Browsing Tag:

daily life

  • Daily Stories, Parenting

    Beradaptasi di Sekolah Baru

    Sebagai ibu yang concern dengan pendidikan anak usia dini, aku cukup cerewet saat memilih sekolah untuk Cinta waktu kami masih di Indonesia. Aku percaya bahwa sampai usia 6 tahun, kewajiban anak adalah bermain. Sehingga saat memasukkan Cinta ke sekolah pun, aku mencari yang benar-benar mempraktikkan semboyan “belajar sambil bermain.” Di mana aktivitas utamanya ya main. Pelajaran mengenal huruf, angka, membaca, menulis, belajar mengaji, dll pun dilakukan dalam konteks bermain, sehingga anak nggak merasa kalau dia sedang belajar dan tetap bahagia. Bukankah anak yang bahagia akan menyerap (pelajaran) lebih banyak?!

    Tapi, setelah kami pindah ke Brunei sebulan lalu dan tinggal di kota kecil, pilihan sekolah untuk Cinta nggak sebanyak di Jakarta bahkan di Sidoarjo. Selain sekolah negeri, beberapa teman menganjurkan supaya Cinta bersekolah di english school. Nah, karena sekolah negeri hanya buka pendaftaran sampai awal tahun ajaran baru yang dimulai tanggal 3 Januari 2012 lalu, maka tinggal convent school atau chinese school.

    Saat akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan Cinta di chinese school, hampir semua kriteria ideal yang kupegang dalam memilih sekolah tidak terpenuhi. Pertama, no outdoor activity, “Parents don’t like if we take children go out too much,” kata kepala sekolahnya. Dieeeng. Padahal mereka punya halaman luas penuh rumput dengan playground besar. Kedua, satu kelas berisi 26 siswa hanya dipegang oleh satu guru yang tegas dan disiplin grin. Ketiga, ada PR, keempat ADA ULANGAN setiap bulan tepok jidat.

    Mau memilih sekolah yang lain pun, kondisinya bisa dipastikan hampir sama. Jadilah dengan bismillah Cinta memulai petualangannya di situ.

    Awalnya aku kepikiran banget membayangkan apakah Cinta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas di sana. Khawatir kalau terlampau berat untuknya yang waktu sekolah di Jakarta begitu diperhatikan dan dimanja guru-guru.

    But somehow she survived. Selama 2 minggu ini bersekolah belum pernah malas berangkat, malah sempat ngambek karena dilarang sekolah waktu dia pilek. Bahkan hari ini waktu diminta untuk tinggal di rumah karena mamanya sakit, dia maksa untuk berangkat berdua aja sama si papa, meskipun masih batuk. Tapi akhirnya menyerah nggak sekolah setelah batuk-batuk sampai muntah dan pusing. Mungkin karena pelajaran yang diberikan mengulang apa yang sudah pernah dia dapat di kelompok bermain dan TK A. Bisa juga karena aktivitasnya lebih menyenangkan daripada sekedar main dan nonton tv di rumah sendirian.

    Namun belakangan aku mendapati Cinta kembali suka menggigit kuku dan benda-benda lain, bahkan tutup botol minum sampai gripis pinggirannya karena digigitin. Entah karena dia bosan atau sebagai ekspresi cemas dan tidak nyaman.

    Cinta sendiri kalau ditanya, “Are you happy at school?” selalu menjawab, “Yes, I’m happy!” dengan semangat. Meski belum punya teman dan waktu aku tanya apakah gurunya baik, dia jawab, “not really, mom. sambil cengar-cengir. Soal kurangnya aktivitas luar ruang juga dia pernah bilang, “Main di dalam juga menyenangkan, kok.” waktu aku mengkhawatirkan dia yang nggak pernah main di luar ruang.

    Hmmm… Kita lihat dululah perkembangannya sampai tahun ajaran ini berakhir. Apakah Cinta memang benar-benar cocok di sekolahnya sekarang ataukah kami harus cari sekolah lain untuk mengobati kekhawatiran ibunya ini. Well, for this time hang in there, Cinta. We’ll always by your side.

  • Life as Mom

    I Do (Not) Like Cooking

    Honestly, I’m not into cooking much. Well, I cook but because I have to not because I love to 😀

    Buat aku masak itu ribet, banyak sekali langkah-langkah sebelum sebuah masakan terhidang di meja. Apa aja, hmmm let see:

    1. Bikin menu: mikirin masak apa hari ini, kira-kira makanan apa aja yang disuka dan bergizi untuk suami dan anak.
    2. Belanja: berbekal menu harian, mendatangi supermarket, pasar atau tukang sayur. Memilih-milih bahan makanan yang sesuai dengan apa yang mau dimasak hari ini atau bahkan minggu ini. Menghitung apakah yang akan dibeli sesuai budget atau tidak. Kalau yang dicari nggak ada, berarti harus ganti menu.
    3. Siapin bahan-bahan: ngupasin bawang, motongin daging, menyiangi sayuran. Eits lengkuasnya ternyata habis, lari lagi ke tukang sayur. Eaaaa
    4. Mengolah bahan makanan: menggoreng, merebus, ngukus, manggang. Kadang dalam satu masakan keempat proses itu harus dilakukan semua.
    5. Bersih-bersih: Makanan sudah siap, dapur berantakan. Yuk, cuci piring, pisau, wajan dan panci dulu. Jangan lupa bersihkan kompor supaya nggak lengket dengan sisa minyak. Oya, lantai juga disapu dan pel lagi karena tumpahan air, bumbu dapur dan lain-lain.
    6. Beres-beres: Setelah semua selesai makan waktunya beberes dong. Kalau ada sisa masakan dimasukkan wadah tertutup supaya masih bisa dimakan lagi besok. Makanan-makanan yang nggak habis dibuang ke tempat sampah :'( Cuci piring lagi trus dikeringin, masukin ke lemari. Abis itu plastik sampah basah dibuang ke depan supaya nggak jadi sasaran tikus atau kucing nyasar.

    Tapiiii semua kerepotan itu terbayar lunas malah pake bonus kalau yang dimasakin makannya lahap. Apalagi kalau bocah kecilku bilang, “masakan mama juara!” meski cuma dibikinin nasi goreng. Plus rasa tenang karena tahu masakan rumah pasti lebih sehat daripada jajan di luar.

    Nah, kalau kalian suka masak atau enggak?

  • Life as Mom

    One Step At A Time

    Sebelum pindah, suami sudah wanti-wanti kalau nanti di sini kita nggak bisa punya ART seperti di Indonesia. Awalnya saya pikir nggak masalah, semua pasti bisa ditangani dengan baik. Yang penting bisa pindah dan kumpul dengan suami dan anak.

    Tapiiiiii… Ternyata buat perempuan yang dibesarkan dengan fasilitas ART dan dimanjakan dengan oleh support system yang mudah didapat di Indonesia, nggak mudah untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga plus ngurus anak sendiri. Belum lagi ngatur waktu untuk nulis. Rasanya ngos-ngosan.

    Seminggu pertama sih masih santai, makan selalu diluar, Cinta juga gampang tidur dan makannya. Masih sering pergi jadi nggak suntuk di rumah. Masuk minggu kedua, mulai stres karena setrikaan numpuk, rumah berantakan terus, Cinta sudah mulai bosen pergi dan maunya nonton tv aja di rumah. Mau masak cari bumbu dapur dan bahan yang fresh susah, begitu dapet bingung mau masak apa. Makan di luar selain lama-lama tekor juga bosen terus-terusan makan masakan Cina dan India. Sekalinya nemu nasi bebek eh rasanya bikin pengen nangis. Aaarrrgghhh…

    Di minggu kedua ini jadi sering marah-marah, pas lagi PMS pula. Cinta jadi makin nggak keurus dan ikut sering tantrum karena diomelin mulu. Hadeuuuhh. Super sutris.

    Tapi masuk minggu ketiga tiba-tiba semuanya terasa lebih ringan. Nggak tahu deh kenapa. Padahal sering bangun kesiangan juga tapi selalu sempat bikin sarapan, setrika, masak untuk makan siang dan malam. Kamar meski nggak kinclong-kinclong amat (kecuali kalau abis dibersihin sama cleaning service) tapi juga nggak berantakan banget. Masih punya waktu juga untuk nulis artikel buat MomsGuide, hosting twitternya dan main di twitter dan facebook (terutama The Sims Social 😀 ). Pas suami sudah berangkat kerja dan Cinta belum bangun malah bisa nge “me time” sambil sarapan sendiri. Enak banget rasanya 🙂

    Mungkin yah, karena sudah mulai beradaptasi dengan waktu. Juga memanfaatkan kemampuan multitasking yang dikasih Allah ke perempuan. Jadi sambil nungguin kompor listrik panas untuk bikin sarapan sederhana seperti nasi goreng atau manggang roti capati atau ngerebus spaghetti, cepat-cepat ngerendam underwear, cuci piring dan gelas yang abis dipakai ngopi, buang sampah. Sebelum mandi ngucek rendaman dan bilas trus mandi sekalian mandiin Cinta. Abis itu masukin baju ke mesin cuci lanjut sarapan sambil nyuapin si bocah.

    Pengalaman di minggu kedua, saat setrikaan numpuk banget dan bikin putus asa. Mulai minggu ketiga ini berusaha setrika setiap hari. Mending dikit-dikit daripada sutris liat baju numpuk. Nggak licin-licin amat sih, yang penting kena setrikaan.

    Kalau lagi nggak waktunya kamar dibersihkan, masak untuk siang dan malam sekaligus. 2 menu aja sih, sayur dan lauk. Tapi kalau pas malas masak ya goreng telur aja atau sosis dan nugget untuk siang. Ntar sore baru masak untuk malam. Setelah selesai makan malam, sambil cuci piring untuk kesepuluh kalinya dalam sehari, minta tolong suami ajak Cinta beberes mainannya trus bersiap tidur. Fffiiiuh, another busy day is over.

    Suka bersyukur sih karena sementara ini kami tinggal di serviced apartment yang ada fasilitas cleaning servicenya meski nggak tiap hari juga. Jadi saya nggak harus tiap hari nyapu ngepel kamar. Alhamdulillah juga Cinta anaknya cukup mandiri, jadi nggak harus selalu ditemenin main. Buat dia yang penting mamanya keliatan ada di sekitarnya. Plus, suami yang nggak segan untuk bantu-bantu dan selalu menghabiskan apapun yang saya masak, bagaimanapun rasanya. Itupun suami kalau pagi bikin kopi sendiri karena harus berangkat pagi-pagi sementara saya seringnya belum bangun XD

    Memang sih jadinya nggak seperti mamah-mamah idola yang bisa ngerjain semua pekerjaan RT dengan sempurna. Inipun banyak hal yang saya “terpaksa” kompromikan dengan idealisme, seperti Cinta makan nugget dan sosis siap pakai, nonton TV hampir sepanjang hari. Begitu juga memanfaatkan fasilitas yang meringankan pekerjaan seperti saus spaghetti instan, bumbu hainan rice instan, molto sekali bilas.

    Minggu depan rencananya akan belajar untuk bangun dan menyiapkan sarapan lebih pagi karena Cinta akan masuk sekolah. Belum lagi mengatur waktu mengantar jemput sekolah dan melakukan pekerjaan sehari-hari dengan baik.

    Yah, pelan-pelan lah berusaha mengalokasikan waktu lebih baik. Karena kalau sudah tinggal di rumah sendiri tentu lebih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Saya akui deh, para mama yang ARTless tapi tetap bisa bikin rumah kinclong, masakan homemade semua, anak sehat dan terawat, suami bahagia itu super hebat.

    Boleh dong mommies saya dibagi tips untuk bisa handle semua tugas RT tapi tetap punya waktu untuk main dan belajar sama anak plus bisa gaul dan aktif di sosmed *serakahmode: on*.

    Foto koleksi pribadi, difoto oleh: Awie R

  • Life as Mom

    Tips Hunting Kain Untuk Seragam Pernikahan di JMP

    Seperti pada umumnya pernikahan, seragam keluarga adalah salah satu printilan (please deh, bahasanya :p ) yang harus diperhatikan. Biasanya sih seragam ini dibedakan antara orangtua pengantin, saudara kandung pengantin, keluarga besar, among tamu, penerima tamu, pagar ayu dan teman-teman dekat. Ada keluarga yang memilih menyewakan kebaya/baju daerah sesuai adat pernikahan atau membelikan kain untuk para sanak saudara.

    Eh, meskipun nggak sepenting penghulu, gedung atau catering, tapi biaya yang dikeluarkan untuk beli atau sewa seragam ini ternyata juga nggak kecil lho. Jadi memang harus disiapkan anggaran khusus untuk kain seragam, baju sanak saudara laki-laki dan make up keluarga 🙂

    Selain budget, masih ada lagi yang harus dipersiapkan sebelumhunting kain:

    • Tentukan warna utama dalam acara pernikahan dan warna turunannya.
    • Buat kategori pengguna seragam dan siapa-siapa aja yang masuk di dalamnya.
    • Bagi warna-warna turunan itu dalam kategori pengguna seragam. Sesuaikan juga dengan usia penggunanya.
    • Tentukan jenis kain yang mau digunakan, apakah brokat, lace, tule (tile) atau chiffon. Produk lokal atau impor.
    • Buat anggaran khusus berdasarkan kategori pemakai seragam. Misalnya untuk kain seragam orang tua dengan range harga 200.000-300.000/meter, saudara kandung 100.000-200.000 dan yang lain <100.000/meter.

    Kalau sudah siap semua, waktunya belanja kain. Bisa di pasar khusus kain seperti Mayestik, Tanah Abang atau seperti kami yang di Surabaya ada JMP (Jembatan Merah Plaza). Kalau pengen yang nyaman silakan ke toko-toko kain di mall seperti Alta Moda, dll.

    Berdasarkan pengalaman 3 kali belanja kain untuk seragam pernikahan di JMP, berikut tips hunting kain yang nyaman:

    1. Siapkan daftar belanja yang berisi kategori seragam dan jumlah orang masing-masing kategori
    2. Gunakan baju dan alas kaki yang nyaman.
    3. Tentukan toko-toko mana yang jadi tujuan pertama, langganan saya sih In Style, Chandra Jaya dan toko-toko di kanan kirinya. Tapi ternyata di toko-toko lain juga banyak sekali kain-kain untuk seragam dengan aneka pilihan harga dan bahan yang bagus.
    4. Bawa uang tunai. Meski beberapa toko ada yang sudah menggunakan EDC atau alat gesek kartu kredit/debit tapi ada yang masih membebankan biaya 2.5% per transaksi.
    5. Berangkat pagi saat badan masih segar, kenyang dan toko baru buka.
    6. Bawa botol air mineral. Percaya deh, keliling dari satu toko ke toko lain, nawar harga bisa bikin dehidrasi.
    7. Konsisten dengan jenis bahan dan warna yang ada dalam daftar belanja. Tapi kalau ragu atau belum ada pilihan, biasanya pegawai di toko kain akan memberikan saran pilihan warna dan jenis bahan.
    8. Jangan ragu untuk nawar. Kecuali ada tulisan “HARGA PAS” kalau nggak mau dipandangi mbak penjaga toko dengan tatapan aneh.
    9. Ketahui standar ukuran kain untuk kebaya biasanya 2 meter/orang. Sedangkan furingnya 1 meter/orang atau 1.5 meter jika berbusana muslim.
    10. Jangan terlalu lama di satu toko, kalau nggak ada yang sreg langsung pindah supaya nggak buang-buang waktu.

    Untuk kepraktisan & menghemat biaya sih, saya sarankan kain seragam ini hanya diberikan untuk keluarga dan among tamu (kalo ada). Sedangkan pagar ayu & penerima tamu bisa kita sewakan di perias pengantin sekaligus make up dan sanggulnya (kalau pakai).

    Trus jahitnya di mana? Di JMP sendiri banyak kok tukang jahit kebaya, malah ada salah satu penjahit khusus kebaya pengantin. Saya dulu jahit kebaya akad nikah juga di situ, sayang lupa namanya, kalau nggak salah sih Rumah Pengantin. Hasil jahitannya bagus, rapi dan kreatif, cuma memang agak mahal dan nggak bisa cepat. Harus dikejar-kejar. Agak merepotkan untuk saya yang waktu itu masih bolak-balik Jakarta – Surabaya untuk menyiapkan acara pernikahan.

    Maka itu, untuk nikahan adik saya ini, kami minta saran kepada toko kain langganan. Kebetulan dia punya rekomendasi tukang jahit yang di area itu juga. Jadi lumayan bisa irit waktu lah, begitu dapat kain, langsung bawa ke sana untuk dijahitkan. Untuk hasil jahitan ya cocok-cocokan lah yaa. Tapi lumayan kok menurut saya. Dan harganya juga masuk akal.

    Selamat hunting kain seragam. Semoga tips ini bermanfaat.

  • Daily Stories, Parenting

    Tidur Siang

    Sudah hampir 1 minggu ini bermasalah dengan jadwal tidur siangnya Cinta. Biasanya selesai makan siang, Cinta langsung cuci muka, tangan, kaki dan pipis lalu minum susu lanjut tidur siang. Nah, seminggu ini bisa dibilang rutinitas itu kacau semua. Susah bener deh kalau diajak tidur. Kadang sampai emaknya ketiduran, eh dia asik main iPad, baca buku, berantakin mainan di kamar. Atau kalau pas ada temannya seperti sekarang, tiba-tiba aja saya bangun tidur, dia udah main di luar kamar. Kalaupun bisa tidur siang, itu baru di atas jam 3 sore dan bangunnya pun bisa lebih dari jam 5 sore. Lha, mau tidur malam jam berapa kalau gitu coba.

    Memang sih, ada ibu-ibu yang nggak mempermasalahkan waktu tidur anak. Mau tidur siang kek, enggak kek, tidur jam berapa, bangun sore, tidur tengah malam, nggak masalah. Tapi buat saya itu masalah.

    Saya dan Cinta ini dari dia bayi terbiasa dengan rutinitas: bangun tidur, mandi, sarapan, sekolah/main, makan siang, tidur, mandi, main, makan malam, main, ngemil, tidur. Kecuali saat kami sedang berlibur atau travelling, ketika salah satu jadwalnya itu kacau, terutama kebutuhan akan tidur dan makannya kurang terpenuhi, dia akan cranky. Nah, saya yang nggak cukup punya energi dan kemauan untuk menghadapi kecrankyannya itu.

    Jadi gimana dong?

    Masalah tidur ini memang kepentingan emaknya kok. Saya paham sekali, tidur siang itu nggak enak buat Cinta, karena  berarti waktunya bermain berkurang. Tapi, saat Cinta tidur, saya bisa melakukan hal lain yang nggak ada hubungannya dengan dia. Nulis, baca buku, ikut tidur siang juga atau kalau pas lagi di rumah sendiri dan nggak ada pembantu, ya waktunya saya bersih-bersih rumah, setrika, masak buat makan malam, dll.

    Berdasarkan teknik dagangnya Toge Aprilianto sih, saat kita ingin anak melakukan sesuatu yang bukan kepentingannya, sebagai orang tua kita harus siap bayar. Masalahnya (lagi), saya nggak mau berdagang untuk hal yang satu ini dan makan. Kalau berdagang pun, bukan sesuatu yang menguntungkan anak. Hahaha emak serakah ya. Mau enaknya aja. Yaeyalah, kan manusia emang awalnya hidup berdasarkan prinsip enak-tidak enak. ketahuan emaknya Cinta belum lulus tahap ini waktu kecil dulu :p

    Mending saya beli keinginan supaya Cinta kembali rutin tidur siang tanpa susah payah ini dengan cara lain. So far, saya sudah mengijinkan dia untuk main iPad 15 menit sebelum tidur, membacakan tidur, menutup semua korden supaya nggak silau (sesuai permintaannya), peluk-cium dan usap-usap perut mamanya sambil bermanja-manja. Eh, itu juga termasuk menguntungkan Cinta dong ya 😀

    Cara terakhir yang cukup efektif adalah dengan mengacuhkan Cinta. Biasanya kalau mau tidur tuh, dia suka ngajak ngobrol, becanda, nyanyi-nyanyi, dll. Mungkin itu cara Cinta untuk mencari perhatian atau menyamankan diri sebelum tidur. Tapi beneran deh kalau diturutin, bisa nggak tidur-tidur. Jadi saya suka pura-pura tidur, baca buku atau mainan gadget. Lama-lama tidur sendiri dia.

    Tapiiiii, saya kok ngerasa cara itu jahat, yah? Dengan mengacuhkan Cinta seperti itu saya merasa jadi menempatkan Cinta di posisi yang kurang penting dibanding kebutuhan saya untuk tidur, baca buku dan gadget. Serba salah ih. Ada ide lain nggak sih yang bisa membuat rutinitas tidur siang ini kembali seperti semula tapi kiranya nyaman buat saya dan Cinta?

    Picture by: Awie R.
    Model: Cinta

  • Life Hacks

    Resolusi 2012

    Selamat tahun baru 2012!
    Kalau akhir tahun biasanya digunakan untuk mengevaluasi achievement kita selama setahun, di awal tahun waktunya bikin resolusi, dong. Nah, ini dia punya saya:
    • Punya smartphone baru, karena si Stormy sudah sering hang, error dan boros baterai. Pengennya sih iPhone 4S. Ihiiiy 😀
    • Multi Power Kitchen. Kitchenware keluaran DRTV ini menggugah hati bener deh. Bayangpun, dia bisa jadi juicer, blender, mixer, giling daging dan bumbu, sampai bikin sosis dan pasta.
    • Kamera DSLR
    • Sekolah lagi ambil Magister Profesi Psikologi
    • Kerja kantoran di bidang Psikologi dan/atau Rekruitmen

    Hihihi, kayanya itu wishlist ya. Kalau resolusi beneran yang tampaknya lebih achievable aja deh. Apa tuh:

    1. Makan sayur dan buah, minimal sehari sekali.
    2. Jogging atau fitness, 3x seminggu
    3. Sholat tepat waktu dan nggak bolong-bolong
    4. Mengurangi jalan ke mall jadi sebulan sekali aja.
    5. Mengatur waktu lebih baik lagi dengan cara:
      1. Mematikan gadget saat akan tidur.
      2. Kembali membacakan buku sebelum tidur untuk Cinta
      3. Meluangkan waktu minimal 30 menit sehari untuk belajar bareng Cinta
      4. Jatah waktu menulis & online maksimal 2 jam/hari (termasuk ngetwit & main game FB)
      5. No more deadline rush. Selesaikan pekerjaan maksimal 1 hari sebelum deadline.
    6. Fokus pada keluarga.
    7. Banyak bergaul di dunia nyata, perbanyak teman terutama di lingkungan baru nanti.
    8. Lebih sabar
    9. Lebih sabar
    10. Lebih sabar

    Yak, resolusinya nggak keren ya. Nggak ada sesuatu yang wah. Tapi di bawah bayangan isu kiamat akhir tahun 2012, saya jadi ingin lebih fokus ke perbaikan diri dan keluarga. Insya Allah, yang lain akan menyusul.

    Sebenarnya ingin menambahkan “punya anak kedua” di daftar di atas. Cuma, masih banyak keraguan. Usahanya sih sudah dimulai dengan lepas IUD, jadi sekarang benar-benar tinggal nunggu keputusan Allah aja. Apapun yang terbaik kami terima 🙂

    Kalau resolusi kalian apa?

    Picture taken from here.

  • Life in Brunei

    Yaiy, We Finally Got The Visa

    “Untuk apa sih ngurus visa? Emang ke Brunei aja perlu visa? Kan sama-sama ASEAN.” Begitu kira-kira pertanyaan yang sering diajukan saat saya bilang sedang mengurus visa supaya bisa ngikut suami tinggal di negara kecil yang terletak di ujung pulau Kalimantan itu.

    Memang sih, kalau sekadar berkunjung dari Indonesia seperti halnya ke negara-negara ASEAN lain, nggak perlu visa. Tapi visa on arrival ini hanya berlaku selama maksimal 14 hari. Nah, sementara saya dan Cinta kan ingin tinggal di sana sampai masa kerja suami selesai. Tentu lebih dari 14 hari dong. Untuk itu kami perlu mengurus visa tanggungan.

    Dependent visa ini adalah ijin tinggal sebagai tertanggung dari warga negara asing yang bekerja di Brunei. Salah satu syarat bisa mendapatkan visa ini harus ada sponsor, yaitu suami sebagai pekerja asing dan perusahaan tempatnya bekerja.

    Jujur aja saya sempat stres ngurus visa ini, karena ini adalah kali pertama mengurus tanpa agen dan ragu apakah berkas yang saya miliki sudah lengkap atau belum. Sulit sekali menghubungi kedutaan Brunei di Jakarta untuk memperoleh penjelasan yang lengkap.

    Jadi, berbekal informasi dari kedutaan Brunei yang saya peroleh sekitar 2 tahun yang lalu mengenai dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa tanggungan, Saya pun nekat berangkat ke Jakarta. Alhamdulillah setelah dicek, berkas-berkas yang saya bawa ternyata sudah memenuhi syarat. Apa aja? Ini dia:

    Untuk Istri

    1. Formulir permohonan visa
    2. Paspor
    3. Endorsment dari perusahaan tempat suami bekerja
    4. Surat dari imigrasi Brunei tentang jawaban akan permohonan visa tanggungan
    5. Salinan kuitansi pembayaran biaya fax calling visa dari Imigrasi Brunei ke kedutaan Brunei di Jakarta
    6. Kontrak kerja suami dan perusahaan tempatnya bekerja
    7. Foto ukuran 4 x 6 dengan latar belakang biru
    8. Salinan paspor suami
    9. Surat Nikah
    10. Salinan KTP

    Untuk Anak

    1. Berkas no 1 – 8
    2. Salinan Akta Kelahiran
    3. Salinan Kartu Keluarga

    Mengurus visa tanggungan ini dilakukan di Kedutaan Brunei di Jakarta. Sebelumnya pastikan dulu calling visa dari imigrasi Brunei sudah mereka terima daripada bolak-balik ke kedutaan seperti yang saya alami. Calling visa sendiri diperoleh setelah pihak perusahaan mengurus segala persyaratan di imigrasi Brunei. Bersamaan dengan dikeluarkannya endorsment dan jawaban atas permohonan visa tanggungan itu oleh imigrasi.

    Kalau semua berkas lengkap, proses pengurusan visa di kedutaan ini hanya makan waktu 3 hari kerja, kok. Dengan biaya sebesar Rp 120.000,00 per orang.

    Saya sendiri saat pertama kali datang ke kedutaan, diberitahu petugas bahwa calling visa kami belum ada. Mereka menyarankan saya untuk meminta perusahaan suami menghubungi imigrasi Brunei supaya dikirim lagi ke kedutaan. Untungnya perusahaan tempat suami kerja sigap, hari itu juga mereka meminta dokumen saya dan Cinta difaks lagi ke Jakarta. Meski ternyata butuh 2 hari sampai diterima oleh kedutaan.

    Wuiiih, nggak terkira leganya waktu paspor kami akhirnya dicap visa tanggungan itu. Perjalanan Surabaya-Jakarta, perjuangan mondar-mandir ke kedutaan, kecemasan akan dokumen yang belum lengkap, kepanikan saat calling visa nggak ada rasanya terbayar lunas. Alhamdulillah, akhirnya tinggal selangkah lagi menuju say goodbye to LDR 😀

    Kedutaan Brunei Darussalam:
    Jl. Teuku Umar No. 9, Menteng, Jakarta

    Telp: (021) 31906080
    Pengurusan visa: Senin – Jumat (08.30 – 11.30)
    Pengambilan visa: Senin – Jumat (13.30 – 15.00)

  • Daily Stories, Parenting

    Belajar Lewat Lagu

    Sejak bayi, Cinta paling suka kalau diajak “ngobrol” dengan suara yang dilagukan seperti bernyanyi, ngaji atau dibacakan doa-doa dan surat pendek. Jadi meskipun saya ini buta nada dan bersuara fals nggak mengurangi kepercayaan diri ketika bernyanyi untuk Cinta, apalagi menurut beberapa sumber yang pernah saya baca, bagi bayi suara ibunya adalah suara yang paling merdu. Yah, walaupun fals kan nyanyinya penuh cinta ya ngeles.

    Saya sendiri yang awalnya cuma nyanyi lagu-lagu anak yang sudah umum sebagai cara berkomunikasi dan menghibur Cinta, akhirnya jadi iseng mengganti lirik lagu-lagu itu dan menjadikannya sarana penyampai pesan atau belajar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan kami saat itu. Misalnya lagu Nina Bobo yang sudah sangat kondang itu, diganti liriknya jadi “Cinta bobo… oh Cinta bobo, hari sudah malam, waktunya tidur. Bobo bobo Cintaku sayang, besok pagi kita bermain lagi” untuk mengenalkan konsep pagi dan malam.

    Lagu yang sama juga bisa diganti liriknya menjadi, “Cinta cantik, oh Cinta pintar, kalau sudah besar jadi anak sholehah. Mama sayang dan papa sayang, anak baik hati si Nadja Aluna” sebagai doa sekaligus menanamkan afirmasi positif. Dua lagu itu jadi lagu pengantar tidur wajib dan kesukaan Cinta sejak dia masih bayi banget. Selain itu juga bisa menenangkan saat saya sudah lelah, sedih dan marah karena Cinta yang kolik suka nangis nggak brenti-brenti waktu malam. Dengan menyanyikan lagu itu sambil mengayun-ayunkan dia di gendongan, saya bisa ikut tenang. Dan ketika saya tenang, biasanya Cinta juga ikut berhenti nangis lalu tertidur. See, bahkan sebuah lagu sederhana pun bisa membawa efek yang luar biasa.

    Saat ingin menyampaikan sesuatu seperti pentingnya gosok gigi, asiknya mandi dan sudah kehabisan cara karena dikasih tahu tetap nggak mau mandi misalnya, saya ajak aja nyanyi lagu “Aku Gigi” yang jadi jingle Pepsodent atau “Bangun tidur”. Sering juga mengganti lirik lagu Mandi Pagi menjadi “Mandi pagi cibang cibung, pakai sabun asik banget. Cuci muka, gosok badan, jangan lupa pake shampo.” Kalau lagi belajar mengenal huruf dan membaca selain menyanyi lagu “ABC” yang sudah umum itu, kami juga suka bernyanyi lagu “I N I ini, I B U ibu, B U bu D I di Budi, dibaca Ini Ibu Budi” Kadang kami mengarang lagu sendiri dengan nada suka-suka sesuai dengan abjad dan kosakata yang lagi dipelajari. Jadi aneh emang, maklum wong bukan komposer lagu tapi tetap seru lho. Lagipula bernyanyi bisa bikin suasana ceria buat kami berdua dan aktivitas jadi sangat menyenangkan.

    Karena terbiasa bernyanyi, mendengar lagu dan mengganti-ganti lirik lagu, Cinta jadi suka juga melakukan hal serupa. Musik yang sekali dua kali dia dengar bisa diganti-ganti liriknya sesuai apa yang sedang dia pikirkan. Cinta juga pede aja nyanyi lagu ciptaannya sendiri di depan orang banyak sambil nari-nari a la ballerina. Nggak nyangka deh, dari aktivitas sederhana seperti bernyanyi dengan hati bisa mengasah kreativitas, keberanian dan kepercayaan diri.

    Belakangan saya baru tahu kalau informasi yang disampaikan lewat lagu dan musik lebih mudah dicerna dan diingat oleh bayi dan balita. Mungkin nih ya karena saat bernyanyi kita biasanya dalam keadaan senang dan (mengutip kata-kata ibu Elly Risman) otak menyerap lebih banyak saat hati senang. Jadi jangan heran kalau anak lebih banyak diajak menyanyi dan menari sama guru-gurunya di kelompok bermain dan taman kanak-kanak, karena itu memang cara belajar yang paling efektif sekaligus menyenangkan. Kok bisa? Secara ilmiahnya, tingkat konsentrasi anak-anak usia balita masih rendah dan mereka mudah sekali teralih perhatiannya ke hal-hal yang lebih menarik. Nah dengan menyanyikan sebuah lagu yang sesuai dengan tema pelajaran membuat anak jadi tertarik untuk terlibat dalam proses belajar mengajar.

    Bernyanyi sama anak juga bisa meningkatkan ikatan batin antara orangtua atau pengasuh dengan anak lho. Serta membuat anak merasa nyaman akan dirinya sendiri karena mereka bisa mengekspresikan perasaan dan melatih komunikasi. Jadi lupakan suara fals, anak nggak peduli kok, yang penting bersenang-senang bersama. Mari bernyanyi 🙂

  • Daily Stories

    He’s Here

    Siang ini, liat Cinta dan suami lagi tidur siang bareng tiba-tiba merasa mellow. Antara seneng akhirnya bisa kumpul bertigaan lagi setelah dua bulan pisah sama sedih keinget bakal pisah lagi minggu depan. Boleh nggak ya berharap waktu berjalan sangat lambat supaya hari Minggu nggak cepet dateng.

    Jujur aja ya, suasana di rumah jauh lebih menyenangkan kalau lagi ada suami. Cinta seneng karena ada temennya main, saya juga nggak uring-uringan terus karena ada yang diajak ngobrol, curhat, berbagi tugas dan dipeluk-peluk kalau lagi galau. Apalagi kalau beliaunya pas pulang ke Jakarta gini cuti alias nggak disuruh commisioning atau kerja sama kantornya yang di sini. Waaah, itu bisa 24 jam barengan terus. Menyenangkan sekali.

    Ada yang bilang, “don’t be a woman that needs a man but be a woman that man needs.” Well, kayanya saya belum bisa kaya gini. Ada saat-saat tertentu yang saya ngerasa keberadaan dia di rumah sangat dibutuhkan, seperti ketika Cinta atau saya sakit. Waktu harus pergi ke tempat yang saya nggak tahu jalan atau bahkan saat sekedar ingin berbagi cerita.  Emang sih ada YM, skype, telpon tapi tetap aja nggak bisa menggantikan saat suami ada di sini secara fisik.

    Pengennya sih bisa kumpul kaya gini terus, bertigaan, satu rumah. Tapi entah kenapa kok ada aja kendalanya, yang terakhir adalah ketika saya sama Cinta nggak bisa dapat visa tinggal di Brunei dan cuma dapat visa kunjungan yang harus diperbarui tiap 3 bulan. Booo, berat di ongkos pesawatnya deh kalo musti bolak-balik Jakarta-Brunei tiap 3 bulan. Insya Allah sih tugas suami di Brunei akan selesai bulan Juni ini, semoga aja nggak diperpanjang lagi. Kalaupun diperpanjang, semoga saya dan Cinta bisa ikut pindah ke sana. Sementara ini mari dinikmati dulu kebersamaan selama seminggu ini sebelum berpisah lagi untuk 2 bulan ke depan 🙂