Semua Ada Waktunya

Sudah hampir 2 bulan ini batita saya mulai bisa mau menggunakan kloset untuk buang air kecil. Buat sebagian orang tua mungkin itu hal yang biasa bahkan bisa dibilang terlambat tapi bagi saya merupakan kemajuan yang cukup besar.

Sejak usia 6 bulan, Cinta mulai ditatur alias toilet training tapi sekonsisten apapun saya dan pengasuhnya mengajari dia tetap tidak mau pipis di potty-nya. Menginjak usia 1 tahun, saya bebaskan dari pospak di siang hari kecuali saat pergi dan tidur tapi yang ada malah ngompol kemana-mana. Bahkan suatu ketika ia tidak mau bisa buang air baik kecil maupun besar di siang hari. Ketika tiba waktunya akan tidur dan saya pakaikan pospak langsung BAB dan BAK. Well, ternyata dia menahan keinginan buang airnya selama beberapa jam.

Kejadian itu berlangsung selama beberapa waktu, setelah saya telusuri mungkin karena dia malu atau takut dimarahi atau diejek oleh asisten dan om tantenya karena mengompol. Saking nahannya, kadang dia pipis sambil menangis. Saya pikir karena ISK tapi setelah melakukan tes urin ternyata bukan. Oke, ternyata dia hanya merasa risih buang air tanpa diaper.

Akhirnya saya pakaikan pospak lagi, bagi saya kenyamanan Cinta lebih utama dari latihan penggunaan toilet ketika ia belum siap. Namun, tetap saya ajari cara pipis di toilet, kadang saat mandi bersama saya beri contoh (kebetulan saya termasuk orang tua yang permisif soal mandi bersama) cara pipis di toilet, termasuk saya pasangkan dudukan toiletnya yang ia beri nama skuter dan biasanya dibuat main skuter-skuteran :p

Entah saya lupa bagaimana awalnya, tiba-tiba ia meminta saya untuk menaikkannya ke toilet dan berkata ingin pipis. Dan benar ia pun akhirnya buang air dengan sukses. Kesuksesan itu rupanya meningkatkan kepercayaan dirinya dan sejak itu jika sedang tidak memakai pospak Cinta selalu minta untuk pipis di toilet. Belum rutin memang, kadang masih keduluan ngompol karena terlambat bilang. Tapi bagi saya that’s a one big step for us.

Saya kebetulan adalah tipe orang tua yang percaya bahwa perkembangan anak itu berbeda dan tidak mau memaksakan Cinta untuk mengikuti suatu tahapan tertentu ketika ia belum siap. Yang penting adalah tetap mengajari tanpa ada unsur paksaan. Sama seperti sejak sebelum genap 1 tahun Cinta sudah bisa memegang krayon dan pensil warna dengan baik. Saya tidak pernah memaksa, hanya menyediakan aneka alat tulis dan buku gambar atau kertas, mengajarinya cara memegang krayon dengan nyaman lalu mulailah ia mencorat-coret apa saja.

Pun ketika Cinta belum bisa berjalan di usianya yang kesatu dan dokter bilang tidak ada kelainan saya tidak panik dan melakukan hal-hal tradisional seperti memukul kaki dengan belut atau sejenisnya. Tetap saya titah, saya biarkan dia merambat, saya jarangkan menggendong. Dan tepat di usia 15 bulan Cinta bisa berjalan. Saat ini ia belum hafal semua huruf saat anak seusianya sudah banyak yang bisa menulis. Saya juga hanya mengajarinya mengenal huruf, angka sambil membaca buku, mewarna, menggambar, bermain Baby Go di blackberry.

Semua selalu ada waktunya, yang harus dilakukan orang tua hanyalah memberikan stimulus atau rangsangan dan percayalah anak akan belajar dan berkembang dengan sendirinya.

3 Replies to “Semua Ada Waktunya”

  1. elia|bintang says:

    wah ini parenting yang saya suka banget! ga memaksa supaya bisa.. hanya memberi stimulus dan mengarahkan tanpa paksaan. cool!

    happy new year! 😀

  2. chiekebvo says:

    denger2 punya baby itu enakk y mba??
    *jdi pengen…*

  3. ha ha ha skuter. lucu anakmu fa. dulu apa kamu gemesi seperti anakmu itu to fa? apa kamu juga ngompolan to fa?

Komentar ditutup.