I Love You To The Moon and Back

“Bunda, aku suka deh dipeluk Bunda seperti ini. ”
“Bunda juga suka meluk kakak seperti ini.”
“Bunda janji ya, sampai aku besar suka peluk aku.”
“Iya nak, Bunda janji. Akan selalu peluk kakak meski nanti kakak udah nggak mau dipeluk Bunda. Akan selalu ada untuk kakak, sampai kapan pun.”
“Bunda, I love you.”
I love you more, kak.”
I love you to the top of the tree, Bun.”
I love you to the moon and back, boy.”

———

Perempuan itu mengusap air matanya, masih terbayang jelas kenangan malam itu. Saat ia dan lelaki kecilnya berbaring berpelukan di halaman rumah. Memandang langit yang berbintang dan menikmati indahnya bulan purnama.

Betapa kehangatan saat itu terasa kembali di hari ini, hari bahagia lelaki kecilnya. Ah ya, meski sudah berusia 27 tahun, lelaki itu tetaplah anak kecil di hatinya. Bocah tampan yang membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali diletakkan di dadanya, menggeliat mencari kehangatan lalu berusaha menyesap air susu sang bunda.

[Read more...]

Pergi

walking alone

“Kamu sudah berubah.” katamu beberapa hari yang lalu.

“Aku sudah tak mengenali kamu yang sekarang” lanjutmu lagi dan aku hanya bisa terdiam waktu itu. [Read more...]

Setahun yang Lalu

Perempuan itu tiba-tiba membuka mata dan termangu. Dibiarkan saja beberapa tetes airmata yang mengalir di pipi. “Ah, lagi-lagi mimpi itu” desahnya. “Sudah hampir setahun mereka menghantui hari dan tidurku”. Adalah mimpi yang berasal dari alam bawah sadarnya, dari hatinya yang galau namun berusaha ia pendam dalam-dalam.
Tak berhasil mengundang kembali kantuk, Ia pun bangun dari tidur, meminum segelas air dan kemudian menyalakan komputer. Tak lama berselang mulai berselancar, mengunjungi sebuah blog dimana tertulis sebuah kisah. Cerita yang membuatnya terluka terlalu dalam sehingga tak kunjung kering setelah sekian lama.
Setahun yang lalu kisah itu dimulai, tentang seekor burung yang berteman dengan bulan. Awalnya sang burung adalah sahabat setia dan kekasih matahari sampai suatu ketika ia terlambat kembali ke sarang dan menyaksikan keelokan purnama terbit. Sejak itu burung merasa bahwa sinar matahari terlalu panas baginya, ia tak lagi betah bercengkerama di bawah lindungan dahan-dahan pohon diiringi tiupan angin sepoi-sepoi. Burung telah menemukan sesuatu yang indah di malam hari dan itu adalah sang bulan dengan sinarnya yang lembut, memabukkan, membuat ia terus ingin malam kembali datang untuk memandangi dan menikmati bulan bahkan ketika purnama berganti sabit. Burung pun membagi hatinya dan matahari terluka.
Perempuan itu adalah sang matahari yang dikhianati burung walau masih tetap bersama tapi tak lagi terdengar kicauannya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas setiap detil kejadian ketika mengetahui pujaan hati berbagi hati. Pertengkaran, kata-kata kasar dan menyakitkan, suasana dingin mencekam. Ia ingin pergi, mengobati hatinya yang terluka tapi tak bisa. Mereka terperangkap dalam suatu ikatan yang tadinya indah namun saat ini hanyalah sebuah kepalsuan karena tak benar-benar ada lagi kebahagiaan di dalamnya. Perempuan itu telah kehilangan segalanya; cinta, percaya dan hormat kepada kekasihnya. Namun yang terburuk adalah ia kehilangan dirinya, senyumnya, rasa percara diri, harga diri. Perempuan itu terpuruk.
Setahun berlalu, lukanya masih belum tertutup. Perempuan itu tak tahu apakah sang kekasih masih selalu menemui bulan di malam hari. Satu yang pasti hatinya belum bisa melupakan dan memaafkan walaupun ia masih berdiri rapuh disini.

foto diambil dari sini

Dalam Lelapnya

Seekor beruang kecil menggeliat dalam tidur kemudian tersenyum. Sedang mimpi indah rupanya, mungkin menemukan satu pot madu kesukaannya. Namun tak lama ia gelisah dan membuka mata, merangkak tergesa mencari sesuatu. Dan ia menemukan ibunya, memeluknya erat seakan ingin mengenyahkan segala rasa penat dan gelisah, menyamankan dirinya. Tak lama kemudian ia kembali jatuh tertidur dan tersenyum, kali ini mungkin mimpi bermain dengan kupu-kupu.

foto diambil dari sini

Pojok Mungil

Seorang perempuan memasuki kedai kopi langganannya, dengan senyuman tipis menyapa para barista yang sedang bekerja di balik meja. ”Pesan apa hari ini mba?” tanya seorang barista. ”Cheesecake dan ice green tea latte ya” jawab si perempuan. ”grande, without extra caramel, right?” ”Yup, no extra caramel, grande” ulangnya. Senyuman semakin mengembang di wajahnya. Ah ya, barista itu memang sudah hafal dengan pesanan si perempuan. 3 kali seminggu ia selalu datang ke kedai ini, menunggu anaknya yang bersekolah di dekat sini katanya suatu ketika.
Setelah mengambil semua pesanan, ia menuju tempat duduk favoritnya di pojokan kafe itu. Tempat itu memang nyaman dan strategis, dengan sofa berwarna coklat muda dan jendela besar namun terlindungi oleh tanaman cantik yang bergantungan dari atas atap serta pot-pot bunga cantik. Setelah menikmati kenyamanan sesaat ia mengeluarkan dan menyalakan netbook kemudian memasang earphone iPod hijau lalu menyesap minumannya. Tak lama kemudian mulai tenggelam dalam dunianya.
Di waktu seperti ini kedai kopi belum terlalu ramai sehingga si barista bisa mencuri waktu memandangi perempuan di pojokan itu. The woman in the corner, begitu ia menjuluki si perempuan. Walaupun banyak pengunjung yang menduduki tempat itu entah kenapa ia begitu terkesan dengan perempuan itu. Mungkin karena ia datang pada waktu yang konstan bisa juga karena ekspresi wajahnya yang tampak cantik sekaligus sedih. Ya, ada sesuatu di sorot matanya yang membuat barista itu terpesona. Namun sorot itu berubah menjadi cahaya ketika ia bersama gadis kecilnya. Kelinci yang tak bisa diam, selalu menghujani sang ibu dengan sejuta pertanyaan, celoteh juga derai tawa. Ia tampak begitu ceria, bahagia namun sesekali menatap tajam pada miniaturnya jika melakukan sesuatu yang tak berkenan di hati perempuan itu.
Sering mengamati perempuan itu membuatnya ingin bertanya adakah sesuatu diluar sana yang menyakiti sehingga mata itu tampak begitu sepi dan terluka. Tak adakah seseorang yang bisa menghilangkan sendu itu.
Namun hari ini tampak sedikit berbeda, tiba-tiba saja mata perempuan itu berbinar. Senyuman terukir indah di wajahnya yang sekejap tampak berkilau. Barista itu tertegun lalu ikut tersenyum, hari ini perempuan itu tengah jatuh cinta.
*foto diambil dari sini*