Browsing Tag:

daily life

  • inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall
    Parenting

    Inspirasi Hadiah Ulang Tahun Istimewa untuk Anak Perempuan

    Ulang tahun menjadi momen bahagia bagi sebagian besar orang, tak terkecuali untuk anak-anak. Sudah bisa dibayangkan betapa gembiranya anak-anak ketika mendapatkan hadiah di hari istimewanya. Selain mempertimbangkan harga hadiah yang akan diberikan, hadiah tersebut juga harus bermanfaat bagi anak-anak.

    Sering bingung memilihkan hadiah ulang tahun untuk anak perempuan?

    inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift, matahari mall

    Beberapa ide berikut ini tentu bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat bagi kita :

    Perlengkapan Sekolah

    Anak perempuan yang sudah memasuki usia sekolah pasti membutuhkan perlengkapan sekolah untuk menunjang aktivitasnya. Tas ransel, alat tulis, dan meja belajar mini tentu akan membuatnya makin bersemangat saat belajar. Jangan lupa memilihkan perlengkapan sekolah dengan tokoh kartun favoritnya agar anak-anak merasa terkejut ketika menerima hadiah yang ia sukai.

    Tablet PC

    Advan PC Tablet, Tablet PC, Advan, hadiah ulang tahun untuk anak perempuan

    Karena anak-anak masa kini sudah mengenal internet, tablet PC juga bisa menjadi inspirasi hadiah yang tepat. Aneka koleksi tablet Advan di bawah 1 juta yang ada di MatahariMall memudahkan kita untuk memberikan hadiah. Jangan lupa mencermati spesifikasi tablet PC sebelum membelinya agar tablet PC tersebut sesuai dengan kebutuhan mobile anak-anak.

    Sepeda Baru

    Sepeda akan membuat anak-anak lebih aktif bermain di luar rumah. Jika jarak rumah dan sekolah berdekatan, sepeda juga membuat anak perempuan bisa berangkat sendiri ke sekolah. Ajarkan peraturan lalu lintas sederhana pada anak supaya anak bisa mengendarai sepeda barunya dengan baik saat berada di jalan.

    Aneka Buku Cerita

    Tak sekadar membuat anak terhibur, buku cerita juga melatih kemampuan anak dalam hal menyimak dan berimajinasi. Kumpulan dongeng nusantara atau fabel populer dunia tentu disukai oleh anak-anak. Ajak pula anak untuk merawat buku-bukunya dengan benar sehingga buku tersebut tahan lama dan tak mudah rusak.

    Dekorasi Kamar Pribadi

    girl bedroom, inspirasi hadiah ulang tahun untuk anak perempuan, birthday gift

    Menata ulang kamar anak bisa menjadi hadiah yang istimewa dan tak terlupakan. Gunakan warna-warna favorit anak, lemari dan meja belajar, seta ranjang baru untuk membuat suasana kamar anak lebih istimewa. Selanjutnya, ajaklah anak untuk menjaga kebersihan kamar pribadinya dengan baik setiap hari.

     

    Sumber foto:

    Pixabay.com, MatahariMall.com, House.rarevancouver.com

  • kids activity, outdoor, games, permainan seru untuk balita
    Kids Activities

    5 Aktivitas Outdoor Yang Seru Untuk Balita

    Hari Kamis tanggal 17 Maret, sekolah Keenan mengadakan Sports Day untuk menandai berakhirnya kegiatan belajar mengajar pada term ke-1 sekaligus mulai libur sekolah selama 2 minggu. Pada acara ini, anak-anak KG 1 sampai KG 3 diajak berkegiatan di luar ruangan, khususnya olahraga. Tapi ternyata olahraga yang dilakukan nggak seperti yang saya bayangkan.

    Sebelumnya, saya mengira mereka akan diajak main sepakbola, lari atau apalah, secara namanya aja sudah sports day gitu. Ternyata yang dilakukan adalah kegiatan outdoor yang biasa dijumpai saat peringatan 17 Agustus, seperti lomba membawa bola dalam sendok, tug of war alias tarik tambang dan sebagainya. Tentu disesuaikan dengan usia anak. Jadi kegiatan anak KG1 yang baru berusia 3 tahun tentu berbeda dengan kakak-kakak kelasnya yang lebih besar.

    kids activity, outdoor, games, permainan seru untuk balita

    Karena Keenan ada di KG1, aktivitasnya lebih simpel. Maklumlah anak umur segitu kan baru bisa memahami instruksi sederhana ya, tenaganya juga belum terlalu kuat. Jadi, nggak ada deh lomba basket, tarik tambang atau memasukkan pulpen ke dalam botol.

    Meskipun demikian, anak-anak tetap senang lho beraktivitas rame-rame di luar kelas. Apalagi berkompetisi gitu, walau akhirnya juga nggak ada kalah atau menang. Lha, gimana mau ada yang dimenangkan, kalau lomba bawa bola dalam sendok aja masih ada yang muter-muter sambil megangin sendoknya instead of jalan lurus ke garis finish. Kalaupun bisa jalan lurus, hampir semua bolanya jatuh sehingga mereka sibuk mengejar bola. Lucu sekaligus seru.

    Yang lebih menyenangkan lagi adalah melihat orangtua yang nggak heboh menyuruh anaknya untuk adu cepat. Gimana mau adu cepat, wong baris untuk lomba lari aja belum selesai hitung 1, 2, 3 sudah ada yang kabur duluan karena ngeliat mamanya ada di garis finish. Jadi ya, benar-benar acara untuk bersenang-senang aja. 

    Menurut saya, bagus juga guru-gurunya memikirkan kegiatan seperti itu, padahal kita tahu kan, mengurus anak-anak usia 3 tahun berkegiatan di luar ruang itu cukup merepotkan. Sehingga seringkali setiap ada acara family gathering atau lomba tujuh belasan, anak-anak kecil ini terabaikan. 

    Padahal ternyata cukup banyak aktivitas outdoor yang bisa kita lakukan bersama mereka. Berikut ini adalah 5 di antaranya:

    Spoon Race

    Kegiatan ini cukup sederhana dan hanya memerlukan sendok, bola plastik serta kapur atau tali untuk membuat garis start dan finish. Tingkat kesulitannya tentu bisa disesuaikan dengan usia peserta. Bagi anak 3 tahun, cukup dengan meminta mereka memegang sendok berisi bola kemudian berjalan dari garis start ke garis finish. Percayalah, bagi mereka, terutama yang nggak terbiasa bermain bola sendok, kegiatan ini nggak semudah yang kita bayangkan.

    spoon race for toddler, permainan bola sendok untuk balita

    Sedangkan, untuk anak di atas 4 tahun, yang keseimbangannya sudah lebih baik, bisa diminta untuk meletakkan sendok di dalam mulut. Tantangan selain berjalan ke garis finish adalah menjaga supaya bola tidak jatuh. Seru pasti.

    Walaupun sederhana, aktivitas ini bermanfaat melatih keseimbangan, konsentrasi dan motorik kasar anak lho. Tapi, ingat, Sahabat, jangan marahi anak jika bolanya terjatuh ya. Beri dukungan dan sorakan aja supaya anak-anak tetap dapat menikmati permainan tersebut. Seperti yang terjadi pada Keenan dan teman-teman sekelasnya. Saking senangnya dan penasaran dengan permainan ini, satu putaran nggak cukup bagi mereka. Yang ada, anak-anak pada bergantian meminta giliran ulang bermain. Meski akhirnya ya tetap muter-muter ngejarin bola yang jatuh :))

    Running Race

    Nah, ini anak-anak pasti suka deh. Siapa yang bisa menolak lomba lari? Apalagi bocah-bocah kecil yang sedang aktif-aktifnya. Kegiatan ini bisa menyalurkan energi mereka dan kita cukup menyediakan kapur atau tali untuk menandai garis start dan finish.

    running race, outdoor activities, outdoor games for toddler, permainan seru untuk balita

    Namun, sebelum memulai, pastikan kita beri contoh dulu ya, ke mana mereka harus berlari dan aturan yang harus diikuti, seperti menunggu sampai hitungan ketiga baru berlari. Karena, kalau enggak, saking semangatnya anak-anak bisa langsung lari tanpa menunggu aba-aba dimulai. Dan selalu sambut mereka di garis finish dengan senyum lebar, pelukan hangat serta pujian atas usahanya tanpa memedulikan hasilnya. Bahkan ketika anak terjatuh sekalipun. Kita dapat menyemangatinya dengan berkata, “Wah, mama bangga lho, adek bisa bangun sendiri dan lari lagi setelah jatuh tadi.”

    Sekali lagi yang penting anak berani mencoba dan bersenang-senang. Menang kalah urusan ke-123!

    Ball Race

    Permainan ini juga cukup sederhana dan mudah bagi balita. Mereka hanya diminta untuk memindahkan bola-bola dari keranjang pada garis start ke keranjang pada garis finish. Pemenangnya adalah anak yang memiliki bola paling banyak dalam keranjang di garis akhir.

    Untuk aktivitas ini, kita hanya perlu menyiapkan banyak bola dalam satu ukuran. Boleh bola tenis atau bola plastik warna-warni serta keranjang plastik atau kardus-kardus bekas seperti yang digunakan ibu-ibu KB Seria saat perlombaan memperingati Hari Kemerdekaan RI tahun 2013 yang lalu pada foto di bawah ini.

     photo BALL_zpsad4i6wfb.jpg

    Kegiatan ini, selain mengajarkan anak untuk berkompetisi, juga melatih keseimbangan, konsentrasi, motorik kasar dan halus serta melatih mereka untuk berstrategi dan berhitung. Seru ya.

    Musical Chair

    Permainan ini populer sekali, dan hampir selalu ada di setiap pesta ulang tahun. Alat yang diperlukan hanyalah kursi sejumlah anak, musik dan playernya. Anak diminta untuk duduk di kursi mereka masing-masing, kemudian saat musik dimainkan, mereka harus berdiri. Saat itu, kita ambil dua atau tiga kursi sekaligus, lantas anak diberi instruksi untuk duduk ketika musik berhenti berputar. Mereka yang nggak kebagian kursi harus keluar dari arena bermain. Pemenangnya adalah anak yang bertahan di dalam arena sampai akhir.

    musical chair, permainan outdoor untuk balita

    Meski tampaknya mudah, ternyata saat dimainkan oleh anak usia pra sekolah, mereka cukup kebingungan dengan instruksinya, sehingga beberapa anak mungkin harus dipandu untuk duduk dan berdiri pada saat yang tepat. Juga kita sebagai orangtua atau guru harus mengantisipasi anak-anak yang menangis karena kecewa nggak kebagian tempat duduk.

    Aktivitas ini bagus untuk mengajarkan motorik kasar serta ketrampilan sosial pada anak seperti berbagi atau berempati kepada orang lain.

     Water Play

    Last but not least, permainan yang pasti dinantikan oleh anak-anak dan banyak versinya. Tapi kali ini saya mau kasih satu contoh saja yang dimainkan pada acara sports day di sekolah Keenan.

     photo 3_zpsyobir1r6.jpg

    Perlombaannya adalah memasukkan air ke dalam botol melalui corong dan kemudian dituang ke dalam ember terpisah pada garis finish. Pada aktivitas ini ada 3 tantangan sekaligus yang harus dipenuhi anak, yaitu: memasukkan air ke dalam botol melalui corong, berlari atau berjalan ke arah garis akhir sambil membawa botol berisi air dan menuang air dalam botol ke dalam ember. Ember yang isinya paling penuh adalah pemenangnya. Supaya irit ember, lomba ini bisa dilakukan berkelompok. Semakin menyenangkan pasti.

    Dan meski waktu sudah habis, anak-anak biasanya akan tetap melanjutkan bermain air. Jadi selain menyiapkan corong plastik, botol air mineral bekas pakai, gelas plastik, ember berisi air dan ember kosong, juga sediakan baju ganti dan handuk.

    Begitulah, acara sports day di sekolah Keenan berakhir dengan makan bersama makanan yang dibawa oleh para orangtua. Anak-anak senang, orangtua pun banyak belajar. Lain kali, kalau ada acara yang melibatkan keluarga besar atau family gathering kantor atau reunian bersama anak-anak, si pra sekolah ini bisa juga kita buatkan kegiatan seru agar tidak merasa diabaikan. Kira-kira, ada lagi ide aktivitas lainnya kah, Sahabat?

     

  • mitsubishi asian children's enikki festa, brunei, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai
    Daily Stories, Life in Brunei

    Cinta dan Children’s Enikki Festa

    Waktu Cinta masih duduk di kelas 2, saya suka gemas dengan kebiasaannya menyobek buku tulisnya untuk menggambar. Ternyata, kegemasan yang sama juga dirasakan oleh wali kelasnya. Beberapa kali beliau dengan nada setengah putus asa bercerita bahwa Cinta suka sekali menghabiskan waktunya di kelas untuk menggambar dibandingkan mendengarkan guru-gurunya menerangkan pelajaran. Saya pun mencoba untuk bersepakat dengan Cinta akan hal ini dengan memberikannya buku tulis khusus yang bisa dipakainya untuk menggambar dengan syarat hanyaboleh melakukannya saat jam istirahat.

    Mitsubishi Asian Children's Enikki Festa, sekolah, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

    Selama beberapa waktu kesepakatan ini berjalan dengan baik. Saya tidak lagi menemukan buku-buku latihan atau PR yang tiba-tiba menjadi tipis karena sering disobek tengahnya untuk menggambar.

    Namun, wali kelasnya berpikiran lain. Beliau merasa Cinta masih terlalu sering menggambar dan ditambah lagi dengan kebiasaannya melamun saat bosan. Cikgu menganggap kedua hal itu mengganggu konsentrasi Cinta di kelas, lantas meminta saya untuk tidak lagi membawakan Cinta buku untuk menggambar.

    Dengan terpaksa, saya kembali mengingatkan Cinta untuk hanya menggambar saat jam istirahat atau sedang nggak ada pelajaran. Hanya saja, kali ini saya memberi ultimatum, kalau sampai Cikgu mengeluh lagi tentang kebiasaannya itu, buku gambarnya akan saya sita. Dia pun setuju.

    Ternyata, hobi menggambarnya Cinta ini, meski sering mengganggu konsentrasinya di kelas, membuatnya selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran Art. Cikgu wali kelas sendiri mengakui bahwa di antara teman-teman sekelasnya, setiap ujian Art, Cinta selalu termasuk yang paling rapi dan cepat selesai. Karena inilah di bulan Oktober tahun lalu, Cinta ditunjuk untuk mewakili kelasnya dalam “Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2015/2016” bersama  seorang teman sekelasnya. Dari 2 orang ini dan beberapa lainnya dari masing-masing kelas, dipilih lagi menjadi 9 orang yang gambarnya dikirim ke festival tersebut mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan Cinta termasuk di antara 9 orang tersebut.

    Tentang Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa

    The Mitsubishi Public Affairs Committee, the Asian Federation of UNESCO Clubs and Associations, and the National Federation of UNESCO Associations in Japan have sponsored this Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa since 1990.

    This Festa started up “Mitsubishi Impression-Gallery- Festival of Asian Children’s Art” in order for cultural exchange and support for literacy education by means of Enikki (illustrated diaries) and change its name in 2006.

    The Festa so far has collected 635,511 works from 24 Asian nations and regions. The exhibition of represented works have taken place all over Japan as well as overseas, and those represented works have been incorporated into textbooks for local schools in order for participating nations + regions to promote literacy education.

    source: enniki.mitsubishi.or.jp

    Sebenarnya, tema festival menggambar ini bukan keahliannya Cinta. Sesuai dengan namanya, Enikki yang dalam bahasa Jepang berarti illustrated diaries, kompetisi kali ini meminta anak-anak menggambar hal-hal berkesan bersama keluarga. Antara lain, pengalaman berlibur, aktivitas yang menyenangkan, dan lain-lain. Ya seperti menulis buku harian lah, hanya saja dalam bentuk gambar.

    Cinta sendiri menggambar pengalamannya berlibur bersama keluarga. Mulai dari naik pesawat di mana dia menggambar pesawat dan kami bertiga (saya, Cinta dan Keenan); naik kuda di Taman Safari; naik perahu di Kampong Ayer; dan dua gambar lainnya yang nggak sempat saya lihat karena diselesaikan di sekolah bersama gurunya.

    Selain gambar, mereka juga diminta untuk mewarnai sebaik mungkin dan menulis cerita tentang gambar tersebut. Nah, Cinta kurang suka tuh mewarnai. Tapi dia tetap semangat dan berusaha. Bahkan ketika diminta untuk datang ke sekolah di hari libur untuk menggambar dipandu oleh guru-guru Art pun dia dengan senang hati menyiapkan sendiri keperluannya.

    mitsubishi asian children's enikki festa 2015/2016, kompetisi, sekolah, Brunei, menggambar, mewarnai, aktivitas anak

    Setelah sekian lama, akhirnya beberapa hari lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa salah seorang murid mereka, yaitu Charlotte Lay Zhi How dari kelas 5 Lily berhasil mendapatkan Excellent Award dalam ajang yang disponsori oleh Mitsubishi Jepang tersebut. Cinta sendiri rupanya masih harus banyak belajar lagi, terutama soal mewarnai dan menulis cerita. Tapi dia sendiri merasa sudah cukup senang dan bangga bisa berpartisipasi dalam festival tersebut. Saya pun bangga karena Cinta mau keluar dari zona nyamannya, belajar berkompetisi dan memberikan usaha terbaiknya. Semoga tahun ini dapat kesempatan lagi, ya, Kak.

  • blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa
    Daily Stories, Parenting

    Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

    Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

    Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

    Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

    Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

    Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

    Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

    Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

    Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

    Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

    Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

    Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

    anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

    Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

    Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

    Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

    Beri Waktu Untuk Berduka

    Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

    Berhati-Hati Dalam Berbicara

    Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

    mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi

    tulisan dikutip dari parentsdotcom

    Memberikan Pelukan

    Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

    Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

    Dengan cara:

    • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
    • Bernafas dalam-dalam.
    • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
    • Positive self-talk.
    • Mendengarkan musik.
    • Membaca buku.
    • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
    • Mandi air hangat.
    • Nonton film lucu.

    Berikan Contoh Positif

    Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

    Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

    Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

  • Kids Activities

    Hiasan Dinding Dari Kulit Telur

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Kulit telur yang biasanya kita buang ternyata bisa jadi kerajinan tangan yang unik lho, apalagi jika dipadukan dengan kreativitas anak-anak yang tanpa batas. Aktivitas seperti ini pernah saya lakukan bersama Cinta beberapa tahun lalu. Tapi kali ini saya ingin membuat sesuatu yang bisa jadi penanda milestone anak-anak. Seperti yang kami buat ini, hiasan dinding dari kulit telur berupa telapak tangan mereka.

    Bahan yang diperlukan sederhana saja:

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Kulit telur yang sudah dicuci bersih luar dan dalam. Untuk proyek ini kami menggunakan empat kulit telur.
    Template gambar apa saja
    Lem
    Cat akrilik
    Kuas atau spon untuk mewarnai
    Frame

    Cara membuat:

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

     Pecahkan kulit telur menjadi serpihan kecil.

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Beri lem pada gambar

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Tempelkan kulit telur pada kertas.

    Bagi anak besar beri tantangan untuk bisa menempel di dalam garis. Sedangkan untuk anak yang lebih kecil biarkan dia berkreasi sesuka hatinya. Di bagian ini, Keenan cuma betah menempel selama beberapa menit. Selebihnya ya mama yang menyelesaikan hihihi. Tapi buat saya sudah cukup karena rentang konsentrasi batita memang hanya maksimal 15 menit. Apalagi tipe Keenan yang aktif, bisa duduk tenang selama 5 menit untuk menempel sudah merupakan prestasi tersendiri. Menjumput kulit telur yang kecil lalu menempelkannya di kertas, bermanfaat untuk melatih kesabaran dan kekuatan otot-otot tangan dan jari anak usia pra sekolah yang kelak berguna ketika anak belajar menulis.

    hiasan dinding dari kulit telur, craft for children

    Warnai kulit telur

    Ini bagian favorit anak-anak nih. Kakak yang memang senang menggambar dan mengecat dengan telaten mewarnai kulit telurnya. Sedangkan bagi Keenan mencampur cat yang berwarna-warni itu ternyata lebih menarik daripada mewarnai. Jadi ya setelah semua catnya tercampur dan berwarna coklat, lagi-lagi mama yang menyelesaikan hehehe.

    Setelah semua selesai dan cat kering, telapak tangan mereka saya gunting lalu ditempelkan pada kertas yang lebih tebal. Satu telapak tangan dari masing-masing anak. Kemudian pasang pigura. Jadi deh hiasan dinding yang unik dari kulit telur. Yuk, bikin juga. Mumpung akhir pekan nih, bisa jadi alternatif aktivitas di rumah bersama si kecil.

     

  • Life in Brunei

    Baking is a Science

     photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

    Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

    Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

    Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

    Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

    Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

    Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

     photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

    Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

    Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

     photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

    Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

    Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

  • Daily Stories, Parenting

    THR untuk Anak. Yaiy or Nay?

    Libur Lebaran sudah usai ya. Banyak dari kita yang sudah kembali beraktivitas secara normal setelah menghabiskan akhir minggu berkunjung ke sanak saudara untuk merayakan Idul Fitri. Saya sendiri tahun ini nggak mudik ke Indonesia dan merayakan Lebaran hanya di Brunei. Kalau biasanya hari Raya selalu berkumpul bersama keluarga besar, kali ini cukup berempat saja. Lumayan sepi hehehe.

    Nah, di tengah-tengah sunyinya berhari raya tanpa ada anak-anak tetangga yang datang ke rumah untuk minta angpau, saya baca ceritanya Uwi di Path tentang anak-anak di daerahnya yang sengaja bersilaturahmi ke rumah tetangga saat hari raya hanya untuk mendapatkan angpau atau Tunjangan Hari Raya (THR). Cerita tersebut membuat saya teringat pengalaman hunting THR jaman dahulu kala. Berhubung mau komen di status bakalan panjang sekali, akhirnya memutuskan untuk bikin blog post aja deh.

    Kebetulan di keluarga besar saya tradisi bagi-bagi THR ini bisa dibilang antara ada dan tiada. Dulu waktu masih kecil-kecil, usia SD gitu lah, biasanya almarhum Opa dari mama yang suka bagi-bagi THR ke cucu-cucunya. Itupun hanya saat semua cucunya kumpul semua yang nggak selalu terjadi tiap Lebaran.

    Sementara dari Bude, Pakde, Om dan Tante kadang dapat kadang enggak tapi waktu itu rasanya dapat THR bukanlah hal yang paling ditunggu meskipun tetap menyenangkan. Buat kami keistimewaan Lebaran adalah bisa berkumpul dan bermain bersama para sepupu sambil menyantap masakan khas Lebaran ala almarhumah Mami (nenek).

    Baru setelah merayakan Lebaran bersama papa, saya mengalami yang namanya hunting THR. Bersama anak-anak tetangga, kami berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain untuk bersilaturahim, makan kue dan mendapat salam tempel. Jumlahnya bervariasi, mulai dari Rp 100 sampai Rp 5000. Rasanya senang sekali dalam sehari bisa dapat banyak uang meskipun pada akhirnya uang-uang tersebut habis tak berbekas untuk jajanan dan mainan-mainan kecil atau kadang entah menghilang kemana.

    Kalau diingat-ingat lagi sekarang rasanya kok malu ya hahaha. Dulu niat banget sampai rumah yang jauh pun kami datangi, padahal kenal pun enggak. Tanpa dampingan orang tua lagi. Padahal mama selalu mengingatkan untuk nggak boleh minta-minta ke orang lain. Jangankan ke orang tak dikenal, minta dibelikan boneka ke nenek sendiri aja sampai dimarahin.

    Setelah punya anak dan ponakan, saya dan suami pun awalnya nggak membiasakan diri memberikan angpau untuk mereka. Mama, papa, mertua, adik-adik dan ipar pun lebih suka ngasih hadiah berupa barang seperti baju atau mainan. Namun 3 tahun belakangan ini setelah jumlah ponakan semakin banyak, adik-adik dan ipar pun mulai menyiapkan THR untuk ponakan-ponakannya. Akhirnya saya pun mengikuti jejak mereka. Tapi ini khusus untuk anggota keluarga karena kebetulan memang jarang sekali ada anak-anak tetangga yang datang berkunjung ke rumah untuk berlebaran. Kalaupun ada mama dan mertua sudah menyiapkan amplop khusus untuk mereka. Jadi ya saya nggak perlu nyiapin lagi hihihi.

    Cinta sih senang ya dapat THR, biasanya dia gunakan untuk membeli mainan yang sudah lama diidamkan atau main di FunWorld. Belakangan ini uangnya dia titipkan ke saya untuk ditabung. Dan sejak mengenal konsep berbagi dia nggak segan mengeluarkan uangnya untuk memberikan sumbangan pada anak-anak yang kurang mampu atau membelikan adiknya sesuatu.

    Buat saya pribadi tradisi memberikan THR kepada anak atau keponakan dan keluarga dekat adalah hal yang baik asal disertai pesan untuk menggunakan uang tersebut sebaik mungkin. Sedangkan untuk anak-anak, awalnya saya selalu berpesan untuk tidak meminta uang atau barang kepada orang lain, apalagi ke kakek neneknya. Mereka cuma boleh minta ke kami orang tuanya. Namun, namanya kakek nenek, tante, bude, om kan pengen juga ya menyenangkan cucu dan keponakannya, jadi saya ijinkan anak-anak untuk menerima tawaran mereka untuk membelikan sesuatu. Tentu dengan nominal yang nggak terlalu besar. Toh, saya juga masih senang kalau ditraktir mama atau papa makan atau belanja sesuatu hihihi.

    Momen pemberian THR ini bisa kita manfaatkan untuk mengajarkan anak berbagi. Ajak mereka bersama-sama menghitung uang yang didapat lalu menyisihkan sebagian uang yang mereka terima untuk berbagi dengan sesama. Entah dengan menyerahkan langsung ke kerabat yang kurang beruntung dalam bentuk barang maupun uang maupun lewat kotak-kotak sumbangan yang banyak bertebaran di supermarket atau tempat makan. Ajak juga mereka untuk menyimpan sebagian uangnya di celengan atau bank sambil dijelaskan manfaat menabung. Untuk anak-anak yang lebih besar, sarankan mereka menggunakan uangnya untuk membeli barang yang bermanfaat supaya nggak habis begitu saja. Beberapa anak pra remaja yang saya kenal baik bisa membeli smartphone atau tablet dari uang THRnya. Beberapa lagi membeli peralatan sekolah yang pasti bermanfaat terutama di tahun ini yang libur Lebaran bertepatan dengan awal tahun ajaran baru di Indonesia.

    Yang paling penting adalah mengajarkan kepada anak-anak bahwa Hari Raya tidak identik dengan angpau atau THR. Kalau ada yang memberi ucapkan terima kasih atas kebaikan mereka tapi kalau tidak diberi jangan sampai meminta apalagi sampai punya anggapan orang yang nggak ngasih THR itu pelit. Hari Raya adalah momen berkumpul bersama keluarga, mempererat ikatan persaudaraan, menyambung tali silaturahim. Bermain bersama sepupu yang belum tentu sebulan sekali bisa jumpa, bermanja-manja pada nenek dan kakek dan berbagi cerita dengan tante atau paman merupakan pengalaman yang tak ternilai harganya.

    Seperti yang disarankan oleh Asrorun Niam, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam sebuah artikel di detiknews,

    Lebaran harus jadi momentum yang baik untuk merekatkan hubungan harmoni dengan seluruh anggota keluarga, serta keluarga besarnya. Ini bisa menjadi jawaban dan solusi atas berbagai permasalahan anak kontemporer, seperti kekerasan anak, penelantaran, kenakalan remaja yang seringkali pemicunya adalah tidak hadirnya lembaga keluarga dalam menjamin perlindungan terhadap anak-anaknya.

    Lebaran harus dimanfaatkan untuk memberi pengalaman spiritual bagi anak, yang menyenangkan dengan merekatkan tali silaturrahmi dengan handai taulan dan menjelaskan arti kekerabatan. Termasuk juga mengajarkan anak-anak akan pentingnya merajut persaudaraan, etika relasi dengan yang lebih tua, menghormati yang lebh tua serta menyayangi yang lebih muda.

  • Kids Activities

    Menanam Kacang Hijau

    Awal tahun ini punya resolusi untuk lebih sering mengajak anak-anak beraktivitas di luar ruang, minimal 1 jam lah. Kadang sepulang sekolah Ugama sekitar jam 4 sore, saya bawa mereka main di taman bermain tapi seringnya sih karena capek dan masih banyak tanggungan pekerjaan rumah ya saya suruh mereka main di halaman belakang. Karena bosan cuma main-main nggak jelas, saya ajak Cinta untuk bikin science project sekaligus berkebun dengan menanam kacang hijau.

    Kenapa kacang hijau? Karena biji kacang hijau mudah sekali ditanam. Masih ingat proyek IPA jaman SD kan? Kacang hijau diletakkan dalam wadah yang sudah diberi kapas basah lalu didiamkan dalam ruangan yang terkena sinar matahari. Tak lama kemudian si kacang hijau bertunas menjadi tauge. Niat awalnya memang cuma mau bikin tauge, sekaligus membandingkan mana yang lebih subur dan cepat tumbuh antara biji yang diletakkan di ruang terang dengan yang ada di ruang gelap.

     

    Setelah si tauge tumbuh daun dan semakin besar, Cinta punya ide untuk menanamnya di halaman belakang. Dia bikin sendiri lubangnya, memindahkan tanaman dari mangkuk plastik ke dalam tanah dan menyiraminya hampir setiap hari.

    Tanaman ini tumbuh semakin subur, apalagi saat masih sering hujan. Menurut beberapa informasi yang saya peroleh dari om google, tanaman ini dapat tumbuh optimal pada struktur tanah yang gembur, memiliki curah hujan optimal dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Lama-lama setelah hampir nggak ada hujan, daunnya mulai menguning tapi tetap hidup. Seminggu sekali ditambah tanah yang sudah mengandung pupuk supaya tetap bertahan di antara serangan semut dan cuaca yang terlalu terik.

    Sejak bulan Maret lalu, mulai muncul polongnya. Awalnya saya nggak terlalu memperhatikan dan mengira polong yang mulai menghitam itu adalah daun yang mengering. Ternyata bukan. Karena serbuan asap dari kebakaran semak-semak di hutan dekat rumah, anak-anak saya larang main di halaman, saya pun hanya keluar untuk mencuci dan menjemur pakaian. Si kacang hijau pun sempat terlantar meski tetap disirami setiap 2 hari.

    Baru satu minggu yang lalu kami memutuskan untuk memanen kacang hijau yang sudah banyak sekali polongnya. Tadinya saya kira polong yang hitam menunjukkan kacangnya sudah rusak, eh dugaan saya salah. Justru polong yang berwarna coklat dan hijau menandakan kacang hijau sudah dapat dipanen. Sedangkan polong yang masih hijau masih belum matang benar.

    Seru juga berkebun dengan anak-anak. Cinta belajar tentang proses tumbuhnya tanaman dan merawat tanaman. Keenan asik bermain air dan tanah saat menyiram dan menambahkan tanah pada kacang hijau, saya pun mendapat pengetahuan baru tentang si kacang hijau. Abis ini mau nyoba menanam apalagi ya? Ada masukan?

  • Life in Brunei

    Belajar dari Bazar

    Hari Minggu tanggal 9 November 2014 yang lalu, Indonesia Section Panaga Club dibantu oleh ibu-ibu dari komunitas keluarga Indonesia yang berdomisili di daerah Kuala Belait dan Seria, Brunei Darussalam atau yang biasa disebut komunitas KB Seria mengadakan Indonesian Bazaar. Acara ini memadukan bazar kerajinan, makanan khas Indonesia dengan permainan-permainan tradisional yang biasa digelar saat acara tujuh belasan di Indonesia. Selain itu juga ada berbagai macam aktivitas menarik untuk anak-anak dan nail art serta workshop angklung dan bikin artwork dari janur.

    Untuk bazar seni dan kerajinan, tema yang kami pilih adalah keragaman budaya Indonesia dengan tujuan mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dari hasil penjualan barang seni dan kerajinan itu. Untuk itu ibu-ibu yang terlibat dalam bazar ini dibebaskan memilih barang apa yang mau mereka jual. Uniknya dari 6 pedagang hampir semua jenis jualannya berbeda. Seperti mba Evita yang fokus pada jualan batik baik kain maupun aksesoris, mba Dewi dengan pernak-pernik batiknya dan Anggy yang memilih kain sasirangan sebagai barang dagangannya.

    Berbagai kain dan kerajinan khas Indonesia di Art & Craft Corner Indonesian Bazaar 2014, Brunei Darussalam

    Alasan memilih kain ini adalah karena belum banyak orang asing yang mengenalnya. Kebanyakan orang hanya tahu batik dari Jawa dan tenun, sementara masih banyak motif kain tradisional lain yang belum terekspos seperti kain sasirangan yang berasal dari Banjarmasin ini. Apalagi daerah asal kain Sasirangan terletak satu pulau dengan Malaysia bagian Sabah dan Sarawak serta Brunei Darussalam, di mana kedua negara ini juga berbagi kebudayaan dengan Indonesia. Begitu pula dengan songket. Pasti banyak yang belum tahu kan kalau Malaysia dan Brunei pun punya kain songket? Untuk itulah motif-motif unik ini diperkenalkan supaya kita dan orang asing tahu ini milik Indonesia. Jangan sampai kelak diakui oleh tetangga sebelah baru kita marah-marah.

    Sementara yang lain meski sama-sama berjualan tenun ada yang khusus berupa kain dan ada yang sudah dalam bentuk tas dan pernak-pernik ukiran.  Tak ketinggalan aksesoris dari bahan perak, batu dan manik-manik yang cantik.

    Karena kebanyakan barang yang dijual berupa kain, saya meminta teman-teman yang berjualan untuk membuat semacam katalog dalam bahasa Inggris yang berisi keterangan asal kain tersebut, cara pembuatannya dan dapat digunakan sebagai apa saja. Tujuan awalnya sih untuk menarik pembeli, karena berdasarkan info yang saya dapat, tidak banyak orang asing yang tertarik membeli kain karena mereka tidak mengenal makna dari motif-motif kain tersebut dan bisa dibuat apa.

    Pengetahuan tentang Indonesia di dalam sebuah kerajinan

    Ternyata, hasil eksekusinya jauh lebih bagus dari yang saya bayangkan. Enggak sekadar membuat katalog, teman-teman penjual ada yang membuat standing banner, ada juga yang diletakkan dalam pigura dan dijadikan hiasan meja untuk mempercantik display jualannya. Tapi highlight saya adalah kreativitas mba Ika yang dengan telaten membuat semacam tag berisi keterangan bahan lengkap dengan peta Indonesia yang menunjukkan pulau asal bahan tersebut. Hebatnya, dia membuat tag tersebut untuk masing-masing barang jualannya yang berbeda-beda. Salut banget sama ketelatenan mba Ika. Padahal dia selain berjualan juga mengkoordinir pelaksanaan acara Indonesian Bazaar. Ah, keren bener ibu satu itu.

    Pada akhirnya, pengunjung bazar kami selain melihat berbagai kerajinan khas Indonesia juga memiliki pengetahuan baru yang bisa mereka bagi ke orang lain. Jangankan mereka, saya saja belajar banyak kalau tenun itu ternyata banyak jenisnya, begitu pula dengan songket yang termasuk dalam salah satu jenis kain tenun dan tentu saja kain sasirangan. Pembeli pun mendapatkan tips memanfaatkan kain-kain tersebut. Selain jadi baju  ternyata juga bisa digunakan sebagai runner meja, sarung bantal, aplikasi tas, hiasan dinding dan masih banyak lagi. Jadi enggak cuma batik saja yang bisa dipamerkan dari Indonesia, kain-kain lain juga banyak sekali yang dapat dibanggakan.

    Beruntung sekali saya terlibat dalam bazar tahun ini. Bisa mengenal ibu-ibu yang kreatif dan memiliki semangat besar mengenalkan keragaman budaya Indonesia. Semoga dengan begini makin banyak orang yang tertarik untuk mengunjungi negara tercinta kami itu dan melihat langsung pembuatan kerajinan-kerajinan yang mereka beli lalu ikut mempromosikan Indonesia ke kerabatnya.

    Yuk, selalu bangga dan mempromosikan kerajinan asli buatan negara sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi. Betul?

    Pics koleksi pribadi Anggy & Alfa.

    PS: Jangan cari saya di foto ini, bagian mondar-mandir enggak sempat foto-foto hiks.