Browsing Tag:

pernikahan

  • working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga
    Life as Mom, Life Hacks

    Dari Ibu Bekerja Menjadi Ibu Rumah Tangga. Siapa Takut?

    Saya nggak bisa lupa ketika mama saya kembali bekerja untuk menafkahi keluarga setelah perceraiannya dengan ayah saya. It was 25 years ago, I was 9 or 10, my siblings was 6 and 5 years old. Mama saya tadinya adalah ibu rumah tangga dengan berbagai aktivitas seperti terima jahitan baju, buka salon, buka katering juga kalau nggak salah. Walaupun demikian beliau selalu ada di rumah setiap saat saya membutuhkannya. Tapi hari itu, saya pulang ke rumah kakek dan nenek sepulang sekolah, tempat kami tinggal selama beberapa tahun setelah perpisahan orangtua saya, dan tidak menemukan mama saya di sana. Seketika itu juga, saya -yang terlahir sebagai drama queen- tidak berhenti menangis. Ada rasa khawatir beliau nggak akan pulang lagi ke rumah seperti ayah saya dan berbagai perasaan lain. Malamnya, sepulang kerja, beliau menasihati saya supaya memahami kondisi kami saat itu, bahwa beliau harus bekerja karena alasan yang sangat kuat. Hari pun berlalu, perlahan saya dan adik-adik terbiasa dengan status mama sebagai ibu bekerja dan beliau tetap bekerja sampai pensiun beberapa tahun lalu. I’m very proud of her, everybody does. 

    Lantas, ketika saya beranjak remaja, saya menyadari bahwa saya tumbuh di lingkungan di mana para ibunya bekerja di luar rumah. Mama saya, Bude, Tante, mama tiri, juga sebagian besar sepupu mama saya bekerja di luar rumah. Iya, bahkan nenek-nenek saya adalah ibu bekerja. Jadilah saya pun tumbuh dengan mereka sebagai role model, menjadi wanita karir adalah impian saya. Cita-cita saya nggak tanggung-tanggung, diplomat dan jurnalis dengan harapan dapat bekerja secara mobile, bertemu dengan orang-orang dengan berbagai karakter dan menikmati berbagai lingkungan baru.

    Saat kuliah, saya pun mulai menapaki dunia kerja, dari menjadi asisten guru di playgroup yang dikelola oleh Fakultas tempat saya belajar sampai menjadi customer service di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris franchise yang cukup besar di Surabaya dan pertama di Sidoarjo saat itu. Dan saya menikmatinya, sampai akhirnya kuliah terbengkalai karena nggak bisa membagi waktu sehingga ayah tiri saya dan mama harus memberi ultimatum supaya saya segera menyelesaikan skripsi atau tidak lagi dibiayai kuliah. Setelah memperoleh gelar sarjana, saya berusaha mewujudkan cita-cita sebagai wanita karir meski bukan sebagai diplomat atau jurnalis.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga

    Long story short, setelah menikah dan pindah ke Jakarta untuk kedua kalinya, saya pun terpaksa mengganti blazer dengan daster sebagai seragam “kerja” sehari-hari. Seperti yang sering dirasakan kebanyakan ibu bekerja yang beralih menjadi ibu rumah tangga, satu bulan pertama sangat menyenangkan, bisa seharian di rumah, nggak harus buru-buru bangun pagi supaya nggak telat ngantor, santai (apalagi karena punya ART), bisa jalan-jalan kapanpun dan bisa main sama anak sepanjang hari. Pokoknya mah, indah dunia saat itu. Sampai kemudian dunia api menyerang saya mulai jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang berulang, pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai serta merasa kehilangan identitas diri karena hanya dikenal sebagai mamanya Cinta dan istrinya pak Lukito.

    Apalagi karena memang nggak punya role model ibu rumah tangga dan sejak kecil terbiasa dibantu asisten rumah tangga, saya merasa bahwa pekerjaan rumah adalah pekerjaan pembantu. Jadi ada perasaan kecil hati ketika harus diam di rumah dan mengerjakan sendiri hal-hal yang biasa dilakukan si Inem. Sedihnya lagi, kok kaya nggak ada apresiasi dari suami dan anak-anak akan “pengorbanan” saya sebagai IRT. Akibatnya, saya mengalami masa transisi yang cukup berat dan walau sudah menjalani peran ini selama 6 tahun, kadang perasaan itu datang lagi, membuat saya rindu masa-masa bekerja di kantor. 

    Baca Juga: Pekerjaan Saya Keren

    Awalnya saya kira cuma saya yang mengalami perasaan seperti ini dan membuat saya merasa bersalah karena seakan nggak ikhlas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Tapi ternyata banyak juga ibu bekerja yang merasakan hal yang sama dalam masa transisi menjadi stay at home mom. Dan ternyata lagi, meskipun gegar budaya ini mungkin tidak dapat dihindari, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat masa-masa ini menjadi lebih mudah and I really wish I knew these earlier

    1. Cari Support Group Baik di Dunia Nyata Maupun di Dunia Maya.

    Rasanya ini mudah dilakukan ya di jaman sekarang. Banyak sekali komunitas atau grup ibu-ibu (dan ayah) rumah tangga yang dapat kita temui, nggak usah jauh-jauh, coba cari majelis taklim di sekitar kita, dekati ibu-ibu tetangga yang biasanya cuma kita sapa saat akan berangkat ke kantor. Masih nggak pede atau nggak punya banyak waktu untuk keluar rumah karena anak masih bayi? Mainlah ke forum-forum ibu-ibu di dunia maya. Walau nggak bertemu muka, kadang bisa chatting, curhat, baca candaan seru di grup bisa membuat kita lebih bersemangat. Selain itu biasanya mereka akan mengatur playdate untuk ibu dan anak di waktu tertentu.

    Intinya, bergaulah dengan sesama ibu rumah tangga, nggak usah ambil peduli dengan stereotipe yang menyebut IRT hobinya cuma ngegosip. Sungguh, IRT jaman sekarang jauh lebih canggih dari itu lho. Nggak sedikit dari komunitas ibu rumah tangga ini yang membuat berbagai kegiatan menarik seperti seminar parentingcooking class dan sejenisnya. Jadi beredarlah di dunia nyata atau maya.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    cari support group yang isinya penuh cinta ya

    Oh, ya. Di masa transisi ini, hindarilah segala perdebatan yang bertema ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Sesungguhnya ini cuma bikin kita makin galau dan mudah emosi. Mau membela ibu bekerja kok ya sudah nggak kerja lagi, tapi mau membela ibu rumah tangga toh ya kita masih jadi IRT newbie. Juga hindari dulu teman-teman dan keluarga yang hobinya mengomentari segala hal secara negatif. Yang ada kita makin baper kalau dibilang, “Duh, sayang amat. Kerjaan bagus-bagus kok ditinggal. Nggak sayang tuh sama gaji dan bonusnya? Nanti kalau sudah bosen jadi ibu rumah tangga susah lho mau cari kerjaan seperti itu lagi.” Please deh.

    2. Tekuni Hobi Kita

    Masak, fotografi, blogging, yoga, merajut, tenis, renang. Apa saja asalkan itu positif. Kemungkinannya bisa tak terbatas. Pastikan saja kita punya aktivitas tertentu yang kita sukai dan dapat kita tekuni, minimal 30 menit sehari saja cukup. Ada waktu luang untuk melakukannya lebih lama? Lebih bagus lagi. Namun, usahakan dilakukan secara rutin. Karena ada penelitian yang membuktikan bahwa, hobi yang ditekunin selama 30 menit setiap hari secara rutin akan memberikan hasil yang signifikan dari yang hanya dilakukan sesempatnya.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    tapi jangan sampai kaya gini yah

    Aktivitas ini dapat membantu kita untuk mengisi waktu luang, mengurangi kejenuhan daaaan membuat kita tetap memiliki identitas dan kebanggaan pribadi. Oya, nggak sedikit dari teman-teman saya yang akhirnya memperoleh penghasilan dari hobinya ini lho. Berawal dari sekadar bikin kue untuk anak-anak  lalu dibagi ke tetangga, sekarang bisa jadi bakul kue rumahan dengan omset jutaan rupiah setiap bulan. Niatnya cuma menyalurkan hobi berenang eh lantas diminta menjadi pelatih renang untuk ibu-ibu dan anak-anak. Tadinya hanya belajar decoupage dan lettering untuk dekorasi rumah sendiri, sekarang kewalahan menerima pesanan. Nah, lumayan banget kan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

    Baca Juga: Kisekii. Jadilah Diri Sendiri dan Temukan Keajaibannya

    3. Jangan Berharap Terlalu Tinggi, Terutama Di Awal Masa Transisi

    Mungkin, di hari pertama berhenti kerja, kita membayangkan diri kita seperti Martha Stewart yang dapat menghidangkan aneka masakan sehat dan lezat; membuat berbagai kerajinan tangan sebagai alat belajar dan bermain anak-anak, sekaligus Dr. Sears dan personil Nanny 911 yang dapat memahami segala perilaku anak lantas membuat mereka berperilaku baik dan tenang seharian. Lalu di akhir hari, suami dan anak-anak akan membuatkan kita piagam atau medali sebagai ibu terbaik di dunia.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    hmmm yayaya

    Harapan yang tinggi seringkali membuat kita jadi kecewa luar biasa ketika nggak teraih, Makanya kita perlu menyadari bahwa perlu waktu untuk dapat melakukan peran sebagai ibu rumah tangga dengan lancar, terutama bagi yang tadinya terbiasa dibantu asisten rumah tangga. Kacau dan bingung di awal itu wajar. Sama wajarnya ketika anak-anak dan suami seakan-akan tidak menghargai hasil kerja kita. Tapi percaya deh, kehadiran kita di rumah, makanan hangat yang tersedia di meja, senyum riang kita saat menemani anak-anak bermain dan suami nonton tv, terutama dukungan serta kasih sayang kita sangat berarti bagi mereka meski mungkin nggak diucapkan.

    4. Temukan Kenyamanan Kita Sendiri

    Pakai celana yoga atau daster untuk anter anak sekolah karena nggak sempat dandan? Nggak masalah.
    Bikin stok nugget, chicken roll, dan segala makanan siap goreng di kala sempat supaya praktis ketika menyiapkan bekal suami dan anak-anak. Silakan!
    Merasa nggak pandai masak dan lebih memilih menggunakan jasa katering harian supaya suami dan anak-anak terjamin makannya sambil kita belajar masak? Nggak ada yang ngelarang juga.
    Pakai laundry kiloan? Boleh!
    Rumah berantakan dengan mainan dan hasil karya anak-anak? Yah, nggak papa juga.

    Atur rumah dan aktivitas sehari-hari sepraktis dan senyaman mungkin bagi mama dan keluarga. Tempatkan breakfast/snack station di salah satu sudut rumah supaya anak-anak dapat mengambil sendiri sarapan dan camilannya tanpa harus mengotori dapur. Jika memungkinkan siapkan satu area khusus untuk tempat bermain anak-anak agar nggak mengotori seluruh rumah.

    Kalaupun mama merasa sanggup memasak, membuat hasta karya, mencuci dan setrika baju, membersihkan rumah serapi mungkin dan anak-anak dapat menjaganya, itu bagus banget. Tapi sekali lagi, nggak semua mama mampu menjadi seperti Astri Nugraha. Yang penting mama, suami dan anak-anak nyaman, sehat dan bahagia. Nothing else matter.

    5. Aplikasikan Keahlian dan Ketrampilan Kita di Kantor Dulu Dalam Mengatur Rumah dan Keluarga

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    Menjadi ibu rumah tangga pun memerlukan manajemen waktu dan emosi yang baik. Dan pengalaman kita sebagai ibu bekerja dapat membantu pekerjaan rumah menjadi lebih efektif dan efisien dengan membuat to do list dan skala prioritas. Tapi kalaupun meleset dari jadwal ya sudah, namapun kita mengurus anak ya, bukan benda mati, nikmati saja. Dan seperti para pekerja di kantor, kita juga perlu meningkatkan ketrampilan seperti ikut kursus masak, seminar parenting, update info-info terkini soal pendidikan anak, kemampuan bahasa asing dan sebagainya supaya dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga.

    6. Saling Dukung Dengan Pasangan

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    Ketika kita berhenti bekerja, otomatis pasangan kita menjadi pencari nafkah tunggal bagi keluarga. Buat sebagian keluarga mungkin bukan masalah besar, tapi bagi sebagian lain tertutupnya satu sumur bisa jadi menimbulkan problem baru. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, sebaiknya kita diskusi dengan pasangan, bagaimana mengatasi hal ini. Begitu juga dengan pembagian pekerjaan rumah. Karena merasa sebagai pencari nafkah, ada yang merasa tidak perlu lagi membantu di rumah. Kalau kita merasa nggak masalah dengan hal itu ya nggak papa. Tapi, di awal masa transisi, bisa jadi kita merasa kelelahan karena tidak biasa mengerjakan semua hal sendiri. Oleh karena itu dukungan dari pasangan sangat diperlukan di masa ini. Baik bagi yang bertugas mencari nafkah di luar rumah maupun untuk yang bertanggungjawab mengurus rumah tangga. Bicarakan harapan sampai kecemasan kita dengan pasangan dan cari jalan keluarnya. Dengan demikian masa transisi menjadi ibu rumah tangga akan menjadi lebih mudah dijalani.

    Setelah beberapa bulan, biasanya kita sudah mulai bisa menguasai medan perang peran baru kita dengan lebih baik dan menikmatinya. Jadi tak perlu khawatir berganti peran. Menjadi ibu rumah tangga mungkin nggak semenarik pekerja kantoran tapi percayalah, kita tetap bisa bersenang-senang serta menjadi versi terbaik dari diri kita dengan peran tersebut.

  • rian luthfi, relationship, long distance marriage, pernikahan jarak jauh, relationship, family, blogger, arisan llink, blogger perempuan
    Relationship

    5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

    Menjalani pernikahan jarak jauh alias suami istri tinggal di kota atau negara yang berbeda mungkin bukan pilihan yang populer bagi pasangan suami istri. Tapi, seperti yang telah saya tulis di sini, banyak alasan mengapa pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk menjalani pernikahan jarak jauh. Seperti yang dilakukan oleh teman saya dari Grup V Arisan Link Blogger PerempuanRian Rosita Luthfi. Rian, pemilik blog bernama unik Kompor Mledug ini, telah menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah, bahkan sejak mereka pacaran, dengan total 5 tahun.

    Pasangan yang dikaruniai seorang anak laki-laki lucu berusia 1,5 tahun ini terpaksa berpisah kota karena pekerjaan mereka sebagai abdi negara. Meskipun penuh perjuangan dengan segala suka dukanya, pernikahan jarak jauh ternyata memiliki berbagai manfaat bagi pelakunya. Berikut adalah lima di antaranya:

    2

    5 Manfaat Menjalani Pernikahan Jarak Jauh

    1. Menguji Kepercayaan dan Komitmen

    Kepercayaan dan komitmen adalah fondasi sebuah hubungan. Untuk itu diperlukan usaha kedua belah pihak untuk dapat mempertahankan kepercayaan dan komitmen pasangannya supaya hubungan tersebut dapat berhasil. Karakter yang terbangun saat menjalani pernikahan jarak jauh ini dapat membantu pasangan suami istri tetap kokoh setelah tidak lagi melakukan long distance marriage.

    2. Belajar Komunikasi dan Menyelesaikan Konflik Secara Efektif

    Jarak yang jauh, kadang ditambah dengan perbedaan waktu dan kesibukan yang berbeda, membuat pasangan berusaha untuk menghargai setiap waktu yang tersedia dengan belajar berkomunikasi dengan baik serta menyelesaikan konflik secara efektif. Biasanya, suami istri yang menjalani pernikahan jarak jauh memiliki interaksi yang lebih bermakna dan dalam. Pertengkaran pun lebih jarang terjadi mengingat perjuangan yang tidak mudah untuk dapat bertemu.

    3. Menciptakan Momen Berkesan

    rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

    Ketika memiliki waktu untuk bertemu, pasangan LDR ini biasanya akan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menciptakan momen yang berharga. Seperti yang dilakukan Rian dan suami. Mereka berusaha melakukan hal-hal yang berkualitas seperti jalan-jalan atau sekadar cuddling di rumah. Dengan cara itu, meski suami hanya dapat bertemu dengan anak 1 kali dalam sebulan, Keenan, putra Rian, tetap dekat dengan ayahnya.

    4. Melatih Kesabaran dan Kemandirian

    Tidak mudah menjadi seorang ibu muda yang bekerja untuk mengurus sendiri batitanya, namun ini dianggap Rian sebagai latihan kesabaran dan kemandirian. Walaupun sebenarnya pemilik blog yang beralamat di http://superduperlebay.wordpress.com ini sudah terbiasa hidup mandiri karena menjalani masa pendidikan SMA dan D3nya di sekolah berasrama jauh dari orang tua. Sejak menikah dan jauh dari suami, Rian terbiasa untuk menangani permasalahan yang terjadi dalam rumah sendirian, seperti mengurus anak sakit sampai naik toren untuk mengecek persediaan air seperti yang ditulisnya dalam postingan berjudul “Menjadi Multitasking“.

    5. Memiliki Banyak Waktu Untuk Melakukan Hal Lain

    Rian adalah perempuan yang aktif. Menjadi istri dan ibu yang bekerja tidak mengurangi keaktifannya. Pernikahan jarak jauh memberinya waktu untuk melakukan berbagai kegiatan seperti kursus bikin kue, berkomunitas dengan ibu-ibu dari forum The Urban Mama, membuat sendiri permainan sensori untuk Keenan, blogging sampai berolahraga.

    rian luthfi, blogger, arisan blog, komplor mleduk, superduperlebay, blog

    Menulis di blog adalah salah satu aktivitas Rian di sela-sela waktu luangnya sejak tahun 2009. Dengan desain yang sederhana dan mobile friendly, blog Kompor Mledug ini memanjakan mata pembacanya. Apalagi Rian menulis dengan gaya yang menarik, ringan dan enak dibaca. Blog ini juga menggambarkan perubahaan dalam perjalanan hidup seorang Rian dari seorang gadis cuek yang meledak-ledak menjadi sosok ibu muda yang lebih kalem meski tetap smart, aktif, mandiri, kuat, lucu dan apa adanya. Benar-benar menghibur, terutama bagi saya, pembaca kepo yang menggemari blog curhat seperti blognya Rian ini. 

    Ingin mengenal ibu muda ini lebih dalam lagi? Baca saja cerita-cerita menariknya dalam blog atau kunjungi IGnya di @rianluthfi.

  • Relationship

    Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

    Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

    Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

    Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

    Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

    Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

    “Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

    Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

    Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

    • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
    • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
    • Mampu berpikir positif dan kompromi.
    • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
    • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
    • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
    • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

    Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

    __________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mengapa Memilih Long Distance Marriage?

    Menjalani kehidupan sebagai keluarga pada umumnya yaitu tinggal pada satu rumah bersama dengan anak-anak, hanya berpisah pada pagi hari saat ayah dan ibu bekerja dan anak-anak bersekolah lalu berkumpul lagi pada sore hari, mungkin merupakan hal yang didambakan oleh setiap pasangan. Dan bentuk keluarga seperti inilah yang dianggap ideal bagi sebagian besar masyarakat.

    Tapi, pada kenyataannya saat ini mulai banyak kita kenal bentuk keluarga lain yaitu anak hidup bersama orang tua tunggal baik karena perceraian maupun salah satu orang tua meninggal dunia; pasangan suami istri mengasuh anak-anak kerabat atau yatim piatu; maupun suami istri yang tinggal terpisah kota atau negara atau yang lazim dikenal menjalani Long Distance Marriage (LDM).

    True love doesn’t mean being inseparable; it means being separated and nothing changes. – Wayne Dyer

    Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis pengalaman beberapa mama hebat pelaku pernikahan jarak jauh ini. Tulisan tersebut dimuat di situs MomsGuideIndonesia yang sayangnya saat ini sudah nggak aktif lagi. Kebetulan saat itu sekitar awal tahun 2012 saya baru hidup bersama lagi dengan suami setelah 4 tahun menjalani long distance marriage.

    Sebenarnya pernikahan jarak jauh ini bukanlah hal yang asing, tapi entah mengapa masih banyak orang yang berpandangan miring terhadap pasangan yang memutuskan menjalani pernikahan seperti ini. Padahal seperti yang diutarakan oleh Fini Rahmatika, M.Psi. Psikolog, psikolog independen yang pernah menjadi associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya, banyak hal yang mendasari terjadinya long distance marriage ini. Di antaranya adalah:

    • Pasangan sedang menjalani pendidikan di luar kota atau di luar negeri dan nggak bisa membawa keluarganya.
    • Pekerjaan pasangan nggak memungkinkan suami dan istri selalu tinggal bersama-sama, seperti:
      • Dinas Militer (TNI), mereka harus meninggalkan keluarganya saat harus bertugas keluar negeri, berlayar dll).
      • PNS (suami istri yang punya ikatan dinas atau harus menerima penempatan di daerah yang berbeda, ini dialami bisa dari pihak perempuan ataupun laki-laki).
      • Suami/istri yang berprofesi pelaut.
      • Suami yang bekerja di ranah tambang, kehutanan, offshore dll.
      • Suami yang bekerja di perusahaan asing dan ditempatkan di luar negeri dalam jangka waktu tertentu tanpa bisa membawa keluarga.
    • Anak
      • Memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), sementara daerah tempat suami bekerja tidak memiliki fasilitas untuk mengembangkan potensi anak.
      • Memiliih domisil di daerah tertentu karena memahami daerah dimana suami bekerja berpotensi merusak mental /moral anak.
    • Orangtua
      • Orangtua dari salah satu pasangan sudah lanjut usia dan membutuhkan teman.
      • Orangtua sakit.

    Tentu memilih untuk menjalani long distance marriage bukanlah hal mudah yang bisa diputuskan dalam satu malam ya. Sebagai pasangan suami istri pasti ada keinginan untuk bisa selalu berdekatan dengan keluarga. Tapi ketika itu adalah pilihan yang terbaik di antara yang terburuk, maka yang bisa dilakukan adalah meminimalkan resiko dan berusaha sekuat mungkin menjaga keutuhan rumah tangga mereka meski nggak tinggal bersama. Gimana caranya? Tunggu bagian kedua yaaa…

    ____________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Life Hacks

    Nyaman Menghadiri Pesta Pernikahan

    Beberapa kali saya membaca curhatan tentang tamu-tamu yang merasa diperlakukan kurang menyenangkan oleh panitia penyelenggara saat menghadiri pernikahan. Mulai dari antrian untuk salaman yang terlalu panjang, makanan yang terbatas sampai ruang VIP yang hanya boleh dipakai oleh orang-orang tertentu.

    http://i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/WEDDINGINV_zps32125b35.jpg

    Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, beberapa hal di bawah ini bisa jadi perhatian supaya bisa nyaman dan menikmati pesta pernikahan.

    1. Jika dalam undangan ada tulisan RSVP1, maka konfirmasikan kehadiran kita paling lambat 2 minggu sebelumnya.

    Biasanya undangan semacam ini dilakukan jika pesta dalam bentuk duduk di meja makan. Konfirmasi kehadiran diperlukan supaya pihak penyelenggara dapat memastikan jumlah hidangan yang harus disediakan dan pengaturan tempat duduk yang nyaman bagi masing-masing tamunya.

    2. Kenakan pakaian yang rapi, sopan tapi nyaman.

    Sebenarnya mudah memilih busana yang pas untuk menghadiri pesta pernikahan. Kecuali ada dress codenya, kita selalu bisa mengenakan pakaian tradisional daerah asal kita atau busana nasional negara setempat. Saat berada dalam sebuah pesta, wajar sih kalau kita ingin tampil semaksimal mungkin, apalagi perempuan ya. Tapi mengenakan kebaya dengan korset yang terlalu ketat dipadu dengan stiletto kadang bisa membuat kita tidak nyaman. Pakailah busana rapi yang bisa menyembunyikan kekurangan tubuh kita, menyerap keringat dengan baik dan tidak terlalu mencolok. Ingat, fokus dalam acara ini seharusnya adalah pengantin, bukan kita.

    Oya, ini berlaku juga untuk anak-anak. Jangan sampai supaya mereka tampil lucu dan menggemaskan dipakaikan baju yang membuat mereka tidak nyaman. Bisa-bisa baru 15 menit berada di tempat pesta, anak-anak sudah merengek minta pulang karena kegerahan.

    3. Makan secukupnya sebelum berangkat.

    Meski kita tahu bahwa di acara nanti akan tersedia banyak hidangan yang bisa kita santap tapi sebaiknya isi perut sebelum berangkat. Roti, susu, buah atau apa sajalah yang bisa membuat kita tidak kelaparan selama perjalanan menuju tempat pernikahan.

    Hal ini juga berlaku bagi keluarga mempelai. Biasanya jika acara diadakan pagi hari, panitia akan menyediakan sarapan dalam bentuk nasi kotak bagi keluarga atau among tamu yang sudah harus siap dirias pagi-pagi buta. Tapi ada baiknya juga kita mempersiapkan diri sendiri, terutama kalau bawa anak-anak. Enggak semua makanan yang dipesankan oleh panitia bisa dimakan oleh anak kita. Supaya mereka nggak cranky karena lapar, yang akhirnya bisa bikin kita emosi, lebih baik siapkan saja makanan yang biasa mereka makan.

    Begitu pula jika acara diadakan di siang atau malam hari. Intinya sih ojo njagakne. Buang jauh-jauh pikiran, “Ah, nanti makan di tempat acara aja.” Urusan perut ini sensitif. Lapar bisa bikin kita emosi sementara prosesi pernikahan yang panjang seringkali membuat kita harus menunggu sebelum bisa menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah. Belum lagi kalau ternyata yang tersaji tidak sesuai selera. Jadi sebaiknya datanglah dengan perut terisi dan hati yang senang.

    Lagipula, menghadiri pesta dengan perut terisi membuat kita tidak lapar mata saat melihat aneka hidangan dan bisa menahan diri untuk mengambil makanan secukupnya.

    4. Hargai Ruang VIP.

    Apapun hubungan kita dengan mempelai; entah itu sepupu, ipar, kakek, nenek, sahabat, atau bos, sebaiknya tidak memasuki ruang VIP kecuali dipersilahkan oleh among tamu atau event organizer (EO). Ingat, penggunaan ruang VIP dan siapa saja yang bisa masuk di dalamnya adalah hak mempelai dan orang tua mereka. Jangan karena merasa sebagai keluarga dekat lantas bisa masuk begitu saja.

    Selain tempatnya lebih kecil, hidangan yang ada dalam ruang VIP biasanya sudah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga hanya orang-orang yang sudah tercantum dalam daftar yang bisa masuk. Kalaupun kita yakin bahwa rombongan kita termasuk dalam daftar tersebut, bicaralah dengan EO atau among tamu yang menjaga tempat tersebut. Enggak susah rasanya kan bertanya, “Mas/mbak, kami dari keluarga A, sepupu mempelai wanita. Boleh kami duduk di sini?” Bisa jadi kita tidak dipersilakan duduk di ruang VIP karena EO atau among tamu tidak mengenali wajah kita.

    Tapi pengalaman saya pribadi menghadiri pernikahan adik-adik kandung, saudara ipar dan sepupu-sepupu, justru kami malas duduk di ruang VIP sebelum mempelai dan orang tuanya turun dari pelaminan. Lebih seru rasanya berbaur dan ngobrol dengan tamu undangan lain sambil menyicipi berbagai hidangan yang ada.

    5. Mengambil hidangan dengan bertanggungjawab.

    Sering sekali saya menyaksikan piring-piring yang masih penuh dengan sisa makanan tergeletak di meja sementara pemiliknya mungkin sudah sibuk memilih menu yang lain. Sayang sekali. Apalagi kalau ada yang membuang begitu saja menu yang jadi incaran orang banyak. Haduuuuh, itu rasanya pengen nabok orangnya pake clucth deh.

    Nah, untuk menghindari makanan terbuang sia-sia, ambil saja secukupnya. Ukur kemampuan perut kita menampung makanan dan pikirkan apakah benar-benar perlu mengambil semua menu yang ada. Kalaupun memang benar-benar lapar mata, ajak pasangan atau teman untuk mengambil menu yang berbeda supaya bisa saling menyicipi isi piring masing-masing.

    6. Hargai tuan rumah and enjoy the party!

    Sebagai penyelanggara hajat, tentu pengantin dan keluarga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan tamu-tamunya. Mulai dari dekorasi ruangan yang indah, makanan yang terpilih rasa dan menunya sampai susunan acara yang diharapkan selain sakral juga bisa menghibur para undangan. Tapi, tentu mereka tidak bisa menyenangkan SEMUA orang yang hadir. Jadi kitalah yang harus pandai membawa diri menikmati semua hasil kerja keras orang-orang yang terlibat dalam pesta tersebut.

    Kalaupun ada beberapa hal yang kurang berkenan di hati enggak perlulah diumbar ke sana kemari, terutama melalui sosial media. Jagalah perasaan pengundang yang mungkin bisa membaca keluhan kita di facebook atau blog. Jangan sampai hanya karena rasa makanan yang tidak sesuai dengan lidah kita misalnya, jadi merusak hubungan persaudaraan.

    Selamat bersenang-senang di pesta pernikahan!

    1.  In the context of social invitations, RSVP is a request for a response from the invited person or people. It is an initialism derived from the French phrase Répondez s’il vous plaît, literally “Reply if it pleases you” or “Reply please” []
  • Wounded children, broken home, divorce
    Life as Mom, Parenting

    I Thought I’m a Survivor

    Baca kultwitnya mba @AlissaWahid tentang #brokenhome seakan membuka kembali lembaran lama yang sudah saya tutup rapat-rapat.

    Wounded children, broken home, divorce

    Selama ini saya selalu berujar, “I was a broken home child BUT I’m proud of it coz it makes me stronger. I’m a survivor.

    Saya menganggap diri saya adalah seorang survivor yang sukses karena tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti menjadi pecandu obat-obatan terlarang, kabur dari rumah dan sebagainya. Saya hidup normal, mulai dari SD sampai kuliah beberapa kali memperoleh penghargaan akademis walaupun bukan yang terbaik. Mengikuti berbagai kegiatan, berprestasi dan memiliki banyak teman yang saya sayangi dan menyayangi saya. Bekerja, menikah dan memiliki anak, lalu menjadi ibu rumah tangga. Membangun keluarga kecil saya sendiri. Semua baik-baik saja, orang tua saya walaupun berpisah tetap berhubungan baik. Adik-adik saya juga tidak ada yang bermasalah. We’re aaaaaall good.

    Sampai semalam membaca dampak-dampak yang dialami para “korban” broken home dan tersadar bahwa ternyata saya termasuk salah satu produk gagal. Secara kasat mata mungkin ya saya baik-baik saja, nothing’s wrong with me tapi ternyata saya selama ini gagal mengelola emosi dan memiliki ego yang tidak sehat sehingga selalu merasa insecure terhadap apapun yang saya miliki.

    Dari sebelum menikah, saya selalu merasa bahwa hubungan yang saya miliki dengan pasangan tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lebih dari 2 tahun (saya pernah pacaran selama 4 tahun dan akhirnya putus) selalu punya khayalan somehow ini bakal berakhir juga. Entah karena dia yang selingkuh atau saya.

    alissa wahid broken home

    Saya juga selalu merasa orang lain lah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya. Baik itu pasangan, teman, saudara dan orang tua. Padahal pribadi yang sehat seharusnya bisa bertanggungjawab atas kebahagiaannya sendiri. Happiness is only a state of mind, right? Dan itu sebenarnya melelahkan karena setiap kali keadaan mulai tidak menyenangkan, saya lari. Selingkuh dari pacar, putus dan ganti baru, pindah dari kerjaan dan masih banyak lagi.

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluarga #brokenhome – @AlissaWahid

    Yes, it’s true. I do become the one who hurt people who love me. How? By being so overprotective and self oriented. Mudah marah dan emosional terhadap orang-orang terdekat. Di bawah alam sadar, I’m testing their limits, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan. Ketika ada yang pergi saya pun merasa mereka tidak mencintai saya sepenuhnya, karena kalau benar menyayangi saya sepenuhnya seharusnya bisa menerima saya apa adanya.

    Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi. Mereka sudah cukup punya masalahnya sendiri dan sudah berjuang mengatasinya. Saya menyayangi mereka apapun kekurangannya dan keadaan keluarga kami. Tapi ternyata belum cukup. Mungkin saya masih harus berjuang lagi, lebih keras. Demi diri sendiri dan keluarga kecil saya. Sehingga suatu saat saya bisa berkata, “I was a broken home child AND I’m proud of it.

    moving from Failure to Success from #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknai #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibat #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, from #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtua #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknol #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that is #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero of #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    By: @AlissaWahid