus tanaman mereka agar dapat tumbuh sehat. Mereka juga belajar sabar menunggu dan melihat proses tumbuhnya tanaman.
    3. Berkebun dapat menstimulasi panca indera anak. Anak dapat mengenal tekstur tanah, biji dan bunga, melihat aneka warna bunga dan daun yang tumbuh, mendengar suara sayuran yang dipetik atau desir angin saat berkebun di luar rumah, dan mencium wangi bunga dan segarnya tanah saat disiram dengan air.
    4. Anak belajar untuk mencintai alam dengan cara yang sederhana namun menyenangkan.
    5. Menumbuhkan kebiasaan makan makanan yang sehat. Waktu Cinta masih TK dulu, kelas mereka menanam kangkung, cabe dan okra atau lady finger. Setelah berbuah, dibagikan ke masing-masing anak. Cinta antusias sekali menyuruh saya untuk memasak sayurannya dan menyicipi hasil masakannya, walaupun akhirnya dia nggak doyan juga hahaha. 

    5 manfaat berkebun bagi anak. manfaat bercocok tanam bersama anak

    Bulan September yang lalu, tanaman anak-anak di sekolah Keenan mulai tumbuh. Guru-guru pun memindahkan ke pot yang lebih besar, diberi nama masing-masing anak dan ditata dengan cantik di teras belakang kelas. Anak-anak pun makin rajin menyiram tanaman mereka dan memamerkannya ke orangtuanya. Setelah berbunga cukup besar, beberapa kelas mengizinkan anak-anak membawa tanamannya pulang, sedangkan guru-guru kelas lain memilih untuk membuat sebuah petak khusus dan memindahkan tanaman-tanaman tersebut ke sana. Sekarang, sekolah Keenan punya taman bunga cantik yang dibanggakan oleh murid-murid karena ada hasil kerja keras mereka di situ. Hmmm, bisa juga ya diterapkan di rumah. Pasti anak-anak senang punya taman kecil dari hasil tangan mereka sendiri. 

    5 manfaat berkebun bagi anak. manfaat bercocok tanam bersama anak

    Teman Pojok Mungil ada yang suka berkebun juga? Boleh dong dibagi tips memilih tanaman yang mudah dirawat oleh anak. Terima kasih sebelumnya yaa…

  • 20+ Pertanyaan Tentang Aktivitas Keseharian Anak yang Bisa Kita Ajukan Sepulang Sekolah
    Life as Mom, Life with My Kids

    20+ Pertanyaan Tentang Keseharian Anak Sepulang Sekolah

    “I’m fine. (My day at school) is good.

    Kalimat itu suatu hari terucap begitu kakak memasuki mobil saat saya menjemputnya sepulang sekolah.

    That’s what you always ask, right? ‘How are you? How’s your day at school?’ Now, I just answered it so you don’t have to ask the questions anymore.” Jelasnya kemudian.

    Eaaa…

    Kejadian serupa juga pernah saya alami dengan Keenan di bulan-bulan pertama dia bersekolah tahun ini. Padahal saya merasa pertanyaan saya sudah cukup variatif seperti, “Are you happy at school? What did you do at school today?” Yang dia jawab dengan cukup singkat, “Yes, I’m happy. I draw/I learn at school.”

    Hadeeuuuh nasib punya anak-anak yang irit ngomongnya kaya bapaknya :))

    Padahal kan pengen denger mereka berceloteh detil seharian ngapain aja. Kalau perlu minute by minute gitu ya. Siapa tahu ada kejadian menarik, pengumuman penting atau gosip-gosip seru #eh.

    20 Pertanyaan Tentang Aktivitas Keseharian Anak Yang Bisa Diajukan Sepulang Sekolah

    Lorelai & Rory Gilmore di serial Gilmore Girls. Pic credit: digitalspy.com

    Bagi saya ngobrol dengan anak tentang aktivitasnya saat nggak bersama saya itu penting supaya kalau ada apa-apa mereka merasa nyaman dan aman untuk berbicara ke saya atau papanya. Pengennya tuh, komunikasi saya dengan anak-anak seperti Lorelai dan Rory Gilmore, sepasang ibu dan anak dalam serial Gilmore Girls. Hubungan Lorelai dan Rory sebagai orangtua dan anak tuh idaman saya banget sejak pertama kali nonton serial itu belasan tahun yang lalu. Karena, hubungan saya dengan orangtua saya nggak sedekat itu. Saya tahu orangtua saya sangat menyayangi saya dan selalu ingin yang terbaik bagi saya dan adik-adik. Kami pun punya kebiasaan untuk bertukar cerita saat makan malam bersama di meja makan. Tapi toh, selain dasarnya saya memang cenderung introvert, nggak semua hal bisa saya ceritakan ke mereka, khususnya tentang perasaan saya. Nah, itu yang nggak saya inginkan terjadi ke anak-anak saya. Saya ingin sekali mereka bebas mengungkapkan perasaan kepada kami. Nggak mudah memang, apalagi dengan si pra remaja yang mulai lebih suka ngobrol sama temannya daripada dengan ibunya.

    Tapi saya nggak menyerah, nggak ada kata terlambat untuk memulai hal baik. Dan sekarang pertanyaan saya sudah lebih variatif yang membuat anak-anak biasanya menjawabnya dengan lebih antusias. Harapan saya sih lama kelamaan tanpa harus dipancing pertanyaan lebih dulu, anak-anak akan terbiasa untuk bercerita tentang aktivitas dan berbagi perasaannya kepada saya.

    20 Pertanyaan Tentang Aktivitas Keseharian Anak Sepulang Sekolah

     

    20+ Pertanyaan Yang Dapat Diajukan Ke Anak Setelah Pulang Sekolah

    1. Tadi waktu istirahat main apa? Sama siapa saja?
    2. Permainan apa yang paling menarik dimainkan sama teman-teman di sekolah?
    3. Apa yang bikin kamu paling bahagia di sekolah tadi? (Yang paling bikin bete)
    4. Siapa yang paling lucu di kelas? (Yang paling menyebalkan)
    5. Ada yang kena hukuman dari guru hari ini?
    6. Peraturan apa dari guru yang paling susah kamu ikuti?
    7. Pelajaran apa yang paling menarik hari ini? (Yang paling membosankan)
    8. Kalau kamu lagi bosan, apa yang kamu lakukan di kelas?
    9. Kalau seandainya kamu jadi guru, kamu bakal jadi guru seperti apa? (Ada nggak di sekolah guru yang seperti itu)
    10. Siapa guru yang paling seru mengajarnya hari ini? (Siapa yang paling galak, siapa yang paling membosankan)
    11. Info atau fakta menarik apa yang kamu dengar hari ini dari teman atau guru?
    12. Hal baik apa yang kamu lakukan hari ini?
    13. Hal paling susah yang kamu lakukan hari ini menurutmu apa?
    14. Tugas piket apa yang paling sering kamu kerjakan? Kenapa?
    15. Waktu istirahat makan snack di kantin, duduk di sebelah mana? Sama siapa aja?
    16. Ada nggak teman yang main dan makan sendiri di kelas hari ini? Kenapa?
    17. Jajanan apa yang paling banyak dibawa atau dibeli oleh teman-temanmu?
    18. Makanan apa di kantin yang paling ingin kamu coba? Paling kamu suka?
    19. Apa yang bikin kamu bangga sama dirimu sendiri hari ini?
    20. Apakah ada teman yang berbuat baik padamu hari ini?
    21. Apakah ada yang ingin kamu ubah dari ruang kelasmu supaya lebih menarik dan nyaman?
    22. Di mana tempat paling menyenangkan di sekolah?

    Selain tentang keseharian anak di sekolah, kita juga bisa lho bertanya tentang fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh sekolah seperti perpustakaan, kantin, toilet, ruang olahraga, bahkan sick bay atau Unit Kesehatan Sekolah. Berikut beberapa contoh pertanyaan yang dapat kita ajukan ke anak untuk memancing cerita tentang kegiatannya di sekolah hari ini.

    Perpustakaan:

    1. Buku apa yang paling sering kamu baca di perpustakaan?
    2. Biasanya pergi ke perpustakaan sama siapa?
    3. Bagian mana dari perpustakaan yang paling nyaman bagimu?
    4. Apakah pustakawannya baik kepadamu?
    5. Siapa temanmu yang paling sering kamu lihat pergi ke perpustakaan?

    Toilet:

    1. Biasanya pergi ke toilet sendiri atau sama teman?
    2. Seandainya kamu pergi pergi ke toilet di tengah waktu pelajaran, berani nggak bilang ke guru?
    3. Menurutmu toilet di sekolah bersih nggak? Siapa yang membersihkan toilet di sekolah?

    Saat bertanya tentang toilet, coba sisipkan pesan di bawah ini ke anak supaya dia waspada dengan lingkungannya, mengingat banyak hal buruk menimpa anak saat dia di toilet sendirian:

    “Kalau ada yang terasa aneh di toilet misalnya, ada lawan jenis di dalamnya, ada yang diam aja di toilet padahal tempat pipisnya kosong, ada anak bergerombol tapi nggak ngapa-ngapain dan semacamnya langsung aja lapor guru ya.”

    Pertanyaan tentang fasilitas sekolah ini mungkin kedengarannya nggak penting, tapi bagi saya pribadi penting untuk mengetahui seberapa jauh anak mengenal sekolahnya, apa saja yang dapat mereka lakukan di sekolah dan bagaimana mereka mengisi waktu kosongnya di sekolah.

    Untuk anak yang lebih kecil, seperti anak saya Keenan yang belum bisa menjawab dalam kalimat lengkap, mungkin lebih sulit ya. Eh, saya jadi inget, dulu jaman Cinta masih di kelompok bermain sebuah PG/TK Islam di Parung, Bogor, ibu-ibu wali murid suka komplain ke guru-gurunya karena setiap anaknya ditanya, “Tadi di sekolah ngapain aja?” jawaban mayoritasnya adalah, “Main,” dan “Nggak tahu.” Akhirnya setiap menjelang berakhirnya jam sekolah, para guru mengajak anak mereview kegiatan mereka seharian di sekolah sambil berpesan, “Nanti kalau ditanya bunda jawabnya hari ini begini begitu ya :))

    Nah, kalau guru si pra sekolah nggak ngasih review harian seperti guru-gurunya Cinta dulu, pertanyaan-pertanyaan ringan ini bisa kita ajukan ke mereka.

    10 pertanyaan tentang aktivitas anak tk sepulang sekolah, 20 pertanyaan tentang aktivitas keseharian anak sepulang sekolah

     

    Yang perlu diingat, perhatikan suasana hati anak saat pulang sekolah sebelum membombardirnya dengan aneka pertanyaan. Kalau anak nampak lelah, kesal atau nggak mood, beri anak-anak ruang untuk menenangkan diri dulu. Beri camilan dan segelas susu dingin atau izinkan mereka sekadar membaca buku cerita favorit dan memejamkan mata sejenak. Biasanya setelah lebih tenang dan suasana hatinya baik, mereka akan dengan senang hati bercerita tentang aktivitasnya kepada kita.

    Parents need to understand that it is “less important what you say, and more important that you listen.

    How to Communicate With and Listen to Your Teen – HealthyChildren.org

    Oya, satu lagi, don’t judge quickly saat anak sedang bercerita.  Aduh, ini susah banget memang. Tantangan besar bagi saya untuk nggak memotong cerita mereka dan berceramah. Tapi kalau kita dikit-dikit memotong cerita mereka lama-lama anak bakal malas juga untuk ngobrol sama kita. Jadi ya, sekarang saya sedang berusaha keras untuk nggak melakukannya.

  • Daily Stories, Life in Brunei, Uncategorized

    Teacher’s Day

    Sejujurnya dulu saya ragu mengirim Keenan ke sekolahnya yang sekarang ini, karena bagi saya terlalu serius dan kompetitif.

    Cinta yang memang dasarnya mudah beradaptasi saja, dulu sempat mengalami masa-masa drama disuruh bikin PR dan belajar untuk ujian. Apalagi Keenan, yang waktu itu belum lancar bicara, susah konsentrasi dan jago kandang.

    Jadi ketika Keenan disarankan untuk sekolah di usia 3 tahun, saya pilih sekolah lain yang menurut saya lebih ‘ringan’. But it turned out to be a mistake. A big one.

    Akhirnya di tahun berikutnya, nggak pakai ragu, saya kembali ke sekolah ini. Meski sudah survey ke beberapa sekolah lain, hati saya sudah mantap di sini. Sekolah yang kami kenal sejak 5 tahun yang lalu saat baru pindah ke Brunei. 

    Seperti umumnya anak baru masuk sekolah, minggu-minggu pertama terasa berat bagi Keenan. Terutama takut dengan gurunya. Maklum, guru-guru di sekolah ini terkenal dengan kedisiplinan dan cara mengajar yang agak keras. Bukan lembut macam sekolah taman kanak-kanan di Indonesia. Tapi bukan keras yang ngawur juga. Karena cara mengajarnya menyenangkan. Sehingga lambat laun sebagai salah satu murid termuda di kelasnya dengan keterbatasannya, he’s improving.

    Anak yang tadinya bicara aja nggak jelas, sekarang bisa bicara 2 bahasa dan bisa mulai hafal huruf Cina. Dia jadi senang berhitung, berani ngomong sama gurunya, main sama teman-temannya, dan masih banyak lagi.

    Yang penting, dia nggak lagi takut pergi ke sekolah. Nggak ada drama ngumpet di antara jok mobil sambil histeris bilang takut sama teacher. Memang masih sering nangis nggak mau sekolah, tapi menurut saya lebih karena dia pengen main di rumah aja. Bukan karena sekolah dan guru menakutkan baginya.

    Nggak ada juga yang tiap hari mengeluhkan segala keburukan Keenan di hari itu tanpa sekalipun mengapresiasi pencapaiannya. Yang ada adalah guru-guru yang menyambut murid-muridnya dengan senyum meski sesekali menegur mereka dengan suara keras jika salah. Guru yang menunjukkan kemajuan Keenan sambil memberikan saran untuk memperbaiki kekurangannya.

    Happy Teacher’s Day. Thank you for helping our children to grow.

    Tentu masih banyak yang harus dikejar Keenan supaya tidak tertinggal terlalu jauh dengan teman-teman sekelas dan seangkatannya. But I don’t mind to running slow, following his pace. Sambil terus berusaha memotivasinya supaya lebih gigih berusaha, seperti yang dilakukan guru-gurunya.

    Alhamdulillah, Allah kirimkan guru-guru yang sesuai dengan kebutuhan Keenan di sekolah ini. Terima kasih, Cikgu. Xie xie, Lao tse.

    Selamat Hari Guru. Happy teacher’s day.

  • anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger
    Blogger Profiles, Parenting

    5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mendaftarkan Anak ke Sekolah di Usia Dini

    Sekarang sudah bulan Oktober dan karena tahun ajaran baru di Brunei akan dimulai bulan Januari, akhir bulan ini kakak Cinta dan Keenan akan menjalani end year examination. Untuk kakak Cinta hal ini berarti mamanya harus sudah siap-siap bikin latihan soal-soal dari materi pelajaran sejak awal tahun sampai sekarang. Sedangkan untuk Keenan agak santai karena sekolahnya yang sekarang nggak ngasih ujian untuk anak KG 1, cuma ada evaluasi harian dari aktivitas dan perilaku sehari-hari aja. Setelah ujian selesai di minggu pertama bulan November nanti, siap-siap terima rapor dan kenaikan kelas deh. Dan karena berencana memindahkan Keenan ke sekolah baru, berarti harus mulai hunting sekolah dari sekarang.

    Beruntungnya tingal di Seria, meskipun nggak terlalu banyak pilihan sekolah tapi kita bisa daftar sekolah 1-2 bulan sebelum tahun ajaran dimulai, walaupun biasanya pendaftaran sudah mulai dibuka pada bulan Agustus. Berbeda dengan pengalaman saya dulu menyekolahkan kakak Cinta di sebuah kelompok bermain di dekat rumah kami di Gunung Sindur, Bogor sana. Saya harus mulai cari sekolah jauh-jauh hari bahkan pembayaran uang gedung dan lain-lain harus sudah diterima oleh sekolah beberapa bulan sebelum tahun ajaran berlangsung untuk memastikan Cinta mendapatkan tempat di sekolah tersebut. Di beberapa sekolah yang lebih ngetop di Jakarta, menurut pengalaman teman-teman saya, pendaftarannya malah bisa lebih awal lagi, ada yang harus indent 1-2 tahun sebelumnya. Jadi kalau mau masuk TK umur 4 tahun ya harus daftar mulai umur 2 tahun. 

    Soal memasukkan anak sekolah ini memang sering jadi dilema untuk orangtua ya, nggak cuma soal mencari sekolah yang seusai untuk anak dan kantong serta dekat dengan rumah, tapi juga soal kapan tepatnya anak mulai bersekolah. Bahkan hal ini merupakan salah satu keputusan penting yang kita buat dalam 5 tahun kehidupan anak. Untuk ini saya coba mencari pendapat dari seorang sahabat blogger yang pernah menjadi guru di kelompok bermain selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi guru bagi putranya di rumah, Anis Khoir.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    Menurut Anis dan beberapa ahli kesehatan anak serta parenting, ada beberapa faktor yang harus kita perhatikan sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak yaitu:

    1. Kesiapan Anak Untuk Bersekolah

    Kesiapan anak untuk bersekolah biasanya erat kaitannya dengan beberapa hal, yaitu berpisah dengan orangtua (atau pengasuhnya), adaptasi di lingkungan baru dan rentang konsentrasi. Jadi kalau memang anak masih belum siap, ya jangan dipaksa. Karena bagaimanapun menurut Anis, pengasuhan dan pendidikan di usia dini yang terbaik tetap dari ibu. 

    2. Usia

    Anis menyarankan supaya orangtua tidak memasukkan anak ke sekolah pada usia terlalu dini karena sebenarnya pada usia sampai 4 tahun yang dibutuhkan anak adalah lingkungan yang aman untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dan itu hanya didapatkan di rumah. Anak usia tersebut juga pada dasarnya belum terlalu perlu bersosialisasi dengan teman sebayanya karena mereka belum bisa bermain bersama-sama, kalaupun nampak bermain berkelompok sebenarnya mereka sedang bermain bersama, alias asik dengan mainannya sendiri dan tidak berinteraksi satu sama lain.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    3. Kesehatan Anak

    Kalau anak kita selama ini memiliki kesehatan yang cukup baik, boleh aja masuk sekolah di usia dini. Hanya pastikan dia memiliki kekebalan tubuh yang cukup dan jumlah murid di kelas nggak terlalu banyak. Menurut Dr Anatoly Belilovski, dokter anak sekaligus direktur Belilovski Pediatric di Brooklyn, NY, semakin banyak jumlah anak di dalam kelas, semakin rentan anak tertular penyakit dari teman sekelasnya. Ini saya alami banget dengan Keenan, sejak masuk sekolah hampir setiap bulan terkena common cold. Bahkan dulu kakak Cinta ketika di KG 2 pernah juga tertular cacar air padahal sudah pernah vaksin cacar air dan saat itu 9 anak dalam 1 kelas mendapat cacar air. Karena itu, Dr. Belilovski menyarankan kalau anak pernah mengalami infeksi serius seperti infeksi telinga, bronkhitis dan lainnya, sebaiknya tunda dulu keinginan untuk menyekolahkan dia sampai kekebalannya lebih baik.

    4. Tingkat Konsentrasi

    Ini yang sering dikeluhkan oleh para guru kelompok bermain, ya setidaknya dalam kasus saya sejak Keenan masuk sekolah sering sekali mendapatkan keluhan bahwa Keenan nggak mau duduk diam di kelas. Bahkan baru saja beberapa hari yang lalu gurunya Keenan cerita kalau Keenan nggak mau belajar menulis dan lebih memilih berjalan-jalan di dalam kelas. Tapi sebenarnya memang rentang konsentrasi anak usia pra sekolah masih rendah, walaupun menurut Rachel Rudman, seorang terapis khusus okupasi anak, anak diharapkan dapat berkonsentrasi sesuai dengan usianya, misalnya Keenan sekarang umur 3,5 tahun, dia seharusnya bisa duduk dan mengerjakan sesuatu dengan tenang selama 3,5 menit. Namun, Rudman menambahkan bahwa seharusnya kesulitan konsentrasi bukan penghalang anak untuk bisa bersekolah, bahkan dalam beberapa kasus, dengan bersekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi. Jadi kalau anak sudah mampu fokus untuk menyelesaikan puzzle sederhana, menggambar selama beberapa menit, menyusun balok kayu atau lego, berarti dia aman untuk masuk sekolah.

    5. Choose Wisely

    Ketika anak memang harus bersekolah di usia dini, baik karena kedua orangtuanya bekerja dan nggak ada pengasuh; ibu tinggal di rumah tapi merasa nggak bisa memberikan stimulasi maksimal untuk perkembangan si anak; atau seperti kasus saya yang menjadikan sekolah sebagai pengganti terapi, maka Anis menyarankan untuk memilih sekolah yang benar-benar memahami tumbuh kembang anak, seperti:

    • Jam pelajaran tidak terlalu lama
    • Memiliki kebijakan yang lebih longgar berkaitan dengan school separation anxiety, alias mengijinkan ibu atau pengasuh untuk menemani anak di sekolah sampai ia benar-benar siap untuk ditinggal sendiri.
    • Program yang dimiliki tidak memaksa anak untuk keluar dari zona nyamannya. Artinya, ya semua aktivitas di dalam kelas benar-benar disusun dalam rangka yang menyenangkan bagi anak. Hal ini penting supaya anak memiliki pengalaman yang positif di tahun pertamanya bersekolah.

    Nah, kalau ternyata kita memutuskan untuk menunda anak bersekolah sampai usianya lebih matang tapi bingung apa saja aktivitas yang bisa kita lakukan bersama anak di rumah, main-main saja ke blog http://www.aniskhoir.com. Meskipun belum terlalu banyak, blog yang ditulis oleh ibu muda lulusan Pendidikan Matematika ini berisi beberapa permainan sederhana yang dapat kita buat untuk anak seperti ublek dan pasak konsentrasi serta tip supaya balita kita gemar membaca.

    anis khoir, pendidikan usia dini, sekolah usia dini, psikologi anak, profil blogger, aniskhoir.com, lifestyle blogger

    Blog ibu dari 1 putra bernama Hazwan ini juga berisi tentang berbagai informasi menarik seputar Tuban, kampung halaman suami saya. Sayang saya belum sempat kopdar dengan Anis saat mudik ke Tuban lebaran lalu dan karena bulan lalu rumah mertua akhirnya laku terjual dan beliau pindah ke Surabaya untuk tinggal bersama adik ipar saya, sepertinya tahun-tahun mendatang kami nggak akan mudik Tuban lagi. Jadi agak nyesel gitu baru sempat kenal dengan blog lifestyle yang mulai serius ditekuni Anis sejak bulan Juli 2016 lalu, meskipun dia sudah ngeblog mulai tahun 2009. Lebih nyesel lagi karena baru tahu di Tuban juga ada komunitas blogger Tuban, coba kalau tahu kan tiap mudik ke Tuban nggak cuma ngedekem di rumah aja ya. Masa 10 tahun jadi mantunya orang Tuban cuma tahu Bravo, Samudera, alun-alun, Gua Ngerong dan RM Kurnia Dewi sih. Bahkan ke Pantai Boom yang dekat rumah aja saya belum pernah. Zzzzz. Sungguh rugi saya.

    Tapi nggak rugi kok main ke blog milik mahmud abas kelahiran kota Kediri yang tampilannya bertema minimalis ini. Artikel-artikelnya ditulis dengan manis dalam gaya bahasa serius tapi tidak membosankan. Banyak hal-hal baru yang bisa didapat di sana, bagi saya yang menarik tentu soal parenting dan Tuban. Tapi yang lain juga tidak kalah seru. Hanya saja saya berharap Anis bisa lebih rajin lagi mengisi blognya supaya pembaca yang main ke sana bisa selalu mendapatkan bacaan segar yang menarik.

  • arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif
    Blogger Profiles, Life in Brunei

    5 Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Masuk Fakultas Psikologi

    Akhir-akhir ini linimasa media sosial saya, khususnya Facebook, dipenuhi dengan tautan artikel tentang seorang selebgram remaja yang kontroversial. Kontroversial karena bagi followernya, gadis berusia 19 tahun itu dianggap keren dan menjadi panutan. Banyak remaja ingin menjalani kehidupan yang dibagi pemilik nilai UN Matematika SMP sempurna tahun 2013 tersebut melalui akun Youtube, Snapchat dan Instagram. Namun, kepopuleran awkarin yang sebenarnya hanya satu di antara banyak remaja sepertinya, membuat para orangtua terkejut, menghujat dan menganggap Karin sebagai perusak moral remaja.

    Mungkin kehidupan Karin adalah potret remaja di Indonesia masa kini, karena beberapa bulan lalu saya pernah membahas tentang gadis asal Riau ini di sebuah forum dan para ibu menganggap sebagai “gaya hidup masa kini anak Indonesia.” Sekolah, gaul, pacaran, tapi tetap memiliki nilai yang bagus di sekolah. 

    arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

    Okelah, saat itu saya merasa sayalah yang udik. Maklum, kelamaan hidup di hutan. Tapi ternyata, saya menemukan bahwa masih banyak lho, remaja Indonesia yang mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat dan layak dicontoh. Seperti Alifia Seftin Oktriwina, gadis manis asal Padang yang saat ini tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata untuk syarat kelulusannya sebagai mahasiswa Psikologi di Universitas Andalas.

    Saat ini, Awin, panggilan akrabnya memang berusia lebih tua dari Karin. Namun, saat masih duduk di bangku SMA, Awin telah memantapkan diri untuk mengakrabi dunia jurnalistik dengan bergabung sebagai reporter remaja di harian Singgalang untuk suplemen mingguan Singgalang Masuk Sekolah. Lepas dari SMS, Awin bekerja sebagai reporter pada portal inioke.com dan ekspressnews.com.

    Sebagai mahasiswa Psikologi, Awin juga aktif berorganisasi di Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia dan menjabat sebagai Koordinator Badan Informasi dan Komunikasi Wilayah I. Dan masih memiliki waktu untuk mengisi blog pribadinya Le Belle et son Hijab yang berarti Si Gadis Berhijab. 

    arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

    Blog bertagline Simplified Beauty and Syar’i ini berisi kisah keseharian jurnalis muda asal Ranah Minang yang mencintai kata seperti mencintai kedua orangtuanya. Berbagai resensi buku yang pernah ia baca serta tempat makan yang pernah dikunjungi juga mengisi blog dengan tema minimalis berwarna putih. 

    Meski blognya cukup menarik untuk dibaca, akan lebih memudahkan jika diberikan kategori untuk tiap tulisan yang ada atau setidaknya ada fitur search, supaya pembaca dapat mencari tulisan yang sesuai minatnya tanpa harus mengubek-ubek blog dari depan sampai belakang. Selain itu, dengan kapasitas Awin sebagai jurnalis dan mahasiswa Psikologi, sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi dan menjadi bahan tulisan menarik di blognya untuk menarik pengunjung. Seperti suka duka menjadi reporter remaja atau hal menarik yang pernah ia alami sebagai mahasiswa Psikologi.

    Stereotipe tertentu seringkali disematkan kepada mahasiswa Psikologi, setidaknya itulah yang saya alami ketika berkuliah di fakultas ini 12 tahun yang lalu. Mulai dari dituduh bisa “membaca” orang lain, diminta bocoran supaya bisa lulus tes psikologi, mencari orang untuk menjadi testee sampai menjalani live in di komunitas-komunitas tertentu sebagai syarat kelulusan sampai merasa kecele karena ternyata belajar Psikologi tidak sesuai dengan bayangan saya sebelumnya. Apa saja? 

    Ini dia 5 Hal Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Fakultas Psikologi

    arisan link, blogger perempuan, mahasiswa psikologi, as oktriwina, aliviaawin, fakultas psikologi, remaja aktif

    1. Psikologi Tidak Lepas Dari Biologi dan Matematika

    Jadi jangan memilih kuliah Psikologi jika nggak mau belajar Biologi dan Matematika. Di sini kita akan menemukan mata kuliah Psikologi Faal atau biopsikologi. Pelajaran ini wajib karena kita mempelajari tentang perilaku manusia yang dipengaruhi oleh syaraf, indera, respon tubuh kita.

    Dan Matematika, hah! 2 semester kita belajar Statistik. Iya, pengolahan data mentah, tabel, kurva, grafik, sebagai syarat mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian untuk dapat mengikuti pelajaran Psikometri pada tahun-tahun akhir kuliah. Tapi jangan khawatir, nggak seperti jaman SMA, saat kuliah kita boleh dong pakai kalkulator bahkan akan sangat akrab dengan software analisa statistik SPSS.

     2. Tidak Cukup Hanya S1 Untuk Menjadi Psikolog

    Yes, you read it right. Untuk menjadi psikolog, seorang sarjana Psikologi (S.Psi) harus menempuh jenjang pendidikan berikutnya, yaitu Magister Profesi Psikologi. Ada 2 jenis strata 2 untuk Psikologi, Magister Psikologi dan Magister Profesi Psikologi. Magister psikologi dapat ditempuh oleh semua lulusan S1 yang tertarik untuk mempelajari psikologi lebih dalam, namun magister profesi psikologi hanya untuk lulusan S1 Psikologi dan lulusannya inilah yang sering kita cari untuk berkonsultasi secara profesional baik di bidang klinis, pendidikan, industri & organisasi maupun perkembangan anak.

    Karena inilah saya terpaksa harus memendam sementara keinginan menjadi psikolog. Lulus S1 langsung kerja trus menikah, hamil, punya anak dan mengikuti suami berpindah kota membuat saya tidak sempat menempuh jenjang magister profesi. Tapi impian itu belum sirna sama sekali, masih berharap diberi kesempatan meraih gelar tersebut. Mohon doanya yaaa.

    3. Fakultas Psikologi Didominasi Oleh Perempuan

    Mulai dari dosen sampai mahasiswa kebanyakan adalah perempuan. Ini tentu menjadi keuntungan bagi sesama perempuan ya. Seperti pengalaman saya, I got my best friends for life. Bahkan seorang di antaranya jadi adik ipar saya hahaha. Kita nggak perlu takut nggak akan punya teman di program studi ini, pertama karena akan ada banyak sekali perempuan dari berbagai angkatan yang akan klik dengan kepribadian kita. Kedua, di tempat ini kita belajar mengenal perilaku manusia, belajar mengenali pribadi diri sendiri lebih baik dan tidak menghakimi orang lain sehingga meski ada grup-grup kecil, jarang sekali terjadi clash antar grup. 

    4. Mahasiswa Psikologi Bukan Cenayang

    Sungguh! Kami mempelajari perilaku dan pikiran manusia dengan berbagai metode ilmiah. Tes, observasi, eksperimen dan interview adalah sedikit di antaranya. Tidak mudah bagi mahasiswa psikologi untuk menilai kepribadian seseorang hanya dari pertemuan 3 menit. Jadi jangan pernah iseng tanya ke mahasiswa psikologi yang baru kita kenal, “Menurut kamu, aku gimana?” kecuali bersedia menjadi obyek penelitian *wink*

    5. Harus Siap Menjadi Tempat Curhat

    Begitulah, saat orang tahu kalau kita adalah mahasiswa psikologi, nggak jarang mereka langsung bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi. Bisa jadi karena mahasiswa psikologi diajarkan teknik konseling sehingga lebih suka mendengarkan daripada menghakimi, karena sebenarnya itulah yang dibutuhkan oleh orang yang sedang curhat. Didengarkan. 

    Nah, sudah siap jadi anak Psikologi? Kalau mau tanya-tanya lebih lanjut tentang keseruan berkuliah di program studi psikologi atau asiknya menjadi reporter remaja, silakan aja ngobrol sama Awin di akun media sosialnya. Oya, sekarang Awin sudah bikin FAQ Tentang Psikologi, lho. Jadi buat teman-teman yang sedang mencari info tentang serba-serbi perkuliahan di Fakultas Psikolog langsung aja meluncur ke akun youtubenya ya. Atau email Awin di alviaawin@gmail.com.

     

  • lion dance, chap goh mei, chinese new year 2016
    Life in Brunei

    Perayaan Chap Goh Mei di Sekolah Cinta

    Sebagai sekolah Cina, sudah menjadi tradisi mereka merayakan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Cina. Ada Mid Autumn Festival, Chinese New Year, Chap Goh Mei, dll. Setiap perayaan punya ciri khasnya sendiri dan perayaan Chap Goh Mei pasti dimeriahkan dengan pertunjukan Lion Dance.

    Chap Goh Mei 2016, Lion Dance, Chinese New Year 2016, Imlek 2016, Brunei, Chinese school, Seria

    Persiapan sekaligus mengiringi barongsai yang memberkati ruang kelas

    Kalau biasanya pertunjukan ini hanya dapat dilihat oleh anak-anak karena diadakan di sela-sela aktivitas belajar mengajar, tahun ini sekolah memberi kesempatan kepada orangtua untuk menyaksikannya. Dan saya pun nggak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hari Senin, 22 Februari kemarin, atas permintaan kakak Cinta, saya sudah siap di dalam gedung sekolah sebelum pukul 10 pagi.

    Ada untungnya juga datang lebih awal dari waktu pertunjukan yang dijadwalkan jam 10 pagi itu. Selain bisa melihat para Lion Dancer bersiap-siap, saya juga bisa menyaksikan kehebohan anak-anak ketika barongsai memasuki ruang kelas dan ‘memberkati’ kelas mereka. Seru juga, apalagi di kelas lower primary. Anak-anak kecil itu berebut pengen megang si barongsai.

    lion dance, chap goh mei 2016, chinese new year 2016, brunei, seria

    Lion Dance masuk dan memberkati ruang kelas dengan mengupas jeruk-jeruk persembahan. Sumber foto: CCMS FP

    Padahal para penari barongsai itu ya kakak-kakak kelas mereka juga. Anak-anak middle school dari sekolah yang sama. Meski masih SMA, kemampuan mereka bagus lho. Malah klub-klub lion dance dari sekolah-sekolah ini sering diundang perform dalam perayaan Chinese New Year di kantor atau rumah.

    Kalau dulu, mereka juga sering tampil di tempat umum. Waktu masih tinggal di apartemen yang jadi satu dengan supermarket, tiap tahun baru Cina pasti bisa nonton lion dance ini dari dekat, karena pemilik apartemen & supermarket selalu mengadakan pertunjukan lion dance untuk memberkati toko dan apartemennya serta menghibur keluarga dan pengunjungnya. Tapi sejak 3 tahun terakhir, berdasarkan peraturan baru, pertunjukan tersebut hanya boleh dilakukan di rumah, sekolah atau komunitas khusus. Meski demikian, konon, honor untuk tampil menari barogsai ini cukup besar. Hebat ya, klub sekolah pun bisa jadi profesional.

    Lion Dance, Chap Goh Mei 2016, Chinese New Year 2016, Imlek 2016, Brunei, Chinese School, Seria

    Lion Dance

    Setelah berkeliling masuk ke beberapa ruang kelas, rombongan barongsai ini kembali ke lapangan, berkumpul bersama ratusan anak yang sudah duduk manis menunggu kehadiran mereka. Saya pun menemukan Cinta di tengah teman-temannya. Dan begitu melihat saya, dia memilih untuk menonton dari pinggir ruang kelas bersama saya daripada teman-temannya. Saya jadi merasa tersanjung hihihi. Untungnya lokasi kami nonton cukup strategis sehingga bisa leluasa menyaksikan atraksi lion dance itu.

    Meski cukup sederhana dan nggak pakai panjat-panjat tiang seperti biasanya. Pertunjukannya cukup menghibur. Anak-anak antusias nontonnya, terutama ketika salah satu barongsai lempar-lempar jeruk dan permen. Pada berebut deh.

    Lion Dance, Chap Goh Mei 2016, Chinese New Year 2016, Imlek 2016, Chinese School, Brunei, Seria

    Berebut jeruk dan permen. Sumber foto: CCMS FP

    Jeruk memang selalu jadi bagian dalam perayaan Chap Goh Mei, seperti kue keranjang yang tak terpisahkan dengan perayaam Mid Autumn Festival. Tiap tahun baru Cina, pasti supermarket banjir dengan jeruk-jeruk Mandarin yang manis-manis dan dibungkus plastik itu.

    Chap Goh Mei sendiri adalah perayaan yang dilakukan pada malam ke-15 setelah tahun baru Cina sebagai penutup dari rangkaian perayaan Chinese New Year. Ketika Chap Goh Mei, biasanya keluarga berkumpul untuk makan besar dan menyalakan kembang api. Macam lebaran gitu kali ya. Rumah-rumah pun dihias indah dengan lampion merah. Pokoknya tiap tahun baru Cina, rumah-rumah, toko-toko dan sekolah Cina pasti lebih meriah dari biasanya dengan aneka hiasan berwarna merah. Cantik banget.

    Selamat memasuki tahun Monyet bagi teman-teman yang merayakan. May good luck and good fortune always be with you.

  • mitsubishi asian children's enikki festa, brunei, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai
    Daily Stories, Life in Brunei

    Cinta dan Children’s Enikki Festa

    Waktu Cinta masih duduk di kelas 2, saya suka gemas dengan kebiasaannya menyobek buku tulisnya untuk menggambar. Ternyata, kegemasan yang sama juga dirasakan oleh wali kelasnya. Beberapa kali beliau dengan nada setengah putus asa bercerita bahwa Cinta suka sekali menghabiskan waktunya di kelas untuk menggambar dibandingkan mendengarkan guru-gurunya menerangkan pelajaran. Saya pun mencoba untuk bersepakat dengan Cinta akan hal ini dengan memberikannya buku tulis khusus yang bisa dipakainya untuk menggambar dengan syarat hanyaboleh melakukannya saat jam istirahat.

    Mitsubishi Asian Children's Enikki Festa, sekolah, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

    Selama beberapa waktu kesepakatan ini berjalan dengan baik. Saya tidak lagi menemukan buku-buku latihan atau PR yang tiba-tiba menjadi tipis karena sering disobek tengahnya untuk menggambar.

    Namun, wali kelasnya berpikiran lain. Beliau merasa Cinta masih terlalu sering menggambar dan ditambah lagi dengan kebiasaannya melamun saat bosan. Cikgu menganggap kedua hal itu mengganggu konsentrasi Cinta di kelas, lantas meminta saya untuk tidak lagi membawakan Cinta buku untuk menggambar.

    Dengan terpaksa, saya kembali mengingatkan Cinta untuk hanya menggambar saat jam istirahat atau sedang nggak ada pelajaran. Hanya saja, kali ini saya memberi ultimatum, kalau sampai Cikgu mengeluh lagi tentang kebiasaannya itu, buku gambarnya akan saya sita. Dia pun setuju.

    Ternyata, hobi menggambarnya Cinta ini, meski sering mengganggu konsentrasinya di kelas, membuatnya selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran Art. Cikgu wali kelas sendiri mengakui bahwa di antara teman-teman sekelasnya, setiap ujian Art, Cinta selalu termasuk yang paling rapi dan cepat selesai. Karena inilah di bulan Oktober tahun lalu, Cinta ditunjuk untuk mewakili kelasnya dalam “Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2015/2016” bersama  seorang teman sekelasnya. Dari 2 orang ini dan beberapa lainnya dari masing-masing kelas, dipilih lagi menjadi 9 orang yang gambarnya dikirim ke festival tersebut mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan Cinta termasuk di antara 9 orang tersebut.

    Tentang Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa

    The Mitsubishi Public Affairs Committee, the Asian Federation of UNESCO Clubs and Associations, and the National Federation of UNESCO Associations in Japan have sponsored this Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa since 1990.

    This Festa started up “Mitsubishi Impression-Gallery- Festival of Asian Children’s Art” in order for cultural exchange and support for literacy education by means of Enikki (illustrated diaries) and change its name in 2006.

    The Festa so far has collected 635,511 works from 24 Asian nations and regions. The exhibition of represented works have taken place all over Japan as well as overseas, and those represented works have been incorporated into textbooks for local schools in order for participating nations + regions to promote literacy education.

    source: enniki.mitsubishi.or.jp

    Sebenarnya, tema festival menggambar ini bukan keahliannya Cinta. Sesuai dengan namanya, Enikki yang dalam bahasa Jepang berarti illustrated diaries, kompetisi kali ini meminta anak-anak menggambar hal-hal berkesan bersama keluarga. Antara lain, pengalaman berlibur, aktivitas yang menyenangkan, dan lain-lain. Ya seperti menulis buku harian lah, hanya saja dalam bentuk gambar.

    Cinta sendiri menggambar pengalamannya berlibur bersama keluarga. Mulai dari naik pesawat di mana dia menggambar pesawat dan kami bertiga (saya, Cinta dan Keenan); naik kuda di Taman Safari; naik perahu di Kampong Ayer; dan dua gambar lainnya yang nggak sempat saya lihat karena diselesaikan di sekolah bersama gurunya.

    Selain gambar, mereka juga diminta untuk mewarnai sebaik mungkin dan menulis cerita tentang gambar tersebut. Nah, Cinta kurang suka tuh mewarnai. Tapi dia tetap semangat dan berusaha. Bahkan ketika diminta untuk datang ke sekolah di hari libur untuk menggambar dipandu oleh guru-guru Art pun dia dengan senang hati menyiapkan sendiri keperluannya.

    mitsubishi asian children's enikki festa 2015/2016, kompetisi, sekolah, Brunei, menggambar, mewarnai, aktivitas anak

    Setelah sekian lama, akhirnya beberapa hari lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa salah seorang murid mereka, yaitu Charlotte Lay Zhi How dari kelas 5 Lily berhasil mendapatkan Excellent Award dalam ajang yang disponsori oleh Mitsubishi Jepang tersebut. Cinta sendiri rupanya masih harus banyak belajar lagi, terutama soal mewarnai dan menulis cerita. Tapi dia sendiri merasa sudah cukup senang dan bangga bisa berpartisipasi dalam festival tersebut. Saya pun bangga karena Cinta mau keluar dari zona nyamannya, belajar berkompetisi dan memberikan usaha terbaiknya. Semoga tahun ini dapat kesempatan lagi, ya, Kak.