Browsing Tag:

cinta

  • Daily Stories, Life in Brunei, Life with My Kids

    Suka Duka Tahun Ajaran Sekolah 2017

    Alhamdulillah, tahun ajaran 2017 sudah berakhir hari ini. Kakak Cinta tahun ini menyelesaikan Year 4 dan Keenan berhasil mengikuti pelajaran di KG 2. Insya Allah, pada bulan Januari 2018, Keenan akan duduk di bangku KG 3 dan kakak akan mulai mengikuti pelajaran di kelas 5.

    Awal tahun ajaran di Brunei memang berbeda dengan di Indonesia yang mulai pada bulan Juli. Sedangkan seperti Malaysia dan Singapura, Brunei memulai tahun ajaran barunya di bulan Januari.

    Tahun 2017 ini alhamdulillah banyak sekali pengalaman menarik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di sekolah. Baik dari segi akademis maupun non akademis. Padahal, kami mengawali tahun ini dengan penuh kekhawatiran bagi Keenan dan penuh kepasrahan untuk Kakak.

    Maklum, tahun 2016 kemarin, saya dan Keenan merasa tidak nyaman di sekolah yang lama, yang akhirnya membuat saya dan suami memutuskan untuk mengeluarkan Keenan dari sekolah itu dan memindahkannya ke sekolah yang sekarang. Ketika berdiskusi dengan kepala KG yang sekarang mengenai kondisinya Keenan, kami ragu bahwa Keenan akan mampu mengikuti pelajaran di KG2, bahkan sempat ada wacana supaya Keenan mengulang KG1. Tapi akhirnya Keenan diperkenankan untuk masuk KG2 dengan masa percobaan 1 term, lebih kurang 4 bulan, atau caturwulan kalau di Indonesia.

    Masa percobaan itu kami lalui dengan penuh kecemasan. Pindah dari sekolah yang banyak mainnya ke sekolah yang lebih serius belajarnya dengan guru yang sangat disiplin dan tegas jadi ujian berat untuk Keenan. Sampai 2 minggu pertama sekolah, Keenan masih nggak mau saya tinggal. Namun, alhamdulillah sekolahnya yang baru ini punya kebijakan untuk membiarkan anak ditemani oleh orangtua atau pengasuhnya sampai mereka merasa nyaman. Jadi, pada 1 minggu pertama, hampir semua anak di kelas Keenan dan kelas bawahnya masih ditungguin orangtua atau pengasuhnya. Pada minggu kedua, Keenan mulai mau saya tunggui di luar kelas. Sampai pada minggu ketiga dia benar-benar mau ditinggal.

    Sejak saat itu, banyak sekali kemajuan yang dicapai oleh Keenan. Mulai dari perkembangan kemampuan bahasanya, sosialisasinya sampai kemampuan akademisnya. Keenan yang tadinya sempat didiagnosa lambat bicara, sekarang alhamdulillah jadi cerewet sekali. Memang, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami speech delay masih cukup tertinggal, tapi jika dibandingkan dengan tahun lalu, wah sudah jauh berbeda. Tingkat konsentrasinya perlahan-lahan mulai membaik, untuk hal-hal yang dia sukai, Keenan mulai betah untuk duduk diam dan mengerjakannya selama lebih dari 10 menit.

    Latihan-latihan rutin yang diberikan oleh guru kelasnya, membuat Keenan dapat mengenal dan menghafal angka 1-50. Penjumlahan sampai 5 dan sekitar 20 kata dalam huruf Cina. Bagi saya itu merupakan prestasi tersendiri. Keenan juga nampak menikmati bergaul dan bermain bersama teman-teman kelasnya, hafal satu per satu nama temannya di kelas dan dapat mengikuti instruksi dari gurunya.

    Satu hal yang membuat saya tenang adalah, sampai hari terakhir sekolah, meskipun seringkali dia bilang nggak mau berangkat sekolah, begitu sampai di kelas dan bertemu teman-temannya, langsung lupa dengan rewelnya dan dengan senang hati menyuruh saya pulang. Berbeda sekali dengan tahun lalu yang seringkali histeris saat tiba di depan sekolah lamanya. Sampai di bulan-bulan terakhir sekolah tahun lalu, Keenan benar-benar nggak mau turun dari mobil dan sembunyi di balik kursi pengemudi supaya saya nggak bisa memaksanya turun. Hiks.

    Sedangkan bagi kakak Cinta, tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan pengalaman baru. Dan hal itu berawal dari kesukaannya berbagai aktivitasnya di Year 3. Mulai dari mengikuti ICAS (International Competitions and Assessments for Schools) sejak Year 3, tahun ini kakak Cinta berhasil meraih nilai High Distinction dan mendapat Gold Medal untuk mata pelajaran ICT dan Distinction untuk pelajaran Bahasa Inggris.

    Keberaniannya mengikuti lomba menyanyi di Year 3 juga membuat kakak percaya diri mengikuti Co Curricular Activities Choir dan mengantarkannya tampil di acara 79th School Anniversary Performance dan dipercaya mendapatkan bagian menyanyi solo di lagu Greatest Love of All yang dipopulerkan oleh Whitney Houston.

    Nggak cuma itu, kakak juga berhasil memperoleh juara ke-2 untuk lomba mewarnai yang diselenggarakan sekolah bekerjasama dengan jaringan resto fastfood Jollibee dalam rangka perayaan Children Day.

    Prestasinya ini membuat kakak jadi lebih dikenal oleh para guru, sehingga ia dipilih sebagai salah satu wakil sekolah untuk mengikuti Perarakan Jubli Emas Sultan Brunei Bertahta. Meskipun ternyata kakak dan teman-temannya gagal bertemu langsung dengan Sultan, tapi pengalaman tersebut menjadi kenangan manis bagi Cinta.

    Photo Credit: CCMS Primary Seria

    Dari segi akademis tidak banyak perubahan tapi ada perbaikan di beberapa mata pelajaran yang berbahasa Melayu. Cinta mulai lebih lancar dan percaya diri berbicara dan menulis dalam Bahasa Melayu dan tulisan Jawi sehingga nilai pelajaran Ugama dan Melayu Islam Beraja (MIB)nya meningkat dari tahun lalu.

    Dari segi sosialisasi, Cinta juga mulai membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang. Dari yang tadinya hanya punya 1 teman baik dari kelas 1, sekarang teman segengnya sudah lebih dari 3 orang. Begitu juga dengan teman di sekolah Ugama dan les mengaji.

    Namun, meski banyak hal baik yang dialami oleh Cinta dan Keenan di tahun ajaran 2017, banyak juga hal-hal yang membuat mereka (dan mamanya) patah hati.

    Bagi kakak, hal yang terparah adalah ketika dibully oleh teman-teman sekelasnya di Sekolah Ugama. Memang sejak masuk sekolah Ugama 3 tahun yang lalu, kakak nggak punya teman dekat. Dia selalu merasa teman-temannya menganggap dia aneh dan nggak mau berteman dengan dia. Tapi selama ini dia berusaha untuk nggak peduli meskipun beberapa kali mengadu diganggu oleh temannya.

    Rupanya tahun ini gangguannya semakin parah, beberapa teman perempuan mulai melakukan gangguan secara fisik dan verbal. Mulai dari menyebut kata-kata yang tidak pantas kepada Cinta, menarik kerudungnya sampai terakhir sebelum sekolah berakhir, hadiah ulang tahun yang dia siapkan untuk temannya dan dia simpan di tas hilang. Cukup sering saya mendapati dia menangis saat saya jemput sekolah Ugama. Namun selalu saya beri semangat dan menguatkan mentalnya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bicara dengan guru kelasnya.

    Alhamdulillah, cikgu cepat tanggap dan berjanji menegur para pelakunya (and she did) bahkan meminta maaf karena dia nggak tahu bahwa selama ini Cinta diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Sejak itu, menurut Cinta, teman-temannya nggak ada yang mengganggu dia. Tapi tetap saja, dia lebih nyaman bersama teman baiknya dari kelas sebelah atau bersama kakak-kakak kelas yang nggak dia kenal saat menunggu saya menjemputnya pulang sekolah.

    Dari segi pelajaran, ada penurunan nilai yang cukup signifikan untuk pelajaran Matematika. Biang keladinya adalah kurang konsentrasi dan kurang latihan. Sehingga saat ulangan atau ujian, banyak kesalahan remeh yang dia lakukan. Untuk itu, saya berencana untuk menambah waktu belajarnya tahun depan dan mengaktifkan lagi belajar online menggunakan IXL.

    Satu lagi yang benar-benar membuat kakak patah hati adalah tahun ini dia kehilangan tiga teman baiknya sesama orang Indonesia. Mereka baru dekat sekitar setahun belakangan, ketika Cinta bergabung di grup ngaji anak-anak Indonesia. Meski berbeda sekolah, keempat anak ini (dan adik-adik mereka) cepat sekali akrabnya. Setiap selesai mengaji, biasanya mereka akan bermain bersama barang 1-2 jam sebelum pulang. Salah seorang temannya, kembali lebih dulu ke Indonesia pada bulan Mei dan menyusul 2 orang lagi di bulan November ini. Habis sudah sahabat baiknya sesama  orang Indonesia di Brunei ini. Hiks.

    Sedangkan bagi Keenan, hal yang kurang menyenangkan adalah ketika harus mengikuti kelas tambahan untuk pelajaran Bahasa Melayu dan Bahasa Inggris. Bersyukurnya kedua guru untuk mata pelajaran tersebut adalah guru-guru favoritnya sehingga dia cukup dapat beradaptasi dengan harus tinggal di sekolah lebih lama saat teman-teman lainnya boleh pulang. Namun, namanya juga anak-anak, ada saatnya dia capek dan akhirnya tantrum saat harus mengikuti kelas tambahan.

    Karena harus ikut remedial ini juga, Keenan nggak bisa ikut grup tari untuk pentas 79th School Anniversary sebab waktu latihan bentrok dengan jadwal ekstra classes. Awalnya dia sedih, tapi waktu nonton teman-temannya rehearsal, Keenan ikut semangat dan senang untuk mereka. Sayang dia nggak bisa ikut nonton grup paduan suara kakak dan grup tari teman-temannya tampil di acara 79th School Anniversary Dinner karena sakit dan harus tinggal di rumah.

    Yah, begitulah suka duka di tahun ajaran 2017 ini. Tentu masih banyak hal yang nggak saya tuliskan di sini. Tapi ini cukuplah sebagai catatan penting, kenang-kenangan dan bahan evaluasi untuk tahun ajaran berikutnya. Saya bersyukur sekali tahun ini berdampingan dengan guru-guru yang sangat komunikatif dan suportif membimbing anak-anak di sekolah. Semoga dengan berbagai prestasi di tahun ini, kakak Cinta dan Keenan semakin semangat untuk menghadapi tahun ajaran 2018.  

     

  • hug, pelukan, hangatnya pelukan ibu, makna pelukan
    Daily Stories, Parenting

    Makna Sebuah Pelukan

    Dear Kakak Cinta,

    Kakak pasti masih ingat ya kejadian hari Minggu yang lalu. Waktu itu mama marah besar karena ngeliat guntingan kertas dan beberapa peralatan seperti gunting, lem berserakan di lantai sementara kakak duduk asik di depan komputer nonton Youtube.

    Duh, yang bikin mama kesal sebenarnya bukan cuma karena berantakannya. Tapi kecewa karena selama ini sudah berbusa mama ngasih tahu dan nggak kurang-kurang mama kasih contoh untuk selalu merapikan barang-barang yang sudah selesai kita gunakan ke dalam tempat semestinya. Kenapa sih harus begitu? Ya supaya nanti kalau kakak, adik, papa perlu memakainya lagi nyarinya gampang karena selalu ada di tempatnya setelah dipakai. Nggak dikit-dikit teriak, “Mom, do you know where my crayon is?” Gitu lho, Kak.

    Kakak juga tahu kan setelah itu mama langsung bongkar-bongkar isi lemari untuk merapikannya lagi sambil ngomel-ngomel. Tapi, ada satu hal yang kakak nggak tahu. Di antara tumpukan kertas hasil pelajaran Art di sekolah, mama menemukan 2 buah kartu bikinan kakak. Satu kartu untuk Teacher Hew dalam rangka Teacher’s Day. Satu lagi kartu untuk mama.

    Kartu itu kakak buat tahun lalu, bulan Mei tahun 2015 tepatnya, memperingati Mother’s Day. Hampir setahun yang lalu. 

    mothers day, handmade card, kids activities

    Membaca gambar dan tulisan di kartu itu bikin tenggorokan mama tercekat, Kak. Tiba-tiba, mata mama panas dan berair seperti mau menangis. Mama terharu sekaligus sedih.

    Terharu karena kakak menulis ‘I love your hugs. I love your kisses.’ Hugs and kisses. Pelukan dan ciuman. Bukan masakan mama, bukan baju atau mainan yang mama berikan. Bukan. Hanya pelukan dan ciuman. Di antara sekian hal yang banyak terjadi di antara kita, ternyata yang paling berkesan untuk kakak adalah pelukan dan ciuman. 

    Mama jadi sedih karena sadar akhir-akhir ini jarang sekali memeluk kakak yang benar-benar pelukan erat sayang. Bukan sekadar pelukan ringan melepas kakak berangkat sekolah. 

    Nggak tahu ya, Kak, kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena mama merasa kakak sekarang semakin besar sehingga lebih mandiri. Kakak juga sudah jarang minta dipeluk sama mama. Mama pun lebih sering memeluk Keenan yang masih pas dalam pangkuan dan pelukan mama. 

    Padahal dulu kita sering sekali berpelukan ya, Kak. Inget nggak, waktu kakak masih sekolah KB di Bukit Dago? Tiap kakak keluar kelas dan lihat mama, kakak langsung lari untuk memeluk mama. Nggak peduli meskipun banyak orang di situ ya, Kak. Sampai-sampai mama yang lain pun jadi hafal kebiasaan kakak Cinta. 

    Kita juga selalu berpelukan saat mau tidur. Bahkan kakak cuma bisa tidur kalau dipeluk mama. Kalau kakak sakit, jatuh dan luka atau sekadar ingin dibacakan buku cerita pasti minta dipeluk. Pelukan selalu jadi hal istimewa buat kita. Sampai tiba-tiba aja perlahan-lahan memudar.

    Tadinya mama pikir itu wajar, Kak. Mungkin anak seusia kakak memang sudah nggak terlalu suka lagi bermanja-manja dipeluk, jadi ya mama nggak ambil pusing. Sampai mama membaca tulisan ibu eh eyang Elly Risman ini dan mama jafo merasa sangat bersalah.

    -Peluk-

    Sering sekali di tahun-tahun terakhir ini saya berhadapan dengan ibu-ibu muda yang setelah bertanya tentang berbagai hal dalam ruangan seminar, kemudian mengikuti saya ke ruang shalat atau makan dan masih mengajukan beberapa pertanyaan. Saat saya bersiap-siap mau meninggalkan gedung dimana seminar diselenggarakan, saya masih melihat ibu muda itu berdiri di satu sudut diarah jalan saya menuju kendaraan. Pelan dia menghampiri saya dan kemudian berbisik perlahan, “Ibu bolehkah saya meminta ibu memeluk saya?”

    Sedih merayap dihati saya dan segera saya menjawab sambil membuka kedua belah lengan saya selebar lebarnya, sambil mengatakan, “Oh tentu.. Sini nak!” Biasanya mereka mendekap saya dengan erat dan umumnya mereka menangis. Sayapun menangis- Hiba benar hati tua saya.

    Banyak sekali peristiwa yang sama walau berbeda kisah tentu saja. Tapi yang paling menarik adalah apa yang terjadi di sebuah kota di Jawa Barat. Saya belum pernah memberikan seminar di kota itu. Karenanya, panitia di tahap awal khawatir mereka tidak akan sanggup mencapai target jumlah peserta yang sudah mereka sepakati.

    Ternyata di luar dugaan, peserta membludak sehingga harus menambah banyak kursi dibelakang bahkan disamping kiri dan kanan ruangan.

    Setelah seminar selesai, saya sedang menuju ke ruang makan yang berada di bangunan yang lain, ibu ketua panitia yang ternyata sudah pernah bekerjasama dengan saya sekitar 18 tahun yang lalu datang menghampiri saya dengan seorang ibu separuh baya yang bertubuh gempal. Ibu Ketua panitia ini setengah berbisik berkata kepada saya, “Ibu saya sudah mengirim pesan pendek pada staf ibu mbak N, bahwa kalau sesudah seminar, ada seorang ibu yang datang dari jauh, ingin sekali dapat pelukan Ibu.” Saya terkejut dan membelalakkan mata saya sambil berkata, ”Hah?” Tidak percaya bahwa pelukan sekarang pre order!

    Sejak itu saya sering sekali berfikir, “Ada apa ya? Mengapa semakin banyak saja, baik secara berani dihadapan banyak peserta seminar lainnya atau setengah sembunyi, menunggu orang mulai sepi, ibu-ibu muda ini membutuhkan pelukan saya ? Gejala apa ini sebenarnya?”

    Suatu hari, saya dijemput dan diantar pulang oleh seorang mahasiswa S2 Jurusan PAUD dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Selama dalam perjalanan, kami membicarakan banyak sekali hal. Saya jadi mengetahui bahwa dia yang memprakarsai agar panitia mengundang saya. Dari percakapan itu juga saya mengetahui bahwa dia pengantin baru yang menikah 10 hari yang lalu. Kesan yang saya tangkap dari percakapan kami: perempuan muda ini sangat cerdas, baik dan lapang hati, suka menolong!

    Karena sudah hampir masuk waktu magrib, saya mengajaknya untuk singgah dan melaksanakan sholat Magrib dahulu disebuah mushalla kecil dipinggir jalan Jati Waringin. Biasa, setelah selesai sholat saya bersalaman dan tiba tiba dia mengenggam erat tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Ditatapnya mata saya dan saya melihat air mata meliputi bola matanya yang indah. Dia berbisik perlahan, “Bu bolehkah saya minta dipeluk sama ibu?”

    Saya memeluknya dan menggoyang goyangkan badannya seolah sedang mengayunnya dalam gendongan saya dan membisikkan kata kata yang biasanya dulu didendangkan ibu saya dan kemudian saya dendangkan saat mengayun ayun anak dan keenam cucu saya ketika mereka kecil, “Laa ila ha ilallah, al Malikul Haqqul mubin. Muhammad Rasul Allah, Asshadiqul wa’dul Amin…”

    Setelah itu, sambil melepaskan pelukannya, dia menatap saya sendu, “Saya nyaris tidak pernah dipeluk oleh ibu saya, Bu. Beliau Kepala sekolah TK dan SD disebelah rumah kami. Dia sangat sibuk dengan anak-anak orang dan terburu-buru setiap hari. Beliau suka lupa memeluk saya, Bu. Terakhir, saya baru merasakan kembali pelukan beliau saat saya menikah!”

    Saya memeluknya sekali lagi dengan hati penuh iba. Ooh, sayang…

    Anda mungkin perlu bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda memeluk erat anak anda?

    Bila melihat kedalam diri sendiri, anda akan menggolongkan diri anda dulunya sebagai anak yang bagaimanakah? Yang cukup mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tua anda, sesekali atau yang sangat jarang bahkan tidak pernah mendapat pelukan mereka ?

    hug quote, pelukan, orangtua anak, elly risman

    Sekarang ini, karena hidup sangat tergesa-gesa, orangtua bicara dengan anak-anaknya sama tergesa-gesanya. Jarak terentang sehasta, sedepa atau mungkin tak bisa diukur dengan kilometer. Kata-kata yang kadang keras dengan intonasi yang tinggi tak sadar menekan jiwa. Rambut disisir, baju dibenarkan letaknya, dasi dipasang tapi… pelukan terlupakan. Merasa cukup dengan cium tangan dan lambaian serta kata-kata nasihat rutin setiap pagi .

    Pengasuhan ini diturun-temurunkan tidak sengaja. Semua perilaku yang kita terima direkam otak menjadi kebiasaan. Bila situasi yang sama muncul, maka apa yang biasa kita terima itu yang kita lakukan. Yang tak pernah dipeluk, bagaimana bisa memeluk?

    Seandainyalah Anda tahu bahwa pelukan itu menghangatkan dan mendamaikan jiwa, membangun perasaan positif, melengketkan hubungan orangtua anak yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin Anda segera memeluk anak anak Anda dan akan memberikannya sebanyak yang Anda bisa.

    Peluklah anak Anda dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Jangan sampai dikemudian hari, mereka bukan saja tidak mampu memeluk anaknya sendiri, cucu Anda – tapi mereka jadi menderita “lapar pelukan”, dengan memelas mengharapkan dipeluk ibu lain…

    Bayangkan kalau anak Anda itu sekarang remaja… Dalam keadaan yang seperti sekarang ini, pelukan siapakah gerangan yang menentramkan jiwanya ?

    Dalam pesawat Malindo, menuju Jakarta

    29 Maret 2016
    Elly Risman

    Mama jadi merasa bersalah, Kak. Ternyata seberapapun umurnya, seorang anak, terutama anak perempuan akan selalu membutuhkan pelukan ibunya. Wah, sudah berapa lama mama nggak memeluk kakak ya? Sudah berapa lama hati kakak rindu dipeluk? Maaf ya, Kak. 

    Manfaat Pelukan Bagi Anak (3)

    Kalau diingat-ingat, mama dan adik-adik pun tumbuh tanpa banyak pelukan dari ibunya mama. Kami nggak terbiasa dipeluk dan memeluk. Canggung sekali, Nak, rasanya. Saking nggak terbiasanya memeluk dan dipeluk, Granny pun sempat terkaget-kaget karena kakak suka sekali memeluk dan merebahkan diri di tangannya Granny waktu beliau menginap di rumah kita 3 tahun lalu. Makasih ya, Kak, sudah memelukkan Granny untuk mama, yang sampai sekarang pun sepertinya belum berani bermanja-manja ke beliau.

    Baru setelah kakak lahir mama bertekad untuk memeluk dan mencium anak mama sesering mungkin. Kapan saja dan di mana saja. Hanya saja ternyata mama nggak mengantisipasi bahwa keadaan ini akan berubah. Dulu, waktu kita cuma berdua, semua perhatian, pelukan dan kasih sayang mama tercurah untuk kakak. Sekarang, harus dibagi 3. 

    Sekarang kesibukan mama bertambah, kakak dan adik semakin besar, tuntutan mama ke kakak pun semakin tinggi tapi sayangnya kesabaran mama makin tipis. Kakak jadi sering kena marah untuk hal-hal yang seharusnya sepele. Ini mungkin yang bikin hati kita jadi berjarak ya, Kak?

    Maaf ya, Kak.

    Mama janji, nggak akan membiarkan kakak dan Keenan mengalami kekurangan pelukan seorang ibu. Insya Allah, mulai sekarang kita akan mulai lagi mengeratkan hati lewat pelukan dan ciuman, ya, Nak. Supaya kelak, kakak bisa banyak memberi pelukan kepada orang-orang yang kakak sayang. Biar kakak dan adek selalu merasa dicintai, meski hanya lewat pelukan dan ciuman. Karena hanya itu yang mama bisa berikan, selain doa.

     

  • blogpost, belajar kecewa, anak belajar kecewa
    Daily Stories, Parenting

    Ketika Cinta (dan Mama) Belajar Kecewa

    Ketika anak terpilih untuk tampil dalam acara sekolah atau mewakili sekolah untuk mengikuti lomba, sebagai orangtua tentu kita bangga ya. Latihan demi latihan dan kerja keras yang harus dilakukan supaya anak tampil prima pada hari H baik sendiri atau berkelompok rasanya terbayar sudah ketika mereka berdiri di atas panggung dan mempersembahkan penampilan terbaiknya.

    Tapi gimana ketika anak nggak terpilih atau nggak lulus audisi atau ditolak ketika mereka dengan sukarela dan bersemangat mengajukan dirinya? Sebagai orangtua, kita mesti gimana? Sedih, marah (-marah), ikut kecewa, menghibur, ngelabrak gurunya, nulis status peduh amarah di medsos, atau apa?

    Itulah kebingungan saya setiap kali anak-anak mengalami hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Seperti yang terjadi pada Cinta 3 tahun lalu.

    Ceritanya, setiap akhir bulan Januari atau awal bulan Februari, kira-kira 1 minggu menjelang perayaan Tahun Baru Cina, sekolah Cinta selalu mengadakan acara Lion Dance Eye Opening Ceremony. Pada acara ini, selain ada lion dance yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama Barongsai, juga ditampilkan persembahan tarian oleh murid-murid yang terpilih tiap angkatannya.

    Waktu itu, Cinta baru masuk KG 3, dan dia ingin sekali ikut dalam performance, karena ketika di KG  2, hampir semua anak yang berminat selalu diberi kesempatan untuk tampil. Tapi ternyata, untuk acara ini kebijakannya berbeda. Saya sendiri nggak paham pemilihannya berdasarkan apa. Cuma berdasarkan logika saya, acara ini kan untuk merayakan Tahun Baru Cina dan sekolahnya adalah Chinese School, jadi mungkin yang diutamakan adalah anak-anak berdarah Cina. Itulah yang saya jadikan alasan ketika menghibur Cinta saat itu.

    Tapi ternyata hal yang sama terulang lagi tahun lalu. Kali itu untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan menurut Cinta, gurunya meminta anak-anak berpartisipasi untuk tampil dalam acara tersebut. Cinta pun bersemangat mengajukan diri. Surat pemberitahuan bahwa anak akan mengikuti latihan pada waktu tertentu pun saya terima kemudian. Saya pikir semua berjalan lancar, sampai dua minggu setelah latihan pertama, saat kami mudik untuk menghadiri pemakaman mertua, Cinta ditanya papanya tentang latihan dancenya. Cinta pun hanya menjawab, “I’m fired. I can’t attend the dance practice anymore.” Jreng jreng.

    Ketika saya tanya, menurut Cinta, dia nggak boleh lagi ikut dance practice karena saat latihan yang pertama dia nggak memakai baju olahraga. So she was dismissed.How do you feel?” tanya saya waktu itu. “I’m sad and angry,” jawabnya. Saya pun demikian.

    Rasanya waktu itu saya sudah mau tulis status marah-marah bahwa anak saya diperlakukan nggak adil, bla bla bla. Tapi saya tahan. Saya harus ketemu dulu sama gurunya, pikir saya saat itu. Saya pun meminta ijin Cinta untuk menemui gurunya. Saya ingin tahu alasan sesungguhnya, karena nggak ada satupun pemberitahuan kepada kami bahwa anak ini, yang tadinya harus mengikuti latihan menari pada waktu tertentu, tiba-tiba diberhentikan. Untung lho, latihannya pas jam sekolah, kalau di luar itu kan, pengaruh juga sama urusan antar jemput ya.

    Cinta akhirnya mengijinkan saya menemui gurunya. Sayangnya, nggak pernah ada waktu yang tepat untuk berbicara dengan beliau. Sampai akhirnya Cinta bilang, “It’s okay, Mom. I’m okay now. I’m not sad anymore. You don’t have to meet my teacher to tell her about my feeling.” Tapi kan Mama masih kesal, Kakaaaaaaak. Masih mau marah-marah ke gurunya. Cuma saya kan harus menghormati keputusan Cinta. Apalagi kemudian dia cerita sahabatnya dan teman-temannya yang lain juga banyak yang nggak tampil. I thought that was my clue to let that go. Anaknya sudah ikhlas, masa saya enggak bisa.

    Apakah sejak itu Cinta kapok mengajukan diri untuk ikut performance di sekolah? Ternyata enggak. Tahun ini dia cerita kepingin ikut Lion Dance club. Duh, meskipun kagum sama determinasinya, saya mah inginnya nggak usah ajalah. Saya takut dia kecewa lagi kalau nggak terpilih. Malah kalau bisa saya inginnya dia nggak perlu merasakan kecewa atau sedih (kecuali karena nggak dibelikan mainan atau buku atau apalah oleh kami, itu nggak papa kecewa hehehe).

    Tapi menurut penulis buku Raising Resilient Children, Robert Brooks, PhD, membiarkan anak belajar menghadapi kondisi yang membuatnya sedih dan kecewa itu bermanfaat ketika mereka beranjak dewasa. Justru kalau orangtua berusaha keras selalu melindungi anak dari rasa kecewa, sebenarnya secara tidak langsung telah menghambat keterampilan emosional anak.

    anak belajar kecewa, how to help a child handle disappointment, psikologi, parenting, mengatasi kecewa pada anak, quote about disappointment

    Hal senada juga diucapkan oleh Madeline Levine, PhD, penulis buku The Price of Privilege: How Parental Pressure and Material Advantage are Creating a Generation of Disconnected and Unhappy Kids. Menurut Madeline, saat anak mengalami kegagalan, bisa kita manfaatkan sebagai sarana mengembangkan karakteristik kunci yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang sukses, seperti keterampilan coping, ketahanan emosional, berpikir kreatif dan kemampuan untuk berkolaborasi.

    Parents see failure as a source of pain for their child instead of an opportunity for him to say, ‘I can deal with this. I’m strong,'” says Madeline Levine, Ph.D.

    Nah, berarti yang perlu kita lakukan adalah membantu anak mengatasi emosinya (dan emosi kita sendiri tentunya) ketika mereka mengalami kegagalan. Dengan cara apa? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu:

    Beri Waktu Untuk Berduka

    Beberapa anak, seperti Cinta, meskipun kelihatannya cuek, sebenarnya mereka sensitif dan lebih suka menyimpan sendiri perasaannya. Sehingga ketika dia merasa overload, kekecewaan kecil pun bisa membuatnya meledak. Tugas saya adalah harus peka melihat perubahan emosinya dan memberinya sedikit ruang untuk mengendalikan rasa sedih dan kecewanya. Kecuali untuk hal-hal yang sifatnya darurat seperti anak mengalami kecelakaan, pelecehan atau bullying, saya memilih menunggu sampai ia bisa mengendalikan perasaannya dan mau berbagi cerita.

    Berhati-Hati Dalam Berbicara

    Jangan seperti saya yang keliru memberikan alasan ketika Cinta nggak terpilih tampil dalam perayaan Tahun Baru Cina. Sebaiknya kita lebih bijaksana lagi dalam menghibur dan memilih kalimat yang membangun, bukan menyalahkan pihak lain. “Iya, Mama tahu kakak sekarang sedih karena nggak terpilih. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Tetap tekun berusaha, lain kali kita coba lagi, ya,” kedengarannya lebih baik ya?

    mengatasi rasa kecewa pada anak, membantu anak mengatasi rasa kecewa, how to help a child handle disappointment, parenting, psikologi

    tulisan dikutip dari parentsdotcom

    Memberikan Pelukan

    Nggak ada yang lebih menghangatkan hati selain pelukan erat dan usapan di punggung yang memberi isyarat bahwa kita memahami kekecewaannya dan ikut merasakan kesedihannya.

    Mengajarkan Anak Untuk Menenangkan Dirinya Sendiri

    Dengan cara:

    • Fisik seperti jogging, bersepeda, berenang, lompat tali atau apapun yang dapat mengeluarkan energi mereka asal nggak merugikan orang lain.
    • Bernafas dalam-dalam.
    • Berbicara dengan orang lain yang mereka percaya dan dapat mendengarkan dengan baik tanpa menghakimi atau berusaha memperbaiki segala hal seperti orangtua, guru atau nenek, tante, om.
    • Positive self-talk.
    • Mendengarkan musik.
    • Membaca buku.
    • Menggambar. Ini favorit Cinta, dalam keadaan emosi apapun biasanya dia melampiaskannya dengan menggambar karena bisa bikin dia fokus dan tenang.
    • Mandi air hangat.
    • Nonton film lucu.

    Berikan Contoh Positif

    Huhuhu ini nih paling susah. Saya aja kalau kecewa sering marah-marah. Tapi sepertinya memang harus diawali dari orangtua ya. Tahan diri dan tunjukkan perilaku positif. Yakinkan anak kalau kekecewaan ini akan berlalu dan keadaan akan jadi lebih baik. Bercerita tentang pengalaman kita mengatasi rasa kecewa juga mungkin bisa membantu. Sehingga anak yakin bahwa dia nggak sendirian melalui perasaan sedih dan kecewanya. Ingat, monkey see eh children see children do, Mama!

    Weeew, banyak amat PR jadi orangtua, ah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi kayanya memang lebih gampang mendampingi mereka melalui proses ini ya daripada melindungi mereka dari semua hal yang bisa menyebabkan kecewa dan sedih. Toh, belum tentu kita bisa selamanya menjadi pelindung anak-anak. Umur siapa yang tahu, kan? Lagian nggak adil juga kalau kita boleh membuat mereka kecewa tapi ketika pihak lain mengecewakan mereka trus kita jadi marah-marah, hihihi.

    Buat Cinta, “Jangan menyerah ya, Nak. Mungkin sekarang kakak belum dipercaya untuk tampil di panggung sekolah. Tapi kalau terus berusaha kuat di bidang yang kakak sukai dan selalu berdoa, siapa tahu, Nak, Insya Allah, 5  atau 10 atau 15 tahun lagi kakak bisa tampil di panggung yang lebih besar dan megah. Aamiin.”

  • snow playdough, play dough, diy, children activities, essential oil, young living
    DIY, Kids Activities

    Yuk, Buat Snow Playdough Bersama Si Kecil

    “Snow playdough, hmmm apa sih itu? Jenis play dough yang seperti apalagi?” Begitu pikir saya saat membaca judul resepnya di salah satu web. Bikin play dough mungkin sudah biasa ya. Anak-anak juga sudah lumayan sering bikin play dough sendiri pakai berbagai resep yang beredar di internet, mulai dari yang cuma dicampur pakai air panas sampai yang dimasak. Buat cloud dough pun pernah juga. Jadi begitu lihat resep snow playdough ini, saya tertarik untuk mencoba. Apalagi resepnya gampang dan nggak pakai perwarna yang bisa bikin repot membersihkannya.

    snow playdough, playdough, kids activities, essential oil, young living

    Akhirnya hari Minggu kemarin, saya ajak Cinta untuk bikin adonan ini. Semangat banget dia, apalagi waktu tahu bahwa aktivitasnya mau divideokan, walaupun saya masih ragu untuk mengunggahnya ke youtube. Hehehe. Ternyata memang gampang banget membuat snow playdough ini. Sayangnya, resep yang saya dapatkan kurang jelas dan nggak ada fotonya. Jadi nggak tahu harusnya bentuk si snow playdough ini seperti apa, cuma dijelaskan seperti teksturnya salju. Nah, masalahnya satu-satunya salju yang pernah saya tahu adalah salju yang ada di Snow World BSD beberapa tahun lalu dan sepertinya kurang representatif untuk mengetahui tekstur salju sesuai petunjuk si resep.

    Setelah mencoba resep aslinya dan menemukan bahwa hasilnya terlalu lengket sehingga nggak bisa dibentuk, saya dan Cinta pun memutuskan untuk menambahkan tepung jagung sampai teksturnya mirip playdough. Hanya saja versi ini lebih lentur dan lembut.

    Oya, dalam resep asli menggunakan body lotion yang tanpa pewangi dan essential oil. Essential oil yang saya gunakan kali ini adalah Lemon dari Young Living yang berfungsi sebagai pewangi dan pembangkit mood sekaligus menenangkan anak-anak. Bisa juga menggunakan essential oil lain seperti peppermint, lavender atau apa saja yang ada di rumah. Tapi kalau nggak ada essential oil, juga bisa diskip kok. Atau diganti dengan body lotion yang harumnya disukai anak-anak.

    snow playdough, playdough, kids activities, essential oil, playdough quote, quote about playdough, quotes

    Setelah jadi, anak-anak senang banget mainnya, dari yang awalnya mau berbagi sampai rebutan adonan, dilanjutkan dengan tepung yang bertebaran di mana-mana dan berakhir dengan dibuangnya adonan yang mulai kering ke tempat sampah. Ih, kan sedih ya ngebuang body lotion. Tapi namapun udah nggak bisa dipakai main lagi ya buat apa juga disimpan. Yang penting sudah berani nyoba resep baru dan seseruan main bareng. Penasaran? Yuk, bikin juga. Dijamin gampang dan menyenangkan. Selamat mencoba!

    snow playdough, diy playdough, playdough, kids activity, essential oil, young living

    SNOW PLAY DOUGH

    Bahan:

    1 cangkir tepung jagung/tepung maizena
    3/4 cangkir body lotion tanpa pewangi
    3 tetes essential oil (optional)

    Cara Membuat:

    Campur semua bahan dalam mangkuk. Aduk rata sampai kalis dan bisa dibentuk.

    Catatan:
    Campur sedikit demi sedikit sampai mendapatkan tekstur yang diinginkan.

  • Relationship

    Bisakah Pernikahan Jarak Jauh Berhasil?

    Huhuhu dari tulisan sebelumnya, kayanya berat banget ya long distance marriage itu. Hmmm, iya sih tapi positifnya pasangan suami istri jadi lebih mandiri dalam berbagai macam hal. Terutama urusan domestik seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, ibu-ibu mau nggak mau harus bisa angkat galon sendiri ke dispenser, sigap memperbaiki sendiri atau mencari tukang untuk memperbaiki genteng bocor misalnya, mengelola keuangan dengan lebih baik supaya asap dari dandang di dua dapur ini bisa mengepul.

    Sementara para bapak kalau nggak mau sering makan di luar ya jadi belajar masak, membersihkan rumah, menyuci baju sendiri. Keuntungan lainnya, saat bertemu pasangan biasanya jadi lebih mesra dan jarang bertengkar. Ayah dan ibu pun selalu berusaha menciptakan waktu berkualitas bersama pasangan dan anak-anak.

    Obviously, a long distance relationship is hard. But, like anything work having, you make it work. – Leona Lewis

    Lalu bagaimana supaya kita bisa menjalani pernikahan jarak jauh ini dengan lebih mudah?

    Menurut psikolog lulusan Universitas Surabaya, Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang biasa disapa Fini ini banyak yang harus dilakukan agar pernikahan jarak jauh dapat berjalan seimbang hingga mencapai suatu well being atau keselarasan di mana kedua pasangan merasa nyaman, bahagia dan sehat lahir batin dengan keadaan tersebut.

    “Menjalani LDM itu memang bukan hal yang mudah,” ujar ibu dari duo sholeh dan sholeha Firdaus dan Bilqis. “Perlu kesiapan mental, kemampuan berpikir positif, mengatur emosi, mengambil keputusan dan lain-lain untuk menghadapi tekanan-tekanan yang ada baik dari dalam maupun dari luar diri kita,” tambahnya.

    Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mencapai kondisi keselarasan psikologi sebagai landasan mengarungi pernikahan jarak jauh? Fini yang juga menjalani pernikahan jarak jauh sejak awal menikah menjelaskan bahwa berdasarkan teori Ryff, seseorang yang memiliki psychological well being yang baik mampu merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu, dapat menerima dirinya apa adanya, sanggup membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian terhadap tekanan sosial, memiliki arti diri serta mampu mengontrol lingkungan eksternalnya.

    Jika kita sudah bisa melalui ini semua atau setidaknya dapat menjalaninya, maka akan lebih mudah untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

    • Membuat komitmen dan menjaga kepercayaan
    • Sebisa mungkin jangan menghakimi atau menuduh hanya berdasarkan prasangka kepada pasangan saat ada masalah.
    • Mampu berpikir positif dan kompromi.
    • Mengelola perasaan . Jangan reaktif saat menerima hal yang membuat tidak nyaman, carilah cara membuat diri kita rileks.
    • Ciptakan aktivitas positif. Salah satu keuntungan LDM adalah me time yang sedikit lebih banyak loh. Misalnya merawat badan dan wajah saat anak-anak tidur atau sekolah supaya saat ketemu suami keliatan segar dan menyenangkan, baca novel, melakukan hobi, dll.
    • Tanggap mengambil keputusan. Ini adalah ketrampilan yang wajib dimiliki dan sangat dibutuhkan saat situasi gawat darurat.
    • Saat bertemu, ciptakan suasana yang menyenangkan , meskipun begitu banyak yang ingin dikeluhkan. Nanti tetap ad”Setelah berdoaa waktunya untuk bercerita (bisa setelah lepas kangen dan tubuh serta fikiran menjadi lebih rileks). Kesempatan ini bisa menjadi ajang saling menguatkan atau recharge

    Tambahan dari saya hal paling penting dilakukan dalam menjalani pernikahan jarak jauh adalah doa. Minta kepada Allah SWT untuk menjaga pasangan kita, meridhoi rumah tangga ini dan selalu diberikan yang terbaik. “Supaya hati tetap tenang, selalu ikhlas dan pasrahkan saja kepada Allah. Kita titipkan pasangan kita kepada Allah, karena DIAlah  sebaik-baiknya penjaga. Allah Maha Menjaga,” pesan Fini. Doa terbaik dari kami berdua untuk para teman dan sahabat yang sedang menjalani LDM, semoga selalu dikuatkan dalam cinta dan komitmen. Percayalah kalian pasti bisa menjalaninya.

    __________________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di almamater tercinta kami Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Relationship

    Mudahkah Menjalani Pernikahan Jarak Jauh?

    Berdasarkan pengalaman, menjalani pernikahan jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Bahkan mungkin bisa dibilang tantangan yang dihadapi dua kali daripada pasutri yang tinggal serumah. Salah satunya adalah saat ada masalah yang harus diselesaikan. Kalau suami istri yang tinggal serumah bisa membicarakan hal-hal penting dengan duduk semeja atau mungkin sekalian bertengkar sampai menemukan solusi lalu tidur berpelukan, kami para pelaku LDM ini nggak bisa begitu.

    Mencari waktu untuk bisa berkomunikasi dalam suasana yang tepat saja sudah menjadi kendala, belum lagi bahasa yang digunakan dalam video call, surat elektronik/sms/WA yang seringkali mudah disalahartikan. Ketika ada kesempatan untuk bertemu pun biasanya nggak tega dipakai untuk bertengkar. Akhirnya masalah pun mengendap atau ketika dibicarakan pun mungkin salah satu nggak puas tapi terpaksa mengalah karena nggak mau merusak momen langka kebersamaan. Masalah-masalah tak terselesaikan inilah yang nantinya bisa jadi api dalam sekam.

    Itu baru satu dari sekian banyak risiko pernikahan jarak jauh. Saat memilih hubungan seperti ini sebaiknya kita selalu siap akan risikonya. Kesalahan saya dulu adalah nggak mau tahu akan kendala-kendala dalam tersebut. Saya maunya meski berjauhan semua harus berjalan seperti saat bersama tanpa memahami bahwa keadaannya berbeda. Ketika terjadi masalah lantas sibuk menyalahkan sana sini termasuk diri sendiri. Bukannya menyadari bahwa, “Oke, ini adalah risiko dari pilihan kita yang seharusnya sudah diantisipasi sejak awal.”

    Membuka mata dan hati terhadap risiko-risiko ini saat memilih bentuk rumah tangga jarak jauh bisa membuat kita dan pasangan bekerja sama lebih baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi dan mengatasi bersama-sama saat telah terjadi.

    Distance is not for the fearful, it is for the bold. It’s for those whose willing to spend a lot of time alone in exchange for a little time with the one they love. It’s for those knowing good thing when they see it, even if they don’t see it nearly enough.

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog yang telah menjalani pernikahan jarak jauh selama 10 tahun mengungkapkan beberapa hal lain yang dapat menjadi gangguan dalam menjalani long distance marriage, di antaranya:

    1. Biaya
      Suami istri yang tinggal terpisah otomatis memiliki pengeluaran rumah tangga yang lebih besar dari pasangan yang tinggal serumah. Mulai dari besarnya ongkos transportasi, biaya komunikasi  dan terutama biaya hidup dua dapur. Sementara nggak sedikit yang hanya mengandalkan satu sumber mata pencaharian. Tapi menurut Fini, kalau kita bisa menikmatinya, Insya Allah segalanya akan terasa ringan. “Ada saja kok rezekinya. Kemampuan mengelola finansial dan kreativitas untuk menjemput rezeki dari arah yang berbeda akan tercipta. Jangan lupa perbanyak sholat dhuha, banyak sedekah dan berbuat kebaikan dalam hal apapun. Niscaya Allah SWT juga akan senantiasa mempermudah urusan kita, termasuk mengatasi kendala dalam LDM ini. Kalo dihitung-hitung, suka nggak sampai logika kita dengan urusan hitungan materi yang kita pegang dengan yang Allah limpahkan. Jadi, tetap percaya dengan keajaiban dari Allah,” pesan ibu dari Firdaus dan Bilqis ini.
    1. Omongan orang.
      Nggak sedikit pasangan yang sebenarnya merasa nggak masalah dengan bentuk keluarga seperti ini tapi kemudian merasa nggak nyaman karena orang-orang di sekitarnya yang terus menerus mempertanyakan alasan mereka untuk nggak berkumpul. Apalagi pakai ancaman, “Suami yang nggak diurusin istrinya nanti selingkuh lho” atau “Nanti anak-anak nggak kenal bapaknya.” Apalagi budaya kita di Indonesia ini, suka kepo yaaaa sama urusan orang. Belum lagi jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang menuntut perempuan harus senantiasa melayani suaminya.
    1. Merasa seperti orang tua tunggal.
      Karena pasangan nggak selalu ada di rumah, semua harus dilakukan sendiri. Iya, termasuk angkat galon air mineral ke dispenser, benerin rumah yang rusak, mobil mogok. Tapi yang paling berat biasanya saat anak sakit atau ada urusan yang mendesak namun suami/istri sulit dihubungi karena nggak ada sinyal atau sedang rapat sehingga harus mengambil keputusan sendiri .
    1. Adanya perasaan kesepian, emptyness, moody , mudah cemburu dan takut akan penghianatan.
      Kadang kala perasaan ini muncul saat kita berada dalam situasi yang tidak nyaman dan membuat sedikit tertekan (bisa karena omongan orang, saat harus pisah lagi, saat lagi kangen, saat lagi ada masalah atau lagi PMS hehehehe).
    2. Sering merasa cemas saat pasangan sulit dihubungi (kayaknya ini nggak hanya dirasakan oleh pasangan LDM yaaa…hihihihihi…).

    Lho, apakah gangguan orang ketiga nggak termasuk dalam kendala berumah tangga jarak jauh. Oh, pasti. Tapi kebanyakan kehadiran orang ketiga ini disebabkan oleh faktor nomor tiga dan empat. Suami atau istri yang nggak bisa mengelola dengan baik perasaan kesepiannya atau lelah karena harus melakukan semuanya sendiri dan mendapatkan yang ia butuhkan dari orang lain yang ada di dekatnya cenderung mudah untuk mendua. Namun, to be fair gangguan orang ketiga ini tidak hanya berlaku untuk para pasangan yang menjalani LDM ya. Pada pasangan yang serumah pun seringkali terjadi hal serupa.

    Lalu dengan sekian banyaknya risiko dalam long distance marriage, apakah nggak ada kemungkinan untuk bertahan dan berhasil menjalaninya? Tentu ada. Banyak kok pasangan yang mampu mengarungi kehidupan seperti ini.

    Temukan tips-tipsnya di postingan selanjutnya ya…

    __________

    Fini Rahmatika, M.Psi, Psikolog adalah ibu dari 2 anak yang selama usia pernikahannya menjalani LDM dengan suami tercinta. Di sela-sela kesibukan mengurus putra-putri tercinta, Fini yang menyelesaikan pendidikan psikologinya di Universitas Surabaya juga bekerja sebagai independent psychologist. Fini pernah bergabung sebagai associate di beberapa lembaga konsultan di Jakarta dan Surabaya; Psikolog Keluarga, Anak, Remaja, PraNikah di Pusat Layanan Keluarga Sejahtera BKKBN Perwakilan Prov. Jatim; Psikolog pendamping anak eks Lapas di Shelter Rumah Hati Jombang, Jatim; Trainer soft skill untuk mahasiswa di Universitas Surabaya serta menjadi narasumber di berbagai talkshow dan artikel parenting.

  • Life as Mom, Life in Brunei

    Family Day Celebration

    Setiap minggu pertama di bulan Mei, Brunei memperingati Hari Keluarga Kebangsaan atau National Family Day. Nah, untuk merayakannya sekaligus Mother’s Day yang jatuh di minggu kedua Mei, sekolahnya Cinta bikin aktivitas yang melibatkan anak dan orangtua.

    Children's Crafts

    Bertempat di aula sekolah, anak-anak, orangtua dan guru berkumpul untuk menikmati beberapa penampilan dari para murid KG 1, 2 dan 3. Dimulai dengan mengucapkan salam untuk para guru dan dilanjutkan dengan morning exercise yang dipandu oleh guru-guru dan diikuti orangtua dan siswa. Hihihi seru sih, sayang masih banyak orangtua yang malu-malu atau malas ngikutin gerakannya. Kita sih pede aja goyang-goyang sambil gendong si Keenan dalam Bobita wrap.

     greeting to teachersteachers doing morning exercise on the stage

    parents and children doing togetherteachers and students doing morning exercise together

    kg 2 students performs songs and poem on the stagei love you mother and father

    On The StageUnder the Stage

    Setelah itu beberapa murid dari KG 2 naik panggung untuk baca puisi dan nyanyi tentang cinta pada orang tua dan keluarga. Lucu liat anak-anak kecil semangat perform meski suaranya nggak kedengeran sampai bangku tempat kita duduk di belakang.

    Aktivitas di dalam aula ditutup oleh penampilan beberapa anak KG 1 and KG 3 yang nyanyi sebuah lagu cina. Meski Cinta sering nyanyi juga di rumah tapi nggak paham lagunya tentang apa, wong dia tiap ditanya selalu dengan cueknya jawab, “Aku nggak tahu.”

    Setelah itu orangtua dan murid-murid KG 3 yang ikut aktivitas menghias kue berkumpul di depan aula yang sudah tertata rapi meja-meja dan perlengkapan menghias kue. Lainnya kembali ke kelas untuk makan snack pagi dan melanjutkan pelajaran seperti biasa.

    patiently waiting for the instruction while the baby sleeping peacefully inside his bobita wrapStart with her favorite shape: heart

    Cake Decoration ActivityA Little Help from Daddies

    UntitledtadaaaaThis is it. Mother's day cake by Cinta

    Anak-anak semangat banget menghias kuenya, sampai pada langsung tancap gas meski belum disuruh mulai dan bikin staf Sunny Bee Bakery berkali-kali bilang, “Please wait for the instruction. Don’t start before we ask you to start.” Tapi ya namanya anak-anak (dan orangtua juga sih) tetap aja ada yang curi-curi mainan icing, tempel-tempel hiasan dan colek-colek kue hihihi.

    Begitu diperbolehkan mulai langsung semua beraksi. Ada yang nggak mau dibantuin termasuk Cinta, ada juga yang heboh menghias adalah ibu atau neneknya! Iya, nenek. Namapun family day ya, nenek pun termasuk keluarga kan. Apalagi di sini karena kebanyakan kedua orangtua kerja, sehari-hari anak ya diasuh dan antarjemput ke sekolah sama nenek kakeknya.

    Hasilnya, keliatan deh mana yang murni buatan anak atau hanya dengan sedikit bantuan papa mamanya dengan yang banyak dibantu. Ah, tapi yang penting bersenang-senang sama keluarga ya. Bahkan anak bayi pun banyak yang dibawa merayakan hari keluarga ini termasuk Keenan yang selama hampir 3 jam tidur terus meski suasananya ramai.

    Bagus deh sekolahnya Cinta bikin acara beginian. Sederhana tapi berkesan. Anak senang, papa mamapun hepi karena bisa terlibat dalam kegiatan bersama-sama di sekolah. Happy Family Day, parents and happy Mother’s Day.

    Some pictures taken from CCMS KG’s FB page and my friend’s collection. See more pictures here.

  • Life in Brunei, Parenting, Traveling

    Movie Playdate

    Saking seringnya liat trailer film Wreck It Ralph di Disney Channel, Cinta pengen banget nonton film besutan Disney ini. “Seru lho Ma, lucu,” katanya. Saya sih jujur aja ragu Cinta mau nonton film seperti ini karena bukan kesukaannya. Wong Toy Story series, Brave sama TinkerBell and The Great Fairy Rescue aja dia nggak suka. Sejauh ini, film bioskop yang bisa dia tonton sampai habis itu yang banyak lagu dan nari-narinya, macam Happy Feet 2 dan Madagascar 3.

    Tapi berhubung bolak-balik minta nonton, saya pikir dicoba aja deh daripada nganggur liburan di rumah ini. Dan setelah dijanjikan harinya, Cinta seneng sekali plus minta ijin untuk ajak teman sekolahnya yang juga tinggal satu apartemen sama kita, Xing Yuan. Begitu diiyakan, dia langsung bikin rencana, “Nanti aku dibelikan 2 popcorn ya, biar bisa makan sama XingYuan sambil nonton pakai 3D glasses. Trus abis itu makan di tempat bowling. Aku pengen spaghetti carbonara. It would be fun, mama.” Okesip kakaaaaaak.

    Pas hari H, mungkin karena nggak sabar atau ngantuk sebelum berangkat Cinta agak rewel. Dia berantem terus sama temannya. Bahkan di perjalanan pun beberapa kali nanya, “Can I sleep first in the car?” Sementara si teman sibuk nyanyi-nyanyi menghibur dirinya sendiri.

    Photobucket

    Sayangnya, begitu sampai di bioskop dan film dimulai, Cinta tegang. Belum ada separuh cerita udah sibuk bilang, “I don’t like this movie“, “I don’t want to watch this“, “Can I hug you, Mama?” “I want to get out” endebre endebre. Sedangkan XingYuan masih asik nonton sambil makan popcorn. Si mama yang lagi sensitif ini mulai kesal dan nyuekin dia sampai akhirnya pasrah duduk diem sambil ikut makan popcorn.

    Setelah 1 jam, pas lagi seru-serunya film, nengok ke kedua anak kecil itu sudah duduk lesu di kursinya masing-masing. Akhirnya diputuskan keluar dari bioskop dan lanjut makan siang. Baru deh mereka mulai tenang dan happy ngider di tempat bowling liat orang-orang main.

    Yah, ternyata memang ajak anak ke bioskop harus benar-benar pilih film yang mau ditonton ya. Kalau yang rating PG dan untuk tontonan keluarga belum tentu mereka suka, apalagi film dengan rating di atasnya, seperti Dark Night Rises, Skyfall, Breaking Dawn, dll. Pinjam istilahnya psikolog Ratih Ibrahim, film-film dengan rating PG-13, R, NC-17 cuma bikin trauma sampah kognitif pada anak-anak. Kok bisa, kan anak-anak belum ngerti apa yang dia tonton?

    Lha justru itu, fungsi kognitif anak belum matang betul untuk bisa mencerna dan paham apa yang mereka tonton. Apalagi kalau orang tua nggak berusaha menjelaskan dan mengarahkan pola pikir anak ke bagian-bagian positif dari tontonan itu. Jadi begitu liat adegan cium-ciuman, dar der dor dan berantem dengan suara keras bisa bikin trauma juga jadi sampah di kognisi mereka deh.

    Hmmm pelajaran juga pengalaman movie playdate sama anak-anak ini, harus hati-hati bawa anak ke bioskop. Yang buat kita bagus dan menghibur belum tentu bisa dinikmati anak. “You don’t know what garbage you inject to their mind,” kata mbak Ratih.

    Tapi jadi penasaran sama akhir ceritanya Wreck It Ralph nih. Apa dia beneran bisa diterima sebagai hero sama orang-orang di game Fix It Felix? Nggak sabar nunggu bisa download filmnya trus nonton sendiri deh pas Cinta tidur 😀

    Kalau anaknya suka nonton film apa, Moms di bioskop?

  • Life in Brunei

    Cinta’s 5th Birthday

    Tiap tahun, saya selalu berangan-angan bikin acara ulang tahun yang menyenangkan untuk Cinta, rasanya bayangan jenis kue, goody bag, baju ultah, sampai tempat acara sudah melekat di kepala selama berbulan-bulan. Tapi ternyata ulang tahun yang menyenangkan menurut Cinta tidak sama dengan saya. Buat dia merayakan ulang tahun bersama keluarga saja sudah cukup dan ternyata hal ini dikabulkan oleh Allaah.

    Jadilah tahun ini sesuai dengan permintaan Cinta, kami merayakan ulang tahun ke-5 gadis kecil ini dengan penuh kesederhanaan. Hanya kami  bertiga, 2 buah kado dan kue ulang tahun pilihan Cinta, di hari Minggu, 17 Juni 2012 yang lalu. Meski sederhana bukan berarti sepi karena tak lama setelah acara tiup lilin kami dapat video call dari keluarga di Sidoarjo, telpon dari Yangti Yangkung Tuban dan tante bude. Belum lagi limpahan doa dan ucapan selamat dari teman-teman di Twitter dan Facebook. Alhamdulillaah, semoga diijabah Allaah.

    Keesokan harinya Cinta bagi-bagi cupcake untuk teman-teman di sekolah. Nggak pakai acara tiup lilin karena dia nggak mau, “Kan kemarin sudah celebrate my birthday at school, Ma. Sekarang makan kue aja rame-rame sama teman-teman,” pintanya.

    Selamat ulang, Nadja Aluna. Selamat meninggalkan masa balitamu dan menyongsong hari-hari sebagai anak besar. Terima kasih telah menjadi guru terbaik bagi kami untuk terus belajar menjadi orang tua. Semoga mama dan papa bisa membimbingmu menjadi anak sholeha, berguna bagi lingkungan, sehat dan bahagia. Aamiin 🙂