Browsing Tag:

keuangan

  • Babbles, Beauty & Fashion

    Serunya Rebutan Belanja di Toko Online

    Sebenarnya saya nggak sering-sering amat belanja online. Apalagi produk fesyen yang dijual lewat Instagram. Penyebabnya adalah beberapa kali kecewa dengan kualitas bahan dan model yang nggak sesuai dengan foto yang dipajang. Sejak saat itu, kalau beli baju atau hijab saya lebih suka lewat Zalora atau Hijabenka.
    Karena itulah saya sedikit banget follow akun online shop di akun IG utama saya. Padahal awal-awal mainan IG yang saya follow kebanyakan ols, bahkan sampai bikin akun IG khusus untuk mengikuti toko-toko online. Tapi kemudian saya coba lebih selektif. Yang sering posting SFS sehari 10 posting jelas saya unfollow. Pening bok kalau liat timeline IG isinya iklan semua. Beberapa akun yang tetap saya ikuti sampai sekarang antara lain karena pernah beli dan suka dengan kualitas barangnya, ols punya teman, foto-fotonya bagus dan nggak ikut SFSan gitu.

    Nah, beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman berencana untuk patungan beli kado ulang tahun untuk seorang sahabat, sebut saja namanya Mawar. Karena pilihan barang keren dan modis tapi terjangkau di Brunei ini sedikit, kami memutuskan untuk belanja online di Indonesia untuk kemudian dibawa ke Brunei oleh Melati yang lagi mudik. Kami pun mulai stalking online shop yang difollow si Mawar ini, yang membuat saya akhirnya follow akun-akun itu untuk ngeliat barang-barangnya karena kebanyakan akun mereka digembok. Dari situlah saya sadar kalau barang-barang jualan di IG sekarang udah keren-keren banget dan kualitasnya bagus-bagus dilihat dari testinya. Apalagi mereka nggak segan-segan endorse beauty blogger atau hijaber yang memang terkenal selektif pilihan barangnya. 

    Bertepatan dengan itu, setibanya di Brunei, Melati ngasih oleh-oleh berupa 2 pashmina yang bahannya enak banget dipake dan mudah diatur. Dan nggak lama kemudian, seorang teman yang lain cerita tentang jilbab instant yang sering dia pakai dan saya suka karena modelnya manis juga bahannya nggak tipis meski lentur. Ketebalan bahan kerudung akhir-akhir ini agak penting buat saya karena mulai risih pakai yang nerawang meskipun saya juga pakai dalaman yang panjang sampai menutup leher. 

    Lantas, si teman ini, Anggrek, menyebut sebuah akun OLS di IG tempat dia membeli jilbab itu sambil bercerita kalau belinya pake rebutan. Yang ternyata sama dengan OLS tempat Melati beli pashmina oleh-oleh tadi. Sebenarnya nama akun itu nggak asing buat saya tapi saya males follow karena ya belinya pakai rebutan itu. Apalah enaknya beli harus cepet-cepetan kirim Line/WA. Emangnya saya kurang kerjaan banget mantengin IG demi menunggu waktu upload. 

    Eh, nggak lama kemudian, Anggrek ngasih tahu kalau si OLS itu mau upload produk dalam waktu dekat dan dia ngajakin order bareng dengan dia yang mesenin. Karena penasaran dan merasa nggak pake repot akhirnya saya ikut order. Alhamdulillah dapet. Dan setelah barang diterima, ternyata saya suka pake banget sodara-sodara. 

    Jadilah setelah itu saya jadi follow OLS tersebut dan mulai menemukan beberapa akun yang menjual lagi barang yang mereka beli dari si OLS. Istilahnya tangan kedua, bukan reseller. Kenapa ada tangan kedua? Ya karena barang yang dijual oleh OLS tersebut terbatas, bahkan satu alamat cuma boleh pesan dalam jumlah yang ditentukan. Jadi yang nggak kebagian bisa beli lewat tangan kedua itu tadi walaupun harganya jelas lebih mahal. 

    Nah, setelah beberapa kali titip order lewat Anggrek, saya iseng nyoba pesan sendiri dengan beberapa tips dari dia. Antara lain:

    1. Follow dan hidupkan notifikasi akun ols tersebut di IG jadi kita nggak ketinggalan info produk yang akan diupload dan waktu uploadnya.

    2. Pilih produk yang mau dibeli sebelum si OLS open order. Biasanya 1-2 hari sebelum open order, OLS itu akan upload pilihan warna dan produknya. 

    3. Siapkan format Line/WA sesuai petunjuk order mereka. Nah, di sini saya lebih suka pakai Line. Karena kita bisa nulis dulu dan meski keluar dari aplikasi, tulisan itu nggak terhapus. Jadi nggak capek copy paste.

    4. Pantengin waktu open ordernya. Biasanya 5 menit menjelang open order, si OLS akan upload foto yang berisi format order dan persiapan untuk order. 

    5. Dalam waktu 5 menit itu, rajin-rajin refresh timeline IG karena tepat pada waktu yang sudah ditentukan, si OLS akan upload foto yang bertuliskan “Send your chat now.” Percayalah, ketepatan & kecepatan mengirim chat ini pengaruh banget dalam perolehan barang hahaha. Secara dalam menit pertama aja biasanya dia menerima ratusan chat dari WA dan Line. 

    6. Sabar menunggu balasan. Beberapa kali chat dibalas setelah beberapa jam, pernah juga dibalas dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi pasti dibalas kok meski sekadar mengabarkan kalau barang yang kita pesan sudah habis.

    7. Kalau kehabisan barang tersebut tapi kita naksir banget, coba ke Shopee. Biasanya para tangan kedua menjual produk yang mereka dapat di sana, tentu dengan selisih harga mulai dari 5000-20000 lebih mahal dari harga aslinya.

    Setelah mempraktikkan tips tersebut, alhamdulillah beberapa kali berhasil mendapatkan barang pesanan saya di akun @heaven_lights dan @pulchragallery. Bahkan gantian dengan teman, saya menerima titipan order dari temen-temen yang lain. Tentu nggak memungut jasa titip ya. Wong sama tetangga dan untuk dipakai sendiri, bukan untuk dijual lagi. Kalaupun nggak dapat biasanya karena memang stoknya cuma ratusan. Sedangkan kalau ribuan, Insya Allah dapat. 

    Beda lagi dengan OLS yang menjual produk fesyennya lewat web meski info produk dan waktu open ordernya tetap diumumkan lewat akun instagramnya seperti @vanillahijab. Sejauh ini saya baru 2 kali berhasil rebutan lewat web. Kalau ini memang keberhasilan bergantung pada kecepatan internet dan keberuntungan rasanya. Tapi begitu dapet rasanya seneng banget.

    Perasaan deg-degan nunggu open order, kirim chat dan menanti balasan itu bikin kecanduan juga lho. Apalagi kualitas produk yang dijual memang bagus dan selalu aja ada produk atau warna baru yang bikin kita kepingin punya. Akhirnya nggak sadar orderan demi orderan bikin rupiah melayang dengan deras. Memang harganya nggak mahal-mahal amat. Untuk jilbab instant dan pashmina rata-rata 60000 – 85000, sementara baju seperti kemeja, tunik, dress dibandrol mulai 100000. Tapi kalau sampai ketagihan order kan ya tekor lah lama-lama.

    Jadi ya pinter-pinter deh milih mana yang dibutuhkan. Atau kalau memang nggak bisa menahan hasrat rebutan belanja online, sekalian aja terima jasa titip order lalu jual tangan kedua atau sekalian buka akun di Shopee. Kan lumayan menyalurkan hobi belanja tapi nggak keluar duit malah dapat pemasukan hehehe.

    Teman pojokmungil suka rebutan belanja di toko online juga nggak? Cerita yuk pengalaman serunya.

  • financial planning
    Life Hacks

    Ketika Hal Buruk Terjadi

    Kemarin mamak Astri Kunto melalui akun twitternya ngomongin tentang perempuan yang hidupnya tergantung penuh pada suami, alias nggak punya penghasilan sendiri. Yang dibahas adalah, bagaimana seandainya suami meninggal lebih dahulu? Ini tentu berat karena untuk ibu rumah tangga seperti saya kehilangan suami selain kehilangan pasangan hidup, orang yang saya cintai, berarti hilang juga pencari nafkah utama dalam keluarga.

    financial planning

    Akhir-akhir ini jujur saja hal itu sering terlintas dalam pikiran saya. Hidup cuma bertiga di negeri orang dengan kendali penuh rekening keluarga pada suami, gimana kalau terjadi sesuatu padanya. How will we survive? Can we?

    Begitu juga seandainya suami memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan kita memilih hidup dengan anak-anak daripada menjalani poligami (amit-amit jabang bayi *ketok meja 3x), sampai kapan kita mampu bertahan hidup dari harta gono gini.

    Maka itu penting sekali merencanakan safety steps dalam menghadapi keadaan darurat ini. Toh, yang namanya umur dan jodoh itu meski kita sudah berusaha sebaik mungkin tetap saja ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apa saja sih? Ini adalah beberapa yang terpikir oleh saya, silakan menambahkan jika ada yang kurang:


    Bekerja

    Bekerja nggak harus di kantor. Membuat online shop seperti yang banyak dilakukan ibu rumah tangga belakangan ini, menggeluti MLM, menjadi paid blogger juga termasuk bekerja. Istilah kerennya working at home mom. Minimal kita punya penghasilan sendiri yang rutin agar tidak 100% tergantung secara finansial kepada suami.

    Nggak tahu mau kerja apa? Nah hobinya apa? Masak? Bikin kue? Fotografi? Nulis? Ngetwit dan punya ribuan follower? Semua itu bisa jadi lahan pekerjaan lho kalau ditekuni dengan serius. Suka masak bisa bikin katering, hobi bikin kue bisa dikembangkan jadi toko kue online. Nggak sedikit kok ibu-ibu yang sukses di bidang ini.

    Saving for Rainy Days

    Dilarang bekerja oleh suami? Marilah kita menyisihkan sebagian uang belanja untuk ditabung. Tentu harus didiskusikan lebih dulu sama suami ya, karena saya baru diingatkan seorang teman bahwa harta suami yang diamanahkan ke kita itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

    Tabungan ini penting. WAJIB punya, apalagi kalau kendali keuangan sepenuhnya dipegang oleh suami. Usahakan minimal kita punya tabungan minimal sebesar 3 kali pengeluaran bulanan. Masukkan dalam pos dana darurat yang hanya bisa digunakan benar-benar saat keadaan darurat. Ingat, The Great Singapore Sale saat lagi bokek berat bukan termasuk kondisi darurat, meski tas idaman diskon 70% dan yang kita punya sudah butut sekalipun.

    Keadaan darurat ya berarti yang saya sebutkan di atas, saat kehilangan pencari nafkah (suami di PHK, meninggal atau bercerai) atau orang tua sakit dan butuh biaya perawatan.

    Asuransi Jiwa

    Ketika pencari nafkah utama kita meninggal dalam kondisi kita tidak bekerja, uang yang didapat dari asuransi jiwa ini bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sementara sampai kita mendapatkan pekerjaan. Please remember bahwa nggak mudah mendapatkan pekerjaan saat ini, apalagi kalau sudah sekian tahun tidak bekerja. Dengan adanya asuransi jiwa ini minimal kita nggak akan langsung jatuh miskin meski pasti harus mengetatkan beberapa pos pengeluaran. Biaya anak-anak sekolah pun tetap bisa tercover.

    Nah, yuk mari berdiskusi dengan suami, menyiapkan tindakan preventif jika terjadi kondisi darurat. Belajar mengatur keuangan sebaik mungkin, jangan boros untuk hal-hal yang sifatnya tersier *ngomong sama kaca*.

    Sedangkan untuk para suami yang lebih suka istrinya di rumah, total menjadi ibu rumah tangga mengurus Anda dan anak, please make sure orang-orang yang menyayangi Anda ini tidak terlantar saat Anda diPHK, meninggal atau memilih untuk bercerai.

  • Life as Mom

    Menabung Saja Tidak Cukup

    PhotobucketPeringatan: Tulisan ini akan sangat panjang 😀

    It’s not about how much money you earn, but how much money you can save/invest every month #financiallyfit

    “Menabung saja tidak cukup!” kata Ligwina Hananto waktu membuka acara 2011: Shape Up Your Financial Future Seminar yang diselenggarakan oleh The Daily Media (yang menaungi situs dan forum Mommiesdaily.com dan Fashionessedaily.com) dan Nestle Bear Brand & Fitnesse hari Sabtu, 29 Januari 2011 yang lalu di The Bellezza. Ah, masa sih?

    Diawali dengan cerita mbak Wina yang bisa sekolah di luar negeri karena ayahnya menabung 90% dari penghasilannya. Kok bisa? Iyalah, karena beliau bekerja di daerah Sulawesi yang nggak ada mall atau pusat perbelanjaan, dapet rumah dinas dan sebagainya. Nah, kita yang hidup di kota besar ini bisa nggak menyisihkan 90% uang dari penghasilan untuk ditabung? Boro-boro mau nabung, yang ada tekor melulu karena biaya hidup yang sangat besar. Gesek deh kartu kredit untuk belanja ini itu tapi akhirnya cuma bisa bayar tagihan minimum dan kena bunga per tahunnya yang bisa mencapai 40%. Tanpa sadar, tercekik kita dengan utang yang nggak ada habisnya.

    Menurut Ligwina, golongan menengah seperti kita inilah yang termasuk golongan paling miskin. Banyak gaya aja. Keluarga muda, double income, pake BB, punya iPhone, TV plasma, liburan ke Singapore, belanja ini itu. Tapi ternyata masih punya utang kartu kredit yang menumpuk dan nggak investasi. Tahu nggak kalau kita masih punya utang di kartu kredit dan masih asik ngegesek artinya we’re living the lifestyle we don’t deserve. #jleb!

    Lalu gimana dong, supaya bisa nabung? Mulai dengan pemeriksaan keuangan pribadi. Kita breakdown dulu pengeluaran bulanan yang rutin ke dalam beberapa pos lalu dicek apakah dari gaji dan pengeluaran rutin itu masih ada sisanya atau malah minus. Cashflow yang sehat sebaiknya memiliki prosentase seperti ini:

    Photobucket

    Dengan mengikuti perhitungan itu kita bisa menabung dan tetap bisa bersenang-senang karena sudah ada budgetnya.

    Masalahnya, biasanya kita mendahulukan pengeluaran rutin daripada menabung, sehingga hasilnya kadang-kadang bisa nabung kadang bisa enggak. Supaya bisa memiliki keuangan yang sehat, pertama kita harus komitmen dulu untuk menabung minimal 10% dari penghasilan tiap bulan. Lalu buat 2 rekening yang berbeda. 1 rekening untuk arus keluar masuk uang, 1 lagi khusus untuk tabungan. Di awal bulan langsung masukan (kalau bisa autodebit lebih bagus) sejumlah uang ke rekening tabungan itu. Sayangnya, kalo lagi “kepepet” kita suka menyabotase rekening tabungan itu sendiri. Gimana dong caranya supaya kita bisa disiplin? Kembali ke langkah pertama: KOMITMEN. Berat? Banget! Tapi kita juga harus tahu TUJUAN LO, APA? untuk menabung itu.

    Kenapa nabung aja harus punya tujuan? Apa nggak bisa nabung suka-suka aja gitu?  Kalau punya tujuan, kita akan bisa menentukan mau menabung dengan cara yang efektif. Misalnya nih, menabung untuk pendidikan anak, liburan, beli rumah, menikah (dan menikahkan anak), beli mobil, beli gadget, dll. Lagipula kalo udah tahu tujuannya apa, kita jadi mikir-mikir untuk menyabotase tabungan itu karena ada risikonya, anak nggak sekolah, batal menikah, nggak bisa beli rumah, nggak jadi liburan.

    Photobucket

    Soal pendidikan anak nih, sebagai orangtua yang bertanggungjawab, kebanyakan kita suka “keblinger” dengan segala produk yang ada embel-embel pendidikan. Asuransi pendidikan, tabungan pendidikan, dll padahal setelah dihitung-hitung produk-produk tersebut nggak bisa menutupi kebutuhan akan dana pendidikan anak saat kita perlukan nanti. Coba cek deh di kalkulatornya qmfinancial.com berapa dana yang harus kita siapkan saat anak masuk SD, SMP, S1 nanti. Misalnya nih saya pengen masukin Cinta ke sebuah SD yang tahun kemarin uang pangkalnya sekitar Rp 10,000,000.00. Dengan inflasi sekitar 20% per tahun, 2 tahun lagi saya harus sudah punya uang sebesar Rp 14,400,000.00 supaya Cinta bisa sekolah di sana. Kebetulan saya dan suami ikut program Tabungan Pendidikan dan karena jangka waktunya tinggal 2 tahun lagi, tabungan biasa adalah produk terbaik dengan return sekitar 2% per tahun. Dengan menabung sekitar Rp 500,000.00 per bulan dalam jangka waktu 2 tahun kami bisa mengumpulkan kira-kira Rp 12,000,000.00. Lumayan lah tinggal nambah sedikit. Tapi gimana untuk biaya masuk SMP, SMA, S1 dan mungkin S2. Kekejar nggak tuh kalau cuma pake tabungan pendidikan?

    Ya udah ikut asuransi pendidikan aja. Bayar premi tiap tahun minimal 8 juta, nanti tahun ke-6 akan cair 10 juta. Pas kan buat anak masuk SD. Nanti tahun ke-12 dan ke-15 keluar lagi masing-masing 10 juta. Trus tahun ke-18  kita dapet 100juta. Udah termasuk  asuransi jiwa yang uang pertanggungannya 100 juta tuh, sama asuransi kesehatan yang plafon kamarnya Rp 250ribu/malam. Eh, tapi beneran bisa menutupi kebutuhan kita nggak? Yuk, mari dihitung satu-satu.

    Lihat deh kebutuhan dana pendidikan 1 orang anak di ilustrasi ini:

    Photobucket

    Kira-kira dari dana yang kita peroleh dari asuransi pendidikan itu cukup nggak untuk menutupi kebutuhan biaya yang harus kita keluarkan? Lalu bagaimana dengan asuransi jiwanya. Uang pertanggungan 100 juta itu banyak lho. Oke, sekarang pengeluaran keluarga per bulan rata-rata berapa?  Kalau 3juta/bulan berarti UP itu bisa untuk menopang hidup keluarga yang kehilangan pencari nafkah utama selama maksimal 3 tahun. Tapi masa iya sih seorang pencari nafkah “cuma” dihargai sebesar harga sebuah mobil. Lalu asuransi kesehatannya, dengan plafon Rp 250,000.00 sehari itu masuk kelas berapa? Sudah termasuk kunjungan dokter, obat dan lain-lain kah? Sehingga saat kita terpaksa rawat inap, operasi dan sebagainya nggak perlu lagi keluar uang.

    Lha, sudah terlanjur jalan nih asuransi pendidikannya. Kalau ditutup sekarang kan rugi, uangnya hilang dong. Tapi kalau diterusin akan lebih rugi lagi nggak? Okelah kalau ditutup kita akan kehilangan uang yang cukup banyak. Tapi dengan budget asuransi pendidikan yang sebesar Rp 8juta setahun itu kita bisa investasikan ke Reksadana sebesar Rp 1,033,616 sebulan untuk bisa menutupi kebutuhan dana pendidikan sampai S1, lalu ikut asuransi jiwa murni term life selama 10 tahun dengan UP sebesar Rp 1M hanya dengan premi ± Rp 3,000,000.00 setahun. Memang jatuhnya akan lebih banyak daripada asuransi pendidikan tapi toh hasilnya jauh lebih maksimal dan sesuai dengan kebutuhan kita.

    Photobucket

    Kenapa harus investasi? Bukankah risikonya tinggi? Iya, tapi risiko tidak berinvestasi jauh lebih tinggi daripada berinvestasi itu sendiri. Ah, tapi kan anak ada rejekinya sendiri-sendiri. Udah diatur kok sama Tuhan. Yaaaa, so true! Tuhan emang sudah mengatur rejeki tiap anak. Tapi kita sebagai orangtua yang harus pandai mengelolanya. Yang namanya rejeki itu kan nggak selalu berupa dapat uang jebret pas kita lagi butuh. Bisa berupa kenaikan gaji tiap tahun, bonus, menang undian. Nah, yang seperti itu kalau nggak dikelola dengan baik ya belum tentu kita bisa sekolahin anak sampai setinggi yang dia inginkan. Iya kalo pas waktunya anak masuk sekolah tiba-tiba kita dapat uang sekian belas juta, kalo enggak? Masa anaknya ga sekolah?

    Lalu gimana caranya memilih investasi yang tepat?  Kembali lagi ke Tujuan Lo, Apa? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi risiko dan hasil investasi yang akan dihadapi. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi target hasil rata-rata, semakin rendah kebutuhan investasi yang diperlukan. Misalnya saya nih, untuk biaya Cinta masuk SD yang tinggal 2 tahun lagi paling tepat ya pakai tabungan biasa. Meski returnnya sedikit tapi risikonya juga minimal. Sedangkan untuk biaya masuk SMP yang 8 tahun lagi bisa investasi di RD Pasar Uang atau RD Pendapatan Tetap. Lalu untuk biaya masuk SMA dan kuliah dengan jangka waktu 11 dan 14 tahun sebaiknya investasi di RD Campuran atau RD Saham untuk dapat return yang lebih tinggi.

    Photobucket

    Untuk kebutuhan lain seperti dana liburan, dana pernikahan, dana beli rumah tentu penempatan investasinya beda lagi. Tergantung tingkat kepentingannya. Semakin penting dan semakin singkat kebutuhan dana itu sebaiknya ambil investasi yang risikonya rendah.

    Oke, dana pendidikan sudah siap nih. Apalagi?  Asuransi dong. Yang dianjurkan oleh Ligwina adalah asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Kenapa perlu asuransi? Dan siapa yang harus diasuransikan? Asuransi diperlukan untuk melindungi penghasilan yang hilang jika pencari nafkah utama nggak bisa kerja lagi karena meninggal, cacat tetap total atau sakit keras. Berarti yang perlu diasuransikan ya pencari nafkah utama, bisa suami atau istri. Yang jelas bukan anak yah, karena selama orang tua masih bekerja, jika terjadi sesuatu sama anak tentu orangtua nggak akan kehilangan sumber penghasilan kan? Dan asuransi jiwa ini dibutuhkan hanya saat kita berada dalam usia produktif karena saat kita masuk usia pensiun seharusnya sudah ada dana pensiun.

    Untuk asuransi jiwa, mbak Wina menyarankan asuransi jiwa murni dengan perhitungan uang pertanggungan: biaya hidup sebulan  X 12 bulan X 10 tahun. Jadi kalau biaya hidup sebulan 3juta minimal perlu asuransi jiwa dengan UP Rp 360,000,000.00. Pilih jangka waktu dan premi yang sesuai dengan kemampuan kita. Nanti kalau pendapatan dan biaya hidup meningkat bisa bikin asuransi jiwa yang baru.

    Sementara untuk asuransi kesehatan kalau dicover kantor nggak perlu bikin lagi asaaaaaal kebutuhan kesehatan benar-benar sudah dipenuhi oleh asuransi itu. Tapi kalau asuransinya terbatas misal cuma dapet dokter umum dan dokter gigi, obat jatahnya 200ribu, rumah sakit kelas 2, rawat inap ditanggung sekian % aja. Berarti kita perlu punya asuransi kesehatan sendiri. Pilih yang general insurance jangan yang campur dengan produk investasi karena premi akan lebih tinggi dan pertanggungan tidak maksimal. Oya, kalau ikut asuransi jangan mikir untuk cari untung ya apalagi kepikiran rugi, karena tujuan utamanya adalah proteksi bukan investasi.

    Gimana, sudah mumet? Saya sudah nih. Padahal baru dana pendidikan dan asuransi aja lho. Abis ngecek-ngecek pengeluaran bulanan aja udah terkaget-kaget karena ternyata cashflow saya nggak sehat *nangisbombay*.  PR banget untuk ngeberin cashflow supaya bisa investasi untuk dana darurat dan dana pensiun juga. Semangat! Demi financial freedom di masa depan!

    (bersambung)

    NB:

    • angka-angka di atas sekedar ilustrasi.
    • Foto-foto: koleksi pribadi, perhitungan dana pendidikan qmfinancial.com dan dari handout seminar Shape Up Your Financial Future
  • Life Hacks

    Financial Planning

     

    Sejak follow @mrshananto dan @QMFinancial di Twitter, saya jadi sedikit-sedikit melek tentang rencana keuangan, asuransi dan investasi. Tapi baru hari ini baca-baca dengan cermat web QMFinancial lalu mengisi quick check up-nya dan hasilnya  nyaris membuat saya sakit jantung. Bayangpun dengan penghasilan suami yang segitu dengan pengeluaran kami saat ini plus cicilan KPR dan kartu kredit bisa dibilang lebih besar pasak daripada tiang pingsan. Belum lagi ketika mengisi kalkulator Dana Darurat, Dana Pendidikan dan Dana Pensiun. Untuk biaya pendidikan Cinta sampai S1 nanti (untuk bisa menutupi uang pangkalnya aja lho ya) setidaknya pada tahun 2025 nanti kami harus memiliki uang sebesar 1,5M pingsan part two. Padahal rencananya kami (eh, saya ding) ingin memiliki 2 orang anak. Berapa jumlah uang yang harus kami sediakan untuk menjamin pendidikan mereka minimal sampai S1. Pastinya lebih dari 3M. Uang dari mana ya kira-kira? Minta sama Gayus aja apa ya?

    Betul, setiap anak pasti ada rejekinya masing-masing. Saya percaya itu. Tapi apa iya kami cuma akan bertopang dagu mengandalkan uang turun dari langit. Saya sih tidak. Kenyataannya tidak sedikit orangtua yang terpaksa harus menjual aset mereka satu-satunya untuk bisa menyekolahkan anaknya. Atau mengandalkan kiriman uang dari anak setelah mereka pensiun. Saya bercita-cita ingin menjadi orangtua yang mandiri dalam arti tidak menggantungkan hidup kepada anak(-anak) setelah kami pensiun nanti. Dan tentunya bisa mengantarkan mereka sampai ke jenjang pendidikan tertinggi yang mereka inginkan.

    Gimana caranya? Bikin financial planning, rencana keuangan keluarga. Menentukan tujuan kami apa di masa depan, dan melakukan investasi yang tepat untuk mewujudkan cita-cita itu. Uangnya darimana kalau masih besar pasak daripada tiang? Ya pasaknya yang harus dikecilkan. Belajar hidup sesuai kemampuan. Sementara cuma mampu ke mall sebulan sekali ya jangan maksa seminggu sekali. Hohoho, tentu berat sekali buat saya untuk memulai ini, wong saya ini termasuk yang “ga bisa pegang uang” alias dikasih uang berapa aja pasti minimal habis atau kurang headdesk headdesk.

    Tapi setelah ini saya jadi bertekad untuk lebih mulai belajar menghargai uang. Sekecil apapun akan sangat berguna bagi saya dan keluarga kecil saya kelak. Juga belajar menjaga kesehatan, bagaimanapun ketika sakit pengeluaran untuk berobat pasti lebih besar daripada uang sekolah anak sebulan. Ah, jadi ingin ikut training “Membuat Rencana Keuangan Pribadi” tapi biayanya mahal juga ya 😀