From A Mother’s Eye

Ngikutin berita tentang aksi Suster Ngesot yang ditendang satpam akhir-akhir ini bikin saya geleng-geleng kepala. Bukan, saya nggak mau ikut-ikutan ngebully si Mega atau membela pak satpam. Buat saya jelas, Mega yang salah. Titik! #sikap.

Dalam kasus Mega, sebagai seorang ibu, saya pun memetik banyak pelajaran dari kejadian itu. Bahwa ada orang yang mudah sekali mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu hanya karena dia ingin, tanpa memikirkan sisi positif dan negatifnya, apalagi efeknya untuk orang lain.

Ketika perbuatannya itu dianggap salah, seribu satu alasan pun keluar. Ia pun tidak menyadari kesalahan yang dia buat. Kalau nggak sadar dia salah, gimana mau minta maaf ke orang yang benar-benar sudah dia rugikan. Bahkan memposisikan diri sebagai korban.

Satu lagi, meskipun anak adalah harta yang paling berharga, orang yang paling kita sayangi, saat dia salah ya kita harus menerima kenyataan itu. Tegur dia, ajak dia minta maaf dan membimbing mereka untuk memperbaiki kesalahannya. Bukannya tutup mata dan mati-matian membela anak atas nama cinta.

Toh, sayang anak tidak berarti melimpahinya dengan materi, memanjakannya dengan mengiyakan semua keinginan dan membela setiap perilakunya. Sebagai orang tua, tugas kita mengarahkan anak mana yang bermanfaat, mana yang benar dan salah. PR kita juga mengajarkan anak berpikir bahwa setiap perbuatan ada risikonya, ajak mereka mempertimbangkan matang-matang segala kemungkinan yang bisa terjadi sebelum melakukan sesuatu.

Yah, semoga kasus suster ngesotnya Mega ini, nggak semakin merugikan pak satpam dan keluarganya. Jangan sampai karena ulah konyol anak baru gede ini membuat sebuah keluarga kehilangan periuk nasinya.

Child Abuse Awareness

“Maybe more people would take action to stop child abuse if they realized that it COULD happen to their children – BraveKidsVoices”

 

Hari Minggu tanggal 26 Juni 2011 yang lalu, acara Stop Child Abuse: Charity for Baby NF yang digagas oleh 3 perempuan hebat: Fla, Silly dan Titut Ismail sukses menggalang massa di Score, CITOS dan mengumpulkan dana ratusan juta rupiah. Sumbangan tersebut rencananya akan digunakan untuk perawatan fisik dan psikis bayi NF, korban kekerasan seksual di Bantaeng, Sulawesi Tengah dan korban lainnya.

Kasus bayi NF sendiri sejatinya seperti fenomena gunung es, sedikit yang muncul di permukaan sementara  yang tidak terekspos banyak sekali. Nggak percaya? Coba deh baca koran, hampir tiap minggu ada berita tentang anak di bawah umur yang mengalami kekerasan seksual. Ironisnya, kebanyakan pelakunya adalah orang-orang yang dekat dengan korban, bisa ayah (kandung atau tiri), paman atau tetangga.

Kok bisa ya mereka setega itu sama anak kecil? Justru anak kecil adalah korban yang empuk karena mereka nggak berdaya, nggak punya kekuatan untuk melawan dan nggak punya keberanian untuk mengadukan hal keji itu kepada orang lain. Sayangnya lagi ketika akhirnya hal itu diketahui orang lain, kebanyakan korban dan keluarganya nggak mau lapor ke pihak berwajib karena dianggap sebagai aib keluarga.

Tapi yang  namanya child abuse bukan hanya berbentuk kekerasan seksual (sexual abuse), masih ada kekerasan fisik (physical abuse) seperti pukulan, cubitan atau jeweran; kekerasan emosional (emotional abuse) seperti memberi label “goblok”, “nakal”, “nyusahin orang tua”, “nggak ada yang sayang kamu”; dan penelantaran anak seperti membiarkan anak kelaparan atau mengabaikan saat anak butuh diperhatikan. Lagi-lagi pelaku kekerasan pada anak tersebut sebagian besar adalah orang tua dan keluarga besar atau guru di sekolah dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Sedih ya, saat keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi seorang anak, malah menjadi sumber malapetaka dan nggak mampu memberikan perlindungan yang dibutuhkan.

Tahukah bahwa kekerasan yang di alami anak bisa mengakibatkan efek jangka panjang? Menurut Freud yang suhu dari ilmu Psikoanalisa, masa 0-5 tahun adalah masa krusial terbentuknya kepribadian anak. Sehingga segala bentuk kekerasan atau tindakan yang mengakibatkan trauma bisa menyebabkan dampak pada masa perkembangan anak. Beberapa studi mengatakan bahwa anak-anak korban kekerasan biasanya akan menunjukkan self esteem yang rendah, depresi, memendam perasaan bersalah, sulit mempercayai orang lain, gangguan pola makan, kesepian bahkan bisa menjadi sangat agresif.

Yuk ah, mari lihat ke dalam keluarga kita dulu, jangan-jangan pola asuh kita selama ini ada yang termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap anak. Atau kalau mau menengok ke kanan kiri, mungkinkah di lingkungan kita ada anak mengalami kekerasan dari orang tuanya. Kalau iya, please stand up, speak out, laporkan kepada pihak yang berwajib. Jika kita sendiri yang bermasalah, datangi orang-orang yang bisa menolong kita dan menyelamatkan anak kita. Semakin dini masalah kekerasan ini bisa diatasi dan anak diberi pertolongan yang tepat, semakin baik pula pemulihan trauma psikisnya. Demi masa depan anak yang lebih baik, STOP CHILD ABUSE!

For more information about child abuse, visit these pages:
http://www.helpguide.org/mental/child_abuse_physical_emotional_sexual_neglect.htm
http://www.childwelfare.gov/pubs/factsheets/whatiscan.cfm
http://en.wikipedia.org/wiki/Child_abuse
http://www.childabuse.com/

Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital

seminarSekitar 5 tahun yang lalu, saya sempat terkejut mendengar cerita anak-anak kelas 6 SD swasta ternama di Surabaya sudah diharuskan membawa laptop sendiri untuk pelajaran komputer. Padahal waktu itu harga laptop termurah masih hampir 3x lipat gaji saya sebagai pegawai di sebuah bank swasta. Masih belum habis rasa penasaran mengapa sekolah itu meminta muridnya membawa laptop padahal mereka punya laboratorium komputer, saya kembali terkagum-kagum melihat anak-anak SD sudah membawa telepon genggam dengan fasilitas lengkap ke sekolah. Makin geleng-geleng kepala ketika mengetahui bahwa tidak sedikit anak usia 10-12 tahun itu sudah dibekali Blackberry  dan anak SMP diberi iPad yang saya mimpi punya aja nggak berani oleh orangtuanya.

Ya, saat ini kita memang hidup di era digital, di mana banyak sekali gadget atau perangkat teknologi yang bisa mempermudah kegiatan kita sehari-hari dan akses menuju sumber informasi. Apalagi sekarang perangkat tersebut bisa didapatkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Sebut saja, telepon genggam, play station, laptop, televisi, vcd yang hampir ada di setiap rumah kelas menengah. Bahkan mungkin tidak sedikit yang masing-masing penghuni rumah memiliki ke-5 perangkat tersebut di kamarnya. Sayangnya, penggunaan media hiburan dan informasi ini seringkali tidak dibarengi dengan kecerdasan dan pengawasan dari orang dewasa. Hal inilah yang membuat saya mengikuti seminar “Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital” hari Sabtu, 30 Oktober 2010 yang lalu di Kemang Village.

Seperti yang saya utarakan di atas, anak SD sudah dikasih blackberry, telepon genggam canggih, laptop dengan akses internet tak terbatas merupakan hal yang umum kita jumpai saat ini. Padahal, Ibu Elly Risman mengingatkan bahwa banyak orang tua yang tidak awas akan banyaknya ancaman pornografi yang bisa diakses anak dari perangkat-perangkat tersebut. Bahkan games seperti The Sims atau film kartun macam Naruto pun mengandung konten pornografi dan kekerasan yang tidak pantas dimainkan atau ditonton oleh anak tapi tetap kita biarkan mereka menonton dan memainkannya. Padahal menurut data yang dihimpun oleh Kelompok Peduli Anak dan Buah Hati, pornografi bisa merusak 5 bagian otak anak, dan selama ini kita mengira bahwa narkoba lah ancaman terbesar bagi generasi muda.

Nggak ada salahnya kok memberikan perangkat canggih kepada anak selama kita yakin bahwa bagian prefrontal cortex yang berfungsi sebagai direkturnya otak sudah benar-benar matang. Karena di bagian otak inilah tempat dibuatnya moral dan nilai-nilai. Masih menurut ibu Elly, untuk mematangkan direktur ini, kita sebagai orang tua harus mengasuh anak dengan benar, yaitu dengan komunikasi yang baik, hangat dan mengutamakan perasaan. Selama ini mungkin banyak orang tua yang cuma peduli apakah anak sudah mengerjakan PR atau belum, ranking berapa di sekolah, kalo belum bikin PR atau ulangan dapat 80 dan bukannya 100 langsung dimarahin. Padahal anak butuh validasi atau penerimaan, penghargaan dan pujian atas usaha yang telah ia lakukan. Mereka perlu kita memahami perasaannya.

Dan yang terpenting adalah menghadirkan Tuhan dalam diri anak. Sebagai orang tua, kita harus menanamkan pada diri sendiri bahwa anak adalah amanah dan ajaran agama juga moral harus kita lakukan sendiri, bukannya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah berbasis agama, guru agama, tempat pendidikan agama dan sebagainya. Pola pengasuhan Dual Parenting pun sangat diperlukan bagi perkembangan pribadi anak yang matang. Peran Ayah sama pentingnya dengan peran ibu sehingga ayah juga harus hadir secara emosional dan spiritual. Dalam seminarnya, ibu Elly Risman memberi contoh anak laki-laki yang tidak memiliki komunikasi yang baik dengan ayahnya akan cenderung agresif, sedangkan anak perempuan yang tidak mendapatkan penerimaan dari ayah akan mencari kasih sayang dari laki-laki lain di sekitarnya dengan membabi buta.

Latih anak untuk mampu berpikir kritis dan memiliki konsep diri yang kuat dengan selalu menanyakan pendapat anak tentang sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Penerimaan, cinta kasih sayang dan penghargaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh anak. Dan jadilah teladan yang baik karena anak belajar dari contoh bukan ucapan. Pemberian fasilitas kepada anak pun harus jelas tujuannya, jangan cuma karena “semua temennya juga pake” atau “biar gampang hubungin anak”. Capai kesepakatan dengan anak mengenai aturan penggunaannya, dan jelaskan dampak positif dan negatif gadget tersebut. Biarkan anak berpikir, memilih dan mengambil keputusan mengenai perangkat tersebut.

Nggak mudah jadi orang tua di era digital ini, banyak sekali ancaman dan tantangannya. Nggak sekedar sekolah mahal tapi juga pergaulan yang semakin menggila. Anak sekarang jauh lebih pintar dari orang tuanya tapi kita sebagai orang tua juga harus lebih kreatif dalam memahami anak. Selamat menjadi orang tua 2.0 yang cerdas dan tanggap 🙂

SMS Penipuan

Menjelang Lebaran seperti ini tampaknya makin marak penipuan melalui SMS. Hampir setiap hari status teman-teman di Facebook dan Twitter mengabarkan bahwa mereka mendapatkan SMS dari nomor tak dikenal minta ditransfer jumlah pulsa tertentu.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat SMS seperti ini di tengah malam untuk kedua kalinya
sms

Yang pertama kali saya sempat bimbang antara kasihan dan khawatir jika si pengirim benar-benar kecelakaan dan membutuhkan pertolongan. Sedangkan di sisi lain ada juga perasaan tidak percaya mengingat banyaknya penipuan melalui SMS. Akhirnya saya sms balik dan meminta maaf kalau tidak bisa transfer pulsa karena pakai nomor pasca bayar. Eh, dia balas lagi memohon mohon supaya saya membantu dan pulsa saya akan dikembalikan setelah masalahnya selesai. Setelah 3x saling balas sms saya semakin yakin bahwa ini adalah modus penipuan karena logikanya kalau bisa sms 3x pasti bisa telpon atau minimal sms keluarganya.

Belakangan ini sedang marak SMS “Mama minta pulsa” mulai dari bilang mama butuh pulsa untuk nomor barunya, sedang bermasalah di kantor polisi dan butuh pulsa untuk menelpon sampai sedang di berurusan dengan pihak berwajib di Malaysia ROTFL. Saya juga pernah dapat SMS seperti ini yang langsung saya kategorikan penipuan tanpa pikir panjang. Pertama karena Mama saya selama bertahun tahun menggunakan nomor telpon pasca bayar yang sudah dikenal seantero keluarga dan lingkup pergaulannya jadi nggak mungkin ganti nomor begitu saja. Kedua seandainya pun ganti nomor dan butuh pulsa, beliau adalah orang yang mobile sehingga bisa dengan mudah mengisi pulsa di mana saja. Dan yang ketiga, mama saya juga pengguna Blackberry yang kalaupun terpaksa minta pulsa pasti akan menggunakan BBM untuk berkomunikasi dengan kami anak-anaknya.

Sayangnya ada beberapa teman yang nyaris tertipu, mungkin karena bawa-bawa nama “mama” membuat mereka panik. Untungnya sempat konfirmasi terlebih dahulu ke rumah masing-masing. Kalau tidak mungkin sudah melayang pulsa sekian puluh ribu rupiah. Memang jumlahnya nggak seberapa, paling banyak Rp 100,000.00 tapi tetap aja buat saya itu besar kecuali memang niat untuk amal.

Jadi berhati-hatilah kalau mendapatkan sms dari nomor tak dikenal meminta sesuatu. Lakukan cek dan ricek, kenali betul kebiasaan dan bahasa tulisan orang-orang terdekat kita. Jangan sampai kepanikan kita dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat tidak baik.

Menyusui di Tempat Umum

Seperti kata @sabai di sini, minggu ini adalah World Breastfeeding Week dimana organisasi ibu menyusui di seluruh dunia termasuk AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) menggunakan momen ini untuk berkampanye semaksimal mungkin mengenai manfaat-manfaat menyusui bagi ibu dan anak. Tahun ini tema kampanye WBW yang diusung oleh AIMI adalah “Menyusui: Sepuluh Langkah Menuju Sayang Bayi,” dengan slogan “Sayang Bayi, Beri ASI”.

Kenapa menyusui saja perlu dikampanyekan dan disosialisasi? Bukankah menyusui itu proses alamiah seorang ibu memberi makan untuk anaknya? Well, banyak alasan kenapa banyak ibu yang tidak mau menyusui, mulai dari ASI-nya tidak keluar, takut bentuk payudaranya berubah menjadi tidak bagus, promosi susu formula yang berlebihan sampai malas karena tidak praktis. Tidak praktis? Iya, antara lain karena ibu harus membawa anaknya kemana-mana supaya dapat disusui setiap si anak menginginkan, malu jika harus menyusui di tempat umum sehingga ia harus “terkurung” di rumah sampai anak disapih, padahal yang namanya menyusui nggak cuma sampai ASI Eksklusif 6 bulan tapi berlanjut sampai 2 tahun atau lebih tergantung kesepakatan anak dan ibu.

Soal menyusui di tempat umum ini yang paling sering dipersoalkan oleh banyak pihak, bahkan dari kaum perempuan sendiri seringkali memandang risih kegiatan ini. Bahkan ada juga yang menganggap menyusui di tempat umum dan tanpa sengaja memperlihatkan payudara adalah pornoaksi. Padahal, banyak ibu yang mau tidak mau harus menyusui di tempat umum karena terbatasnya ruangan ibu dan anak atau nursery room. Anak yang minum ASI tidak seperti anak yang diberi susu formula yang bisa diperkirakan waktu minum susunya. Kadang anak minta menyusu bukan saja karena ia haus atau lapar tapi juga karena merasa tidak nyaman.

Sebagai mantan ibu menyusui yang tidak menggunakan jasa babysitter sampai Cinta berusia 6 bulan, sejak ia berusia 1 bulan sudah saya ajak kemana-mana; bank, mall, arisan, dsb. Kalau dibilang egois ya bolehlah. Tapi sekedar membela diri, saya pun tidak bisa hanya diam di rumah sampai anak saya selesai masa menyusui. Bahkan seorang ibu pun punya hak untuk melihat dunia luar kan? Sementara anak tidak bisa ditinggal di rumah karena tidak ada yang menjaga.

Awalnya tentu saya merasa risih harus menyusui di tempat umum, sayangnya tidak semua lokasi yang saya datangi menyediakan tempat khusus menyusui. Di Surabaya, hanya 2 mall yang ada nursery roomnya di tiap lantai, yaitu di Galaxy Mal dan CITO (City of Tomorrow) itu pun yang di Galaxy Mal jadi satu dengan toilet untuk anak. Untuk mengantisipasi hal itu biasanya Cinta saya susui dulu di mobil selama perjalanan dan menyelesaikan segala urusan sebelum tiba saat menyusu berikutnya. Tapi kadang tidak selalu berjalan lancar, saat sedang makan atau belanja tiba-tiba dia menangis minta minum, mau tidak mau harus diberi. Saking malunya, saya beberapa kali menyusui Cinta di toilet umum tapi kemudian saya sadar bahwa anak saya tidak layak menyusu di tempat seperti itu. Hei, kita pun nggak mau kan makan di kamar mandi? Memerah ASI dan menyimpannya di botol untuk diberikan saat di tempat umum juga pernah saya lakukan, sayang Cinta lebih suka minum ASI langsung dari kemasan aslinya daripada botol.

Sampai akhirnya saya berusaha masa bodoh, saat anak minta disusui dimanapun saya berada pasti berusaha mencari tempat senyaman mungkin untuk menyusui. Pakai baju yang cukup sopan sehingga ketika dibuka tidak (terlalu) menampakkan tubuh, ditutupin pakai selimut, mojok, dan masih banyak trik-trik lain. Lalu berkenalanlah saya dengan nursing apron, nursing dress, nursing shirt yang membuat saya bisa menyusui kapanpun, dimanapun tanpa khawatir ada bagian tubuh saya yang akan terekspos. Yayaya, tidak dipungkiri beberapa kali saya mendapatkan tatapan yang kurang bersahabat, tapi saya tak peduli. Yang penting anak nyaman, kenyang & bahagia karena mendapatkan kebutuhannya.

Selamat merayakan Pekan ASI Sedunia, semoga semakin banyak anak Indonesia yang memperoleh haknya yaitu ASI dan semakin banyak ibu yang tahu trik-trik menyusui di tempat umum dengan elegan.

Sudah Minta Maaf Lalu Apa?

Semalam, sambil makan soto Gebrak yang dibeli suami, kami berdua nonton tayangan berita di Metro TV. Di sebuah segmen muncul Cut Tary yang menangis terisak-isak. meminta maaf kepada jajaran kepolisian, pers, masyarakat sampai suaminya atas pemberitaan tentang video hubungan intimnya dengan artis lain. Sang suami pun memberikan penjelasan mengapa ia begitu setia mendampingi istrinya yang sudah dihujat entah ratusan atau ribuan orang. Setelah itu, giliran permohonan maaf Luna Maya atas pemberitaan yang mungkin merugikan masyarakat.

Menyaksikan berita itu, saya terenyuh sekaligus berharap ini adalah akhir dari pemberitaan yang bertubi-tubi mengenai kasus video hubungan intim antara Ariel dan Luna Maya juga Ariel dan Cut Tary. Jujur, saya jenuh setiap kali nonton tv lokal pasti ada tayangan tentang itu, baik di segmen berita maupun infotainment. Belum lagi bumbu-bumbu opini dari penulis naskah atau presenternya. Beruntung anak saya masih berusia 3 tahun dan lebih suka ngeberantakin kamar dengan mainan-mainannya daripada ngikut emaknya nonton tv. Sehingga ia belum tahu dan belum merasakan efek dari bombardir berita tersebut.

Saya tahu pertama kali tentang video itu dari twitter. Tak berniat mengunggahnya apalagi menonton. Bukan karena sok moralis atau sok suci, hanya saja saya merasa tidak. nyaman melihat orang lain melakukan hubungan intim. Sama halnya saya tidak ingin orang menyaksikan saya berhubungan dengan suami. Beberapa waktu kemudian ternyata video itu menjadi kepala berita di sejumlah surat kabar, infotainment, portal berita. Lantas sejumlah elemen masyarakat mengatasnamakan rakyat mulai menghujat, mengadili para artis yang ada dalam video. Bahkan beberapa kasus pemerkosaan diakui terpengaruh adanya video tersebut. Mereka bertiga menjadi terdakwa bahkan saat belum dinyatakan sebagai tersangka oleh kepolisian.
Tapi kini dua dari 3 artis tersebut sudah meminta maaf. Apalagi yang kita harapkan dari mereka? Mereka sudah dihukum secara moral dan kini pun telah resmi menjadi tersangka kasus video yang katanya porno itu. Mereka juga sudah kehilangan sumber mata pencaharian karena dicabutnya kontrak-kontrak. Bahkan orang-orang yang bekerja dengan mereka pun kehilangan sumber penghasilan akibat ditutupnya beberapa usaha mereka oleh sebuah ormas. Infotainment juga sudah mendulang rating sangat tinggi atas tayangan mengenai Ariel, Luna Maya dan Cut Tary. Apalagi yang diinginkan? Sudah waktunya media mengurangi porsi pemberitaannya dan mengalihkan ke yang lebih penting. I think we had enough 🙂