Browsing Tag:

interesting place

  • Pemadam Kebakaran, Field Trip, BSP Fire Station, Panaga Brunei
    Daily Stories, Kids Activities, Life in Brunei

    Keenan’s Field Trip To BSP Fire Station

    Tanggal 22 November 2017 yang lalu, Keenan dan teman-temannya dari KG 2 CCMS diajak jalan-jalan atau istilah bulenya Field Trip ke Brunei Shell Petroleum Co Sdn Bhd (BSP) Fire Brigade. Murid-murid dari 4 kelas KG dibagi 2 sesi, jam 8 dan jam 10. Kebetulan Keenan dapat yang sesi siang. Acara ini dilakukan setelah ujian akhir tahun 2017, sebagai reward atas kerja keras anak-anak belajar dalam satu tahun tersebut.

    Pada hari H, saya, Keenan dan kakak Cinta mendatangi BSP Fire Station yang terletak di Jalan Tengah, Panaga. Sempat bingung di mana bisa parkir mobil, karena lokasinya yang persis terletak di jalan besar dan nggak nampak ada mobil parkir di pelataran depannya. Setelah mengikuti mobil lain, baru tahu kalau ada gedung-gedung kecil dan tempat parkir di belakang bomba (sebutan fire station dalam bahasa Melayu). Keenan pun antusias sekali kepingin segera masuk ke dalam area bomba dan bergabung dengan teman-temannya yang sudah lebih dahulu datang.

    pemadam kebakaran, bsp fire station, panaga brunei, field trip

    Duduk manis mendengarkan safety briefing dari officer BSP Fire and Emergency Response

    Sesampainya di dalam, anak-anak masih harus menunggu beberapa saat sebelum sesi siang dimulai. Kakak Cinta yang sudah pernah mengikuti acara serupa di stasiun pemadam kebakaran Seria pun mulai merasa bosan karena nggak ada temannya. Untuk mengusir kebosanannya, kakak pun ikut duduk di samping Keenan dan teman-temannya serta mengikuti berbagai aktivitas yang diberikan oleh para petugas dan officer BSP Fire Station.

    Aktivitas dimulai dengan membagi murid-murid sesi siang ini ke dalam dua kelompok. Kelompoknya Keenan diajak untuk melihat aneka peralatan yang dipakai oleh para pemadam kebakaran, mulai dari baju sampai aneka selang. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk mengenakan seragam pemadam kebakaran. Lucu deh, ada yang semangat seperti Keenan, ada yang mau coba lebih dari sekali, ada juga yang nggak mau.

    pemadam kebakaran, bsp fire station, field trip

    Aneka perlengkapan yang digunakan oleh pemadam kebakaran

    Setelah itu, anak-anak diajak melihat truk pemadam kebakaran dan ambulance. Ternyata banyak sekali panel dan perlengkapan di fire truck ya. Saking banyaknya sampai saya nggak bisa mengikuti satu persatu penjelasan petugas tentang fungsi panel-panel tersebut. Fix lah jadi pemadam kebakaran itu selain perlu fisik yang kuat juga perlu keahlian khusus.

    fire truck, bsp fire station, panaga brunei, field trip, pemadam kebakaran

    Bagian dari BSP Fire Truck

    Anak-anak juga diajak duduk di dalam ambulance sambil melihat isi di dalamnya. Jadi ingat pengalaman naik ambulance waktu lagi hamil besar Keenan bareng kakak Cinta hihihi. Setelah itu, kedua kelompok anak, guru dan orangtua dikumpulkan di pelataran belakang untuk melihat demonstrasi truk pemadam kebakaran mengeluarkan air dari selangnya.

    BSP Fire Truck, mobil pemadam kebakaran, pemadam kebakaran, fire station, Panaga Brunei, field trip

    Demo truk pemadam kebakaran

    Acara berakhir pada pukul 11 dengan pembagian snack dan minum sambil mendengarkan sedikit cerita dari officer BSP Fire Station. Terima kasih CCMS dan BSP Fire Station. We had fun. Dan terima kasih untuk Borneo Bulletin yang sudah meliput acara kunjungan ke BSP Fire Station, kami jadi punya kenang-kenangan nih. Yaiy.

    field trip, ide studi wisata, studi wisata anak TK, Panaga Fire Station, Seria, brunei

    Studi wisata ke Panaga Fire Station diliput oleh Borneo Bulletin

    Keseruan Field Trip ke Panaga Fire Station dalam video:

  • Kidzoona Surabaya, tempat bermain anak Surabaya, indoor playground Surabaya
    Foods and Places, Kids Activities

    Main Sepuasnya di Kidzoona Surabaya

    Saya tuh tadinya nggak terlalu suka bawa anak-anak jalan ke Tunjungan Plaza karena nggak ada tempat main untuk anaknya, kecuali yang di dekat Food Court TP 3. Tapi, sejak ada TP 5, saya lihat ada indoor playground Chipmunk di lantai yang sama dengan Kidz Station. Sepertinya, lantai tersebut memang dikhususkan untuk keperluan ibu dan anak, karena selain Chipmunk dan Kidz Station juga ada gerai Mothercare & ELC, Mom n Bab, counter squishy, tempat main baking/menghias kue, dll.

    Nah, waktu mudik kemarin, saya lihat ada tempat main baru di TP 6. Mama saya yang sudah pernah bawa keponakan-keponakan main ke sana langsung merekomendasikan tempat tersebut untuk main anak-anak. Jadi deh, suatu hari setelah selesai survey beberapa sekolah di Sidoarjo, saya dan mama mengajak anak-anak main di sana. Karena sudah waktu makan siang, sebelum main kami makan dulu di Bakmi GM lantai 5 karena di tempat main tersebut nggak ada orang jual makanan. Setelah selesai makan, kami pun menuju Kidzoona bersama 2 anak yang sudah nggak sabar pengen main.

    Kidzoona Tunjungan Plaza, Surabaya, tempat main anak surabaya, playground indoor Surabaya

    Setelah membeli 2 tiket all day weekdays seharga Rp 90.000/anak plus Rp 10.000 untuk sepasang kaos kaki, anak-anak pun mulai menjelajahi Kidzoona. Tiket bermain di Kidzoona TP 6 ini mulai dari Rp 60.000 – Rp 150.000 per anak. Terletak di lantai 4 Tunjungan Plaza 6, Kidzoona adalah arena bermain keluarga yang dirancang sebagai tempat bermain dengan konsep edukasi. Di sini, anak dapat mengasah kemampuan sensoris, motoris dan bermain peran. Di Kidzoona, anak dianjurkan untuk bermain bersama pendampingnya agar tercipta bonding yang baik antara anak dan pendampingnya, sehingga tidak ada kru khusus Kidzoona yang mengawasi anak-anak bermain. Harga tiket masuk pun sudah termasuk dengan 1 pendamping.

    Kidzoona Satu Hari Satu Jam Orang Dewasa
    Regular
    Week Day Rp 90.000 Rp 60.000 Gratis*
    Week End & Holidays Rp 150.000 Rp 90.000 Gratis*
    Member
    Week Day Rp 70.000 Rp 45.000 Gratis*
    Week End & Holidays Rp 130.000 Rp 75.000 Gratis

    * Penambahan orang dewasa Rp 30.000/orang
    ** Harga tiket per Desember 2017
    *** Pengunjung dan pendamping harus memakai kaos kaki

    Pendamping nggak perlu takut capek ngikutin anak-anak main, kecuali untuk batita yang memang masih harus diawasi dengan ketat. Permainan di sana cukup aman bagi anak, ruangannya juga terang, bersih dan banyak tempat bagi pendamping untuk menunggu anak-anak bermain. Seperti saya yang hari itu ada deadline upload artikel, berbekal laptop duduk di arena profesi dan mengerjakan tugas saya sambil sesekali memastikan keberadaan dan keamanan anak-anak di tempat mereka bermain.

    Arena profesi tempat saya duduku jadi favorit banyak anak. Di tempat ini anak berkesempatan untuk belanja sayur sekaligus jadi kasirnya, membuat ice cream, sushi, burger mainan, merancang bunga dan menjualnya serta menjadi petugas pos, polisi dan pemadam kebakarang serta banyak lagi. Si Keenan mencoba satu demi satu peran yang ada, kadang main bareng kakak Cinta atau anak-anak lain tapi lebih sering lagi main sendiri.

    Arena profesi juga jadi tempat kesukaan kakak Cinta. Meski sudah berusia 10 tahun, dia masih betah main peran dan dengan sabar mengajak anak-anak yang lebih kecil main bareng di booth yang sama.

    Arena lain yang menarik dan tidak melibatkan banyak aktivitas fisik adalah arena sensori berisi beberapa meja berisi pasir kinetik, arena permainan kreativitas dan arena soft blocks. Di arena kreativitas (ini sebutan saya sendiri ya hihihi) ini ada track mobil-mobilan dari kayu, puzzle dari plastik dan beberapa yang lainnya. Sedangkan di arena soft blocks, anak-anak bisa membuat berbagai macam bangunan atau tracks menggunakan balok-balok yang ringan dan lembut.

    Setelah  puas bermain di arena depan, anak-anak pun menjelajah ke belakang, arena permainan fisik. Ada roda putar, trampolin yang cukup besar dan playground yang berada di tengah kolam bola. Meskipun besar, arena bermain ini aman karena bolanya tidak terlalu tinggi dan selain perosotan, permainan yang lain terbuat dari karet. Anak-anak dapat bermain dengan bebas meski harus tetap waspada dengan aktivitasnya agar tidak menabrak atau melukai anak lain tanpa sengaja.

    Untuk bayi dan batita juga disediakan arena khusus toddler. Nggak besar sih tapi cukup memadai bagi mereka bermain sambil menunggu kakak-kakaknya bermain di arena yang lebih besar. Bisa juga kok main di tempat yang lain asal harus benar-benar dijaga, karena ya tahu sendiri kan, anak-anak di atas 3 tahun kalau sudah main seringkali nggak bisa mengontrol tenaga dan emosinya.

    Pertama kali kami ke Kidzoona TP 6, Cinta dan Keenan menghabiskan waktu lebih dari 3 jam di arena bermain raksasa ini. Saya dan mama pun menunggu dengan sabar di rest area bersama para mama dan pengasuh yang lain. Karena di Kidzoona hanya menjual minuman dalam kemasan, pengunjung bisa membawa makanan dari luar tapi hanya boleh dimakan di rest area ini.

    Selama menunggu, saya memperhatikan bahwa setiap beberapa jam kru Kidzoona akan mengajak anak-anak beraktivitas bersama. Kegiatan pertama yang saya lihat ketika Cinta dan Keenan baru masuk adalah mewarna bersama dan yang kedua anak-anak diajak bermain dan berfoto dengan Lala, salah satu karakter Kidzoona.

    Kedua kalinya kami ke sana, agak bingung dengan peraturan usia yang boleh masuk ke Kidzoona, TP 6. Jadi ceritanya, saya dan adik ipar membawa Cinta, Keenan dan Rere yang berusia 10 dan 4,5 tahun. Karena masih ada keperluan lain di Tunjungan Plaza, adik ipar saya mengajak sepupunya yang berusia 13 tahun untuk mendampingi anak-anak bermain sementara kami keliling TP. Tapi ternyata, anak usia 13 – 16 tahun tidak boleh masuk Kidzoona, baik sebagai pendamping maupun beli tiket anak. Karena batas usia anak dapat bermain di Kidzoona adalah 0 – 12 tahun, sedangkan usia minimal untuk pendamping adalah 17 tahun. Akhirnya saya dan adik ipar gantian menemani anak-anak bermain, sementara sepupunya adik ipar ikut duduk di sebuah coffee shop bersama mama dan adik saya.

    Jadi kalau lain kali bawa anak dengan rentang usia tersebut dan nggak ada orang lain yang bisa menjaga anak-anak, ngaku aja umurnya 12 tahun dan beli 1 tiket anak atau berusia 17 tahun dan bisa masuk dengan tiket pendamping. Karena nggak mungkin juga kan kalau anak umur 13 – 16 tahun dibiarkan berkeliaran di mall sendirian sementara orangtua/pengasuh masuk untuk menemani adik-adik atau saudaranya bermain di Kidzoona. Atau semoga pihak Kidzoona punya kebijakan case by case mengenai hal ini.

    Tapi, bagi saya pribadi, di antara indoor playground yang pernah saya dan anak-anak coba di Surabaya, Kidzoona paling oke. Isinya lengkap, permainannya aman, ruangannya terang dan bersih, dan area untuk penunggu juga nyaman. Soal harga sepertinya memang standar indoor playground sekarang segitu ya? Jadi ya, bolehlah kalau buat main sesekali di mall. Daripada ke arcade game, uang segitu bisa habis nggak sampai 1 jam kan :))

    Atau kalau mau lebih irit bisa main ke Kidzoona Marvel City. Sampai postingan ini terbit, ada promo kalau beli tiket lewat aplikasi Fave. Lumayan sih, untuk tiket bermain 1 jam jadi Rp 45.000 (termasuk 1 pendamping) dan yang tiket bermain 1 hari jadi Rp 90.000 (termasuk 1 pendamping) berlaku untuk weekdays, weekend dan hari libur nasional.

    Sahabat pojokmungil sudah ada yang pernah ke Kidzoona juga? Gimana pengalaman kalian? Atau mungkin ada rekomendasi indoor playground lain yang nggak kalah serunya? Share yaa.

     

  • Life in Brunei

    Istiadat Perarakan 50 Tahun Sultan Brunei Bertahta

    Hari Kamis, 5 Oktober 2017, rakyat Brunei merayakan salah satu hari yang kelak akan tercatat dalam sebuah sejarah negara ini. Di hari itu, raja tercinta rakyat Brunei, Kebawah Duli Yang Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzadi Waddaulah ibni almarhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, genap 50 tahun bertahta sebagai Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam.

    Tepat pada tanggal 5 Oktober 1967, Sultan Hassanal Bolkiah dinobatkan menjadi Sultan Brunei ke-69 setelah ayahandanya, almarhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien turun tahta di tahun yang sama. Selama memimpin negara kecil yang kaya akan kandungan minyaknya ini, Sultan Hassanal Bolkiah sangat dicintai oleh rakyatnya. 

    Kecintaan rakyat Brunei kepada pemimpinnya ini nampak dari antusiasme mereka dalam setiap perayaan hari kebangsaan, hari keputeraan (perayaan ulang tahun Sultan) dan terutama hari-hari bersejarah seperti peringatan jubli perak (25 tahun menaiki tahta).

    Photo Credit: Borneo Bulletin

    Perayaan Jubli Emas kemarin pun menjadi sejarah bagi rakyat Brunei. Diperkirakan hampir 60ribu penduduk Brunei memadati jalan-jalan di Bandar Seri Begawan yang dilewati oleh Usungan Diraja. Saya dan keluarga termasuk salah satu di antaranya.

    Awalnya kami nggak terlalu antusias untuk pergi, karena seperti biasa tiap ada perayaan di Bandar pasti jalanan akan ditutup, sehingga macet dan susah cari parkir. Tapi, berhubung kakak Cinta terpilih sebagai salah satu dari 47 siswa di sekolahnya yang ikut sebagai pelambai bendera di Bandar, akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyaksikan Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan.

    Photo Credit: CCMS Primary Seria

    Dari rumah kami berangkat pukul 5.15 pagi, selepas sholat Subuh. Mengantar kakak ke meeting point dulu untuk naik bus bareng teman-teman sekolahnya ke Bandar. Setelah bus kakak dan rombongan berangkat, jam 6 pagi, saya, suami dan Keenan menyusul. Kami sampai di Bandar jam 7.30 pagi dan sudah banyak orang yang memadati jalan yang akan dilalui perarakan. Sempat keliling cukup lama dan kena macet sampai akhirnya kami dapat tempat parkir di atas trotoar :)) Itupun masih harus jalan kaki cukup jauh ke lokasi perarakan.

    Pukul 8.30 kami sudah sampai di Yayasan dan cuaca mulai panas. Kami berusaha untuk jalan ke Istana Nurul Iman. Tapi baru 500 meter, Keenan yang belum sarapan mulai rewel, bekal air minum mulai menipis, saya kebelet pipis dan harus antri 15 menit untuk menggunakan toilet di Masjid Omar Ali Saifuddien. Rasanya sudah pengen pulang aja.

    Setelah bertanya sama teman yang sudah menunggu di Bomba BSB, tempat start perarakan, kami memutuskan untuk jalan ke arah sana aja. Nggak jauh dari Yayasan, cuma 1,5 km dan 15 menit jalan kaki. Eh, sebelum sampai di sana alhamdulillah ketemu pedagang makanan dan minuman. Saya sempat berkomentar ke suami, “Ini kalau di Indonesia, trotoar sepanjang jalan ini pasti sudah dipenuhi aneka jualan makanan dan minuman nih. Nggak sampai kepayahan cari-cari seperti ini.” Tapi ada baiknya juga pedagang minuman dan makanan dilokalisasi seperti kemarin, sehingga trotoar benar-benar dimanfaatkan sebagai tempat berjalan dan berdiri. Bahkan akhirnya kami pun memutuskan untuk duduk di trotoar bersama rombongan dari Persatuan Masyarakat Indonesia di Brunei Darussalam (PERMAI) yang berdandan dengan cantiknya memakai baju adat dan sebagian ibu memakai seragam dari kain jumputan sementara bapak-bapak berseragam batik.

    brunei darussalam, indonesia family in brunei darussalam, golden jubilee brunei darussalam, hmjubliemas

    Setelah menunggu cukup lama. akhirnya perarakan pun dimulai. Orang-orang yang tadinya duduk di pinggir jalan langsung memadati separator jalan agar bisa melihat rombongan Sultan dari dekat. Awalnya saya sempat nggak dapat tempat saking penuhnya orang, nggak bisa juga ikut berdesakan karena saya menggendong Keenan. Sampai seorang bapak yang berdiri di separator memberikan tempatnya untuk saya, sementara beliau turun ke depan. Alhamdulillah dari tempat saya berdiri saya bisa melihat perarakan dan mengambil video dengan cukup jelas. 

    Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan itu dimulai dari Bandar Seri Begawan Fire and Rescue Station. Baginda Sultan dan rombongan tiba di Bomba mengendarai mobil yang disambut oleh sekitar 22ribu pelajar, termasuk Cinta di antaranya, yang melambaikan bendera Brunei di pinggir jalan sepanjang Istana Nurul Iman kediaman keluarga diraja sampai ke Bomba Bandar Seri Begawan. Dari Bomba, Sultan, Raja Isteri, Pengiran Muda Mahkota Pengiran Muda Al-Muhtadee Billah, Pengiran Anak Puteri Hajah Shaleha, Pengiran Muda Abdul Malik, Pengiran Muda Haji Abdul ‘Azim, Pengiran Muda Abdul ‘Mateen dan Pengiran Muda Abdul Wakeel menaiki Usungan Diraja atau Royal Chariot yang sehari-hari disimpan dalam musium Royal Regalia. Anggota keluarga diraja yang lain mengikuti perarakan dengan menggunakan koleksi mobil mewah mereka. Oya, Prince Edward, Earl of Wessex dan istrinya Sophie, Countess of Wessex juga mengikuti perarakan sebagai wakil undangan dari Kerajaan Inggris.

    Leading the Royal Procession was the Grand Chamberlain followed by marching bands from the Royal Brunei Armed Forces and Royal Brunei Police Force.

    Following closely behind was a special customised vehicle carrying a Changkah (huge two-pronged spear) and guarded by a Pateh and Damong, as well as 40 bearers of Sinipit (decorated spears) and Taming (decorated shields).

    Walking ahead of the Royal Chariot were two Panglimas (decorated army officers): the Panglima Raja who carried a Pemuras (a large gun), and the Panglima Asgar who carried a Kalasak (shield) and a Kampilan (dagger). There were also 16 bearers of Pedang (swords) and Perisai (shields) as well as 16 bearers of the Tombok Benderangan (gold-plated spears). Also part of the Royal Procession was the Gendang Arak-Arakan, a vehicle which carried an ensemble of royal musical instruments.

    -Borneo Bulletin, Thousands line up in capital to cheer Golden Jubilee Royal Procession, Oct 6, 2017-

    Saking senangnya melihat Sultan secara langsung sampai rasanya terharu sekali. Ketika usungan diraja lewat tanpa menunggu rombongan yang lain selesai melintas, saya dan suami ikut berjalan cepat mengejar kereta beliau supaya Keenan bisa melihat usungan lebih dekat. Sepanjang jalan tersebut, saya nyaris menangis dan merinding melihat suka cita rakyat berseru, “Daulat Tuan Patik!” dan melantunkan asma Allah serta salawat mendoakan pemimpinnya. Masya Allah, begitu dicintainya raja satu ini oleh rakyatnya.

    Yah, alhamdulillah, saya merasa beruntung sekali bisa menjadi bagian dari sejarah negara Brunei Darussalam. Once in a lifetime moment, karena nggak banyak pemimpin yang bisa memimpin sampai 50 tahun kan. Nggak sia-sia semua pengorbanan yang harus dilalui ‘hanya’ untuk bisa menyaksikan Istiadat Perarakan Mengelilingi Bandar Seri Begawan ini, termasuk kena macet hampir 1 jam untuk bisa keluar dari Bandar dan ngebut sepanjang lebuh raya supaya nggak terlalu telat menjemput kakak di meeting point-nya di Seria. 

    Daulat Kebawah Duli Tuan Patik. Kekal Qarar Memerintah Di Atas Takhta.

  • yurmawita, yurmawitadotcom, lifestyle blogger, travel blogger, blogger sumatera, blogger perempuan
    Blogger Profiles

    Menyusuri  Sumatera Barat Bersama Yurmawitadotcom

    Sebagai blogger yang tidak tinggal di Indonesia, saya sering merasa iri dengan teman-teman blogger yang berdomisili di Jakarta atau kota metropolitan lain di Indonesia seperti Surabaya dan Bandung. Gimana enggak, banyak sekali kegiatan untuk blogger yang dilakukan di kota-kota tersebut. Mulai dari launching produk sampai jalan-jalan ke tempat wisata. Hampir semua niche blog punya eventnya masing-masing. Mulai dari yang berbayar sampai dibayar. Jadi nggak bakal deh kekurangan ide untuk blogpost.

    Tapi, ternyata menjadi blogger yang tinggal di daerah punya kelebihan sendiri lho. Kita bisa mengangkat keistimewaan daerah tempat tinggal kita, baik tempat wisatanya maupun tradisi atau kebiasaan-kebiasan unik penduduknya. Seperti yang dilakukan oleh Yurmawita, pemilik sekaligus penulis blog yurmawita.com.  

    yurmawita, yurmawitadotcom, lifestyle blogger, travel blogger, blogger sumatera, blogger perempuan

    pic source: http://www.yurmawita.com

    Pada blog yang bergenre lifestyle, Yurma, panggilan akrabnya, menuliskan berbagai macam kisah kesehariannya. Mulai dari traveling, parenting, edukasi  sampai resep-resep masakannya. Yang istimewa adalah Yurma memberikan berbagai macam informasi tentang Bengkulu tempat tinggalnya dan beberapa tempat wisata di Sumatera Barat.

    Kesibukannya sebagai seorang ibu sekaligus tenaga pengajar Matematika dan mahasiswa pascasarjana di Universitas Bengkulu seringkali membuatnya merasa kesulitan membagi waktu untuk menulis di blog. Tapi ternyata Yurma jauh lebih rajin dari saya dalam mengisi blognya. Di tahun 2017 yang baru memasuki bulan keempat saja, Yurma sudah menulis dua puluh dua artikel yang terdiri dari artikel wisata, profil blogger, parenting, lifehack, job review, dan kegiatannya sebagai seorang guru. Bandingkan dengan saya yang, ah sudahlah…

    Kalau artikel tentang parenting, lifehack dan job review banyak dijumpai di blog lain, termasuk blog saya ini, tidak demikian dengan artikel travelingnya. Sebagai keturunan Minang, yang bercita-cita mengunjungi tanah leluhur suatu hari nanti, artikel Yurma tentang Sumatera Baratlah yang paling menarik perhatian saya. Apalagi yang diulas Yurma adalah hal-hal baru bagi saya, seperti saat beliau mengikuti Wisata Heritage Green Industri bersama komunitas Wegi; bertualang di tempat persembunyian tentara Jepang di jaman perang dulu; berwisata budaya di Batusangkar dan masih banyak lagi.

    Pengen jalan-jalan ke Sumatera, main deh ke blog yurmawita.com. Dijamin membantu sekali untuk membuat rencana perjalanan ke Sumatera khususnya Sumatera Barat. Ditulis dengan alur yang runut dan bahasa yang enak dibaca dan dilengkapi oleh foto-foto yang menarik membuat saya seakan ikut berjalan-jalan ke tempat-tempat yang beliau kunjungi. Nggak cuma tentang Sumatera Barat lho, di blog yurmawita.com, kita juga bisa menjumpai berbagai artikel tentang Bengkulu. Ya, maklumlah, Yurma memang asli Bengkulu. Obyek wisata di daerah Sumatera Selatan pun tak luput dari jelajahnya. Mungkin ke depannya kita akan bisa membaca kisah traveling Yurma dan keluarganya ke daerah lain di Indonesia seperti cita-citanya.

  • Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja
    Traveling

    Serunya Berwisata Sejarah di Kotagede Jogja

    Sebenarnya sudah lama sekali saya nggak main ke Jogja. Terakhir ke sana bareng keluarga kira-kira 6 atau 7 tahun yang lalu waktu Cinta masih berusia 3-4 tahun. Padahal sebelum saya menikah, cukup sering ke Jogja baik bersama keluarga atau teman-teman kuliah. Maklum, sejak kami pindah ke Brunei, setiap kali mudik selalu kami gunakan untuk berkumpul bersama keluarga di Sidoarjo atau Tuban. Kalaupun pergi berwisata ya nggak jauh-jauh dari kota-kota tersebut.

    Baca Juga: Pantai Camplong Madura

    Lebaran tahun lalu, Mama saya tiba-tiba mengutarakan keinginannya untuk berlibur bareng keluarga besar ke Jogja. “Naik mobil aja,” kata beliau sambil mengenang masa-masa kami sering melakukan perjalanan darat dari Sidoarjo ke Jogja. Kenapa Jogja? Selain karena ada saudara mama yang tinggal di sana, Jogja seakan tidak pernah berhenti menyuguhkan pesonanya. Mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, kuliner, sampai wisata-wisata dengan wahana atraktif dan modern, semua bisa kita nikmati di Jogja.

    Tapi biasanya kalau berlibur ke Jogja, saya dan keluarga lebih sering mengunjungi lokasi-lokasi wisata populer di pusat kota. Padahal, nggak jauh dari lokasi tersebut, ada salah satu destinasi wisata sejarah yang cukup menarik untuk dikunjungi, yaitu Kotagede.

    Kotagede merupakan salah satu kecamatan yang terletak sekitar 5 km di sebelah timur Keraton Yogyakarta. Kawasan ini memiliki sejumlah peninggalan kerajaan Mataram yang sebenarnya sayang jika kita lewatkan saat berlibur di Kota Jogja.

    Nah, berhubung ada rencana untuk berlibur ke Jogja, saya coba mencari info tempat-tempat wisata menarik untuk dikunjungi di Kotagede dan ini adalah beberapa di antaranya:

    1. Masjid Gedhe, Mataram

     Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Masjid Gedhe – Wikipedia.org

    Masjid dengan desain arsitektur unik yang berdiri di Kotagede ini merupakan masjid tertua di Jogja. Masjid ini didirikan sejak zaman Kerajaan Mataram oleh Sultan Agung pada tahun 1640.

    Pada saat itu, mayoritas penduduknya menganut agama Hindu dan Buddha. Itulah mengapa, saat berada di dalam masjid tersebut, kita bisa menemukan beberapa ornamen berciri khas Hindu dan Buddha, seperti yang terdapat pada tiang kayu dan gapura masjid.

    Meskipun sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung ini masih tetap berdiri kokoh dan digunakan sebagai tempat beribadah oleh masyarakat sekitar.

    2. Pemukiman Tradisional

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Pemukiman Tradisional – Gogonesiatravelblog.com

    Di kota tempat saya tinggal sekarang, pusat kotanya masih memiliki bangunan kuno yang terawat dan dijadikan sebagai pusat perekonomian. Senang banget ngeliat tiap pagi para kakek duduk menikmati udara pagi di bangku-bangku di pinggir jalan atau sarapan di kopitiam yang sudah dikelola selama beberapa generasi.

    Baca juga: Seria, Kota Minyak dalam Hitam dan Putih

    Nah, katanya kalau ingin merasakan suasana Jogja tempo dulu, pemukiman tradisional di Kotagede adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Di sana, kita bisa menemukan berbagai rumah kuno yang berdiri sejak zaman Kerajaan Mataram dan zaman kolonial.

    Tidak mengherankan, beragam jenis bangunan rumah di sana memiliki ciri khas yang bervariasi. Ada yang bergaya Eropa, namun tidak sedikit pula yang berdesain arsitektur asli Jawa dengan bentuk bangunan menyerupai pendopo.

    3. Reruntuhan Benteng

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Reruntuhan Benteng – Indoturs.com

    Pada zaman dahulu, reruntuhan benteng ini merupakan benteng pertahanan Keraton Mataram yang bernama Benteng Baluwerti. Benteng ini sebenarnya mempunyai luas mencapai 400×400 m. Namun seiring waktu berlalu, benteng yang telah runtuh tersebut, kini hanya tersisa sebagian kecilnya saja. Saat ini, sisa benteng tersebut masih tampak kokoh, dengan panjang sekitar 50 m dan ketebalan dinding 1,2 m.

    4. Kompleks Pemakaman Raja

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Komplek Pemakaman Raja – Initempatwisata.com

    Lokasi wisata bersejarah yang bisa kita kunjungi di Kotagede berikutnya adalah kompleks pemakaman Raja-raja Mataram. Ketika memasuki kawasan kompleks pemakaman ini, kita akan disambut 3 rangkap gapura yang memiliki arsitektur khas Hindu.

    Sementara di area pemakaman, ada beberapa bangunan pendopo kecil, yang masing-masing memiliki nama yang berbeda, seperti: Bangsal Duda, Bangsal Witana, Bangsal Pengapit Ler, dan Bangsal Pengapit Kidul. Selain itu, ada juga Sendang Seliran, yang pada zaman dahulu merupakan tempat pemandian Panembahan Senopati atau pendiri Kerajaan Mataram.

    5. Pasar Legi

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Pasar Legi – Wisatayogyakarta.com

    Pasar tradisional yang berlokasi di Jalan Mondorakan Kotagede ini sekilas memang tampak seperti pasar pada umumnya. Namun ternyata, pasar ini memiliki sejarah panjang, dan bahkan sudah ada sebelum Kerajaan Mataram berdiri. Beberapa bangunan peninggalan masa lalu juga masih terlihat di sekitar pasar, misalnya tugu penanda jalan dan rumah-rumah kuno di sekitar pasar.

    6. Wisata Kerajinan Perak

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Kerajinan Perak – Tourandtravelwisataindonesia.com

    Sekalinya ke Kotagede, tujuan utama saya dan keluarga selalu ke tempat kerajinan perak. Aduh, nggak bisa dipungkiri, aneka kerajinan perak yang ada di Kotagede ini menggugah hati dan merongrong dompet. Bagus-bagus banget dan banyak pilihan.

    Kerajinan perak di Kotagede konon sudah ada sejak abad ke-9. Namun kerajinan ini baru mulai dikenal ketika Kerajaan Mataram mulai berkuasa, yakni di sekitar abad ke-16. Sejak saat itu, perdagangan perak di Kotagede terus mengalami kemajuan.

    Kini, di Kotagede sudah ada lebih dari 100 toko yang menyediakan kerajian perak. Masih dengan cara yang sama, perak-perak tersebut dibuat dengan tangan, sebagaimana pembuatan perak di masa Kerajaan Mataram.

    TIPS BERWISATA DI KOTAGEDE

    Jogja, Kotagede, Traveloka, wisata Kotagede, liburan ke Jogja

    Kotagede – Pusakatours.com

    Wisata sejarah di Kota Gede tidak hanya berguna untuk menambah koleksi foto-foto cantik kita di media sosial. Lebih dari itu, liburan semacam ini juga bisa memperkaya pengetahuan, serta menjadikan kita semakin memahami budaya asli dalam negeri.

    Baca juga: Mempersiapkan Anak Untuk Liburan di Pantai

    Lalu, apa saja yang perlu dipersiapkan saat akan berwisata ke Kotagede? Berikut beberapa tips untuk kita.

    1. Persiapkan Akomodasi Jauh-jauh Hari

    Meskipun tidak berada tepat di pusat kota, namun Kotagede cukup ramai dikunjungi wisatawan, terutama di saat musim liburan. Apabila ingin mendapatkan suasana yang tenang, sebaiknya kita mempersiapkan akomodasi perjalanan dan penginapan jauh-jauh hari.

    Supaya lebih praktis, kita bisa memesan tiket kereta api secara online di: https://www.traveloka.com/kereta-api. Tidak hanya itu, melalui Traveloka.com, kita juga bisa mendapatkan penginapan di Jogja dengan pilihan harga yang kompetitif. Dengan demikian, kita tidak akan kesulitan menemukan akomodasi yang tepat dan nyaman.

    2. Catat Jalur Bus TransJogja

    Akses ke Kotagede dari pusat Kota Jogja tergolong cukup mudah. Dari stasiun kereta api, kita hanya perlu mencari halte bus TransJogja terdekat, kemudian melanjutkan perjalanan dan turun di halte Tegal Gendu, Kotagede.

    Lokasi-lokasi wisata di Kotagede berada tidak jauh dari halte, sehingga bisa kita capai hanya dengan berjalan kaki.

    3. Kenakan Pakaian Sopan

    Sebagai wilayah bekas Kerajaan Mataram, kawasan wisata Kotagede sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, terutama dalam hal berpakaian. Untuk itu, sebelum berwisata ke Kotagede, pastikan kita sudah mengenakan pakaian yang sopan.

    Apabila sudah mempersiapkan semua rencana dengan matang, kini saatnya kita bersiap-siap membawa pulang cerita sejarah dari Kerajaan Mataram.

    Ada yang mau ikut liburan bareng saya ke Jogja?

  • Gohan Sushi Restaurant, Japanese Food, Seria, Brunei
    Foods and Places, Life in Brunei

    NgeRamen di Gohan Sushi

    Setiap Sabtu siang abis jemput kakak Cinta sekolah adalah waktunya jajan alias makan siang di luar. Karena cuma punya waktu 1 jam sebelum kakak masuk sekolah Ugama, pilihan tempat makan pun terbatas hanya yang ada di sekitar Seria Plaza.

    Kalau biasanya kakak Cinta yang menentukan jenis makanan apa yang ingin di santap, kali ini giliran papa yang memilih. Dan karena beliau ingin makan ramen, maka kami pun mencoba Gohan Sushi Restaurant, restoran Jepang yang baru buka cabang di Seria ini akhir tahun 2015 yang lalu.

    Gohan Sushi, Seria, Brunei, Japanese Food

    Gohan Sushi Restaurant Seria

    Seperti kebanyakan restoran Jepang di Brunei, Gohan Sushi ini sudah punya sertifikat halal. Jadi kami nggak waswas kalau mau pesan sushi dan aneka makanan khas negara matahari terbit itu.

    Kebetulan siang itu Gohan Sushi cukup sepi. Di dalam ruangan cuma ada satu keluarga selain kami yang kalau diliat dari seragam anaknya satu sekolah sama Cinta. Baru beberapa saat kemudian ada beberapa pelanggan lain yang datang.

    chuka wakame, gohan sushi, japanese food, restaurant, brunei, seria

    Gohan’s Chuka Wakame

    Setelah memilih-milih, kami memesan Chuka Wakame, rumput laut favorit keluarga, Niku Ramen dan Niku Spicy Ramen untuk saya dan suami, Tori Katsu Cheese dan Garlic Fried Rice kesukaan Cinta dan Keenan, plus 1 porsi Ninniku Gohan, sushi yang cuma terdiri dari nasi, tobiko (flying fish roe yang berwarna oranye cerah dan biasa disajikan pada sushi) plus sedikit cheese spread di dalamnya untuk Keenan. Sengaja pilih jenis sushi itu karena Keenan suka banget makan sushi tapi nggak suka isinya. Jadi kalau order sushi di tempat lain, biasanya nasinya dimakan Keenan nah isinya mama yang makan hihihi. Berhubung tadi ada menu itu ya udah coba aja deh.

    ninniku gohan, sushi, gohan sushi, japanese food, seria, brunei

    Ninniku Gohan

    Eh, ternyata dia suka lho menu sushi itu, begitu pula kakak. Cuma mereka kurang suka cheese spreadnya. Jadi pas makan bagian yang ada cheese spreadnya langsung dilepeh sama dia.

    Tori Katsu, Japanese Food, Gohan Sushi, Restaurant, Brunei, Seria

    Gohan’s Tori Katsu

    Sedangkan kakak lahap makan pilihan menunya. Karena porsinya lumayan banyak bisa berdua sama Keenan juga nasi gorengnya. Rasanya cukup enak, gurih tapi nggak terlalu garlicky gitu. Tori katsunya renyah di luar dan ngeju.

    ramen, niku ramen, gohan sushi, restaurant, japanese food, brunei, seria

    Gohan’s Niku Ramen

    Niku Ramennya enak! Kuahnya gurih dan segar. Mienya kurang berbumbu tapi justru pas dipadu dengan irisan daging tipis yang empuk dan gurih. Sukak pake banget deh. Nyicip versi pedesnya punya suami juga enak sih. Cuma saya lebih cocok yang original aja. Niku Spicy Ramen menurut saya cuma Niku Ramen yang dikasih banyak cabe bubuk hehehe.

    Oya, untuk menu ramen, Gohan ini punya banyak pilihan, mulai dari yang beef atau chicken broth base seperti yang saya pesan sampai tom yam dan kimchi soup base pun ada.

    Nah, minuman yang cocok untuk menemani si Ramen hangat di siang yang panas seperti kemarin ya apalagi kalau bukan Ocha dingin. Seger banget.

    Pokoknya siang itu kami bahagia. Selain makanan yang dipesan cocok di lidah, pelayanannya juga cepat dan ramah. Suasana tempat makannya terang dan nyaman. Total harga yang kami bayar juga nggak terlalu mahal, ya mungkin karena kami nggak pesan sushi ya. Tapi dengan menu segitu aja sudah bisa bikin perut kenyang kok. Kapan-kapan kalau waktunya lebih santai dan lagi pengen, kita coba deh sushinya. Ini aja saking keasikan makan akhirnya si Kakak jadi bolos sekolah Ugama. Maaf ya, Cikguuuu…

    Gohan Sushi Restaurant
    First Floor, No 23, Jalan Sultan Omar Ali, Seria
    Operating hours: 11am to 10pm daily.
    For enquiries, reservations or more information, call 8772377, 3221216 or 3221218.

  • Life in Brunei

    Baking is a Science

     photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

    Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

    Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

    Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

    Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

    Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

    Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

     photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

    Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

    Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

     photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

    Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

    Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

  • Life in Brunei

    Science Show at OGDC

    Science show at OGDC. Setiap main ke OGDC pasti ada ilmu baru yang didapat, baik dari lihat pamerannya atau pertunjukannya. Nah, hari ini kami dapat kesempatan dihibur dengan magic show ala science oleh pemandu OGDC.
     photo 87812420-C616-4460-AC68-D0198B68D358_zps9fmfqgqm.png

    Pada pertunjukan yang pertama, kakak pemandu menuangkan air ke dalam satu dari tiga gelas plastik yang tersedia. Kemudian ia menindahkan posisi gelas dan meminta anak-anak menebak gelas mana yang ada airnya. Setelah itu ia menuangkan satu per satu isi gelas ke telapak tangannya.

    Gelas pertama nggak ada airnya, begitu pun gelas kedua. Saat gelas yang ditunjuk anak-anak hendak dituang, mereka heboh berteriak, “No, don’t throw the water. We’ll get wet!” sambil melangkah mundur. Akhirnya isi gelas pun dituang ke telapak tangan kakak pemandu dan ajaib, nggak ada airnya. Wow!

     photo 17F6E958-754F-4A4B-BD89-6690A359B3B4_zpsldhqrl1x.jpg

     photo 40EB9BB3-2D88-4F44-BB64-05A134AE187A_zpsnnz0xyaa.jpg

    Setelah diperlihatkan dalamnya air yang tadi dituang ke dalam gelas sudah berubahmenjadi benda padat yang lengket. Ternyata di dalam gelas sudah ada bahan yang bisa menyerap air dan mengubahnya menjadi benda padat. Sayang saya nggak mendengarkan nama bahannya dengan jelas karena sibuk menemani Keenan main. Sementara anak-anak saking kagumnya juga lupa namanya.

    Percobaan kedua adalah menusuk balon dengan tusukan sate. Pada balon  yang pertama begitu disentuh tusuk sate langsung meletus. Tapi pada balon yang kedua, tusuk sate bisa dengan sukses masuk ke dalam balon tanpa membuatnya meletus. Magic!

     photo 3F7034A9-0ECA-4FF8-880A-0593C0A48C22_zpscwfa9gw6.jpg
     photo 4EA466D7-AAF0-4ACC-8B78-39E3D7177819_zpscjmeq3th.jpg

    Ternyata triknya adalah dengan memasukkan tusuk sate pada bagian balon yang paling tidak melar, yaitu di dekat ikatannya. Pada bagian itu balon bisa dengan lentur mengikuti tusuk sate sehingga terciptalah sate balon. Hehehe.

    Nah, pada pertunjukan ketiga, kakak pemandu mengeluarkan mainan ringan dari bulu dan benda yang terbuat dari susunan gelas styrofoam. Anak-anak ditantang untuk menerbangkan mainan bulu melalui benda tersebut yang lagi-lagi nggak saya perhatikan nama ilmiahnya. Ternyata dengan meletakkan bulu di bawah tabung itu menggoyangkan tabungnya, bulu bisa keluar dari atas tabung.

     photo CF83ED42-6207-4A6F-A6B2-2F8B582F10F3_zpsapwvdqxh.jpg

    Jadi dengan menggoyangkan tabung tersebut, terciptalah tornado skala super mini yang bisa menerbangkan benda-benda ringan. Simpel ya sebenarnya.

    Lumayan juga ilmu yang didapat hari ini. Serunya lagi, semua itu bisa dipraktikkan dengan benda-benda yang ada di rumah. Yuk, ikutan mencoba bareng anak-anak. Pasti mereka senang.

    Gambar diambil dari: Realego.com. Diedit menggunakan aplikasi PicLab HD.

  • Foods and Places, Life in Brunei, Traveling

    Rescue Exhibition OGDC

    Tanggal 15 Februari yang lalu, memenuhi janji ke kakak Cinta, akhirnya kami ke OGDC lagi. Kali ini untuk lihat Rescue Exhibition yang berlangsung selama bulan Februari 2015.

    Mengingat pengalaman sebelumnya jujur saja saya tidak berharap banyak, secara tempatnya tidak terlalu besar dan isinya tidak terlalu banyak. Tapi ternyata dengan membeli tiket seharga B$ 5 untuk dewasa dan B$2 untuk anak-anak mulai usia 5-12 tahun, banyak kesenangan yang kami dapatkan di sana.

    Dimulai dengan sambutan sebuah robot mini di area masuk pameran, kami pun memulai keseruan hari itu. Simulator yang pertama kami coba adalah Fire Rescue, di booth tersebut tersedia empat macam alat pemadam kebakaran disertai keterangan yang digantung di dinding bahwa setiap kebakaran yang penyebabnya berbeda hanya bisa dipadamkan dengan alat tertentu. Di layar besar, saya dan Keenan pun mencoba bermain memilih mana alat pemadam yang cocok untuk jenis kebakaran yang tertera di layar, ternyata cukup menyenangkan, terutama buat Keenan yang asik naik turun sambil mencoba keempat alat pemadam tersebut.

    Setelah itu Cinta memanggil adiknya dan mengajak Keenan untuk bergabung dengannya di kolam bola berwarna biru yang dilengkapi dengan perahu karet. Pura-puranya itu adalah simulasi usaha menyelamatkan korban yang mengalami kecelakaan di laut. Ya senenglah anak-anak, berkali-kali turun ke kolam lalu naik ke perahu, bergantian menarik yang masih di kolam untuk masuk ke dalam perahu.

    Bosan di kolam bola, kami menuju booth stasiun TV yang dilengkapi dengan meja reporter dan green screen. Di situ kami bisa memilih menjadi pembawa berita atau reporter. Dengan membaca teks yang sudah disiapkan aksi kita bisa dilihat di layar televisi di booth tersebut. Hahaha lumayan lah, menyalurkan cita-cita sebagai news anchor yang gagal :))

    Puas berpura-pura jadi reporter, kami memasuki semacam smoke room, sebuah kamar yang gelap dan penuh asap sebagai tiruan ruangan yang sedang terbakar. Keluar dari kamar ada salah satu game yang jadi favorit banyak orang. Wave Rescue!. Duah buah personal watercraft dan sebuah layar besar siap dimainkan oleh para pengunjung.

    Bagi pengunjung yang suka memanjat disedikan juga wall climbing kecil untuk latihan Vertical Rescue. Ini mah senengan bapaknya anak-anak dan beberapa anak dan remaja laki-laki. Mereka asik memanjat dinding tersebut dan berpindah dari satu sisi ke sisi lain.

    Sementara anak bayi suka banget sama simulasi Helicopter Rescue yang lagi-lagi dilengkapi dengan permainan di layar besar. Helikopter yang dilengkapi sensor panas untuk mendeteksi adanya kebakaran dari udara ini bikin Keenan nggak bisa move on mainan setir sambil ngeliatin layar raksasanya. Sementara kakaknya sudah berkeliling melihat-lihat permainan yang lain.

    Selain berbagai alat menarik tersebut, penyelenggara pameran juga menyediakan tiruan ruangan tim pemadam kebakaran lengkap dengan kostum yang bisa dipakai, layar-layar kecil berisi aktivitas interaktif yang memberikan aneka informasi seperti barang-barang apa saja yang perlu dibawa saat dalam misi penyelamatan, cara menangani pasien dan lain-lain.

    Petualangan hari Minggu pun diakhiri dengan memberi makan ikan di kolamnya, OGDC. Hanya dengan membeli pakan ikan di kantin OGDC seharga 50 sen sekantung kecil, anak-anak puas mengenal makhluk-makhluk dalam kolam. Ah, terima kasih OGCC, kami tunggu pameran-pameran seru selanjutnya.

    Foto-foto lain dari OGDC Rescue Exhibition 2015

     

    Cinta belajar jadi reporter dan pembawa berita kebakaran.