Menghindari Baby Blues Sejak Masa Kehamilan

baby blues, post partum depression, kehamilan

Saat anak pertama saya lahir 8,5 tahun yang lalu, saya mengalami post partum depression. Rasanya gado-gado deh. Titik terendah adalah ketika saya menangis di kamar mandi karena merasa nggak bisa jadi ibu yang baik dan membayangkan bahwa akan lebih baik kalau saya nggak ada aja. Dan ini sering terjadi, nggak cuma sekali dua kali.

fakta baby blues, fakta postpartum depression

Sebenarnya, kalau diingat-ingat lagi sekarang, dulu tuh sebenarnya saya nggak susah-susah banget kok. Yang terjadi waktu itu hanyalah ASI nggak lancar sehingga harus ditambah sufor. Pemberian sufor ini ternyata bikin Cinta kolik dan menyebabkan dia menangis terus-menerus tiap malam. Keadaan tersebut memaksa kami berkali-kali ke dokter, sehingga dia harus mengkonsumsi antibiotik di usianya yang baru beberapa hari itu. Belum cukup Cinta yang minum obat, sayapun harus diet ayam dan seafood dan harus makan sayur yang tadinya saya nggak suka. Lantas dia kena ruam popok dan macam-macam masalah kesehatan ringan lainnya. Selain itu Cinta baik-baik aja, dia lincah, menyenangkan, lucu. Namun, saat itu keadaan seperti itu saja sudah dapat membuat saya merasa gagal jadi ibu. Sementara suami saya bekerja di luar kota dan nggak selalu bisa pulang setiap bulan.

Akibatnya, saya kesal pada Cinta karena menganggap dia merampas semua dari saya: zona nyaman, waktu, perhatian keluarga, pekerjaan bahkan tubuh saya. Saya nggak bisa mandi meskipun badan sudah lengket karena dia cuma ingin digendong, badan dan baju saya selalu bau ASI, gumoh dan pipis. Dan itu membuat saya semakin nggak nyaman.

Perasaan ini membuat saya sering memarahi bayi belum 6 bulan itu hanya karena dia menangis dan saya nggak bisa menenangkannya atau ketika saya harus berkali-kali mengganti popoknya juga saat dia terus-menerus minta nyusu. Saya sendiri nggak tahu kenapa bisa merasa seperti itu. Masa-masa itu rasanya hampa aja. Nggak merasa bahagia, kalaupun senang ya cuma sesaat. Hal-hal yang biasanya membuat saya ceria cuma mampu bertahan selama beberapa saat. Kemudian murung lagi, marah lagi, sedih lagi. Tapi saya nggak bisa bilang apa-apa ke siapapun. Semua orang yang ada di rumah seperti mama, nenek, adik-adik bahkan bibik ART sudah berusaha semaksimal mungkin meringankan saya mengurus anak. Bahkan bisa dibilang, karena waktu itu masih tinggal di rumah mama, tugas saya ya cuma mengurus Cinta. Titik. 24 jam bersamanya. Tapi nggak bisa saya nikmati. Semua dilakukan sebagai rutinitas aja.

Saya tahu saya mengalami baby blues saat itu tapi saya pikir akan berlalu sendiri. Dan ketika keadaan semakin memburuk dan sempat tercetus keinginan untuk konsultasi ke psikolog, ada yang berkomentar, “Kamu kan anak psikologi, masa iya nggak bisa menyembuhkan diri sendiri.” Duh, dokter aja kalau sakit pun perlu berkonsultasi dengan rekan sejawatnya ya. Apalagi saya yang cuma lulusan S1 Psikologi. Tapi ya sudah, nggak semua orang bisa memahami bahwa depresi itu harus dibantu. Jadi ya saya berusaha berproses sendiri.

Sampai kemudian ketika Cinta berusia 6 bulan, mama saya memutuskan menyewa babysitter dan beberapa bulan setelahnya saya kembali bekerja di luar rumah. Baru deh depresi itu berkurang. Saya mulai bisa melihat lucunya Cinta, mulai bisa menikmati hari-hari saya bersamanya dan peran saya sebagai ibu meskipun bergantung sepenuhnya kepada mbak babysitter untuk menjadi partner saya. Mood swing pun masih sering terjadi bahkan sampai sekarang, setelah 8,5 tahun dan 2 anak, terutama saat lelah dan banyak pikiran.

Karena itulah saya takut punya anak lagi. Sampai 3 tahun yang lalu Keenan lahir. Selisih 5,5 tahun dengan Cinta. Selama itulah saya berusaha menghilangkan ketakutan mengalami post partum depression lagi. Tapi alhamdulillah, masa-masa itu nggak terulang lagi. Ya, nggak separah dulu. Masih mengalami baby blues, namun setelah beberapa minggu sudah berkurang.

Belakangan ini, menjelang ulang tahun ketiganya Keenan, saya jadi berpikir, bisa nggak sih baby blues itu dihindari? Sindrom ini seakan-akan jadi momok bagi ibu yang baru melahirkan lho. Menurut penelitian, 80% ibu mengalami baby blues dan 10% di antara yang 80% itu mengalami post partum depression. Dan keadaan ini bisa dialami oleh ibu dengan berbagai kondisi kehamilan, bahkan ibu yang hamilnya sehat bahagia sekalipun.

Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti penyebab baby blues itu apa. Hormonkah? Kelelahankah? Apa? Nggak jelas. Semua bisa jadi penyebabnya. Tapi setelah melihat lagi pengalaman mengurus 2 bayi dan beberapa pengalaman teman, sepertinya ada beberapa hal yang bisa dilakukan ibu hamil untuk menghindari baby blues, seperti berikut:

baby blues, post partum depression, masa kehamilan, kesehatan ibu hamil

Siapkan Diri Untuk Hal-Hal yang Tidak Terduga

Having a baby is not always rainbows and butterflies. Ya, memang menyenangkan, tapi sekaligus melelahkan dan bisa bikin dunia kita jungkir balik. Saya ingat sekali, waktu masih dirawat di rumah sakit setelah melahirkan Cinta, seorang Budhe bilang, “Dinikmati mumpung masih di rumah sakit. Banyak-banyak istirahat. Nanti kalau sudah di rumah apa-apa harus sendiri.”

Dan, benar aja. Malam pertama keluar dari rumah sakit, saya mengetok pintu kamar nenek saya jam 10 malam sambil menangis karena nggak tahu lagi harus ngapain menghadapi Cinta yang terus menerus menangis meski sudah disusui dan diganti popoknya berkali-kali. Ajaibnya, begitu dipegang yuyutnya, Cinta bisa tidur dengan tenang.

Saat saya hamil, nggak ada tuh yang bilang ke saya kalau induksi itu sakitnya luar biasa dan ketika punya bayi itu kita harus ganti popok kain tiap 15-30 menit sekali. Nggak ada yang ngasih tahu kalau posisi latch on yang nggak tepat itu bisa bikin ASI nggak lancar dan payudara lecet. Nggak ada juga yang cerita kalau begadang setiap malam itu melelahkan lahir dan batin. Bahkan dokter pun nggak bilang kalau kemungkinan golongan darah yang berbeda antara anak dan ibu bisa mengakibatkan bilirubin bayi tinggi sehingga harus fototerapi. Eh, masih alhamdulillah kalau “cuma” fototerapi. Lha kalau harus transfusi darah segala?

Salahnya saya dulu adalah saya nggak mencari tahu tentang hal-hal tersebut saat kehamilan. Mungkin juga nggak mau tahu. Saya cuma mau dengar berita-berita baik tentang kehamilan dan kelahiran karena tiap dengar hal buruk pasti langsung stres. Saya hanya berkonsentrasi pada kondisi kehamilan saya saat itu. Padahal, kemungkinan-kemungkinan ini yang harus kita cari tahu. Bukan negative thinking, tapi seperti suami saya sering bilang, “Hope for the best but always prepare for the worst.” Dengan kita tahu apa aja yang bisa terjadi saat dan setelah melahirkan, kita jadi bisa bikin rencana untuk menghadapinya berdua kan? Dengan demikian saat benar-benar terjadi kita lebih siap. Tapi kalau semuanya benar-benar lancar dan menyenangkan ya alhamdulillah banget.

Olahraga

olahraga ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

Yoga, jogging, senam hamil atau sekadar jalan santai atau apa saja selama membuat badan kita bergerak, menghirup udara segar dan keluar rumah selain membuat badan kita sehat selama kehamilan juga menyiapkan stamina kita untuk proses persalinan dan setelah kelahiran si bayi.

Waktu hamil Keenan saya lumayan rajin olahraga, terutama setelah trimester kedua, meskipun sempat berhenti karena low lying placenta. Selain ngikutin senam hamil dari youtube, saya juga jogging di luar rumah. Alasan utamanya dulu supaya berat badan nggak naik terlalu banyak dan menghindari kebosanan karena terkurung di apartemen, tapi ternyata memang lumayan membantu untuk kesehatan mental dan kesiapan fisik.

Bekali Diri Dengan Ilmu Kesehatan Dasar Tentang Masalah yang Biasa Dialami oleh Bayi Baru Lahir

8,5 tahun yang lalu, saya nggak ngerti apa-apa tentang kesehatan bayi baru lahir. Semuanya manut dokter. Ada bagusnya, karena vaksinasi Cinta jadi lengkap dan tepat waktu. Tapi jeleknya saya jadi gampang panik.

Begitu lahir, Cinta kuning. Bilirubinnya tinggi karena golongan darah saya dan dia beda sehingga harus masuk inkubator selama 4 hari. Begitu pulang ke rumah, nafasnya bunyi. Saya takut. Bawa ke dokter. Nggak lama berselang, dia selalu gumoh setiap minum susu, tiap Maghrib bisa nangis berjam-jam sampai malam. Saya panik. Bawa ke dokter. Lama-lama saya merasa semakin nggak becus jadi ibu. Anak kok sakit terus. Anak kok nangis melulu.

Baru kemudian kenal sebuah milis tentang kesehatan anak-anak, dari situ banyak belajar. Setelah Keenan lahir, selama dua minggu dia kuning. Tapi dokternya santai, bidan yang tiap hari datang ke rumah untuk ngecek kondisi saya dan Keenan pun santai. Cuma berpesan untuk banyak disusui dan terkena sinar matahari.

Dengan kita punya pengetahuan dasar tentang kesehatan bayi baru lahir dan tanda-tanda kegawatdaruratannya, kita jadi nggak gampang panik. Kepanikan ini yang bikin kita stres dan stres bisa memperburuk baby blues.

Pilih Partner Menyusui yang Bijaksana

“Anakmu nangis terus lapar itu. ASInya nggak cukup tuh. Wis, kamu nggak bisa ASI Eksklusif kalau gini caranya.”

Kalimat itu dilontarkan seorang saudara di suatu malam saat Cinta sedang rewel dan terus-menerus menangis. 8,5 tahun berlalu dan masih teringat jelas. Dalam pikiran saya, gagal lah cita-cita saya menjadi ibu yang baik karena nggak bisa ngasih ASI Eksklusif. Saya down, marah dan kecewa.

Ibu jaman sekarang sudah lebih paham tentang pentingnya ASI dan semakin banyak yang menyusui bayinya dibanding jaman saya melahirkan Cinta dulu. Cuma, nggak sedikit yang karena merasa lancar menyusui lantas jadi menghakimi ibu-ibu yang mengalami kesulitan instead of membantunya. Padahal, nggak semua mengalami proses yang sama. Jadi, pilihlah seorang atau segrup teman sesama ibu menyusui yang suportif, yang nggak segan membantu kita saat merasa kesulitan.

Sungguh, menyusui bayi yang lagi growth spourt tiap setengah jam itu seringkali melelahkan. Apalagi ketika payudara kita lecet karena latch on yang salah. Pernah suatu malam dalam keadaan ngantuk berat dan payudara luka, sementara Keenan menuntut disusui terus menerus, saya bilang ke suami, “Sudah. Aku nggak mau lagi nyusuin Keenan. Sakit. Capek. Bosan. Kasih aja dia susu botol.”

Beruntung saat itu masih ada bidan yang rutin home visit ke rumah. Beliau pun mengajari saya latch on yang benar sampai saya bisa. Juga suami selalu siaga mencari yang saya butuhkan seperti salep untuk nipple crack. Selain itu teman-teman yang saya kenal di Brunei, baik sesama orang Indonesia, orang lokal maupun berkebangsaan asing, sudah terbiasa dengan breastfeeding. Sehingga saya nggak segan curhat kalau ada kesulitan, nggak susah mencari tempat menyusui ketika sedang berada di luar rumah meski hanya modal baju menyusui yang tertutup. Jadi ya, dibandingkan dengan saat Cinta dulu, masa-masa menyusui Keenan memang lebih lancar dan menyenangkan karena nggak ada yang dikit-dikit menghakimi saya hehehe.

Pelajari Teknik Relaksasi
relaksasi ibu hamil, baby blues, post partum depression, ibu hamil, kehamilan

Bisa dzikir, yoga, hypnobirthing, meditasi atau apa saja yang bisa membuat kita rileks.

Konon, bayi akan lebih tenang dan nyaman kalau ibu atau pengasuhnya rileks. Ya, kaya cerita saya di atas itu, Cinta bayi selalu mendadak anteng dan bisa tidur dengan nyenyak kalau dipegang sama yuyutnya. Begitupun Keenan. Di tangan dan gendongan yangti dengan alunan sholawat yang dinyanyikan beliau atau di dalam baby boxnya ditemani yangkung sambil didengerin murotal dari Al Quran digital, pasti tenang dan nyenyak tidurnya.

Jadi memang lebih baik kita jadikan relaksasi kebiasaan baik sejak masa kehamilan. Ibu yang rileks juga menciptakan bonding lebih baik dengan bayinya. Dan menurut Diane Sanford, Ph.D., pengarang buku Postpartum Survival Guide, ibu yang terbiasa melakukan relaksasi ini, meski hanya 10-15 menit, lebih mampu mengatasi stres dalam mengasuh bayi daripada yang tidak melakukan.

Oh ya, kebanyakan ibu yang mengalami baby blues atau postpartum depression mengalami kesulitan tidur, seperti saya. Jadi saat si bayi tidur, yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk ikut istirahat, yang ada malah melek dan mikir macem-macem. Padahal, kurang tidur nggak bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita. Dengan belajar teknik relaksasi, kita bisa lebih mudah untuk tidur sebentar. Lumayan lho, kalau bisa melakukan power nap meski hanya 30 menit di awal-awal usai melahirkan. Karena kalau kita istirahat dengan cukup, akan meminimalkan resiko mengalami mood swing.

Buat Persiapan dan Rencana Mengatur Urusan Rumah Tangga

Selain perlengkapan bayi, sebaiknya kita juga menyiapkan mental dan berbagai hal seputar urusan rumah. Bayangkan nanti saat si bayi lahir, kebanyakan waktu kita hanya akan habis untuk menyusui bayi, menggantikan popok, menidurkannya, memandikan, menyusui bayi, mengganti popok, menidurkannya, memandikan, menyusui dan begitu terus. Sebagian besar kita yang nggak punya ART akan kewalahan mengerjakan tugas rumah yang lain.

Jadi sebaiknya sih kita siapkan stok makanan yang bisa disimpan di freezer selama 2-3 minggu, atau mulai mencari katering harian. Siapkan juga no telpon laundry kiloan langganan dan minta ia untuk datang setiap 2 hari. Dengan begini kita bisa menghemat waktu untuk memasak dan mencuci baju dan memperbanyak waktu untuk memulihkan kondisi fisik dan psikis kita setelah melahirkan nanti.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari baby blues sejak dalam masa kehamilan. Ya, memang nggak menjamin 100% berhasil sih. Tapi mungkin dapat meminimalkan resikonya. Lagipula, menyiapkan diri untuk hal yang terburuk kan nggak ada salahnya ya. Jadi ketika terjadi pun kita nggak akan kaget lagi. Selamat mencoba.

Menyusui di Tempat Umum

Seperti kata @sabai di sini, minggu ini adalah World Breastfeeding Week dimana organisasi ibu menyusui di seluruh dunia termasuk AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggunakan momen ini untuk berkampanye semaksimal mungkin mengenai manfaat-manfaat menyusui bagi ibu dan anak. Tahun ini tema kampanye WBW yang diusung oleh AIMI adalah “Menyusui: Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi,” dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI”.

Kenapa menyusui saja perlu dikampanyekan dan disosialisasi? Bukankah menyusui itu proses alamiah seorang ibu memberi makan untuk anaknya? Well, banyak alasan kenapa banyak ibu yang tidak mau menyusui, mulai dari ASI-nya tidak keluar, takut bentuk payudaranya berubah menjadi tidak bagus, promosi susu formula yang berlebihan sampai malas karena tidak praktis. Tidak praktis? Iya, antara lain karena ibu harus membawa anaknya kemana-mana supaya dapat disusui setiap si anak menginginkan, malu jika harus menyusui di tempat umum sehingga ia harus “terkurung” di rumah sampai anak disapih, padahal yang namanya menyusui nggak cuma sampai ASI Eksklusif 6 bulan tapi berlanjut sampai 2 tahun atau lebih tergantung kesepakatan anak dan ibu.

Soal menyusui di tempat umum ini yang paling sering dipersoalkan oleh banyak pihak, bahkan dari kaum perempuan sendiri seringkali memandang risih kegiatan ini. Bahkan ada juga yang menganggap menyusui di tempat umum dan tanpa sengaja memperlihatkan payudara adalah pornoaksi. Padahal, banyak ibu yang mau tidak mau harus menyusui di tempat umum karena terbatasnya ruangan ibu dan anak atau nursery room. Anak yang minum ASI tidak seperti anak yang diberi susu formula yang bisa diperkirakan waktu minum susunya. Kadang anak minta menyusu bukan saja karena ia haus atau lapar tapi juga karena merasa tidak nyaman.

Sebagai mantan ibu menyusui yang tidak menggunakan jasa babysitter sampai Cinta berusia 6 bulan, sejak ia berusia 1 bulan sudah saya ajak kemana-mana; bank, mall, arisan, dsb. Kalau dibilang egois ya bolehlah. Tapi sekedar membela diri, saya pun tidak bisa hanya diam di rumah sampai anak saya selesai masa menyusui. Bahkan seorang ibu pun punya hak untuk melihat dunia luar kan? Sementara anak tidak bisa ditinggal di rumah karena tidak ada yang menjaga.

Awalnya tentu saya merasa risih harus menyusui di tempat umum, sayangnya tidak semua lokasi yang saya datangi menyediakan tempat khusus menyusui. Di Surabaya, hanya 2 mall yang ada nursery roomnya di tiap lantai, yaitu di Galaxy Mal dan CITO (City of Tomorrow) itu pun yang di Galaxy Mal jadi satu dengan toilet untuk anak. Untuk mengantisipasi hal itu biasanya Cinta saya susui dulu di mobil selama perjalanan dan menyelesaikan segala urusan sebelum tiba saat menyusu berikutnya. Tapi kadang tidak selalu berjalan lancar, saat sedang makan atau belanja tiba-tiba dia menangis minta minum, mau tidak mau harus diberi. Saking malunya, saya beberapa kali menyusui Cinta di toilet umum tapi kemudian saya sadar bahwa anak saya tidak layak menyusu di tempat seperti itu. Hei, kita pun nggak mau kan makan di kamar mandi? Memerah ASI dan menyimpannya di botol untuk diberikan saat di tempat umum juga pernah saya lakukan, sayang Cinta lebih suka minum ASI langsung dari kemasan aslinya daripada botol.

Sampai akhirnya saya berusaha masa bodoh, saat anak minta disusui dimanapun saya berada pasti berusaha mencari tempat senyaman mungkin untuk menyusui. Pakai baju yang cukup sopan sehingga ketika dibuka tidak (terlalu) menampakkan tubuh, ditutupin pakai selimut, mojok, dan masih banyak trik-trik lain. Lalu berkenalanlah saya dengan nursing apron, nursing dress, nursing shirt yang membuat saya bisa menyusui kapanpun, dimanapun tanpa khawatir ada bagian tubuh saya yang akan terekspos. Yayaya, tidak dipungkiri beberapa kali saya mendapatkan tatapan yang kurang bersahabat, tapi saya tak peduli. Yang penting anak nyaman, kenyang & bahagia karena mendapatkan kebutuhannya.

Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia, semoga semakin banyak anak Indonesia yang memperoleh haknya yaitu ASI dan semakin banyak ibu yang tahu trik-trik menyusui di tempat umum dengan elegan.