Tag Archives: sehari-hari

My Heartwarming Moment

Terbangun di dini hari dengan perasaan tak nyaman, lalu mendapati dua orang yang sangat berarti ini tidur dengan lelapnya. Begitu damai, begitu besar rasa syukur akan kehadiran mereka. Couldn’t ask for more.

Walk A Mile in His Shoes

Saat hosting akun twitter majalah parenting online tempat saya kerja dan menulis rangkumannya, saya merasa tersentil dengan saran-saran tentang mendukung karir suami. Banyak ibu yang berusaha melakukan hal terbaik untuk mendukung pasangannya dalam meraih karir. Di saat yang nyaris bersamaan, di FB saya muncul status-status bernada komplain dari beberapa teman karena suaminya terlalu sibuk bekerja sampai nyaris tak ada waktu untuk keluarga.

Jujur saja, saya dulu pun termasuk yang suka ngomel kalau suami pulang malam, tiba-tiba disuruh bekerja di hari Sabtu atau dikirim ke proyek di luar kota bahkan luar negeri. Sementara saat itu saya sedang dalam keadaan hamil. Kesal karena harus periksa kehamilan dan senam hamil sendiri, sementara ibu-ibu lain tampak bahagia didampingi suaminya.

Pun, waktu suami yang sudah ditempatkan di proyek Brunei tiba-tiba harus supervisi proyek di Cikarang selama 2 minggu, saya kesal setengah mati karena harusnya itu jatah liburnya. Bayangkan, sudahlah LDR, cuma ketemu 2 bulan sekali eee bukannya menghabiskan waktu sama keluarga malah disuruh kerja. Akhirnya saya minta dia pulang-pergi Parung – Cikarang dan ngomel setiap kali dia sampai rumah di atas jam 8 malam. Suami pun lama-lama kesal karena sudah capek-capek kerja, stres nyetir di tengah jalanan yang padat eh disambut dengan wajah cemberut instead of senyuman. Sampai akhirnya saya mencoba beberapa nasihat dari Mama dan teman-teman ini:

Walk A Mile in His Shoes

Kadang Tuhan bekerja dengan cara yang lucu untuk menyadarkan kita. Suatu hari ketika ke Bandung, kami melewati rute yang dilalui suami setiap harinya, Serpong – Cikarang, pp. Ternyata selain sangat jauh juga macet. Pulang pergi harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Bisa lebih kalau macetnya parah. Sejak itu saya berusaha untuk mengurangi keluhan atas kesibukan suami. Berusaha memahami yang ia lalui setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Continue reading

Beradaptasi di Sekolah Baru

Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin *grin*. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan *tepok jidat*.

Continue reading

One Step At A Time

Sebelum pindah, suami sudah wanti-wanti kalau nanti di sini kita nggak bisa punya ART seperti di Indonesia. Awalnya saya pikir nggak masalah, semua pasti bisa ditangani dengan baik. Yang penting bisa pindah dan kumpul dengan suami dan anak.

Tapiiiiii… Ternyata buat perempuan yang dibesarkan dengan fasilitas ART dan dimanjakan dengan oleh support system yang mudah didapat di Indonesia, nggak mudah untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga plus ngurus anak sendiri. Belum lagi ngatur waktu untuk nulis. Rasanya ngos-ngosan.

Seminggu pertama sih masih santai, makan selalu diluar, Cinta juga gampang tidur dan makannya. Masih sering pergi jadi nggak suntuk di rumah. Masuk minggu kedua, mulai stres karena setrikaan numpuk, rumah berantakan terus, Cinta sudah mulai bosen pergi dan maunya nonton tv aja di rumah. Mau masak cari bumbu dapur dan bahan yang fresh susah, begitu dapet bingung mau masak apa. Makan di luar selain lama-lama tekor juga bosen terus-terusan makan masakan Cina dan India. Sekalinya nemu nasi bebek eh rasanya bikin pengen nangis. Aaarrrgghhh…

Continue reading

Journey to My Sister’s Wedding: Hunting Kain Seragam

Seperti pada umumnya pernikahan, seragam keluarga adalah salah satu printilan (please deh, bahasanya :p ) yang harus diperhatikan. Biasanya sih seragam ini dibedakan antara orangtua pengantin, saudara kandung pengantin, keluarga besar, among tamu, penerima tamu, pagar ayu dan teman-teman dekat. Ada keluarga yang memilih menyewakan kebaya/baju daerah sesuai adat pernikahan atau membelikan kain untuk para sanak saudara. Eh, meskipun nggak sepenting penghulu, gedung atau catering, tapi biaya yang dikeluarkan untuk beli atau sewa seragam ini ternyata juga nggak kecil lho. Jadi memang harus disiapkan anggaran khusus untuk kain seragam, baju sanak saudara laki-laki dan make up keluarga :)

Selain budget, masih ada lagi yang harus dipersiapkan sebelum hunting kain:

  • Tentukan warna utama dalam acara pernikahan dan warna turunannya.
  • Buat kategori pengguna seragam dan siapa-siapa aja yang masuk di dalamnya.
  • Bagi warna-warna turunan itu dalam kategori pengguna seragam. Sesuaikan juga dengan usia penggunanya.
  • Tentukan jenis kain yang mau digunakan, apakah brokat, lace, tule (tile) atau chiffon. Produk lokal atau impor.
  • Buat anggaran khusus berdasarkan kategori pemakai seragam. Misalnya untuk kain seragam orang tua dengan range harga 100.000 – 200.000/meter, saudara kandung <100.000 dan yang lain <50.000/meter.

Kalau sudah siap semua, waktunya belanja kain. Bisa di pasar khusus kain seperti Mayestik, Tanah Abang atau seperti kami yang di Surabaya ada JMP (Jembatan Merah Plaza). Kalau pengen yang nyaman silakan ke toko-toko kain di mall seperti Alta Moda, dll.

Berdasarkan pengalaman 3 kali belanja kain untuk seragam pernikahan di JMP, berikut tips hunting kain yang nyaman: Continue reading