Browsing Tag:

cinta

  • Life in Brunei

    Cinta’s 5th Birthday

    Tiap tahun, saya selalu berangan-angan bikin acara ulang tahun yang menyenangkan untuk Cinta, rasanya bayangan jenis kue, goody bag, baju ultah, sampai tempat acara sudah melekat di kepala selama berbulan-bulan. Tapi ternyata ulang tahun yang menyenangkan menurut Cinta tidak sama dengan saya. Buat dia merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah cukup dan ternyata hal ini dikabulkan oleh Allaah.

    Jadilah tahun ini sesuai dengan permintaan Cinta, kami merayakan ulang tahun ke-5 gadis kecil ini dengan penuh kesederhanaan. Hanya kami  bertiga, 2 buah kado dan kue ulang tahun pilihan Cinta, di hari Minggu, 17 Juni 2012 yang lalu. Meski sederhana bukan berarti sepi karena tak lama setelah acara tiup lilin kami dapat video call dari keluarga di Sidoarjo, telpon dari Yangti Yangkung Tuban dan tante bude. Belum lagi limpahan doa dan ucapan selamat dari teman-teman di Twitter dan Facebook. Alhamdulillaah, semoga diijabah Allaah.

    Keesokan harinya Cinta bagi-bagi cupcake untuk teman-teman di sekolah. Nggak pakai acara tiup lilin karena dia nggak mau, “Kan kemarin sudah celebrate my birthday at school, Ma. Sekarang makan kue aja rame-rame sama teman-teman,” pintanya.

    Selamat ulang, Nadja Aluna. Selamat meninggalkan masa balitamu dan menyongsong hari-hari sebagai anak besar. Terima kasih telah menjadi guru terbaik bagi kami untuk terus belajar menjadi orang tua. Semoga mama dan papa bisa membimbingmu menjadi anak sholeha, berguna bagi lingkungan, sehat dan bahagia. Aamiin 🙂

  • Parenting

    What We Learn From Our Mom

    Dulu, jaman saya remaja, saya sering menganggap mama saya tuh nggak gaul karena sering menasihati ini itu atau melarang begitu begini. Mama saya juga suka bilang kalau anak-anak generasi saya (dan adik-adik) beda sekali dengan beliau waktu kecil dulu. Selera musik yang aneh, skala prioritas.yang bukan lagi soal pelajaran, dan masih banyak lagi. Semakin dewasa, semakin jauh gap antara saya dan mama sampai akhirnya saya menikah dan punya anak.

    Nggak sedikit pertentangan yang saya alami dengan mama soal merawat bayi, meskipun banyak sekali yang saya pelajari dari beliau, misalnya soal memandikan bayi, cara membedong anak sampai cara menggendong anak. Yang paling seru (menurut saya nih ya) ya soal ASI vs sufor dan pengobatan. Generasi mama saya masih percaya bahwa susu formula adalah asupan terbaik bagi anak, sedangkan saya merasa sebaliknya. Begitu pula dengan pengobatan, setelah belajar dari sebuah milis dan sharing dengan beberapa teman, saya berusaha mengadopsi sistem rational use medicine, sedangkan orang tua saya ya masih beranggapan bahwa bayi sakit wajib hukumnya ke dokter.


    Ternyata nggak cuma saya yang mengalami pertentangan seperti itu dengan orang tua. Banyak lho, mamah mamah muda yang bernasib sama. Bahkan sampai ada yang benar-benar bertengkar dan memusuhi ibunya karena perbedaan pendapat ini. Sedih banget ya. Saya pun dulu sering merasa kesal karena pada pagi hari tiba-tiba Cinta sudah selesai mandi dan diberi susu formula oleh mama dan nenek saya, padahal saya ingin sekali bisa ASI eksklusif. Atau saat batuk pilek baru sehari dua hari sudah disuruh-suruh ke dokter. Tapi, setelah kami bisa berbicara dari hati ke hati, alasan beliau adalah kasihan melihat saya yang lelah karena begadang semalaman mengurus Cinta. Atau nggak tega melihat bayi kecil terus-terusan sakit. Ternyata semua itu beliau lakukan sebagai bentuk sayangnya pada kami berdua kok.

    Sejak itu saya berusaha mencari jalan terbaik untuk bisa berkompromi dengan mama. Menunjukkan artikel-artikel tentang ASI, mencari dokter anak yang se”aliran” dengan saya. Hebatnya, mama saya juga seakan berusaha untuk bisa mengerti dan memahami keinginan saya, sampai akhirnya beliau menjadi salah satu pendukung ASI yang hebat dan bahkan bisa ikut mempromosikan kebaikan ASI di kantornya. My mom is cool, right?

    Di ulang tahun Cinta ini, saya mengenang kembali perjalanan 5 tahun menjadi ibu dan menyadari bahwa mama saya (dan suami tentu saja) adalah sosok terpenting di belakang perjuangan kami menjalani peran sebagai ibu dan anak. Tanpa beliau mungkin saya tidak bisa survive dari post partum depression, tanpa beliau juga mungkin saya tidak bisa maksimal untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi Cinta. 

    Untuk itulah, saya membuat giveaway  bertemakan ajaran orang tua yang masih kita gunakan dalam mengasuh anak-anak kita sekarang. Sekadar mengingatkan bahwa meskipun masa berganti, ilmu berubah dan kita saat ini merasa lebih pintar dari ibu, masih banyak ajaran-ajaran beliau yang timeless. Mengasuh anak bukan cuma soal ASI vs sufor, RUM vs IRUM, MPASI rumahan vs MPASI instan. Masih banyak hal yang harus kita pelajari dan seringkali orang tua adalah guru terbaik.

    Dan saya terharu sekali melihat banyak wisdom dari para nenek atau kakek yang diamalkan oleh mamah papah jaman sekarang. Semuanya bagus menurut saya, seperti mengajarkan kejujuran, kemandirian, menghargai barang atau makanan, menghindari labeling sampai soal mengajarkan sebab akibat pada anak. Itu adalah ilmu-ilmu parenting yang mungkin dipelajari mama-papa kita secara otodidak, dilakukan dari hati dan sekarang dianut oleh banyak ahli parenting.

    Karena semuanya bagus sehingga saya bingung memilih pemenang, akhirnya saya menggunakan caranya om Warm untuk menentukan 2 orang yang mendapatkan paket buku “Rumah Cokelat” dan seri buku anak “Sejuta Warna Pelangi“. Dan yang beruntung adalah Myra Anastasia dan Titut Ismail, silakan kirim alamat pengiriman ke: alfa(dot)kurnia(at)ymail(dot)com atau via akun FB/Twitter. Terima kasih banyak atas partisipasi dan ucapan teman-teman semua untuk Cinta, doa terbaik untuk semua 🙂

  • Daily Stories, Parenting

    Mengatasi Rasa Takut Pada Anak

    Question:

    mbak Nina, anak saya (5 thn) belakangan ini gampang takut & nangis. Liat tv yang menegangkan, ruangan gelap selalu lari. Kalau ditanya cuma bilang takut karena serem. Sebelumnya nggak ada kejadian traumatis di rumah. Kenapa ya kira-kira?

    @alfakurnia

    Answer:

    @AnnaSurtiNina

    Ada banyak kemungkinan. Kalau tidak ada kejadian besar, mungkin ada kejadian yang hanya dia yang tahu & berkesan banget. Mungkin juga dia sedang eksplorasi rasa takut or eksplorasi respon org terhadap dia, misalnya ingin tau apa aja yang dilakukan orang lain kalau dia tunjukkan takut. Bisa juga karena menikmati respon orang lain terhadap ketakutannya, misalnya tiap kali dia takut langsung dapat pelukan & Cinta suka pelukanmu yang penuh cinta 😛

    Coba lebih banyak masukkan pesan bahwa dia anak tangguh & berani. I love this way: sebelum tidur & sesaat setelah bangun bisikkan kata-kata ini, “Mama tau bahwa kamu adalah putri yang pemberani, I love you.” Setiap hari :). Beberapa bulan lagi arahkan keberanian supaya tidak berlebihan.

    Souce: tanya jawab dengan psikolog Anna Surti Nina melalui akun twitter @AnnaSurtiNina

  • Life as Mom, Parenting

    Soon to be Five: Pojok Mungil’s Giveaway

    Nggak terasa bocah kecil saya sebentar lagi akan meninggalkan masa balitanya. 5 tahun sudah saya ditempa oleh guru terhebat ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik, supaya layak menyandang gelar orang tua. Selama 5 tahun ini pula, banyak sekali pelajaran mengenai pola asuh anak yang saya peroleh dari buku, internet, teman dan tentu saja orang tua.

    Meskipun kadang merasa bahwa cara orang tua mengasuh kita dulu sudah tidak cocok lagi diterapkan saat ini, ternyata masih banyak yang masih bisa ditiru. Salah satu yang saya pelajari dari mama adalah menyayangi anak bukan berarti selalu memanjakan dan menuruti apa yang ia mau. Dan saat kita tidak dapat memenuhi keinginan anak, sampaikan terus terang alasannya, tentu dengan bahasa yang mereka mengerti.

    Nah, dalam rangka ulang tahun ke-5 Cinta, saya ingin mengadakan giveaway untuk pembaca PojokMungil. Caranya gampang banget, cukup menceritakan apa saja ajaran, pesan atau pola asuh yang dipelajari dari orang tua kita dan diterapkan dalam mengasuh anak saat ini di kolom komentar. Untuk 2 orang yang beruntung akan mendapat masing-masing 1 buah MomLit Rumah Cokelat karangan Sitta Karina dan 1 paket buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” karangan Clara Ng.

    Yuk, mari berbagi cerita… Ditunggu sampai tanggal 13 Juni 2012 ya, pengumuman pemenang akan dilakukan pada hari ulang tahun Cinta tanggal 17 Juni 2012.

    Ps: gambar buku anak seri “Sejuta Warna Pelangi” diambil dari situs kutukutubuku.com

  • Life in Brunei

    Birthday Celebration

    Sekolah Cinta, Chung Ching Kindergarten Seria, 2x dalam setahun mengadakan group birthday celebration atau perayaan ulang tahun massal untuk anak-anak KG1 – KG3. Bulan Juni ini, setelah mid year exam, birthday celebration yang pertama diselenggarakan untuk mereka yang ulang tahun di bulan Januari – Juni. Dalam perayaan ini sekolah menyediakan kue taart dan goodie bag, sedangkan orang tua diminta membawa makanan, snack atau suvenir untuk dimakan ramai-ramai di kelas.

    Karena Cinta ulang tahun di bulan Juni, meski belum waktunya, ikut dirayakan tanggal 4 kemarin. Dan saya kebagian bawa potluck dong yah yang setelah dipikir-pikir akhirnya memutuskan bikin yang gampang aja, sate sosis bakso ikan dan puding susu sutera 2 warna hasil nyontek resepnya mamak @depezahrial.

    Seru juga sih acaranya, dimulai dari nonton acara sulap bareng seluruh TK di hall. Kebetulan ada salah satu orang tua murid KG2 Red yang mengundang Mr. Magic Lee untuk perform di sekolah dalam rangka ultah bareng ini. Huiii, anak-anak seneng dan heboh banget. Lalu masuk kelas masing-masing untuk tiup lilin, potong kue dan foto bersama kepala sekolah dan dilanjutkan dengan makan bersama.

    Meskipun sederhana dan ala kadarnya, bocah-bocah kecil itu senang sekali lho. Apalagi liat begitu banyak kue, susu, mie, puding dan lain-lain yang tersedia di meja. Plus nggak ada pelajaran hari itu. Selamat ulang tahun ke- 5 Aavani, Darwish, Nadja, Wishya, Min Hui, Haikal, Azhar, Issabel dan Amar. Semoga selalu menjadi buah hati kebanggaan keluarga.

  • Daily Stories, Parenting

    Renungan Saat Hujan di Pagi Hari

    Hadiah yang ditunggu-tunggu anak adalah kesabaran: “Aku akan berusaha memperlambat langkah agar aku bisa berjalan di sebelahmu & biarkanmu jadi diri sendiri.” – @donobaswardono

    image

    *setelah naik turun tangga apartemen untuk kedua kalinya dan sudah terlambat berangkat sekolah*

    Cinta: *turun tangga pelan-pelan sambil nyanyi-nyanyi*
    Me: Go… Go… Go… We’re running late *dengan nada tinggi*
    Cinta: *berhenti nyanyi* Mami, aku kaget kalau ngomongnya keras gitu
    Me: Mama harus bicara keras karena tadi mama bicara pelan nggak didengerin sama kakak.
    Cinta: ….
    *setelah setengah perjalanan turun tangga*
    Cinta: Yah! Aku lupa bawa bandoku!
    Me: *membayangkan tantrum di pagi hari* Trus gimana? Masa mau naik lagi ambil bando? (dengan nada tinggi)
    Cinta: Eh, kan aku sudah pakai baju cantik ya jadi nggak papa nggak pakai bando.
    Me: *serasa disiram segalon air es*

    Pernah nggak menghadapi situasi seperti itu? Saat kita sedang emosi dan nggak bisa mengontrol nada suara atau ekspresi wajah eh korban pelampiasan emosi kita malah menunjukkan sikap tenang dan tersenyum.

    Saya sering sih, justru saat seperti itu Cinta menunjukkan sikap yang jauh lebih dewasa daripada mamanya yang berusia 6x lebih tua dari dia. Saat saya meragukan kemampuannya mengatasi kecewa malah bocah kecil ini membuktikan sebaliknya.

    Memang benar yah, anak itu guru bagi orang tuanya. Dari merekalah kita belajar memberi, percaya dan mengolah diri supaya layak menjadi orang tua. Dan selama hampir 5 tahun jadi ibu, entah kenapa belakangan ini saya merasa sering sekali menuntut Cinta untuk bersikap atau melakukan apa yang saya mau bukannya mendampingi dia untuk belajar menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. And suddenly I feel that I’m not good enough to be a mother and I’m so lucky to have such a wonderful girl who still loves me no matter how bad I treat her.

    Ya, modal utama jadi orang tua memang cinta tak bersyarat, kesediaan memberi dan kesabaran. Sekarang saya jadi ragu, apakah saya sudah punya ketiga hal itu?

  • Family Health, Foods and Places

    Klinik Anakku BSD

    Klinik Anakku BSD

    Hari Sabtu kemarin, karena Cinta makin lemas dan demamnya sampai 40 derajat Celcius, akhirnya saya memutuskan untuk bawa Cinta ke dokter. “Hah, batuk pilek demam aja ke dokter? Baca lagi dong guidelinesnya. Common cold nggak perlu ke dokter. Nanti juga sembuh sendiri!” Wuah, iya deh… Gini ya, menurut saya meski udah hafal guidelines common problems in pediatric tapi ya namanya saya bukan dokter, pengen dong konsultasi sama yang ahlinya. Setidaknya untuk memastikan dugaan saya kalau batuk pilek demamnya Cinta itu memang cuma common cold. Lagipula apa salahnya sih diskusi sama dokter? Yang penting kita udah punya pegangan jadi enak nanya-nanya ke dokternya.

    Nah, karena deket rumah nggak ada dokter anak yang bagus akhirnya hunting dokter spesialis anak di sekitaran BSD. Awalnya sih mau ke Eka Hospital tapi takutnya hari Sabtu nggak ada yang praktek. Lagipula agak malas juga kalau harus ke RS karena pengalaman suka banyak banget pasiennya, antri dokter sama antri obat bisa berjam-jam. Keburu makin lemes deh ah si Cinta.

    Memang sih kalau cuma common cold juga bisa periksa di dokter umum dan di kompleks ada dokter umum langganan para ibu yang anaknya sakit. Jadi mestinya bagus dong ya. Tapi saya masih belum sreg nih karena belum pernah bawa Cinta periksa di dokter umum selain ke UGD dulu karena demam tinggi.

    Lantas saya ingat kalau nggak salah ada klinik khusus untuk anak di BSD dan setelah browsing nemu Klinik Anakku. Klinik ini lokasinya di Ruko Golden Madrid 2 Blok I-8, Jl. Letnan Sutopo (depan Pasar Modern BSD). Untuk memastikan bahwa ada dokter yang praktik, saya telpon dulu ke nomor 021-531 64830 dan 021-7091 3227. Alhamdulillah, bagian pendaftarannya memastikan kalau dokter praktik sampai jam 11.

    Begitu sampai di sana ternyata kliniknya sepi, jadi sambil nunggu saya daftar, Cinta bisa main di ruang tunggu. Permainannya nggak banyak sih, cuma lumayan lah daripada lu manyun 😀 eh, maksudnya cukup menghibur. Kalau malas main juga bisa nonton TV. Berhubung pasiennya cuma kita, abis daftar langsung diajak ke ruang praktik dokter di lantai 2. Setelah ditimbang dan ditanya keluhannya oleh suster, kita masuk kamar periksa.

    Ruang periksanya khas ruang periksa dokter spesialis anak. Dinding bercat terang, wallpaper Pooh, tempat tidur beralas lucu dan penuh boneka di atasnya. Di meja dokter juga ada mainan-mainan yang berjejer, bahkan stetoskopnya dikasih sarung yang ada bonekanya. Dekorasi seperti itu bikin anak nyaman dan mungkin bisa sedikit berkurang rasa takutnya.

    Dokternya sendiri ramah dan mau berkomunikasi dengan Cinta, minimal tanya nama, umur, sekolah, dan ngobrol sedikit untuk mencairkan suasana gitu lah. Abis ngomong ama Cinta, beliau tanya tentang gejala yang dialami Cinta. Sempat kaget juga begitu saya kasih tahu kalau demam sampai 40 der C, ditanya kejang nggak. Ya Alhamdulillah sih nggak pakai kejang demam. Waktu periksa pun Cinta nggak disuruh tiduran, cukup duduk di atas tempat tidur, jadi dia nggak tegang. Begitu selesai diperiksa, dokter bilang cuma batuk pilek dan ada radang lalu menuliskan resep *nyengir*. Cinta langsung bilang, “bu dokter, obatnya jangan yang pahit ya. Cinta nggak suka.” Beliau dengan ramah menjawab, “Oh, enggak kok. Nanti ada yang rasa jeruk ya obatnya.” Eh, dibalas lagi sama Cinta, “Maunya yang rasa blueberry muffin aja bu dokter, sama Stimuno.” Yang dijawab, “Yah, kalau Stimuno nanti lama sembuhnya.” Hihihi, ada-ada aja si Cinta.

    Sambil menunggu dokter nulis resep saya tanya obat apa aja yang dikasih dan seperti dokter pada umumnya, beliau cuma bilang obat buat batuk, pilek dan demam berupa puyer plus antibiotik buat radangnya dan ibuprofen untuk demam. Lagi-lagi, saya cuma nyengir aja karena lagi males ngobrol panjang lebar. Yang penting saya tahu kalau memang gejala yang dialami Cinta itu common cold aja.

    Abis periksa turun ke bawah, nunggu obat yang langsung diambil di situ. Begitu selesai dicek oleh apoteker, saya bayar sekitar Rp 250,000.00 untuk dokter dan obat plus bonus majalah Anakku karena Cinta adalah pasien baru. Cinta pun main lagi sambil nunggu obat selesai diracik. Bosan main, dia liat-liat etalase di situ yang memajang mainan. Sedangkan saya asik liat lemari yang isinya buku-buku tentang parenting dan kesehatan. Ternyata nggak terlalu lama nunggu obatnya. Sekitar 15 menit aja udah bisa diambil.

    Well, overall sih pelayanan dan tempatnya cukup bagus dan cepat ya.  Buat saya yang penting nggak terlalu ramai, sehingga antrinya nggak terlalu lama dan bikin capek. Biaya yang dikeluarkan juga standar lah. Soal dokter dan obat-obatan, kalau memang kepengin yang rational use medicine ya harus kitanya yang cerewet nanya-nanya. Sekalian “ngasih tahu” dokter kan kalau pasien sekarang udah punya sedikit ilmu dan bisa diajak diskusi.

  • Babbles

    Jangan Memilih Aku, Jika Kau Tak Bisa Setia

    “Jangan memilih aku, bila kau tak bisa setia. Kau tak mengerti aku, diriku yang pernah terluka”

    Lagu baru Anang ini memang enak didengar, apalagi suara teman duetnya mirip banget sama mantan teman duet dalam karir dan hidup. Tapi saya rada tergelitik dengan lirik diatas, bisakah kita memilih untuk setia atau tidak di awal sebuah hubungan?

    Setahu saya, ketika kita memutuskan untuk memilih seseorang sebagai kekasih atau suami/istri yang dirasakan adalah cinta yang besar dan keinginan untuk bisa bersama berbagi hidup selamanya. Namun, dalam perjalanannya cinta itu bisa berubah bentuk menjadi lebih baik dan sebaliknya atau bahkan memudar. Hal itulah yang menjadi pemicu timbulnya ketidaksetiaan.

    Ketika jatuh cinta yang tampak dari pasangan tentu hal-hal baiknya. Perhatian, penyayang, pandai mengatur uang, tegas, romantis, dan sebagainya. Tapi setelah menjadi kekasih atau suami/istri hal-hal yang dianggap baik itu belakangan justru menjadi nilai minus pasangan dimata kita. Keinginan pacar untuk tidak ada rahasia di antara kita, mengantar jemput kemana-mana, mengetahui semua teman-teman kita, isi handphone yang awalnya bagi kita adalah bentuk perhatian, dianggap sebagai kecenderungan cemburu berlebihan atau posesif. Kepandaiannya mengatur uang ternyata adalah bentuk lain dari pelit. Ketegasan dalam menghadapi sikap kita belakangan menjadi kekerasan fisik.

    Kedekatan emosional pun seringkali menimbulkan tuntutan yang tinggi terhadap pasangan. Sebagai perempuan single yang biasanya bisa melakukan segala hal sendiri sekarang dikit-dikit harus sama pacar. Bujangan yang biasa masak mie instan dan bikin kopi sendiri ketika istrinya sesekali lupa menyiapkan kopi untuk sarapan dianggap tidak bisa mengurus istri. Pacar nggak bisa mendengarkan kita curhat karena sedang sibuk dianggap tidak perhatian. Suami/istri sesekali ingin punya sedikit waktu untuk dirinya sendiri dikira tidak sayang keluarga.

    Selain itu karena merasa telah memiliki, kadang keberadaan pasangan dianggap sebagai hal yang biasa, bukan lagi keistimewaan yang harus dijaga. “Ya sudah jadi pacar kok, harus bisa terima apa adanya.” Benar memang harus bisa menerima kekurangan pasangan sebagaimana kita dengan senang hati menerima kelebihannya. Tapi kita pun harus mau berkompromi dengan harapan-harapan pasangan. Istri tidak suka kita merokok misalnya, kalau tidak bisa berhenti merokok ya minimal jangan merokok di dekatnya apalagi anak-anak. Suami meminta kita untuk memasak, ya kalau tidak bisa setiap hari minimal saat akhir pekan memasak untuk keluarga. Pacar melarang kita untuk nongkrong dan dugem sama teman, coba dikurangi dari 3x seminggu jadi 1x seminggu. Bagi saya yang penting adalah usaha pasangan dan saya pun harus bisa menerima jika harapan saya tidak semuanya bisa menjadi kenyataan.

    Sebuah hubungan adalah suatu produk dari hasil kerja keras yang tidak akan pernah selesai. Kadang berhasil, kadang gagal. Akan selalu ada pahit dan manisnya. Jika sebuah keinginan atau harapan tidak diutarakan atau kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa pasangan tidak bisa memenuhi harapan kita maka akan muncul kekecewaan. Tumpukan kekecewaan inilah yang akan memudarkan rasa cinta terhadap pasangan. Dan di saat seperti itu akan mungkin sekali muncul sosok lain yang mampu menimbulkan lagi gairah, semangat bahkan butterfly effect di dada saat bertemu dengannya. Lantas terjadilah sebuah pengkhianatan, ketidaksetiaan.

    Namun, selingkuh bukan merupakan suatu jawaban dari masalah yang dihadapi dengan pasangan. Seringkali malah menimbulkan masalah baru. Jika memang sudah berusaha sekuat tenaga dalam mempertahankan sebuah hubungan dan lelah ketika tidak mencapai hasil yang diharapkan. Lantas kita merasa akan bisa menjadi pribadi yang lebih baik (begitu pun pasangan) tanpa pacar/suami/istri kita, sebaiknya memang disudahi saja. Baru kemudian mencari orang lain yang bisa mengeluarkan the best in me. Walaupun kadang tidak bisa dipungkiri keberadaan orang ketigalah yang memberikan kekuatan bagi seseorang untuk keluar dari sebuah hubungan tidak sehat.

    Kalau saya, tidak bisa memutuskan untuk akan tidak setia ketika memilih seseorang sebagai pasangan hidup. Apalagi ketika telah berjanji di hadapan penghulu dan Tuhan serta para malaikatnya untuk selalu bersama dalam segala keadaan. Bagi saya, kesetiaan adalah sebuah pilihan dalam proses menjalani hubungan dengan seseorang dan sampai sejauh ini saya masih berusaha untuk setia karena saya tahu tidak akan bisa mencintai dua orang pria dalam waktu bersamaan. Bagaimana dengan ngerumpiers?

  • Uncategorized

    I Deserve to be Happy

    I got through all the pains.
    I survived my darkest hour.
    But no, I don’t want to take it anymore.
    There’s time when enough is enough.
    Even a woman like me, DESERVE to be happy.