Browsing Tag:

kepribadian

  • speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini
    Daily Stories, Life with My Kids

    Keenan, Speech Delay dan Sekolah di Usia Dini

    2 minggu yang lalu menjelang libur Idul Adha, rumah kami kedatangan petugas sensus. Seperti biasa si petugas bertanya tentang siapa saja yang tinggal di rumah dan data-data pribadi lain. Yang nggak biasa adalah petugasnya masih muda, taksiran saya usia anak-anak baru lulus SMA gitu deh, cewek lagi. Dan seperti biasanya lagi saya yang bertugas menjawab pertanyaan mbak-mbak sensus ini.

    Nah, waktu si mbak mendata umur dan sekolah anak-anak, dia sempat tertegun waktu saya menyebut usia dan sekolah Keenan, lalu bertanya, “3 tahun sudah sekolah?” yang cuma saya jawab dengan senyuman.

    speech delay, perkembangan anak, lambat bicara, sekolah usia dini

    Sebenarnya nggak cuma sekali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu. Rupanya menurut beberapa orang usia Keenan masih terlalu muda untuk sekolah, apalagi ketika ia memulai hari pertamanya di tahun ajaran 2016 ini, usianya masih 2 tahun 9 bulan. Nggak sedikit juga ahli parenting yang tidak setuju dengan ada anak masuk sekolah di usia dini seperti Keenan.

    “Umur segitu anak lebih baik di rumah belajar dengan ibunya.” 

    “Anak balita belum perlu bersosialisasi dengan orang lain selain orangtuanya.”

    “Jangan paksa anak untuk belajar di usia terlalu dini, nanti dia bisa stres dan mogok sekolah di tahun-tahun berikutnya.”

    Dan masih banyak lagi deretan komentar kontra pendidikan di usia dini baik dari sesama orangtua maupun dari pakar-pakar parenting.

    Saya pun tadinya ragu, antara tega dan nggak tega melepas Keenan sekolah karena menurut saya anak ini masih bayi banget hahaha. Beda gitu deh sama kakaknya yang sudah nampak lebih matang di usia sama seperti Keenan sehingga waktu itu saya mantap-mantap aja masukin Cinta ke baby school di usia 1,5 tahun.

    Tapi, setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembangnya Keenan sejak ia lahir, kami pun sepakat untuk mendaftarkan Keenan ke sekolah sebagai pengganti terapi okupasi yang harusnya ia jalani. 

    Keenan dan Speech Delay

    Kenapa Keenan perlu terapi okupasi? Jadi gini ceritanya… 

    Sejak lahir, seperti anak-anak lain yang lahir di Brunei, Keenan diperiksa tumbuh kembangnya secara berkala oleh bidan di Pusat Kesihatan tempat saya periksa kehamilan dulu serta oleh dokter anak di RS Suri Seri Begawan tempat saya melahirkan. Alhamdulillah sejauh ini imunisasinya lengkap dan kesehatannya baik-baik saja meski berat badan yang selalu berada di bawah persentil 25. Tapi bidan dan dokter anak nggak pernah mempermasalahkan berat badannya, paling cuma disuruh nambah variasi makan, minum susu, mengurangi asupan gula dan sebagainya. Pokoknya pola makan gizi seimbang lah.

    Tapi, setelah Keenan berusia 1,5 tahun, saya mulai curiga karena untuk anak seusianya, bicaranya Keenan jauh tertinggal. Keenan baru bisa mengucapkan satu kata dan walaupun cerewet bahasanya masih bahasa planet. Sementara menurut milestone seusia Keenan harusnya menggabungkan 2 kata sederhana dan mulai membeo. Selain itu Keenan juga sepertinya belum memahami ucapan saya, papanya atau kakak. Sayang, keterlambatan ini saya anggap wajar karena pertama dia anak laki-laki yang biasanya lebih cepat berjalan daripada bicara. Dan kedua karena kami terbiasa berbicara dalam 2 bahasa di rumah, jadi mungkin Keenan mengalami kebingungan sehingga jadi lebih lambat ngomongnya.

    perkembangan bicara anak usia 18-24 bulan, speech delay, lambat bicara, milestone, perkembangan bahasa pada anak

    Bulan April 2015, ketika jadwal berkunjung ke Paediatric Clinic Suri Seri Begawan Hospital, Keenan yang biasanya diperiksa oleh dokter anak umum, karena kesalahan suster nulis lingkar kepala tiba-tiba diperiksa oleh Dr. Musheer dari Child Development Center (CDC) atau klinik tumbuh kembang gitulah. Dokter Musheer ini yang pertama kali memeriksa Keenan setelah keluar dari rumah sakit dan mengalami jaundice selama beberapa waktu. Oleh dokter Musheer, Keenan diajak ngobrol berdua sambil main lego di meja kecil, trus dites warna, gambar binatang dan diajak main lempar tangkap bola. Selama proses pemeriksaan yang berjalan santai dan seperti main-main itu, Dr. Musheer benar-benar fokus ke Keenan dan baru ngajak ngobrol saya setelah pemeriksaan selesai. Jadi Keenan benar-benar enjoy dan nyaman sekali dengan dokter (yang dari fisik dan logat bahasanya saya kira) berasal dari India ini.

    Dari hasil pemeriksaan baru deh ketahuan kalau memang ada milestone yang tertinggal. Meski demikian dokter tetap menyarankan supaya kami santai karena menganggap faktor keterlambatan bicara ini adalah efek bilingual dan kurangnya stimulasi. Akhirnya kami memutuskan untuk berbicara hanya satu bahasa dengan Keenan, yaitu bahasa Inggris, dengan pertimbangan lingkungan di sekitar kami lebih banyak berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia atau Melayu. Dokter juga ngasih handout yang membantu saya memahami tentang perkembangan bahasa pada anak dan stimulasinya.

    “Nggak ada stimulasi yang lebih baik dari bermain dengan ibunya.”

    – Devi Sani, M.Psi, Psi

    Setelah 5 bulan berlalu, ternyata perkembangannya masih kurang baik, mungkin karena kurang stimulasi, bisa juga karena terlalu banyak screen time atau faktor-faktor lain saya nggak tahu. Dokter Musheer pun akhirnya mendiagnosa Keenan mengalami speech delay. Tapi, sekali lagi saya hanya diminta untuk memperbanyak stimulasi di rumah dan mengajak Keenan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya karena menurut beliau biasanya anak lebih cepat belajar dari situasi bermain bersama teman-temannya. Bersosialisasi ini juga menurut dokternya Keenan bisa membantu membentuk perilaku baik pada anak seperti berbagi mainan, bergantian, saling peduli dengan teman dan sebagainya. Karena, kalau anak cuma bermain sama orangtua, yang sering terjadi adalah orangtua akan mengalah ketika anak meminta sesuatu, atau membiarkan anak menang hanya supaya dia senang. 

    https://i1.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%202_zpsk1wr4wc3.jpg?resize=560%2C315

    Pada pertemuan berikutnya 5 bulan kemudian, mulai ada perkembangan. Mungkin karena waktu itu saya mulai rajin ngasih dia sensory play atau permainan ala Montessori yang banyak ditemukan di internet dan instagram, mungkin juga karena dia mulai tertarik untuk berkomunikasi. Keenan mulai bisa menggabungkan 2 kata sederhana saat menginginkan sesuatu. Tapi, pengucapannya masih belum jelas, baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Mirip seperti anak 1,5 tahun yang baru mulai bicara, sementara saat itu umur Keenan sudah 2 tahun 8 bulan. Dan ternyata saat itu Keenan juga memiliki short span attention. Sederhananya, anak kicik ini gampang bosan, jadi dia lebih suka aktif bergerak daripada mengerjakan sesuatu yang memerlukan koordinasi motorik halus seperti mewarna, memegang pensil, membaca (dibacakan buku). 

    Baca juga: Permainan Sensoris

    https://i0.wp.com/i736.photobucket.com/albums/xx4/pojokmungil/KeenanSpeech%20Delay%20dan%20Sekolah%20di%20Usia%20Dini%203_zpsx9ujhpwo.png?resize=560%2C315

    Kebetulan waktu itu sekolah-sekolah sudah mulai buka pendaftaran untuk tahun ajaran 2016 dan teman-teman mainnya Keenan di komunitas ibu-ibu KB Seria sudah mulai sekolah sehingga dia nggak punya temen main lagi kalau dibawa ke acara komunitas, saya akhirnya meminta saran dokter tentang kemungkinan Keenan bersekolah. Nggak nyangka ternyata dokter setuju, malah dia bilang kalau tadinya dia mau ngasih terapi okupasi seminggu sekali tapi sekolah justru lebih baik menurutnya. Jadi begitulah, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Keenan masuk ke KG (Kindergarten) 1 atau setara playgroup di Indonesia.

    Keenan dan Sekolah

    Sebenarnya selain sekolah, waktu itu dokter juga mendaftarkan Keenan untuk terapi hanya saja kami diminta bersabar karena tempat terapi di Kuala Belait hanya ada 1 dan itu penuh jadi harus ada sesi wawancara untuk memastikan apakah Keenan perlu diterapi atau enggak. Sampai kunjungan berikutnya ke dokter, kami belum mendapat telepon dari tempat terapi untuk diwawancara dan dokter pun akhirnya membatalkan rencana tersebut karena melihat perkembangan bicara Keenan yang membaik.

    Iya, sejak sekolah memang perkembangan bicara Keenan mulai membaik, bahkan dia mulai bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Sekarang Keenan sudah bisa merangkai 5 kata sederhana dalam bahasa Inggris seperti, “Mami, I want to eat.” Sudah mampu mengkomunikasikan keinginan dan perasaaannya seperti lapar, haus, marah, sedih, nggak mau sekolah, nggak mau pake sepatu, nggak mau mandi karena masih mau tidur dan kalimat sederhana sehari-hari. Dia juga mulai mengenal pagi, siang, sore dan malam. Juga aneka binatang, panas dingin, bentuk dan warna walau masih suka terbalik. 

    Tapi, semua itu nggak datang dengan mudah. Setidaknya nggak bagi saya meski saya anggap ini adalah bagian dari resiko menyekolahkan anak di usia sangat muda.

    Pertama, di bulan-bulan pertama sekolah Keenan selalu menangis waktu mau saya tinggal. Ya, saya maklum, anak ini sejak lahir hampir 24 jam selalu bersama emaknya. Jadi bagi saya wajar kalau Keenan merasa nggak nyaman harus berpisah dari saya meski hanya beberapa jam di tempat yang nggak dia kenal sebelumnya.  

    Sayangnya, pihak sekolah nggak mengijinkan saya untuk menemani Keenan di kelas sampai ia siap ditinggal sendiri, guru-gurunya meminta saya untuk pergi supaya Keenan terbiasa dan teman-temannya yang lain nggak rewel ngeliat Keenan ditungguin. Jujur aja saya nggak tega, di minggu-minggu pertama juga rasanya berat sekali ngeliat Keenan nangis nggak mau sekolah. Chaos banget deh suasana kelas saat itu. Anak-anak kecil nangis-nangis, guru-guru yang nampak kebingungan juga para orangtua yang nggak tega tapi harus menegakan diri. Tapi lama-lama ya dia terbiasa sih ditinggal di sekolah meski sampai sekarang saya kadang masih merasa bersalah.

    Kedua, bulan-bulan awal sekolah Keenan nggak mau pake seragam dan cuma mau pake sandal Crocks. Jadi saya sering sekali ditegur gurunya karena masalah ini. Plus, hampir setiap kali saya menjemput Keenan gurunya laporan kalau, “Keenan nggak mau duduk diam,” “Keenan suka mukul temannya,” “Keenan nggak mau mewarna,” “Keenan nggak mau berbagi mainan,” “Keenan begini… Keenan begitu…” yang isinya jelek-jelek semua. *lap keringet*

    Sampai saya sedih lho, anak saya ini kok gitu banget ya. Jangan-jangan sebenernya saya salah nih nyekolahin Keenan semuda ini. Maklum kalau urusan anak, saya emang orangnya baperan hehehe. Tapi kebaperan ini lama-lama hilang karena ternyata bukan saya seorang yang suka dilaporin gitu hahaha. Yah, mungkin bu guru lelah.

    Ketiga, sampai sekarang pun kalau dibangunin pagi hari Keenan selalu nangis nggak mau mandi dan sekolah. Padahal kalau sudah sampai di sekolah ya dia happy aja gitu masuk ke ruang kelas dan nggak nengok-nengok mamanya lagi. Kan capek ya kalau tiap hari selalu ngadepin anak rewel gitu.

    Waktu saya konsultasikan ke dokternya bulan Juli lalu, beliau justru senang liat perkembangannya Keenan, baik dari segi bahasa maupun perilaku. Memang sih, perilaku agresifnya Keenan jadi jauh berkurang, kecuali ke kakaknya. Trus ngomongnya juga jadi lebih banyak dan jelas. Keenan sudah mulai ngerti kalau ditanya sesuatu dan bisa ngasih jawaban yang sesuai juga sesekali ngasih alasan. Misalnya kalau dulu dia bilang, “I no want shoes.” Trus ditanya kenapa, ya jawabnya hanya, “I no want shoes!” sambil jerit-jerit frustasi karena menganggap emaknya ini nggak bisa ngertiin dia. Sekarang dia bisa jawab, “Because my feet hurts. I want Light shoes.” Tinggal daya konsentrasinya ini yang masih terus dilatih.

    Soal laporan-laporan dari gurunya, pak dokter menenangkan saya dengan menjelaskan kalau tujuan kami (orangtua dan dokter) memasukkan Keenan ke sekolah kan awalnya sebagai pengganti terapi okupasi, yaitu memperbaiki lifeskillnya dan hasilnya sudah cukup baik. Tapi kita juga harus paham kalau guru punya target yang berbeda jadi ya nggak perlu sakit hati kalau dilaporin yang jelek-jelek terus. Sementara kalau dilihat dari laporan pendidikannya, sebenarnya banyak sekali peningkatan yang dialami Keenan di sekolah seperti mewarnanya mulai rapi dan di dalam garis, meski pegang pensil belum sempurna tapi sudah bisa tahan lebih lama, di rumah suka bernyanyi mengulangi lagu-lagu yang diajarin di sekolah dan dia jadi suka main sekolah-sekolahan ngikutin gaya gurunya kalau ngajar. Role play istilah kerennya mah. 

    Pak dokter juga ngasih tahu alasan kenapa Keenan sering malas bangun pagi adalah karena tidurnya nggak cukup. “Kalau anak tidur cukup, dia akan bangun dengan segar dan berangkat sekolah dengan riang. Tapi kalau tidurnya nggak cukup, ya wajar kalau mandi aja nangis, trus nggak mau sarapan sehingga akhirnya di sekolah pun jadi moody.” Dan memang setelah saya observasi kalau Keenan tidur lebih awal dan bangun pagi sendiri, lebih mudah ngajak dia mandi dan sarapan lalu berangkat sekolah.

    Jadi itulah alasan Keenan bersekolah di usia dini selain supaya emaknya punya lebih banyak me time, pasti ada plus minusnya tapi untuk saat ini buat kami lebih banyak plusnya daripada minusnya. Apalagi sekolahnya sekarang termasuk santai sebenarnya karena sedikit mengadopsi sistem Montessori yang lebih banyak mengajarkan lifeskill daripada mengejar-ngejar untuk bisa calistung. Di sekolah juga Keenan belajar untuk lebih percaya diri karena sering ada performance kelas yang disaksikan orangtua. Juga di sekolah ini ada playground yang cukup luas dan sand box untuk anak-anak bermain.

    Tapi, tahun depan karena berbagai macam alasan Keenan sepertinya nggak akan lanjut di sekolah ini dan kami sedang mencari sekolah lain yang sama atau bahkan lebih baik dari sekolahnya sekarang dan bisa menerima kondisi Keenan serta membantu kami mendidik Keenan menjadi lebih baik. Doakan yaaa. 

  • working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga
    Life as Mom, Life Hacks

    Dari Ibu Bekerja Menjadi Ibu Rumah Tangga. Siapa Takut?

    Saya nggak bisa lupa ketika mama saya kembali bekerja untuk menafkahi keluarga setelah perceraiannya dengan ayah saya. It was 25 years ago, I was 9 or 10, my siblings was 6 and 5 years old. Mama saya tadinya adalah ibu rumah tangga dengan berbagai aktivitas seperti terima jahitan baju, buka salon, buka katering juga kalau nggak salah. Walaupun demikian beliau selalu ada di rumah setiap saat saya membutuhkannya. Tapi hari itu, saya pulang ke rumah kakek dan nenek sepulang sekolah, tempat kami tinggal selama beberapa tahun setelah perpisahan orangtua saya, dan tidak menemukan mama saya di sana. Seketika itu juga, saya -yang terlahir sebagai drama queen- tidak berhenti menangis. Ada rasa khawatir beliau nggak akan pulang lagi ke rumah seperti ayah saya dan berbagai perasaan lain. Malamnya, sepulang kerja, beliau menasihati saya supaya memahami kondisi kami saat itu, bahwa beliau harus bekerja karena alasan yang sangat kuat. Hari pun berlalu, perlahan saya dan adik-adik terbiasa dengan status mama sebagai ibu bekerja dan beliau tetap bekerja sampai pensiun beberapa tahun lalu. I’m very proud of her, everybody does. 

    Lantas, ketika saya beranjak remaja, saya menyadari bahwa saya tumbuh di lingkungan di mana para ibunya bekerja di luar rumah. Mama saya, Bude, Tante, mama tiri, juga sebagian besar sepupu mama saya bekerja di luar rumah. Iya, bahkan nenek-nenek saya adalah ibu bekerja. Jadilah saya pun tumbuh dengan mereka sebagai role model, menjadi wanita karir adalah impian saya. Cita-cita saya nggak tanggung-tanggung, diplomat dan jurnalis dengan harapan dapat bekerja secara mobile, bertemu dengan orang-orang dengan berbagai karakter dan menikmati berbagai lingkungan baru.

    Saat kuliah, saya pun mulai menapaki dunia kerja, dari menjadi asisten guru di playgroup yang dikelola oleh Fakultas tempat saya belajar sampai menjadi customer service di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris franchise yang cukup besar di Surabaya dan pertama di Sidoarjo saat itu. Dan saya menikmatinya, sampai akhirnya kuliah terbengkalai karena nggak bisa membagi waktu sehingga ayah tiri saya dan mama harus memberi ultimatum supaya saya segera menyelesaikan skripsi atau tidak lagi dibiayai kuliah. Setelah memperoleh gelar sarjana, saya berusaha mewujudkan cita-cita sebagai wanita karir meski bukan sebagai diplomat atau jurnalis.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja, ibu rumah tangga, masa transisi ibu bekerja ibu rumah tangga

    Long story short, setelah menikah dan pindah ke Jakarta untuk kedua kalinya, saya pun terpaksa mengganti blazer dengan daster sebagai seragam “kerja” sehari-hari. Seperti yang sering dirasakan kebanyakan ibu bekerja yang beralih menjadi ibu rumah tangga, satu bulan pertama sangat menyenangkan, bisa seharian di rumah, nggak harus buru-buru bangun pagi supaya nggak telat ngantor, santai (apalagi karena punya ART), bisa jalan-jalan kapanpun dan bisa main sama anak sepanjang hari. Pokoknya mah, indah dunia saat itu. Sampai kemudian dunia api menyerang saya mulai jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang berulang, pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai serta merasa kehilangan identitas diri karena hanya dikenal sebagai mamanya Cinta dan istrinya pak Lukito.

    Apalagi karena memang nggak punya role model ibu rumah tangga dan sejak kecil terbiasa dibantu asisten rumah tangga, saya merasa bahwa pekerjaan rumah adalah pekerjaan pembantu. Jadi ada perasaan kecil hati ketika harus diam di rumah dan mengerjakan sendiri hal-hal yang biasa dilakukan si Inem. Sedihnya lagi, kok kaya nggak ada apresiasi dari suami dan anak-anak akan “pengorbanan” saya sebagai IRT. Akibatnya, saya mengalami masa transisi yang cukup berat dan walau sudah menjalani peran ini selama 6 tahun, kadang perasaan itu datang lagi, membuat saya rindu masa-masa bekerja di kantor. 

    Baca Juga: Pekerjaan Saya Keren

    Awalnya saya kira cuma saya yang mengalami perasaan seperti ini dan membuat saya merasa bersalah karena seakan nggak ikhlas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Tapi ternyata banyak juga ibu bekerja yang merasakan hal yang sama dalam masa transisi menjadi stay at home mom. Dan ternyata lagi, meskipun gegar budaya ini mungkin tidak dapat dihindari, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat masa-masa ini menjadi lebih mudah and I really wish I knew these earlier

    1. Cari Support Group Baik di Dunia Nyata Maupun di Dunia Maya.

    Rasanya ini mudah dilakukan ya di jaman sekarang. Banyak sekali komunitas atau grup ibu-ibu (dan ayah) rumah tangga yang dapat kita temui, nggak usah jauh-jauh, coba cari majelis taklim di sekitar kita, dekati ibu-ibu tetangga yang biasanya cuma kita sapa saat akan berangkat ke kantor. Masih nggak pede atau nggak punya banyak waktu untuk keluar rumah karena anak masih bayi? Mainlah ke forum-forum ibu-ibu di dunia maya. Walau nggak bertemu muka, kadang bisa chatting, curhat, baca candaan seru di grup bisa membuat kita lebih bersemangat. Selain itu biasanya mereka akan mengatur playdate untuk ibu dan anak di waktu tertentu.

    Intinya, bergaulah dengan sesama ibu rumah tangga, nggak usah ambil peduli dengan stereotipe yang menyebut IRT hobinya cuma ngegosip. Sungguh, IRT jaman sekarang jauh lebih canggih dari itu lho. Nggak sedikit dari komunitas ibu rumah tangga ini yang membuat berbagai kegiatan menarik seperti seminar parentingcooking class dan sejenisnya. Jadi beredarlah di dunia nyata atau maya.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    cari support group yang isinya penuh cinta ya

    Oh, ya. Di masa transisi ini, hindarilah segala perdebatan yang bertema ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Sesungguhnya ini cuma bikin kita makin galau dan mudah emosi. Mau membela ibu bekerja kok ya sudah nggak kerja lagi, tapi mau membela ibu rumah tangga toh ya kita masih jadi IRT newbie. Juga hindari dulu teman-teman dan keluarga yang hobinya mengomentari segala hal secara negatif. Yang ada kita makin baper kalau dibilang, “Duh, sayang amat. Kerjaan bagus-bagus kok ditinggal. Nggak sayang tuh sama gaji dan bonusnya? Nanti kalau sudah bosen jadi ibu rumah tangga susah lho mau cari kerjaan seperti itu lagi.” Please deh.

    2. Tekuni Hobi Kita

    Masak, fotografi, blogging, yoga, merajut, tenis, renang. Apa saja asalkan itu positif. Kemungkinannya bisa tak terbatas. Pastikan saja kita punya aktivitas tertentu yang kita sukai dan dapat kita tekuni, minimal 30 menit sehari saja cukup. Ada waktu luang untuk melakukannya lebih lama? Lebih bagus lagi. Namun, usahakan dilakukan secara rutin. Karena ada penelitian yang membuktikan bahwa, hobi yang ditekunin selama 30 menit setiap hari secara rutin akan memberikan hasil yang signifikan dari yang hanya dilakukan sesempatnya.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    tapi jangan sampai kaya gini yah

    Aktivitas ini dapat membantu kita untuk mengisi waktu luang, mengurangi kejenuhan daaaan membuat kita tetap memiliki identitas dan kebanggaan pribadi. Oya, nggak sedikit dari teman-teman saya yang akhirnya memperoleh penghasilan dari hobinya ini lho. Berawal dari sekadar bikin kue untuk anak-anak  lalu dibagi ke tetangga, sekarang bisa jadi bakul kue rumahan dengan omset jutaan rupiah setiap bulan. Niatnya cuma menyalurkan hobi berenang eh lantas diminta menjadi pelatih renang untuk ibu-ibu dan anak-anak. Tadinya hanya belajar decoupage dan lettering untuk dekorasi rumah sendiri, sekarang kewalahan menerima pesanan. Nah, lumayan banget kan. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

    Baca Juga: Kisekii. Jadilah Diri Sendiri dan Temukan Keajaibannya

    3. Jangan Berharap Terlalu Tinggi, Terutama Di Awal Masa Transisi

    Mungkin, di hari pertama berhenti kerja, kita membayangkan diri kita seperti Martha Stewart yang dapat menghidangkan aneka masakan sehat dan lezat; membuat berbagai kerajinan tangan sebagai alat belajar dan bermain anak-anak, sekaligus Dr. Sears dan personil Nanny 911 yang dapat memahami segala perilaku anak lantas membuat mereka berperilaku baik dan tenang seharian. Lalu di akhir hari, suami dan anak-anak akan membuatkan kita piagam atau medali sebagai ibu terbaik di dunia.

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    hmmm yayaya

    Harapan yang tinggi seringkali membuat kita jadi kecewa luar biasa ketika nggak teraih, Makanya kita perlu menyadari bahwa perlu waktu untuk dapat melakukan peran sebagai ibu rumah tangga dengan lancar, terutama bagi yang tadinya terbiasa dibantu asisten rumah tangga. Kacau dan bingung di awal itu wajar. Sama wajarnya ketika anak-anak dan suami seakan-akan tidak menghargai hasil kerja kita. Tapi percaya deh, kehadiran kita di rumah, makanan hangat yang tersedia di meja, senyum riang kita saat menemani anak-anak bermain dan suami nonton tv, terutama dukungan serta kasih sayang kita sangat berarti bagi mereka meski mungkin nggak diucapkan.

    4. Temukan Kenyamanan Kita Sendiri

    Pakai celana yoga atau daster untuk anter anak sekolah karena nggak sempat dandan? Nggak masalah.
    Bikin stok nugget, chicken roll, dan segala makanan siap goreng di kala sempat supaya praktis ketika menyiapkan bekal suami dan anak-anak. Silakan!
    Merasa nggak pandai masak dan lebih memilih menggunakan jasa katering harian supaya suami dan anak-anak terjamin makannya sambil kita belajar masak? Nggak ada yang ngelarang juga.
    Pakai laundry kiloan? Boleh!
    Rumah berantakan dengan mainan dan hasil karya anak-anak? Yah, nggak papa juga.

    Atur rumah dan aktivitas sehari-hari sepraktis dan senyaman mungkin bagi mama dan keluarga. Tempatkan breakfast/snack station di salah satu sudut rumah supaya anak-anak dapat mengambil sendiri sarapan dan camilannya tanpa harus mengotori dapur. Jika memungkinkan siapkan satu area khusus untuk tempat bermain anak-anak agar nggak mengotori seluruh rumah.

    Kalaupun mama merasa sanggup memasak, membuat hasta karya, mencuci dan setrika baju, membersihkan rumah serapi mungkin dan anak-anak dapat menjaganya, itu bagus banget. Tapi sekali lagi, nggak semua mama mampu menjadi seperti Astri Nugraha. Yang penting mama, suami dan anak-anak nyaman, sehat dan bahagia. Nothing else matter.

    5. Aplikasikan Keahlian dan Ketrampilan Kita di Kantor Dulu Dalam Mengatur Rumah dan Keluarga

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    Menjadi ibu rumah tangga pun memerlukan manajemen waktu dan emosi yang baik. Dan pengalaman kita sebagai ibu bekerja dapat membantu pekerjaan rumah menjadi lebih efektif dan efisien dengan membuat to do list dan skala prioritas. Tapi kalaupun meleset dari jadwal ya sudah, namapun kita mengurus anak ya, bukan benda mati, nikmati saja. Dan seperti para pekerja di kantor, kita juga perlu meningkatkan ketrampilan seperti ikut kursus masak, seminar parenting, update info-info terkini soal pendidikan anak, kemampuan bahasa asing dan sebagainya supaya dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga.

    6. Saling Dukung Dengan Pasangan

    working mom, stay at home mom, ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, adaptasi ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga

    Ketika kita berhenti bekerja, otomatis pasangan kita menjadi pencari nafkah tunggal bagi keluarga. Buat sebagian keluarga mungkin bukan masalah besar, tapi bagi sebagian lain tertutupnya satu sumur bisa jadi menimbulkan problem baru. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, sebaiknya kita diskusi dengan pasangan, bagaimana mengatasi hal ini. Begitu juga dengan pembagian pekerjaan rumah. Karena merasa sebagai pencari nafkah, ada yang merasa tidak perlu lagi membantu di rumah. Kalau kita merasa nggak masalah dengan hal itu ya nggak papa. Tapi, di awal masa transisi, bisa jadi kita merasa kelelahan karena tidak biasa mengerjakan semua hal sendiri. Oleh karena itu dukungan dari pasangan sangat diperlukan di masa ini. Baik bagi yang bertugas mencari nafkah di luar rumah maupun untuk yang bertanggungjawab mengurus rumah tangga. Bicarakan harapan sampai kecemasan kita dengan pasangan dan cari jalan keluarnya. Dengan demikian masa transisi menjadi ibu rumah tangga akan menjadi lebih mudah dijalani.

    Setelah beberapa bulan, biasanya kita sudah mulai bisa menguasai medan perang peran baru kita dengan lebih baik dan menikmatinya. Jadi tak perlu khawatir berganti peran. Menjadi ibu rumah tangga mungkin nggak semenarik pekerja kantoran tapi percayalah, kita tetap bisa bersenang-senang serta menjadi versi terbaik dari diri kita dengan peran tersebut.

  • blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa
    Daily Stories, Parenting

    Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

    Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

    Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

    Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

    Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

    Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

    Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

    Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

    Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

    Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

    Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

    Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

    anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

    Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

    Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

    Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

    Beri Waktu Untuk Berduka

    Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

    Berhati-Hati Dalam Berbicara

    Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

    mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi

    tulisan dikutip dari parentsdotcom

    Memberikan Pelukan

    Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

    Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

    Dengan cara:

    • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
    • Bernafas dalam-dalam.
    • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
    • Positive self-talk.
    • Mendengarkan musik.
    • Membaca buku.
    • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
    • Mandi air hangat.
    • Nonton film lucu.

    Berikan Contoh Positif

    Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

    Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

    Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

  • Parenting

    A Tell-Tale

    Barusan baca lagi Upper Forth at Malory Towers dan menyadari kalau Enid Blyton punya tema khusus yang dibahas di setiap bukunya. Seperti di buku yang mengisahkan kehidupan Darell Rivers dan kawan-kawannya sebagai siswa tahun ke-empat di Malory Towers ini temanya adalah a tell-tale.

    tell·tale
    ˈtelˌtāl/Submit
    adjective
    1.
    revealing, indicating, or betraying something.
    “the telltale bulge of a concealed weapon”
    synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
    “the telltale blush on her face”
    noun
    noun: telltale; plural noun: telltales; noun: tell-tale; plural noun: tell-tales
    1.
    a person, especially a child, who reports others’ wrongdoings or reveals their secrets.
    synonyms: revealing, revelatory, suggestive, meaningful, significant, meaning; informalgiveaway
    “the telltale blush on her face”
    2.
    a device or object that automatically gives a visual indication of the state or presence of something.
    (on a sailboat) a piece of string or fabric that shows the direction and force of the wind.

    Kalau bahasa Indonesianya, tell-tale itu berarti tukang ngadu. Dalam hal ini tentu yang diaduin adalah kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain. Ya contohnya kalau anak-anak berantem terus salah satu datang ke orang tuanya dan bilang, “Mah, adek itu gangguin aku terus.”

    Banyak hal yang menjadi penyebab seseorang mengadu. Antara lain untuk curhat, menggalang dukungan, meningkatkan percaya diri dan mendapatkan perhatian. Atau bisa juga seperti yang dilakukan June dalam buku di atas, mengadukan pesta tengah malamnya anak-anak kelas senior untuk membalas dendam.

    Apapun itu, asal tahu aja, enggak semua orang suka sama si tukang ngadu ini. Percaya deh, mereka-mereka yang seperti ini beresiko kehilangan teman. Padahal mah nyari teman aja sudah susah ya.

    Lalu gimana caranya supaya anak nggak jadi tukang ngadu?

    Pertama, kita harus pastikan dulu tujuan si anak mengadu ini untuk apa? Sekadar nyari perhatian kah atau memang memberi tahu sesuatu yang berbahaya. Tentu berbeda kan antara anak bilang, “Maaa, adek nih rebut-rebut mainanku terus.” dengan, “Ma, adek naik-naik kursi nih. Sudah mau jatuh.” Yang pertama namanya ngadu, yang kedua pemberitahuan.

    Anak balita yang kemampuan komunikasinya belum terlalu baik mungkin belum mengerti perbedaan tersebut, bisa jadi ia tidak menyadari bahwa pengaduannya itu bisa mengadu domba orang lain atau teman sebayanya. Untuk itu sebaiknya kita mengapresiasi saat dia ‘memberi tahu’ dan abaikan ketika anak mulai mengadu (domba). Sambil pelan-pelan dijelaskan bagaimana cara memberi tahu yang baik.

    Kedua, ajarkan anak untuk mengatasi masalah dengan cara selain mengadu. Ada beberapa orang tua yang tidak mau terlibat dalam pertengkaran antar saudara, ini bagus. Tapi saat situasi mulai membahayakan tentu kita harus turun tangan. Untuk itu perlu kita beri mereka pilihan solusi dalam menyelesaikan masalah setelah sebelumnya diajak bersama-sama memahami masalah yang terjadi.

    Ketiga, jangan memihak. Tentu ini berat ya, apalagi sebagai orang tua bawaannya pasti mau belain anak. Tapi kalau kita memihak akan meningkatkan perilaku mengadu ini karena anak tahu orang tuanya akan selalu melindungi dia.

    Keempatteach them a lesson. Segala cara sudah dicoba tapi anak masih suka mengadu? Yah, biarkan saja lingkungan yang mengajarkan dia. Kita cukup mengingatkan resiko apa saja yang bisa dialami oleh orang yang suka mengadu domba.

    Namun, perlu diingat juga kalau perilaku mengadu ini sebenarnya cukup kompleks. Anak harus punya perasaan aman untuk menceritakan apa saja atau minta bantuan kepada orang tua, terutama untuk hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, meski itu termasuk membicarakan keburukan orang lain. Oleh karena itu kembali lagi ke poin pertama, bijaksanalah dalam mendengarkan pengaduan anak dan meresponnya. Sulit? Mungkin iya? Tapi lebih baik repot di awal daripada kelak orang lain yang kerepotan menghadapi anak dewasa kita masih suka mengadu domba rekannya. Betul? 😉

  • Life Hacks

    Maafkan Aku Ya, Diriku

    What have I done? I wish I could
    Away from this ship goin’ under*

    Pernah nggak sih melakukan suatu hal yang menurut kita baik tapi ternyata berakibat negatif untuk kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Saya pernah. Sering malah. Baik dalam hubungan dengan suami atau anak, orangtua atau saudara, pekerjaan maupun pertemanan.

    Suatu kali, saya merasa telah melakukan suatu hal yang awalnya tidak saya sadari sebagai sebuah kesalahan, tapi lantas mengguncang biduk yang saya tumpangi dengan hebat. Parahnya lagi guncangan itu juga memberi efek kepada orang-orang yang saya sayangi.

    Untuk beberapa lama saya terbenam dalam perasaan bersalah sehingga orang-orang yang tadinya mendukung saya pun akhirnya ikut menyalahkan saya. Semua yang saya lakukan untuk memperbaiki keadaan rasanya nggak akan pernah cukup bahkan semakin memperburuk keadaan. Sampai akhirnya saya berhenti berusaha bahkan menutup diri karena takut berbuat kesalahan lagi dan kehilangan kepercayaan diri.

    Ada saat-saat, I really wish I could turn back time and try to do those things right tapi toh nggak bisa. Bahkan untuk lari dan melupakan kesalahan itu juga nggak mungkin. Yang bisa saya lakukan adalah menghadapinya. Sakit? Capek? Pasti…

    But times does heal… Pelan-pelan saya berusaha memaafkan diri saya dulu tanpa berusaha mencari pembenaran atas semua perbuatan saya. Itu yang penting. Toh, kesalahan itu nggak bisa dihapus, pacar yang sudah pergi nggak bisa kembali atau proyek yang sudah lepas dari tangan juga nggak akan didapatkan lagi. Lagipula kita sudah berusaha memperbaiki kesalahan itu meskipun ternyata tidak membuatnya menjadi lebih baik dalam waktu singkat.

    Dengan memaafkan diri sendiri, lama kelamaan kita jadi lebih kuat dan lebih jernih dalam memandang suatu persoalan. Lalu berusaha mencari solusinya. Gampang? Siapa bilang? Dalam kasus saya 2 tahun lamanya proses itu. Jatuh bangun jatuh lagi. Namun kalau tidak diusahakan kita akan terus menerus terbebani perasaan bersalah sehingga sulit untuk maju dan melanjutkan hidup. Akhirnya malah kita akan jadi orang yang menyedihkan karena selalu menyesali kesalahan yang pernah kita buat. Maukah? Saya sih enggak.

    Sampai saat ini pun saya masih berusaha, meski memang nggak bisa kembali ke keadaan normal tapi saya yakin proses ini adalah salah satu ujian untuk menempa saya menjadi pribadi yang lebih kuat, matang dan bijaksana. Dan kalau saya tidak menyerah, kelak keadaan akan pasti akan jadi lebih baik dan saat itu tiba kesalahan fatal itu akan jadi sebuah pengalaman yang saya ingat dengan senyuman.

    *lirik lagu Get It Right yang dinyanyikan oleh Glee Cast

    Gambar diambil dari gettyimages.com

  • Life as Mom, Parenting

    Komunikasi dalam Mengasuh Anak

    Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
    Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
    Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
    Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
    Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
    Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
    Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
    Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
    Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

    Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

    Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

    Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

    • Melemahkan konsep diri
    • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
    • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
    • Kemampuan berfikir menjadi rendah
    • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
    • Iri terus

    Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

    Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

    Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

    1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
    2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
    3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
    4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
      Anak: “Haus ma,”
      Mama: “Minum susu.”
      Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
      Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
    5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
    6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
      Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
      Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
      Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
      Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
      Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
      Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
      Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
      Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
      Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
      Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
      Mama: “Kesel dong kak, digituin”
      Anak: “Iya ma… blablabla”
      Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
    7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
    8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
    9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
    10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

    Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

    Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

    Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

    Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

    *Gambar diambil dari sini*

  • Daily Stories, Parenting

    Berani Menang, Berani Juga Untuk Kalah?

    PhotobucketBeberapa hari ini topik yang lagi hangat dibicarakan ibu-ibu di sekolah Cinta adalah perlombaan dalam rangka perayaan Tahun Baru Islam hari Sabtu kemarin. Ada rumor kalau untuk lomba fashion kategori TK A, juara 1-3 nya dianulir. Beberapa ibu merasa kecewa dengan kesalahan tersebut dan merasa sekolah dan juri tidak peduli dengan perasaan anak. Ya sangat dimaklumilah, betapa sedihnya anak yang sudah dinyatakan juara ternyata belakangan pialanya diambil dan batal jadi juara. Tapi ada juga yang sengaja membeli piala untuk anaknya yang tidak jadi juara karena si anak terlanjur diiming-imingi dapat piala kalau mau ikut lomba.

    Saya sendiri awalnya tidak terlalu antusias dengan perlombaan ini karena tema model fashionnya adalah peragaan busana muslim kreasi. Ealah, wong saya ini orang paling nggak kreatif kok disuruh bikin begituan, meski cuma sekedar aksesoris yang unik. Tapi saya tahu kalau Cinta suka sekali tampil di depan umum. Sering dia iseng naik panggung kosong yang ada di mall cuma untuk merasakan jalan di atas panggung. Nggak jarang juga dia minta nyanyi atau pura-pura nyanyi di panggung yang ada microphone dan musical keyboard. It happened since she was 2 years old. Ketika itu dia berani nyanyi di panggung dan ikut joget bersama orang dewasa dalam sebuah acara kantor mama saya. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan bagi Cinta untuk melakukan hal yang dia suka, menyanyi dengan mic pakai iringan musik dan berlenggak lenggok di panggung.

    Bukannya mau merendahkan kemampuan Cinta, tapi saya dari awal memang tidak berharap dia akan jadi juara. Sehingga saya tidak menjanjikan bahwa dia akan mendapatkan sebuah piala jika mau ikut lomba. Saya hanya bilang, it would be fun up there, walking at the runway, wearing the best clothes you have, singing with your friends, holding a microphone. Maka ikutlah kami perlombaan itu, sekedar untuk bersenang-senang. Baju yang dipilih pun bukan khusus baju muslim, melainkan terusan baru kesukaannya yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang, jilbab, dan stocking. Aksesoris yang dipakai pun cuma bando. Tapi kami berdua cukup puas dengan tampilan itu.

    PhotobucketPhotobucket

    Pagi itu justru saya yang heboh akhirnya, memakaikan dia bedak, lipstik sementara Cintanya kalem banget. Malah mukanya cemberut dan tampak tidak tertarik. Tapi ternyata ketika kelas kelompok bermain diminta untuk menyanyi bersama, dia dengan semangat memegang mic dan bernyanyi dengan fasih. Padahal lagu yang mereka nyanyikan baru dipelajari selama 3 hari sebelum lomba. Malah ketika mic yang dia pegang diminta oleh gurunya untuk diberikan kepada teman lain, Cinta malah cemberut dan mulai nggak konsen. Saya pikir, oke nggak apa-apa. Cinta nggak demam panggung aja saya sudah senang sekali. Ternyata, kejutan baru diberikan Cinta saat lomba fashion. Dengan centil dan lincahnya dia berjalan di atas panggung. Kasih salam, melambaikan tangan, tersenyum like she already do that many times. Saya dan papanya Cinta nggak bisa menyembunyikan rasa bangga kami. Sungguh, mungkin muka saya udah kaya kena sinar lampu ratusan watt. Ini pertama kalinya anak kami tampil di panggung sungguhan meski masih di lingkungan sekolah tapi sudah selincah itu.

    Photobucket

    Banyak orang yang memuji penampilan Cinta, nggak sedikit juga yang bilang dia pasti akan dapat juara. Dalam hati saya pun punya keyakinan seperti itu. Tapi yang kami katakan adalah kami sangat bangga karena Cinta berani di atas panggung, kami senang karena dia sudah memberikan usaha yang terbaik. Saya ingin Cinta punya pemahaman bahwa yang penting adalah sudah berusaha sebaik mungkin dalam melakukan sesuatu yang dia sukai. Dan kami akan selalu bangga pada Cinta apapun hasilnya nanti. Karena, saya tahu sekali betapa sedihnya ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan mendapat hasil yang baik menurut kita, tapi tidak dihargai malah masih dianggap kurang baik oleh orang yang paling ingin kita buat bangga.

    PhotobucketSaat pengumuman pemenang, ternyata Cinta dapat juara 2 untuk kategori Kelompok Bermain. Bukan main senangnya kami, Cinta yang nggak menyangka dapat piala pun tampak senang memeluk pialanya. Bahkan sampai hari ini masih ada aja yang memuji penampilan Cinta di lomba kemarin. Tapi saya berusaha untuk tidak berlebihan karena saya tahu banget ada beberapa anak dan orangtua yang kecewa karena nggak dapat piala. Hingga malam ini pun saya suka berpikir, jika waktu itu Cinta nggak menang pasti kami akan kecewa meski kebanggaan kami kepadanya tidak akan berkurang. Tapi akankah kami dengan sengaja membeli piala sendiri hanya untuk menyenangkan dia? Bisa nggak saya mengajarkan kepada Cinta sejak dini bahwa dalam sebuah perlombaan pasti akan ada yang menang dan kalah. And it’s oke to lose sometimes, karena itu berarti meski kita sudah berusaha sebaik mungkin, masih ada peserta lain yang jauh lebih baik dari kita. Tapi akan lebih baik jika kekalahan itu memacu kita untuk belajar lebih baik lagi supaya di perlombaan berikutnya bisa menang atau minimal mengalahkan rekor pribadi kita.

    Sepertinya sebelum saya mengajarkan nilai-nilai itu ke Cinta, saya harus menanamkan ke diri sendiri bahwa hasil akhir bukanlah segalanya. Menikmati sebuah perjalanan, menghayati perjuangan dan usaha yang kita lakukan, dan mendapatkan pelajaran dari semua itu lebih penting dari apapun. Sehingga ketika akhirnya memenangkan sesuatu, kepuasan dan kebanggaannya akan berlipat ganda.

    -foto-foto adalah koleksi pribadi-

  • Wounded children, broken home, divorce
    Life as Mom, Parenting

    I Thought I’m a Survivor

    Baca kultwitnya mba @AlissaWahid tentang #brokenhome seakan membuka kembali lembaran lama yang sudah saya tutup rapat-rapat.

    Wounded children, broken home, divorce

    Selama ini saya selalu berujar, “I was a broken home child BUT I’m proud of it coz it makes me stronger. I’m a survivor.

    Saya menganggap diri saya adalah seorang survivor yang sukses karena tidak terjerumus dalam hal-hal negatif seperti menjadi pecandu obat-obatan terlarang, kabur dari rumah dan sebagainya. Saya hidup normal, mulai dari SD sampai kuliah beberapa kali memperoleh penghargaan akademis walaupun bukan yang terbaik. Mengikuti berbagai kegiatan, berprestasi dan memiliki banyak teman yang saya sayangi dan menyayangi saya. Bekerja, menikah dan memiliki anak, lalu menjadi ibu rumah tangga. Membangun keluarga kecil saya sendiri. Semua baik-baik saja, orang tua saya walaupun berpisah tetap berhubungan baik. Adik-adik saya juga tidak ada yang bermasalah. We’re aaaaaall good.

    Sampai semalam membaca dampak-dampak yang dialami para “korban” broken home dan tersadar bahwa ternyata saya termasuk salah satu produk gagal. Secara kasat mata mungkin ya saya baik-baik saja, nothing’s wrong with me tapi ternyata saya selama ini gagal mengelola emosi dan memiliki ego yang tidak sehat sehingga selalu merasa insecure terhadap apapun yang saya miliki.

    Dari sebelum menikah, saya selalu merasa bahwa hubungan yang saya miliki dengan pasangan tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan lebih dari 2 tahun (saya pernah pacaran selama 4 tahun dan akhirnya putus) selalu punya khayalan somehow ini bakal berakhir juga. Entah karena dia yang selingkuh atau saya.

    alissa wahid broken home

    Saya juga selalu merasa orang lain lah yang harus bertanggung jawab atas kebahagiaan saya. Baik itu pasangan, teman, saudara dan orang tua. Padahal pribadi yang sehat seharusnya bisa bertanggungjawab atas kebahagiaannya sendiri. Happiness is only a state of mind, right? Dan itu sebenarnya melelahkan karena setiap kali keadaan mulai tidak menyenangkan, saya lari. Selingkuh dari pacar, putus dan ganti baru, pindah dari kerjaan dan masih banyak lagi.

    Hurting-people hurts people.. Ungkapan ini paling pas utk menggambarkan para produk gagal dr keluarga #brokenhome – @AlissaWahid

    Yes, it’s true. I do become the one who hurt people who love me. How? By being so overprotective and self oriented. Mudah marah dan emosional terhadap orang-orang terdekat. Di bawah alam sadar, I’m testing their limits, sampai sejauh mana mereka bisa bertahan. Ketika ada yang pergi saya pun merasa mereka tidak mencintai saya sepenuhnya, karena kalau benar menyayangi saya sepenuhnya seharusnya bisa menerima saya apa adanya.

    Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah menyalahkan orang tua saya atas apa yang terjadi. Mereka sudah cukup punya masalahnya sendiri dan sudah berjuang mengatasinya. Saya menyayangi mereka apapun kekurangannya dan keadaan keluarga kami. Tapi ternyata belum cukup. Mungkin saya masih harus berjuang lagi, lebih keras. Demi diri sendiri dan keluarga kecil saya. Sehingga suatu saat saya bisa berkata, “I was a broken home child AND I’m proud of it.

    moving from Failure to Success from #brokenhome starts with focusing on the ego.. Ego kita mencari kedamaian. Damai dimulai dr titik nol

    Titik nol adl titik dimana kita let go of segala hal yg telah tjd dlm kehidupan kita. Everything happens for a reason, tmsk #brokenhome kita

    di titik nol, kita belajar utk memaknai #brokenhome sbg cara Tuhan menyampaikan pesan pd kita. kita terima rasa sakit itu sbg .. (1)

    kita terima rasa sakit akibat #brokenhome itu sbg bagian baik dlm hidup kita, krn kita justru lbh bijak dr org2 lain karenanya

    bekali diri dg lingkungan jiwa yg tepat: teman2, buku2 yg membuat kita menambah input ttg survivor yg sukses

    “I never found anyone who could fill my needs, so I learned to depend on me” dr Greatest Love of All itu bener banget#brokenhome

    sooner or later, all of us learn that we can only depend on ourselves. you, from #brokenhome families have the chance to learn the hard way

    merelakan “kesalahan” orangtua #brokenhome.. mrk tak hendak melukai kita. mrk hanya tdk tahu bgmn memberi yg terbaik pd kita ..

    stl bdamai dg diri sendiri di titiknol #brokenhome, start your journey to build a healthy ego .. Learn to love yourself. klise, tapiii

    Love yourself. You are someone special, that’s why God blesses you with a burden, that is #brokenhome .. you are stronger than you think!

    bcoz you have left the hurts on point zero of #brokenhome you can now focus to strengthen your character & talents..

    focusing on empowering yrself instead of the hurts & confusion#brokenhome will make you feel good abt yourself. it’s good for your ego

    By: @AlissaWahid

  • Parenting

    Pemuda Kecil Itu

    Namanya Irvan*, waktu itu usianya 10 tahun, kelas 4 SD swasta ternama di Surabaya. Saya mengenalnya 7 tahun yang lalu saat masih bekerja sebagai asisten di lembaga konsultasi Psikologi. Dia klien kami, dibawa ibunya karena obsesif impulsif terhadap AC (iya, AC yang Air Conditioner itu), mencuri, berbohong, memberontak, bertengkar dengan teman-temannya, nilai sekolah jelek.

    Tidak mudah bagi saya mendekati Irvan saat itu. Penolakan demi penolakan saya terima. Di satu sesi terapi tiba-tiba ia lari keluar ruangan dan setelah mencari kemana-mana ternyata duduk di salah satu sudut gedung untuk mengamati kompresor AC. Di sesi lain hanya ingin menggambar AC, bercerita tentang AC dan berlangsung selama 1 jam. Kadang ia mogok, diam duduk di sudut ruangan tanpa melakukan apa-apa. Butuh waktu cukup lama sampai ia merasa nyaman dengan saya. Dan ketika waktu itu tiba sesi terapi mendadak menjadi mudah dan menyenangkan.

    Ia pun mulai berkisah. Mama papanya tak akur di rumah, papanya acuh tak acuh atas mama dan dirinya. Sedangkan mamanya terlalu sibuk dengan masalah rumah tangganya. Sementara bocah malang yang sehari-hari diasuh neneknya ini dituntut untuk selalu bersikap sesuai dengan keinginan orangtuanya. Hardikan, kata-kata “goblok”, “nakal” kerap ia terima begitu juga hukuman fisik saat tidak mau mengikuti kata-kata papa dan mama.

    Sesi terapi pun selalu menjadi hal yang ia nantikan kata mamanya. “Kok bisa sih selalu nyariin mba? Sama saya aja nggak begitu.” tanyanya suatu ketika. Bahkan kadang Irvan berusaha mengulur waktu selesainya terapi. Sampai akhirnya ia menjadi posesif. Saat bersamanya, saya tidak boleh berbicara dengan orang lain, menerima telpon. Begitupun dia tidak mau didekati oleh siapa-siapa bahkan atasan saya sekalipun. Irvan bisa mendadak ngambek ketika kami berjalan-jalan di area kampus dan saya menyapa satu dua orang teman.

    Saya terpaksa berpisah dengan Irvan walaupun terapinya belum selesai. Orangtuanya tak mampu lagi membayar biaya terapi. Atasan saya menyerahkan Irvan ke grup mahasiswa yang melakukan terapi gratis di bawah bimbingannya dan itu tidak termasuk saya *mahasiswamatre*. Tapi kemajuan Irvan saat itu cukup menggembirakan. Obsesinya terhadap AC sudah mulai berkurang, ia tidak lagi bermasalah di sekolah. Bahkan ketika kami mengunjunginya di sekolahnya ia tampak bangga dan senang sekali. Irvan juga mulai mudah bersosialisasi dengan orang-orang baru.

    Sesi terakhir kami diwarnai ketegangan emosi. Ia menyebut saya jahat, tidak sayang kepadanya. Dia bilang benci sama saya. I feel him. I really do. Saya hanya bisa minta maaf dan mengatakan saya tidak berniat meninggalkannya. Tapi ia terlanjur marah.

    Setiap kali melihat Irvan saya seakan melihat diri saya belasan tahun sebelumnya. Saat saya masih seumur Irvan. Luka hati yang sama, pola didik keluarga yang sama, orangtua yang berpisah. Hanya saja saya jauh lebih beruntung dari Irvan. Hari ini saya sedang mengingatnya, pertemuan dengan Irvan adalah salah satu hal yang memberi banyak pelajaran bagi saya. Semoga saat ini ia sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.