Browsing Tag:

daily life

  • Daily Stories

    Koin oh Koin

    Koin yang nyangkut

    Kemarin pagi, seperti biasa habis minum susu Cinta main sendiri di kamarnya sambil nunggu saya merebus air untuk mandi. Baru aja nyalain kompor tiba-tiba Cinta nangis kejer sambil berusaha untuk muntah. Langsung saya samperin di kamarnya dan (saya nggak begitu ingat detil kejadiannya) tiba-tiba liat ada benda bulat mengkilat nyangkut di ujung lidahnya. Dem, Cinta nggak sengaja nelen koin. Nggak pake mikir, cuma sempat bilang bismillah langsung saya masukin jari ke mulutnya. Alhamdulillah ujung koin yang ada di dalam masih bisa teraih. Akhirnya saya congkel dan keluarlah koin sebesar uang Rp 100,- jadul yang biasa buat kerokan itu.

    Selama proses ngeluarin yang cuma berlangsung dalam hitungan detik itu rasanya ujung jari dan koin melukai dinding mulutnya. Sehingga begitu koin keluar Cinta langsung muntah beberapa kali, sambil terus nangis. Setelah di lap, saya peluk sambil membiarkan dia menyelesaikan nangisnya. Peluk aja, nggak pake ngomong apa-apa. Saya tahu dia cuma lagi butuh menenangkan diri karena saya pun begitu. Abis puas nangis, ya main lagi. Ngoceh-ngoceh lagi, nyanyi-nyanyi lagi dengan matanya yang berbinar-binar. Gantian saya yang terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya menahan air mata.

    Banyak yang berkelebat di pikiran saya begitu kejadian menegangkan itu selesai. Antara bersyukur banget nget nget nget… Alhamdulillah… Puji Tuhan, koin itu bisa keluar cuma dengan dicongkel dengan jari. Sementara segala macam teori dan praktek pertolongan pertama yang harus dilakukan saat anak tersedak kaya Heimlich Maneuver benar-benar menguap dari kepala. Sekaligus ngebayangin kalau seandainya saya nggak bisa mengeluarkan koin itu, what should I do? Sementara UGD jauhnya sekitar 15-20 menit perjalanan dari rumah.

    Kalau ditanya dari mana Cinta dapat koin, saya juga nggak tahu. Mungkin dari kotak mainannya, mungkin dari celengan yang suka dia buka tutup kuncinya. Pertanyaan, “Kok, Cinta masih suka masukin benda asing ke mulut? Emang umur berapa?” juga jadi PR buat saya. Seharusnya anak usia 3 tahun 8 bulan sudah melewati fase oral ya. Tapi belakangan emang dia suka ngemutin apa aja yang menarik perhatiannya; kertas, karet rambut, koin. Normal kah atau Cinta lagi mengalami regresi alias kembali ke tahap perkembangan yang paling memuaskannya? Ada yang bisa bantu jawab kah?

    Yang pasti ini pelajaran banget buat saya. Harus rajin-rajin inspeksi kotak mainannya, nggak bosen kasih pemahaman untuk nggak masukin benda-benda asing ke mulut dan sebisa mungkin menemani Cinta waktu lagi main. Seperti yang dibilang mbak Resti, dalam sepersekian detik apapun bisa terjadi. Yup, we’ll never know. But thank God everything is fine now.

  • DIY

    Rumah Boneka

    rumah boneka dari kardus

    Sore-sore dapat kiriman paket dari mama yang bentuk kardusnya udah dimodifikasi.

    Sementara saya asik bongkar-bongkar isi paket, Cinta sibuk mainan kardusnya.

    Tiba-tiba dia bilang, “Ma, Ma! Ini rumah nih!” sambil membentuk bagian kardus menjadi segitiga. Lalu dia masukkan boneka-bonekanya ke dalam kardus dan bilang kalo itu adalah rumah boneka.

    Wah, saya pikir kenapa nggak sekalian aja dibuat rumah-rumahan, pasti Cinta suka.

    Abis mandi sore, saya ajak Cinta untuk bikin prakarya. Gunting-gunting sedikit untuk bikin pintu dan jendela plus lubang untuk masukin boneka di bagian belakang. Selotip bagian atas kardus untuk membentuk atap dan bagian bawah untuk lantainya. Pasang kain felt di bagian atap, kusen pintu & jendela dan gordyn lalu tempel kertas warna untuk dinding dan pintu.

    Voila, jadi deh rumah boneka dari kardus meski nggak rapi-rapi amat. Lumayan, memanfaatkan barang bekas sekaligus menyenangkan hati anak 😀

  • Foods and Places, Traveling

    Serunya Main Salju

    PhotobucketSejak beberapa minggu yang lalu waktu liat baliho gede Snow in BSD City di depan ruko-ruko BSD, udah pengen ngajak Cinta ke sana. Akhirnya baru kesampaian tanggal 28 Desember 2010 yang lalu (huhuhu another late posting), itupun sebagai hadiah karena dari hasil penilaian gurunya, perkembangan Cinta selama 1 semester di sekolah cukup bagus.

    Sampai di area Ocean Park BSD, kami langsung cari parkir yang dekat lokasi salju itu. Tadinya saya pikir pengunjung hari itu sudah lumayan rame karena lagi libur anak sekolah. Tapi waktu kemarin kami ke Ocean Park untuk makan di D’Cost (yang akhirnya batal karena penuh) ternyata yang mau main di salju jauh lebih banyak dari waktu kami ke sana. Mungkin karena tanggal 2 Januari 2011 itu adalah hari terakhir pertunjukan salju.

    Untuk masuk ke area salju, tiap orang dewasa dikenakan biaya Rp 50.000,00 sedangkan anak usia 1 tahun sampe yang tingginya 140 cm bayarnya Rp 40.000,00. Dengan HTM segitu bisa main sepuasnya lho dari jam 11 pagi sampai jam 8 malam. Kalo bosen di dalam atau kedinginan dan lapar bisa keluar dulu, makan Pop Mie di booth yang ada di situ trus masuk lagi.

    Karena yang datang cukup banyak, terpaksa antri untuk dapat jaket khusus, terutama anak-anak. Jadi nunggu ada yang keluar dulu baru kita dapat jaketnya. Itupun rada rebutan karena banyak yang nggak mau antri *sigh*. Melihat yang keluar dari arena tampak kedinginan dengan pipi merah-merah, saya minta suami belikan sarung tangan di stan Pop Mie untuk Cinta sementara saya antri jaket. Sepertinya sih lain kali mending bawa jaket sendiri yang tebal karena selain jaket yang ada terbatas jumlahnya, ukurannya nggak pas, juga kotor dan nggak bisa direkatkan lagi velcronya. Jangan lupa juga pake kaos kaki dan sarung tangan karena memang di dalam dingin banget. Kata petugasnya, suhu di dalam arena sampai 11 derajat Celcius.

    Sebelum masuk ke dalam ruangan saljunya, pengunjung dikumpulkan dulu sambil diberi pengarahan, termasuk larangan memotret pakai kamera atau ponsel pribadi karena di dalam sudah ada fotografernya. Dengan bayar Rp 20.000,00 bisa dapat 1 lembar foto dan file yang disimpan di CD. Setelah siap, kami dipersilakan masuk dan begitu pintu dibuka langsung terasa dinginnya.

    PhotobucketPhotobucket

    Arena saljunya remang-remang kaya di Sea World plus dingin banget, bikin Cinta agak takut dan nggak mau jalan sendiri. Jadilah dia digendong sambil kami melihat-lihat ice carving beraneka bentuk yang ada di situ. Yang jadi atraksi utama adalah arena seluncur salju dan salju yang turun seperti hujan rintik-rintik. Dengan suasana gelap gitu dan suara mesin salju yang keras jadi berasa lagi kena badai salju (imajinasi tingkat tinggi). Karena saya kedinginan banget dan Cinta nggak mau turun dari gendongan, akhirnya suami aja yang main perosotan salju. Yah, lumayan daripada cuma berdiri nonton orang main. Padahal kayanya pengunjung lain seru nyobain jalan di es tanpa sepatu khusus, perosotan, foto-foto (ada yang sembunyi-sembunyi pake kamera pribadi termasuk saya sebelum akhirnya ditegur petugas hihihi).

    Nggak sampe 30 menit kami ada di sana, Cinta sudah minta keluar. Mungkin nggak betah dinginnya atau takut gelap. Secara keseluruhan cukup menyenangkan sih, cuma sepertinya lebih cocok untuk anak yang sudah agak besar dan nggak takut gelap. Nggak sedikit juga pengunjung dewasa yang datang berkelompok. Senang juga bisa ngerasain dinginnya salju di tengah panasnya Serpong.

  • Review, Traveling

    Cinta dan Princess Fairytale di SMS

    PhotobucketBeberapa waktu yang lalu, papanya Cinta ngajak jalan-jalan ke Summarecon Mall Serpong yang ada di Gading Serpong itu. Tiap pulang ke Jakarta, si papa suka banget jalan-jalan ke sana dan memang kami ke sana cuma kalo beliau ada di sini, karena saya malas harus bermacet-macet ria di depan Giant Serpong itu. Begitu mendekati SMS, banyak sekali baliho gambar Princess dengan background pink. Cinta yang suka banget sama sesuatu yang berbau-bau princess Disney dan pink langsung semangat pengen liat Princess. Ternyata memang di SMS lagi ada acara Disney Princess Fairytale Princess mulai tanggal 2 Desember 2010 – 9 Januari 2011.

    Setelah membaca sekilas baliho yang ada, kami langsung menuju lobi selatan SMS untuk melihat magic mirror. Booth ini menampilkan 2 buah “cermin ajaib” yang diletakkan di depan kastil kecil. Setelah daftar dan antri sebentar, giliran Cinta untuk mencoba pun tiba. Dia diminta untuk berdiri di depan cermin lalu dipakaikan semacam celemek setelah itu mbak SPG memencet-mencet semacam joystick dan voila, yang muncul di cermin adalah bayangan Cinta mengenakan baju princess lengkap dengan rambutnya. Cinta seneng banget, apalagi baju yang muncul di kaca berganti-ganti, mulai dari Snow White, Aurora, Cinderella dan Belle. Setelah Cinta selesai, SPGnya menawarkan saya untuk mencoba, ternyata nggak cuma untuk anak kecil, orang dewasa pun bisa mencoba bercentil-centil di cermin ajaib. Gratis lagi.


    PhotobucketPhotobucket

    PhotobucketPhotobucket
    Selesai ngaca, Cinta tertarik sama dekorasi kereta labu a la Cinderella yang ada di sebelah booth magic mirror. Rupanya ada stan foto a la Princess. Dengan membayar sebesar Rp 60.000,00 kita bisa foto memakai kostum princess yang sudah disediakan plus make up dan dapat hasil cetak foto sebesar 6R. Kalau mau menyimpan file-file foto di CD bisa nambah Rp 15.000,00 per 3 foto. Hasil foto dan copy CD bisa ditunggu selama 30 menit. Dasarnya Cinta emang suka banget foto apalagi a la Princess, dia pun dengan senang hati berpose di dalam kereta labu dan di depan pohon terang. Sayang, kostum untuk anak seukuran seumuran Cinta sangat terbatas, cuma ada gaun Ariel yang dipakai Cinta ini dan Snow White.

    Abis foto-foto, sambil nunggu hasilnya kami main di Timezone. Selagi Cinta dan papanya main, saya berjalan-jalan di sekeliling Timezone dan melihat ada panggung seperti istana para putri negeri dongengnya Disney di atrium SMS, bagus banget. “Istana” ini nantinya akan jadi tempat meet and greet para princess dan panggung Princess Competition. Sayang waktu kita ke sana nggak pas jadwal meet and greet yang diadakan mulai tanggal 12 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011 tiap hari Minggu mulai jam 16.30 WIB.

    Tadinya saya pengen mendaftarkan Cinta ikut Princess Competition, kebetulan kami punya kostum Aurora yang dipakai Cinta waktu ulang tahunnya yang ke-3. Tapi ternyata lomba itu diperuntukkan untuk anak usia 6-12 tahun. Padahal hadiahnya seru, jalan-jalan ke Hongkong Disneyland. Yah, mungkin 3 tahun lagi ya Cin.

    Meski nggak bisa naik panggung karena ditutup, kami cukup puas dengan melihat-lihat dan menikmati berbagai benda-benda khas princess yang dijual di sekitar panggung. Mulai dari baju, perlengkapan sekolah dan makan sampai sandal, CD dan aksesoris. Cinta pun dapat jatah beli satu buah cincin bergambar tempel Aurora yang sayangnya sekarang sudah copot dari cincinnya. Berhubung Cinta sudah ngantuk, yang ditandai dengan tangisan meminta dibelikan buku lah, mainan lah, kami pun memutuskan untuk pulang sebelum tantrumnya bertambah hebat. Tapi saya berjanji akan mengajak Cinta ke sana lagi tanggal 9 Januari untuk meet and greet with all Princess. Sampai jumpa tahun depan Princesses.

  • Parenting

    (Bukan tentang) Kak Ros dan Opah

    upin ipinSiapa yang tak kenal dengan 2 tokoh di samping? Ya, kak Ros dan Opah adalah kakak dan nenek dari budak budak badung nan comel Upin dan Ipin. Seperti yang kita tahu, Upin dan Ipin adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakak perempuannya Ros dan neneknya yang biasa mereka panggil Opah. Karakter Ros dan Opah dalam mengasuh Upin Ipin ini, mengingatkan saya akan karakter khas seorang ibu dan nenek dalam pengasuhan seorang anak. Ros, meskipun sebenarnya adalah kakak dari Upin Ipin tapi seakan mewakili seorang ibu muda yang galak dan tegas kepada anak-anaknya. Sedangkan Opah, seperti lazimnya seorang nenek, suka memberi petuah, sabar daaaaaann kadang memanjakan cucu-cucunya. Sikap Opah yang seperti itu kadang membuat kak Ros gemas karena pada akhirnya dua bocah itu lebih nurut kepada Opah yang memanjakan mereka daripada Ros yang sering melarang ini dan itu.

    Familiar kah dengan situasi seperti itu? Saya sih akrab banget huehehehe. Dan rasanya ini masalah klasik yang dihadapi setiap orangtua yang ingin mendidik dan mengasuh anaknya sesuai dengan idealisme masing-masing namun seringkali berbenturan dengan kasih sayang nenek-kakek yang kerap memanjakan. Sayangnya, niat baik para nenek dan kakek membuat orangtua berada pada posisi yang serba salah, malah nggak jarang bikin anak jadi bingung karena sama papa mama nggak boleh kok sama opa oma boleh. Kondisi tersebut membuat anak yang pintar akan berstrategi, kalau pengen apa-apa yang dia tahu bakal dilarang sama ayah ibu, maka larilah dia ke eyang-eyangnya karena tahu bakal dikabulkan. Efek negatifnya, lama lama bisa membuat anak meremehkan peraturan yang dibuat orangtuanya.

    Nggak cuma apa yang boleh dan apa yang enggak, cara menghadapi anak yang tantrum karena keinginannya tidak terpenuhi pun juga sering berbeda. Kita, karena sering nonton Super Nanny, Nanny 911, serta ikut seminar-seminar dan membaca buku-buku parenting mungkin merasa bahwa timeout adalah cara efektif untuk meredakan tantrum dan kemudian memberi pengertian kenapa kita tidak memenuhi keinginannya. Sementara opa dan oma yang tidak tega melihat cucu kesayangannya menangis biasanya akan memberi apa yang mereka inginkan dengan alasan, “kasian lihat cucuku nangis terus.”

    Beberapa bulan yang lalu, saya pernah ngetwit soal ini dan ditanggapi oleh Ayah Air, menurut beliau sebaiknya kita sebagai orangtua bilang secara asertif kepada yang membela anak saat kita sedang menegakkan peraturan atau disiplin untuk membiarkan kita pegang kendali. Awalnya memang susah, tapi harus dicoba. Langkah awalnya, begitu ada yang belain, kasih isyarat tangan untuk stop dan tatap matanya, lalu bilang “ntar ya kita bicara.” Setelah kejadian dan anak sudah tenang ajak yang ngebelain untuk ngomong, bicarakan dengan tegas, tenang dan apresiatif. Nah, bicara ini yang mungkin agak sulit ya, apalagi jika yang melakukan adalah keluarga pasangan. Solusinya ya, ayah dan ibu harus satu suara sehingga kita bisa minta pasangan yang bicara kepada orangtua atau saudara-saudaranya untuk nggak ngebelain anak.

    Nggak gampang, apalagi kaya saya nih, kalo ada yang ngebelain Cinta saat saya melarang atau memberi timeout biasanya malah tambah kesal karena merasa otoritas sebagai ibu dilanggar dan malah melampiaskan ke Cinta alias jadi marah marah ke anaknya. Salah banget kan itu. Akhirnya belakangan kalau Cinta tantrum dan muncul tanda-tanda ada yang mau belain, cepat-cepat saya bawa masuk kamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Saya peluk anaknya, kadang kalau dia lagi super kesel dan nggak mau dipeluk saya duduk aja di sebelahnya dan membiarkan dia menangis sampai selesai. Setelah puas, baru saya peluk sampai benar-benar berhenti nangisnya. Kemudian saya terangkan baik-baik kenapa itu nggak boleh, kenapa saya melarang dia melakukan sesuatu, kenapa saya me-timeout dia dan sebagainya. Hasilnya, alhamdulillah Cinta juga sudah mulai berkurang tantrumnya, kalaupun marah cuma sebentar dan lama-lama mengerti. Saya pun jadi lebih mudah mengontrol emosi.

    Lalu bagaimana dengan kak Ros dan Opah? Well, berhubung Upin Ipin hanyalah serial kartun saya cuma berharap semoga di episode-episode selanjutnya, kak Ros bisa lebih berdaya dalam menghadapi Opah yang memanjakan adik-adiknya ya. Karena sayang bukan berarti selalu menuruti atau memberikan semua kemauan anak atau membiarkan anak melanggar peraturan. Justru disiplin yang diterapkan dengan hati dan kasih sayang yang akan mendidik anak menjadi pribadi lebih baik.

  • Life as Mom

    Sebulan tanpa ART

    familySejak tanggal 4 September yang lalu, mbak yang biasa bantu-bantu di rumah pamit pulang untuk lebaran di kampung. Jauh sebelumnya udah ditanya apakah dia bakal balik atau enggak dan dia bilang nggak berani janji karena berat sama anaknya di kampung. Ya okelah, dari awal sih feeling saya udah bilang kalo dia kerja selama dua bulan itu niatnya cuma mau cari duit buat lebaran. Tapi entah kenapa, mungkin karena udah terlanjur cocok sama kerjaannya, Cinta juga udah bisa dekat sama dia, saya berharap banget dia balik. Beneran deh, sama si Indah itu saya terima beres, rumah bersih, masakan enak dan orangnya jujur. Gimana saya nggak cuma tinggal makan tidur dan ngurusin Cinta aja kerjaannya. Selain itu dia pinter dan update berita, nggak suka nonton sinetron, sering ngobrol soal berita apa aja yang ada di TV malah soal pendidikan dan cara mengasuh anak dia nggak kalah sama ibu-ibu yang melek internet.

    Ternyata beneran, setelah 10 hari kami mudik, saya sms dan telpon nggak ada respon. Baru 2 minggu yang lalu dia bilang kalau sudah balik ke kontrakan suaminya di Jakarta tapi anaknya dibawa jadi nggak kerja lagi. Sebelumnya sih saya sudah mulai nitip ke mana-mana, mulai dari yang nginep sampai yang pulang sore. Meanwhile semua kerjaan rumah mau nggak mau harus dilakukan sendiri. Jujur aja, karena nggak terbiasa dan memang nggak terlalu suka kerja domestik, saya sempat keteteran. Rasanya gemes karena kerjaan kok gak selesai selesai, cuci piring bisa 10 kali sehari, lantai baru disapu dan dipel lha kok 5 menit aja bersihnya abis itu udah kotor lagi. Setrikaan menggunung dengan manisnya. Belum lagi pusing mau masak apa trus masaknya gimana. Huuu, stres banget sampai suatu pagi saya nggak tahan, akhirnya ngumpet di kamar pembantu di loteng.

    Sejak itu, suami mulai bantu-bantu, pulang kerja kadang dia sempatkan nyapu ngepel lantai, kalau saya lagi mengerjakan sesuatu dia yang nemenin Cinta main. Soal makanan, kalau nggak sempat masak ya makan di luar atau beli di depot deket rumah. Pelan-pelan saya mulai dapat ritmenya, enaknya ngerjain apa dulu, sambil disambi ngerjain apa. Kalau lagi malas atau capek ya nggak memaksakan diri untuk bersih-bersih. Santai aja sambil main sama Cinta, online, nonton TV. 2 minggu pertama nggak ada asisten bisa dibilang saya nggak pernah punya waktu untuk menyentuh laptop kesayangan, boro boro deh, sekedar ngobrol santai sama si bocah aja nggak bisa. Bawaannya kesel, capek, mau marah. Tapi setelah itu mulai bisa online tengah malam saat suami dan Cinta masih tidur, nonton TV siang-siang, jalan-jalan sore sambil jemput suami di kantornya.

    Tantangan sebenarnya baru saya rasakan beberapa hari yang lalu saat suami kembali tugas ke Brunei. Nggak ada lagi yang bantu nyapu ngepel atau nemenin Cinta main, semuanya harus dikerjakan sendiri. Yang ada malah kasihan Cinta karena ditinggal ngurusin kerjaan rumah terus walaupun kadang dia suka ikutan bantu. Malah sejak saya kerja di rumah sendiri, Cinta jadi makin mandiri dan mudah diajak kerjasama. Yah, semoga setelah ini saya bisa mengatur waktu dengan lebih baik lagi supaya semua bisa kepegang, ya bersih-bersih, doing the laundry, masak, ngurusin anak. Salut deh saya sama ibu rumah tangga yang bisa melakukan itu semua sendirian. Semoga suatu hari bisa kaya gitu juga.

  • Daily Stories, Parenting

    Kidal atau Tidak?

    Sejak bayi, Cinta lebih banyak menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas. Sampai guru-gurunya di Baby School dulu bertanya apakah Cinta ada kecenderungan kidal. Kami pun pernah menduga demikian, tapi dari beberapa referensi yang pernah saya baca, batita memang punya kecenderungan untuk menggunakan kedua tangannya secara aktif yang menunjukkan bahwa otak kanan yang berkaitan dengan kemampuan matematik dan otak kirinya yang mempengaruhi kemampuan tata bahasa sedang berkembang. Tapi di usia 2-3 tahun mulai tampak tangan mana yang lebih dominan dan akan permanen di usia 6 tahun. Bahkan ada yang menyebutkan ciri-ciri anak kidal sudah ada sejak ia berusia 6-7 bulan, sementara kecenderungannya sudah terbentuk ketika anak dalam kandungan, walaupun nantinya lingkungan juga berpengaruh.

    Namun, sejak masuk sekolah saya perhatikan Cinta lebih banyak menggunakan tangan kanan untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan motorik halusnya seperti menggunting, membentuk sesuatu dari playdoh, memegang alat tulis, dsb. Tapi untuk melempar, memegang atau membawa sesuatu yang agak berat masih dengan tangan kiri. Mungkin karena pengaruh guru dan teman-temannya di sekolah atau karena memang dia lebih nyaman dengan cara seperti itu.

    Saya dan keluarga sendiri tidak pernah mempermasalahkan tangan sebelah mana yang lebih dominan di Cinta. Hanya saja pelan-pelan dan tanpa paksaan, kami mengajarkan Cinta untuk bersalaman, memberi dan menerima sesuatu, juga makan dengan tangan kanan karena budaya di sini masih menganggap tangan kanan sebagai “tangan manis”. Apapun jadinya nanti, mau kidal atau tidak, yang penting Cinta nyaman dengan dirinya dan bahagia dengan keadaannya 🙂

    Posted with WordPress for BlackBerry.

  • Life as Mom, Life Hacks

    Pekerjaan Saya Keren

     

    playmobil-199904_1920

    Baca postingan di Ngerumpi.com tentang Pekerjaan yang Keren, saya jadi ingat beberapa pekerjaan yang pernah saya jalani dan yang sekarang saya lakoni. Sebagai lulusan S1 Psikologi tentunya saya berharap bisa berkecimpung di bidang ke HRD-an atau lembaga-lembaga konsultasi psikologi tapi nyatanya dari sekian tahun masa kerja cuma 1 tahun yang saya habiskan sebagai HR officer.

    Lulus kuliah, saya lantas menebarkan CV kemana-mana. Bank, perkantoran, biro-biro tes psikologi, dll. Anehnya eh dasar rejeki saya disana, yang sering menanggapi lamaran saya adalah Bank, ada 3 bank besar yang siap menerima saya dalam waktu bersamaan untuk posisi frontliner alias CS dan Teller. Yang satu saya tolak karena penempatannya di derah terpencil Jawa Timur, yang satunya tidak saya tanda tangani kontrak kerjanya karena tidak melihat adanya jenjang karir bagi frontliner. Yah, masa hidup mati mau jadi CS/Teller terus pikir saya waktu itu. Akhirnya saya pun menambatkan hati di bank yang berdominasi merah itu.

    Di pekerjaan pertama ini saya merasa keren dengan seragam blazer & rok span pas badan merah dan abu-abu yang seksi itu. Plus make up lengkap, tatanan rambut rapi dan high heels cantik menghiasi kaki saya. Apalagi ketika dapat tugas jaga cabang kecil di sebuah kampus teknik negeri yang terkenal di kota saya. Ihiy, kesempatan tampil lebih cantik. Maklum, masih lajang. Siapa tahu ada mahasiswa atau dosen lajang yang “nyantol”.

    Dua tahun mengabdi disana, saya berhenti karena mendapat kesempatan menggapai cita-cita sebagai HR Officer di sebuah gedung perkantoran elit di daerah Gatot Subroto Jakarta. Seragam merah seksi itu berganti dengan setelah celana panjang dan blazer rapi, kadang kemeja dan rok pas badan atau mini dress rangkap cardigan dipadu dengan high heels & tas yang serasi. Harus rapi dan cantik karena titel lebih keren dan satu gedung dengan perempuan-perempuan Jakarta yang super cantik-cantik itu.

    Saat akan melahirkan, saya pulang ke kota kecil dimana orangtua saya tinggal. Beberapa bulan kemudian kembali bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta. Penampilan tetap rapi walaupun arahnya sudah mulai berubah. Celana panjang, kemeja cantik, sesekali blazer dan rok panjang menjadi andalan saya saat itu.

    Sekarang? Saya menjadi pekerja domestik. Kemeja dan celana panjang berubah menjadi kaos dan celana jins, blazer dan rok span digantikan oleh daster. High heels berganti menjadi sandal teplek atau sepatu karet buaya. Diaper bag atau postman bag menggantikan tas cantik nan modis favorit saya.

    Rapat dengan bos sekarang berarti bermain dengan pensil warna, buku gambar, crayon. Bertemu klien atau nasabah berganti dengan arisan ibu-ibu playgroup. Ruang kerja saya bukan lagi kubikel mungil melainkan seluruh ruangan di rumah.

    Jabatan saya sekarang adalah koki, supir, babysitter, guru, manajer keuangan, tukang cuci dan setrika dan masih banyak lagi. Jam kerja bukan hanya 9 jam tapi 24 jam, tanpa gaji, tanpa asuransi kesehatan, tanpa tunjangan. Pekerjaan saya sekarang adalah pekerjaan yang sering diremehkan orang (termasuk saya dulu), sama sekali nggak keren. Tapi saya merasa nyaman dan mencintai profesi seumur hidup ini. Yah, saya hanyalah seorang ibu rumah tangga.