Browsing Tag:

family

  • Daily Stories

    Birthday Celebration 2.0

    Alhamdulillah, nggak terasa Cinta udah umur 4 tahun tanggal 17 Juni 2011 kemarin. Rasanya baru kemarin menerima bayi mungil yang baru dipotong tali pusarnya dari tangan suster lalu memeluknya erat di dada sambil dibisikkan adzan oleh suami. Sepertinya belum lama berjuang memberi ASI sambil melawan baby blues dan belajar memasak MPASI untuk Cinta. Masih segar di ingatan juga menyaksikan dia melangkah sendiri untuk pertama kalinya, berlari, berenang dan masih banyak lagi. Kini bayi mungil itu sudah tumbuh jadi anak cantik kebanggaan saya, yang memberikan banyak pelajaran bagaimana menjadi orang tua.

    Tahun ini ulang tahun Cinta kami rayakan sederhana saja di rumah, rencana awal untuk potong kue di sekolah terpaksa dibatalkan karena H-1 dapat berita dari gurunya Cinta kalau sekolah diliburkan. Namun berhubung kue dan souvenir sudah dipesan dan daripada mubazir, akhirnya kami memesan nasi kuning beserta lauknya untuk dibagikan ke tetangga dengan souvenirnya.

    Pada perayaan ulang tahun ke-4 ini juga cukup berdua aja karena tempat tinggal kami sekarang jauh dari keluarga, sedangkan suami sudah kembali bertugas di Brunei. Tapi yang namanya teknologi memang sangat membantu dalam mendekatkan long distance family seperti kami ini. Berkat Skype kami bisa tiup lilin dan potong kue sambil disaksikan papanya via video call.

    Awalnya sempat nyaris batal karena si Papa lupa membawa webcam-nya ke kantor tapi untung aplikasi Skype yang ada di iPhone suami bisa dibuat video call. Yaaaiiiy, jadilah perayaan ulang tahun versi 2.0 alias cyber birthday celebration. Menyenangkan lho, si Papa bisa ikut nyanyi bareng dan melihat Cinta tiup lilin. Kami juga bisa merasakan kehadiran suami di tengah-tengah kami meski cuma berupa tampilan video.

    Ditambah lagi ucapan ulang tahun dan doa yang tak berhenti mengalir dari keluarga dan teman-teman via telpon, sms, BBM, Facebook bahkan Twitter. Benar-benar terharu, meski kami cuma berdua dan jauh dari mereka tetap perhatiannya nggak berkurang.

    Selamat ulang tahun Cinta, semoga selalu menjadi anak yang baik, sehat, makin pintar, mandiri dan dewasa. Tetaplah menjadi cahaya indah yang menerangi hati mama dan papa seperti namamu yang berarti “anak kami yang diharapkan bisa bersinar seindah bulan”. Jadilah pribadi yang selalu mencintai dan mudah dicintai sesuai panggilan kesayangan kami untukmu. I love you, bebito.

     

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Lewat Lagu

    Sejak bayi, Cinta paling suka kalau diajak “ngobrol” dengan suara yang dilagukan seperti bernyanyi, ngaji atau dibacakan doa-doa dan surat pendek. Jadi meskipun saya ini buta nada dan bersuara fals nggak mengurangi kepercayaan diri ketika bernyanyi untuk Cinta, apalagi menurut beberapa sumber yang pernah saya baca, bagi bayi suara ibunya adalah suara yang paling merdu. Yah, walaupun fals kan nyanyinya penuh cinta ya ngeles.

    Saya sendiri yang awalnya cuma nyanyi lagu-lagu anak yang sudah umum sebagai cara berkomunikasi dan menghibur Cinta, akhirnya jadi iseng mengganti lirik lagu-lagu itu dan menjadikannya sarana penyampai pesan atau belajar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kami saat itu. Misalnya lagu Nina Bobo yang sudah sangat kondang itu, diganti liriknya jadi “Cinta bobo… oh Cinta bobo, hari sudah malam, waktunya tidur. Bobo bobo Cintaku sayang, besok pagi kita bermain lagi” untuk mengenalkan konsep pagi dan malam.

    Lagu yang sama juga bisa diganti liriknya menjadi, “Cinta cantik, oh Cinta pintar, kalau sudah besar jadi anak sholehah. Mama sayang dan papa sayang, anak baik hati si Nadja Aluna” sebagai doa sekaligus menanamkan afirmasi positif. Dua lagu itu jadi lagu pengantar tidur wajib dan kesukaan Cinta sejak dia masih bayi banget. Selain itu juga bisa menenangkan saat saya sudah lelah, sedih dan marah karena Cinta yang kolik suka nangis nggak brenti-brenti waktu malam. Dengan menyanyikan lagu itu sambil mengayun-ayunkan dia di gendongan, saya bisa ikut tenang. Dan ketika saya tenang, biasanya Cinta juga ikut berhenti nangis lalu tertidur. See, bahkan sebuah lagu sederhana pun bisa membawa efek yang luar biasa.

    Saat ingin menyampaikan sesuatu seperti pentingnya gosok gigi, asiknya mandi dan sudah kehabisan cara karena dikasih tahu tetap nggak mau mandi misalnya, saya ajak aja nyanyi lagu “Aku Gigi” yang jadi jingle Pepsodent atau “Bangun tidur”. Sering juga mengganti lirik lagu Mandi Pagi menjadi “Mandi pagi cibang cibung, pakai sabun asik banget. Cuci muka, gosok badan, jangan lupa pake shampo.” Kalau lagi belajar mengenal huruf dan membaca selain menyanyi lagu “ABC” yang sudah umum itu, kami juga suka bernyanyi lagu “I N I ini, I B U ibu, B U bu D I di Budi, dibaca Ini Ibu Budi” Kadang kami mengarang lagu sendiri dengan nada suka-suka sesuai dengan abjad dan kosakata yang lagi dipelajari. Jadi aneh emang, maklum wong bukan komposer lagu tapi tetap seru lho. Lagipula bernyanyi bisa bikin suasana ceria buat kami berdua dan aktivitas jadi sangat menyenangkan.

    Karena terbiasa bernyanyi, mendengar lagu dan mengganti-ganti lirik lagu, Cinta jadi suka juga melakukan hal serupa. Musik yang sekali dua kali dia dengar bisa diganti-ganti liriknya sesuai apa yang sedang dia pikirkan. Cinta juga pede aja nyanyi lagu ciptaannya sendiri di depan orang banyak sambil nari-nari a la ballerina. Nggak nyangka deh, dari aktivitas sederhana seperti bernyanyi dengan hati bisa mengasah kreativitas, keberanian dan kepercayaan diri.

    Belakangan saya baru tahu kalau informasi yang disampaikan lewat lagu dan musik lebih mudah dicerna dan diingat oleh bayi dan balita. Mungkin nih ya karena saat bernyanyi kita biasanya dalam keadaan senang dan (mengutip kata-kata ibu Elly Risman) otak menyerap lebih banyak saat hati senang. Jadi jangan heran kalau anak lebih banyak diajak menyanyi dan menari sama guru-gurunya di kelompok bermain dan taman kanak-kanak, karena itu memang cara belajar yang paling efektif sekaligus menyenangkan. Kok bisa? Secara ilmiahnya, tingkat konsentrasi anak-anak usia balita masih rendah dan mereka mudah sekali teralih perhatiannya ke hal-hal yang lebih menarik. Nah dengan menyanyikan sebuah lagu yang sesuai dengan tema pelajaran membuat anak jadi tertarik untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

    Bernyanyi sama anak juga bisa meningkatkan ikatan batin antara orangtua atau pengasuh dengan anak lho. Serta membuat anak merasa nyaman akan dirinya sendiri karena mereka bisa mengekspresikan perasaan dan melatih komunikasi. Jadi lupakan suara fals, anak nggak peduli kok, yang penting bersenang-senang bersama. Mari bernyanyi 🙂

  • Family Health, Foods and Places

    Klinik Anakku BSD

    Klinik Anakku BSD

    Hari Sabtu kemarin, karena Cinta makin lemas dan demamnya sampai 40 derajat Celcius, akhirnya saya memutuskan untuk bawa Cinta ke dokter. “Hah, batuk pilek demam aja ke dokter? Baca lagi dong guidelinesnya. Common cold nggak perlu ke dokter. Nanti juga sembuh sendiri!” Wuah, iya deh… Gini ya, menurut saya meski udah hafal guidelines common problems in pediatric tapi ya namanya saya bukan dokter, pengen dong konsultasi sama yang ahlinya. Setidaknya untuk memastikan dugaan saya kalau batuk pilek demamnya Cinta itu memang cuma common cold. Lagipula apa salahnya sih diskusi sama dokter? Yang penting kita udah punya pegangan jadi enak nanya-nanya ke dokternya.

    Nah, karena deket rumah nggak ada dokter anak yang bagus akhirnya hunting dokter spesialis anak di sekitaran BSD. Awalnya sih mau ke Eka Hospital tapi takutnya hari Sabtu nggak ada yang praktek. Lagipula agak malas juga kalau harus ke RS karena pengalaman suka banyak banget pasiennya, antri dokter sama antri obat bisa berjam-jam. Keburu makin lemes deh ah si Cinta.

    Memang sih kalau cuma common cold juga bisa periksa di dokter umum dan di kompleks ada dokter umum langganan para ibu yang anaknya sakit. Jadi mestinya bagus dong ya. Tapi saya masih belum sreg nih karena belum pernah bawa Cinta periksa di dokter umum selain ke UGD dulu karena demam tinggi.

    Lantas saya ingat kalau nggak salah ada klinik khusus untuk anak di BSD dan setelah browsing nemu Klinik Anakku. Klinik ini lokasinya di Ruko Golden Madrid 2 Blok I-8, Jl. Letnan Sutopo (depan Pasar Modern BSD). Untuk memastikan bahwa ada dokter yang praktik, saya telpon dulu ke nomor 021-531 64830 dan 021-7091 3227. Alhamdulillah, bagian pendaftarannya memastikan kalau dokter praktik sampai jam 11.

    Begitu sampai di sana ternyata kliniknya sepi, jadi sambil nunggu saya daftar, Cinta bisa main di ruang tunggu. Permainannya nggak banyak sih, cuma lumayan lah daripada lu manyun 😀 eh, maksudnya cukup menghibur. Kalau malas main juga bisa nonton TV. Berhubung pasiennya cuma kita, abis daftar langsung diajak ke ruang praktik dokter di lantai 2. Setelah ditimbang dan ditanya keluhannya oleh suster, kita masuk kamar periksa.

    Ruang periksanya khas ruang periksa dokter spesialis anak. Dinding bercat terang, wallpaper Pooh, tempat tidur beralas lucu dan penuh boneka di atasnya. Di meja dokter juga ada mainan-mainan yang berjejer, bahkan stetoskopnya dikasih sarung yang ada bonekanya. Dekorasi seperti itu bikin anak nyaman dan mungkin bisa sedikit berkurang rasa takutnya.

    Dokternya sendiri ramah dan mau berkomunikasi dengan Cinta, minimal tanya nama, umur, sekolah, dan ngobrol sedikit untuk mencairkan suasana gitu lah. Abis ngomong ama Cinta, beliau tanya tentang gejala yang dialami Cinta. Sempat kaget juga begitu saya kasih tahu kalau demam sampai 40 der C, ditanya kejang nggak. Ya Alhamdulillah sih nggak pakai kejang demam. Waktu periksa pun Cinta nggak disuruh tiduran, cukup duduk di atas tempat tidur, jadi dia nggak tegang. Begitu selesai diperiksa, dokter bilang cuma batuk pilek dan ada radang lalu menuliskan resep *nyengir*. Cinta langsung bilang, “bu dokter, obatnya jangan yang pahit ya. Cinta nggak suka.” Beliau dengan ramah menjawab, “Oh, enggak kok. Nanti ada yang rasa jeruk ya obatnya.” Eh, dibalas lagi sama Cinta, “Maunya yang rasa blueberry muffin aja bu dokter, sama Stimuno.” Yang dijawab, “Yah, kalau Stimuno nanti lama sembuhnya.” Hihihi, ada-ada aja si Cinta.

    Sambil menunggu dokter nulis resep saya tanya obat apa aja yang dikasih dan seperti dokter pada umumnya, beliau cuma bilang obat buat batuk, pilek dan demam berupa puyer plus antibiotik buat radangnya dan ibuprofen untuk demam. Lagi-lagi, saya cuma nyengir aja karena lagi males ngobrol panjang lebar. Yang penting saya tahu kalau memang gejala yang dialami Cinta itu common cold aja.

    Abis periksa turun ke bawah, nunggu obat yang langsung diambil di situ. Begitu selesai dicek oleh apoteker, saya bayar sekitar Rp 250,000.00 untuk dokter dan obat plus bonus majalah Anakku karena Cinta adalah pasien baru. Cinta pun main lagi sambil nunggu obat selesai diracik. Bosan main, dia liat-liat etalase di situ yang memajang mainan. Sedangkan saya asik liat lemari yang isinya buku-buku tentang parenting dan kesehatan. Ternyata nggak terlalu lama nunggu obatnya. Sekitar 15 menit aja udah bisa diambil.

    Well, overall sih pelayanan dan tempatnya cukup bagus dan cepat ya.  Buat saya yang penting nggak terlalu ramai, sehingga antrinya nggak terlalu lama dan bikin capek. Biaya yang dikeluarkan juga standar lah. Soal dokter dan obat-obatan, kalau memang kepengin yang rational use medicine ya harus kitanya yang cerewet nanya-nanya. Sekalian “ngasih tahu” dokter kan kalau pasien sekarang udah punya sedikit ilmu dan bisa diajak diskusi.

  • Foods and Places, Traveling

    Serunya Main di Paradise Dreamland

    Berhubung hari Rabu Cinta nggak sekolah, mulai dari Selasa malam saya udah sounding mau ngajak Cinta berenang. Seneng banget dia dan langsung semangat nyiapin baju renang dan pelampung untuk besok paginya. Bangun tidur sebenarnya Cinta udah batuk-batuk tapi karena udah janji, saya tanya Cinta masih mau berenang atau mau istirahat di rumah aja. Dia bilang tetap mau berenang tapi nggak lama-lama. Okelah, mari berangkat kalau gitu. Awalnya Cinta minta berenang di Sport Centernya Bukit Dago, tapi ternyata lagi rame dipakai sama anak sekolah. Akhirnya meski dengan berat hati dia setuju untuk pindah ke kompleks sebelah, Serpong City Paradise.

    Swimming Pool

    Di SCP ada yang namanya Paradise Dreamland, isinya kolam renang dan playground gede. Meskipun jaraknya cuma 10 menit dari rumah dan sering banget lewat di depannya tapi baru kali itu kami main di sana. Kolam renangnya bagus dan bersih. Ada kolam dalam untuk orang dewasa (tapi nggak terlalu dalam juga sih, paling 145 cm), kolam dangkal untuk anak-anak dan whirpool. Berhubung hari itu nggak terlalu banyak pengunjungnya, hawanya juga belum terlalu panas ditambah alunan musik yang enak didengar, kami betah berlama-lama berenang di sana.

    Abis berenang langsung bersih-bersih dan ganti karena Cinta minta main di playground yang ada di sebelah kolam renang. Ruang gantinya sendiri bersih, terang dan nyaman. Selain ada shower, kamar mandi dan bilik ganti juga ada loker-loker buat nyimpen tas dan sepatu. Buat saya yang agak cerewet soal ruang ganti dan kamar mandi, langsung mengacungkan jempol sama ruang ganti Paradise Dreamland ini.

    Giant Playground

    Begitu selesai, kami langsung menuju  tempat main raksasa. Cinta senang sekali liat arena permainan yang banyak. Dia nyobain satu-satu, bahkan tempat yang tinggi sekalipun. Mamanya aja yang deg-degan nungguin di bawah. Bosan main di situ, pindah ke tempat ayunan, panjat dinding, jungkat-jungkit dan masih banyak lagi. Kalau nggak karena matahari yang mulai panas, Cinta mungkin nggak mau pulang saking asiknya menjelajah satu per satu permainan di situ.

    Total biaya yang kami keluarkan untuk main dan minum (makan bawa bekal dari rumah karena takut di sana nggak ada yang jual jajanan. Tapi ternyata ada booth spaghetti dan burger) juga nggak terlalu mahal. Tiket terusan kolam renang + giant playground untuk umum di hari kerja Rp 17,000.00/orang. Jadi untuk 2 orang plus 1 kotak Happy Jus dan 1 Teh Kotak, saya keluar uang nggak sampai Rp 50,000.00. Kalau mau main di playground aja biayanya Rp 5,000.00/orang di hari kerja dan Rp 6,000.00/orang di hari Sabtu, Minggu/libur nasional. Sedangkan untuk berenang aja bayar Rp 15,000.00/orang pas weekdays dan Rp 21,000.00/orang pas weekend dan hari libur nasional.

  • Life as Mom, Parenting

    Komunikasi dalam Mengasuh Anak

    Mama: “Dedek, jangan loncat-loncat di tempat tidur nanti jatuh.”
    Dedek: *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 3 oktaf* “Dedek, mama bilang jangan loncat-loncat di tempat tidur! Nanti kamu jatuh!”
    Dedek: *cengar cengir* *tetep loncat-loncat di tempat tidur*
    Mama: *suara naik 10 oktaf* “Dedeeeeeeek! Dikasih tau kok nggak mau denger sih! Awas ya nanti kalo jatuh mama nggak mau nolongin! Anak kok bandel amat!”
    Dedek: *brruuukkk… jatuh* *nangis* “Huaaaaa sakit ma… Sakit”
    Mama: “Nah, kan mama bilang apa. Sudah dikasih tahu nggak boleh loncat-loncat. Salahnya sendiri nggak mau dengerin. Jatuh kan sekarang. Kualat kamu sama mama!”
    Dedek: *nangis makin kenceng* “Sakit maaaaa…”
    Mama: “Aaah, cuma gini aja kok. Nggak sakit ini. Sini mama kasih obat luka.”
    Dedek: “Nggak mau obat luka, Ma. Pediiiiih. Sakit. Nggak mauuuu.”
    Mama: “Eh, sini mama kasih. Ntar tambah parah lho lukanya. Mau kamu? Sakit sedikit. Besok juga sembuh! Makanya kalau dikasih tahu orang tua itu didengerin. Kapok kan kamu sekarang!”

    Ternyata keesokan harinya luka si Dedek belum sembuh, dia bingung karena kata mamanya besok lukanya sudah sembuh tapi kok belum. Trus katanya nggak sakit. Lalu yang sakit itu yang seperti apa. Udahlah dimarahin, diancam, dicap bandel, didoain jelek, dibohongin lagi.

    Hmmm… Familiar nggak sih sama kejadian kaya gitu? Honestly, saya juga pernah ngomong gitu ke Cinta tapi nggak pake acara kualat, sukurin lho… 2 kalimat pertama lah. Tahu nggak kalo dalam kalimat-kalimat yang diucapkan si Mama ke Dedek itu mengandung banyak sekali kesalahan komunikasi yang bisa mempengaruhi konsep diri si Dedek kelak? Serius? Iya, begitulah kata Bu Elly Risman dalam Seminar Pengasuhan Anak yang bertema “Komunikasi Pengasuhan Anak” yang diselenggarakan oleh komunitas Supermoms Indonesia, hari Sabtu, 26 Februari 2011 yang lalu.

    Selama mengasuh anak, seringkali kita melakukan kekeliruan dalam komunikasi. Mostly sih nggak sengaja, ya karena kebiasaan sehari-hari begitu, karena cara orangtua kita dulu berkomunikasi dengan kita ya seperti itu. Padahal kekeliruan itu bisa berakibat fatal terhadap perkembangan kepribadian anak. Antara lain bisa:

    • Melemahkan konsep diri
    • Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerjasama
    • Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
    • Kemampuan berfikir menjadi rendah
    • Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
    • Iri terus

    Kalau kita kembali ke percakapan di atas udah ada berapa banyak kesalahan komunikasi yang dibuat si Mama ya? Ada ancaman, memberi cap/label, meniadakan perasaan anak, berbohong, dll. Padahal itu baru 1 kejadian lho. Bayangkan berapa banyak hal yang kita alami selama 1 hari. Anak telat bangun tidur padahal harus sekolah, kita omelin. Anak pulang sekolah dengan muka kusut karena dibully temannya, capek, banyak PR bukannya disambut dengan senyuman, disuruh makan dulu, ditanya baik-baik eeeeh diomelin cuma karena nggak lepas sepatu dan ngotorin lantai rumah yang sudah kita pel sampe mengkilat. Ulangan anak dapat nilai 80 kita marahin karena kita pengennya dia dapet 100, lha padahal dari 20 soal itu dia betul 16 lho, cuma salah 4. Kenapa nggak kita apresiasi dulu keberhasilannya menjawab 16 soal yang mungkin kita juga belum tentu bisa jawab itu. Baru pelan-pelan ditanya 4 soal yang salah. Bila hati senang, otak menyerap lebih banyak lho. Anak yang bahagia biasanya lebih baik prestasinya, lebih bagus konsep dirinya, lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

    Bukan mau nakutin nih, tapi kata Ibu Elly Risman, anak jaman sekarang itu udah kebanyakan beban yang bisa bikin mereka bored, lazy, angry/affraid, stress, tired (BLAST). Keharusan mempelajari 16 mata pelajaran di sekolah yang mungkin belum tentu ia butuhkan untuk kelak bertahan hidup, hanya dinilai berdasarkan nilai yang berupa angka adalah sedikit dari penyebab BLAST itu. Belum lagi ketidakpedulian orang tua akan perasaan dan kebutuhan anak, yang penting nilai harus bagus, peer pressure dan masih banyak lagi bisa menimbulkan banyak masalah yang tidak terpecahkan, antara lain: pacaran di usia dini, seks bebas, aborsi, putus sekolah, nikah muda, bercerai, narkoba, HIV/AIDS.

    Jadi kita musti gimana dong? Semua itu berawal dari komunikasi. Yuk, kita perbaiki gaya komunikasi kita dengan anak dan pasangan dengan cara:

    1. Bicara jangan tergesa-gesa. Ajak anak untuk belajar membuat rencana, belajar berpikir, memilih dan mengambil keputusan supaya dia bisa mandiri dan bertanggungjawab. Misalnya: tiap minggu bikin daftar menu, kakak mau sarapan pake apa, adik apa. Lalu ajak mereka untuk berbelanja, suruh pilih sendiri bahan-bahan yang mereka perlukan untuk sarapannya selama 1 minggu itu. Konsekuensinya kalau suatu hari dia nggak mau makan apa yang sudah dipilihnya ya biarin aja.
    2. Belajar untuk mengenali diri kita dan mengenali lawan bicara kita (anak, suami, ART, ortu, saudara, tetangga, teman kerja). Coba kita lihat diri kita sendiri, apakah pola asuh orangtua kita dulu memberikan efek positif atau negatif. Seandainya kita diperlakukan seperti contoh di atas, gimana perasaan kita.
    3. Ingat: setiap individu itu UNIK. Iyalah kita aja pasti nggak suka kan kalo pasangan banding-bandingin kita sama istri temennya. Nah, anak juga begitu. Jangankan sama anak tetangga, yang keluar dari rahimnya bareng alias kembar aja beda.
    4. Pahami bahwa Kebutuhan dan Kemauan: BERBEDA. Seringkali kita memaksakan kemauan kita kepada anak, padahal apa yang dia butuhkan bukan itu. Contoh sederhana ketika anak bilang,
      Anak: “Haus ma,”
      Mama: “Minum susu.”
      Anak: “Nggak mau susu, ma. Es teh aja, aku pengen yang seger-seger.”
      Mama: “Eh, mama bilang minum susu. Ntar kuntet kamu nggak mau minum susu!”
    5. Baca bahasa tubuh: ketahui bahwa action speaks louder than words dan bahasa tubuh nggak pernah bohong. Misalnya: anak pulang sekolah mukanya cemberut, buka sepatu sambil dilempar. Kita tanya, “Kenapa kak?” Dia jawab, “Nggak papa!” lantas masuk kamar sambil banting pintu. Itu bukan berarti dia beneran nggak apa-apa lho. Pasti kenapa-kenapa. Dan kita nggak boleh cuek.
    6. Dengarkanlah perasaan. Tandai pesan yang terlihat, jangkau rasa, buka komunikasi, namain perasaan yang tampak pada pesan itu. Misalnya dalam kasus no. 5: lihat anak pulang sekolah dengan wajah cemberut kita bisa bilang,
      Mama:  “Wah, anak mama udah pulang nih. Kenapa kok cemberut gitu (menandai pesan)? Kakak capek ya (menjangkau rasa)?”
      Anak: “Enggak papa!” *lempar tas*
      Mama: “Ooooh, kakak laper ya (buka komunikasi)”
      Anak: “Enggak kok. Nggak laper!”
      Mama: “Oooo, anak mama lagi kesel banget ya (menamakan perasaan)”
      Anak: “Enggak maaaaa! Aku tuh lagi benciiiiiiiii!”
      Mama: “Kakak lagi benci ya. Benci sama siapa?”
      Anak: “Tadi ya ma, PRku kan ketinggalan. Trus aku distrap di depan kelas.”
      Mama: “Wah, malu banget dong kak.”
      Anak: “Nggak cuma itu aja ma, waktu aku distrap, si Edi tuh masak julurin lidah ke aku.”
      Mama: “Kesel dong kak, digituin”
      Anak: “Iya ma… blablabla”
      Teruskan sampai anak tuntas bercerita. Jangan dipotong, disalahkan bahkan dinasehati. Pancing aja terus dengan mengungkapkan perasaan-perasaan yang tersirat dalam setiap ucapannya.
    7. Hindari 12 Gaya Populer dalam berkomunikasi yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/label, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir dan menganalisa. Hal-hal ini akan mengakibatkan anak tidak percaya akan perasaannya sendiri, sehingga ia bisa merasa nggak percaya diri. Konsep dirinya hancur, nggak bisa menghargai dirinya sendiri. Selain itu kalau kita berbohong, jiwa anak akan goyang alias labil yang akhirnya bisa mengakibatkan mentally breakdown.
    8. Tentukan: Masalah Siapa? Masalah anak atau ortu? Dibantu atau dibiarkan? Hidup adalah pilihan dan pilihan. Misalnya: anak ketinggalan PR -> masalah anak, dibantu atau dibiarkan -> dibiarkan. Kenapa? Supaya anak belajar konsekuensi ketinggalan PR itu apa.
    9. Mendengarkan secara aktif. To listen atau mendengarkan berbeda dengan to hear atau mendengar. Mendengarkan secara aktif berarti melibatkan perasaan. Jadilah cermin, pilih kata-kata yang menunjukkan kita mengerti apa yang dirasakan orang yang sedang bicara dengan kita. Seperti: “Oooo… gitu.” “Sedih bener dong, kamu.” “Kecewa ya?” Seringkali orang curhat itu hanya karena ia ingin didengarkan, bukan untuk dinasehati apalagi disalahkan.
    10. Sampaikan PESAN SAYA. Marah itu boleh banget, kalo enggak nanti bisa stroke. Tapi gunakan pesan “Saya”, misalnya: bilang, “Mama kesal kalau kakak pulang sekolah copot sepatu di dalam rumah karena lantai jadi kotor.” instead of “Ya ampun kakak, nggak bisa apa copot sepatu dulu! Liat deh, lantai jadi kotor! Kamu ini bandel banget, nggak tau apa mama capek ngepel lantai” Dueeeenng!

    Yah, selama seminar itu saya sempat beberapa kali mau nangis sih, mengingat banyaknya kesalahan komunikasi yang saya lakukan ke Cinta. Sampai di rumah berusaha banget untuk memperbaiki hal itu. Tapi ternyata sulit. Kebiasaan selama hampir 4 tahun ternyata nggak bisa dihilangkan hanya dalam 1 malam. Bahkan selama 1 minggu ini masih harus tetap belajar untuk memperbaiki komunikasi. Asli nggak gampang, kadang kalo lagi capek ya kalimat-kalimat negatif suka keluar. Tapi ya harus konsisten, ulang dari awal lagi dan memang tantangannya di situ.

    Saya belajar tentang hal ini dan berusaha supaya berhasil, karena kepengen bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Cinta (dan adek-adeknya kalo dikasih). Supaya kalau dia remaja nanti tetap saya yang jadi tempatnya curhat seperti Lorelai dan Rory Gilmore di serial tv favorit Gilmore Girls. Bukannya curhat ke sesama anak baru gede yang juga lagi mencari identitas diri. Doakan saya ya.

    Eh ya, menurut ibu Elly, it takes a village to raise a child. Maksudnya, untuk menghasilkan anak Indonesia yang berkepribadian tangguh, memiliki konsep diri yang baik dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk dibutuhkan kerjasama dari seluruh keluarga di Indonesia. Jadi mari sama-sama belajar berkomunikasi yang baik dengan keluarga demi anak Indonesia yang sehat fisik dan mentalnya.

    Disarikan dari Seminar “Komunikasi Pengasuhan Anak” oleh Ibu Elly Risman, Psi dari Yayasan Kita dan Buah Hati yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia, sebuah komunitas mommies peduli pengasuhan anak.

    *Gambar diambil dari sini*

  • Daily Stories

    Koin oh Koin

    Koin yang nyangkut

    Kemarin pagi, seperti biasa habis minum susu Cinta main sendiri di kamarnya sambil nunggu saya merebus air untuk mandi. Baru aja nyalain kompor tiba-tiba Cinta nangis kejer sambil berusaha untuk muntah. Langsung saya samperin di kamarnya dan (saya nggak begitu ingat detil kejadiannya) tiba-tiba liat ada benda bulat mengkilat nyangkut di ujung lidahnya. Dem, Cinta nggak sengaja nelen koin. Nggak pake mikir, cuma sempat bilang bismillah langsung saya masukin jari ke mulutnya. Alhamdulillah ujung koin yang ada di dalam masih bisa teraih. Akhirnya saya congkel dan keluarlah koin sebesar uang Rp 100,- jadul yang biasa buat kerokan itu.

    Selama proses ngeluarin yang cuma berlangsung dalam hitungan detik itu rasanya ujung jari dan koin melukai dinding mulutnya. Sehingga begitu koin keluar Cinta langsung muntah beberapa kali, sambil terus nangis. Setelah di lap, saya peluk sambil membiarkan dia menyelesaikan nangisnya. Peluk aja, nggak pake ngomong apa-apa. Saya tahu dia cuma lagi butuh menenangkan diri karena saya pun begitu. Abis puas nangis, ya main lagi. Ngoceh-ngoceh lagi, nyanyi-nyanyi lagi dengan matanya yang berbinar-binar. Gantian saya yang terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya menahan air mata.

    Banyak yang berkelebat di pikiran saya begitu kejadian menegangkan itu selesai. Antara bersyukur banget nget nget nget… Alhamdulillah… Puji Tuhan, koin itu bisa keluar cuma dengan dicongkel dengan jari. Sementara segala macam teori dan praktek pertolongan pertama yang harus dilakukan saat anak tersedak kaya Heimlich Maneuver benar-benar menguap dari kepala. Sekaligus ngebayangin kalau seandainya saya nggak bisa mengeluarkan koin itu, what should I do? Sementara UGD jauhnya sekitar 15-20 menit perjalanan dari rumah.

    Kalau ditanya dari mana Cinta dapat koin, saya juga nggak tahu. Mungkin dari kotak mainannya, mungkin dari celengan yang suka dia buka tutup kuncinya. Pertanyaan, “Kok, Cinta masih suka masukin benda asing ke mulut? Emang umur berapa?” juga jadi PR buat saya. Seharusnya anak usia 3 tahun 8 bulan sudah melewati fase oral ya. Tapi belakangan emang dia suka ngemutin apa aja yang menarik perhatiannya; kertas, karet rambut, koin. Normal kah atau Cinta lagi mengalami regresi alias kembali ke tahap perkembangan yang paling memuaskannya? Ada yang bisa bantu jawab kah?

    Yang pasti ini pelajaran banget buat saya. Harus rajin-rajin inspeksi kotak mainannya, nggak bosen kasih pemahaman untuk nggak masukin benda-benda asing ke mulut dan sebisa mungkin menemani Cinta waktu lagi main. Seperti yang dibilang mbak Resti, dalam sepersekian detik apapun bisa terjadi. Yup, we’ll never know. But thank God everything is fine now.

  • Life as Mom, Parenting

    Mau Masuk TK Mana?

    Tahun ajaran 2011-2012 nanti, Cinta mau masuk TK. Pas umurnya 4 tahun. Sebagai ibu yang (ngakunya) bertanggung jawab dan peduli soal pendidikan anak, saya mulai pusing mikirin TK mana yang cocok buat Cinta. Bayangkan, ini baru masuk TK lho ya. TAMAN KANAK KANAK! Tadinya sih saya mau Cinta ngelanjutin di sekolahnya yang sekarang. Secara lokasi, fasilitas sekolah, kurikulum dan kualitas guru-gurunya sudah paling cocok deh.

    Playgroupnya Cinta sekarang emang deket dari rumah. Tinggal ngesot sama beberapa kali koprol aja udah sampai. Lokasinya yang di dalam perumahan juga bikin kita tenang karena anak-anak nggak akan main di pinggir jalan besar dan nggak ada tukang jualan jajanan nggak sehat. Sekolahnya cukup besar, terdiri dari 6 sentra dan moving class. Kurikulumnya pun cocok buat Cinta yang tipe belajarnya kinestetis alias nggak bisa diam. Dan yang penting uang pangkal dan SPP-nya masih terjangkau. Meskipun belum termasuk uang sumbangan komite sekolah, uang iuran makan sehat dan yang lain-lain -_-!

    Tapi oh tapi, sejak pendaftaran dibuka awal Januari kemarin, ibu-ibu yang lain udah mulai mengeluarkan testimoni negatif tentang sekolah ini. Yang nggak diajarin baca tulis lah, yang ada siswa nggak lulus tes masuk SD, yang muridnya kebanyakan, yang kemahalan, yang anaknya nggak maju-maju lah, yang inilah itulah. Berasaplah kepala saya. Akhirnya saya tanya ke Kepala Sekolahnya, mencoba mengklarifikasi gosip-gosip itu. Dan menurut beliau apa yang dibilang itu hampir semuanya kurang tepat. Okelah, mari kita lihat lagi dengan kepala yang lebih jernih.

    Baca tulis sih diajarin meski bukan pelajaran yang utama, karena ada aturan dari Diknas bahwa TK nggak boleh ngajarin baca tulis. Dari sekian siswa TK B yang ikut tes masuk SD cuma 1 yang nggak lulus tes. Soal murid emang 1 kelas isinya 25 orang dengan guru 2 orang. Dari sisi perkembangan siswa emang masing-masing beda. Saya pribadi sih melihat perkembangan Cinta selama sekolah di sana cukup bagus. Tapi semakin dekat hari terakhir pendaftaran sekolah kok saya makin ragu ya. Pertama karena jumlah murid 1 kelas yang terlalu banyak. Di kelas Kelompok Bermain aja sekarang 19 orang dengan 2 guru padahal rasio yang baik 1 guru : 7 siswa. Saya pikir kalau masih KB sih nggak terlalu masalah karena toh tujuan utamanya bermain dan bersosialisasi. Lain lagi kalo udah TK, porsi belajar (meski tetap dalam rangka bermain) sudah lebih banyak. Khawatirnya dengan jumlah murid sebanyak itu, guru nggak bisa fokus ke masing-masing murid. Kedua karena jam belajarnya lebih lama dari kebanyakan TK lain, yaitu 4 jam, dari jam 7.30 sampai 11.30. Lama banget ya. Ini masih TK lho.

    Selain sekolah ini, ada 1 lagi incaran saya di kompleks perumahan sebelah. Udah sempat nanya-nanya dan agak cocok. Kelebihannya antara lain lokasi cukup dekat, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, calistung (baca tulis berhitung) diajarin secara intensif, gedung sekolah yang cukup luas dan bersih, jam belajar 3,5 jam, 1 kelas berisi maksimal 15 anak dengan 2 guru, uang pangkal terjangkau walaupun sedikit lebih mahal dari yang pertama. Sayangnya sekolah ini nggak menganut sistem BCCT atau sentra dan nggak moving class, yang mana kurang cocok buat Cinta yang gampang bosan. Sekolahnya juga sekolah nasional, bukan berbasis agama Islam.

    Mengingat kelebihan dan kekurangan 2 sekolah ini, rencananya akan minta trial dulu, supaya bisa memutuskan mana yang lebih cocok dan nyaman buat Cinta karena dia yang akan menjalani 2 tahun bersekolah di situ. Duh, milih sekolah ternyata emang bikin pusing ya. Baru TK nih, belum SD nanti. Semoga cepat bisa memutuskan yang terbaik buat Cinta.

  • Parenting

    Menyiapkan Pendidikan Internasional dari Rumah

    “Apa sih yang terpikir dalam benak kita kalau mendengar kata SBI atau Sekolah Bertaraf Internasional?”  tanya Ibu Ines Setiawan seorang guru dan aktivis pendidikan dalam Seminar “Menimbang dan Mempersiapkan Homeschooling” di Hostel Pradana (SMK 57) Jakarta, hari Sabtu, 12 Februari 2011 yang lalu. “Mahal”, “kurikulum internasional”, “canggih”, “guru bule”, “bahasa Inggris”, “prestisius” adalah sebagian besar jawaban para peserta seminar yang diamini oleh Ibu Ines.

    Belakangan ini memang SBI sedang menjadi favorit para orangtua yang ingin menyekolahkan anak(-anak)nya. Meskipun biayanya lebih mahal daripada kelas reguler tapi menjadi kebanggaan tersendiri bila anaknya bisa masuk kelas atau sekolah tersebut. Apa sih SBI itu sebenarnya? Menurut Departemen Pendidikan Nasional, SBI adalah sekolah yang menyiapkan peserta didik berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusan memiliki kemampuan daya saing internasional. Dengan visi tersebut, Diknas pun menetapkan prinsip-prinsip tertentu dalam mengembangkan SBI di Indonesia.

    Sayangnya, pendidikan yang bagus ini hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan finansial sangat baik alias menengah ke atas karena fasilitas-fasilitas yang diberikan dianggap bernilai lebih tinggi sehingga lantas dihargai lebih mahal. Lalu, bagaimana dengan keluarga menengah? Tidak bisakah kita memberikan bekal kepada anak-anak kita untuk bisa cerdas dan kompetitif secara internasional? Bisa! Jangan salah, pendidikan bertaraf internasional bukan hanya monopoli siswa SBI. Murid kelas reguler bahkan siswa homeschooling pun bisa disiapkan menjadi lulusan yang mampu berkompetisi di dunia luas.

    The International Baccalaureate® (IB), sebuah lembaga yang memberikan sertifikasi kepada sekolah-sekolah bertaraf internasional mendefinisikan Pendidikan Internasional sebagai berikut:

    • Developing citizens of the world in relation to culture, language and learning to live together
      Mengembangkan warga dunia untuk saling mengenal budaya, bahasa, dan belajar untuk hidup berdampingan.
    • Building and reinforcing students’ sense of identity and cultural awareness
      Membangun dan mempertahankan identitas dan kesadaran siswa akan budaya lokalnya sendiri.
    • Fostering students’ recognition and development of universal human values
      Menumbuhkan kesadaran siswa akan nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan pengembangannya.
    • Stimulating curiosity and inquiry in order to foster a spirit of discovery and enjoyment of learning
      Merangsang rasa ingin tahu dan kemampuan bertanya supaya bisa menumbuhkan semangat penemuan dan kesenangan belajar.
    • Equipping students with the skills to learn and acquire knowledge, individually or collaboratively, and to apply these skills and knowledge accordingly across a broad range of areas
      Membekali siswa dengan kemampuan belajar dan memperoleh pengetahuan baik secara individu maupun berkelompok, dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan tersebut dengan tepat di berbagai bidang.
    • Providing international content while responding to local requirements and interests
      Menyediakan konten internasional sembari tetap tanggap akan kebutuhan dan kepentingan lokal.
    • Encouraging diversity and flexibility in teaching methods
      Mendorong keanekaragaman dan fleksibilitas metode pengajaran.
    • Providing appropriate forms of assessment and international benchmarking
      Menyediakan bentuk penilaian yang sesuai atau tepat dan pembanding internasional

    Dari 8 kriteria tersebut, hampir semuanya bisa dilakukan di rumah. Mengenalkan anak akan budaya internasional, cinta akan budayanya sendiri, belajar hidup dalam keanekaragaman, menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, merangsang rasa ingin tahu, menumbuhkan semangat untuk meneliti dan senang belajar, memfasilitasi anak untuk memperoleh pengetahuan apapun yang dia inginkan, memiliki metode belajar yang fleksibel dan akhirnya menilai perkembangan anak secara keseluruhan bukan hanya berdasarkan nilai yang berupa angka.

    Bagaimana dengan bahasa asing yang menjadi syarat kemampuan untuk berinteraksi di dunia internasional? Saat ini sudah banyak lembaga kursus bahasa asing yang bagus. Bahkan nggak sedikit anak yang bisa bahasa asing dari rumah, karena orangtuanya terbiasa menggunakan bahasa tersebut, belajar dari tv, komputer dan sebagainya. Fasilitas untuk belajar seperti percobaan science, art, dan sebagainya bisa diperoleh dengan mengikuti klub-klub belajar seperti Klub Oase, Klub Sinau dan sebagainya. Banyak juga orang tua dan siswa yang mencoba membuat sendiri eksperimen-eksperimen atau prakarya berdasarkan video-video tutorial yang bisa diunduh dengan mudah dari internet.

    Yuk, kita siapkan pendidikan internasional untuk anak dari rumah supaya nanti ia mampu berkompetisi dan hidup berdampingan dengan warga di belahan dunia manapun ia berada. Percaya deh bahwa pendidikan terbaik itu berawal dari rumah bersama orang tua. Because education is not for sale, it’s our rights.

  • Life as Mom

    Menabung Saja Tidak Cukup

    PhotobucketPeringatan: Tulisan ini akan sangat panjang 😀

    It’s not about how much money you earn, but how much money you can save/invest every month #financiallyfit

    “Menabung saja tidak cukup!” kata Ligwina Hananto waktu membuka acara 2011: Shape Up Your Financial Future Seminar yang diselenggarakan oleh The Daily Media (yang menaungi situs dan forum Mommiesdaily.com dan Fashionessedaily.com) dan Nestle Bear Brand & Fitnesse hari Sabtu, 29 Januari 2011 yang lalu di The Bellezza. Ah, masa sih?

    Diawali dengan cerita mbak Wina yang bisa sekolah di luar negeri karena ayahnya menabung 90% dari penghasilannya. Kok bisa? Iyalah, karena beliau bekerja di daerah Sulawesi yang nggak ada mall atau pusat perbelanjaan, dapet rumah dinas dan sebagainya. Nah, kita yang hidup di kota besar ini bisa nggak menyisihkan 90% uang dari penghasilan untuk ditabung? Boro-boro mau nabung, yang ada tekor melulu karena biaya hidup yang sangat besar. Gesek deh kartu kredit untuk belanja ini itu tapi akhirnya cuma bisa bayar tagihan minimum dan kena bunga per tahunnya yang bisa mencapai 40%. Tanpa sadar, tercekik kita dengan utang yang nggak ada habisnya.

    Menurut Ligwina, golongan menengah seperti kita inilah yang termasuk golongan paling miskin. Banyak gaya aja. Keluarga muda, double income, pake BB, punya iPhone, TV plasma, liburan ke Singapore, belanja ini itu. Tapi ternyata masih punya utang kartu kredit yang menumpuk dan nggak investasi. Tahu nggak kalau kita masih punya utang di kartu kredit dan masih asik ngegesek artinya we’re living the lifestyle we don’t deserve. #jleb!

    Lalu gimana dong, supaya bisa nabung? Mulai dengan pemeriksaan keuangan pribadi. Kita breakdown dulu pengeluaran bulanan yang rutin ke dalam beberapa pos lalu dicek apakah dari gaji dan pengeluaran rutin itu masih ada sisanya atau malah minus. Cashflow yang sehat sebaiknya memiliki prosentase seperti ini:

    Photobucket

    Dengan mengikuti perhitungan itu kita bisa menabung dan tetap bisa bersenang-senang karena sudah ada budgetnya.

    Masalahnya, biasanya kita mendahulukan pengeluaran rutin daripada menabung, sehingga hasilnya kadang-kadang bisa nabung kadang bisa enggak. Supaya bisa memiliki keuangan yang sehat, pertama kita harus komitmen dulu untuk menabung minimal 10% dari penghasilan tiap bulan. Lalu buat 2 rekening yang berbeda. 1 rekening untuk arus keluar masuk uang, 1 lagi khusus untuk tabungan. Di awal bulan langsung masukan (kalau bisa autodebit lebih bagus) sejumlah uang ke rekening tabungan itu. Sayangnya, kalo lagi “kepepet” kita suka menyabotase rekening tabungan itu sendiri. Gimana dong caranya supaya kita bisa disiplin? Kembali ke langkah pertama: KOMITMEN. Berat? Banget! Tapi kita juga harus tahu TUJUAN LO, APA? untuk menabung itu.

    Kenapa nabung aja harus punya tujuan? Apa nggak bisa nabung suka-suka aja gitu?  Kalau punya tujuan, kita akan bisa menentukan mau menabung dengan cara yang efektif. Misalnya nih, menabung untuk pendidikan anak, liburan, beli rumah, menikah (dan menikahkan anak), beli mobil, beli gadget, dll. Lagipula kalo udah tahu tujuannya apa, kita jadi mikir-mikir untuk menyabotase tabungan itu karena ada risikonya, anak nggak sekolah, batal menikah, nggak bisa beli rumah, nggak jadi liburan.

    Photobucket

    Soal pendidikan anak nih, sebagai orangtua yang bertanggungjawab, kebanyakan kita suka “keblinger” dengan segala produk yang ada embel-embel pendidikan. Asuransi pendidikan, tabungan pendidikan, dll padahal setelah dihitung-hitung produk-produk tersebut nggak bisa menutupi kebutuhan akan dana pendidikan anak saat kita perlukan nanti. Coba cek deh di kalkulatornya qmfinancial.com berapa dana yang harus kita siapkan saat anak masuk SD, SMP, S1 nanti. Misalnya nih saya pengen masukin Cinta ke sebuah SD yang tahun kemarin uang pangkalnya sekitar Rp 10,000,000.00. Dengan inflasi sekitar 20% per tahun, 2 tahun lagi saya harus sudah punya uang sebesar Rp 14,400,000.00 supaya Cinta bisa sekolah di sana. Kebetulan saya dan suami ikut program Tabungan Pendidikan dan karena jangka waktunya tinggal 2 tahun lagi, tabungan biasa adalah produk terbaik dengan return sekitar 2% per tahun. Dengan menabung sekitar Rp 500,000.00 per bulan dalam jangka waktu 2 tahun kami bisa mengumpulkan kira-kira Rp 12,000,000.00. Lumayan lah tinggal nambah sedikit. Tapi gimana untuk biaya masuk SMP, SMA, S1 dan mungkin S2. Kekejar nggak tuh kalau cuma pake tabungan pendidikan?

    Ya udah ikut asuransi pendidikan aja. Bayar premi tiap tahun minimal 8 juta, nanti tahun ke-6 akan cair 10 juta. Pas kan buat anak masuk SD. Nanti tahun ke-12 dan ke-15 keluar lagi masing-masing 10 juta. Trus tahun ke-18  kita dapet 100juta. Udah termasuk  asuransi jiwa yang uang pertanggungannya 100 juta tuh, sama asuransi kesehatan yang plafon kamarnya Rp 250ribu/malam. Eh, tapi beneran bisa menutupi kebutuhan kita nggak? Yuk, mari dihitung satu-satu.

    Lihat deh kebutuhan dana pendidikan 1 orang anak di ilustrasi ini:

    Photobucket

    Kira-kira dari dana yang kita peroleh dari asuransi pendidikan itu cukup nggak untuk menutupi kebutuhan biaya yang harus kita keluarkan? Lalu bagaimana dengan asuransi jiwanya. Uang pertanggungan 100 juta itu banyak lho. Oke, sekarang pengeluaran keluarga per bulan rata-rata berapa?  Kalau 3juta/bulan berarti UP itu bisa untuk menopang hidup keluarga yang kehilangan pencari nafkah utama selama maksimal 3 tahun. Tapi masa iya sih seorang pencari nafkah “cuma” dihargai sebesar harga sebuah mobil. Lalu asuransi kesehatannya, dengan plafon Rp 250,000.00 sehari itu masuk kelas berapa? Sudah termasuk kunjungan dokter, obat dan lain-lain kah? Sehingga saat kita terpaksa rawat inap, operasi dan sebagainya nggak perlu lagi keluar uang.

    Lha, sudah terlanjur jalan nih asuransi pendidikannya. Kalau ditutup sekarang kan rugi, uangnya hilang dong. Tapi kalau diterusin akan lebih rugi lagi nggak? Okelah kalau ditutup kita akan kehilangan uang yang cukup banyak. Tapi dengan budget asuransi pendidikan yang sebesar Rp 8juta setahun itu kita bisa investasikan ke Reksadana sebesar Rp 1,033,616 sebulan untuk bisa menutupi kebutuhan dana pendidikan sampai S1, lalu ikut asuransi jiwa murni term life selama 10 tahun dengan UP sebesar Rp 1M hanya dengan premi ± Rp 3,000,000.00 setahun. Memang jatuhnya akan lebih banyak daripada asuransi pendidikan tapi toh hasilnya jauh lebih maksimal dan sesuai dengan kebutuhan kita.

    Photobucket

    Kenapa harus investasi? Bukankah risikonya tinggi? Iya, tapi risiko tidak berinvestasi jauh lebih tinggi daripada berinvestasi itu sendiri. Ah, tapi kan anak ada rejekinya sendiri-sendiri. Udah diatur kok sama Tuhan. Yaaaa, so true! Tuhan emang sudah mengatur rejeki tiap anak. Tapi kita sebagai orangtua yang harus pandai mengelolanya. Yang namanya rejeki itu kan nggak selalu berupa dapat uang jebret pas kita lagi butuh. Bisa berupa kenaikan gaji tiap tahun, bonus, menang undian. Nah, yang seperti itu kalau nggak dikelola dengan baik ya belum tentu kita bisa sekolahin anak sampai setinggi yang dia inginkan. Iya kalo pas waktunya anak masuk sekolah tiba-tiba kita dapat uang sekian belas juta, kalo enggak? Masa anaknya ga sekolah?

    Lalu gimana caranya memilih investasi yang tepat?  Kembali lagi ke Tujuan Lo, Apa? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi risiko dan hasil investasi yang akan dihadapi. Semakin lama jangka waktu berinvestasi, semakin tinggi target hasil rata-rata, semakin rendah kebutuhan investasi yang diperlukan. Misalnya saya nih, untuk biaya Cinta masuk SD yang tinggal 2 tahun lagi paling tepat ya pakai tabungan biasa. Meski returnnya sedikit tapi risikonya juga minimal. Sedangkan untuk biaya masuk SMP yang 8 tahun lagi bisa investasi di RD Pasar Uang atau RD Pendapatan Tetap. Lalu untuk biaya masuk SMA dan kuliah dengan jangka waktu 11 dan 14 tahun sebaiknya investasi di RD Campuran atau RD Saham untuk dapat return yang lebih tinggi.

    Photobucket

    Untuk kebutuhan lain seperti dana liburan, dana pernikahan, dana beli rumah tentu penempatan investasinya beda lagi. Tergantung tingkat kepentingannya. Semakin penting dan semakin singkat kebutuhan dana itu sebaiknya ambil investasi yang risikonya rendah.

    Oke, dana pendidikan sudah siap nih. Apalagi?  Asuransi dong. Yang dianjurkan oleh Ligwina adalah asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Kenapa perlu asuransi? Dan siapa yang harus diasuransikan? Asuransi diperlukan untuk melindungi penghasilan yang hilang jika pencari nafkah utama nggak bisa kerja lagi karena meninggal, cacat tetap total atau sakit keras. Berarti yang perlu diasuransikan ya pencari nafkah utama, bisa suami atau istri. Yang jelas bukan anak yah, karena selama orang tua masih bekerja, jika terjadi sesuatu sama anak tentu orangtua nggak akan kehilangan sumber penghasilan kan? Dan asuransi jiwa ini dibutuhkan hanya saat kita berada dalam usia produktif karena saat kita masuk usia pensiun seharusnya sudah ada dana pensiun.

    Untuk asuransi jiwa, mbak Wina menyarankan asuransi jiwa murni dengan perhitungan uang pertanggungan: biaya hidup sebulan  X 12 bulan X 10 tahun. Jadi kalau biaya hidup sebulan 3juta minimal perlu asuransi jiwa dengan UP Rp 360,000,000.00. Pilih jangka waktu dan premi yang sesuai dengan kemampuan kita. Nanti kalau pendapatan dan biaya hidup meningkat bisa bikin asuransi jiwa yang baru.

    Sementara untuk asuransi kesehatan kalau dicover kantor nggak perlu bikin lagi asaaaaaal kebutuhan kesehatan benar-benar sudah dipenuhi oleh asuransi itu. Tapi kalau asuransinya terbatas misal cuma dapet dokter umum dan dokter gigi, obat jatahnya 200ribu, rumah sakit kelas 2, rawat inap ditanggung sekian % aja. Berarti kita perlu punya asuransi kesehatan sendiri. Pilih yang general insurance jangan yang campur dengan produk investasi karena premi akan lebih tinggi dan pertanggungan tidak maksimal. Oya, kalau ikut asuransi jangan mikir untuk cari untung ya apalagi kepikiran rugi, karena tujuan utamanya adalah proteksi bukan investasi.

    Gimana, sudah mumet? Saya sudah nih. Padahal baru dana pendidikan dan asuransi aja lho. Abis ngecek-ngecek pengeluaran bulanan aja udah terkaget-kaget karena ternyata cashflow saya nggak sehat *nangisbombay*.  PR banget untuk ngeberin cashflow supaya bisa investasi untuk dana darurat dan dana pensiun juga. Semangat! Demi financial freedom di masa depan!

    (bersambung)

    NB:

    • angka-angka di atas sekedar ilustrasi.
    • Foto-foto: koleksi pribadi, perhitungan dana pendidikan qmfinancial.com dan dari handout seminar Shape Up Your Financial Future