Browsing Tag:

family

  • Life as Mom

    One Step At A Time

    Sebelum pindah, suami sudah wanti-wanti kalau nanti di sini kita nggak bisa punya ART seperti di Indonesia. Awalnya saya pikir nggak masalah, semua pasti bisa ditangani dengan baik. Yang penting bisa pindah dan kumpul dengan suami dan anak.

    Tapiiiiii… Ternyata buat perempuan yang dibesarkan dengan fasilitas ART dan dimanjakan dengan oleh support system yang mudah didapat di Indonesia, nggak mudah untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga plus ngurus anak sendiri. Belum lagi ngatur waktu untuk nulis. Rasanya ngos-ngosan.

    Seminggu pertama sih masih santai, makan selalu diluar, Cinta juga gampang tidur dan makannya. Masih sering pergi jadi nggak suntuk di rumah. Masuk minggu kedua, mulai stres karena setrikaan numpuk, rumah berantakan terus, Cinta sudah mulai bosen pergi dan maunya nonton tv aja di rumah. Mau masak cari bumbu dapur dan bahan yang fresh susah, begitu dapet bingung mau masak apa. Makan di luar selain lama-lama tekor juga bosen terus-terusan makan masakan Cina dan India. Sekalinya nemu nasi bebek eh rasanya bikin pengen nangis. Aaarrrgghhh…

    Di minggu kedua ini jadi sering marah-marah, pas lagi PMS pula. Cinta jadi makin nggak keurus dan ikut sering tantrum karena diomelin mulu. Hadeuuuhh. Super sutris.

    Tapi masuk minggu ketiga tiba-tiba semuanya terasa lebih ringan. Nggak tahu deh kenapa. Padahal sering bangun kesiangan juga tapi selalu sempat bikin sarapan, setrika, masak untuk makan siang dan malam. Kamar meski nggak kinclong-kinclong amat (kecuali kalau abis dibersihin sama cleaning service) tapi juga nggak berantakan banget. Masih punya waktu juga untuk nulis artikel buat MomsGuide, hosting twitternya dan main di twitter dan facebook (terutama The Sims Social 😀 ). Pas suami sudah berangkat kerja dan Cinta belum bangun malah bisa nge “me time” sambil sarapan sendiri. Enak banget rasanya 🙂

    Mungkin yah, karena sudah mulai beradaptasi dengan waktu. Juga memanfaatkan kemampuan multitasking yang dikasih Allah ke perempuan. Jadi sambil nungguin kompor listrik panas untuk bikin sarapan sederhana seperti nasi goreng atau manggang roti capati atau ngerebus spaghetti, cepat-cepat ngerendam underwear, cuci piring dan gelas yang abis dipakai ngopi, buang sampah. Sebelum mandi ngucek rendaman dan bilas trus mandi sekalian mandiin Cinta. Abis itu masukin baju ke mesin cuci lanjut sarapan sambil nyuapin si bocah.

    Pengalaman di minggu kedua, saat setrikaan numpuk banget dan bikin putus asa. Mulai minggu ketiga ini berusaha setrika setiap hari. Mending dikit-dikit daripada sutris liat baju numpuk. Nggak licin-licin amat sih, yang penting kena setrikaan.

    Kalau lagi nggak waktunya kamar dibersihkan, masak untuk siang dan malam sekaligus. 2 menu aja sih, sayur dan lauk. Tapi kalau pas malas masak ya goreng telur aja atau sosis dan nugget untuk siang. Ntar sore baru masak untuk malam. Setelah selesai makan malam, sambil cuci piring untuk kesepuluh kalinya dalam sehari, minta tolong suami ajak Cinta beberes mainannya trus bersiap tidur. Fffiiiuh, another busy day is over.

    Suka bersyukur sih karena sementara ini kami tinggal di serviced apartment yang ada fasilitas cleaning servicenya meski nggak tiap hari juga. Jadi saya nggak harus tiap hari nyapu ngepel kamar. Alhamdulillah juga Cinta anaknya cukup mandiri, jadi nggak harus selalu ditemenin main. Buat dia yang penting mamanya keliatan ada di sekitarnya. Plus, suami yang nggak segan untuk bantu-bantu dan selalu menghabiskan apapun yang saya masak, bagaimanapun rasanya. Itupun suami kalau pagi bikin kopi sendiri karena harus berangkat pagi-pagi sementara saya seringnya belum bangun XD

    Memang sih jadinya nggak seperti mamah-mamah idola yang bisa ngerjain semua pekerjaan RT dengan sempurna. Inipun banyak hal yang saya “terpaksa” kompromikan dengan idealisme, seperti Cinta makan nugget dan sosis siap pakai, nonton TV hampir sepanjang hari. Begitu juga memanfaatkan fasilitas yang meringankan pekerjaan seperti saus spaghetti instan, bumbu hainan rice instan, molto sekali bilas.

    Minggu depan rencananya akan belajar untuk bangun dan menyiapkan sarapan lebih pagi karena Cinta akan masuk sekolah. Belum lagi mengatur waktu mengantar jemput sekolah dan melakukan pekerjaan sehari-hari dengan baik.

    Yah, pelan-pelan lah berusaha mengalokasikan waktu lebih baik. Karena kalau sudah tinggal di rumah sendiri tentu lebih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Saya akui deh, para mama yang ARTless tapi tetap bisa bikin rumah kinclong, masakan homemade semua, anak sehat dan terawat, suami bahagia itu super hebat.

    Boleh dong mommies saya dibagi tips untuk bisa handle semua tugas RT tapi tetap punya waktu untuk main dan belajar sama anak plus bisa gaul dan aktif di sosmed *serakahmode: on*.

    Foto koleksi pribadi, difoto oleh: Awie R

  • Life in Brunei

    We’re Moving (Again)

     

     

     

     

     

     

    Akhirnya, pindahan lagi… Kali ini ke tempat yang lebih jauh. Menyeberang Laut Jawa, menuju ke ujung Borneo. Sebuah negara kecil yang kaya akan hasil minyak dan gas bumi. Yup, kami pindah ke Brunei Darussalam. Lagi-lagi mengikuti suami yang pindah kerja ke sana.

    Banyak yang tanya gimana rasanya pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu dekat. Iya sih, baru satu setengah tahun yang lalu kami boyongan dari Sidoarjo ke Jakarta lalu sekarang setelah melalui perjalanan Jakarta – Sidoarjo dilanjutkan dengan Surabaya – Brunei.

    Untuk saya sih terasa lebih ringan pindahan yang sekarang. Padahal kali ini tempat yang dituju benar-benar jauh dari keluarga juga berbeda bahasa dan budaya. Mungkin karena saya tahu di sini ada suami, sedangkan waktu di Jakarta kemarin cuma saya dan Cinta menempati rumah mungil kami. Bisa jadi juga karena kali ini sudah pindahan yang ketiga, sehingga lebih terasa mudah. Meski tetap terasa sedih mengingat harus meninggalkan mama saya di Sidoarjo sendirian dan akan lebih jarang ketemu dengan beliau dan adik-adik dibanding ketika kami di Jakarta.

    Kalau diingat-ingat, waktu itu berat sekali meninggalkan Sidoarjo untuk tinggal di Jakarta. Mungkin karena itu pertama kali saya pergi dari rumah mama dengan membawa anak yang dari bayi sampai umur 3 tahun dekat dengan neneknya. Saya pun waktu itu sangat tergantung sama mama dan support system di sana. Namun, bisa juga karena masih ada cerita yang belum selesai di sana.

    Rumah Bukit Dago saat itu menyisakan banyak luka bagi saya, kembali mendiaminya tentu merupakan sebuah beban berat. Apalagi nggak ada siapa-siapa yang bisa dijadikan tempat bersandar di sana. Tepat ketika mobil yang membawa kami dari Sidoarjo memasuki tol Cikampek, saya menangis dalam diam dan gelapnya malam. Membayangkan kehidupan yang entah bagaimana yang akan saya dan Cinta jalani.

    Tapi Tuhan memang Maha Baik. Di tengah kegalauan itu Dia mempertemukan saya dengan orang-orang yang hebat, memberikan saya kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Inilah yang perlahan menyembuhkan luka saya. Membentuk saya sedemikian rupa sehingga rumah itu tak lagi suram. Setidaknya bagi saya dan Cinta. Mungkin itulah jawabanNya atas doa-doa saya. Melalui jalan yang tak mudah tapi indah.

    Sekarang kami pindah lagi ke tempat baru, berusaha membangun semuanya dari awal. Menjalani kehidupan berkeluarga secara utuh setelah 4,5 tahun terpisah jarak. Semoga berkah 🙂

  • Life as Mom

    Tips Hunting Kain Untuk Seragam Pernikahan di JMP

    Seperti pada umumnya pernikahan, seragam keluarga adalah salah satu printilan (please deh, bahasanya :p ) yang harus diperhatikan. Biasanya sih seragam ini dibedakan antara orangtua pengantin, saudara kandung pengantin, keluarga besar, among tamu, penerima tamu, pagar ayu dan teman-teman dekat. Ada keluarga yang memilih menyewakan kebaya/baju daerah sesuai adat pernikahan atau membelikan kain untuk para sanak saudara.

    Eh, meskipun nggak sepenting penghulu, gedung atau catering, tapi biaya yang dikeluarkan untuk beli atau sewa seragam ini ternyata juga nggak kecil lho. Jadi memang harus disiapkan anggaran khusus untuk kain seragam, baju sanak saudara laki-laki dan make up keluarga 🙂

    Selain budget, masih ada lagi yang harus dipersiapkan sebelumhunting kain:

    • Tentukan warna utama dalam acara pernikahan dan warna turunannya.
    • Buat kategori pengguna seragam dan siapa-siapa aja yang masuk di dalamnya.
    • Bagi warna-warna turunan itu dalam kategori pengguna seragam. Sesuaikan juga dengan usia penggunanya.
    • Tentukan jenis kain yang mau digunakan, apakah brokat, lace, tule (tile) atau chiffon. Produk lokal atau impor.
    • Buat anggaran khusus berdasarkan kategori pemakai seragam. Misalnya untuk kain seragam orang tua dengan range harga 200.000-300.000/meter, saudara kandung 100.000-200.000 dan yang lain <100.000/meter.

    Kalau sudah siap semua, waktunya belanja kain. Bisa di pasar khusus kain seperti Mayestik, Tanah Abang atau seperti kami yang di Surabaya ada JMP (Jembatan Merah Plaza). Kalau pengen yang nyaman silakan ke toko-toko kain di mall seperti Alta Moda, dll.

    Berdasarkan pengalaman 3 kali belanja kain untuk seragam pernikahan di JMP, berikut tips hunting kain yang nyaman:

    1. Siapkan daftar belanja yang berisi kategori seragam dan jumlah orang masing-masing kategori
    2. Gunakan baju dan alas kaki yang nyaman.
    3. Tentukan toko-toko mana yang jadi tujuan pertama, langganan saya sih In Style, Chandra Jaya dan toko-toko di kanan kirinya. Tapi ternyata di toko-toko lain juga banyak sekali kain-kain untuk seragam dengan aneka pilihan harga dan bahan yang bagus.
    4. Bawa uang tunai. Meski beberapa toko ada yang sudah menggunakan EDC atau alat gesek kartu kredit/debit tapi ada yang masih membebankan biaya 2.5% per transaksi.
    5. Berangkat pagi saat badan masih segar, kenyang dan toko baru buka.
    6. Bawa botol air mineral. Percaya deh, keliling dari satu toko ke toko lain, nawar harga bisa bikin dehidrasi.
    7. Konsisten dengan jenis bahan dan warna yang ada dalam daftar belanja. Tapi kalau ragu atau belum ada pilihan, biasanya pegawai di toko kain akan memberikan saran pilihan warna dan jenis bahan.
    8. Jangan ragu untuk nawar. Kecuali ada tulisan “HARGA PAS” kalau nggak mau dipandangi mbak penjaga toko dengan tatapan aneh.
    9. Ketahui standar ukuran kain untuk kebaya biasanya 2 meter/orang. Sedangkan furingnya 1 meter/orang atau 1.5 meter jika berbusana muslim.
    10. Jangan terlalu lama di satu toko, kalau nggak ada yang sreg langsung pindah supaya nggak buang-buang waktu.

    Untuk kepraktisan & menghemat biaya sih, saya sarankan kain seragam ini hanya diberikan untuk keluarga dan among tamu (kalo ada). Sedangkan pagar ayu & penerima tamu bisa kita sewakan di perias pengantin sekaligus make up dan sanggulnya (kalau pakai).

    Trus jahitnya di mana? Di JMP sendiri banyak kok tukang jahit kebaya, malah ada salah satu penjahit khusus kebaya pengantin. Saya dulu jahit kebaya akad nikah juga di situ, sayang lupa namanya, kalau nggak salah sih Rumah Pengantin. Hasil jahitannya bagus, rapi dan kreatif, cuma memang agak mahal dan nggak bisa cepat. Harus dikejar-kejar. Agak merepotkan untuk saya yang waktu itu masih bolak-balik Jakarta – Surabaya untuk menyiapkan acara pernikahan.

    Maka itu, untuk nikahan adik saya ini, kami minta saran kepada toko kain langganan. Kebetulan dia punya rekomendasi tukang jahit yang di area itu juga. Jadi lumayan bisa irit waktu lah, begitu dapat kain, langsung bawa ke sana untuk dijahitkan. Untuk hasil jahitan ya cocok-cocokan lah yaa. Tapi lumayan kok menurut saya. Dan harganya juga masuk akal.

    Selamat hunting kain seragam. Semoga tips ini bermanfaat.

  • Daily Stories, Parenting

    Temani Aku Selamanya, Ma

    Cinta: Ma, temani aku selamanya ya

    Aku: Kenapa?

    Temani aku selama-lamanya ya Ma

    Emang kenapa kak?

    Aku takut ditinggal mama

    Emang mama mau kemana?

    Aku takut mama pergi jauh

    Kakak kenapa kok ngomong gitu?

    Soalnya mama yang terbaik

    Pergi jauh itu kemana kak?

    Aku takut kalo mama pergi aku ketinggalan

    Pergi ke mana?

    Ke Jakarta, Brunei, Sidoarjo. Kalo mama pergi selamanya, aku juga mau ikut mama selamanya

    Insya Allah ya Kak, mama temenin Cinta selama mungkin

    Ah kakak, maaf ya Mama nggak bisa janji akan menemani Cinta selamanya, Nak.
    Tapi kalau Allah mengijinkan, Mama akan selalu ada untukmu, menemani Cinta semampuku, selama hayat dikandung badan.

  • Daily Stories, Parenting

    Tidur Siang

    Sudah hampir 1 minggu ini bermasalah dengan jadwal tidur siangnya Cinta. Biasanya selesai makan siang, Cinta langsung cuci muka, tangan, kaki dan pipis lalu minum susu lanjut tidur siang. Nah, seminggu ini bisa dibilang rutinitas itu kacau semua. Susah bener deh kalau diajak tidur. Kadang sampai emaknya ketiduran, eh dia asik main iPad, baca buku, berantakin mainan di kamar. Atau kalau pas ada temannya seperti sekarang, tiba-tiba aja saya bangun tidur, dia udah main di luar kamar. Kalaupun bisa tidur siang, itu baru di atas jam 3 sore dan bangunnya pun bisa lebih dari jam 5 sore. Lha, mau tidur malam jam berapa kalau gitu coba.

    Memang sih, ada ibu-ibu yang nggak mempermasalahkan waktu tidur anak. Mau tidur siang kek, enggak kek, tidur jam berapa, bangun sore, tidur tengah malam, nggak masalah. Tapi buat saya itu masalah.

    Saya dan Cinta ini dari dia bayi terbiasa dengan rutinitas: bangun tidur, mandi, sarapan, sekolah/main, makan siang, tidur, mandi, main, makan malam, main, ngemil, tidur. Kecuali saat kami sedang berlibur atau travelling, ketika salah satu jadwalnya itu kacau, terutama kebutuhan akan tidur dan makannya kurang terpenuhi, dia akan cranky. Nah, saya yang nggak cukup punya energi dan kemauan untuk menghadapi kecrankyannya itu.

    Jadi gimana dong?

    Masalah tidur ini memang kepentingan emaknya kok. Saya paham sekali, tidur siang itu nggak enak buat Cinta, karena  berarti waktunya bermain berkurang. Tapi, saat Cinta tidur, saya bisa melakukan hal lain yang nggak ada hubungannya dengan dia. Nulis, baca buku, ikut tidur siang juga atau kalau pas lagi di rumah sendiri dan nggak ada pembantu, ya waktunya saya bersih-bersih rumah, setrika, masak buat makan malam, dll.

    Berdasarkan teknik dagangnya Toge Aprilianto sih, saat kita ingin anak melakukan sesuatu yang bukan kepentingannya, sebagai orang tua kita harus siap bayar. Masalahnya (lagi), saya nggak mau berdagang untuk hal yang satu ini dan makan. Kalau berdagang pun, bukan sesuatu yang menguntungkan anak. Hahaha emak serakah ya. Mau enaknya aja. Yaeyalah, kan manusia emang awalnya hidup berdasarkan prinsip enak-tidak enak. ketahuan emaknya Cinta belum lulus tahap ini waktu kecil dulu :p

    Mending saya beli keinginan supaya Cinta kembali rutin tidur siang tanpa susah payah ini dengan cara lain. So far, saya sudah mengijinkan dia untuk main iPad 15 menit sebelum tidur, membacakan tidur, menutup semua korden supaya nggak silau (sesuai permintaannya), peluk-cium dan usap-usap perut mamanya sambil bermanja-manja. Eh, itu juga termasuk menguntungkan Cinta dong ya 😀

    Cara terakhir yang cukup efektif adalah dengan mengacuhkan Cinta. Biasanya kalau mau tidur tuh, dia suka ngajak ngobrol, becanda, nyanyi-nyanyi, dll. Mungkin itu cara Cinta untuk mencari perhatian atau menyamankan diri sebelum tidur. Tapi beneran deh kalau diturutin, bisa nggak tidur-tidur. Jadi saya suka pura-pura tidur, baca buku atau mainan gadget. Lama-lama tidur sendiri dia.

    Tapiiiii, saya kok ngerasa cara itu jahat, yah? Dengan mengacuhkan Cinta seperti itu saya merasa jadi menempatkan Cinta di posisi yang kurang penting dibanding kebutuhan saya untuk tidur, baca buku dan gadget. Serba salah ih. Ada ide lain nggak sih yang bisa membuat rutinitas tidur siang ini kembali seperti semula tapi kiranya nyaman buat saya dan Cinta?

    Picture by: Awie R.
    Model: Cinta

  • Life in Brunei

    Yaiy, We Finally Got The Visa

    “Untuk apa sih ngurus visa? Emang ke Brunei aja perlu visa? Kan sama-sama ASEAN.” Begitu kira-kira pertanyaan yang sering diajukan saat saya bilang sedang mengurus visa supaya bisa ngikut suami tinggal di negara kecil yang terletak di ujung pulau Kalimantan itu.

    Memang sih, kalau sekadar berkunjung dari Indonesia seperti halnya ke negara-negara ASEAN lain, nggak perlu visa. Tapi visa on arrival ini hanya berlaku selama maksimal 14 hari. Nah, sementara saya dan Cinta kan ingin tinggal di sana sampai masa kerja suami selesai. Tentu lebih dari 14 hari dong. Untuk itu kami perlu mengurus visa tanggungan.

    Dependent visa ini adalah ijin tinggal sebagai tertanggung dari warga negara asing yang bekerja di Brunei. Salah satu syarat bisa mendapatkan visa ini harus ada sponsor, yaitu suami sebagai pekerja asing dan perusahaan tempatnya bekerja.

    Jujur aja saya sempat stres ngurus visa ini, karena ini adalah kali pertama mengurus tanpa agen dan ragu apakah berkas yang saya miliki sudah lengkap atau belum. Sulit sekali menghubungi kedutaan Brunei di Jakarta untuk memperoleh penjelasan yang lengkap.

    Jadi, berbekal informasi dari kedutaan Brunei yang saya peroleh sekitar 2 tahun yang lalu mengenai dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa tanggungan, Saya pun nekat berangkat ke Jakarta. Alhamdulillah setelah dicek, berkas-berkas yang saya bawa ternyata sudah memenuhi syarat. Apa aja? Ini dia:

    Untuk Istri

    1. Formulir permohonan visa
    2. Paspor
    3. Endorsment dari perusahaan tempat suami bekerja
    4. Surat dari imigrasi Brunei tentang jawaban akan permohonan visa tanggungan
    5. Salinan kuitansi pembayaran biaya fax calling visa dari Imigrasi Brunei ke kedutaan Brunei di Jakarta
    6. Kontrak kerja suami dan perusahaan tempatnya bekerja
    7. Foto ukuran 4 x 6 dengan latar belakang biru
    8. Salinan paspor suami
    9. Surat Nikah
    10. Salinan KTP

    Untuk Anak

    1. Berkas no 1 – 8
    2. Salinan Akta Kelahiran
    3. Salinan Kartu Keluarga

    Mengurus visa tanggungan ini dilakukan di Kedutaan Brunei di Jakarta. Sebelumnya pastikan dulu calling visa dari imigrasi Brunei sudah mereka terima daripada bolak-balik ke kedutaan seperti yang saya alami. Calling visa sendiri diperoleh setelah pihak perusahaan mengurus segala persyaratan di imigrasi Brunei. Bersamaan dengan dikeluarkannya endorsment dan jawaban atas permohonan visa tanggungan itu oleh imigrasi.

    Kalau semua berkas lengkap, proses pengurusan visa di kedutaan ini hanya makan waktu 3 hari kerja, kok. Dengan biaya sebesar Rp 120.000,00 per orang.

    Saya sendiri saat pertama kali datang ke kedutaan, diberitahu petugas bahwa calling visa kami belum ada. Mereka menyarankan saya untuk meminta perusahaan suami menghubungi imigrasi Brunei supaya dikirim lagi ke kedutaan. Untungnya perusahaan tempat suami kerja sigap, hari itu juga mereka meminta dokumen saya dan Cinta difaks lagi ke Jakarta. Meski ternyata butuh 2 hari sampai diterima oleh kedutaan.

    Wuiiih, nggak terkira leganya waktu paspor kami akhirnya dicap visa tanggungan itu. Perjalanan Surabaya-Jakarta, perjuangan mondar-mandir ke kedutaan, kecemasan akan dokumen yang belum lengkap, kepanikan saat calling visa nggak ada rasanya terbayar lunas. Alhamdulillah, akhirnya tinggal selangkah lagi menuju say goodbye to LDR 😀

    Kedutaan Brunei Darussalam:
    Jl. Teuku Umar No. 9, Menteng, Jakarta

    Telp: (021) 31906080
    Pengurusan visa: Senin – Jumat (08.30 – 11.30)
    Pengambilan visa: Senin – Jumat (13.30 – 15.00)

  • Life as Mom, Parenting

    From A Mother’s Eye

    Ngikutin berita tentang aksi Suster Ngesot yang ditendang satpam akhir-akhir ini bikin saya geleng-geleng kepala. Bukan, saya nggak mau ikut-ikutan ngebully si Mega atau membela pak satpam. Buat saya jelas, Mega yang salah. Titik! #sikap.

    Dalam kasus Mega, sebagai seorang ibu, saya pun memetik banyak pelajaran dari kejadian itu. Bahwa ada orang yang mudah sekali mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu hanya karena dia ingin, tanpa memikirkan sisi positif dan negatifnya, apalagi efeknya untuk orang lain.

    Ketika perbuatannya itu dianggap salah, seribu satu alasan pun keluar. Ia pun tidak menyadari kesalahan yang dia buat. Kalau nggak sadar dia salah, gimana mau minta maaf ke orang yang benar-benar sudah dia rugikan. Bahkan memposisikan diri sebagai korban.

    Satu lagi, meskipun anak adalah harta yang paling berharga, orang yang paling kita sayangi, saat dia salah ya kita harus menerima kenyataan itu. Tegur dia, ajak dia minta maaf dan membimbing mereka untuk memperbaiki kesalahannya. Bukannya tutup mata dan mati-matian membela anak atas nama cinta.

    Toh, sayang anak tidak berarti melimpahinya dengan materi, memanjakannya dengan mengiyakan semua keinginan dan membela setiap perilakunya. Sebagai orang tua, tugas kita mengarahkan anak mana yang bermanfaat, mana yang benar dan salah. PR kita juga mengajarkan anak berpikir bahwa setiap perbuatan ada risikonya, ajak mereka mempertimbangkan matang-matang segala kemungkinan yang bisa terjadi sebelum melakukan sesuatu.

    Yah, semoga kasus suster ngesotnya Mega ini, nggak semakin merugikan pak satpam dan keluarganya. Jangan sampai karena ulah konyol anak baru gede ini membuat sebuah keluarga kehilangan periuk nasinya.

  • Daily Stories

    Yang Penting Bisa Makan Pizza, Urusan Bayar Belakangan

    Meat Lover Cheesy Bites with Cheesy 7

     

    malam-malam lihat iklan pizza cheesy 7 di tv
    Cinta: Ma, kita belum pernah nyoba yg ini
    Mama: Iya
    Cinta: Aku pengen deh, Ma
    Mama: Mama juga pengen. Gimana kalo besok kita makan pizza tapi Cinta yg traktir
    Cinta: Apa itu traktir?
    Mama: Kita beli makan tapi Cinta yang bayar, pake uangnya Cinta
    Cinta: Iyaaa! aku yang traktir
    Mama: Bener? Emang Cinta punya uang?
    Cinta: Punya kan, ada di dompetku. Tapi nggak cukup.
    Mama: Trus gimana?
    Cinta: Nggak papa, nanti aku bayar, uangnya dari dompet mama.
    Mama: (–“)

  • Life as Mom

    Persembunyian Terindah

    Pernahkah punya tempat pelarian saat sedang sedih atau punya masalah? Tempat yang membuat kita merasa nyaman walau sesaat, bisa membuat kita sejenak bernafas lega dan berpikir lebih jernih. Tempat di mana kita tak perlu memikirkan apa yang sedang terjadi di luar sana meski hanya sekejap. Tempat kita bisa menjadi diri sendiri atau justru berpura-pura menjadi orang lain.

    Saya punya, tempat yang secara naluri dibangun oleh alam bawah sadar saya sejak berusia 10 tahun. Saat saya mulai sadar bahwa kehidupan saya tidak seindah kisah Rumah Masa Depan. Sejak itu, setiap keadaan mulai tidak menyenangkan, saya mulai lari ke tempat itu, sebuah negeri khayalan dalam sebuah cerita.

    Di tempat itu saya bisa berpura-pura punya keluarga bahagia yang hidup di padang rumput seperti Laura Ingalls Wilder atau berkhayal menjadi penyihir remaja yang ada di salah satu cergam Nina. Nggak jarang saya sok-sok jadi detektif, menyelidiki apa yang salah dalam keluarga saya dan berharap bisa memperbaikinya seperti anggota Lima Sekawan, STOP dan Trio Detektif.

    Ya, tempat pelarian saya adalah buku. Komik, cergam, majalah, novel. Semua saya lahap saat sedang sedih. Bukulah yang membantu saya melewati masa-masa sulit. Buku pula yang menghibur ketika saya gundah atau malah membuat saya menangis dan mengeluarkan sesak di dada. Saya cukup masuk kamar dan mulai membaca, suddenly world seems brighter and more fun back then.

    Sekarang sih karena berbagai macam kesibukan, saya sudah jarang tenggelam dalam suatu cerita. Paling saat membacakan cerita untuk anak atau ada novel yang bagus sekali atau buku parenting best seller yang wajib punya, saya menyempatkan bercengkerama dengan buku, benda yang pernah menjadi sahabat terbaik saya.

    Namun, kenangan indah memasuki dunia fantasi bersama cerita-cerita dalam buku itu nggak akan pernah saya lupakan. Bersyukur sekali ibu saya paham kebutuhan anaknya, pun di sekitar saya tinggal saat itu banyak tempat persewaan buku, sehingga saya nggak pernah  kekurangan bacaan.

    Waktu membaca postingan Shelvy Waseso tentang impiannya membuka #RuangBaca untuk anak-anak panti asuhan, saya pun tergerak untuk ikut bergabung. Ingin saya membantu anak-anak itu memiliki dunia indah dan persahabatan yang lekat dengan buku. Apalagi mengingat buku adalah jendela dunia, gudang pengetahuan. Sedangkan kondisi mereka tidak memungkinkan untuk bisa memiliki buku-buku yang beraneka ragam.

    Maka bersama beberapa orang teman lain, munculah gerakan #BukuBerkaki yang bertujuan untuk memberikan akses menuju jendela ilmu itu kepada anak-anak panti asuhan dengan cara membuka taman bacaan atau semacam perpustakaan keliling. Lewat media sosial, Buku Berkaki mencoba untuk mengajak teman-teman berbagi buku-buku layak baca untuk para anak panti asuhan. Yah, semoga dengan gerakan ini makin banyak anak yang bersahabat dengan buku yang bermanfaat.

    Kelak, kalau punya rumah yang lebih besar, saya pun ingin membuka taman bacaan untuk anak-anak. Membayangkan banyak anak duduk santai sambil membaca buku di garasi rumah saya yang sudah diatur seperti perpustakaan mini, lalu mendengarkan celoteh riang mereka yang bercerita tentang dunia yang baru dijelajahinya. Pasti menyenangkan sekali 🙂

    Siapa tahu, perpustakaan keliling #BukuBerkaki atau taman bacaan impian saya bisa menjadi tempat persembunyian terindah bagi anak-anak yang sedang bermasalah. Tempat mereka bisa bebas tersenyum dan membangun impian. Lingkungan yang bisa membantu mereka untuk tetap kuat saat diterpa badai. Kalau kalian, apa persembunyian terindahnya?