Browsing Tag:

Brunei

  • mitsubishi asian children's enikki festa, brunei, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai
    Daily Stories, Life in Brunei

    Cinta dan Children’s Enikki Festa

    Waktu Cinta masih duduk di kelas 2, saya suka gemas dengan kebiasaannya menyobek buku tulisnya untuk menggambar. Ternyata, kegemasan yang sama juga dirasakan oleh wali kelasnya. Beberapa kali beliau dengan nada setengah putus asa bercerita bahwa Cinta suka sekali menghabiskan waktunya di kelas untuk menggambar dibandingkan mendengarkan guru-gurunya menerangkan pelajaran. Saya pun mencoba untuk bersepakat dengan Cinta akan hal ini dengan memberikannya buku tulis khusus yang bisa dipakainya untuk menggambar dengan syarat hanyaboleh melakukannya saat jam istirahat.

    Mitsubishi Asian Children's Enikki Festa, sekolah, kompetisi, lomba menggambar, lomba mewarnai

    Selama beberapa waktu kesepakatan ini berjalan dengan baik. Saya tidak lagi menemukan buku-buku latihan atau PR yang tiba-tiba menjadi tipis karena sering disobek tengahnya untuk menggambar.

    Namun, wali kelasnya berpikiran lain. Beliau merasa Cinta masih terlalu sering menggambar dan ditambah lagi dengan kebiasaannya melamun saat bosan. Cikgu menganggap kedua hal itu mengganggu konsentrasi Cinta di kelas, lantas meminta saya untuk tidak lagi membawakan Cinta buku untuk menggambar.

    Dengan terpaksa, saya kembali mengingatkan Cinta untuk hanya menggambar saat jam istirahat atau sedang nggak ada pelajaran. Hanya saja, kali ini saya memberi ultimatum, kalau sampai Cikgu mengeluh lagi tentang kebiasaannya itu, buku gambarnya akan saya sita. Dia pun setuju.

    Ternyata, hobi menggambarnya Cinta ini, meski sering mengganggu konsentrasinya di kelas, membuatnya selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran Art. Cikgu wali kelas sendiri mengakui bahwa di antara teman-teman sekelasnya, setiap ujian Art, Cinta selalu termasuk yang paling rapi dan cepat selesai. Karena inilah di bulan Oktober tahun lalu, Cinta ditunjuk untuk mewakili kelasnya dalam “Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa 2015/2016” bersama  seorang teman sekelasnya. Dari 2 orang ini dan beberapa lainnya dari masing-masing kelas, dipilih lagi menjadi 9 orang yang gambarnya dikirim ke festival tersebut mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan Cinta termasuk di antara 9 orang tersebut.

    Tentang Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa

    The Mitsubishi Public Affairs Committee, the Asian Federation of UNESCO Clubs and Associations, and the National Federation of UNESCO Associations in Japan have sponsored this Mitsubishi Asian Children’s Enikki Festa since 1990.

    This Festa started up “Mitsubishi Impression-Gallery- Festival of Asian Children’s Art” in order for cultural exchange and support for literacy education by means of Enikki (illustrated diaries) and change its name in 2006.

    The Festa so far has collected 635,511 works from 24 Asian nations and regions. The exhibition of represented works have taken place all over Japan as well as overseas, and those represented works have been incorporated into textbooks for local schools in order for participating nations + regions to promote literacy education.

    source: enniki.mitsubishi.or.jp

    Sebenarnya, tema festival menggambar ini bukan keahliannya Cinta. Sesuai dengan namanya, Enikki yang dalam bahasa Jepang berarti illustrated diaries, kompetisi kali ini meminta anak-anak menggambar hal-hal berkesan bersama keluarga. Antara lain, pengalaman berlibur, aktivitas yang menyenangkan, dan lain-lain. Ya seperti menulis buku harian lah, hanya saja dalam bentuk gambar.

    Cinta sendiri menggambar pengalamannya berlibur bersama keluarga. Mulai dari naik pesawat di mana dia menggambar pesawat dan kami bertiga (saya, Cinta dan Keenan); naik kuda di Taman Safari; naik perahu di Kampong Ayer; dan dua gambar lainnya yang nggak sempat saya lihat karena diselesaikan di sekolah bersama gurunya.

    Selain gambar, mereka juga diminta untuk mewarnai sebaik mungkin dan menulis cerita tentang gambar tersebut. Nah, Cinta kurang suka tuh mewarnai. Tapi dia tetap semangat dan berusaha. Bahkan ketika diminta untuk datang ke sekolah di hari libur untuk menggambar dipandu oleh guru-guru Art pun dia dengan senang hati menyiapkan sendiri keperluannya.

    mitsubishi asian children's enikki festa 2015/2016, kompetisi, sekolah, Brunei, menggambar, mewarnai, aktivitas anak

    Setelah sekian lama, akhirnya beberapa hari lalu pihak sekolah mengumumkan bahwa salah seorang murid mereka, yaitu Charlotte Lay Zhi How dari kelas 5 Lily berhasil mendapatkan Excellent Award dalam ajang yang disponsori oleh Mitsubishi Jepang tersebut. Cinta sendiri rupanya masih harus banyak belajar lagi, terutama soal mewarnai dan menulis cerita. Tapi dia sendiri merasa sudah cukup senang dan bangga bisa berpartisipasi dalam festival tersebut. Saya pun bangga karena Cinta mau keluar dari zona nyamannya, belajar berkompetisi dan memberikan usaha terbaiknya. Semoga tahun ini dapat kesempatan lagi, ya, Kak.

  • Life in Brunei

    Baking is a Science

     photo 1E84D4AF-D524-436B-8458-A79BED87F4D9_zps5hnyqmzt.jpg

    Baking is a science. Ada yang pernah dengar ungkapan itu? Tepatnya sih, cooking is an art and baking is a science. Kenapa baking atau memanggang kue, pie dan roti dianggap sebagai science? Itu yang jadi pertanyaan saya ketika membaca jadwal science program untuk liburan sekolah yang diadakan oleh Oil and Gas Discovery Center (OGDC), Seria kali ini.

    Baking bad at OGDC. An experimental activity where you learn the science in baking muffins and what happens when you don’t follow the recipe!

    Begitulah deskripsi aktivitas yang kami lakukan pada tanggal 9 September 2015 kemarin. Menarik ya. Kalau biasanya kita harus mengikuti resep saat memanggang kue, kali ini justru sebaliknya. Hmmm, jadi penasaran kan bakal jadi apa hasil eksperimen dengan bahan-bahan membuat kue itu.

    Sesuai jadwal kami tiba di OGDC pas jam 9 pagi. Setelah isi buku tamu saya mengutarakan niat untuk mendaftarkan anak-anak ikut science experiment dan resepsionis meminta saya untuk bayar di lobi. Eh, alhamdulillah ya, sesampainya di tempat pendaftaran yang seharusnya bayar B$3 jadi gratis. Senangnya!

    Awalnya saya kira kami akan beraktivitas di ruang pameran seperti biasanya tapi ternyata kali ini anak-anak dan saya diajak ke lantai 3 gedung utama OGDC. Di sana kami disambut oleh pemandu kegiatan masak memasak hari itu yang memperkenalkan dirinya sebagai chef dan meja berisi telur, tepung, gula, tapioka, ragi, baking powder, minyak sayur dan susu.

    Sebelum memulai kegiatan, anak-anak diberi penjelasan mengapa baking is a science. Hal ini disebabkan karena dalam memanggang kue, masing-masing bahan yang digunakan memiliki fungsi yang nggak bisa digantikan. Tepung misalnya, sebagai dasar dari adonan dia mengandung protein yang berfungsi untuk mengikat dan menciptakan gluten sehingga kue bisa kokoh. Telur berguna untuk mengikat adonan, sedangkan baking powder dan soda kue jika dicampur dengan bahan-bahan yang lain menghasilkan gelembung karbon dioksida di dalam adonan dan membuatnya mengembang. Oleh karena itu penting sekali mencampur bahan terutama bahan kering dengan cara yang benar supaya dapat menghasilkan kue, pie, roti yang bagus.

     photo 2988F898-25E7-4546-80A4-10E56926D408_zpsuuygfil0.jpg

    Tapi kali ini anak-anak dibebaskan untuk mencampur bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan kemauan mereka untuk melihat apakah yang akan terjadi saat campuran bahan tersebut dipanggang (dalam kegiatan ini panggangan diganti dengan microwave untuk menghemat waktu). Serulah mereka mencampur semua bahan yang ada. Bahkan kakak-kakak dan abang pemandu OGDC pun ikut bergabung melakukan eksperimen bersama Cinta dan kakak Reyva.

    Ada yang membuat adonan dari telur, gula dan minyak sayur; ada juga yang mencampur telur, susu, minyak sayur, tepung, tapioka, baking powder dan gula; ada yang menggunakan tepung, gula, susu dan minyak; ada pula yang membuat adonan dari semua bahan yang ada kecuali tapioka dan ragi. Setelah semua adonan siap, masing-masing dipanggang selama 2-3 menit. Dan hasilnya ternyata bermacam-macam. Adonan telur, minyak sayur dan gula menjadi omelet, adonan tanpa telur menjadi remah-remah yang teksturnya mirip dengan pie crust. Sedangkan adonan yang menggunakan tapioka menjadi padat dan liat. Bahkan ada yang saking padatnya sampai bisa digunakan sebagai spon untuk cuci piring hihihi.

     photo 8A1081CA-3831-444F-BE82-D01D530B4878_zpstn5tsie4.jpg

    Setelah semua percobaan selesai dilakukan dan anak-anak mengerti perbedaan hasil dari masing-masing adonan yang berbeda, mereka diajak untuk membuat muffin dengan bahan dan cara yang benar. Ternyata resep yang sama saat diolah oleh tangan yang berbeda, hasilnya bisa berbeda pula. Hal ini biasanya disebabkan perbedaan interpretasi bahan. Misalnya dalam resep ada satuan sendok makan, ada yang menganggap sendok makan peres (rata dengan permukaan sendok), sedangkan yang lain menganggap sendok makan munjung.

    Seru juga lho ternyata belajar science dari kegiatan memanggang kue. Anak-anak pun pulang dengan semangkuk kue, hati riang dan pengetahuan baru. Terima kasih, OGDC!

  • Foods and Places, Life in Brunei, Traveling

    Rescue Exhibition OGDC

    Tanggal 15 Februari yang lalu, memenuhi janji ke kakak Cinta, akhirnya kami ke OGDC lagi. Kali ini untuk lihat Rescue Exhibition yang berlangsung selama bulan Februari 2015.

    Mengingat pengalaman sebelumnya jujur saja saya tidak berharap banyak, secara tempatnya tidak terlalu besar dan isinya tidak terlalu banyak. Tapi ternyata dengan membeli tiket seharga B$ 5 untuk dewasa dan B$2 untuk anak-anak mulai usia 5-12 tahun, banyak kesenangan yang kami dapatkan di sana.

    Dimulai dengan sambutan sebuah robot mini di area masuk pameran, kami pun memulai keseruan hari itu. Simulator yang pertama kami coba adalah Fire Rescue, di booth tersebut tersedia empat macam alat pemadam kebakaran disertai keterangan yang digantung di dinding bahwa setiap kebakaran yang penyebabnya berbeda hanya bisa dipadamkan dengan alat tertentu. Di layar besar, saya dan Keenan pun mencoba bermain memilih mana alat pemadam yang cocok untuk jenis kebakaran yang tertera di layar, ternyata cukup menyenangkan, terutama buat Keenan yang asik naik turun sambil mencoba keempat alat pemadam tersebut.

    Setelah itu Cinta memanggil adiknya dan mengajak Keenan untuk bergabung dengannya di kolam bola berwarna biru yang dilengkapi dengan perahu karet. Pura-puranya itu adalah simulasi usaha menyelamatkan korban yang mengalami kecelakaan di laut. Ya senenglah anak-anak, berkali-kali turun ke kolam lalu naik ke perahu, bergantian menarik yang masih di kolam untuk masuk ke dalam perahu.

    Bosan di kolam bola, kami menuju booth stasiun TV yang dilengkapi dengan meja reporter dan green screen. Di situ kami bisa memilih menjadi pembawa berita atau reporter. Dengan membaca teks yang sudah disiapkan aksi kita bisa dilihat di layar televisi di booth tersebut. Hahaha lumayan lah, menyalurkan cita-cita sebagai news anchor yang gagal :))

    Puas berpura-pura jadi reporter, kami memasuki semacam smoke room, sebuah kamar yang gelap dan penuh asap sebagai tiruan ruangan yang sedang terbakar. Keluar dari kamar ada salah satu game yang jadi favorit banyak orang. Wave Rescue!. Duah buah personal watercraft dan sebuah layar besar siap dimainkan oleh para pengunjung.

    Bagi pengunjung yang suka memanjat disedikan juga wall climbing kecil untuk latihan Vertical Rescue. Ini mah senengan bapaknya anak-anak dan beberapa anak dan remaja laki-laki. Mereka asik memanjat dinding tersebut dan berpindah dari satu sisi ke sisi lain.

    Sementara anak bayi suka banget sama simulasi Helicopter Rescue yang lagi-lagi dilengkapi dengan permainan di layar besar. Helikopter yang dilengkapi sensor panas untuk mendeteksi adanya kebakaran dari udara ini bikin Keenan nggak bisa move on mainan setir sambil ngeliatin layar raksasanya. Sementara kakaknya sudah berkeliling melihat-lihat permainan yang lain.

    Selain berbagai alat menarik tersebut, penyelenggara pameran juga menyediakan tiruan ruangan tim pemadam kebakaran lengkap dengan kostum yang bisa dipakai, layar-layar kecil berisi aktivitas interaktif yang memberikan aneka informasi seperti barang-barang apa saja yang perlu dibawa saat dalam misi penyelamatan, cara menangani pasien dan lain-lain.

    Petualangan hari Minggu pun diakhiri dengan memberi makan ikan di kolamnya, OGDC. Hanya dengan membeli pakan ikan di kantin OGDC seharga 50 sen sekantung kecil, anak-anak puas mengenal makhluk-makhluk dalam kolam. Ah, terima kasih OGCC, kami tunggu pameran-pameran seru selanjutnya.

    Foto-foto lain dari OGDC Rescue Exhibition 2015

     

    Cinta belajar jadi reporter dan pembawa berita kebakaran.

     

  • Life in Brunei

    Bertemu Pak Joko Widodo di Brunei

    Tanggal 8-9 Februari yang lalu, Presiden RI ke-7, Joko Widodo mengadakan lawatan ke Brunei Darussalam. Beberapa minggu sebelumnya beredar undangan di grup bapak-bapak KB Seria untuk ramah tamah bersama pak Presiden dan rombongan dari Jakarta di Kedutaan Indonesia di Bandar Seri Begawan. Berhubung malas jauh-jauh ke Bandar, kami pun melewatkan kesempatan itu.

    Tak dinyana, 3 hari sebelum hari H, suami dapat kabar dari temannya kalau pak Jokowi akan mengunjungi Brunei LNG (BLNG) plant di Lumut. Nggak cuma itu beliau juga ngajak suami untuk datang. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami memutuskan untuk ikut menyambut kehadiran pak Jokowi di BLNG dengan membawa serta dua krucil.

    Pas hari H, sesampainya di BLNG, kami diminta untuk meninggalkan tas di mobil dan menunggu di bawah tenda di depan main hall BLNG. Saat itu lumayan sepi. Hanya ada 4 keluarga dari KB Seria dan beberapa pekerja profesional Indonesia yang kerja di BSP, BLNG dan kontraktornya hadir di sana.

    Setelah menunggu hampir 1 jam, tiba-tiba datanglah rombongan BMI entah dari mana dengan jumlah yang lumayan banyak, ikut menyambut kedatangan Presiden RI. Menurut cerita suami sih, karena penyambutnya sedikit akhirnya Public Relation BLNG mengunjungi sebuah staff house suatu perusahaan yang terletak di depan jalan masuk BLNG dan mengajak pekerja berkebangsaan Indonesia untuk memeriahkan penyambutan beliau.

     photo D504A0AE-FA61-424B-987B-3BCC633FCA95_zpsu5aosxne.jpg  photo 47309E7E-3048-4473-BBA8-364A4FA380F9_zpsr7enkznq.jpg  photo F699E900-73C9-4BE7-BAD5-4F0EE6B25E26_zpsentdq8lm.jpg

    Saking lamanya nunggu, beberapa orang mulai menikmati hidangan yang sudah disediakan staf BLNG, sementara Keenan sudah bangun dari tidurnya dan mulai berlari-lari di sekitar area parkir.

    Tak lama kemudian rombongan mobil dinas kedutaan dan tamu kerajaan mulai berdatangan. Kami pun mulai sibuk menerka di mobil yang mana pak Jokowi berada. Sayangnya sampai semua mobil parkir tak ada tanda-tanda pak Presiden turun dari mobil. Beredar kabar kalau sebenarnya pak Jokowi sudah tiba sebelum kami datang lantas keliling plant dulu dan saat itu sudah berada di main hall untuk berbincang-bincang dengan petinggi-petinggi BLNG.

    Setelah 1,5 jam sejak kami sampai BLNG akhirnya kami diminta berbaris di pinggir pintu masuk main hall (iya, di luar pintu masuk!) karena pak Jokowi akan segera keluar dan menemui kita sebelum naik kendaraan dinasnya kembali ke Bandar. Oh, Mak. Jadi nunggu sekian lama itu cuma buat ketemu sekilasan doang. Tapi nggak papalah yang penting bisa liat dan salaman sama pak Presiden. Kapan lagi gitu kan. Kesempatan langka ini.

    Jadi diatur oleh security BLNG, berbaris dengan manis lah kita, dan saya serta 3 orang ibu-ibu yang lain (yang mana ibu-ibunya ya cuma kami berempat) berbaris dekat pintu keluar. Cari posisi strategis biar gampang salamannya. Beberapa belas menit kemudian yang diisi dengan tangisan Keenan, pak Presiden akhirnya keluar dari main hall dan mulai menghampiri kami. Beliau berusaha menyambut uluran tangan beberapa orang sambil bertanya, "Sudah berapa lama di sini?" dan "Ada kesulitan apa selama di sini?" Ternyata kesempatan beliau berhenti sejenak untuk ngobrol ini membuat barisan acak adul. Para BMI merangsek mendekati pak Jokowi dan berebut salaman dan foto bareng. Kami pun merasa kalah tenaga akhirnya mundur dengan teratur.

    Beberapa security yang tahu kami sudah datang lamaaaaa sekali berusaha membantu supaya bisa bertatap muka dengan pak Presiden. Tapi ya mungkin belum rejeki ya, susah menembus kerumunan dengan menggendong anak. Akhirnya pasrah aja menjauh dari kerumunan sambil ngomel-ngomel bertiga hahaha.

    Setelah gagal foto-foto dengan pak Jokowi, kami pun memutuskan foto dengan petingginya BLNG dan berfoto di depan gedung BLNG. Sayang ih, karena suami yang ambil foto jadi nggak ada dia di foto bersama ini. Padahal bisa jadi kenang-kenangan ya secara selama 4 tahun kantornya mengerjakan proyek di BLNG. Tapi alhamdulillah di tengah-tengah padatnya kerumunan orang, suami sempat memotret pak Jokowi, bahkan seorang teman dapat berfoto bersama beliau. Haaaa, lucky her not so lucky us hahaha.

  • Traveling

    Seria Kota Minyak dalam Hitam & Putih

    Bulan lalu saya diajak oleh Dian Sukmaningsih untuk mengikut B&W Challenge di Facebook. Syaratnya gampang sih, cuma memposting sebuah foto hitam putih selama 5 hari berturut-turut. Tadinya saya mau bikin tema tentang kota Seria, Brunei Darussalam dan sudah ada bayangan lokasi dan obyek yang mau ditampilkan tapi ternyata nggak sempat hunting foto. Maklumlah emak merangkap supir merangkap inem merangkap babysitter merangkap tukang gaul ini memang agak susah cari waktu luang untuk jalan-jalan. Jadilah yang saya posting di FB foto-foto ala kadarnya atau dari stok foto lama.

    Tapi berhubung kali ini sudah berhasil mengumpulkan foto-foto yang saya inginkan, bolehlah dipost di blog saja ya, sekalian bercerita tentang Seria, kota sederhana yang kaya akan sumber minyak tempat tinggal kami saat ini. Ini dia…

    Seria Shopping Complex

    Terminal Bus Seria

    Vintage

     

     

     

     

     

     

    Ketiga foto di atas menggambarkan pusat kota Seria. Kecil dan jadul ya kesannya? Memang iya sih huehehehe. Di Jalan Sultan Omar Ali inilah terletak pusat perdagangan kota Seria yang biasa disebut Seria Shopping Complex. Meski nampak kecil isinya cukup banyak. Mulai dari beraneka restoran (ada restoran Jepang Kaizen Sushi dan resto Italia Fratini’s yang enak banget itu), foodcourt Gerai Simpur, HSBC, Standard Chartered Bank, Baiduri Bank, toko buku, toko sepatu, aneka toko emas, toko elektronik, tukang jahit dan dobi, gunting rambut, toko kelontong, minimarket sampai hotel ada di seputar jalan ini.

    Foto pertama diambil di hari Jumat pukul 12 siang, ketika kebanyakan orang menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid. Sesuai titah Sultan sejak tahun 2013 yang lalu semua kegiatan perniagaan dan kantor harus tutup selama 2 jam di hari Jumat siang, yaitu pukul 12 – 2 siang untuk memberi kesempatan orang sholat Jumat. Padahal di hari biasanya daerah ini selalu ramai apalagi di jam istirahat kantor dan pulang sekolah. Bisa dibela-belain rebutan parkir sama orang lain di sini.

    Di seberang shopping complex ada terminal bis yang tidak terlalu besar. Biasanya kalau pagi banyak burung yang berkumpul di parkiran terminal dan ada saja yang berbaik hati memberi mereka makan biji-bijian. Tak jauh dari situ ada kantor polisi dan kantor pos. Semua bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

    One Billionth Barrel Monument

    Pompa Angguk

     

     

     

     

     

     

     

    Dua obyek yang ada di foto ini bisa dibilang iconnya Seria. Yang pertama adalah one billionth barrel monument yang didirikan pada tahun 1991 dan diresmikan oleh Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah bin Al-Marhum Sultan Haji Omar Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien1. Sesuai namanya, monumen yang terletak di pinggir pantai ini dibangun untuk memperingati produksi 1 milyar barel crude oil dari onshore oilfield Seria2.

    Sebagai kota minyak, pompa angguk atau yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan nodding donkey bisa dengan mudah kita jumpai di Seria. Obyek dalam foto ini saya ambil dari pinggir Jalan Bunga Melor. Sedangkan pompa angguk lainnya kebanyakan berada di oilfield Panaga.

    Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal menarik yang bisa dijumpai di Seria, semoga suatu hari nanti bisa ngumpulin foto-foto untuk diceritakan di sini lagi.

    1. Sultan and Yang Di-Pertuan of Brunei []
    2. http://jyppe.com/one-billionth-barrel-monument-seria-brunei/ []
  • Foods and Places, Kids Activities, Life in Brunei

    Belajar Science di OGDC

    Tanggal 18 Januari 2015 yang lalu, untuk pertama kalinya selama 3 tahun tinggal di Brunei akhirnya kami berkunjung ke Oil and Gas Discovery Centre Seria. Padahal ya, bangunan ini dilewatin minimal sehari dua kali dan playground serta jogging tracknya sempat jadi tempat main favorit kami. Cuma ya baru tergugah untuk eksplorasi yang ada di dalamnya baru-baru ini aja. Itupun hampir batal karena waktu mau berangkat hujan, untung nggak lama kemudian berhenti. Akhirnya dipaksakanlah mendung-mendung pergi daripada cuma bengong di rumah.

    Science Centre yang berada di Seria, Brunei Darussalam ini pertama kali dibuka pada tahun 2002 dengan tujuan awal memberikan edukasi kepada warga Brunei tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang merupakan salah satu tulang punggung perekonomian negara. Namun seiring berjalannya waktu, Brunei Shell Petroleum sebagai pengelola mengembangkan OGDC sebagai sarana edukasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Biasanya saat libur sekolah, OGDC punya kegiatan menarik untuk anak-anak, mulai dari lab science activity sampai cooking class dan traffic games. Tapi sayangnya belum punya kesempatan untuk mencoba, mungkin libur sekolah Maret yang akan datang kalau ada aktivitas menarik mau daftarin Cinta ikut secara dia suka sekali segala sesuatu yang berbau science dan kebetulan nggak ada rencana pergi ke mana-mana.

    Saat kami ke sana hari Minggu, ternyata sedang ada aktivitas di exhibition hall. Sekelompok anak usia SMP asik menyaksikan salah satu petugas OGDC mendemonstrasikan serunya aplikasi science dalam berbagai permainan. Tapi cuma sempat ikut liat sebentar karena Cinta sudah nggak sabar pengen masuk ruang Oil & Gas.

    Sebenarnya setelah menulis nama di buku tamu, resepsionis menawarkan apakah kami butuh bantuan pemandu atau mau jalan-jalan sendiri. Berhubung ruangan yang hendak dieksplorasi tidak terlalu besar kami memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri. Namun dalam praktiknya, para petugas OGDC nggak segan membantu dan menjelaskan kepada kami hal-hal yang menarik dalam setiap ruangan. Mungkin karena pada hari itu selain rombongan pelajar, pengunjungnya cuma kami sekeluarga hihihi.

    Oil & Gas Room, OGDC Seria, Brunei

    Di ruang Oil & Gas yang berisi tentang berbagai pengetahuan tentang ilmu pertambangan, anak-anak paling suka menyusun pipa-pipa dan membolak-balik kaca yang berisi bebatuan dan minyak, sementara saya membaca sejarah pertambangan di Brunei.

    Puzzle & Illusion Room, OGDC Seria, Brunei

    Kemudian kami pindah ke ruang Puzzle and Illusion. Nah, udah deh, nggak yang besar nggak yang kecil semua heboh mencoba satu per satu alat peraga yang ada di situ. Mulai dari menyalakan listrik pakai kayuhan sepeda, menyusun puzzle raksasa sampai berbagai tipuan mata yang bikin berdecak, “Kok bisa ya.”

    Meski isinya nggak terlalu banyak tapi anak-anak saya betah sekali main di sini sampai susah diajak pulang. Rencananya bulan ini kami akan ke sana lagi untuk melihat Rescue Exhibition yang diadakan di bulan Februari. Tunggu cerita seru di OGDC selanjutnya 🙂

    Informasi

    HTM/Admission Charges:

    PRE SCHOOL (5 years old and below) : Free of Charge
    CHILD (5 – 12 years old) : BND 1
    TEEN (13-17 years old) : BND 2
    ADULT (18 – 55 years old) : BND 5
    SENIOR CITIZEN (55 years old and above) : BND 3
    FAMILY PACKAGE (2 adults + 4 children) : BND 12

    Operating Hours:

    Monday to Saturday : 8:30am to 5:00pm
    Sunday : 9:30am to 6:00pm
    Public Holiday : CLOSED

  • Daily Stories, Life in Brunei, Recipe

    Food Challenge, Day 5

    Yaaaiiy. Sampai juga di hari terakhir #FoodChallenge.

    #Day5FoodChallenge

    Kemarin makan siangnya kesorean1, karena sejak jam 9.30 pagi sudah mondar mandir kaya setrikaan ngelengkapin keperluan Cinta untuk hari pertamanya masuk sekolah Ugama, hiks. Padahal masakannya sudah siap dari pagi. Bahkan kaldunya telah dimasak dari semalam pakai slow cooker. Saking singkatnya waktu, Cinta pun terpaksa makan siang di mobil antara waktu pulang sekolah pagi dan masuk sekolah Ugama.

    Sekolah Ugama ini semacam madrasah di Indonesia yang dikelola resmi oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama di bawah Jabatan Pengajian Islam negara Brunei Darussalam. Menurut guru besar2 sekolah Ugama tempat Cinta belajar, sejak tahun 2013 yang lalu, Sultan Hassanal Bolkiah mewajibkan setiap anak yang kedua orang tua atau salah satunya merupakan penduduk atau permanent resident negara Melayu Islam Beraja Brunei Darussalam dan telah berusia 7 tahun pada bulan Januari di tiap tahun ajaran untuk mengikuti sekolah Ugama.

    Baginda Sultan berharap dengan berjalannya undang-undang ini, “insya-Allah, tidaklah akan ada lagi kanak-kanak Islam di negara ini yang akman tercicir dari memahami dan mengetahui ilmu asas pendidikan Islam. Tidak akan ada lagi orang yang tidak pandai sembahyang dan membaca Al-Qur’an”, titah baginda Sultan sempena Majlis Sambutan Hari Guru Ke-22 bagi Tahun 1433 Hijrah/2012 Masihi pada 8 Zulkaedah 1433 bersamaan 24 September 2012.3

    Foreigner seperti kami tentu tidak wajib ikut tapi tidak ada salahnya kan menambah pengetahuan tentang agama yang tidak bisa didapat di sekolah pagi maupun di rumah.

    Habis mengantar Cinta ke sekolah Ugama nggak bisa langsung pulang karena ada taklimat4 dari guru besar sekolah untuk para orang tua siswa. Setelah taklimat selesai, saya berencana makan siang di Plaza Seria saja sama Keenan sambil nunggu kakak pulang karena sekolahnya cuma berlangsung selama 2 jam. Tapi ternyata di tengah-tengah pertemuan Keenan pup dan saya nggak bawa popok ganti. Akhirnya memutuskan untuk pulang aja. Untung perjalanan dari sekolah ke rumah cuma 10 menit. Sampai rumah hanya ada waktu 30 menit sebelum sekolah selesai. Ya cuma sempat mandiin dan nyuapin Keenan trus langsung berangkat lagi deh.

    Jam 4 sore sampai rumah langsung beres-beresin barang-barang sekolah Cinta, duduk sebentar tarik nafas baru ambil makan. Menu sore ini adalah homemade risotto5 tuna keju plus honey lemon tea. Berhubung kehabisan lemon jadi ya nyoba pakai lemon essential oil6 Young Living yang baru diterima tadi pagi. Makasih ya, Anggy :* Lumayanlah buat menyegarkan badan yang mulai remek dan meredakan gejala-gejala flu yang mulai melanda.

    Risotto kali ini rasanya pas sama selera anak-anak. Cukup creamy dan cheesy tapi nggak bikin eneg. Bikinnya juga gampang. Thanks to my super rice cooker hehehe. Resepnya sederhana aja, hasil gabung-gabungin dari berbagai resep di google. Kalau mau nyoba juga, ini dia resep dengan takaran suka-suka.

     photo 65EE0762-EAD9-411C-AC64-F4C77F6D3AB1_zpsg6pxuswm.jpg

    Risotto Tuna Keju ala Mama Nia

    Bahan:
    2 cangkir beras, cuci bersih
    1/2 bagian bawang bombay, dipotong kecil-kecil
    1 siung bawang putih dicincang
    Sejumput garlic granule7 (optional)
    Sejumput mixed herbs8 (optional)
    Garam
    1 buah wortel, dipotong dadu kecil-kecil
    Brokoli sesuai selera
    500 ml kaldu ayam (atau sesuai kebutuhan)
    1 cup susu uht plain
    Tuna kaleng sesuai selera
    1 sdm Margarin untuk menumis
    75 gram keju cheddar parut

    Cara membuat:
    • Tumis bawang bombay dan bawang putih sampai harum.
    • Masukan beras yang sudah dicuci, aduk rata.
    • Tuang 3-4 sendok sayur kaldu, aduk sampai beras terendam kaldu. Masukan wortel, mixed herbs, garam dan garlic granule. Aduk sampai kaldu meresap.
    • Tuang beras ke dalam rice cooker, tambahkan kaldu sampai batas yang dibutuhkan untuk memasak nasi. Aduk dan masak di rice cooker.
    • Menjelang matang, masukan tuna, brokoli, sebagian keju dan susu uht. Aduk rata dan tutup lagi rice cooker sampai matang.
    • Sajikan dengan taburan keju parut.

    Yah, akhirnya tuntas sudah tantangan kali ini. Baru sekarang lho saya berhasil menyelesaikan lagi tantangan di sosial media kaya gini setelah 30 Day Green Smoothie Challenge-nya Simple Green Smoothies setahun yang lalu. Dan sebagai penutup saya mau ngoper tongkat estafet ke Lina Florida atau teman-teman yang berminat ikut tantangan ini. Yuk, posting foto makanan 5 hari berturut-turut. Boleh masakan sendiri atau wisata kuliner. Boleh foto lama atau baru. Asal jangan foto lontong kupang pak Misari ya. Kasian nanti saya ngences hahaha. Trus tag 1 teman setiap harinya. Selamat berkreasi!

    1. tantangan ini mulai saya upload di FB dan IG hari Minggu tanggal 5 Januari, jadi tiap postingan di blog mundur sehari []
    2. kepala sekolah []
    3. Titah “Pendidikan Ugama Wajib 2012” dikutip dari laman web Aspirasi NDP []
    4. perbuatan atau peristiwa pemberian arahan atau informasi yang tepat, KBBI []
    5. 1. rice cooked with broth and sprinkled with grated cheeseArti Kata []
    6. an oil having the odor or flavor of the plant from which it comes; used in perfume and flavorings – Arti Kata []
    7. A dried form of garlic that has been ground into granules rather than powder. Granulated garlic can be used much the same as garlic powder, but has about half the flavoring power as the same measure of garlic powder and like powder, the granules lack in providing the garlic texture of a fresh garlic. 1 teaspoon of granulated garlic equals 1/2 teaspoon of garlic powder. []
    8. Mixed herbs is a common mix of different dried herbs, ready for use without needing to measure out individual quantities. A typical mix includes equal parts of basil, marjoram, oregano, rosemary, sage, thyme []
  • Life in Brunei

    Belajar dari Bazar

    Hari Minggu tanggal 9 November 2014 yang lalu, Indonesia Section Panaga Club dibantu oleh ibu-ibu dari komunitas keluarga Indonesia yang berdomisili di daerah Kuala Belait dan Seria, Brunei Darussalam atau yang biasa disebut komunitas KB Seria mengadakan Indonesian Bazaar. Acara ini memadukan bazar kerajinan, makanan khas Indonesia dengan permainan-permainan tradisional yang biasa digelar saat acara tujuh belasan di Indonesia. Selain itu juga ada berbagai macam aktivitas menarik untuk anak-anak dan nail art serta workshop angklung dan bikin artwork dari janur.

    Untuk bazar seni dan kerajinan, tema yang kami pilih adalah keragaman budaya Indonesia dengan tujuan mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dari hasil penjualan barang seni dan kerajinan itu. Untuk itu ibu-ibu yang terlibat dalam bazar ini dibebaskan memilih barang apa yang mau mereka jual. Uniknya dari 6 pedagang hampir semua jenis jualannya berbeda. Seperti mba Evita yang fokus pada jualan batik baik kain maupun aksesoris, mba Dewi dengan pernak-pernik batiknya dan Anggy yang memilih kain sasirangan sebagai barang dagangannya.

    Berbagai kain dan kerajinan khas Indonesia di Art & Craft Corner Indonesian Bazaar 2014, Brunei Darussalam

    Alasan memilih kain ini adalah karena belum banyak orang asing yang mengenalnya. Kebanyakan orang hanya tahu batik dari Jawa dan tenun, sementara masih banyak motif kain tradisional lain yang belum terekspos seperti kain sasirangan yang berasal dari Banjarmasin ini. Apalagi daerah asal kain Sasirangan terletak satu pulau dengan Malaysia bagian Sabah dan Sarawak serta Brunei Darussalam, di mana kedua negara ini juga berbagi kebudayaan dengan Indonesia. Begitu pula dengan songket. Pasti banyak yang belum tahu kan kalau Malaysia dan Brunei pun punya kain songket? Untuk itulah motif-motif unik ini diperkenalkan supaya kita dan orang asing tahu ini milik Indonesia. Jangan sampai kelak diakui oleh tetangga sebelah baru kita marah-marah.

    Sementara yang lain meski sama-sama berjualan tenun ada yang khusus berupa kain dan ada yang sudah dalam bentuk tas dan pernak-pernik ukiran.  Tak ketinggalan aksesoris dari bahan perak, batu dan manik-manik yang cantik.

    Karena kebanyakan barang yang dijual berupa kain, saya meminta teman-teman yang berjualan untuk membuat semacam katalog dalam bahasa Inggris yang berisi keterangan asal kain tersebut, cara pembuatannya dan dapat digunakan sebagai apa saja. Tujuan awalnya sih untuk menarik pembeli, karena berdasarkan info yang saya dapat, tidak banyak orang asing yang tertarik membeli kain karena mereka tidak mengenal makna dari motif-motif kain tersebut dan bisa dibuat apa.

    Pengetahuan tentang Indonesia di dalam sebuah kerajinan

    Ternyata, hasil eksekusinya jauh lebih bagus dari yang saya bayangkan. Enggak sekadar membuat katalog, teman-teman penjual ada yang membuat standing banner, ada juga yang diletakkan dalam pigura dan dijadikan hiasan meja untuk mempercantik display jualannya. Tapi highlight saya adalah kreativitas mba Ika yang dengan telaten membuat semacam tag berisi keterangan bahan lengkap dengan peta Indonesia yang menunjukkan pulau asal bahan tersebut. Hebatnya, dia membuat tag tersebut untuk masing-masing barang jualannya yang berbeda-beda. Salut banget sama ketelatenan mba Ika. Padahal dia selain berjualan juga mengkoordinir pelaksanaan acara Indonesian Bazaar. Ah, keren bener ibu satu itu.

    Pada akhirnya, pengunjung bazar kami selain melihat berbagai kerajinan khas Indonesia juga memiliki pengetahuan baru yang bisa mereka bagi ke orang lain. Jangankan mereka, saya saja belajar banyak kalau tenun itu ternyata banyak jenisnya, begitu pula dengan songket yang termasuk dalam salah satu jenis kain tenun dan tentu saja kain sasirangan. Pembeli pun mendapatkan tips memanfaatkan kain-kain tersebut. Selain jadi baju  ternyata juga bisa digunakan sebagai runner meja, sarung bantal, aplikasi tas, hiasan dinding dan masih banyak lagi. Jadi enggak cuma batik saja yang bisa dipamerkan dari Indonesia, kain-kain lain juga banyak sekali yang dapat dibanggakan.

    Beruntung sekali saya terlibat dalam bazar tahun ini. Bisa mengenal ibu-ibu yang kreatif dan memiliki semangat besar mengenalkan keragaman budaya Indonesia. Semoga dengan begini makin banyak orang yang tertarik untuk mengunjungi negara tercinta kami itu dan melihat langsung pembuatan kerajinan-kerajinan yang mereka beli lalu ikut mempromosikan Indonesia ke kerabatnya.

    Yuk, selalu bangga dan mempromosikan kerajinan asli buatan negara sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi. Betul?

    Pics koleksi pribadi Anggy & Alfa.

    PS: Jangan cari saya di foto ini, bagian mondar-mandir enggak sempat foto-foto hiks.

  • Life in Brunei

    Counting the Blessings

    Yellooooow (bukan Dijah Yellow), how are you apa kabar? Lama tak jumpa yah. Kangeeeen *lap debu di laptop*

    Jadi gini ceritanya, baru-baru ini saya ditag dua orang teman baik dari situs Ngerumpidotcom yang sekarang sudah nggak aktif lagi (situsnya, bukan orangnya), Yayas dan bun Vei untuk ikutan Chain of Happiness. Itu lho, tantangan untuk menuliskan minimal 3 saja hal yang bikin kamu bahagia dalam satu hari. Awalnya sih males, apalagi pas ditag lagi sumpek kelas berat. Rasanya seperti jadi orang paling merana di dunia. Apa-apa nggak enak.

    Tapi baca chain of happiness yang lain ternyata kok sederhana sekali. Masa bisa minum teh hangat yang enak di sela-sela kesibukan kerja bisa bikin bahagia. Masa dapet senyuman dari orang lansia yang dikasih tempat duduk di kereta penuh sesak bisa bikin senang. Biasa aja keleeuuss.

    Setelah dipikir-pikir, seharusnya memang kebahagiaan itu datang dari hal-hal sederhana, yang mungkin tidak kita sadari sebelumnya. Yang mungkin luput dari kesadaran karena terlalu sibuk merutuki kemalangan kita.

    Cara mainnya sih gampang, tulis di status facebook atau Path atau sosmed mana ajalah yang kita sukai minimal 3 hal yang bikin kita bahagia hari ini, lebih juga boleh, selama 3 hari berturut-turut. Lalu tag 3 orang teman untuk ikutan main, kalau kita tulis 4 hal ya tag 4 orang dan seterusnya.

    Tapi terus saya ditanya oleh seorang sahabat, “Gimana kalau yang ditag nggak lagi bahagia? Apa nggak jadi seperti dipaksa bahagia?” Menurut saya, nggak ada paksaan sih untuk ikutan main. Bebas aja. Kalau cuma pengen main sehari pun juga boleh. Yang penting sudah ikut menyebarkan spiritnya. Lagipula lebih baik menulis status yang positif dan bahagia kan daripada galau tak berujung atau copras capres yang meski sudah selesai tapi masih banyak yang belum move on.

    Nah, ini dia 3 hal yang bikin saya bahagia kemarin:

     photo 69150EB0-E492-4993-A936-656339DC936D_zpsttrb3jhy.jpg

    1. Sarapan bareng sama teman-teman baik sambil ngobrol ngalor ngidul. Senang banget. Pas lagi jenuh sekali sama rutinitas sehari-hari yang bikin hati sumpek dan emosi terus, bisa keluar rumah dan berbagi cerita sama teman-teman bisa bikin cerah ceria. Apalagi selama puasa, lebaran dan summer holiday ini jarang ketemu karena pada mudik ke Indonesia. Lumayan, jadi mood booster dalam menjalani rutinitas minggu ini.

    2. Ngeliat Cinta belajar untuk ejaan Rumi bahasa Melayu dengan hati riang. Biasanya tiap disuruh belajar selalu ngomel tapi kali ini sambil nunggu pesanan makanan kita datang, dibawain buku dan pensil, dicoba belajar pas lagi makan di restoran. Jadi nggak buang waktu percuma.

    3. Dengar Keenan yang lagi senang bilang, “Horeee,” “Bye bye,” “Makasih,” “Thank you,” eeerrr setidaknya begitulah terjemahan kata-kata bayinya menurut saya. Eh, juga baru sadar giginya sudah tumbuh 3 lagi. 2 gigi taring atas kanan kiri dan 1 gigi di sebelah kiri atas. Jadi total dia punya 11 gigi sekarang. Asiiik…

    Gitu deh, cerita tentang kebahagiaan saya kemarin. Sederhana kan? Kalau mau ikut main silakan tag diri masing-masing ya…