Browsing Tag:

relationship

  • rian luthfi, relationship, long distance marriage, pernikahan jarak jauh, relationship, family, blogger, arisan llink, blogger perempuan
    Relationship

    5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

    Menjalani pernikahan jarak jauh alias suami istri tinggal di kota atau negara yang berbeda mungkin bukan pilihan yang populer bagi pasangan suami istri. Tapi, seperti yang telah saya tulis di sini, banyak alasan mengapa pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk menjalani pernikahan jarak jauh. Seperti yang dilakukan oleh teman saya dari Grup V Arisan Link Blogger PerempuanRian Rosita Luthfi. Rian, pemilik blog bernama unik Kompor Mledug ini, telah menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah, bahkan sejak mereka pacaran, dengan total 5 tahun.

    Pasangan yang dikaruniai seorang anak laki-laki lucu berusia 1,5 tahun ini terpaksa berpisah kota karena pekerjaan mereka sebagai abdi negara. Meskipun penuh perjuangan dengan segala suka dukanya, pernikahan jarak jauh ternyata memiliki berbagai manfaat bagi pelakunya. Berikut adalah lima di antaranya:

    2

    5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

    1. Menguji Kepercayaan dan Komitmen

    Kepercayaan dan komitmen adalah fondasi sebuah hubungan. Untuk itu diperlukan usaha kedua belah pihak untuk dapat mempertahankan kepercayaan dan komitmen pasangannya supaya hubungan tersebut dapat berhasil. Karakter yang terbangun saat menjalani pernikahan jarak jauh ini dapat membantu pasangan suami istri tetap kokoh setelah tidak lagi melakukan long distance marriage.

    2. Belajar Komunikasi dan Menyelesaikan Konflik Secara Efektif

    Jarak yang jauh, kadang ditambah dengan perbedaan waktu dan kesibukan yang berbeda, membuat pasangan berusaha untuk menghargai setiap waktu yang tersedia dengan belajar berkomunikasi dengan baik serta menyelesaikan konflik secara efektif. Biasanya, suami istri yang menjalani pernikahan jarak jauh memiliki interaksi yang lebih bermakna dan dalam. Pertengkaran pun lebih jarang terjadi mengingat perjuangan yang tidak mudah untuk dapat bertemu.

    3. Menciptakan Momen Berkesan

    rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

    Ketika memiliki waktu untuk bertemu, pasangan LDR ini biasanya akan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan momen yang berharga. Seperti yang dilakukan Rian dan suami. Mereka berusaha melakukan hal-hal yang berkualitas seperti jalan-jalan atau sekadar cuddling di rumah. Dengan cara itu, meski suami hanya dapat bertemu dengan anak 1 kali dalam sebulan, Keenan, putra Rian, tetap dekat dengan ayahnya.

    4. Melatih Kesabaran dan Kemandirian

    Tidak mudah menjadi seorang ibu muda yang bekerja untuk mengurus sendiri batitanya, namun ini dianggap Rian sebagai latihan kesabaran dan kemandirian. Walaupun sebenarnya pemilik blog yang beralamat di http://superduperlebay.wordpress.com ini sudah terbiasa hidup mandiri karena menjalani masa pendidikan SMA dan D3nya di sekolah berasrama jauh dari orang tua. Sejak menikah dan jauh dari suami, Rian terbiasa untuk menangani permasalahan yang terjadi dalam rumah sendirian, seperti mengurus anak sakit sampai naik toren untuk mengecek persediaan air seperti yang ditulisnya dalam postingan berjudul “Menjadi Multitasking“.

    5. Memiliki Banyak Waktu Untuk Melakukan Hal Lain

    Rian adalah perempuan yang aktif. Menjadi istri dan ibu yang bekerja tidak mengurangi keaktifannya. Pernikahan jarak jauh memberinya waktu untuk melakukan berbagai kegiatan seperti kursus bikin kue, berkomunitas dengan ibu-ibu dari forum The Urban Mama, membuat sendiri permainan sensori untuk Keenan, blogging sampai berolahraga.

    rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

    Menulis di blog adalah salah satu aktivitas Rian di sela-sela waktu luangnya sejak tahun 2009. Dengan desain yang sederhana dan mobile friendly, blog Kompor Mledug ini memanjakan mata pembacanya. Apalagi Rian menulis dengan gaya yang menarik, ringan dan enak dibaca. Blog ini juga menggambarkan perubahaan dalam perjalanan hidup seorang Rian dari seorang gadis cuek yang meledak-ledak menjadi sosok ibu muda yang lebih kalem meski tetap smart, aktif, mandiri, kuat, lucu dan apa adanya. Benar-benar menghibur, terutama bagi saya, pembaca kepo yang menggemari blog curhat seperti blognya Rian ini. 

    Ingin mengenal ibu muda ini lebih dalam lagi? Baca saja cerita-cerita menariknya dalam blog atau kunjungi IGnya di @rianluthfi.

  • Relationship

    Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

    Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

    Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

    Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

    Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

    Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

    1. Biaya
      Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
    1. Omongan orang.
      Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
    1. Merasa seperti orang tua tunggal.
      Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
    1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
      Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
    2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

    Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

    Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

    Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

    __________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

    Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

    True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

    Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

    Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

    • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
    • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
      • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
      • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
      • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
      • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
      • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
    • Anak
      • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
      • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
    • Orangtua
      • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
      • Orangtua sakit.

    Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

    ____________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Uncategorized

    Kamu dan Lelakimu

    Kamu yang sedang termenung di teras rumah, memandangi langit malam yang tak berbintang. Riang menanti kedatangan lelakimu.

    Lihatlah, minidress warna salem yang kau kenakan, serasi sekali dengan kulit putihmu. Pulasan lipstik tipis menyegarkan wajahmu yang lelah setelah seharian berkutat dengan meeting. Dua porsi lasagna bikinanmu sudah terhidang di meja makan. Hangat. Semua demi menyenangkan lelakimu.

    Ya, hari ini dia berjanji datang ke rumahmu. Kau tak sabar untuk bisa bercengkerama berdua, bercerita tentang sepinya hari tanpanya, berkisah tentang rindu yang tertahan. Apa? Oh, kamu berharap malam ini dia akan mengajakmu pergi. Tentu kau tak sabar ingin memamerkan lelaki tampan itu pada dunia. Membuat iri perempuan lain atas keberuntunganmu.

    Hei, kenapa tiba-tiba raut wajahmu berubah sendu setelah menerima telfon? Apakah dia tak jadi datang? Ah, yaaa… Kali ini kau harus mengalah lagi. Ada pilu di senyummu saat berkata, “Ya sudah, tak apa. Mereka memang lebih penting dariku. Tapi datanglah esok ya, aku rindu,” pintamu menahan isak.

    Hhhhh… Lagi-lagi begini, sampai kapan kau akan bertahan?

    Pikiranmu melayang, menyusuri sebuah kenangan di suatu waktu.

    Aku mencintaimu, sayang.

    Bagaimana dengan dia?

    Ah, aku menikahinya karena terpaksa. Ia hamil padahal aku tak serius dengannya.

    Lalu, kenapa tak kau ceraikan saja dia? Dan hidup bersamaku. Kamu pasti akan lebih bahagia bersamaku.

    Aku tak bisa, cintaku.

    Kenapa?

    Bagaimana dengan anak-anakku? Hidupku? Dia pernah berkata jika aku pergi aku akan kehilangan semua. Lagipula penghasilannya lebih besar dariku. Bagaimana aku mampu hidup tanpanya?

    Tapi percayalah, sejak bersamamu tak pernah aku menyentuhnya lagi. Hatiku, tubuhku, jiwaku, hanya untukmu.

    Lelakimu menutup pembicaraan malam itu dengan menciumi tanganmu, lehermu, lalu bibirmu, dan kamupun terbuai dengan cumbunya. Senyummu lebar, penuh kebahagiaan. Ya, kamu menang. Kamulah cinta sejatinya, bukan perempuan itu. I’m a happy mistress, pikirmu waktu itu.

    Tapi malam ini kamu mulai ragu, mungkinkah ia benar mencintaimu. Atau hanya ucapan manis di bibir untuk mendapatkanmu, seperti ia membuai ibu dari anak-anaknya dulu.

    Gambar diambil dari sini.

  • Relationship

    Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau

    Ngobrol sama mama, khususnya selama beliau berkunjung ke Brunei kemarin, selalu memberikan pencerahan-pencerahan baru. Terutama dalam hal relasi dengan pasangan. Selama ini, sering saya merasa bahwa pernikahan orang-orang di sekitar saya lebih hangat dan menyenangkan. Kadang juga suka iri melihat pasangan-pasangan yang sudah menikah lebih lama tapi masih tampak mesra dan hangat. Sementara saya dan suami masih terus beradaptasi satu sama lain yang nggak jarang menimbulkan friksi atau sesekali merasa, “Ini orang cinta nggak sih sama saya?”

    Tapi ternyata halaman tetangga memang nggak selalu lebih indah. Kalaupun terlihat lebih hijau kita juga nggak tahu perjuangan apa saja yang mereka lakukan untuk merawat tanaman-tanaman itu supaya nampak segar dari luar. Bisa jadi mereka juga bertengkar menentukan pupuk apa yang mau dipakai, siapa yang harus menyiram bunga dan menyiangi rumput secara rutin. Atau meski terlihat indah, bukan nggak mungkin di dalamnya banyak ulat yang pelan-pelan menggerogoti dedaunan dan akarnya mulai rapuh. Makanya nggak heran kalau lantas banyak pasangan yang pernikahannya keliatannya baik-baik saja tiba-tiba bercerai atau terlibat berbagai macam masalah.

    Siapa yang sangka kawan yang selalu mesra dengan suaminya saat di depan orang lain ternyata suaminya sudah bertahun-tahun selingkuh dengan rekan kerja dan mertuanya selalu menyalahkan dia. Sementara di rumah lain, seorang saudara yang berlimpah materi, dikaruniai anak-anak pintar yang cantik dan ganteng ternyata nggak bahagia karena suaminya hanya mau berhubungan jika ia yang memulai lebih dulu. Atau ada yang bermasalah dengan kebiasaan suaminya minum minuman keras dan merokok sementara si istri ingin di usia yang semakin tua bisa lebih taat menjalankan perintah agama.

    Dari sharing cerita-cerita seperti inilah saya banyak belajar bahwa yang namanya memanage kehidupan berumah tangga itu sama seperti mengasuh anak. Nggak ada sekolahnya dan nggak ada habisnya. Kadang, saat kita sudah mulai nyaman ada saja ujian-ujian baru yang kalau berhasil kita lewati akan membawa kita ke level yang lebih tinggi.

    Jadi nggak usah iri sama pernikahan orang lain dan sibuk membanding-bandingkan dengan keluarga kita. Fokus aja memperbaiki dan terus menjaga supaya pernikahan kita nyaman untuk semua pihak. Seperti kata mak Henny di status Facebooknya:

    Ngga usah pusing & iri soal rumput tetangga yang keliatan lebih hijau, yang terpenting menjaga rumput kita supaya nyaman untuk kita sendiri.

    Dan buat kamu yang sedang berjuang mempertahankan keutuhan pernikahannya, yes you know who you are, dearBe strong, this too shall pass. Apa yang telah terjadi akan mengubah rasa dan makna pernikahan itu sendiri. Rasa sakit yang dialami sekarang mungkin nggak akan pernah hilang. But please remember, there’s always a rainbow right after the storm. Tapi kalaupun sudah nggak sanggup lagi berjuang, maybe it’s time to let goAnd we always be there for you.

  • Relationship

    Karena Cinta, Katanya

    Gara-gara ngikutin kasus kisruhnya Limbad, bininya dan bini sirinya jadi ngeh kalau banyak orang yang menganggap perempuan-perempuan yang mau jadi pacar/selingkuhan/istri simpanan/istri kedua ketiga kesepuluh itu semata karena uang. Hmmm, mungkin karena yang terekspos di media massa kasus laki-lakinya pada tajir seperti Bambang Tri dan Raul Lemos ya.

    Padahal, 5 dari 6 perempuan yang saya kenal dan rela jadi madu itu alasannya pure karena cinta. Ciyuuuus? Cungguh? Miapah? plak Cuma yah kebetulan laki-laki yang punya perempuan lain ini kan kebanyakan sudah mapan secara materi dan biasanya orang yang lagi pedekate atau jatuh cinta akan rela ngasih atau beliin apa aja untuk kekasihnya. Dan yang dikasih ya seneng-seneng aja dong dapet gratisan, dari orang yang dia cinta lagi. Duh rejeki banget. Sebodo amat itu laki sudah punya istri, toh istrinya galak, nggak bisa bikin dia nyaman di rumah, lebih mentingin karir daripada suami, lebih sibuk ngurusin anak daripada suami, nggak enak dilihat alias kucel karena kalo di rumah dasteran terus nggak mau dandan, endebre endebre endebre… Kasian kan para lelaki ini, mereka korban kezaliman istri yang pantas dikasihi dan diberi cinta yang lebih baik. Gitu katanya.

    Sementara itu saat ketahuan selingkuh di depan istrinya mereka akan bilang,

    “Cewek itu kok yang ngejar-ngejar aku. Aku udah cuek, nggak nanggapin dia tapi terus gangguin. Maaf ya, aku khilaf akhirnya karena dipepet terus. Aku nyesel. Kamu masih mau kan terima aku? (tapi ternyata di belakang tetap selingkuh)”

    Ah, kasian para suami ini, jahat banget cewek-cewek jaman sekarang, hobi kok ngejar-ngejar suami orang. Nggak bisa cari yang single, apa? Coba kalo dia yang punya suami trus digituin orang, rela nggak? lalu muncul adegan labrak melabrak, cat fight, gerilya hape dan dompet suami, hack akun YM, FB, twitter suami, lakuin teror supaya si pengganggu ini nggak berani dekat-dekat lagi

    Berhasil? Belum tentu. Kata seorang teman,

    “Nggak gitu caranya kalo pengen aku balik lagi ke dia. Mestinya usaha dong untuk bisa dapetin hatiku lagi. Kalau main labrak gitu aku malah akan lebih condong belain pacarku. Kan kasian dia nggak salah kok digituin sama istriku. Aku juga males pulang ke rumah karena istriku pasti bakal marah-marah terus.”

    jorokin si teman ke jurang

    But sorry to say teman-temanku sesama istri, based on (other’s) experiences, this is true. Di mata orang yang lagi jatuh cinta, si selingkuhan ini nggak akan pernah ada salahnya. She’s to good to be true, soulmate yang telat ketemunya, seseorang yang bisa mengerti dan mencintai dia lebih baik dari istrinya. Semakin diserang, dua-duanya semakin mereka lengket dan saling melindungi, sementara jarak antara kita dan suami akan semakin jauhpukpuk ibu Atha Lemos dan mbak Susi Limbad.

    Kasus lain, suami yang lebih “gentle” akan bilang ke istrinya,

    “Aku ini punya cinta yang terlalu besar untuk satu orang, apa salahnya kalau aku bagi. Selama bisa adil kan?”

    Tapi ngomongnya setelah ketahuan selingkuh dan terjadi adegan ala ibu Halimah nabrakin mobil ke pagar rumah Mayangsari. Ini sama banget kaya twitnya Shahnaz Haque yang saya baca pagi tadi,

    Hati lelaki bagaikan hotel, banyak kamarnya untuk memasukan setiap wanita. Hati wanita hanya ada 1 kamar untuk 1 lelaki.

    Yup, memang nggak bisa dipungkiri. Hati laki-laki terlalu luas, cintanya terlalu banyak sehingga kemungkinan untuk bisa membagi itu besar sekali, meski kadarnya belum tentu sama. Sedangkan perempuan, cintanya hanya cukup untuk 1 lelaki yang akan bertambah dengan prosentase sama untuk masing-masing anaknya saat mereka lahir. Kalaupun suatu saat perempuan selingkuh dari suaminya, kebanyakan akan memilih untuk bercerai karena nggak bisa mencintai 2 pria dalam waktu bersamaan.

    Lalu kenapa banyak perempuan yang masih mau menjalin hubungan sama pria beristri, bahkan sampai berharap dinikahi? Well, menurut pengamatan saya sih karena pria-pria ini nampak lebih matang dan dewasa. Mereka juga lebih ngerti cara memperlakukan perempuan dan terbukti berkualitas, tuh ada perempuan yang sudah mau jadi istrinya. Lagipula kesempatan mendapatkan lelaki beristri pun konon lebih mudah karena ia hanya bersaing dengan 1 orang, ya istrinya itu. Sedangkan untuk dapetin pria lajang selain harus bersaing dengan sesama perempuan juga laki-laki lain.

    Saya nulis ini bukan karena mau ngebelain salah satu atau dua pihak sih, cuma membeberkan fakta kalau perselingkuhan terjadi bukan melulu karena uang. Itu cuma kebetulan kok. Wong tukang becak langganan saya di Indonesia aja bisa punya 2 istri.

    Kata para ahli, perselingkuhan bisa terjadi karena kesalahan 3 pihak, suami, istri dan orang ketiga. Penyebabnya permasalahan dalam rumah tangga yang nggak selesai karena komunikasi yang nggak baik antara suami istri atau ya sederhana aja, cinta yang datang pada waktu yang salah.

    Cuma sejujurnya nih, kalau emang karena cinta, saya lebih suka kalau para pria ini gentle mengakui di depan pasangan resminya sebelum mereka tahu dari sumber yang lain. Dan harus siap dengan segala resikonya, termasuk si istri minta cerai atau justru keukeuh mempertahankan pernikahan mereka dan meminta dia berpisah dengan kekasihnya. Semua cuma soal pilihan kok, mana yang lebih buruk di antara 2 hal yang nggak menyenangkan.

    Kalau memang benar-benar jantan dan dewasa, pasti berani kecewa karena harus menjalani sesuatu yang nggak enak. Hanya anak kecil yang nggak berani kecewa dan memilih sembunyi dalam kebohongan entah sampai kapan. Lagipula kalau memang cinta, masa iya tega bikin orang lain terluka demi kebahagiaannya sendiri?

  • Uncategorized

    Karma Does Exist?

    A: Kayanya aku harus makin rajin ngegym deh, pengen kurusan lagi nih. Apa muka bagian sini (tunjuk-tunjuk) dibotox aja sekalian gitu ya biar makin cantik dan disayang suami.

    B: Emang kenapa? Lu takut suami lu nggak sayang trus cari bini lagi kalo lu nggak kurus dan nggak cantik? Rempong amat.

    C: Ya iyalah dia takut. Punya suami juga dapet ngambil laki orang ini.

    Pfffftttt…

    overheard suatu pagi di sebuah salon kecantikan di Surabaya.

     People pay for what they do, and still more, for what they have allowed themselves to become. And they pay for it simply: by the lives they lead. 

    Edith Wharton

  • Relationship

    Walk A Mile in His Shoes

    Saat hosting akun twitter majalah parenting online tempat saya kerja dan menulis rangkumannya, saya merasa tersentil dengan saran-saran tentang mendukung karir suami. Banyak ibu yang berusaha melakukan hal terbaik untuk mendukung pasangannya dalam meraih karir. Di saat yang nyaris bersamaan, di FB saya muncul status-status bernada komplain dari beberapa teman karena suaminya terlalu sibuk bekerja sampai nyaris tak ada waktu untuk keluarga.

    Jujur saja, saya dulu pun termasuk yang suka ngomel kalau suami pulang malam, tiba-tiba disuruh bekerja di hari Sabtu atau dikirim ke proyek di luar kota bahkan luar negeri. Sementara saat itu saya sedang dalam keadaan hamil. Kesal karena harus periksa kehamilan dan senam hamil sendiri, sementara ibu-ibu lain tampak bahagia didampingi suaminya.

    Pun, waktu suami yang sudah ditempatkan di proyek Brunei tiba-tiba harus supervisi proyek di Cikarang selama 2 minggu, saya kesal setengah mati karena harusnya itu jatah liburnya. Bayangkan, sudahlah LDR, cuma ketemu 2 bulan sekali eee bukannya menghabiskan waktu sama keluarga malah disuruh kerja. Akhirnya saya minta dia pulang-pergi Parung – Cikarang dan ngomel setiap kali dia sampai rumah di atas jam 8 malam. Suami pun lama-lama kesal karena sudah capek-capek kerja, stres nyetir di tengah jalanan yang padat eh disambut dengan wajah cemberut instead of senyuman. Sampai akhirnya saya mencoba beberapa nasihat dari Mama dan teman-teman ini:

    walk a mile in his shoes

    Walk A Mile in His Shoes

    Kadang Tuhan bekerja dengan cara yang lucu untuk menyadarkan kita. Suatu hari ketika ke Bandung, kami melewati rute yang dilalui suami setiap harinya, Serpong – Cikarang, pp. Ternyata selain sangat jauh juga macet. Pulang pergi harus ditempuh dalam waktu 3 jam. Bisa lebih kalau macetnya parah. Sejak itu saya berusaha untuk mengurangi keluhan atas kesibukan suami. Berusaha memahami yang ia lalui setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

    Mencari Aktivitas Yang Menyenangkan

    Memang sih, rumah jadi terasa lebih menyenangkan kalau ada suami. Tapi toh nggak bisa juga terus-terusan menggantungkan kesenangan hanya pada satu orang bisa bikin kita (kitaaaa? iya iyaaa, saya maksudnya) mudah kecewa saat harapan tidak terpenuhi.

    Coba cari kesibukan deh. Bikin kue, gaul sama ibu-ibu di sekolah anak, main game online, membaca, aktif di komunitas online, ikut seminar ini itu atau menulis. Aktivitas-aktivitas inilah yang mencuri waktu saya, selain mengurus anak dan rumah tentunya (pencitraan, padahal semua itu dilakukan si mbak). Selain menyenangkan, ilmu dan teman pun bertambah. Malah akhirnya saya bisa menghasilkan uang tambahan dari kegiatan itu. Meski masih hobi “absen” suami dan menanyakan kapan ia pulang, setidaknya sudah tidak lagi jarang marah-marah setiap ia sampai rumah.

    Mencari Alternatif Solusi

    Kesal karena suami selalu bekerja rodi? Kantornya terlalu jauh? Coba minta suami mengurangi jam kerjanya atau dukung dia untuk mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Kalau memungkinkan coba cari rumah yang dekat dengan kantor.

    Nggak mungkin? Mari berdoa supaya diberi tempat kerja yang lebih baik, lebih banyak waktu luang bersama keluarga. And it worked for me, lho. Alhamdulillah. Setelah 4 tahun sabar menjalani long distance marriage, kami bisa berkumpul, punya rumah yang dekat dengan kantor dengan jam kerja suami yang memungkinkan untuk makan siang bersama dan sampai rumah paling lambat pukul 6 sore.

    Berhenti Mengeluh di Sosial Media

    Percaya deh, mengeluh tentang suami yang terlalu sibuk bekerja di status facebook, berkali-kali, tidak akan menimbulkan simpati dari orang lain. Malah tidak mungkin orang lain akan menuduh kita kurang bersyukur. Belum lagi kalau dibaca teman bahkan atasan pasangan. Bisa-bisa malah ia jadi mendapat image negatif. Kesannya kita mau duitnya aja tapi nggak mau terima konsekuensi dari pekerjaannya.

    Kalau mau curhat, lebih baik cari sahabat yang bisa dipercaya, keluarga yang mau mendengarkan. Pilih yang bisa membuat kita lebih tenang.

    Komunikasi

    Last but not least, malah menurut saya yang paling penting nih, bicara baik-baik dengan suami dalam suasana yang tenang dan menyenangkan tentang kebutuhan kita akan kehadirannya bersama keluarga. Biasanya sih pasangan lebih mau mendengarkan saat hatinya senang dan tenang.

    Kalau dia pulang cepat bisa bilang, “Seneng deh Ayah jam segini sudah di rumah. Jadi lebih banyak waktu main sama bunda dan kakak. Eh, bisa nonton balapan juga lho Yah, itu di channel olahraga bentar lagi mulai.” daripada, “Ih, tumben amat jam segini sudah sampe rumah. Nggak salah nih, Yah? Kesambet jin mana?” Eaaaa, pulang telat salah, pulang cepat dituduh kesambet jin.

    Intinya, coba untuk mengurangi keluhan. Bagaimanapun juga pasangan bekerja toh untuk keluarga. Lebih bagus lagi kalau dia juga bekerja untuk kesenangannya sendiri. Kalau pasangan bahagia dalam pekerjaannya kan makin produktif dan karirnya jadi lebih bagus.

    Saya tidak bermaksud menggurui sih, sekedar berbagi cerita dan saran, karena saya tahu banyak yang senasib sama saya dulu, diduakan oleh kesibukan bekerja di kantor. Kalau nggak berkenan, maaf yaaaa… Boleh kok protes atau ikutan kasih saran. Saya tunggu 🙂

  • Life as Mom

    Flesh and Blood

    part of me wants to call you up and talk to you like a friend. but there’s a part of me that wants to shut you out and never see your face again. how can we be like enemies when we’re only flesh and blood? – Flesh and Blood by Wilson Phillips

    Abis baca twit mbak @AlissaWahid dan postingan mamak Kopi di Ngerumpi sore ini, aku jadi sadar kalau nggak semua orang punya hubungan indah dengan orang tuanya.

    Waktu kecil-remaja, wajar bila ada org yang tak suka pada orangtuanya. Wajarnya orang dewasa, tak suka itu berubah menjadi tak setuju saja. – Alissa Wahid

    Bahkan aku pun saat remaja punya masa-masa nggak suka dengan orang tua. Lebih memilih dekat dengan teman yang menurutku lebih bisa memahami gejolak masa muda daripada Mama, Dad dan Papa yang suka ngelarang ini itu.

    Kalau kita sudah dewasa & masih tidak suka kepada orangtua kita, ada baiknya kita tengok diri. We have a real problem.. Mengapa real problem? Ya karena ‘tidak menyukai orangtua’ menunjukkan bahwa kita tak bisa membedakan ‘tidak setuju’ dengan ‘tidak suka’. – Alissa Wahid

    Tapi setelah menginjak middle 20’s apalagi setelah menikah, hidup sendiri dan punya anak, hubungan dengan orang tua jadi jauh lebih baik. Aku jadi bisa memahami kenapa mereka dulu bersikap seperti orang tua, karena sekarang aku pun begitu terhadap Cinta. Pun saat ada masalah, larinya ya ke Mama, ketika teman or they so called best friends itu menghilang karena sudah lelah mendengarkan keluh kesah tak berujungku.

    Orang yang matang bisa membedakan antara perilaku dengan orang. Terhadap orangtua, kalau kita melihat orangtua sangat buruk, itu tidak sehat. – Alissa Wahid

    Mungkin karena pada usia itu, cara pandangku sudah mulai berubah dari remaja labil menjadi perempuan (lebih) dewasa yang sedang belajar bertanggungjawab akan diri dan hidupnya. Mama dan Dad sebagai orang tua juga seiring dengan bertambahnya usia dan makin banyaknya pengalaman juga berubah.

    Pada usia dewasa muda itu, peran orang tua sebenarnya juga mulai berubah. Dari pendidik menjadi penyokong, pendukung anaknya. Hal ini juga yang bisa membuat kami lebih banyak bicara saat menghadapi suatu masalah. Konflik tetap ada, tapi seringkali salah satu mengalah.

    Kita lebih sibuk menuntut hak kita, berusaha menjamin semua pihak lain memenuhinya. Lupa bahwa kita pun berkontribusi. Kita kadang terlalu sibuk dengan kewajiban orangtua terhadap hak kita sebagai anak. ‘Orangtuaku harusnya bla3x..’ dan melupakan sebaliknya. – Alissa Wahid

    Setelah ada anak, justru kasih sayang orang tua lebih terasa. Betapa mereka begitu memperhatikan Cinta, mengurus aku yang mengalami post partum depression, menyediakan telinga dan bahu ketika butuh tempat bersandar. Dan tiba-tiba aku menyadari bahwa belum ada seujung kukupun semua kebaikan itu kubalas.

    Most parents did the best, with whatever they had, for the children. If it’s wrong? They just didn’t know any better. – Alissa Wahid

    Jadi orang tua itu nggak mudah, now I feel it. Lihat Cinta tantrum, membentak-bentak saat dia kesal aja aku sudah patah hati. Nah, berkonflik dengan orang tua sampai lari dan menjauh dari mereka tentu menyakitkan. Makanya aku suka sedih melihat teman-teman yang berantem sama ibunya karena nggak sepakat tentang pemberian ASI, MPASI, pengasuhan anak lalu benci sama ibu atau mertuanya. Bayangkan betapa terlukanya para nenek ini.

    In the end, let’s just remember: walau tidak 100% seperti harapan, our parents did what they thought the best for their children. – Alissa Wahid

    Apapun masalahnya, jangan sampai deh saat orang tua nggak ada baru kita menyesal pernah membenci mereka. Karena permintaan maaf, pelukan erat, suara tegas namun hangat itu nggak akan bisa kita dapatkan lagi.