Our Family Is Growing By Two More Feet

Waktu ulang tahun Cinta bulan Juni kemarin, sempat ngetwit harapan yang kira-kira isinya,

Tahun kemarin ngerayain ulang tahun Cinta berdua aja, tahun ini komplit bertiga, tahun depan berempat?

Eh, nggak nyangka banyak juga yang mengamini harapan itu. Dan ternyata Allaah pun berbaik hati mengabulkannya dalam waktu yang amat singkat.

Di awal bulan Juli saya iseng pake testpack meski baru telat 2 hari dan ternyata hasilnya 1 garis merah tebal dan 1 garis merah tipis, persis seperti hasil testpack hamil Cinta dulu. Untuk meyakinkan diri, saya whatsapp adik yang dokter dan dia bilang kalo itu berarti positif hamil. Baru deh malamnya bilang ke suami yang berakhir dengan terdiam bengong bertiga dengan mata berkaca-kaca karena terharu trus peluk-pelukan. Duh, ini rejeki besar banget, pas menjelang Ramadhan lagi.

Jujur aja meski pengen, punya anak lagi bukan prioritas utama saya saat ini. Masih banyak keraguan apakah sanggup merawat bayi lagi di saat Cinta sudah sebesar ini. Apalagi sekarang jauh dari keluarga besar dan nggak punya asisten rumah tangga. Belum lagi trauma post partum depression dan Cinta kolik dulu masih belum sembuh bener. Tapi begitu dikasih, rasanya seneng banget. Insya Allah ini yang terbaik buat kami.

Awalnya kami nggak mau bilang-bilang dulu ke keluarga karena usia kandungan kan masih muda banget. Baru juga telat 2 hari. Kami berencana ngasih tahu keluarga saat mudik lebaran. Lagipula kami ingin pastikan ke dokter dulu. Jangan sampai udah kasih berita gembira eh ternyata false alarm.

Jadilah setelah 1 minggu terlambat haid saya ke Pusat Kesihatan Sg. Liang untuk periksa kehamilan, sayangnya menurut tes urin hasilnya negatif. Dokter juga bilang masih terlalu dini untuk periksa dan disuruh kembali 2 minggu kemudian. Sedih banget  rasanya. Sempat kecewa juga dengan sistem di sini yang nggak kaya periksa di DSOG Indonesia, di mana baru telat sekian hari aja udah bisa USG transvaginal untuk ngeliat ada atau tidaknya kantung rahim.

Karena penasaran sepulang dari klinik coba beli home pregnancy test digital supaya lebih akurat. Dan di hari yang sama hasil tesnya menunjukkan tanda kehamilan. Nah lhoooo hihihi… Bingung euy, yang bener yang mana coba.

Seminggu kemudian saya coba periksa lagi ke klinik dokter umum swasta yang menunjukkan hasilnya positif. Dan pas di hari ulang tahun saya, hasil tes urine di Pusat Kesihatan di Sg. Liang juga menunjukkan tanda positif hamil. Alhamdulillaaaah ya akhirnyaaaa ada kepastian juga. Baru deh woro-woro ke keluarga di Indonesia.

Sekarang sih kehamilannya sudah masuk usia 22 minggu. Alhamdulillah nggak ada gangguan berarti meski di trimester pertama sempat nggak doyan makan dan sekarang pun suka merasa capek dan mual. Tapi ya dinikmati aja lah, namanya juga lagi hamil. Toh, ada suami yang selalu ngasih suport bahkan rela mijetin dan gosokin punggung istrinya hampir tiap malam. Cinta pun tampak sayang banget sama adeknya. Walaupun ya adalah perubahan sikap yang menjurus ke arah sindrom anak-tunggal-mau-punya adek 😀

PR selanjutnya adalah menjaga kehamilan agar tetap sehat sampai waktunya melahirkan nanti; memastikan mau melahirkan di Brunei atau di Indonesia sebelum usia kandungan memasuki trimester 3 dan menyiapkan fisik dan mental diri sendiri, suami  terutama Cinta akan kehadiran anggota keluarga baru nanti. Minta doa supaya semuanya lancar ya. Terima kasih 🙂

Adaptasi di Sekolah Baru

Hari Sabtu kemarin, saya dan pak suami menghadiri acara Parents’ Day di sekolahnya Cinta. Yah, semacam pembagian report card tengah semester gitu lah. Aneh juga sih, bagi-bagi raportnya justru setelah liburan sekolah bukan sebelumnya seperti yang biasa di Indonesia. Tapi setelah dipikir-pikir agenda ujian dan libur sekolah kan sudah ditetapkan sama pemerintah dalam kalender nasional Brunei, di mana semua sekolah ya masa ujian dan liburnya barengan, nah padahal belum tentu sekolah itu sudah selesai bikin laporan hasil kegiatan belajar mengajar muridnya. Jadi akhirnya gitu deh, libur dulu baru terima raport sotoy.

Jujur aja saya agak deg-degan akan penilaian gurunya terhadap Cinta, secara bulan pertama dan kedua kami (Cinta, kami orangtuanya dan gurunya) mengalami masa-masa penyesuaian yang cukup berat.

Yah nggak heran, banyak sekali hal baru yang harus dihadapi Cinta saat itu. Dari gaya mengajar guru yang jauh berbeda dengan guru-guru sekolah lamanya di Indonesia yang lembut penuh kasih dan telaten. Guru di sini lebih tegas, disiplin dan nggak jarang menggunakan nada tinggi saat menegur anak-anak. Sampai harus belajar berkomunikasi dengan bahasa Melayu, Cina dan Inggris.

Saking beratnya proses adaptasi itu, Cinta pun berontak. Mulai dari susah bangun pagi, gampang marah dan bersikap agresif di kelas dan di rumah, nilai spelling test yang dapat 20 sampai tantrum setiap mau berangkat sekolah.

Sampai suatu pagi ketika tantrum di mobil, saya diamkan sambil terus nyetir. Setelah tangisnya reda kami mampir ke toko roti langganan untuk beli bekal dan sambil menunggu dia makan, saya ajak dia ngobrol di mobil.

Saya bilang, “Kak, Mama tahu kakak lebih suka di rumah karena bisa nonton tivi dan main iPad seharian kan?” yang disambut dengan anggukan dan mulut penuh roti. “Iya, Mama juga suka di rumah main sama Cinta. Tapi, kakak tahu kan kalau kakak ini anak pintar? Mama tahu. Kakak suka belajar, ya kan? Belajar tentang serangga, tubuh manusia, belajar berhitung, menggambar, bikin prakarya. Nah, Mama merasa nggak bisa ngajarin Cinta sendirian. Jadi mama butuh bantuan guru-guru di sekolah yang lebih ngerti untuk anak seumur  Cinta ini sebaiknya belajar apa, supaya kepintarannya kakak bisa berkembang. Mungkin berat ya buat kakak belajar di sekolah, sampai kakak selalu marah-marah. Mama tahu Cinta capek. Tapi kan ada Mama sama Papa yang selalu bantu Cinta kalau ada yang susah. Don’t worry.

Nggak tahu deh waktu itu Cinta mengerti atau tidak, atau menurut para ahli ilmu parenting itu benar atau tidak tapi jujur aja waktu itu saya sudah nyaris putus asa karena setiap hari menghadapi tantrumnya Cinta. Dan itulah satu-satunya cara yang terpikir. Tak disangka, jawaban Cinta saat itu, “I’m a smart girl ya Ma? Smart girl goes to school , ya? Oke, now let’s go to school.” adalah titik balik dari “pemberontakan”nya.

Tentu nggak lantas semuanya jadi mudah. Sempat beberapa kali saya konsultasi online ke beberapa psikolog anak termasuk pak Toge Apriliyanto dan mbak Anna Surti Nina via twitter seperti yang saya tulis di sini. Terpikir juga untuk pindah sekolah yang bukan chinese school dengan harapan lebih sesuai dengan kepribadian Cinta. Tapi setelah diskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk bersabar dulu, saling mendukung dan membantu Cinta melalui proses adaptasinya di Chung Ching Kindergarten.

Toh, di Brunei pindah sekolah bukan hal yang mudah karena selain sekolah lain jaraknya bisa 30 km dari rumah (yang sekarang aja sudah 20 km) juga harus mengurus student pass di imigrasi yang membutuhkan proses yang lama.

Akhirnya kami pun berusaha membuat berangkat sekolah menjadi hal yang menyenangkan, seperti memutar lagu-lagunya Sherina saat bangun pagi, mampir di pantai dekat kantor suami tiap pagi sekadar untuk melihat ombak, bunga, rumput dan menghirup udara segar. Atau ke toko-toko yang berbeda tiap pagi untuk  membeli snack atau roti. Kami juga belajar lebih sabar dan memahami kondisi Cinta karena memang cuma itu kuncinya, sabar.

Lama-lama tantrum pun berkurang, Cinta sudah lebih ceria di sekolah. Bu Guru yang tadinya curhat kalau Cinta (meski bisa tapi) nggak mau mengikuti instruksinya di kelas bilang kalau sekarang sudah jauh membaik. Sudah mampu dan mau bermain sama teman-teman, bahkan tiap pagi datang ke kelas selalu dikerubutin teman-temannya untuk diajak main. “But sometime she’s too playful, so time after time I had to separate her from Avvani or they will disturb the other kids,” said teacher. Cinta juga dipercaya jadi anggota group dance kelasnya untuk acara ultah sekolah Oktober/November nanti, “She’s good at singing, dancing and following the rythim.” kata gurunya di pembagian raport kemarin. Duh, terharu sekali dengernya.

Sekarang Cinta jadi lebih bersemangat belajar, meski belum bisa membaca tapi keinginannya untuk bisa membaca dan menulis besar sekali. Begitu pula berhitung, semua-mua maunya dihitung. Aaah, alhamdulillaah senang sekali rasanya. Akhirnya kerja keras kami mulai ada hasilnya. Cinta pun memberi kami bonus dengan meraih peringkat ketiga di kelasnya saat pembagian raport kemarin. Semua berkat pertolongan Allaah melalui usaha keras Cinta, kesabaran Teacher Yee membantu Cinta menyesuaikan diri di kelas dan tentu saja ketelatenan pak suami untuk  belajar bahasa Cina bersama Cinta.

Oya, ada satu hal yang saya suka dari buku raport Cinta. Di halaman belakangnya ada reminder  dari pihak sekolah yang berbunyi seperti ini:

This report shows the performance of your child in the activities at Chung Ching kindergarten. Evaluation and grading are done carefully, but in some way it mau not be fully valid or accurate. Parents shall not reprimand or punish the children based on the results given in this report as it may affect his/her interest and performance at school.

Each child is different and special. Your child has his/her own strenghts and weakness and therefore is incomparable with other children. During the Kindergarten years, your child undergoes rapid changes and development. Appreciate and praise your child if his/her skills are appropriate and in place; on the other hand assist and support your child if he/she is manifesting delayed skills. Giving too much pressure to your child to perform according to your high expectation may be sometimes counterproductive and retard his/her development.

Selamat hari Senin, bagaimana raport anak-anak kemarin? Sudah mengucapkan selamat dan terima kasih atas usaha keras mereka di sekolah kan?

Cinta’s 5th Birthday

Tiap tahun, saya selalu berangan-angan bikin acara ulang tahun yang menyenangkan untuk Cinta, rasanya bayangan jenis kue, goody bag, baju ultah, sampai tempat acara sudah melekat di kepala selama berbulan-bulan. Tapi ternyata ulang tahun yang menyenangkan menurut Cinta tidak sama dengan saya. Buat dia merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah cukup dan ternyata hal ini dikabulkan oleh Allaah.

Jadilah tahun ini sesuai dengan permintaan Cinta, kami merayakan ulang tahun ke-5 gadis kecil ini dengan penuh kesederhanaan. Hanya kami  bertiga, 2 buah kado dan kue ulang tahun pilihan Cinta, di hari Minggu, 17 Juni 2012 yang lalu. Meski sederhana bukan berarti sepi karena tak lama setelah acara tiup lilin kami dapat video call dari keluarga di Sidoarjo, telpon dari Yangti Yangkung Tuban dan tante bude. Belum lagi limpahan doa dan ucapan selamat dari teman-teman di Twitter dan Facebook. Alhamdulillaah, semoga diijabah Allaah.

Keesokan harinya Cinta bagi-bagi cupcake untuk teman-teman di sekolah. Nggak pakai acara tiup lilin karena dia nggak mau, “Kan kemarin sudah celebrate my birthday at school, Ma. Sekarang makan kue aja rame-rame sama teman-teman,” pintanya.

Selamat ulang, Nadja Aluna. Selamat meninggalkan masa balitamu dan menyongsong hari-hari sebagai anak besar. Terima kasih telah menjadi guru terbaik bagi kami untuk terus belajar menjadi orang tua. Semoga mama dan papa bisa membimbingmu menjadi anak sholeha, berguna bagi lingkungan, sehat dan bahagia. Aamiin 🙂

Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

Question:

mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

@alfakurnia

Answer:

@AnnaSurtiNina

Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina

Membantu Anak Beradaptasi di Sekolah Baru

Question:

Anakku (5T) sudah 3 bulan ini adaptasi dengan lingkungan & bahasa baru. Dia pernah ngeluh nggak punya teman di sekolah and she looks happier at home than at school. Katanya kalo di rumah lebih menyenangkan.
Dia di sekolah pernah dibully temen ceweknya & dijauhi. Sejak itu jadi galak banget, digoda sedikit sama teman marah padahal tadinya mereka main bareng dan dia sempat senang karena sudah punya teman. sekarang seperti ulang dari awal lagi proses adaptasi di kelas

Gimana cara bantu dia ya mbak?

@alfakurnia – 24 April 2012

Answer:

@AnnaSurtiNina

Biasanya anak yg masih adaptasi dengan lingkungan bener-bener baru memang stres banget, cenderung nyari situasi aman. Syukurlah itu adalah rumah.

Mau gak mau emang trus diperkenalkan dgn lingkungan & bahasa baru ini, dengan menyenangkan, supaya dia bisa adaptasi lebih baik

Tentang temen-temennya, kasih tahu bahwa temen-temennya mungkin malu untuk mengajak dia berteman, misalnya karena bingung mau bicara apa, bukan tidak mau.

Jadi ajarkan untuk banyak senyum di sekolah, supaya teman-teman mau mendekat & ajak dia bermain. Dorong anak untuk ikuti permainan teman

Kalau ada komunitas menyenangkan yang bisa diikuti bersama anak, ikuti aja, biar dia belajar bergaul dengan senang.

Untuk diperkenalkan budaya & bahasa baru itu bisa banyak-banyak jalan-jalan ke pasar tradisional di sana, ikut kegiatan-kegiatan masyarakat, dll

Bantu carikan kegiatan-kegiatan masyarakat daerah yang banyak anak-anaknya & bantu dia utk ikut terlibat di sana. Lama-lama bisa adaptasi lebih ok

Gak papa, lebih baik ulang lagi proses adaptasi daripada dipaksa tp nggak bagus hasilnya. Prinsipnya kayak terapi, yang masih kurang dikuasai perlu diulang belajarnya dengan benar. Ditemenin aja dalam proses adaptasi ulang ini, lebih banyak lagi kenalin temen lain.

(Source: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitternya @AnnaSurtiNina)

Birthday Celebration

Sekolah Cinta, Chung Ching Kindergarten Seria, 2x dalam setahun mengadakan group birthday celebration atau perayaan ulang tahun massal untuk anak-anak KG1 – KG3. Bulan Juni ini, setelah mid year exam, birthday celebration yang pertama diselenggarakan untuk mereka yang ulang tahun di bulan Januari – Juni. Dalam perayaan ini sekolah menyediakan kue taart dan goodie bag, sedangkan orang tua diminta membawa makanan, snack atau suvenir untuk dimakan ramai-ramai di kelas.

Karena Cinta ulang tahun di bulan Juni, meski belum waktunya, ikut dirayakan tanggal 4 kemarin. Dan saya kebagian bawa potluck dong yah yang setelah dipikir-pikir akhirnya memutuskan bikin yang gampang aja, sate sosis bakso ikan dan puding susu sutera 2 warna hasil nyontek resepnya mamak @depezahrial.

Seru juga sih acaranya, dimulai dari nonton acara sulap bareng seluruh TK di hall. Kebetulan ada salah satu orang tua murid KG2 Red yang mengundang Mr. Magic Lee untuk perform di sekolah dalam rangka ultah bareng ini. Huiii, anak-anak seneng dan heboh banget. Lalu masuk kelas masing-masing untuk tiup lilin, potong kue dan foto bersama kepala sekolah dan dilanjutkan dengan makan bersama.

Meskipun sederhana dan ala kadarnya, bocah-bocah kecil itu senang sekali lho. Apalagi liat begitu banyak kue, susu, mie, puding dan lain-lain yang tersedia di meja. Plus nggak ada pelajaran hari itu. Selamat ulang tahun ke- 5 Aavani, Darwish, Nadja, Wishya, Min Hui, Haikal, Azhar, Issabel dan Amar. Semoga selalu menjadi buah hati kebanggaan keluarga.