Browsing Tag:

school holiday

  • Life in Brunei

    Baking is a Science

     photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

    Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

    Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

    Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

    Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

    Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

    Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

     photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

    Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

    Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

     photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

    Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

    Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

  • Life in Brunei

    Science Show at OGDC

    Science show at OGDC. Setiap main ke OGDC pasti ada ilmu baru yang didapat, baik dari lihat pamerannya atau pertunjukannya. Nah, hari ini kami dapat kesempatan dihibur dengan magic show ala science oleh pemandu OGDC.
     photo 87812420-C616-4460-AC68-D0198B68D358_zps9fmfqgqm.png

    Pada pertunjukan yang pertama, kakak pemandu menuangkan air ke dalam satu dari tiga gelas plastik yang tersedia. Kemudian ia menindahkan posisi gelas dan meminta anak-anak menebak gelas mana yang ada airnya. Setelah itu ia menuangkan satu per satu isi gelas ke telapak tangannya.

    Gelas pertama nggak ada airnya, begitu pun gelas kedua. Saat gelas yang ditunjuk anak-anak hendak dituang, mereka heboh berteriak, “No, don’t throw the water. We’ll get wet!” sambil melangkah mundur. Akhirnya isi gelas pun dituang ke telapak tangan kakak pemandu dan ajaib, nggak ada airnya. Wow!

     photo 17F6E958-754F-4A4B-BD89-6690A359B3B4_zpsldhqrl1x.jpg

     photo 40EB9BB3-2D88-4F44-BB64-05A134AE187A_zpsnnz0xyaa.jpg

    Setelah diperlihatkan dalamnya air yang tadi dituang ke dalam gelas sudah berubahmenjadi benda padat yang lengket. Ternyata di dalam gelas sudah ada bahan yang bisa menyerap air dan mengubahnya menjadi benda padat. Sayang saya nggak mendengarkan nama bahannya dengan jelas karena sibuk menemani Keenan main. Sementara anak-anak saking kagumnya juga lupa namanya.

    Percobaan kedua adalah menusuk balon dengan tusukan sate. Pada balon  yang pertama begitu disentuh tusuk sate langsung meletus. Tapi pada balon yang kedua, tusuk sate bisa dengan sukses masuk ke dalam balon tanpa membuatnya meletus. Magic!

     photo 3F7034A9-0ECA-4FF8-880A-0593C0A48C22_zpscwfa9gw6.jpg
     photo 4EA466D7-AAF0-4ACC-8B78-39E3D7177819_zpscjmeq3th.jpg

    Ternyata triknya adalah dengan memasukkan tusuk sate pada bagian balon yang paling tidak melar, yaitu di dekat ikatannya. Pada bagian itu balon bisa dengan lentur mengikuti tusuk sate sehingga terciptalah sate balon. Hehehe.

    Nah, pada pertunjukan ketiga, kakak pemandu mengeluarkan mainan ringan dari bulu dan benda yang terbuat dari susunan gelas styrofoam. Anak-anak ditantang untuk menerbangkan mainan bulu melalui benda tersebut yang lagi-lagi nggak saya perhatikan nama ilmiahnya. Ternyata dengan meletakkan bulu di bawah tabung itu menggoyangkan tabungnya, bulu bisa keluar dari atas tabung.

     photo CF83ED42-6207-4A6F-A6B2-2F8B582F10F3_zpsapwvdqxh.jpg

    Jadi dengan menggoyangkan tabung tersebut, terciptalah tornado skala super mini yang bisa menerbangkan benda-benda ringan. Simpel ya sebenarnya.

    Lumayan juga ilmu yang didapat hari ini. Serunya lagi, semua itu bisa dipraktikkan dengan benda-benda yang ada di rumah. Yuk, ikutan mencoba bareng anak-anak. Pasti mereka senang.

    Gambar diambil dari: Realego.com. Diedit menggunakan aplikasi PicLab HD.