Browsing Tag:

flash fiction

  • Uncategorized

    Prompt #15: Sahabat

    “Untuk apalagi sih kamu datang ke sini?”

    Aku mendengar suara gusar bunda. Bergegas kuturuni tangga untuk menuju asal suara.

    “Aku ingin menemui kalian. Menengok keadaan si kecil.”

    Hmmm… Suara itu lagi. Akhir-akhir ini semakin sering kudengar suara itu beradu pendapat dengan bunda. Tapi tak pernah sempat kulihat sosoknya.

    “Rasti bukan anak kecil lagi. Dia sudah SMA. Sudahlah berhentilah menemui kami.” Geram bunda.

    “Aku hanya ingin memintakan maaf untuknya, Rani. Masih tak sudikah kau memaafkannya?”

    “Untuk semua yang telah ia perbuat pada kami? Aku dan Rasti?!” Sentak bunda.

    “Baiklah, aku akan pergi. Tapi terimalah ini Rani. Pasti sangat berguna untuk pengobatanmu.”

    “Sudah tak ada gunanya lagi, Joe. Semua sudah terlambat. Aku tinggal menghitung hari.” Suara bunda melemah.

    Aku mempercepat langkah menuju pintu. Kali ini harus bisa kutemui lelaki itu sebelum bunda mengusirnya seperti biasa.

    “Pergilah, Joe. Jangan datang lagi. Sudah cukup sampai di sini. Toh sudah tak ada lagi hubungan di antara kita. Dia sudah pergi. Sebentar lagi akupun menyusul.” Isak bunda sambil menutup pintu. Sekilas kulihat lelaki itu akan beranjak pergi.

    “Om! Tunggu!”

    Bunda dan lelaki itu terkejut mendapatiku sudah berada di antara mereka.

    “Siapa dia, Bun?” tanyaku. “Kenapa dia selalu datang dan Bunda selalu mengusirnya?”

    Kulihat mereka berpandangan. Bunda menghela nafas.

    “Om ini sahabat ayah, Ras. Karena dialah ayah meninggalkan kita.”

    “Maksud Bunda?”

    “Maafkan aku Rasti. Tapi aku dan ayahmu sudah saling mencintai sejak ia belum bertemu Rani, ibumu. Aku tahu ia bahagia hidup dengan kalian tapi ternyata cinta itu tak pernah hilang. Aku…” Ucapnya lemah.

    “Cukup, Joe!” Potong bunda.

    Aku tercekat. “Lalu di mana ayah sekarang?”

    “Dia sudah meninggal sebulan lalu. Karena penyakit yang ia tularkan pada ibumu. Penyakit yang ia dapat dariku. Seharusnya Seno bisa hidup lebih lama. Tapi rasa bersalahnya pada kalian makin menggerogoti tubuhnya. Tolong maafkan dia ya, Ras. Doakan agar ia tenang di kuburnya.” Pinta lelaki itu sebelum melangkah pergi.

    Aku terdiam. Kutatap wajah bunda yang pucat. Kuraih tangannya yang kini makin kurus.

    Maafkan aku, Bunda. Aku baru tahu seberat ini beban yang Bunda tanggung sejak ayah pergi 5 tahun yang lalu. Sejak itu aku membencinya. Aku benci semua laki-laki. Hanya pada Dita sahabatku hatiku berlabuh. Maafkan aku, Bunda. Mohon jangan salahkan aku jika sejarah berulang.

    380/500

    Ditulis untuk Prompt #15 Monday Flash Fiction

  • Uncategorized

    Kamu dan Lelakimu

    Kamu yang sedang termenung di teras rumah, memandangi langit malam yang tak berbintang. Riang menanti kedatangan lelakimu.

    Lihatlah, minidress warna salem yang kau kenakan, serasi sekali dengan kulit putihmu. Pulasan lipstik tipis menyegarkan wajahmu yang lelah setelah seharian berkutat dengan meeting. Dua porsi lasagna bikinanmu sudah terhidang di meja makan. Hangat. Semua demi menyenangkan lelakimu.

    Ya, hari ini dia berjanji datang ke rumahmu. Kau tak sabar untuk bisa bercengkerama berdua, bercerita tentang sepinya hari tanpanya, berkisah tentang rindu yang tertahan. Apa? Oh, kamu berharap malam ini dia akan mengajakmu pergi. Tentu kau tak sabar ingin memamerkan lelaki tampan itu pada dunia. Membuat iri perempuan lain atas keberuntunganmu.

    Hei, kenapa tiba-tiba raut wajahmu berubah sendu setelah menerima telfon? Apakah dia tak jadi datang? Ah, yaaa… Kali ini kau harus mengalah lagi. Ada pilu di senyummu saat berkata, “Ya sudah, tak apa. Mereka memang lebih penting dariku. Tapi datanglah esok ya, aku rindu,” pintamu menahan isak.

    Hhhhh… Lagi-lagi begini, sampai kapan kau akan bertahan?

    Pikiranmu melayang, menyusuri sebuah kenangan di suatu waktu.

    Aku mencintaimu, sayang.

    Bagaimana dengan dia?

    Ah, aku menikahinya karena terpaksa. Ia hamil padahal aku tak serius dengannya.

    Lalu, kenapa tak kau ceraikan saja dia? Dan hidup bersamaku. Kamu pasti akan lebih bahagia bersamaku.

    Aku tak bisa, cintaku.

    Kenapa?

    Bagaimana dengan anak-anakku? Hidupku? Dia pernah berkata jika aku pergi aku akan kehilangan semua. Lagipula penghasilannya lebih besar dariku. Bagaimana aku mampu hidup tanpanya?

    Tapi percayalah, sejak bersamamu tak pernah aku menyentuhnya lagi. Hatiku, tubuhku, jiwaku, hanya untukmu.

    Lelakimu menutup pembicaraan malam itu dengan menciumi tanganmu, lehermu, lalu bibirmu, dan kamupun terbuai dengan cumbunya. Senyummu lebar, penuh kebahagiaan. Ya, kamu menang. Kamulah cinta sejatinya, bukan perempuan itu. I’m a happy mistress, pikirmu waktu itu.

    Tapi malam ini kamu mulai ragu, mungkinkah ia benar mencintaimu. Atau hanya ucapan manis di bibir untuk mendapatkanmu, seperti ia membuai ibu dari anak-anaknya dulu.

    Gambar diambil dari sini.

  • Babbles

    Pertemanan Maya

    womens-group-735907_1280

    Perempuan itu menghela nafas panjang, hatinya gundah, jemarinya lincah bermain di atas keyboard netbook, menuliskan beberapa baris komentar di blog temannya. Percakapan virtual hari ini terasa begitu panas, sebuah topik dilemparkan dan memicu banyak reaksi positif dan negatif. Entahlah, batas antara bangga dan pamer memang tipis sekali.

    Ia baru tahu kalau ada yang menganggap menulis di jejaring sosial merupakan sebuah persaingan. Si A bisa begini, si B abis beli itu, si C masak anu. Gerah ia melihat pergaulan di dunia maya sudah mirip dengan di dunia nyata. Padahal inilah tempat pelariannya dari kumpulan tetangga yang suka bergunjing.

    Ah, ibu-ibu. Berteman dengan mereka memang rumit. Ngomongin anak tetangga yang diasuh babysitter aja bisa jadi awal perang dunia.