Browsing Tag:

kesehatan

  • Family Health, Recipe

    Sore Throat Remedies

    Beberapa waktu yang lalu saya mengalami sakit tenggorokan yang sakitnya terasa menusuk-nusuk sampai telinga, nggak enak banget. Mau makan susah, nggak makan laper. Ditambah demam bikin badan lemas selama beberapa hari. Saya tahu sakit tenggorokan kebanyakan disebabkan oleh virus sehingga akan sembuh dengan sendirinya tapi rasanya nggak dosa kan ya kalau mencari cara meringankan gejala supaya tetap dapat beraktivitas seperti biasa.

    Setelah browsing dan menemukan serta mencoba beberapa cara seperti kumur-kumur pakai air hangat dan garam, minum air jeruk hangat sampai makan mie instan super pedas dan belum menunjukkan tanda-tanda tenggorokan mulai membaik, akhirnya saya mencoba bertanya kepada teman-teman di twitter. Mereka pun berbaik hati memberikan saya beberapa cara home treatment untuk meringankan sakit tenggorokan. Berikut saya copas twit teman-teman, siapa tahu ada yang membutuhkan:

    @hildayie: strepsils ma air putih anget. Trus tidurnya agak tinggi kpalanya, klo gak pasti guatel dan memicu batuk

    @as3pram: minum anget2 ama ndusel bojo

    @_plukz: makan indomi pedes pake bubuk cabe banyak juga membantu. kasi telor setengah mateng dan suwiran ayam

    @cahyayu: coldizo tablet! Tablet kunyah yg mengandung ekstrak tumbuhan..obgyn di RS sy suka meresepkan bwt bumil

    @yohanes_hans: masalah tenggorokan yg paling enak minum jeruk panas. yg agak ekstrim ngunyah jahe 😀

    @kabarburung: Kumur dg larutan garam dan air hangat ..

    @merkrisnanti: Teh crysanthium Mbak

    @DyahYantie: Biasanya aku minum air rebusan daun pecut kuda,cespleng. FG Troches malah bikin batuk Mbak

    @faroex: 1. minum pke air hangat ex: lemon tea/teh hangat+madu

    @faroex: 2. Kumur2 dg air garam hangat (1/2 sndok teh garam dlarutkan dlm 1 gelas air), kumur2 2-3x shari

    @ndutyke: mie direbus bareng ama tomat dibelah 4 jg enak. Jadinya asem2 seger gt 🙂 enak klo pas lg idung buntu.

    @ndutyke: kalo #sorethroatremedies, coba konsumsi habbatussauda, jeng. Manjur kalo buat aku n suami, so far sih ya..

    Kalau cara kalian gimana?

  • Daily Stories, Family Health, Parenting

    Membujuk Anak untuk Imunisasi

    Semakin besar, Cinta semakin susah diajak imunisasi. Mungkin karena dia tahu disuntik itu sakit dan pernah pengalaman diimunisasi paksa, sehingga tiap diingetin jadwalnya imunisasi selalu histeris dan menolak meski sudah diiming-imingi berbagai macam reward. Nah, bulan ini pas ulang tahunnya ke-5, waktunya dia booster DTP, MMR dan Hep. A tapi masih bingung cara bujuknya. Nanya ke twitternya mbak @AnnaSurtiNina seorang psikolog anak dan keluarga, beliau memberikan saran seperti ini:

    Kalau masih histeris emang susah. Kalau dipaksa, bisa, tapi resikonya akan semakin nolak imunisasi berikut, juga nolak pergi ke dokter karena dokter kemudian diasosiasikan dengan ‘makhluk mengerikan’ / ‘yang bikin susah’. Padahal kita masih sangat perlu dokter kan. Jadi yang paling pas tetap dibujuk, tapi tarik ulur ya. Dalam hal ini, diiming-imingi boleh kok :D. Pakai sistem ‘kalender’, tunjuk tanggal, sepakati di hari H ya tetep pergi apapun yg terjadi. Setelah itu jangan lupa iming-imingnya diberi. Ohya, supaya lebih positif, bisa juga beri pujian ‘wah kamu pasti tambah kuat & sehat sekarang’ atau ‘mama bangga sama kamu’.

    Saran ini sedang saya praktikkan dan tadi malam sudah menemukan kesepakatan tanggal berangkat imunisasinya, yaitu.hari Sabtu 23 Juni 2012 sepulang sekolah. Doakan kami berhasil di hari H ya 😀

  • Life Hacks

    Sehat itu Butuh Pengorbanan, Jenderal!

    Kemarin sore saya iseng browsing online shop yang jual bento tools. Biasalah, euforia mamah yang anaknya sudah selesai liburan, pengen bikin bento lucu-lucu untuk bekal sekolahnya. Walaupun sudah dapat snack dari sekolah, Cinta suka nggak doyan, kecuali kalau menunya pas seperti sosis atau camilan khas Melayu semacam lepet. Maklum, lidah Jawa gini kalau cuma dapat roti isi kurang nendang.

    Pas browsing malah nemu situs tentang perbentoan yang bagus banget. Namanya justbento.com. Di situ selain ada resep dan tip bento sehat lagi praktis, juga ada pengetahuan tentang bento itu sendiri. Cara freezing nasi, bikin nasi tetap fresh dan masih banyak lagi. Tapi nggak ada menu khusus anak-anak dengan model yang kawaii gitu. Ini bento secara umum, yang bisa dinikmati oleh orang dewasa. Keren banget lah pokoknya.

    Setelah baca-baca sampailah saya di blog pribadinya Maki si pemilik justbento.com. Di sana dia menceritakan perjuangannya melawan kanker. Mulai dari kesedihannya karena tubuhnya merasa nggak nyaman sampai kecintaannya terhadap makanan yang mulai memudar. Semua dituangkan dalam bentuk sketsa, di mana gambar-gambarnya bikin terenyuh. Menurut Maki, sketching adalah salah satu bentuk katarsis bagi dia, selain menulis selama berjuang melawan kanker ini.

    Sketsa terakhir Maki bercerita tentang terapi tahap ketiganya dan ini mengingatkan saya pada seorang teman mama saya yang akhirnya meninggal karena kanker. Padahal ketika terakhir berobat ke Singapura, si tante ini sudah dinyatakan bersih dari sel kanker, meski tetap harus waspada akan kemungkinan muncul lagi. Nah, tak lama kemudian kankernya benar ada lagi dan menjalar semakin cepat.

    Waktu nengok beliau di rumah sakit rasanya terenyuh, seorang perempuan aktif terbaring lemah karena kanker. Sama seperti nenek, kakek dan tante sepupu dari pihak mama. Kanker merenggut semua dari orang yang mengidapnya dalam waktu yang cepat.

    Jujur aja, penyakit ini jadi salah satu kekhawatiran terbesar saya. Faktor pemicunya yang beraneka ragam, termasuk pola makan yang kurang sehat, gaya hidup sampai beban pikiran, menjadikan kanker salah satu penyebab kematian teratas di dunia. Serem yah.

    Meski di negara-negara maju banyak penderita kanker yang bisa sembuh total dan hidup sehat sampai bertahun-tahun. Kenyataan di Indonesia yang terjadi sebaliknya. Oleh karena itu sepertinya cara terbaik adalah menghindari penyebab kanker.

    Banyak artikel-artikel kesehatan yang menyarankan supaya kita menjaga makanan, rutin berolahraga sampai mengkonsumsi makanan/minuman tertentu untuk mencegah kanker. Tapi kok ya berat ya rasanya menjalani hidup sehat begitu. Apalagi buat saya yang lebih suka jajan daripada jarang masak sendiri karena nggak sempat. Hadeeeeuuh…

    Sepertinya harus mulai memaksakan diri nih untuk lebih rajin lagi masuk dapur dan masak! Terutama buat si kecil yang sedang butuh asupan makanan bergizi, bukan sekadar karbohidrat dan protein (baca nasi dan ayam goreng/butter nestum chicken-prawn/butter egg chicken). Meski mungkin rasanya nggak seenak makan di resto tapi kalau gizinya seimbang tentu lebih sehat kan yah (pembelaan diri).

    Selain makanan dan olahraga teratur juga sepertinya harus mulai menyiapkan asuransi kesehatan yang mengcover kanker juga nih, ada nggak sih? Secara pengobatan kanker membutuhkan biaya yang nggak sedikit, kalau dibantu dengan asuransi kan minimal nggak sampai menyusahkan keluarga dari segi ekonomi. colek pak suami

    Oya, untuk perempuan juga harus rutin melakukan SADARI setiap bulan dan pap smear bagi yang telah aktif secara seksual setahun sekali. Pap smear nggak sakit kok, serius, been there done that and going to do it again by the end of this year. Malah menurut saya lebih sakit intravaginal ultrasound atau yang kita kenal dengan istilah periksa dalam waktu hamil dulu. Dengan pemeriksaan dini ini akan lebih mudah ditemukan penyebab dan penanganan yang tepat saat ada sesuatu yang abnormal, seperti saat saya menemukan benjolan di payudara beberapa tahun silam.

    And tonight I’m going to pray for Maki and other people fighting cancer, semoga diberi kekuatan dan untuk menjalani pengobatan supaya segera pulih kesehatannya. Dan semoga kita dijauhkan dari penyakit ini. Aamiin…

  • Family Health

    Pemberian ASI Ibu Bekerja

    Ceritanya, kemarin saya periksa kesehatan di Eka Hospital, BSD. Waktu lagi ambil nomer antrian, saya melihat brosur “Pemberian ASI Ibu Bekerja” ini di meja pendaftaran. Iseng saya ambil dan baca. Ternyata isinya (menurut saya lho) cukup lengkap dan informatif.

    Saat menyerahkan nomer antrian ke poliklinik yang saya tuju, brosur ini juga terpampang jelas dan manis. Selama saya menunggu giliran masuk ke ruang periksa, cukup banyak ibu hamil yang mengambil brosur tersebut. Yah, meski ada poin yang harus diperbaiki (misalnya soal kapan sebaiknya mulai memompa ASI), semoga dengan adanya brosur itu yang diletakkan di tempat yang mudah dijangkau di sebuah rumah sakit, bisa membantu ibu hamil dan ibu menyusui yang bekerja untuk tetap memberikan ASI kepada buah hatinya.

    Untuk info yang lebih lengkap tentang manajemen pemberian ASI Ibu Bekerja, kita bisa lho ikut kelas-kelas pelatihan ASI yang sudah banyak dilakukan oleh konsultan-konsultan laktasi yang tergabung dalam AIMI (cek agendanya di sini) ataupun KLASI YOP. Selain ilmunya lebih banyak juga diajarkan teknik-teknik memerah atau memompa ASI yang baik. Berguna sekali untuk para ibu bekerja.

    Kalau kurang jelas silakan diklik gambar brosurnya untuk versi gambar yang lebih besar. Atau sila baca salinannya berikut:

    Pemberian ASI Ibu Bekerja

    Ibu sibuk bekerja ataupun banyak beraktifitas bukanlah alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya, karena ASI dapat disimpan terlebih dahulu.

    Selain itu ASI sangat besar manfaatnya bagi bayi, maka dari itu pemberian ASI adalah suatu kewajiban. ASI tidak dapat diganti dengan susu yang mempunyai formula terbaik sekalipun.

    Manfaat ASI

    • Sebagai sumber nutrisi untuk bayi
    • Meningkatkan kecerdasan anak
    • Meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan anak
    • Meningkatkan daya tahan tubuh anak

    Ketahanan ASI Terhadap Suhu

    1. Suhu ruangan:
      Tahan kurang lebih 4 jam (apabila ASI tidak digunakan dalam waktu 4 jam, masukkan ke dalam lemari pendingin)
    2. Lemari Pendingin:
      – ASI dapat bertahan 48 jam (apabila dimasukkan ke dalam freezer, ASI dapat bertahan lebih dari 48 jam)
      – ASI lebih baik ditempatkan di bagian dalam lemari pendingin (jangan disimpan di dekat pintu lemari pendingin)
    3.  Freezer (suhu lebih rendah dari -20 derajat C)
      – ASI dapat bertahan kurang lebih 4 bulan
      – ASI lebih baik ditempatkan di bagian dalam lemari pendingin (jangan disimpan di dekat pintu lemari pendingin)
    4. Freezer (suhu lebih rendari dari -70 derajat C)
      – ASI dapat bertahan 6-12 bulan

    Hal Yang Harus Diperhatikan Bila ASI Telah Dihangatkan

    1. ASI hanya bertahan kurang lebih 1 jam (disimpan di suhu ruangan setelah dihangatkan)
    2. Dari lemari pendingin/freezer: Tahan hingga 24 jam (jangan lupa ubah label sesuai tanggal & waktu penghangatan)
    3. ASI jangan dibekukan lagi

    Hal Yang Harus Diperhatikan Untuk Memperbanyak Produksi ASI

    1. Berikan ASI minimal 12 kali dalam 24 jam
    2. Berikan ASI setiap anak Anda menginginkannya
    3. Lakukan teknik menyusui dengan benar
    4. Ibu makan makanan bergizi
    5. Minum air putih sebelum dan sesudah menyusui
    6. Ibu istirahat/tidur yang cukup (kurang lebih 8 jam sehari)
    7. Ibu harus yakin dapat memberikan ASI

    Memompa ASI

    1. ASI sudah mulai dipompa 3 hari sebelum ibu mulai bekerja dan disimpan di lemari pendingin
    2. Saat di tempat bekerja, lakukan pemompaan setiap 2-3 jam
    3. Simpan ASI yang sudah dipompa di botol yang telah direbus
    4. Gunakan pemompa yang dapat disterilkan di bagian yang terkena ASI

    Cara Menghangatkan ASI

    1. Bila disimpan di suhu ruangan, tidak perlu dihangatkan
    2. Bila dalam lemari pendingin/freezer, diamkan di suhu ruangan selama 30 menit kemudian rendam dengan air hangat
    3. Tidak boleh dihangatkan menggunakan microwave, di atas kompor atau di dalam air panas karena dapat menurunkan nilai gizi ASI
  • Family Health, Foods and Places

    Klinik Anakku BSD

    Klinik Anakku BSD

    Hari Sabtu kemarin, karena Cinta makin lemas dan demamnya sampai 40 derajat Celcius, akhirnya saya memutuskan untuk bawa Cinta ke dokter. “Hah, batuk pilek demam aja ke dokter? Baca lagi dong guidelinesnya. Common cold nggak perlu ke dokter. Nanti juga sembuh sendiri!” Wuah, iya deh… Gini ya, menurut saya meski udah hafal guidelines common problems in pediatric tapi ya namanya saya bukan dokter, pengen dong konsultasi sama yang ahlinya. Setidaknya untuk memastikan dugaan saya kalau batuk pilek demamnya Cinta itu memang cuma common cold. Lagipula apa salahnya sih diskusi sama dokter? Yang penting kita udah punya pegangan jadi enak nanya-nanya ke dokternya.

    Nah, karena deket rumah nggak ada dokter anak yang bagus akhirnya hunting dokter spesialis anak di sekitaran BSD. Awalnya sih mau ke Eka Hospital tapi takutnya hari Sabtu nggak ada yang praktek. Lagipula agak malas juga kalau harus ke RS karena pengalaman suka banyak banget pasiennya, antri dokter sama antri obat bisa berjam-jam. Keburu makin lemes deh ah si Cinta.

    Memang sih kalau cuma common cold juga bisa periksa di dokter umum dan di kompleks ada dokter umum langganan para ibu yang anaknya sakit. Jadi mestinya bagus dong ya. Tapi saya masih belum sreg nih karena belum pernah bawa Cinta periksa di dokter umum selain ke UGD dulu karena demam tinggi.

    Lantas saya ingat kalau nggak salah ada klinik khusus untuk anak di BSD dan setelah browsing nemu Klinik Anakku. Klinik ini lokasinya di Ruko Golden Madrid 2 Blok I-8, Jl. Letnan Sutopo (depan Pasar Modern BSD). Untuk memastikan bahwa ada dokter yang praktik, saya telpon dulu ke nomor 021-531 64830 dan 021-7091 3227. Alhamdulillah, bagian pendaftarannya memastikan kalau dokter praktik sampai jam 11.

    Begitu sampai di sana ternyata kliniknya sepi, jadi sambil nunggu saya daftar, Cinta bisa main di ruang tunggu. Permainannya nggak banyak sih, cuma lumayan lah daripada lu manyun 😀 eh, maksudnya cukup menghibur. Kalau malas main juga bisa nonton TV. Berhubung pasiennya cuma kita, abis daftar langsung diajak ke ruang praktik dokter di lantai 2. Setelah ditimbang dan ditanya keluhannya oleh suster, kita masuk kamar periksa.

    Ruang periksanya khas ruang periksa dokter spesialis anak. Dinding bercat terang, wallpaper Pooh, tempat tidur beralas lucu dan penuh boneka di atasnya. Di meja dokter juga ada mainan-mainan yang berjejer, bahkan stetoskopnya dikasih sarung yang ada bonekanya. Dekorasi seperti itu bikin anak nyaman dan mungkin bisa sedikit berkurang rasa takutnya.

    Dokternya sendiri ramah dan mau berkomunikasi dengan Cinta, minimal tanya nama, umur, sekolah, dan ngobrol sedikit untuk mencairkan suasana gitu lah. Abis ngomong ama Cinta, beliau tanya tentang gejala yang dialami Cinta. Sempat kaget juga begitu saya kasih tahu kalau demam sampai 40 der C, ditanya kejang nggak. Ya Alhamdulillah sih nggak pakai kejang demam. Waktu periksa pun Cinta nggak disuruh tiduran, cukup duduk di atas tempat tidur, jadi dia nggak tegang. Begitu selesai diperiksa, dokter bilang cuma batuk pilek dan ada radang lalu menuliskan resep *nyengir*. Cinta langsung bilang, “bu dokter, obatnya jangan yang pahit ya. Cinta nggak suka.” Beliau dengan ramah menjawab, “Oh, enggak kok. Nanti ada yang rasa jeruk ya obatnya.” Eh, dibalas lagi sama Cinta, “Maunya yang rasa blueberry muffin aja bu dokter, sama Stimuno.” Yang dijawab, “Yah, kalau Stimuno nanti lama sembuhnya.” Hihihi, ada-ada aja si Cinta.

    Sambil menunggu dokter nulis resep saya tanya obat apa aja yang dikasih dan seperti dokter pada umumnya, beliau cuma bilang obat buat batuk, pilek dan demam berupa puyer plus antibiotik buat radangnya dan ibuprofen untuk demam. Lagi-lagi, saya cuma nyengir aja karena lagi males ngobrol panjang lebar. Yang penting saya tahu kalau memang gejala yang dialami Cinta itu common cold aja.

    Abis periksa turun ke bawah, nunggu obat yang langsung diambil di situ. Begitu selesai dicek oleh apoteker, saya bayar sekitar Rp 250,000.00 untuk dokter dan obat plus bonus majalah Anakku karena Cinta adalah pasien baru. Cinta pun main lagi sambil nunggu obat selesai diracik. Bosan main, dia liat-liat etalase di situ yang memajang mainan. Sedangkan saya asik liat lemari yang isinya buku-buku tentang parenting dan kesehatan. Ternyata nggak terlalu lama nunggu obatnya. Sekitar 15 menit aja udah bisa diambil.

    Well, overall sih pelayanan dan tempatnya cukup bagus dan cepat ya.  Buat saya yang penting nggak terlalu ramai, sehingga antrinya nggak terlalu lama dan bikin capek. Biaya yang dikeluarkan juga standar lah. Soal dokter dan obat-obatan, kalau memang kepengin yang rational use medicine ya harus kitanya yang cerewet nanya-nanya. Sekalian “ngasih tahu” dokter kan kalau pasien sekarang udah punya sedikit ilmu dan bisa diajak diskusi.

  • Daily Stories

    Koin oh Koin

    Koin yang nyangkut

    Kemarin pagi, seperti biasa habis minum susu Cinta main sendiri di kamarnya sambil nunggu saya merebus air untuk mandi. Baru aja nyalain kompor tiba-tiba Cinta nangis kejer sambil berusaha untuk muntah. Langsung saya samperin di kamarnya dan (saya nggak begitu ingat detil kejadiannya) tiba-tiba liat ada benda bulat mengkilat nyangkut di ujung lidahnya. Dem, Cinta nggak sengaja nelen koin. Nggak pake mikir, cuma sempat bilang bismillah langsung saya masukin jari ke mulutnya. Alhamdulillah ujung koin yang ada di dalam masih bisa teraih. Akhirnya saya congkel dan keluarlah koin sebesar uang Rp 100,- jadul yang biasa buat kerokan itu.

    Selama proses ngeluarin yang cuma berlangsung dalam hitungan detik itu rasanya ujung jari dan koin melukai dinding mulutnya. Sehingga begitu koin keluar Cinta langsung muntah beberapa kali, sambil terus nangis. Setelah di lap, saya peluk sambil membiarkan dia menyelesaikan nangisnya. Peluk aja, nggak pake ngomong apa-apa. Saya tahu dia cuma lagi butuh menenangkan diri karena saya pun begitu. Abis puas nangis, ya main lagi. Ngoceh-ngoceh lagi, nyanyi-nyanyi lagi dengan matanya yang berbinar-binar. Gantian saya yang terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya menahan air mata.

    Banyak yang berkelebat di pikiran saya begitu kejadian menegangkan itu selesai. Antara bersyukur banget nget nget nget… Alhamdulillah… Puji Tuhan, koin itu bisa keluar cuma dengan dicongkel dengan jari. Sementara segala macam teori dan praktek pertolongan pertama yang harus dilakukan saat anak tersedak kaya Heimlich Maneuver benar-benar menguap dari kepala. Sekaligus ngebayangin kalau seandainya saya nggak bisa mengeluarkan koin itu, what should I do? Sementara UGD jauhnya sekitar 15-20 menit perjalanan dari rumah.

    Kalau ditanya dari mana Cinta dapat koin, saya juga nggak tahu. Mungkin dari kotak mainannya, mungkin dari celengan yang suka dia buka tutup kuncinya. Pertanyaan, “Kok, Cinta masih suka masukin benda asing ke mulut? Emang umur berapa?” juga jadi PR buat saya. Seharusnya anak usia 3 tahun 8 bulan sudah melewati fase oral ya. Tapi belakangan emang dia suka ngemutin apa aja yang menarik perhatiannya; kertas, karet rambut, koin. Normal kah atau Cinta lagi mengalami regresi alias kembali ke tahap perkembangan yang paling memuaskannya? Ada yang bisa bantu jawab kah?

    Yang pasti ini pelajaran banget buat saya. Harus rajin-rajin inspeksi kotak mainannya, nggak bosen kasih pemahaman untuk nggak masukin benda-benda asing ke mulut dan sebisa mungkin menemani Cinta waktu lagi main. Seperti yang dibilang mbak Resti, dalam sepersekian detik apapun bisa terjadi. Yup, we’ll never know. But thank God everything is fine now.

  • Family Health

    Belajar Ilmu Kesehatan Anak, Yuk

    PESAT Dulu, waktu Cinta masih bayi banget, sebagai orang tua baru saya sering panik kalau tiba-tiba dia demam atau pilek. Bahkan Cinta bersin-bersin aja udah khawatir jangan-jangan anak ini sakit. Belum lagi tangisan tangisan heboh tiap malam, BAB yang keras, demam setelah imunisasi dan sebagainya. Entah sudah berapa banyak dokter anak yang saya kunjungi sekedar untuk menerima diagnosa batuk, pilek dan radang tenggorokan. Berbagai resep obat mulai dari sirup sampai puyer yang isinya bisa lebih dari campuran 5 macam obat pun saya terima demi menenangkan hati saya dan kakek neneknya yang khawatir akan kesehatan Cinta.

    Sampai saya ketemu milis ini dari milis asiforbaby yang sudah lebih dahulu saya ikuti. Awalnya saya curhat di milis AFB, lantas anggota milis banyak memberi saran dengan mengutip, “menurut Bunda Wati” atau “kata milis sebelah”. Setelah saya cari dan bertanya ke anggota milis baru tahu kalo Bunda Wati ini adalah dr. Purnamawati Sujud Pujiarto, SpAK, MMPed yang juga pendiri Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) dan pembina milis SEHAT yang banyak dibicarakan anggota milis parenting. Mulailah saya bergabung di milis itu dan sering mengintip situsnya.

    Dari situ saya belajar banyak sekali tentang ilmu kesehatan anak, tata laksana penanganan penyakit yang umum diderita anak sampai mengenal istilah RUM atau Rational Use Medicine. Juga tentang bagaimana menjadi konsumen kesehatan yang baik dan memilih dokter anak yang bagus. Bagus di sini bukan berarti setiap obat yang diresepkan selalu cespleng alias minum sekali langsung sembuh, tapi (menurut saya) adalah dokter yang mau mendengarkan keluhan pasien, memeriksa pasien dengan teliti dan peduli akan kekhawatiran pasien. Selain itu ramah dan tidak pelit dalam memberikan informasi kesehatan. Jadi, kalau ada dokter yang memeriksa Cinta cuma 5 menit lalu tanpa memberi diagnosa langsung menyerahkan resep tanpa menjelaskan obat-obatan yang diberi pasti langsung saya coret dari daftar meskipun dia dokter terkenal yang sering masuk koran dan pasiennya amit-amit banyaknya (pengalaman pribadi).

    Pengetahuan saya tentang kesehatan anak makin bertambah setelah ikut SEMINAR PESAT di Surabaya dengan pembicara bunda Wati. Meskipun sudah banyak menimba ilmu dari milis dan situs tapi rasanya tetap beda dengar sendiri penuturan bunda Wati dan dokter lainnya. Apalagi dalam acara itu saya jadi dapat banyak teman sesama orang tua, bahkan beberapa di antaranya teman-teman sekolah yang sudah lama nggak ketemu.

    Bulan ini, Panitia Paket Edukasi Orangtua SEHAT mengadakan lagi Seminar PESAT ke-5, tepatnya tanggal 13-14 November 2010, bertempat di Gedung Telkom Divre 5, Jalan Ketintang 156 Lt.1 Surabaya dengan pembicara dr. Purnamawati, SpAK MMPed dan dr. Rizal Altway, SpA. Bagi yang berminat bisa menanyakan informasi lebih lengkap atau melakukan pendaftaran dengan mengirim email ke pesat5surabaya[at]gmail[dot]com. Sampai jumpa di PESAT 5 Surabaya 🙂