Menyapih, Bukan Proses Instan

Posted in Parenting by

Menyapih, bukan proses instan. Weaning should be a process, rather than an event. Begitu kutipan yang saya peroleh dari situs Breastfeedingbasic.com saat sedang mencari tip untuk menyapih batita. Cocok banget dengan kondisi saya yang sedang berusaha menyapih Keenan. Iya, di usianya ke 2,7 tahun ini saya sudah 2 kali gagal saat mencoba menyapih Keenan.

Percobaan pertama saya lakukan ketika Keenan persis berusia dua tahun, gagal karena kemudian dia demam dan sakit. Percobaan kedua dilakukan beberapa bulan yang lalu. Kali ini saya lebih siap secara mental. Apalagi dokter spesialis anak juga mendukung saya menyapih Keenan karena berat badan Keenan yang nggak beranjak dari angka 10kg.

Saat itu saya sengaja memilih long weekend dengan harapan suami bisa membantu saat Keenan tantrum minta nenen di malam hari. Dan benar saja, selain tantrum setiap minta nenen nggak dikasih, Keenan pun jadi mogok makan dan susah tidur. Akibatnya dia jadi cranky. Dikit-dikit marah, dikit-dikit bete. Setelah 68 jam tanpa nenen akhirnya proses menyapih itu saya hentikan. Nggak tega rasanya melihat Keenan nggak nyaman hanya karena nggak bisa menyusu.

Padahal sebenarnya kadang saya sudah merasa nggak nyaman lagi menyusui. Sering kesal karena setiap Keenan terbangun tengah malam selalu minta nenen. Apalagi biasanya bisa terjadi lebih dari 3 kali dalam semalam. I need my beauty sleep. Hiks. Lagipula seringkali dia nggak nenen beneran alias cuma ngempeng. And that’s annoying. Duh.

Nggak lama kemudian, bertepatan dengan World Breastfeeding Week 2015, kami pergi ke Mobahai Shopping Complex yang kebetulan sedang mengadakan acara World Breastfeeding Day. Di sana saya bertemu dengan para konsultan laktasi dari Jabatan Kesehatan Brunei. Nah, kesempatan ini saya pergunakan untuk berkonsultasi tentang proses menyapih. Saat saya bertanya cara menyapih, beliau malah bertanya, “Why do you want to wean him? Are you expecting a new baby?“. Saya pun menjelaskan bahwa Keenan sudah lebih dari 2 tahun dan alasan-alasan lain. Beliau justru menjawab bahwa nggak perlu menyapih Keenan, tunggu saja sampai dia menyapih dirinya sendiri. Sayang waktu itu saya nggak sempat ngobrol lebih lama karena anak-anak sudah heboh minta pulang.

Akhirnya saya curhat dong ke Path dan ke teman-teman sesama (mantan) busui. Kebanyakan memberikan saran yang sama. Dan satu hal yang harus digaris bawahi adalah saat menyapih yang penting adalah kesiapan kedua belah pihak, terutama ibu. Kalau ibu ragu sedikit saja biasanya anak juga akan merasa, sehingga ya kejadian seperti Keenan itu deh, tantrum, rewel dan sebagainya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kesiapan Keenan saja sambil terus disounding kalau Keenan sudah besar, sudah waktunya berhenti nenen, nenen hanya untuk bayi, mama tetap sayang meski Keenan nggak nenen lagi dan sebagainya.

Lagipula sebenarnya Keenan pun sudah mulai menyapih dirinya sendiri. Sejak usia 2 tahun dia hanya minta menyusu saat ingin tidur. Selebihnya sudah nggak pernah minta lagi. Mungkin karena sejak lahir saya selalu menyusui dia saat mau tidur, sehingga Keenan berasumsi bahwa menyusu adalah cara ternyaman untuk membuatnya tidur. Sepertinya PR saya adalah mencari cara untuk mengantarkan Keenan tidur selain dengan menyusu. Dan sampai sekarang belum berhasil hihihi. Tapi memang menyapih sebaiknya nggak dilakukan secara instan dan perlu usaha banyak pihak, sama seperti saat kita mulai menyusui dulu. Diawali dengan baik harus diakhiri dengan indah juga kan.

Untuk memantapkan hati, saya pun meminta saran kepada seorang teman yang juga konselor laktasi dan anggota aktif Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jatim, Mia Deazy Mayangsari. Saran-saran dari Mia tentang weaning with love dan self weaning serta beberapa bacaan yang dia sarankan akan saya tulis dalam postingan berikutnya. Sementara itu boleh dong, sharing pengalaman menyapihnya, Moms.

Oct 5, 2015
Previous Post Next Post

You may also like