3 Ide Hasta Karya Untuk Anak TK

kids activities, sensory play, kegiatan anak tk

Sebagai seorang ibu, seringkali kita dituntut untuk kreatif dalam memberikan aneka kegiatan bagi anak-anak, terutama ketika mereka masih pra sekolah atau TK. Di masa ini, anak masih menghabiskan sebagian besar waktunya bersama kita kan ya? Sehingga, meski ada yang sudah bersekolah, kita tetap harus menyiapkan aktivitas yang dapat dikerjakan bersama-sama sebagai stimulasi perkembangannya.

Dengan adanya media sosial, sebenarnya gampang sekali kita mendapatkan berbagai ide untuk membuat ketrampilan atau hasta karya untuk anak. Tapi, kadang ide-ide tersebut terlalu rumit untuk ditiru. Nah, sejak Keenan sekolah, saya jadi sering memperhatikan hasil kerajinan tangan anak-anak KG1 – KG 3 yang sering dipajang di teras sekolah. Yang menurut saya menarik dan mudah dipraktikkan pun saya kumpulkan untuk nanti ditiru di rumah bersama Keenan dan Cinta.

Berikut ini adalah 3 hasil hasta karya anak-anak di sekolah Keenan yang mudah dan tidak memerlukan banyak bahan. Anak-anak pun dijamin suka karena kebanyakan melibatkan cat. Yaiy!

H for Handbag

Aktivitas ini bertujuan mengenalkan huruf “h” kepada anak-anak dengan cara membuat tas tangan dari piring kertas. Cocok sekali untuk si kecil yang ingin punya tas seperti mama.

prakarya untuk anak tk. craft for kindergarten, finger painting ideas, dinosaurus, prakarya dari piring kertas

Bahan:

2 buah Piring kertas
Lem serbaguna
Cat
Kuas/spon
Pensil
Aneka stiker, glitter dan semacamnya untuk menghias tas

Cara Membuat:

  1. Gunting setengah bagian dalam kedua piring kertas, pastikan bagian pinggir tetap utuh sebagai pegangan tas.
  2. Tulis huruf “h” pada bagian luar piring kertas. Mama memberi contoh dan biarkan anak mengikuti tulisan tersebut.
  3. Tempel bagian pinggir kedua piring kertas pada bagian dalamnya.
  4. Hias piring kertas dengan cat, stiker, glitter sesuka anak.
  5. Tas tangan dari piring kertas siap digunakan.

 

Seekor Dinosaurus

prakarya untuk anak tk. craft for kindergarten, finger painting ideas, dinosaurus, prakarya dari piring kertas

It’s time for finger painting! Kadang saya tuh suka bingung kalau anak-anak minta main finger painting. Abis kalau nggak terarah, mereka ya cuma tempel-tempel tangannya di kertas trus setelah bosan ditinggal dan mulai menempel cap telapak tangannya ke tembok dan tempat lainnya. Setelah melihat contoh yang satu ini, sepertinya aktivitas finger painting jadi lebih seru dan berarti. Karena anak juga belajar tentang dinosaurus atau binatang lain yang dijadikan tema lukisan. Mau coba? Ini caranya.

Bahan:

Kertas putih
Cat yang aman untuk finger painting
Baca juga Finger Paint: Homemade vs Factory made
Kuas untuk membuat badan dinosaurus
Kertas warna dipotong zig zag sebagai rumput

Cara Membuat:

  1. Siapkan finger paint dan kertas.
  2. Buat cetakan telapak tangan anak yang sudah dilumuri finger paint di atas kertas putih.
  3. Buat gambar tubuh dan kepala dinosaurus dari hasil cetakan tersebut.
  4. Tempel kertas warna yang sudah dipotong zig zag di bagian bawah kertas.
  5. Sambil berkreasi, ajak anak bercerita tentang dinosaurus dan habitatnya, makanannya, cara hidupnya dan lain-lain.

 

S for Snail

Suka mengumpulkan kerang saat jalan-jalan di pantai? Sekarang waktu yang tepat untuk menggunakannya bersama anak-anak dengan membuat bekicot dari kerang di atas piring kertas. Caranya mudah sekali. Yuk, kita coba.

prakarya untuk anak tk. craft for kindergarten, finger painting ideas, dinosaurus, prakarya dari piring kertas

Bahan:

Piring kertas
Spidol untuk menggambar badan bekicot
Googley eye
Kerang
Lem serbaguna
Cat/Crayon/Pensil warna

Cara Membuat:

  1. Gambar badan bekicot di bagian dalam piring kertas
  2. Minta anak untuk mewarnai tubuh bekicot
  3. Tempelkan kerang di atas tubuh bekicot sebagai rumahnya
  4. Tempelkan googley eye sebagai mata bekicot
  5. Hias piring kertas sesuai kreativitas anak

Aktivitas ini berguna untuk mengajarkan anak mengenal huruf “s” dari snail, juga mengenal binatang dan habitatnya. Kalau di sekitar rumah ada bekicot, anak bisa diajak meneliti bekicot asli dengan membawa hasil karyanya sebagai pembanding. Petualang dan ilmuwan cilik kita pasti senang sekali.

 

Bola Bola Nasi Keju

bola nasi keju, nasi, keju, masak dengan anak, cooking with children, resep, camilan anak

Halo…

Kembali lagi dalam seri Cooking with Cinta. Kali ini kami mau bikin camilan berbahan nasi dan keju. Kenapa memilih itu? Karena anak-anak suka banget yang namanya keju. Kadang kalau lagi nggak doyan makan, dikasih nasi yang ditaburi keju parut aja udah deh lahap makannya.

bola nasi keju, bekal sekolah, camilan anak, masak bersama anak, resep

Biar nggak bosan ngemilin nasi dan keju dalam bentuk yang itu-itu lagi, saya coba ajak Cinta membuat bola-bola nasi keju. Caranya gampang sekali. Bahannya pun mudah dan takarannya bisa disesuaikan dengan selera keluarga. Anak-anak pasti bisa deh bikin sendiri. Paling cuma perlu bantuan orangtua untuk menggorengnya. Dan rasanya juga enak. Yah, semua yang pakai keju pasti enak ya hehehe. Yang jelas sih, rasanya yang ngeju tapi nggak terlalu bikin eneg membuat anak-anak suka banget ngemil ini sambil nonton tv di jam-jam nanggung antara setelah makan siang dan sebelum makan malam.

Oya, bola-bola nasi keju ini juga bisa lho, untuk variasi bekal sekolah anak-anak. Supaya nggak repot bikinnya, siapkan aja pada malam hari. Setelah dilapisi tepung roti, bola nasi keju dapat disimpan dalam freezer selama 1 minggu. Jadi pada pagi hari tinggal dikeluarkan dari kulkas dan digoreng. Praktis kan.

Yuk, biar nggak lama-lama langsung aja tonton tutorialnya dan contek resepnya di bawah ini.

BOLA-BOLA NASI KEJU ALA CINTA

Bahan:

Nasi putih secukupnya
Keju parut secukupnya
1 butir telur, kocok lepas
Tepung roti secukupnya
Keju mozarella secukupnya (optional)
Minyak untuk menggoreng

Cara Membuat:

  1. Campur nasi putih dengan keju sampai rata.
  2. Letakkan 1 sendok makan nasi di telapak tangan, lalu isi dengan keju mozarella. Kemudian bentuk bola dengan keju mozarella di tengahnya. Lakukan sampai nasi habis.
  3. Lapisi bola dengan telur dan gulingkan dalam tepung roti.
  4. Goreng dalam minyak banyak yang sudah hangat sampai bola-bola nasi berwarna kekuningan.
  5. Bola-bola nasi keju siap disantap hangat-hangat.

Catatan:

  • Kami menggunakan keju mozarella supaya ada efek keju leleh di dalamnya. Tanpa itu pun sudah enak.
  • Supaya lebih sehat, bisa juga ditambahkan wortel parut yang sudah direbus ketika mencampur nasi dan keju.
  • Tambahkan sedikit mixed herbs atau bumbu seperti oregano, basil, merica agar lebih beraroma. Saya nggak pakai karena tepung roti yang saya gunakan sudah mengandung garam, bawang putih dan bumbu-bumbu lain.

Selamat mencoba.

Berlomba Saat Libur Sekolah

 photo B312D6EB-4D93-4DDB-B16A-BFF7CC633C05_zpsjyqaepyi.jpg

Kemarin, di hari ke-18 kami berlibur di Sidoarjo, kakak Cinta ikut kompetisi New Era Mencari Bintang edisi kota Sidoarjo yang diadakan oleh New Era. Banyak bidang yang dilombakan, mulai dari Matematika, Bahasa Inggris, Sains, Mewarnai (Ibu dan Anak) sampai Top Model dan Fashion. Tapi (awalnya) kakak cuma mau ikut lomba Bahasa Inggris dan Mewarnai.

Sampai di Lippo Plaza, tempat lomba berlangsung, anak-anak pun mulai duduk manis di arena yang disediakan sambil menunggu lomba bahasa Inggris dimulai. Sementara Keenan ditemani papanya main di playground yang ada di dalam mall.

Sejujurnya saya nggak berharap banyak, dengan Cinta mau membuka diri untuk ikut lomba semacam ini, saya sudah cukup senang. Meskipun agak bingung memilih kategori untuk lomba bahasa Inggrisnya. Ya gimana, di Brunei Cinta baru saja menyelesaikan kelas 2, sementara teman-teman seangkatannya di Indonesia sudah menjalani satu semester di kelas 3. Kalau diikutin kelas 3, saya khawatir Cinta nggak bisa ngikutin materinya. Sementara kalau ikut kelas 2, ya jelas dia lebih advance 6 bulan daripada anak kelas 2 di Indonesia yang baru satu semester belajar materi kelas 2.

image//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Tapi akhirnya Cinta tetap ikut kategori kelas 2 yang ternyata hanya diikuti oleh 2 orang. Hahaha. Jelas ya, gelar juara ada di tangan, pikir saya. Dan benar aja, nggak sampai 30 menit Cinta sudah menyelesaikan soal-soal yang diberikan. “I checked it twice,” jawabnya ketika diminta untuk memeriksa lagi jawabannya sebelum dikumpulkan ke panitia.

Setelah bahasa Inggris, ternyata masih ada lomba Sains sebelum lomba mewarnai dimulai. Melihat soal dan tata cara lomba yang cukup mudah, yaitu tiap peserta hanya perlu menjawab soal-soal pilihan ganda yang sesuai dengan kelasnya, saudaranya Cinta yang ngeliat si kakak ikut lomba ternyata pengen nyoba juga. Dan ternyata Cinta juga mau ikut. Ya sudah, akhirnya daftar on the spot deh mereka berdua dengan membayar Rp 40.000,00 per orang.

Ternyata peserta lomba Sains lebih banyak dari bahasa Inggris dan sepertinya soalnya lebih sulit. Kemungkinan sih karena pertanyaannya dalam bahasa Indonesia. Sementara meski di Brunei belajar bahasa Melayu, Cinta masih agak kesulitan membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia. Sehingga dia mengumpulkan jawabannya nyaris ketika waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal habis.

lomba sains, new era, sidoarjo, kompetisi anak

Tapi alhamdulillah, Cinta berhasil meraih juara pertama untuk bahasa Inggris kelas 2 dan harapan tiga untuk Sains. Not bad eh.

Sedangkan untuk lomba mewarnai, Cinta dan saudara-saudaranya Belva dan Levina, harus puas mendapatkan piala peserta aja. Nggak apa-apa sih. Karena seharusnya untuk lomba merwarnai ini mereka dibantu oleh ibunya, secara nama temanya Lomba Mewarnai (Ibu dan Anak) gitu. Sementara mama-mamanya Cinta dan Levina sibuk ngurusin adik-adik mereka, dan Belva cuma didampingi Oma. Jadi ya sudah wajar kalau nggak menang.

lomba mewarnai, sidoarjo, kompetisi, new era

Lagipula, skill mereka belum secanggih peserta lain. Karena di antara mereka bertiga cuma Levina yang ikut les mewarnai, sedangkan Cinta baru 2 kali ikut kelasnya Levina dan Belva nggak ikut les. Kesamaan ketiga anak ini adalah mereka suka mewarnai.

Hmmm, sebenarnya Cinta sukanya menggambar. Dia biasanya mengeluh kalau diminta untuk mewarnai. Nggak sabar, nggak telaten. Sampai setelah ujian akhir tahun selesai dan nggak ada lagi pelajaran di sekolah, tiba-tiba dia suka mewarnai. Lalu secara otodidak belajar tentang gradasi warna dari youtube. Dan semakin semangat mewarnai ketika hasil mewarnanya banyak disukai teman-teman sekolahnya.

Buat saya, keberhasilan Cinta meraih 2 gelar juara sangat berarti. Bukan untuk kebanggaan saya lho. Beneran deh. Tapi untuk meningkatkan kepercayaan diri Cinta sendiri. Memang selama ini Cinta selalu keliatan cuek soal pelajaran di sekolah. Tapi, saya tahu kalau diam-diam dia stres mengikuti teman-temannya yang kompetitif. Kelihatan sekali dari hasil-hasil mid dan end year test-nya yang meningkat cukup tajam dari first term. Selain itu, beberapa kali saya mendengar dia bilang, “I’m stupid.”

Jadi, harapan saya setelah ini Cinta bisa lebih percaya diri karena pernah punya prestasi. Dan nggak lagi menganggap dirinya kurang pintar dibanding teman-teman sendiri. Lagipula toh, setiap anak punya keistimewaannya masing-masing. Saya dan suami nggak memaksa Cinta (dan Keenan) nanti untuk bisa menguasai semua bidang di sekolah. Kami cuma minta dan membantu supaya setidaknya bisa mendapatkan nilai minimum untuk naik kelas. Kalau ternyata anaknya termotivasi dan mampu lebih ya alhamdulillah. Usaha mereka patut diapresiasi lebih.

Oya, di lomba New Era kemarin, setiap nomer peserta bisa ditukar voucher Papa Ron’s pizza senilai Rp 25.000,00 yang bisa diakumulasikan dan digunakan tanpa ada syarat minimum pembelian. Jadi karena kemarin Cinta dapat 3 nomer peserta untuk masing-masing lomba seharusnya bisa ditukar 3 voucher. Tapi sayang nomer peserta lomba bahasa dan sains sudah diserahkan duluan ke panitia untuk ditukar piala kemenangannya. Tapi lumayan lah, abis lomba kita rame-rame makan Papa Ron’s pizza.

Baking is a Science

 photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

 photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

 photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

Science Show at OGDC

Science show at OGDC. Setiap main ke OGDC pasti ada ilmu baru yang didapat, baik dari lihat pamerannya atau pertunjukannya. Nah, hari ini kami dapat kesempatan dihibur dengan magic show ala science oleh pemandu OGDC.
 photo 87812420-C616-4460-AC68-D0198B68D358_zps9fmfqgqm.png

Pada pertunjukan yang pertama, kakak pemandu menuangkan air ke dalam satu dari tiga gelas plastik yang tersedia. Kemudian ia menindahkan posisi gelas dan meminta anak-anak menebak gelas mana yang ada airnya. Setelah itu ia menuangkan satu per satu isi gelas ke telapak tangannya.

Gelas pertama nggak ada airnya, begitu pun gelas kedua. Saat gelas yang ditunjuk anak-anak hendak dituang, mereka heboh berteriak, “No, don’t throw the water. We’ll get wet!” sambil melangkah mundur. Akhirnya isi gelas pun dituang ke telapak tangan kakak pemandu dan ajaib, nggak ada airnya. Wow!

 photo 17F6E958-754F-4A4B-BD89-6690A359B3B4_zpsldhqrl1x.jpg

 photo 40EB9BB3-2D88-4F44-BB64-05A134AE187A_zpsnnz0xyaa.jpg

Setelah diperlihatkan dalamnya air yang tadi dituang ke dalam gelas sudah berubahmenjadi benda padat yang lengket. Ternyata di dalam gelas sudah ada bahan yang bisa menyerap air dan mengubahnya menjadi benda padat. Sayang saya nggak mendengarkan nama bahannya dengan jelas karena sibuk menemani Keenan main. Sementara anak-anak saking kagumnya juga lupa namanya.

Percobaan kedua adalah menusuk balon dengan tusukan sate. Pada balon  yang pertama begitu disentuh tusuk sate langsung meletus. Tapi pada balon yang kedua, tusuk sate bisa dengan sukses masuk ke dalam balon tanpa membuatnya meletus. Magic!

 photo 3F7034A9-0ECA-4FF8-880A-0593C0A48C22_zpscwfa9gw6.jpg
 photo 4EA466D7-AAF0-4ACC-8B78-39E3D7177819_zpscjmeq3th.jpg

Ternyata triknya adalah dengan memasukkan tusuk sate pada bagian balon yang paling tidak melar, yaitu di dekat ikatannya. Pada bagian itu balon bisa dengan lentur mengikuti tusuk sate sehingga terciptalah sate balon. Hehehe.

Nah, pada pertunjukan ketiga, kakak pemandu mengeluarkan mainan ringan dari bulu dan benda yang terbuat dari susunan gelas styrofoam. Anak-anak ditantang untuk menerbangkan mainan bulu melalui benda tersebut yang lagi-lagi nggak saya perhatikan nama ilmiahnya. Ternyata dengan meletakkan bulu di bawah tabung itu menggoyangkan tabungnya, bulu bisa keluar dari atas tabung.

 photo CF83ED42-6207-4A6F-A6B2-2F8B582F10F3_zpsapwvdqxh.jpg

Jadi dengan menggoyangkan tabung tersebut, terciptalah tornado skala super mini yang bisa menerbangkan benda-benda ringan. Simpel ya sebenarnya.

Lumayan juga ilmu yang didapat hari ini. Serunya lagi, semua itu bisa dipraktikkan dengan benda-benda yang ada di rumah. Yuk, ikutan mencoba bareng anak-anak. Pasti mereka senang.

Gambar diambil dari: Realego.com. Diedit menggunakan aplikasi PicLab HD.